Kamis, 23 Juni 2011

Telkom Realisasikan Capex Rp 5,49 T



JAKARTA – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 5,49 triliun pada akhir Juni 2011. jumlah tersebut merupakan 40% dari total capex yang dialokasikan pada tahun ini sebesar Rp 13,7 triliun.

Direktur Utama Telkom Indonesia Rinaldi Firmansyah mengatakan dana tersebut digunakan untuk menyelesaikan proyek kabel optik di Ring Aceh dan Mataram-Kupang kable system. Ia menjelaskan pembangunan serat optik tersebut merupakan bagian dari pembangunan Nusantara Super Highway. Ditambah lagi, lanjut dia, dengan pembangunan Base Transceiver Station (BTS).

“Total BTS sudah sebanyak 42 ribu dan telah meliputi 97% wilayah Indonesia,” ungkap Rinaldi di sela Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, Kamis (23/6).

Rinaldi menambahkan sisa dana capex akan dipergunakan untuk menyelesaikan proyek perseroan lainnya di semester II. Ia menyebutkan salah satunya adalah menggarap serius layanan data Flexi. Sebab, lanjut dia, selama ini Flexi belum memiliki layanan data. Terlebih kontribusi Flexi saat ini masih sangat kecil dibandingkan dengan Speedy. “Untuk itu, pada Agustus mendatang kami akan melengkapi Flexi dengan e-video. Nilai investasinya sekitar US$ 50 juta,” jelas Rinaldi. 

Pada kesempatan yang sama, Rinaldi mengatakan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) anak usaha mereka, Telkomsel, diputuskan secara resmi untuk menambah jajaran direksi. Jika sebelumnya hanya lima menjadi delapan. Namun, lanjut dia, nama-nama dari jajaran direksi tersebut masih belum ditentukan. Ia mengatakan penentuan tersebut masih bisa dilakukan hingga akhir tahun mendatang.

Mengenai rencana buy back Telkomsel, Rinaldi menegaskan hingga saat ini belum ada komunikasi yang lebih dalam dengan Singapore Telecommunication Limited (Singtel). Menurutnya, tahapan yang baru dicapai adalah sekedar memberitahunan rencana tersebut pada Singtel. Ia mengatakan sesuai mandat dari hasil RUPS Telkom sebelumnya perseroan diharapkan bisa melakukan buy back 100%. Saat ini kepemilikan Singtel di operator seluler terbesar di Indonesia sebanyak 35%.

Dia mengatakan dalam mewujudkan rencana tersebut perseroan tengah membentuk tim untuk membahas secara internal. Langkah selanjutnya, tambah dia, perseroan juga akan menunjuk financial advisor dari luar negeri dalam dua tau tiga bulan mendatang. Hal tersebu, lanjut dia, dilakukan untuk menentukan nilai saham yang nantinya akan menjadi dasar harga penawaran kepada Singtel. Untuk itu, ia mengatakan dalam waktu dekan perseroan menggelar beauty contest terhadap lembaga keuangan internasional.

“Rencananya akan ada empat lembaga keuangan internasional yang bisa mengikuti beauty contest tersebut. Kami ingin mendapatkan perhitungan yang lebih kredibel dan bisa diajukan dalam proses negosiasi. Dengan catatan, jika pihak Singtel mau melakukan itu,” jelas Rinaldi.

Peluang Tipis

Analis BNI Securities Akhmad Nurcahyadi mengatakan peluang Telkom untuk buy back saham Telkomsel dari Singtel sangatlah tipis. Menurut dia, Singtel akan sangat suulit untuk melepas porsi mereka tersebut. Kalaupun terjadi, ia memperkirakan Singtel akan meminta kompensasi dengan devaluasi yang lebih tinggi dari bujet yang dimiliki oleh Telkom. “Potensinya, Singtel masih akan terus memegang Telkomsel,” jelas dia.

Akhmad menilai langkah Telkom buy back tersebut merupakan salah satu upaya mereka dalam meningkatkan pendapatan dari seluler. Terlebih selama ini penyumbang terbesar pereroan adalah Telkomsel. Namun, lanjut Akhmad, apabila cara tersebut tidak berhasil ditempuh Telkom lebih baik melakukan pelunasan utang. Hal tersebut dalam rangka meningkatkan efesinsi dalam beban kewajiban.(iin)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar