Indeks kembali menyentuh rekor baru di penghujung semester I dengan menyentuh level 3.888. Angka tersebut meningkat 58 poin (1,52%). Hebatnya lagi, asing melakukan aksi net buy menyentuh Rp 1,01 triliun. Sebuah angka yqang sangat fantastis terjadi hanya dalam satu hari.
Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan penutupan pada Kamis (30/6) merupakan rekor tertinggi yang pernah dicetak IHSG. Menurut dia, hal tersebut terjadi karena pengaruh kondisi global, terutama krisisi Yunani, yang sudah mendapatkan kepastian dalam penyelesaiannya. Selain itu, lanjut dia, window dressing juga sangat mempengaruhi pemecahan rekor tersebut. Uniknya, lanjut dia, dalam window dresing kali ini saham-saham yang ditarik lebih banyak merupakan saham lapis ketiga. Sedangkan untuk saham bluechip hanya pada ASII dan GGRM.
Satrio menjelaskan selama semester I 2011 IHSG berada di posisi teratas karena perekonomian dalam negeri Indonesia cukup kuat. Ia mengatakan kuatnya ekonomi Indonesia karena inflasi dalam negeri dapat dikendalikan dengan baik oleh pemerintah. Serta diperpanjangnya subsidi BBM oleh pemerintah. Alhasil, lanjut dia, kondisi indeks tidak terlalu berpengaruh dengan berbagai krisis yang terjadi di global sepanjang paruh pertama 2011, seperti krisis Eropa, ketidak pastian perbaikan ekonomi di Amerika Serikat (AS), hingga bencana alam di Jepang.
Menurut Satrio, kinerja perusahaan di semester I menunjukan hasil yang tidak terlalu bagus. Hal tersebut karena biaya dalam produksi dari emiten tersebut mengalami peningkatan serta harga komoditas yang sangat tinggi. “Dengan beban tersebut, kinerja emiten menjadi sulit untuk mencapai ekspektasi dari analis pada akhir tahun ini,” ungkap Satrio kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (30/6)..
Satrio menjelaskan kondisi IHSG pada semester II masih belum bisa diprediksi. Hal tersebut, lanjut dia, sangat tergantung pada keputusan pemerintah dalam subsidi BBM. Hal tersebut, lanjut dia, ditambah lagi dengan kondisi inflasi pada dua bulan mendatang yang diperkirakan akan tinggi seiring dengan adanya liburan anak sekolah, persiapan bulan puasa, dan Lebaran. “Dua bulan kedepan tersebut akan menjadi momok untuk bursa kita sehingga membuat IHSG cenderung konsolidasi hingga September mendatang,” jelas dia.
Hal tersebut, tambah dia, diperparah dengan kondisi global yang semakin tidak menentu. Hal ini, lanjut dia seiring dengan keputusan AS untuk tidak melanjutkan Quantitative Easing (QE). Ditambah lagi dengan pemerintah Tiongkok yang masih kesulitan dalam mengendalikan inflasi di negara mereka. Meskipun demikian, lanjut Satrio, sebelum terjadi konsolidasi dalam satu atau dua pekan mendatang IHSG masih berpotensi untuk mencari titik puncak baru atau menciptakan rekor baru. ia bahkan memprediksi IHSG akan menyentuh level 4.000.
“Namun, kita harus melihat aliran dana asing dalam dua pekan mendatang. Apakah masih masuk atau berhenti. Sebab, selesainya QE di AS yang menyebabkan likuiditas global menjadi sangat terbatas,” papar Satrio.
Satrio menilai, saham yang masih menjadi top gainer sepanjang tahun ini akan adalah saham lapis ketiga. Menurut dia, pergerakan saham lapis pertama masih terpusat, dalam artian hanya pada ASII dan GGRM. Unntuk itu, lanjut dia, pada paruh kedua tahun ini pemodal akan lebih banyak memperhatikan saham lapis ketiga dengan PE rendah. Ia menjelaskan saham lapis ketiga tersebut memiliki keunikan karena tidak mengikuti likuiditas global dan non fundamental. Menurt satrio, saat ini pemodal hanya tinggal menilai valuasi yang cocok hingga akhir tahun. “Jjika trader, sebaiknya melihat apakah sudah mencapai target jangka panjang atau pendek. Jika sudah kena, take profit terlebih dahulu,” tandas dia.
Prediksi Indeks Jumat (1/7)
Indeks Berpotensi Lanjutkan Penguatan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diprediksi menguat, seiring dengan sinyal positif yang ditunjukan oleh bursa regional. Terutama setelah akhirnya Yunani mendapatkan penyelesaian setelah parlemen mereka menyetujui untuk melakukan pengetatan anggaran.
“Hal ini membuat bursa regional bergerak positif. Indeks pun masih akan berpotensi untuk menembus rekor baru lagi. Dengan level support 3.870 dan resistance 3.915,” ungkap Satrio kepada Investor Daily, Kamis (30/6).
Pada perdagangan Kamis (30/6), indeks naik 58 poin (1,52%) ke level 3.888. Net buy asing bahkan mencapai Rp 1,01 triliun.
Namun, lanjut Satrio, pemoldal masih harus mewaspadai pengumuman inflasi yang akan diumukkan pada hari ini. Meskipun demikian, ia merekomendasikan saham grup Astra dan GGRM untuk dikoleksi. “Misalanya saja UNTR yang akan testing rekor di posisi 25.500,” ujar dia.
Sementara itu, pengamat pasar modal Wesly Andri memprediksi indeks berpotensi melemah tipis. Sebab, lanjut dia, biasanya setelah pencetatkan rekor terjadi aksi ambil untung oleh pemodal. “Saya memperkirakan pergerakan indeks akan berada di level support 3.838 dan resistance 3.932,” jelasnya.
Wesly menilai saham PTBA, AALI, SMGR, BMRI layak untuk dikoleksi pemodal di awal semester II ini. Sedangkan untuk saham ASII dan UNTR sebanykany dilepas terlebih dahulu. “Sebagai aksi profit taking,” tandas dia. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar