2012, Gajah Tunggal Jual Saham Petrochem
JAKARTA – PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) akan menjual saham PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG) sebesar 25,64% pada 2012. Berdasarkan nilai pasar saat ini, jumlah saham yang dimiliki perseroan diperkirakan bernilai US$ 80 juta. Rencananya, penjualan saham tersebut akan dilakukan kepada pembeli strategis dan publik.
Direktur Gajah Tunggal Catharina Widjaja mengatakan penjualan saham tersebut terkait dengan kebijakan perseroan yang ingin melepaskan seluruh saham non core business. Ia menambahkan penjualan saham akan lebih banyak dialokasikan kepada pembeli strategis. Sedangkan untuk public, lanjut dia, diperkirakan hanya akan menjual kepada public sebanyak 1-2%. Hal tersebut mengingat pada Juli lalu perseroan telah menjual sebanyak 3% saham di Polychem kepada public.
“Alokasi yang besar kepada pembeli strategis dimaksudkan agar dapat memberikan keuntungan kepada mereka. Namun, hingga saat kami masih belum menentukan nilai penjualan saham polychem tersebut,” ungkap Catharina di sela paparan public di Jakarta, Rabu (7/9).
Untuk itu, lanjut Catharina, perseroan hanya akan menjual saham tersebut kepada pihak yang benar-benar mengembangkan Petrochem dengan baik. Namun, ia mengaku hingga saat ini masih belum mendapatkan lakukan pembicaraan dengan pihak pembeli. Walau, tambah dia, beberapa waktu lalu investor dari Jepang telah menyatakan niat mereka. “Tapi saat ini belum ada. Mungkin ini terjadi karena kami belum menjajaki secara agresif penjualan saham ini. Kemungkinan penjajakan agresif baru akan dilakukan pada tahun depan,” jelas Catharina.
Berdasarkan laporan perseroan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Agustus 2011, kepemilikan public di Polychem telah mencapai 13,34%. Sedangkan untuk pemegang saham yang lebih dari 5% terdiri dari lima pihak. Selain Gajah Tunggal, pemegang saham Polychem adalah PT Agung Detraco Muda (10,87%), HSBC Trustee Limited (Singapura, 17,21%) Primevantage Limited (8,09%), dan PT Satya Mulia Gema Gemilang (24,83%).
Managing Research Indo Surya Asset Management Reza priyambada mengatakan pelepasan saham Petrochem yang dilakukan perseroan akan berdampak positif bagi kinerja Gajah Tunggal. Sebab, lanjut dia, pelapasan tersebut akan meringankan beban kewajiban perseroan terhadap Petrochem. Selain itu, ia mengatakan perseroan juga akan mendapatkan dana segar dari penjualan tersebut.
“Dana tersebut bisa digunakan perseroan untuk melakukan ekspansi mereka di masa mendatang. Dengan demikian, perseroan bisa lebih fiokus dalam menggarap core bisnis mereka,” papar Reza.
Reza menilai dengan pelepasan saham Petrochem tersebut tidak akan mengganggu supply pasokan bahan baku Gajah Tunggal. Sebabm lanjut dia, untuk perusahaan sekelas itu sudah pasti tidak hanya mengandalkan supply dari satu perusahaan saja. Supply tersebut, lanjut dia, malah akan menjadi ancaman untuk Petrochem apabila tidak tidak bisa mendapatkan pembeli sebesar Gajah Tunggal. Untuk itu, lanjut dia, tidak mengherankan apabila Gajah Tunggal sangat selektif untuk mencari pembeli strategis tersebut.
“Di sisi lain, penjualan saham kepada public dapat meningkatkan likuidtitas Petrochem di pasar saham. Namun, hal tersebut masih belum menjamin meningkatkan harga saham Petrochem. Sebab, hal tersebut akan sangat tergantung pada keberhasilan Gajah Tunggal mendapatkan pembeli strategis yang dapat lebih mengembangkan perseroan,” jelas Reza.
Pasok Proton
Pada kesempatan yang sama, Catharina mengatakan rencana perseroan untuk menjadi pemasok ban Original Equipment (OE) Proton baru akan terlaksana 2012. Padahal, sebelumnya perseroan memperkirakan hal tersebut akan terjadi pada November tahun ini. Ia menjkelaskan perubahan tersebutterjadi seiring dengan rencana Proton untuk mengubah jumlah pasokan ban dari perseroan. Ia mengatakan jumlahnya masih belum dapat dipastikan, tapi diperkirakan berkisar 3-4 ribu ban perbulan.
“Untuk potensi nilainya kami tidak bisa sebutkan. Terlebih saat ini kami masih dalam proses pembicaraan final. Kerjasama dengan Proton tersebut akan menjadi langkah pertama kami sebagai pemasok ban di luar negeri,” papar Catharina.
Selain Proton, lanjut Catharina, perseroan juga tengah membidik penjualan OE kepada produsen mobil Mistsubishi yang berada di Thailand pada tahun depan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Menurutnya, 2012 menjadi tahun agresif bagi perseroan untuk meningkatkan porsi penjualan OE. Sebab, lanjut dia, saat ini penjualan OE hanya berkontribusi sebesar 0,8%.
Meskipun demikian, Catharian menjelaskan perseroan tidak akan meningkatkan secara signifikan penjualan OE. Sebab, lanjut dia, margin dari penjualan OE sanagt tipis berkisar 2-6%. Menurut dia, penjualan OE dilakukan hanya sebagai bagian untuk strategi branding perseroan di luar negeri. “Sedangkan untuk margin penjualan ban replacement bisa mencapai 15-16%,” ujar dia.
Chatarina menambahkan hingga September 2011, produksi ban radial perserian telah mencapai 45 ribu ban perbulan dan sepeda motor hamper mendekati 90 ribu ban perbulan. Jumlah tersebut sudah mendekati 100% utilisasi produksi hasil ekspansi yang dilakukan sejak 2005. untuk itu, lanjut dia, tidak menutup kemungkinan apabila perseroan kembali untuk melakukan ekspansi produksi pada tahun depan. Namun, ia menegaskan hal tersebut masih dalam tahap pembahasan.
Meskipun demikian, Catharina mengatakan perseroan akan mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 20-25 juta pada 2012. Dana tersebut hanya digunakan untuk merawat mesin-mesin yang telah ada. “Dana tersebut akan berasal dari kas internal perseroan. Mengingat dana hasil obligasi yang diterbitkan pada 2005 telah habis terserap di tahun ini,” tandas dia. (iin)