Kamis, 30 Juni 2011

IHSG Tembus Rekor Baru 3.888


Indeks kembali menyentuh rekor baru di penghujung semester I dengan menyentuh level 3.888. Angka tersebut meningkat 58 poin (1,52%). Hebatnya lagi, asing melakukan aksi net buy menyentuh Rp 1,01 triliun. Sebuah angka yqang sangat fantastis terjadi hanya dalam satu hari.

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan penutupan pada Kamis (30/6) merupakan rekor tertinggi yang pernah dicetak IHSG. Menurut dia, hal tersebut terjadi karena pengaruh kondisi global, terutama krisisi Yunani, yang sudah mendapatkan kepastian dalam penyelesaiannya. Selain itu, lanjut dia, window dressing juga sangat mempengaruhi pemecahan rekor tersebut. Uniknya, lanjut dia, dalam window dresing kali ini saham-saham yang ditarik lebih banyak merupakan saham lapis ketiga. Sedangkan untuk saham bluechip hanya pada ASII dan GGRM.

Satrio menjelaskan selama semester I 2011 IHSG berada di posisi teratas karena perekonomian dalam negeri Indonesia cukup kuat. Ia mengatakan kuatnya ekonomi Indonesia karena inflasi dalam negeri dapat dikendalikan dengan baik oleh pemerintah. Serta diperpanjangnya subsidi BBM oleh pemerintah. Alhasil, lanjut dia, kondisi indeks tidak terlalu berpengaruh dengan berbagai krisis yang terjadi di global sepanjang paruh pertama 2011, seperti krisis Eropa, ketidak pastian perbaikan ekonomi di Amerika Serikat (AS), hingga bencana alam di Jepang.

Menurut Satrio, kinerja perusahaan di semester I menunjukan hasil yang tidak terlalu bagus. Hal tersebut karena biaya dalam produksi dari emiten tersebut mengalami peningkatan serta harga komoditas yang sangat tinggi. “Dengan beban tersebut, kinerja emiten menjadi sulit untuk mencapai ekspektasi dari analis pada akhir tahun ini,” ungkap Satrio kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (30/6)..

Satrio menjelaskan kondisi IHSG pada semester II masih belum bisa diprediksi. Hal tersebut, lanjut dia, sangat tergantung pada keputusan pemerintah dalam subsidi BBM. Hal tersebut, lanjut dia, ditambah lagi dengan kondisi inflasi pada dua bulan mendatang yang diperkirakan akan tinggi seiring dengan adanya liburan anak sekolah, persiapan bulan puasa, dan Lebaran. “Dua bulan kedepan tersebut akan menjadi momok untuk bursa kita sehingga membuat IHSG cenderung konsolidasi hingga September mendatang,” jelas dia.

Hal tersebut, tambah dia, diperparah dengan kondisi global yang semakin tidak menentu. Hal ini, lanjut dia seiring dengan keputusan AS untuk tidak melanjutkan Quantitative Easing (QE). Ditambah lagi dengan pemerintah Tiongkok yang masih kesulitan dalam mengendalikan inflasi di negara mereka. Meskipun demikian, lanjut Satrio, sebelum terjadi konsolidasi dalam satu atau dua pekan mendatang IHSG masih berpotensi untuk mencari titik puncak baru atau menciptakan rekor baru. ia bahkan memprediksi IHSG akan menyentuh level 4.000.

“Namun, kita harus melihat aliran dana asing dalam dua pekan mendatang. Apakah masih masuk atau berhenti. Sebab, selesainya QE di AS yang menyebabkan likuiditas global menjadi sangat terbatas,” papar Satrio.

Satrio menilai, saham yang masih menjadi top gainer sepanjang tahun ini akan adalah saham lapis ketiga. Menurut dia, pergerakan saham lapis pertama masih terpusat, dalam artian hanya pada ASII dan GGRM. Unntuk itu, lanjut dia, pada paruh kedua tahun ini pemodal akan lebih banyak memperhatikan saham lapis ketiga dengan PE rendah. Ia menjelaskan saham lapis ketiga tersebut memiliki keunikan karena tidak mengikuti likuiditas global dan non fundamental. Menurt satrio, saat ini pemodal hanya tinggal menilai valuasi yang cocok hingga akhir tahun. “Jjika trader, sebaiknya melihat apakah sudah mencapai target jangka panjang atau pendek. Jika sudah kena, take profit terlebih dahulu,” tandas dia. 

Prediksi Indeks  Jumat (1/7) 
Indeks Berpotensi Lanjutkan Penguatan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diprediksi menguat, seiring dengan sinyal positif yang ditunjukan oleh bursa regional. Terutama setelah akhirnya Yunani mendapatkan penyelesaian setelah parlemen mereka menyetujui untuk melakukan pengetatan anggaran.

“Hal ini membuat bursa regional bergerak positif. Indeks pun masih akan berpotensi untuk menembus rekor baru lagi. Dengan level support 3.870 dan resistance 3.915,” ungkap Satrio kepada Investor Daily, Kamis (30/6).

Pada perdagangan Kamis (30/6), indeks naik 58 poin (1,52%) ke level 3.888. Net buy asing bahkan mencapai Rp 1,01 triliun.  

Namun, lanjut Satrio, pemoldal masih harus mewaspadai pengumuman inflasi yang akan diumukkan pada hari ini. Meskipun demikian, ia merekomendasikan saham grup Astra dan GGRM untuk dikoleksi. “Misalanya saja UNTR yang akan testing rekor di posisi 25.500,” ujar dia.

Sementara itu, pengamat pasar modal Wesly Andri memprediksi indeks berpotensi melemah tipis. Sebab, lanjut dia, biasanya setelah pencetatkan rekor terjadi aksi ambil untung oleh pemodal. “Saya memperkirakan pergerakan indeks akan berada di level support 3.838 dan resistance 3.932,” jelasnya.

Wesly menilai saham PTBA, AALI, SMGR, BMRI layak untuk dikoleksi pemodal di awal semester II ini. Sedangkan untuk saham ASII dan UNTR sebanykany dilepas terlebih dahulu. “Sebagai aksi profit taking,” tandas dia. (iin)

JA Wattie Naikan Capex Jadi Rp 273 M

JAKARTA - PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) menaikan belanja modal (capital expenditure/capex) menjadi Rp 273 miliar pada 2011. Jumlah tersebut meningkat 52,5% dibandingkan alokasi capex sebelumnya sebesar Rp 179 miliar.  Peningkatan capex tersebut dilakukan karena perseroan ingin lebih agresif dalam ekspansi lahan pada tahun ini.

Direktur Keuangan JA Wattie Bambang S Ibrahim menjelaskan pada tahun ini perseroan berencana dapat membebaskan lahan sebanyak 4.500-6 ribu hektar (ha) di Kalimantan Selatan (Kalsel). Nantinya, lanjut dia, lahan tersebut dipergunakan untuk penanaman kelapa sawit dan karet. Ia menjelaskan tahun ini
perseroan memiliki luas lahan sebanyak 60 ribu hektare (ha). Sedangkan lahan yang baru ditanami adalah sebanyak 29 ribu hektar.

”Pada awalnya, kami hanya mengalokasikan pembebasan lahan sebanyak Rp 17 miliar. Namun, setelah melihat kesempatan yang ada kami pun menaikan alokasi tersebut menjadi Rp 238 miliar,” ungkap Bambang usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Kamis (30/6).

Bambang menambahkan capex tersebut belanja modal akan digunakan untuk uang muka pembangunan satu pabrik pengolahan kelapa sawit dan karet senilai Rp 17 miliar. Keduanya berlokasi di Kalsel. Ditambah lagi, lanjut dia, penanaman kelapa sawit seluas 1.000 ha sebesar Rp 18 miliar. Sebab, lanjut dia, untuk menanam dibutuhkan investasi senilai Rp 18 juta per ha.

Lebih lanjut Bambang mengatakan sumber pendanaan capex tersebut akan berasal dari dari hasil sebagian penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sebanyak Rp 112 miliar. Sedangkan sisanya berasal dari kas internal perseroan. Ia menjelaskan hal tersebut dikarenakan posisi kas perseroan sangat kuat, yaitu mencapai Rp 500 miliar yang tercatat pada akhir Juni ini. “Bahkan kami berencana untuk tidak mencari pinjaman baru selama dua tahun mendatang,” ujar Bambang.

Untuk tahun ini, tambah Bambang, perseroan berencana untuk membayar pokok utang dan bunga kepada beberapa bank senilai Rp 30 miliar. Bank tersebut adalah PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Namun, ia enggan untuk merinci pembayaran utang tersebut. Ia hanya menjelaskan dengan pembayaran tersebut akan mengurangi beban utang perseroan yang pada posisi 30 Desember 2010 mencapai Rp 685 miliar.

Pada kesempatan yang sama, Bambang memprediksi perseroan mampu mencetak laba sebanyak Rp 115-120 miliar hingga akhir semester I 2011. Jumlah tersebut, lanjut dia, meningkat 325,9-344,4% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebanyak Rp 27 miliar. Peningkatan ini ditopang oleh harga penjualan yang tinggi dari CPO dan karet. “Pencapaian tersebut merupakan 59,8-62,5% dari target laba bersih kami tahun ini yaitu Rp 192 miliar,” jelas dia.

Sedangkan untuk hasil RUPST, Bambang menjelaskan pemegang saham menyetujui penggunaan laba bersih untuk pencadangan dan laba ditahan. Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp80,11 miliar pada 2010. Penggunaan laba bersih tersebut akan digunakan untuk cadangan sebesar Rp7,21 miliar dan sisa menambah saldo laba untuk mendukung pengembangan usaha guna menunjang pertumbuhan permodalan. “Untuk tahun ini kita tidak membagi dividen. Tapi untuk tahun depan, kita akan membagikan dividen maksimum 30% dari laba bersih,” tandas Bambang.(iin)

Indorama Siap Investasi US$ 25 Juta


JAKARTA – PT Indorama Synthetics Tbk (INDR) siap investasi sebanyak US$ 25 juta pada 2011. Dana tersebut digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi pada mesin spining perseroan sebanyak 7-8% menjadi 3.200 ton per tahun. Sebab, saat ini kapasitas produksi perseroan sudah mencapai 100%. 

Sekretaris Perusahaan Indorama Synthetics VS Baldwa mengatakan peningkatan kapasitas produksi tersebut dengan menggantikan mesin lama mereka. Ia menambahkan sumber pendanaan investasi tersebut berasal dari kas internal perseroan. “Sebab, saat ini kas perseroan sangat kuat,” ungkap dia usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (28/6).

Baldwa menambahkan peningkatan investasi tersebut utnuk mengimbangi pertumbuhan konsumsi polyester dunia, yaitu 7-8%. Hal ini mengingat perseroan melakukan ekspor ke 80 negara. Bahkan, lanjut dia, kontribusi ekspor terhadap pendapatan perseroan mencapai 55-60%. “Sedangkan sisanya  berasal dari penjualan domestik,” jelas Baldwa.

Lebih lanjut Baldwa menambahkan perseroan belum bisa menargetkan laba bersih pada 2011. Sebab, lanjut dia, saat ini harga bahan baku selalu berfluktuasi sehingga volatilitas harga penjualan sangat tinggi pada tahun ini. Meskipun demikian, ia memprediksi laba 2010 akan lebih baik dibandingkan 2011. “Hal tersebut karena harga penjualan kami selalu berubah-ubah mengikuti pergerakan harga bahan baku,” paparnya.  

Pada kesempatan yang sama, Baldwa mengatakan perseroan akan membagikan dividen tahun buku 2010 sebesar Rp 85 per saham atau sekitar US$ 6,5 miliar. Jumlah tersebut, lanjut dia, merupakan 25% dari laba bersih 2010 sebanyak US$ 25,9 juta. Rencananya, pembagian divdien tersebut dilakukan pada 5 Agustus 2011. Sedangkan sisanya, lanjut dia, akan menjadi laba ditahan. “Hal ini sudah sesuai dengan kebijakan perseoan dan telah disetujui oleh para pemegang saham dalam RUPST,” tandas dia. (iin)

Medco Galang Dana US$ 500 Juta


JAKARTA – PT Medco Energy International Tbk (MEDC) menggalang dana melalui fasiltas pinjaman sebesar US$ 500 juta pada tahun ini. Fasilitas pinjaman tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan korporasi perseroan pada 2011 dan 2012.

Direktur Keuangan Medco Energy Syamsurizal Munaf enggan untuk menjelaskan jumlah kebutuhan pembiayaan korporasi pada 2011 dan 2011. Ia hanya mengatakan saat ini perseroan baru mendapatkan fasilitas pinjaman sebesar US$ 400 juta. Jumlah tersebut, lanjut dia, termasuk dari fasilitas pinjaman dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar US$ juta. Fasilitas pinjaman tersebut akan tersedia selama 24 bulan setelah penandatangan. Dengan 140 jangka waktu pelunasan lima tahun sejak fasilitas pinjaman tersebut dicairkan oleh perseroan.

“Dengan demikian, kami perkirakan dalam waktu dekat akan ada lagi fasilitas serupa dari bank lainnya,” ungkap Syamsurizal kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Syamsurizal memperkirakan untuk tahun ini perseroan akan mencairkan pinjaman sebesar US$ 50-100juta. Ia menjelaskan pencairan tersebut akan digunakan perusahaan untuk membiayai kembali kewajibannya yang telah dan akan jatuh tempo (refinancing), menurunkan biaya bunga atas kewajiban berjalan. “Serta pendanaan investasi perusahaan di aset-asetnya yang tengah dikembangkan,” lanjut dia.   

Sebelumnya Direktur Utama Medco Energy Lukman Mahfoedz mengatakan perseroan siap investasi US$ 1,2 miliar atau setara Rp 10,3 triliun pada 10 proyek migas. Jumlah tersebut dialokasikan selama 4 tahun ke depan. Kesepuluh proyek adalah Blok Sumatera Tengah dan Selatan, Blok A, Bawean, lapangan gas Senoro, gas lapangan Singa, blok Nunukan, Area 47 Libya, pembangunan pembangkit listrik system combine cycle di Batam, Sarulla Geothermal di Sumatera Utara, proyek pembanguan pabrik etanol di Lampung. 

Selain itu, Syamsurizal Medco juga tengah dalam proses menerbitkan obligasi berjangka dengan denominasi USD. Pada tahun ini, ia mengatakan tahap I sebesar sebanyak US$ 50 juta. Dalam obligasi tahap I tersebut, Medco menawarkan kupon bunga pada kisaran  5,55-6,05%. Saat ini, lanjut dia, proses tersebut sudah ada dalam tahap akhir dan distribusi obligasi diharapkan akan terjadi bulan ini. 
“Dengan serangkaian penggalangan dana yang telah dilakukan, yaitu fasilitas pinjamn dan penerbitan obligasi, seyogyanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di level korporasi untuk 2011 dan 2012,” tegas dia. 
Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo pernah mengatakan fasilitas pinjaman tersebut sangat positif untuk mendukung penggarapan proyek perseroan tahun ini. Terlebih proyek tersebut sangat membutuhkan dana yang sangat besar. Ia menilai secara teknikal harga saham MEDC berpotensi untuk rebound menyentuh level kisaran 2.500-2.800 pada pekan ini. Hal ini, lanjut dia, terlihat semenjak MEDC menembus level 2.050-2.200. “Saat ini sangat menarik untuk mengakumulasikan saham tersebut,” jelas Satrio.

Berdasarkan consensus dari para analis yang dikutip Blomberg menunjukan MEDC secara teknikal menunjukan PER 2011 sebesar 17,6 kali. Soalnya, angka valuasi konsensus diperkirakan akan menembus level 3.444 dalam 12 bulan mendatang. Masih dari hasil consensus tersebut, pendapatan MEDC diperkirakan akan mencapai US$ 805,5 juta pada 2011. Sedangkan laba setelah penyesuasian diprediksi mencapai US$ 40,9 juta. (iin)


Selasa, 28 Juni 2011

Toyota Astra dan Serasi Autoraya Naikan Obligasi Jadi Rp 2,1 T


JAKARTA – PT Toyota Astra Financial Services (TAFS) dan PT Serasi Autoraya (Sera) menaikan nilai obligasi yang mereka terbitkan tahun ini menjadi Rp 2,1 triliun. Untuk TAFS, meningkatkan sebanyak 60% dari target semula menjadi Rp 1,2 triliun. Sednagkan Sera hanya menjadi Rp 900 miliar dari sebelumnya sebesar Rp 800 miliar.

Sekretaris Perusahaan TASF Cokro Vera mengatakan obligasi tersebut terdiri dari tiga seri. Obligasi seri A senilai Rp 595 miliar berjangka waktu satu tahun dengan suku bunga 7,85%. Sementara seri B sebesar Rp 121 miliar dengan kupon 9% berjangka waktu dua tahun. Sedangkan untuk obligasi seri C dengan nilai Rp 484 miliar, suku bunganya ditetapkan 9,5% dan akan jatuh tempo dalam waktu tiga tahun.

Cokro menjelaskan peningkatan tersebut dikarenakan respon dari investor sangat tinggi terhadap obligasi yang pertama mereka keluarkan tersebut. “Permintan obligasi tersebut lebih dari Rp 1,2 triliun. Namun, kami akhirnya memutuskan untuk meningkatkan nilai tersebut,” ungkap Cokro kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (27/6). 

Sebelumnya, Direktur TAFS Kurnadi Tandudjaja menjelaskan hasil obligasi tersebut akan dipergunakan sebagai modal kerja untuk pembiayaan kendaraan bermotor bermerek Toyota dalam pengembangan usaha perseroan. Untuk itu, tambah Kurnadi, perseroan membidik pembiayaan kendaraan bermotor sebesar Rp 7,8 triliun. Jumlah tersebut meningkat 16,4% dibandingkan tahun lalau sebesar Rp 6,7 triliun.

“Tahun lalu kami berhasil membiayai 46.500 ribu unit,” papar Kurnadi.

Dalam penerbitan obligasi tersebut, perseroan telah menunjuk PT Trimegah Securities Tbk, PT HSBC Securities Indonesia dan PT Indo Premier Securities sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi. Sementara untuk wali amanat dipercayakan kepada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Astra Finance akan menggelar masa penawaran pada 28,30 Juni-1,4 Juli 2011. Obligasi ini akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2011.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Sera Yudas Tadeus menjelaskan peningkatan jumlah nilai obligasi tersebut dilakukan setelah mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK pada 24 Juni. Obligasi tersebut, lanjut dia, terbagi menjadi tiga seri. Obligasi seri A senilai Rp 245 miliar berjangka waktu satu tahun dengan suku bunga 7,9%. Sementara seri B sebesar Rp 185 miliar dengan kupon 9,1% berjangka waktu dua tahun.Sedangkan untuk obligasi seri C dengan nilai Rp 470 miliar, suku bunganya ditetapkan 10,2% dan akan jatuh tempo dalam waktu empat tahun.

Sebagai penjamin pelaksana emisi (underwritter), perseroan telah menunjuk PT Victoria Sekuritas, PT OSK Nusadana Securities Indonesia, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Indo Premier Securities. Obligasi ini mendapat peringkat Single A Plus dengan outlook stabil dari PT Pemeringkat Efek Indonesia(Pefindo).

Presiden Direktur Serasi Autoraya Pongki Pamungkas mengatakan, penerbitan obligasi tersebut akan digunakan untuk pembelian sekitar 4 ribu unit kendaraan dengan jenis MPV (multi propose vehicle), pick up. Boks, truk, dan bus untuk disewakan yang merupakan kegitan usaha utama perseroan. Namun, lanjut dia, yang akan paling banyak alokasinya adalah mobil yang paling banyak diminati, salah satunya dalah Innova.

Pongki menambahkan pembelian kendaraan tersebut seiring dengan target penambahan jumlah kendaraan perseroan pada tahun ini sebesar 10 ribu unit. Dengan demikian, ia mengatakan pada akhir tahun mendatang jumlah kendaraan yang akan dimiliki oleh perseroan menjadi 30 ribu unit. “Penambahan jumlah kendaraan ini akan mendongkrak pencapaian laba kami pada tahun ini menjadi Rp 4,5 triliun. Jumlah ini meningkat 28,5% dibandingkan laba tahun lalu,” tandas Pongki. (iin)

Senin, 27 Juni 2011

Tifico Siap Gelar Kuasi Reorganisasi


JAKARTA – PT Tifico Fiber Indonesia Tbk (TFCO) siap menggelar kuasi reorganisasi untuk menghapus defisit dari 2001 senilai US$ 200 juta. Rencananya, kuasi reorganisasi tersebut akan menggunakan buku semseter I 2011. Dengan demikian, perseroan menargetkan akan mampu membagikan dividen pada tahun mendatang.

Direktur Operasional Tifico Fiber Sugito Budiono menjelaskan proses kuasi ini sedang berjalan. Ia pun menargetkan akan selesai kuasi tersebut pada kuartal III 2011. Ia menambahkan sejak di ambil alih oleh Pioneer Atrium Holding Ltd pada April 2010, kinerja perseroan semakin membaik. Bahkan, lanjut dia, pada 2010, perseroan mampu mencetak laba bersih sebesar Rp 10,8 miliar.

“Bahkan pada kuartal I 2011, kami mampu mencetak laba sebesar Rp 13,3 juta. Jumlah tersebut melebihi target yang kami pasang untuk 2011, yaitu sebesar Rp 11 miliar,” jelas Sugito usai paparan publik di Jakarta, Senin (27/6). (iin)

Minggu, 26 Juni 2011

Pekan terakhir Juni, Harga SUN Menguat


Analis obligasi NC Securities I Made Adi Saputra mengatakan harga Surat Utang Negara (SUN) pekan ini akan mengalami penguatan. Namun, lanjut dia, penguatan tersebut akan sangat terbatas. Sebab, lanjut dia, dalam beberapa pekan lalu kenaikan harga SUN telah mencapai angka yang tertinggi. Dengan demikian, ia memperkirakan pada pekan ini pergerakan imbal hasil (yield) hanya akan turun sebesar 10 basis poin.

“Pergerakan ini hanya untuk SUN yang bertenor 10 tahun. Sedangkan untuk tenor pendek, masih akan bergerak flat di kisaran bunga 5,5%,” ungkap Made kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (24/6).

Made menambahkan penurunan yield tersebut ditopang oleh angka inflasi Juni yang diperkirakan akan mengalami peningkatan sebesar 0,15-0,25% (yoy) hingga menyentuh level 5%. Hal tersebut, lanjut dia, ditopang oleh terjadinya kenaikan beberapa bahan pokok selama Juni 2011. Mengingat pada bulan ini merupakan menjelang Ramadhan pada Juli Mendatang. Dengan demikian, lanjut dia, kemungkinan BI akan menaikan tingkat suku bunga hingga menyentuh level 7%.

Sebagai langkah antisipasi terhadap kenaikan inflasi tersebut, Made merekomendasikan pemodal yang masuk di tenor pendek hold terlebih dahulu hingga angka inflasi tersebut diumumkan. Terlebih, lanjut dia, pada akhir Juni mendatang akan ditentukan mengenai kelanjutan Quantitative Easing (QE) III Amerika Serikat (AS). “Hal ini membuat pemodal akan tidak intensif lagi dalam memasuki pasar obligasi,” jelas dia.

Sementara itu, ekonom BII Juniman memperkirakan harga SUN akan sideways. Dengan pergerakan imbal hasil (yield) hanya sebesar 10-30 basis poin pada tenor 10-30 tahun. Sebab, lanjut dia, sentimen positif diperkirakan masih sangat minim dan pemodal masih akan fokus pada penyelesaian krisis Yunani. Terutama dengan hasil pertemuan pemerintah Yunani dengan parlemen mereka dalam meminta persetujuan pengetatan anggaran pada 28 Juni mendatang. Hal tersebut, lanjut dia, bagai prasyarat pengucuran dana bailout bagian pertama tahap kelima sebesar 12 miliar euro (sekitar US$17 miliar) dari IMF dan Bank Sentral Eropa.

Menurut Juniman, hasil tersebut akan menjadi penentu bagi masa depan Yunani dan juga pasar obligasi global. Sebab, lanjut dia, jika parlemen Yunani menolak hal tersebut menyebabkan IMF dan Bank Sentral, kedua lembaga keuangan tersebut tidak akan mengucurkan dana tersebut dan membuat surat utang Yunani menyandang status default. “Hal ini tentu saja membuat pemodal masih akan memasang sikap wait and see pada pekan ini sehingga mempengaruhi pasar obligasi global. Termasuk harga SUN yang diperkirakan masih sideways,” jelas dia.

Meskipiun demikian, Juniman mengatakan kondisi dalam negeri masih cukup kondusif untuk pasar obligasi pekan ini. Menurut dia, hal ini sebagai pengaruh  dari angka inflasi yang akan diumumkan pada akhir Juni mendatang. Ia memperkirakan untuk inflasi Juni akan mengalami hanya mencapai 0,33%, sehingga hanya mencapai 5,33%. Jumlah tersebut, lanjut dia, lebih rendah dibandingkan pada Mei lalu yang menyentuh level 5,98%. “Hal tersebut membuat yield untuk enor menangah akan turun dan menjadikan SUN tersebut menarik lagi untuk diakumulasi,” papar dia. (iin)

Exploitasi Energi Cari Utang Rp 200 M



JAKARTA – PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) mencari tambahan utang sebesar Rp 200 miliar pada semester II 2011. Hal ini karena perseroan pada tahun ini membutuhkan utang Rp 400 miliar untuk membiayai 70% belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 600 miliar. Sebelumnya, perseroan baru mendapatkan utang sebesar Rp 200 miliar dari PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BBII) pada Februari lalu.

Direktur Keuangan Exploitasi Energi Jansen Surbakti mengatakan capex tersebut meningkat dari rencana semula yang hanya Rp 300 miliar. Pada awalnya, capex tersebut dialokasikan untuk tahap akhir Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Serta melanjutkan pembangunan di Rengat dan Tembilahan (Riau). Kedua PLTU tersebut, lanjut dia, ditargetkan selesai pada 2012. Namun, ia menambahkan capex tersebut meningkat seiring dengan realisasi kontrak baru dari PLN.

“Dlama kontrak tersebut kami akan menyuplai batubara sebanyak 1,5 juta ton pertahun. Kontrak tersebut mulai dilaksanakan tahun ini dan berakhir pada 2016,” ungkap Jansen usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Jumat (24/6).

Jansen menjelaskan sebagai perusahaan trading, realisasi kontrak tersebut membutuhkan modal untuk down payment (DP) kepada produsen batubara. Untuk itu, lanjut dia, perseroan berencana mencari utang dari pinjaman bank dengan menjaminkan dua kontrak mereka. Ia mengatakan saat ini perseroan sudah memiliki lima kontrak dengan beberapa perusahaan, termasuk dengan PLN dan juga Indonesia Power. Dengan lima kontrak tersebut, lanjut dia, perseroan menyuplai bartubara sebanyak 2,9 juta pertahun.   

Sedangkan untuk sisa pendanaan capex tahun ini, Jansen menjelaskan berasal dari kas internal perseroan. Oleh karena itu, lanjut dia, perseroan tahun ini tidak membagikan dividen dan menjadikan laba sebesar Rp 70,7 miliar sebagai tambahan kas perseroan dalam mendukung capex tahun ini.  “Hal ini sudah disetujui oleh pemegang saham dalam RUPST tersebut. Semua itu demi mengembangkan dan menyelesaikan proyek-proyek perseroan di masa mendatang,” jelas dia.

Lebih lanjut Jansen memaparkan dengan berbagai proyek dan kontrak yang digarap tahun ini, perseroan optimistis akan mampu mencatatkan pendapatan sebanyak Rp 1 triliun. Jumlah tersebut, lanjut dia, meningkat 30% dibandingkan 2010 yang hanya mencatatkan Rp 762 miliar. Sedangkan untuk laba perseroan, Jansen menargetkan akan mampu meningkat sebesar 30% diibandingkan pencapaian tahun lalu sebesar Rp 70,7 miliar. (iin)

Jumat, 24 Juni 2011

Nusantara Infrastructure Investasi US$ 250 Juta

Garap Pelabuhan dan Transportasi
Nusantara Infrastructure Investasi US$ 250 Juta

JAKARTA – PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) siap investasi sebesar US$ 250 juta pada tahun ini. Investasi tersebut dialokasikan untuk divisi baru perseroan yang menggarap sektor transportasi dan pelabuhan. Hal ini seiring dengan target perseroan untuk menjadi perusahaan investasi infrastruktur disamping jalan tol. 

Direktur Utama Muhammad Ramdani Basri menjelaskan saat ini perseroan tengah fokus pada pengembangan pelabuhan dan transportasi. Sebab, lanjut dia, peluang di sektor ini sangt besar seiring dengan kapasitas pelabuhan laut di Indonesia jauh tertinggal dibandingkan negara tertangga lainnya. Sebagai langkah awal, ia mengatakan perseroan akan mem,bentuk divisi baru, yaitu divisi pelabuhan dan transportasi.

“Kami perkirakan divisi baru ini akan terbentuk pada tahun ini. Sedangkan empat anak perusahaan kami yang saat ini bergelut di jalan ton akan menjadi satu dibawah divisi jalan tol,” ungkap Ramdani sela paparan publik di Jakarta, Jumat (24/6).

Direktur Nusantara Infrastructure Danni Hasan menambahkan sebagai langkah awal dalam waktu dekat perseroan akan mengakuisisi sebuah pelabuhan. Menurut dia, pelabuhan tersebut sudah beroperasi saat ini. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nilai akuisisi dan menyebutkan lokasi tersebut. Ia hanya menyebutkan lokasi akuisisi tersebut terletak di Sumatera atau Sulawesi.

“Kami menargetkan akuisisi tersebut akan selesai pada September mendatang. Nantinya, pelabuhan ini diperkirakan akan memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan konsolidasi perseroan,” jelas Danni.

Danni menambahkan perseroan masih mempertimbangkan beberapa opsi sumber pendanaan investasi tersebut. Diantaranya adalah setoran dari pemegang saham, kas internal, pinjaman perbankan, maupun mencari mitra

strategis. Menurut dia, saat ini kas internal perusahaan masih sangat kuat untuk mampu dalam menopang investasi tersebut. Ia menambahkan opsi pinjaman juga masih terbuka lebar. Sebab, lanjut dia, saat ini debt equity ratio (DER) masih berada di bawah satu kali. 

“Kami masih terbuka untuk meminjam hingga dua kali lagi. Sebab, saat ini rata-rata industri dalam sektor infrastruktur adalah 2-3 kali,” jelas Danni.

Lebih lanjut Danni menjelaskan dengan adanya tambahan akuisisi yang dilakukan dalam waktu dekat tersebut, aset perseroan akan meningkat sebesar 105,2% pada akhir tahun mendatang. Jika akhir tahun lalu nilai aset perseroan sebesar Rp 1,9 triliun, pada akhir 2011 akan menjadi Rp 3,9 triliun.
 
Direktur Nusantara Infrastucture Bernadus Djonoputro menambahkan selain pelabuhan dan transportasi, perseroan juga tengah menggarap divisi air. Saat ini, lanjut dia, perseroan tengah menanti hasil prakualifikasi dari proyek air minum Umbulan, Jawa Timur bernilai Rp 1,8 triliun. Ia menjelaskan pengumuman prakualifikasi

  proyek tersebut baru akan dilaksanakan pada 30 Juni mendatang. Dalam menggarapa proyek tersebut Nusantara Infrastruktur menggandeng PT Wijaya Karya dan perusahaan pengolaan asal Bahrain, Moya Holding. “Namun, untuk membentuk divisi ini kami masih belum dapat menentukan nilai investasi yang dibutuhkan,” tandas dia. (

iin)

Kamis, 23 Juni 2011

Tirta Mahakam Restrukturisasi Utang US$ 20 Juta


JAKARTA – PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) merestrukturisasi utang yang jatuh tempo pada tahun ini senilai US$ 25 juta. Utang tersebut berasal dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar US$ 15 juta dan Indonesia Exim Bank mencapai US$ 5 juta.  

Senior Manager Finance & Accunting Division Tirta Mahakam Firman G Munthe mengatakan dengan restrukturisasi tersebut utang mereka akan jatuh tempo pada 2013. Selain itu, lanjut dia, tingkat bunga yang harus ditanggung perseroan pun berubah menjadi lebih ringan, iatu 6,5% untuk berdominasi dollar dan 11,25% untuk rupiah.

Firman menjelaskan restrukturisasi utang tersebut dilakukan karena saat ini ekuitas perseroan sangat terbatas. Terlebih, lanjut dia, pada tahun lalu perseroan mengalami kerugian hingga Rp 9,9 miliar. “Terlebih pada tahun ini kami akan melakukan ekspansi untuk menggarapa lahan HTI yang baru kami dapatkan ijinnya pada tahun lalu, sebanyak 41.735 hektar (ha),” ungkap Firman usai paparan publik di Jakarta, Kamis (23/6).

Lebih lanjut Firman menambahkan dalam penggarapan lahan tersebut perseroan siap investasi senilai US$ 1 juta. Dana tersebut digunakan untuk clearance lahan sebanyak 500 ribu ha sebelum penanaman. “Sumber pendanaan itu akan berasal dari pinjaman perusahaan afiliasi perseroan, yaitu PT long Bagun Putra,” tandas dia. (iin)

Telkom Realisasikan Capex Rp 5,49 T



JAKARTA – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 5,49 triliun pada akhir Juni 2011. jumlah tersebut merupakan 40% dari total capex yang dialokasikan pada tahun ini sebesar Rp 13,7 triliun.

Direktur Utama Telkom Indonesia Rinaldi Firmansyah mengatakan dana tersebut digunakan untuk menyelesaikan proyek kabel optik di Ring Aceh dan Mataram-Kupang kable system. Ia menjelaskan pembangunan serat optik tersebut merupakan bagian dari pembangunan Nusantara Super Highway. Ditambah lagi, lanjut dia, dengan pembangunan Base Transceiver Station (BTS).

“Total BTS sudah sebanyak 42 ribu dan telah meliputi 97% wilayah Indonesia,” ungkap Rinaldi di sela Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, Kamis (23/6).

Rinaldi menambahkan sisa dana capex akan dipergunakan untuk menyelesaikan proyek perseroan lainnya di semester II. Ia menyebutkan salah satunya adalah menggarap serius layanan data Flexi. Sebab, lanjut dia, selama ini Flexi belum memiliki layanan data. Terlebih kontribusi Flexi saat ini masih sangat kecil dibandingkan dengan Speedy. “Untuk itu, pada Agustus mendatang kami akan melengkapi Flexi dengan e-video. Nilai investasinya sekitar US$ 50 juta,” jelas Rinaldi. 

Pada kesempatan yang sama, Rinaldi mengatakan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) anak usaha mereka, Telkomsel, diputuskan secara resmi untuk menambah jajaran direksi. Jika sebelumnya hanya lima menjadi delapan. Namun, lanjut dia, nama-nama dari jajaran direksi tersebut masih belum ditentukan. Ia mengatakan penentuan tersebut masih bisa dilakukan hingga akhir tahun mendatang.

Mengenai rencana buy back Telkomsel, Rinaldi menegaskan hingga saat ini belum ada komunikasi yang lebih dalam dengan Singapore Telecommunication Limited (Singtel). Menurutnya, tahapan yang baru dicapai adalah sekedar memberitahunan rencana tersebut pada Singtel. Ia mengatakan sesuai mandat dari hasil RUPS Telkom sebelumnya perseroan diharapkan bisa melakukan buy back 100%. Saat ini kepemilikan Singtel di operator seluler terbesar di Indonesia sebanyak 35%.

Dia mengatakan dalam mewujudkan rencana tersebut perseroan tengah membentuk tim untuk membahas secara internal. Langkah selanjutnya, tambah dia, perseroan juga akan menunjuk financial advisor dari luar negeri dalam dua tau tiga bulan mendatang. Hal tersebu, lanjut dia, dilakukan untuk menentukan nilai saham yang nantinya akan menjadi dasar harga penawaran kepada Singtel. Untuk itu, ia mengatakan dalam waktu dekan perseroan menggelar beauty contest terhadap lembaga keuangan internasional.

“Rencananya akan ada empat lembaga keuangan internasional yang bisa mengikuti beauty contest tersebut. Kami ingin mendapatkan perhitungan yang lebih kredibel dan bisa diajukan dalam proses negosiasi. Dengan catatan, jika pihak Singtel mau melakukan itu,” jelas Rinaldi.

Peluang Tipis

Analis BNI Securities Akhmad Nurcahyadi mengatakan peluang Telkom untuk buy back saham Telkomsel dari Singtel sangatlah tipis. Menurut dia, Singtel akan sangat suulit untuk melepas porsi mereka tersebut. Kalaupun terjadi, ia memperkirakan Singtel akan meminta kompensasi dengan devaluasi yang lebih tinggi dari bujet yang dimiliki oleh Telkom. “Potensinya, Singtel masih akan terus memegang Telkomsel,” jelas dia.

Akhmad menilai langkah Telkom buy back tersebut merupakan salah satu upaya mereka dalam meningkatkan pendapatan dari seluler. Terlebih selama ini penyumbang terbesar pereroan adalah Telkomsel. Namun, lanjut Akhmad, apabila cara tersebut tidak berhasil ditempuh Telkom lebih baik melakukan pelunasan utang. Hal tersebut dalam rangka meningkatkan efesinsi dalam beban kewajiban.(iin)


Indeks Flat Cenderung Naik - 24/6


Indeks Flat Cenderung Naik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diperkirakan bergerak flat dengan potensi naik. Pergerakannya diperkirakan berada di kisaran 3.795-3.825.

“Meskipun kecenderungannya naik, pergerakan indeks masih akan berada di kisaran yang sempit atau hampir sama dengan kemarin. Terlebih dalam penutupan kemarin (23/6), hanya Nikkei yang ditutup diatas support 9.600,” ungkap Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (23/6).

Satrio menambahkan selama tiga hari terakhir aliran dana asing sangat besar hingga mencapai Rp 1,3 triliun. Hal ini didukung dengan adanya window dressing yang biasa terjadi menjelang akhir semesteran. Dia memprediksi indeks indeks berpotensi mencetak rekor baru apabila  mampu menembus level 3.825.

“Untuk saham pilihan, saya merekomendasikan saham-saham ASII, GGRM, MEDC, TINS, dan UNVR,” jelas Satrio.

Sependapat dengan Satrio, pengamat pasar modal Wesley Andry memperkirakan indeks akan menguat dikisaran 3.795-3.825. Namun, lanjut dia, pelemahan masih akan mewarnai perdagangan di sesi pertama. Menurutnya, pembagian dividen dan ekspektasi kinerja emiten akan mendukung penguatan tersebut.

Wesley pun merekomendasikan saham-saham sektor konsumsi untuk dikoleksi di perdagangan terakhir pada pekan ini. Ia menyebutkan INDF, MYOR. “1Tidak hanya itu, saham perbankan juga masih layak utk dikoleksi, seperti BBRI dan BMRI,” tandas Wesley. (iin)

Rabu, 22 Juni 2011

Multistrada Ekspansi US$ 500 Juta


Multistrada Ekspansi US$ 500 Juta

JAKARTA – PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) siap ekspansi sebesar US$ 300-500 juta selama tiga tahun mendatang mulai 2012. Dana tersebut digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi lini ban mobil dan truk, serta motor.

President Director Multistrada Arah Sarana Pieter Tanuri menjelaskan dengan dana tersebut produksi ban mobil dan truk akan mencapai 45 ribu ban per hari pada akhir 2015. Jumlah tersebut meningkat 57,8% dibandingkan produksi pada akhir 2011 sebanyak 28.500 ban per hari. Sedangkan untuk ban motor, lanjut dia, akan meningkat 150% menjadi 40 ribu ban per hari dari sebelumnya hanya sebanyak 16 ribu ban per hari.

“Dengan ekspansi tersebut, tiga tahun mendatang kami akan masuk dalam jajaran top 30 produsen ban dunia,” ungkap Pieter di sela paparan publik di Jakarta, Rabu (22/6). 

Pieter menambahkan dana ekspansi tersebut akan berasal dari kas internal dan pinjaman perbankan. Namun, ia mengaku masih belum dapat menentukan porsi dari opsi pendanaan tersebut. Sebab, lanjut dia, hingga saat ini pihaknya belum memutuskan untuk pinjaman tersebut dan masih dalam tahap negosiasi dengan beberapa bank. Salah satunya adalah Japan Bank for International Cooperation (JBIC).

Meskipun demikian, Pieter mengatakan perseroan telah menyiapkan penjaminan aset berupa mesin dan tanah senilai US$ 300-500 juta. Hal ini mengingat dalam industri ban jaminan menggunakan perbandingan 1:1 dengan jumlah dana yang dibutuhkan dalam ekspansi. “Penjaminan aset ini sudah disetujui oleh para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB). Porsi pinjaman kami masih sangat besar. Sebab, saat ini Debt Equity Ratio (DER) kami masih dibawah 1 kali,” jelas Pieter.

Untuk mengamankan pasokan ban, Pieter berencana mengakuisisi lahan karet sekitar 30-50 ribu hektar. Saat ini, lanjut dia, tengah dalam tahap finalisasi dan diperkirakan dieksekusi dalam hitungan bulan mendatang. Dalam mempersiapkan penggarapan lahan karet tersebut, Pieter mengatakan perseroan telah membentuk anak usaha PT Multistrada Agro Internasional. Menurut dia, akusisi lahan perkebunan karet untuk mengamankan pasokan. Sebab, lanjut dia, harga karet dalam beberapa bulan terakhir selalu menguat.

Lebih lanjut Pieter menjelaskan dalam pengembangan lahan karet tersebut membutuhkan dana sebesar US$5.000-US$7.000 per hektar. Melihat investasi yang sangat besar tersebut, Pieter tengah mempertimbangkan opsi untuk mencari partner atau lebih memilih pendanaan utang lainnya. “Dalam pertimbangan ini, kami menunjuk HSBC sebagai penasehat keuangan. Rencananya, bulan depan sudah bisa mendapatkan hasil dari pertimbangan tersebut,” jelas dia.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Multistrada Arah Sarana J Sukarman menjelaskan perseroan membagikan dividen untuk pembagian dividen untuk tahun buku 2010 sebesar Rp 1 per saham atau senilai Rp 6,1 miliar. Jumlah tersebut merupakan 4% dari total laba bersih perseroan pada 2010 sebanyak Rp 176 miliar. Rencananya, pembayaran dividen tersebut akan dilakukan pada 25 Juli 2011. “Pembagian dividen ini telah disetujui oeleh pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Rabu (22/6),” papar Sukarman.

Sementara itu, Managing Research PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada mengatakan perseroan harus memperhatikan sumber pendanaan daalm ekspansi tersebut. Sebab, lanjut dia, perseroan harus bisa menurunkan biaya produksi demi mengimbangi kenaikan harga bahan baku. Hal ini terlihat dengan lebih tingginya pertumbuhan  beban penjualan dan kewajiban dibandingkan pendapatan pada 2010. Jika penjualan 2010 18%, sedangkan beban penjualan naiknya 19% dan kewajiban 30,94%.

“Hal ini berati kewajiban naik melebihi kenaikan pendapatan. Untuk itu, langkah perseroan untuk mengakuisisi lahan karet sangat tepat. Sebab, langkah tersebut dapat nmengefisienkan dan menekan beban pokok produksi perseroan,” tandas Reza. (iin)

Eatertaiment Potensi Rambah Batubara

Eatertaiment Potensi Rambah Batubara

JAKARTA – PT Eatertaiment International Tbk (SMMT) berpotensi rambah sektor batubara pada Agustus mendatang. Hal ini seiring dengan rencana pemegang mayoritas, Rajawali Corp, untuk melakukan perubahan bisnis inti perseoan tersebut.  Sebagai langkah awal, Rajawali menempatkan dua orang mereka dalam jajaran direksi.

Keduanya adalah Abed Nego menduduki posisi direktur menggantikan See Teck Aan. Serta Hendra Surya menggantikan Nicolas Tirtadinata sebagai Direktur Utama. Sebagai informasi, Hendra adalah Deputy Managing Director Rajawali Corporation. Ia pernah menangani kerjasama antara Rajawali Dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) pada 2009. Perubahan jajaran direksi Eatertaiment yang diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Rabu (22/6).

“Keduanya masuk sebagai direksi atas usulan pemegang saham mayoritas kami, Rajawali Corp,” ungkap Sekretaris Perusahaan Eatertaiment International Susanti Nila di Jakarta usai paparan publik di Jakarta, Rabu (22/6).

Ketika dikonfirmasi mengenai hal tersebut, Managing Director Mining &Resources - Corporate Relations Rajawali Corp Darjoto Setyawan hanya mengatakan pihaknya memang merencanakan untuk melakukan aksi korporasi pada tahun ini. Diantaranya adalah kemungkinan adanya pergantian inti bisnis. Rencananya, lanjut dia, aksi tersebut akan terlebih dahulu dilaporkan kepada regulator pasar modal pada Agustus mendatang. Sebab, saat ini rencana tersebut sudah masuk dalam tahap final.

“Sedangkan untuk arahnya, saya tidak mengatakan inti bisnis dari perseroan sebelum melaporkan kepada regulator. Namun, jika melihat dari perubahan jajaran direksi, arahnya sudah terlihat sangat jelas,” papar Darjoto.

Darjoto menambahkan seharusnya aksi korporasi tersebutu dilakukan pada tahun lalu, Tepat di saat Rajawali masuk di Eatertaiment. Namun, lanjut dia, hal tersebut malah ditunda karena ada rencana yang akan lebih besar lagi untuk digarap oleh perseroan. Ia menambahkan aksi korporasi tersebuit dilaksanakan yang akan dilakukan untuk pengembangan perseroan di masa mendatang.

Lebih lanjut Darjoto mengatakan Rajawali siap untuk menyuntikan dana untuk mendukung langkah manajemen perseroan dalam pengembangan di masa mendatang. Untuk itu, lanjut dia, Rajawali menyerahkan setiap keutusan kepada manajemen. “Kami optimistis aksi ini akan membuat suspensi terhadap saham SMMT dicabut pada Agustus mendatang,” tandas dia. (iin)

Selasa, 21 Juni 2011

BRI Kucuri Medco US$ 140 Juta

BRI Kucuri Medco US$ 140 Juta

JAKARTA – PT Medco Energi International Tbk (MEDC) mendapatkan fasilitas pinjaman dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar US$ 140 juta. Fasilitas pinjaman tersebut akan tersedia selama 24 bulan setelah penandatangan. Dengan jangka waktu pelunasan lima tahun sejak fasilitas pinjaman tersebut dicairkan oleh perseroan.

Direktur Keuangan Medco Energi International Syamsurizal Munaf mengatakan fasilitas pinjaman tersebut merupakan salah satau strategi perseroan dalam pendaanaan. Namun, Syamsurizal enggan untuk merinci tingkat suku bunga dan tanggal pencairan pinjaman tersebut. Ia hanya menjelaskan bahwa suku bunga pinjaman tersebut menggunakan acuan London Inter Bank Offered Rate (Libor) tiga bulan.

Syamsurizal menjelaskan fasilityas pinjaman tersebut dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan refinancing pinjaman perseroan yang akan jatuh tempo. Namun, ia enggan untuk menyebutkan jumlah utang tersebut. “Selain itu, pinjaman tersebut juga digunakan kebutuhan lainnya, seperti modal kerja, investasi dan penggunaan lainnya. Hal tersebut agar perseroan dapat terus tumbuh secara berkesinambungan,” ungkap Syamsurizal di Jakarta, Selasa (21/6).

Direktur Utama Medco International Lukman Mahfoedz menambahkan dengan adanya fasilitas tersebut membuat perseroan akan berkonsentrasi menyelesaikan proyek yang dimiliki pada tahun ini. Proyek tersebut adalah Senoro upstream dan downstream, Blok A, Sarulla, kegiatan eksplorasi, dan juga Enhance Oil Recovery (EOR) atau teknologi pemulihan minyak dengan cara injeksi surfactant dan polymer pada sumur-sumur tua di Blok Rimau, diantaranya lapangan Kaji- Semoga. “Alhamdulillah pendanaan semuanya sudah tersedia,” jelas Lukman.

Sebelumnya, Lukman menjelaskan siap investasi US$ 1,2 miliar atau setara Rp 10,3 triliun pada 10 proyek migas. Jumlah tersebut dialokasikan selama 4 tahun ke depan. Kesepuluh proyek adalah Blok Sumatera Tengah dan Selatan, Blok A, Bawean, lapangan gas Senoro, gas lapangan Singa, blok Nunukan, Area 47 Libya, pembangunan pembangkit listri sistem combine cycle di Batam, Sarulla Geothermal di Sumatera Utara, proyek pembanguan pabrik etanol di Lampung. 

Direktur Utama Medco Energi International Lukman Mahfoedz mengatakan dana tersebut akan berasal dari pembiayan juga kas internal dengan porsi masing-masing sebesar 70:30. Untuk itu, lanjut dia, perseroan membutuhkan ekuitas sebesar US$ 300-400 juta. “Salah satu sumber pendanaan ekuiti tersebut dengan menerbitkan obligasi berkelanjutan dengan mata uang dollar Amerika Serikat sebesar US$ 150 juta,” ungkap Lukman

Sedangkan Khusus mengenai EOR, Syamsurizal pernah mengatakan pada tahun ini perseroan mengalokasikan dana sebesar US$ 18-20 juta untuk penerapan proyek perintis (pilot). Hal tersebut, lanjut dia, dalam menyiapakan  pelaksanaan skala penuh EOR pada 2012. Dengan EOR tersebut, tambah dia, perseroan mengestimasi peningkatan cadangan potensial sebesar 64 MMBO mulai 2012. “Untuk investasi total EOR diperkirakan menelan US$ 800 juta,” jelas dia.

Ekspansi Medco

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan fasilitas pinjaman tersebut sangat positif untuk mendukung penggarapan proyek perseroan tahun ini. Terlebih proyek tersebut sangat membutuhkan dana yang sangat besar. Ia menilai secara teknikal harga saham MEDC berpotensi untuk rebound menyentuh level kisaran 2.500-2.800 pada pekan ini. Hal ini, lanjut dia, terlihat semenjak MEDC menembus level 2.050-2.200. “Saat ini sangat menarik untuk mengakumulasikan saham tersebut,” jelas Satrio.

Berdasarkan consensus dari para analis yang dikutip Blomberg menunjukan MEDC secara teknikal menunjukan PER 2011 sebesar 17,6 kali. Soalnya, angka valuasi konsensus diperkirakan akan menembus level 3.444 dalam 12 bulan mendatang. Masih dari hasil consensus tersebut, pendapatan MEDC diperkirakan akan mencapai US$ 805,5 juta pada 2011. Sedangkan laba setelah penyesuasian diprediksi mencapai US$ 40,9 juta. (iin)

Lippo Karawaci Tuntaskan Transaksi LMIRT US$ 159,1 Juta

Lippo Karawaci Tuntaskan Transaksi LMIRT US$ 159,1 Juta

JAKARTA – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) telah menuntaskan transaksi akuisisi 27,24% Lippo Mapletree Indonesia Retail Trust (LMIRT) dan peningkatan kepemilikan sebesar 40% di Lippo Mapletree Indonesia Retail Trust Management Ltd (LMIRT Mgt). Kedua transaksi tersebut bernilai US$ 159,1 juta.

Dengan transaksi tersebut membuat kepemilikan Lippo Karawaci di LMIRT meningkat menjadi 29,5% dari 2,26%. Transaksi tersebut juga akan menempatkan Lippo Karawaci sebagai pemegang unit pengendali LMIRT dan pemilik 100% dari LMIRT Mgt. Transaksi tersebut mendorong nilai mal dan asset management yang dimiliki perseroan menjadi US$ 4 miliar dalam 3-4 tahun. Hal tersebut menjadikan perseroan menjadi pemilik/pengelola mal terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Lippo Karawaci menunjuk Bank of America Merrill Lynch–Investment Banking Division sebagai penasihat Keuangan.

Presiden Direktur Lippo Karawaci Ketut Budi Widjaja menyatakan Selesainya akuisisi ini akan memperkokoh bisnis Mal dan Asset Management perseroan penggerak utama. Menurutnya, saat ini perseroan memiliki pipeline mal yang kuat yang sedang dikembangkan. Diantaranya adalah memasukkan dan memfasilitasi aset mal senilai US$2 miliar (Rp17 triliun) kepada LMIRT dalam tiga tahun ke depan. Selain itu, menambah aset mal yang telah dimiliki LMIRT saat ini senilai US$798  juta (Rp6,8 triliun) menjadi US$4 miliar (Rp34 triliun)  dalam 5 tahun.

“Dengan pertumbuhan sektor konsumen dan ritel di negeri ini yang terus berlanjut. Permintaan akan area ritel di lokasi tepat di seluruh Indonesia akan terus bertambah. Perseroan sungguh berada pada posisi strategis untuk memenuhi aspirasi gaya hidup konsumen di Indonesia,” ungkap Ketut dalma siaran pers di Jakarta, Selasa (21/6).

Dalam transaksi tersebut, Lippo Group (LIPPO) telah melaksanakan penempatan 1,45 miliar saham yang dimiliki oleh afiliasinya Pacific Asia Holdings Limited (PAH) dengan total US$ 112 juta kepada investor institusional strategis. Selanjutnya, PAH membeli secara langsung 1,45 miliar saham baru yang dikeluarkan oleh Lippo Karawaci pada harga yang sama dengan harga penempatan sahamnya kepada investor institusional strategis tersebut.

Dengan demikian, PAH memfasilitasi penempatan ini dengan menempatkan saham lama yang tidak dibatasi perdagangannya kepada investor global. Sebagai gantinya, PAH mengambil saham-saham baru dalam 12 bulan. Transaksi tersebut membuat kepemilikan saham PAH di Lippo Karawaci tidak berubah. Sementara itu, Lippo Karawaci akan menggunakan hasil penerbitan saham baru tersebut untuk mendanai kedua transaksi dengan LMIRT tersebut. Sedangkan sisa dari dana akusisi tersebut, didanai dari kas internal perseroan.

Hingga kuartal I-2011, tingkat hunian mal sewa telah meningkat menjadi 97,4% dari 86,7% di tahun sebelumnya. Pendapatan dan Laba Bersih LPKR juga naik masing-masing menjadi Rp 882 miliar dan Rp 136 miliar. Sementara itu, recurring Income LPKR tumbuh 20% menjadi Rp 471 miliar, atau 53,4% dari total pendapatan perseroan. Pendapatan perkapita perseroan lebih dari US$3 ribu yang akan mendorong penjualan residential, mal ritel, dan hospitals milik perseroan. Emiten properti ini tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kapitalisasi pasar senilai Rp14,5 triliun atau US$ 1,7 miliar.

Analis Sucorinvest Central Gani Pang Tek Djen menilai, transaksi tersebut akan semakin meningkatkan kontribusi mal terhadap pendapatan perseroan pada 2011. Hal ini terbukti dengan keberhasilan sektor mal memberikan kontribusi signifikan pada pendapatan di Kuartal I 2011. Hal tersebut, lanjut dia, semakin membuat saham sektor properti mulai bergerak di saat IHSG mulai menunjukkan koreksi. “Ini cukup bagus untuk membantu kinerja indeks. Apalagi jika aksi korporasi dilakukan oleh salah satu emiten besar seperti Lippo,” papar Tek Djen.

Sementara itu, analis Reliance Securities Andrew Sihar Siahaan pernah mengatakan, saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) merupakan salah satu saham yang diminati investor. Lippo Karawaci terbukti bisa mempertahankan kinerjanya dan memperluas portofolio dengan merambah rumah sakit dan kompleks pemakaman. ”Selain sektor hunian, Lippo Karawaci juga memiliki kontribusi pendapatan dari hotel, kompleks pemakaman San Diego Hills, dan jaringan rumah sakit Siloam. Saham LPKR bisa berpotensi mencapai Rp 1.000 pada akhir 2011,” ungkap Andrew. (iin)

Goodyear Bagi Dividen Rp 250 Per saham

Goodyear Bagi Dividen Rp 250 Per saham

JAKARTA – PT Goodyear Indonesia Tbk (GDYR) membagikan dividen tahun buku 2010 sebesar Rp 10,25 miliar atau setara Rp 250 per saham. Jumlah tersebut merupakan 13,6% dari total laba bersih 2010 sebesar Rp 75 miliar. Rencananya, dividen tersebut akan dibayarkan pada 2 Agustus 2011.

Sekretaris Perusahaan Goodyear Indonesia Agus Setiyanegara mengatakan pembagian dividen tersebut telah disetujui oleh pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Selasa (21/6). Ia menmabahkan meningkat dibandingkan tahun buku 2010 yang hanya sebesar Rp 9,2 miliar atau setara Rp 225 per saham. Kala itu, perseroan hanya mengalokasikan 7,6% dari total laba bersih 2009 sebesar Rp 121,08 miliar.

“Kenaikan dividen ini merupakan komitmen perseroan kepada pemegang saham. Padahal pada tahun buku 2010 perseroan mencatatkan penurunan laba bersih. Meskipun, pada 2010 laba bersih turun 61% dibandingkan 2009,” ungkap Agus usai RUPST di Jakarta, Selasa (21/6).

Agus menambahkan sisa laba sebesar Rp 50 juta dialokasikan sebagai laba cadangan. Sedangkan sisanya, lanjut dia, masih belum ditentukan penggunaannnya. Namun, ia mengatakan perseroan akan menggunakan dana sisa laba bersih 2010 tersebut untuk pembayaran utang perseroan. “Untuk jumlah pembayarannya diperkirakan sebesar US$ 7.500 kepada HSBC. Rencananya, pembayaran akan dilakukan pada akhir semester I mendatang,” jelas dia.

Lebih lanjut Agus mengatakan pada tahun ini perseroan menargetkan untuk memproduksi ban sebanyak 12 ribu ban per hari. Sebelumnya, Agus mengatakan perseroan hanya memproduksi 11 ribu ban per hari. Jumlah tersebut, tambah dia, merupakan pemenuhan jumlah kapasitas terpasang perseroan tahun ini. Peningkatan produksi ini dilakukan untuk memenuhi target pertumbuhan kinerja perseroan 2011. Namun, ia enggan untuk menjelaskan target tersebut.

“Hal ini karena perseroan berada dibawah pengendali dari regional. Jadi yang menetapkan target adalah holding dari perusahaan kami. Yang jelas kami optimistis akan terjadi pertumbuhan di tahun ini,” ucap Agus.

Agus menambahkan saat ini perseroan tengah membidik kontrak suplai ban original equipment manufacturing (OEM) dengan salah satu perusahaan mobil dibawah naungan GM. Ia pun optimistis kontrak tersebut akan didapatkan oleh perseroan pada tahun ini. Namun, ia menolak untuk menjelaskan potensi nilai kontrak tersebut. Ia mengatakan penjualan OEM ini menambah deretan klien suplai perseroan di pasar lokal. Sebelumnya, perseroan mensuplai ban OEM kepada Hino. (iin)

Senin, 20 Juni 2011

Ancora Bidik Kontrak US$ 45 Juta

Ancora Bidik Kontrak US$ 45 Juta

JAKARTA – PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS), melalui anak usahanya PT Multi Nitrotama Kimia (MNK), membidik kontrak senilai US$ 45 juta dari dua tambang batubara yang terletak di Kalimatan Timur dan Selatan. Kontrak yang dibidik tersebut merupakan pengadaan bahan peledak ammonium nitrat dan berdurasi selama tiga tahun.

Direktur Utama Ancora Indonesia Resources Dharma Djojonegoro mengatakan dengan kontrak tersebut perseroan akan menyuplai kedua tambang tersebut sebanyak 24 ribu ton ammonium nitrat per tahun. Ia menambahkan saat ini kontrak tersebut masih dalam proses tender. “Pesaing kami adalah enam perusahaan yang bergerak dibidang ini. Namun, yang menjadi produsen dalam negeri hanyalah kami. Selebihnya mengandalkan ammonium nitrat impor,” ungkap Dharma usai Rapat Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Senin (20/6).

Dharma menjelaskan jika mendapatkan kontrak tersebut, perseroan akan mulai mensuplai pada tahun depan. Ia mengatakan kontrak penjualan tersebut untuk guna memenuhi target volume penjualan perseroan pada tahun ini sebesar 180 ribu ton. Hal ini, lanjut dia, seiring dengan penambahan jumlah produksi dari pabrik MNK II sebesar 100 ribu ton yang akan mulai beropreasi pada Agustus mendatang. Sedangkan saat ini perseroan masih menghasilkan 40 ribu ton dari pabrik MNK I. “Nantinya, kami akan impor kekuarang dari produksi sebesar 40 ribu ton,” ucap Dharma.

Lebih lanjut Dharma menjelaskan, kontrak tersebut nantinya akan menjadi kontrak pertama MNK. Sebab, lanjut dia, selama ini penjualan Ammonium Nitrat melalui pasar (on spot). Menurut Dharma, penjualan on spot dipilih karena sebelumnya perseroan lebih banyak melakukan impor dalam pengadaaan suplai. “Dulu kami tidak berani dengan kontrak karena tidak yakin dengan suplainya. Tapi dengan adanya pabrik MNK baru tersebut, kami akan mulai mengubah pola penjualan on spot dengan kontrak. Dengan harapan tahun ini penjualan on spot hanya memiliki porsi sebesar 20%,” tegas Dharma.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Ancora Indonesia Resources, Aulia Omar mengatakan saat ini perseroan tengah melakukan pembicaraan dengan tiga institusi pendanaan untuk mendapatkan pinjaman sebesar US$ 20-30 juta. Pinjaman tersebut digunakan untuk mengambil alih kepemilikan tambang batu bara di Kalimantan Timur, yaitu Raja Kutai Bumi Makmur. Hal ini menyusul pembatalan rencana perseroan dalam menggelar rigths issue. Ia menambahkan dari ketiga itu, perseroan akan memilih satu institusi pendanaan yang memiliki bunga kompetitif sekitar 7-11% dengan jangka waktu 3-5 tahun. 

Sementara itu, Aulia menjelaskan perseroan akan membagikan dividen tahun buku 2010 sebesar Rp 1,8 miliar atau setara Rp 1,02 per saham. Jumlah tersebut merupakan 10% dari laba bersih yang dicatatkan perseroan pada 2010 sebesar Rp 18,6 miliar. Aulia menjelaskan pembayaran dividen tersebut akan dilakukan pada September mendatang. Alulia menambahkan sisa dari laba bersih perseroan akan digunakan untuk membiayai capex tahun ini sebesar US$ 30 juta. “capex kami tahun ini dialokasikan untuk pembangunan pabrik MNK II yang akan selesai pada Agustus 2011,” tandas dia. (iin)

JBIC Mendanai 80% Konsorsium Adaro

JBIC Mendanai 80% Konsorsium Adaro

JAKARTA – Konsorsium PT Adaro Energy Tbk (ADRO), J-Power, dan Itochu Corporation mendapatkan pendanaan dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) atau dikenal dengan bank ekspor-impor Jepang. Rencananya, JBIC akan mendanai sebanyak 80% dari total nilai investasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa Tengah yang berkapasitas 2 x 1000 MW sebanyak US$ 3-3,5 miliar.

“Sebanyak 80% dari total investasi proyek tersebut akan didanai dari JBIC. Sedangkan sisanya berasal dari porsi masing-masing konsorsium. Untuk Adaro sendiri memiliki 34%, J-Power 34%, sedangkan Itochu 32%. Diperkirakan pembangunan proyek tersebut akan mulai tahun depan,” ungkap sumber Investor Daily di Jakarta, Jumat (17/6).

Pada 17 Juni lalu, konsorsium Adaro telah dinyatakan secara resmi sebagai pemenang dari tender tersebut. Hal tersebut menyusul keputusan PLN bahwa konsorsium kAdaro menjadi satu-satunya peserta yang lolos kualifikasi teknis. Pada tahap tersebut, konsorsium berhasil menyingkirkan tiga peserta lain, yaitu Marubeni Corporation, China Shenhua Energy Company Ltd, dan konsorsium China National Technical Import and Export Corporation (CNTIC)-Guangdong Yudean Group Co Ltd.

Direktur Utama PLN Dahlan Iskan mengatakan setelah ini konsorsium tersebut akan menjalani tahap financial closing. Hal tersebut, lanjut dia, terdiri dari penandatanganan perjanjian penjaminan {guarantee agreement) , perjanjian regres, dan kontrak jual beli listrik (power purchase agreement) yang dijadwalkan pada 31 Agustus 2011. Dahlan berharap konsorsium tersebut dapat menyelesaikan financial closing dalam enam bulan. Meski, ia menyebutkan dalam kontrak disebutkan jangka waktunya adalah satu tahun. 
                                                                                                                                
“Saya melihat perusahaan mereka sangat besar, dan mustinya mereka bisa melakukan itu dalam enam bulan. Setelah itu pembangunan dilakukan yang diperkirakan akan berlangsung selama empat tahun,” jelas Dahlan.

Sebelumnya Dahlan mengatakan proyek ini juga sangat bersejarah karena unit terbesar PLTU yang pernah ada di Indonesia. Sebab, lanjut dia, Indonesia belum punya unit PLTU yang ukurannya satu unit sampai 1.000 MW. Selama ini, ia mengatakan terbesar adalah 660 MW, seperti yang ada di Tanjung Jati dan Paiton. Ia menambahkan harga yang diperoleh dari konsorsium tersebut juga sangat murah, yakni 5,79 cent USD/kWh. “Angka tersebut jauh dari perkiraan kami yang semula bisa mencapai 6,5 USD atau lebih,” ucap dia.

Sementara itu, Direktur Adaro Energy Andre Mamuaya mengakui bahwa konsorsium tersebut memang mendapatkan komitmen pendanaan dari JBIC. Namun, ia enggan untuk menyebutkan besarnya porsi bank asal Jepang tersebut. Ia hanya menjelaskan perseroan akan siap mendanai proyek tersebut sesuai dengan porsi perusahaan. “Kami akan mendanai porsi perseroan dari kas internal. Yang jelas kami sudah siap untuk semuanya, termasuk pendanaan. Semuanya hanya tinggal eksekusinya,” tegas Andre.

Andre menambahkan dalam pengerjaan Engineering, Procurement, Construction (EPC) proyek tersebut dikerjakan oleh Mitsubishi Heavy Industries. Ia menjelasakan dengan menggarap proyek tersebut memyempurnakan mata rantai penggunaan batubara yang diproduksi perseroan kepada suplai listrik. Selain itu, Andre mengatakan Adaro juga tengah menanti pengumuman hasil prakualifikasi tender Proyek PLTU tersebut berkapasitas 2x100 mw di Kalimantan Selatan (Kalsel) senilai US$ 350 juta. “Rencananya, pengumaman tersebut akan dilakukan pada bulan depan,” ujar dia.  

Dalam proyek tersebut, Adaro telah menggandeng mitra baru, East West Power Co Ltd (EWP). EWP adalah perusahaan pembangkit listrik asal Korea Selatan. EWP menggantikan Mitsui Co Ltd (Jepang) yang sebelumnya menjadi mitra Adaro. Pergantian itu dilakukan karena Mitsui mundur dari tender proyek milik PLN tersebut. Konsorsium Adaro telah mengajukan proposal penawaran pada 18 Mei 2011. Sampai saat ini. Adaro dan EWP belum menentukan porsi kepemilikan masing-masing perusahaan di PLTU Kalsel berkapasitas 2x100 MW tersebut Meski demikian, Adaro mengincar kepemilikan mayoritas.(iin)