Analis obligasi NC Securities I Made Adi Saputra mengatakan harga Surat Utang Negara (SUN) pekan ini akan mengalami penguatan. Namun, lanjut dia, penguatan tersebut akan sangat terbatas. Sebab, lanjut dia, dalam beberapa pekan lalu kenaikan harga SUN telah mencapai angka yang tertinggi. Dengan demikian, ia memperkirakan pada pekan ini pergerakan imbal hasil (yield) hanya akan turun sebesar 10 basis poin.
“Pergerakan ini hanya untuk SUN yang bertenor 10 tahun. Sedangkan untuk tenor pendek, masih akan bergerak flat di kisaran bunga 5,5%,” ungkap Made kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (24/6).
Made menambahkan penurunan yield tersebut ditopang oleh angka inflasi Juni yang diperkirakan akan mengalami peningkatan sebesar 0,15-0,25% (yoy) hingga menyentuh level 5%. Hal tersebut, lanjut dia, ditopang oleh terjadinya kenaikan beberapa bahan pokok selama Juni 2011. Mengingat pada bulan ini merupakan menjelang Ramadhan pada Juli Mendatang. Dengan demikian, lanjut dia, kemungkinan BI akan menaikan tingkat suku bunga hingga menyentuh level 7%.
Sebagai langkah antisipasi terhadap kenaikan inflasi tersebut, Made merekomendasikan pemodal yang masuk di tenor pendek hold terlebih dahulu hingga angka inflasi tersebut diumumkan. Terlebih, lanjut dia, pada akhir Juni mendatang akan ditentukan mengenai kelanjutan Quantitative Easing (QE) III Amerika Serikat (AS). “Hal ini membuat pemodal akan tidak intensif lagi dalam memasuki pasar obligasi,” jelas dia.
Sementara itu, ekonom BII Juniman memperkirakan harga SUN akan sideways. Dengan pergerakan imbal hasil (yield) hanya sebesar 10-30 basis poin pada tenor 10-30 tahun. Sebab, lanjut dia, sentimen positif diperkirakan masih sangat minim dan pemodal masih akan fokus pada penyelesaian krisis Yunani. Terutama dengan hasil pertemuan pemerintah Yunani dengan parlemen mereka dalam meminta persetujuan pengetatan anggaran pada 28 Juni mendatang. Hal tersebut, lanjut dia, bagai prasyarat pengucuran dana bailout bagian pertama tahap kelima sebesar 12 miliar euro (sekitar US$17 miliar) dari IMF dan Bank Sentral Eropa.
Menurut Juniman, hasil tersebut akan menjadi penentu bagi masa depan Yunani dan juga pasar obligasi global. Sebab, lanjut dia, jika parlemen Yunani menolak hal tersebut menyebabkan IMF dan Bank Sentral, kedua lembaga keuangan tersebut tidak akan mengucurkan dana tersebut dan membuat surat utang Yunani menyandang status default. “Hal ini tentu saja membuat pemodal masih akan memasang sikap wait and see pada pekan ini sehingga mempengaruhi pasar obligasi global. Termasuk harga SUN yang diperkirakan masih sideways,” jelas dia.
Meskipiun demikian, Juniman mengatakan kondisi dalam negeri masih cukup kondusif untuk pasar obligasi pekan ini. Menurut dia, hal ini sebagai pengaruh dari angka inflasi yang akan diumumkan pada akhir Juni mendatang. Ia memperkirakan untuk inflasi Juni akan mengalami hanya mencapai 0,33%, sehingga hanya mencapai 5,33%. Jumlah tersebut, lanjut dia, lebih rendah dibandingkan pada Mei lalu yang menyentuh level 5,98%. “Hal tersebut membuat yield untuk enor menangah akan turun dan menjadikan SUN tersebut menarik lagi untuk diakumulasi,” papar dia. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar