Senin, 20 Juni 2011

JBIC Mendanai 80% Konsorsium Adaro

JBIC Mendanai 80% Konsorsium Adaro

JAKARTA – Konsorsium PT Adaro Energy Tbk (ADRO), J-Power, dan Itochu Corporation mendapatkan pendanaan dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) atau dikenal dengan bank ekspor-impor Jepang. Rencananya, JBIC akan mendanai sebanyak 80% dari total nilai investasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa Tengah yang berkapasitas 2 x 1000 MW sebanyak US$ 3-3,5 miliar.

“Sebanyak 80% dari total investasi proyek tersebut akan didanai dari JBIC. Sedangkan sisanya berasal dari porsi masing-masing konsorsium. Untuk Adaro sendiri memiliki 34%, J-Power 34%, sedangkan Itochu 32%. Diperkirakan pembangunan proyek tersebut akan mulai tahun depan,” ungkap sumber Investor Daily di Jakarta, Jumat (17/6).

Pada 17 Juni lalu, konsorsium Adaro telah dinyatakan secara resmi sebagai pemenang dari tender tersebut. Hal tersebut menyusul keputusan PLN bahwa konsorsium kAdaro menjadi satu-satunya peserta yang lolos kualifikasi teknis. Pada tahap tersebut, konsorsium berhasil menyingkirkan tiga peserta lain, yaitu Marubeni Corporation, China Shenhua Energy Company Ltd, dan konsorsium China National Technical Import and Export Corporation (CNTIC)-Guangdong Yudean Group Co Ltd.

Direktur Utama PLN Dahlan Iskan mengatakan setelah ini konsorsium tersebut akan menjalani tahap financial closing. Hal tersebut, lanjut dia, terdiri dari penandatanganan perjanjian penjaminan {guarantee agreement) , perjanjian regres, dan kontrak jual beli listrik (power purchase agreement) yang dijadwalkan pada 31 Agustus 2011. Dahlan berharap konsorsium tersebut dapat menyelesaikan financial closing dalam enam bulan. Meski, ia menyebutkan dalam kontrak disebutkan jangka waktunya adalah satu tahun. 
                                                                                                                                
“Saya melihat perusahaan mereka sangat besar, dan mustinya mereka bisa melakukan itu dalam enam bulan. Setelah itu pembangunan dilakukan yang diperkirakan akan berlangsung selama empat tahun,” jelas Dahlan.

Sebelumnya Dahlan mengatakan proyek ini juga sangat bersejarah karena unit terbesar PLTU yang pernah ada di Indonesia. Sebab, lanjut dia, Indonesia belum punya unit PLTU yang ukurannya satu unit sampai 1.000 MW. Selama ini, ia mengatakan terbesar adalah 660 MW, seperti yang ada di Tanjung Jati dan Paiton. Ia menambahkan harga yang diperoleh dari konsorsium tersebut juga sangat murah, yakni 5,79 cent USD/kWh. “Angka tersebut jauh dari perkiraan kami yang semula bisa mencapai 6,5 USD atau lebih,” ucap dia.

Sementara itu, Direktur Adaro Energy Andre Mamuaya mengakui bahwa konsorsium tersebut memang mendapatkan komitmen pendanaan dari JBIC. Namun, ia enggan untuk menyebutkan besarnya porsi bank asal Jepang tersebut. Ia hanya menjelaskan perseroan akan siap mendanai proyek tersebut sesuai dengan porsi perusahaan. “Kami akan mendanai porsi perseroan dari kas internal. Yang jelas kami sudah siap untuk semuanya, termasuk pendanaan. Semuanya hanya tinggal eksekusinya,” tegas Andre.

Andre menambahkan dalam pengerjaan Engineering, Procurement, Construction (EPC) proyek tersebut dikerjakan oleh Mitsubishi Heavy Industries. Ia menjelasakan dengan menggarap proyek tersebut memyempurnakan mata rantai penggunaan batubara yang diproduksi perseroan kepada suplai listrik. Selain itu, Andre mengatakan Adaro juga tengah menanti pengumuman hasil prakualifikasi tender Proyek PLTU tersebut berkapasitas 2x100 mw di Kalimantan Selatan (Kalsel) senilai US$ 350 juta. “Rencananya, pengumaman tersebut akan dilakukan pada bulan depan,” ujar dia.  

Dalam proyek tersebut, Adaro telah menggandeng mitra baru, East West Power Co Ltd (EWP). EWP adalah perusahaan pembangkit listrik asal Korea Selatan. EWP menggantikan Mitsui Co Ltd (Jepang) yang sebelumnya menjadi mitra Adaro. Pergantian itu dilakukan karena Mitsui mundur dari tender proyek milik PLN tersebut. Konsorsium Adaro telah mengajukan proposal penawaran pada 18 Mei 2011. Sampai saat ini. Adaro dan EWP belum menentukan porsi kepemilikan masing-masing perusahaan di PLTU Kalsel berkapasitas 2x100 MW tersebut Meski demikian, Adaro mengincar kepemilikan mayoritas.(iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar