BRI Kucuri Medco US$ 140 Juta
JAKARTA – PT Medco Energi International Tbk (MEDC) mendapatkan fasilitas pinjaman dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar US$ 140 juta. Fasilitas pinjaman tersebut akan tersedia selama 24 bulan setelah penandatangan. Dengan jangka waktu pelunasan lima tahun sejak fasilitas pinjaman tersebut dicairkan oleh perseroan.
Direktur Keuangan Medco Energi International Syamsurizal Munaf mengatakan fasilitas pinjaman tersebut merupakan salah satau strategi perseroan dalam pendaanaan. Namun, Syamsurizal enggan untuk merinci tingkat suku bunga dan tanggal pencairan pinjaman tersebut. Ia hanya menjelaskan bahwa suku bunga pinjaman tersebut menggunakan acuan London Inter Bank Offered Rate (Libor) tiga bulan.
Syamsurizal menjelaskan fasilityas pinjaman tersebut dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan refinancing pinjaman perseroan yang akan jatuh tempo. Namun, ia enggan untuk menyebutkan jumlah utang tersebut. “Selain itu, pinjaman tersebut juga digunakan kebutuhan lainnya, seperti modal kerja, investasi dan penggunaan lainnya. Hal tersebut agar perseroan dapat terus tumbuh secara berkesinambungan,” ungkap Syamsurizal di Jakarta, Selasa (21/6).
Direktur Utama Medco International Lukman Mahfoedz menambahkan dengan adanya fasilitas tersebut membuat perseroan akan berkonsentrasi menyelesaikan proyek yang dimiliki pada tahun ini. Proyek tersebut adalah Senoro upstream dan downstream, Blok A, Sarulla, kegiatan eksplorasi, dan juga Enhance Oil Recovery (EOR) atau teknologi pemulihan minyak dengan cara injeksi surfactant dan polymer pada sumur-sumur tua di Blok Rimau, diantaranya lapangan Kaji- Semoga. “Alhamdulillah pendanaan semuanya sudah tersedia,” jelas Lukman.
Sebelumnya, Lukman menjelaskan siap investasi US$ 1,2 miliar atau setara Rp 10,3 triliun pada 10 proyek migas. Jumlah tersebut dialokasikan selama 4 tahun ke depan. Kesepuluh proyek adalah Blok Sumatera Tengah dan Selatan, Blok A, Bawean, lapangan gas Senoro, gas lapangan Singa, blok Nunukan, Area 47 Libya, pembangunan pembangkit listri sistem combine cycle di Batam, Sarulla Geothermal di Sumatera Utara, proyek pembanguan pabrik etanol di Lampung.
Direktur Utama Medco Energi International Lukman Mahfoedz mengatakan dana tersebut akan berasal dari pembiayan juga kas internal dengan porsi masing-masing sebesar 70:30. Untuk itu, lanjut dia, perseroan membutuhkan ekuitas sebesar US$ 300-400 juta. “Salah satu sumber pendanaan ekuiti tersebut dengan menerbitkan obligasi berkelanjutan dengan mata uang dollar Amerika Serikat sebesar US$ 150 juta,” ungkap Lukman
Sedangkan Khusus mengenai EOR, Syamsurizal pernah mengatakan pada tahun ini perseroan mengalokasikan dana sebesar US$ 18-20 juta untuk penerapan proyek perintis (pilot). Hal tersebut, lanjut dia, dalam menyiapakan pelaksanaan skala penuh EOR pada 2012. Dengan EOR tersebut, tambah dia, perseroan mengestimasi peningkatan cadangan potensial sebesar 64 MMBO mulai 2012. “Untuk investasi total EOR diperkirakan menelan US$ 800 juta,” jelas dia.
Ekspansi Medco
Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan fasilitas pinjaman tersebut sangat positif untuk mendukung penggarapan proyek perseroan tahun ini. Terlebih proyek tersebut sangat membutuhkan dana yang sangat besar. Ia menilai secara teknikal harga saham MEDC berpotensi untuk rebound menyentuh level kisaran 2.500-2.800 pada pekan ini. Hal ini, lanjut dia, terlihat semenjak MEDC menembus level 2.050-2.200. “Saat ini sangat menarik untuk mengakumulasikan saham tersebut,” jelas Satrio.
Berdasarkan consensus dari para analis yang dikutip Blomberg menunjukan MEDC secara teknikal menunjukan PER 2011 sebesar 17,6 kali. Soalnya, angka valuasi konsensus diperkirakan akan menembus level 3.444 dalam 12 bulan mendatang. Masih dari hasil consensus tersebut, pendapatan MEDC diperkirakan akan mencapai US$ 805,5 juta pada 2011. Sedangkan laba setelah penyesuasian diprediksi mencapai US$ 40,9 juta. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar