| Emiten | Laba | % | Pendapatan | % | ||
| 2011 | 2010 | 2011 | 2010 | |||
| PT Lippo Karawaci Tbk | 481 | 349 | 38 | 2.907 | 2.229 | 30 |
| PT | 448,8 | 191,8 | 134 | 2.671,1 | 1.434,1 | 86,3 |
| PT Summarecon Agung Tbk | 258,1 | 173,6 | 48,6 | 1.587,1 | 1.123,9 | 41,2 |
| PT Bakrieland Development Tbk | 129,2 | 110,4 | 17,1 | 1.450 | 900,5 | 61 |
| PT Intiland Development Tbk | 105,3 | 293,06 | -64,06 | 632,2 | 714,8 | -11,56 |
| PT Sentul City Tbk | 120,2 | 24,2 | | 289,5 | 199,03 | |
| Jumlah | 1.542,6 | 1.142 | | 9.536,9 | 6.601,33 | |
Minggu, 30 Oktober 2011
Kinerja Enam Emiten Properti Kuartal III/2011 (dalam Rp miliar)
Harga SUN Menguat Terbatas
ARAH INVESTASI SEPEKAN
Harga SUN Menguat Terbatas
Oleh Indah Handayani
JAKARTA – Harga surat utang negara (SUN) diprediksi akan menguat terbatas selama pekan ini. Sebab, imbal hasil (yield) obligasi pada hampir semua tenor berpotensi turun tipis di kisaran 10-12 basis poin. Hal tersebut terjadi karena minat investor kembali pulih untuk menanamkan modal mereka ke Negara berkembang, termasuk Indonesia .
Harga SUN Menguat Terbatas
Oleh Indah Handayani
Pelaku pasar menilai tekanan sentiment negative global diperkirakan melonggar di pekan ini. Hal tersebut menyusul keputusan KTT Eropa telah memberikan titik terang dalam penyelesaian krisis Yunani yang ditandai dengan pengucuran bailout kepada Yunani sebesar 440 miliar Euro. Namun, belum jelasnya mekanisme pemberian bailout tersebut membuat pelaku pasar masih berhati-hati dalam menanamkan modal mereka. Alhasil, penguatan yang terjadi pun hanya terbatas pada pekan ini.
Demikian rangkuman analis obligasi PT Trimegah Securities Tbk Imam MS, ekonom BII Juniman kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.
Imam memperkirakan kejelasan mekanisme pemberian dana bailout akan dijadikan investor sebagai sentiment positif untuk kembali membenamkan modal mereka ke pasar obligasi. Namun, lanjut dia, sentiment tersebut hanya bersifat sementara. Sebab, pelaku pasar akan beralih ke kondisi Italia menyusul bobot utang Negara tersebut yang sangat besar.
Sementara itu, lanjut Imam, sentiment positif yang berkembang di domestic dianggap belum kuat untuk dijadikan momentum pelaku pasar kembali ke pasar obligasi. Meskipun dipekan ini BPS akan mengumumkan angka inflasi. Sebab, tambah dia, pelaku pasar yakin dengan inflasi yang akan berada bawah 5%. Hal tersebut menyusul keputusan Bank Indonesia (BI) menurunkan tingkat suku bunga.
“Ditambah lagi dengan adanya lelang yang diadakan Pemerintah pada Selasa (1/11) yang ditargetkan mencapai Rp 6 T. Hal tersebut membuat pada awal pekan ini perdagangan akan relative sepi. Namun setelah itu diperkirakan yield akan menurun terbatas di kisaran 10-20 basis poin untuk semua tenor,” ungkap Imam.
Mencermati kondisi tersebut, Imam menyarankan pemodal untuk memasang strategi trading pada pekan ini. Seba, lanjut dia, strategi hold to maturity akan sangat beresiko bagi pemodal di pekan ini. Untuk itu, ia pun menyarankan untuk trading di tenor panjang yang memiliki yiled relative paling menarik.
Sideways
Sementara itu, Juniman memperkirakan minimnya sentiment positif tersebut akan membuat pergerakan harga SUN relative sideways. Hal tersebut diperkuat dengan adanya lelang di awal pekan sehingga membuat transaksi di pasar sekunder relative sepi. Menurut dia, sentiment yang dapat dijadikan momentum adalah pengumuman inflasi. Ia memperkirakan inflasi naik dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu dari 4,1% menjadi 4,9% seiring dengan merangkak naik harga beberapa kebutuhan pokok pada beberapa pekan ini.
“Dengan demikian, harga obligasi tenor pendek mengalami tekanan dengan potensi kenaikan yiled sebesar 25-50 basis poin. Sementara untuk lima tahun keatas kenaikannya tidak akan banyak yaitu sekitar 10-25 basis poin,” jelas Juniman.
Untuk itu, Juniman merekomendasikan investor untuk masuk di pasar perdana di pekan ini. Sebab, di pasar perdana akan lebih menguntungkan dengan tingkay yield yang renah. Sementara untuk investor yang tidak kebagian di pasar perdana, Juniman menyarankan untuk masuk di tenor jangka panjang. “Hal tersebut mengingat yield di tenor panjang masih sangat menarik diatas 6%,” tandas Juniman.(iin)
Jumat, 28 Oktober 2011
Laba Bersih Kalbe Tumbuh 18%
JAKARTA – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,07 triliun pada kuartal III 2011. Jumlah tersebut meningkat 18% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 902 miliar. Kenaikan laba tersebut ditopang oleh efesiensi operasional yang dilakukan perseroan.
“Efisiensi tersebut terbukti dapat menghemat beban usaha hingga mencapai Rp 46 miliar. Selain itu, lanjut dia, kenaiakn laba juga ditopang oleh harga bahan baku yang lebih rendah ketimbang awal tahun,” ungkap Direktur Keuangan Kalbe Vidjongtius kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (26/10).
Lebih lanjut Vidjongtius menjelaskan kuartal III penjualan perseroan mencapai Rp 7,7 triliun. Jumlah tersebut tumbuh meningkat 6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 7,2 triliun. Menurut dia, penjualan yang hanya tumbuh 6% tersebut karena pada semester ini PT Kageo Igar Tbk (IGAR) tidak lagi memberikan kontribusi pada perseroan. Sebab, pada pertengahan Agustus 2010, Kalbe menjual 610 juta (58,1%) saham Kageo Igar kepada PT Kingsford Holdings senilai Rp 112,8 miliar.
“Sementara pada kuartal III tahun lalu, Kageo Igar masih memberikan kontribusi pada penjualan. Jika perbandingan tersebut mengeluarkan Kagoe Igar dalam kontribusi penjualan, tahun ini kami sebenarnya tumbuh 9%,” jelas Vidjongtius.
Vidjongtius memperkirakan kuartal IV pertumbuhan laba dan penjualan akan lebih baik ketimbang kuartal sebelumnya. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan siklus yang selalu terjadi setiap tahunnya. Untuk itu, ia oun optimistis apabila perseroan akan mampu mencapai target penjualan sebanyak Rp 11 triliun atau tumbuh 10% dibandingkan 2010.
“Begitu juga dengan target laba bersih kami yang akan meningkat sebanyak 17-18%,” tambah dia.
Menurut Vidjongtius, tahun depan perseroan ditargetkan akan mampu mencetakan penjualan sebesar 15-18%. Sebab, lanjut dia, perseroan menilai pertumbuhan berbagai produk perseoan sangat besar di berbagai daerah akan sangat tinggi. “Begitu juga dengan bisnis distribusi kami,” papar Vidjongtius.
Sebelumnya, Analis CIMB Securities Erwan Teguh pernah menyatakan efesiensi yang dilakukan menejemen dapat menggenjot margin kotor hingga 165 basis poin (bps) menjadi 51,8% di tengah lonjakan harga bahan baku. Tak ayal lagi, pertumbuhan laba bersih lebih besar dibanding pendapatan. Erwan memberi rating netral untuk KLBF dengan target harga Rp 3.800.
Sementara itu, analis Credit Suisse Ella Nusantoro memprediksi menguatnya nilai tukar rupiah akan meningkatkan margin penjualan. Sejalan dengan itu, kinerja Kalbe Farma bakal positif. Ia bahkan meaikkan proyeksi laba bersih Kalbe menjadi Rp 1,66 triliun pada 2011 dan Rp 1,96 triliun pada 2012. Jumlah itu naik masing-masing 29% dan 18%. Sementara pendapatan diproyeksikan naik 16% pada 2011 menjadi Rp 11,8 triliun dan melonjak 18% menjadi Rp 13,9 triliun pada 2012.
Ella memberi rating netral KLBF. Target harganya Rp 3.400. Pada perdagangan kemarin, saham KLBF stagnan di level Rp 3.450. (iin)
Nusantara Siap Investasi US$ 50 Juta
JAKARTA – PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) siap investasi sebesar US$ 50 juta untuk menggarap bisnis pelabuhan. Hal tersebut menyusul akan selesainya proses akuisisi sebuah perusahaan pelabuhan yang telah beroperasi di Sumatera bagian selatan sebelum akhir tahun ini.
Managing Director Nusantara Infrastructure Bernadus Djonoputro menjelaskan dana tersebut akan berasal dari kas internal perseroan. Hal tersebut mengingat perseroan memiliki kas internal yang cukup kuat pada saat ini. Ia menjelaskan investasi tersebut akan digunakan untuk mengembangkan pelabuhan agar dapat melayani jasa pengangkutan curah (bulk) dan pergudangan bertaraf internasional. Hal ini mengingat pelabuhan yang akan diakuissi tersebut hanya melayani pengangkutan curah kering (dry bulk).
Namun, Bernadus enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai akuisisi perusahaan pelabuhan tersebut. Ia menambahkan dalam akuisisi tersebut perseroan tidak akan menjadi mayoritas atau dibawah 50% kepemilikan saham pada tahap pertama. “Dengan demikian, kami belum dapat mengkonsolidasi pelabuhan tersebut pada tahun depan,” ungkap Bernadus usai diskusi bertajuk Akselerasi Pembangunan Infrastruktur di Indonesia, Rabu (26/10).
Lebih lanjut Bernadus menambahkan perseroan melihat peluang bisnis pelabuhan sangat besar. Sebab, Indonesia merupakan Negara kepulauan dan jumlah pelabuhan bertaraf internasional masih bisa dihitung dengan jari. Padahal, lanjut dia, keberadaan pelabuhan internasional akan membuat ekspor impor menggeliat. Hal tersebut ditambah lagi dengan pertumbuhan industri perhubungan laut berpotensi tumbuh 15-20% per tahun. “Jika pada tahun ini sebesar US$ 300 miliar diperkirakan akan menjadi US$ 750 miliar pada 2015,” papar dia.
Sebelumnya, Direktur Nusantara Infrastructure Danni Hasan menjelaskan eksekusi akuisisi pada Oktober mendatang. Untuk itu, lanjut dia, perseroan pun membentuk anak usaha baru yang akan menaungi divsi pelabuhan dan transportasi dengan nama Portco. Kala itu, ia menejlaskan pemebntukan anak usaha tersebut masih dalam proses perijinan di Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Laut di Kementerian Perhubungan. “Dengan ijin tersebut, anak usaha tersebut akan mempunyai ijin mengoperasikan pelabuhan di seluruh Indonessia,” jelas Danni.
Analis Samuel Sekuritas Adrianus Bias pernah mengatakan berbagai proyek infrastruktur yang dibidik perseroan saat ini sangat positif. Ia bahkan memperkirakan proyek tersebut akan meningkatkan kinerja perseroan secara signifikan dimasa mendatang. “Sebab, jika perseroan hanya mendalkan pendapatan dari bisnis jalan tol, pertumbuhannya tidak akan besar,” tandas Adrianus. (iin)
Capitalinc Cari Dana US$ 60 Juta
JAKARTA – PT Capitalinc Investment Tbk (MFTN), unit usaha Grup Recapital, mencari dana sebesar US$ 60 juta pada 2012. Rencananya, dana tersebut digunakan untuk membiayai investasi perseroan di bisnis baru mereka, yaitu minyak dan gas (migas).
Investor Relation Capitalinc Investment Budy Powito mengatakan dana tersebut akan berasal dari pinjaman maupun dana yang disetorkan oleh pemegang saham. Namun, lanjut dia, hingga saat ini perseroan belum dapat menentukan porsi dari sumber pendaanaan tersebutr. “Saat ini kami masih mencari alternatife pembiyaan yang tepat dalam investasi kami di sektot migas tersebut,” ungkap Budy kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (25/10).
Menurut Budy, dana hasil penjualan saham seluruh porsi kepemilikan saham di PT Cimanggis Cibitung Tollways (25%) kepada PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tidak akan digunakan untuk membiayai investasi mereka. Sebab, lanjut dia, dana yang didapatkan sebanyak Rp 20 miliar tersebut digunakan untuk membayar pinjaman. Namun, ia enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai pembayaran pinjaman tersebut.
Saat ini Capitalinc telah mengakuisisi enam blok pengeboran minyak dan gas. Empat blok diantaranya berada di bawah kontrak PSC dan dua blok lainnya dengan status kepemilikan KSO. Empat blok PSC tersebut adalah blok Tonga, Air Komering, East Kangean dan Seinangka-Senipah. Sedangkan dua blok KSO, adalah blok Ibul Tenggara dan Suci.
Sebelumnya, Direktur Operasional Capitalinc Fred Hehuwat pernah menjelaskan fokus perusahaan tahun depan akan berada di pengeboran minyak. Sebagi langkah pertama, lanjut dia, perseroan akan fokus pada sumur-sumur lama terlebih dahulu. Setelah itu , ia mnegatakan perseroan akan menggali sumur-sumur baru. Ia mengatakan perseroan menargetkan blok Tonga akan mulai berproduksi pada awal tahun depan. Sementara blok-blok lainnya akan mulai berproduksi pada pertengahan tahun depan.
“Diperkirakan peak production dari empat blok tersebut akan terjadi pada tahun 2016, dengan kisaran produksi minyak antara 3600 sampai 5500 barel per hari,” tandas Fred. (iin)
Rabu, 26 Oktober 2011
IPO Pertengahan 2012, Bank Jatim Lepas 25% Saham
JAKARTA – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, Jatim, menargetkan pelaksanaan penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) pada pertengahan 2012. Rencananya, perseroan akan melepas sebanyak 25% saham kepada public dengan target dana sebanyak Rp 1 triliun.
Direktur Utama Bank Jatim Hadi Sukrianto menjelaskan pengajuan IPO tersebut akan dimintakan persetujuan kepada para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada April 2012. Kepemilihan saham Bank Jatim terdiri dari 38 pihak. Sedangkan porsi mayoritas dikuasai oleh Pemerintah Daerah Propinsi Jatim.
Hadi mengatakan persetujuan tersebut dibutuhkan karena dana IPO akan digunakan untuk menjaga rasio kecukupan modal (CAR) di level 18%. Sedangkan saat ini, lanjut dia, CAR hanya sebesar 15,22%. “Padahal posisi CAR kami mencapai 19,5% pada Desember 2010. Untuk itu, modal tersebut diperlukan untuk menjaga bank kami untuk tetap sehat,” ungkap Hadi di sela peresmian Kantor Cabang Pembantu Mangga Dua, Jakarta, Selasa (25/10).
Menurut Hadi, rencana IPO tersebut sebenarnya telah diajukan sejak tahun lalu. Namun, lanjut dia, pemegang saham tidak menyetujui rencana tersebut dalam RUPS yang dilaksanakan pada April lalu. Menurut dia, ketidak setujuan tersebut karena perusahaan dianggap mampu memberikan dividen yang besar bagi pemegang saham.
Sebagai gantinya, tambah Hadi, pemegang saham memutuskan untuk menambahkan modal perusahaan sebanyak Rp 400 miliar. Tapi, ia mengaku hingga saat ini realisasinya baru sebesar Rp 30 miliar. “Rencananya, kami akan mendapatkan tambahan modal dari pemegang saham sebesar Rp 100 miliar lagi pada Oktober atau November mendatang,” papar Hadi.
Hadi memperkirakan kemungkinan pemenuhan modal dari pemegang saham sangat tipis. Namun, ia enggan untuk menjelaskan hal tersebut. Ia hanya mengatakan perusahaan berharap dalam RUPS mendatang pemegang saham dapat menyetujui rencana tersebut. IPO dinilainya sebagai cara termurah untuk mendapatkan dana untujk menjaga CAR tersebut.
Lebih lanjut Hadi mengatakan dengan dana segar tersebut modal kami akan mencapai diatas Rp 3,3 triliun. Menurutnya, dengan modal tersebut perusahaan akan meningkatkan penyaluran kredit sebanyak 25% dibandingkan dengan target tahun ini, sebesar Rp 15,8 T. Sedangkan hingga September 2011, ia menyebutkan perusahaan telah menyalurkan kredit sebanyak Rp 15,7 triliun.
“Selain itu, perusahaan telah berhasil mencatatkan laba bersih sebanyak Rp 922 miliar pada September 2011. Dengan jumlah ini, kami optimistis akan mampu mencetak laba bersih sebanyak Rp 1,1 triliun,” tandas Hadi. (iin)
Senin, 24 Oktober 2011
Kimia Farma Rights Issue Rp 900 M
JAKARTA – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) siap menggelar penawaran umum terbatas (rights issue) saham pada awal kuartal II 2012. Perseroan optimistis dapat meraup dana sebesar Rp 901,9 miliar dengan menambah kepemilikan saham public sebesar 28%. Dengan demikian, kepemilikan saham pemerintah di perseroan akan menjadi 60% dari 88%.
“Rencananya rights issue akan dilakukan pada April atau Mei 2012. Saat ini kami masih proses persiapan. Pada januari mendatang baru akan memasuki tahap konsultasi sekaligus penunjukan penjamin emisi (underwriter),” ungkap Direktur Utama Kimia Farma Sjamsul Arifin di Jakarta, Senin (24/10).
Sjamsul menjelaskan dana hasil rights issue tersebut akan digunakan untuk pengembangan usaha perseroan di industri kimia dan farmasi. Untuk bidang kimia, lanjut dia, diperkirakan akan menghabiskan Rp 105 miliar, yaitu iodium Rp 50 miliar, kina Rp 25 miliar, dan castor oil Rp 30 miliar. Sedangkan industri farmasi, ia menjelaskan perseroan akan mengalokasikan untuk merenofasi pabrik sebanyak Rp 150 miliar, dan rekolasi pabrik Rp 200 miliar.
“Serta pembentukan joint venture (JV) dengan pihak Tiongkok untuk menghasilkan sterile product senilai Rp 60 miliar,” jelas dia.
Selain itu, lanjut Sjamsul, perseroan juga akan mengalokasikan dana rights issue tersebut untuk akuisisi PT Indofarma Tbk (INAF). Namun, lanjut dia, akuisisi tersebut belum dapat menjelaskan lebih lanjut mekanisme akuisisi tersebut. Sebab, pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas menawarkan opsi share swap saham public dalam rencana akuisisi Indofarma tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT PT Indofarma Tbk (INAF) Djakfaruddin Junus mengatakan perseroan akan mengikuti mekanisme akusisi yang dinginkan pemerintah. Menurut dia, saat ini perseroan tengah focus dalam menyelesaikan kuasi reorganisasi yang ditargetkan selesai pada 16 November 2011. Hal tersebut, lanjut dia, diperkuat dengan keberhasilan perseroan mencatatkan keuntungan pada tahun ini.
Djakfaruddin memperkirakan hingga kuartal III, laba bersih perseroan diperkirakan mencapai Rp 10-20 miliar. Sedangkan hingga akhir tahun, lanjut dia, perseroan optimistis akan mampu mencatatkan 4% dari target penjualan 2012 sebesar Rp 1,2 triliun. “Dengan demikian, perseroan akan bisa membagikan dividen kepada pemegang saham pada 2012,” jelas dia. (iin)
Minggu, 23 Oktober 2011
Utamakan Refinancing Utang CS, Bakrie Brothers Tunda Terbitkan Obligasi
JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menunda rencana penerbitan obligasi senilai Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun. Rencananya, obligasi tersebut baru akan diterbitkan pada 2012. Padahal sebelumnya, perseroan berencana menerbitkan obligasi pada kuartal IV 2011.
Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno mengatakan penundaan tersebut dilakukan sesuai dengan kebijakan perseroan untuk lebih mengutamakan refinancing utang Credit Suisse (CS) senilai US$ 597 juta (setara Rp 4,7 triliun). Menurut dia, adanya kondisi baru yang mendesak perseroan melakukan hal tersebut. namun, ia enggan untuk menjelaskan kondisi baru tersebut.
“Kami mendadak mendapatkan pekerjaan menyelesaikan pinjaman CS. Tadinya kami baru akan menyelesaikan pinjaman tersebut pada kuartal IV. Tapi karena ada kondisi baru yang membuat kami menunda penerbitan obligasi tersebut hingga 2012,” ungkap Eddy di Jakarta, Jumat (24/10).
Utang Bakrie Brothers sebesar US$ 597 juta merupakan bagian dari pinjaman sindikasi Credit Suisse AG kepada Grup Bakrie sebesar US$ 1,35 miliar. Pinjaman tersebut diperoleh Grup Bakrie pada Maret 2011. Ketika itu. Bakrie Brothers memperoleh US$ 601,75 juta. Sedangkan Long Haul Holdings Ltd, perusahaan yang juga dikendalikan oleh keluarga Bakrie, mendapat jatah US$ 743.25 juta.
Namun, Credit Suisse yang memimpin 10 kreditor mendesak Grup Bakrie untuk mempercepat pembayaran pinjaman, meski baru jatuh tempo pada Maret 2012. Permintaan itu menyusul penurunan tajam harga saham Bumi Plc di Bursa Efek London. Sebelumnya, Grup Bakrie menjaminkan saham Bumi Plc untuk mendapatkan pinjaman dari sindikasi Credit Suisse.
Saat ini, Grup Bakrie melalui Bakrie Brothers dan Long Haul Holdings menguasai 47% saham Bumi Plc, induk usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMD dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).
Meskipun ditunda, Eddy mengatakan perseroan tetap akan melanjutkan proses persiapan penerbitan obligasi tersebut. Namun, lanjut dia, dengan kecepatan yang tidak seperti yang direncanakan sebelumnya. Ia pun memastikan obligasi yang akan diterbitkan tersebut akan menggunakan mata uang Rupiah. “Kami pun berencana hanya akan menerbitkan obligasi tersebut di domestic. Jadi kami tidak akan melakukan road show,” jelas dia.
Sesuai Target
Pada kesempatan yang sama, Eddy menegaskan perseroan akan refinancing utang kepada CS sesuai dengan target sebelumnya, yaitu akhir Oktober 2011. Sebab, lanjut dia, saat ini tahap tersebut sudah mencapai 90% dan tengah menyelesaikan dokumentasi. Menurut dia, dokumentasi tersebut diperlukan dilakukan seiring dengan adanya kesepakatan baru mengenai pinjaman. “Kalau tidak ada halangan, akhir bulan kami sudah meneken kesepakatan tersebut dan melakukan refinancing,” papar Eddy.
Lebih lanjut Eddy menjelaskan kesepakatan tersebut akan dilakukan dengan kreditur baru maupun lama. Namun, ia enggan untuk menjelaskan porsi pinjaman yang akan diberikan antara kreditur lama dan baru, serta nama dari kreditur baru tersebut. Ia hanya mengatakan perseroan akan melakukan penjamian dalam jumlah yang sama dengan sebelumnya. “Kami melihat dalam satu penjaminan,” tegas dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, Glencore International, pemasok komoditas terbesar di dunia, siap mengucurkan pinjaman sebesar USS 800-900 juta untuk membantu Grup Bak-rie dalam membayar utang kepada Credit Suisse AG sebesar USS 1,35 miliar. Sebagai imbalannya, Grup Bakrie akan memberikan tambahan hak pemasaran batubara kepada Glencore. Pinjaman itu juga dijamin oleh sebagian saham Bumi Plc.
Glencore memiliki opsi untuk mengonversi pinjaman menjadi saham Bumi Plc, jika Grup Bakrie tidak membayar utangnya. Glencore juga berhak memperluas pemasarannya hingga mencakup hasil tambang mine- ral milik PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang segera diambil alih oleh Bumi Plc.
Selain Glencore, ada satu calon investor lain yang ingin membantu Grup Bakrie yaitu Vt-tol SA. Sebelumnya, Texas Pacific Group (TPG) dan Northstar Pacific juga dikabarkan tertarik mendukung Grup Bakrie. Namun, peluang Glencore sangat besar.(iin)
Jumat, 21 Oktober 2011
First Media Ekspansi US$ 200 Juta
First Media Ekspansi US$ 200 Juta
JAKARTA - PT First Media Tbk (KBVL) investasi sebesar US$ 150-200 juta selama 2012-2013. Investasi tersebut digunakan untuk ekspansi perseroan di bisnis internet Wimax, kabel tv, dan video berdasarkan permintaan (video on demand/VOD).
Presiden Komisaris First Media Peter F Gontha menjelaskan sumber dana tersebut berasal dari kas internal, laba ditahan, setoran pemagang saham, dan investor strategis. Namun, ia enggan untuk menjelaskan porsi dari masing-masing sumber tersebut. Ia hanya mengatakan investasi tersebut dilakukan untuk memperkecil kesenjangan digital yang ada di Indonesia.
"Disamping itu, kami juga bertujuan untuk meningkatkan jumlah pelanggan. Besarnya alokasi investasi tersebut, menggambarkan betapa besarnya investasi dalam teknologi," ungkap Peter usai Rapat Pemegang Umum Saham Luar Biasa. (RUPS-LB) di Jakarta, Jumat (21/10).
Peter menyebutkan salah satu investasi yang dilakukan oleh perseroan adalah dengan menambah BTS sebanyak 900 menara. Jumlah tersebut akan tersebar dan memperkuat jaringan bisnis internet Wimax perseroan di wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, dan Tangerang (Jabodetabek), serta Banten. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan ijin yang dimiliki perseroan untuk mengembangkan Wimax dii wilayah tersebut. Sedangkan hingga akhir tahun, lanjut dia, diperkirakan baru akan mencapai 190 menara di wilayah tersebut.
"Selain itu, perseroan juga telah memiliki ijin untuk mengembangkan Wimax di wilayah Sumatera bagian utara, seperti Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam. Kedua wilayah tersebut menjadi target ekspansi kami selanjutnya," jelas Peter.
Sementara itu, Direktur Operasional dan Teknik Dicky Moechtar mengatakan komersialisasi di wilayah Jabodetabek dan Banten akan dimulai pada kuartal 1 2012. Sementara itu, lanjut dia, wilayah Sumatera bagian Utara akan dimulai komersialisasinya pada Semester I 2012. Menurut dia, peluang kormersialisasi di wilayah tersebut sangat besar. Sebab, lanjut dia, perseroan masih menjadi satu-satunya perusahaan penyedia layanan data.
"Sementara pemain lainnya adalah Telkom dan operator seluler lainnya," papar Dicky.
Modal Rp 870 M
Pada kesempatan yang sama, Peter mengatakan dalam RPUPS LB menyetujui pereseoan untuk menambah modal dalam perseroan sehingga menjadi Rp 870.948.489.000. Ia menjelaskan jumlah tersebut meningkat setelah perseroan mengeksekusi warrant yang dikeluarkan perseroan ketika menggelar Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD/Rights Issue) saham pada 2010. Ia menjelaskan perseroan mengeksekusi warrant tersebut di harga Rp 800.
JAKARTA - PT First Media Tbk (KBVL) investasi sebesar US$ 150-200 juta selama 2012-2013. Investasi tersebut digunakan untuk ekspansi perseroan di bisnis internet Wimax, kabel tv, dan video berdasarkan permintaan (video on demand/VOD).
Presiden Komisaris First Media Peter F Gontha menjelaskan sumber dana tersebut berasal dari kas internal, laba ditahan, setoran pemagang saham, dan investor strategis. Namun, ia enggan untuk menjelaskan porsi dari masing-masing sumber tersebut. Ia hanya mengatakan investasi tersebut dilakukan untuk memperkecil kesenjangan digital yang ada di Indonesia.
"Disamping itu, kami juga bertujuan untuk meningkatkan jumlah pelanggan. Besarnya alokasi investasi tersebut, menggambarkan betapa besarnya investasi dalam teknologi," ungkap Peter usai Rapat Pemegang Umum Saham Luar Biasa. (RUPS-LB) di Jakarta, Jumat (21/10).
Peter menyebutkan salah satu investasi yang dilakukan oleh perseroan adalah dengan menambah BTS sebanyak 900 menara. Jumlah tersebut akan tersebar dan memperkuat jaringan bisnis internet Wimax perseroan di wilayah Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, dan Tangerang (Jabodetabek), serta Banten. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan ijin yang dimiliki perseroan untuk mengembangkan Wimax dii wilayah tersebut. Sedangkan hingga akhir tahun, lanjut dia, diperkirakan baru akan mencapai 190 menara di wilayah tersebut.
"Selain itu, perseroan juga telah memiliki ijin untuk mengembangkan Wimax di wilayah Sumatera bagian utara, seperti Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam. Kedua wilayah tersebut menjadi target ekspansi kami selanjutnya," jelas Peter.
Sementara itu, Direktur Operasional dan Teknik Dicky Moechtar mengatakan komersialisasi di wilayah Jabodetabek dan Banten akan dimulai pada kuartal 1 2012. Sementara itu, lanjut dia, wilayah Sumatera bagian Utara akan dimulai komersialisasinya pada Semester I 2012. Menurut dia, peluang kormersialisasi di wilayah tersebut sangat besar. Sebab, lanjut dia, perseroan masih menjadi satu-satunya perusahaan penyedia layanan data.
"Sementara pemain lainnya adalah Telkom dan operator seluler lainnya," papar Dicky.
Modal Rp 870 M
Pada kesempatan yang sama, Peter mengatakan dalam RPUPS LB menyetujui pereseoan untuk menambah modal dalam perseroan sehingga menjadi Rp 870.948.489.000. Ia menjelaskan jumlah tersebut meningkat setelah perseroan mengeksekusi warrant yang dikeluarkan perseroan ketika menggelar Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD/Rights Issue) saham pada 2010. Ia menjelaskan perseroan mengeksekusi warrant tersebut di harga Rp 800.
Selain itu, lanjut Peter, RUPS LB juga memutuskan untuk pengangkatan direksi dan dewan komisaris baru. Ia menyebutkan jajaran direksi diisi oleh Irwan Djaja sebagai Direktur Utama, Dicky Moechtar menjabat Direktur Teknik dan operasional, serta Harianda Noerlan. “Sementara untuk jajaran Dewan Komisaris akan tersisi oleh Rizal Ramli dan Didik Rachbini sebagai Komisaris Independen, Theo Sambuaga sebagai Komisaris, dan saya sebagai Presiden Komisaris,” tandas Peter. (iin)
Nusantara Infrastructure Finalisasi Akuisisi Pelabuhan
Nusantara Infrastructure Finalisasi Akuisisi Pelabuhan
JAKARTA – PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) menyatakan tengah memfinalisasi akusisi sebuah pelabuhan yang telah beroperasi di Sumatera Selatan. Rencananya, akuisisi tersebut akan dituntaskan dalam waktu dekat. Hal tersebut seiring dengan persiapan perseroan untuk mengikuti tender proyek kalibaru senilai Rp 11,7 triliun.
“Saat ini sudah hamper pasti untuk akuisisi tersebut. Namun, saya masih belum bisa menjelaskan nama dan nilai akuisisi tersebut. Kemungkinan dalam waktu dekat kami baru dapat mengumumkan hal tersebut,” ungkap Managing Director Nusantara Infrastructure Bernadus Djonoputro kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (13/11).
Dalam membidik proyek tersebut, perseroan membentuk konsorsium dengan menggandeng partner Mitsui, Evergreen, 4848 Global System. Perseroan memiliki porsi 51% kepemilikan dalam konsorsium tersebut. Sedangkan porsi lainnya, lanjut dia, masih belum ditentukan. Dengan menggandeng perusahaan internasional yang berpengalaman dalam bisnis pelabuhan tersebut, lanjut dia, menunjukan keseriusan perseroan berpasrtisipasi dalam program public private partnership (PPP) yang digelontorkan pemerintah.
Bernadus menambahkan dari sisi financial, konsorsium yang dibentuk tersebut telah memiliki dukungan yang sangat kuat dari pihak bank. Sebab, lanjut dia, masing-masing perusahaan yang ada di konsorsium tersebut telah mendpatkan komitmen dari bank untuk pendanaan. Ia bahkan menyebutkan Nusantara Infrastructure telah mendapatkan komitmen dari bank nasional hingga 60% dari nilai total proyek tersebut. Jumlah tersebut menjadi persyaratan dalam pra kualifikasi tersebut.
“Mitsui dan Evergreen bahkan telah mendapatkan komitmen pendanaan hingga Rp 11 triliun. Hal tersebut menunjukan bahwa kemampuan financial konsorsium kami sangat kuat,” tegas dia.
“Mitsui dan Evergreen bahkan telah mendapatkan komitmen pendanaan hingga Rp 11 triliun. Hal tersebut menunjukan bahwa kemampuan financial konsorsium kami sangat kuat,” tegas dia.
Sebelumnya, Direktur Nusantara Infrastructure Danni Hasan menjelaskan eksekusi akuisisi pada Oktober mendatang. Untuk itu, lanjut dia, perseroan pun membentuk anak usaha baru yang akan menaungi divsi pelabuhan dan transportasi dengan nama Portco. Kala itu, ia menejlaskan pemebntukan anak usaha tersebut masih dalam proses perijinan di Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Laut di Kementerian Perhubungan.
“Dengan ijin tersebut, anak usaha tersebut akan mempunyai ijin mengoperasikan pelabuhan di seluruh Indonessia,” jelas Danni.
Analis Samuel Sekuritas Adrianus Bias pernah mengatakan berbagai proyek infrastruktur yang dibidik perseroan saat ini sangat positif. Ia bahkan memperkirakan proyek tersebut akan meningkatkan kinerja perseroan secara signifikan dimasa mendatang. “Sebab, jika perseroan hanya mendalkan pendapatan dari bisnis jalan tol, pertumbuhannya tidak akan besar,” papar Adrianus. (iin)
Langganan:
Komentar (Atom)