Rabu, 21 September 2011

Investasi Luar Jawa Dorong Optimisme Bursa

Investasi Luar Jawa Dorong Optimisme Bursa

JAKARTA – Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan peningkatan porsi investasi yang dilakukan pemerintah melalui Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), di luar Jawa mendorong optimisme bursa. Sebab, peningkatan porsi investasi di luar Jawa dari 35% menjadi 45% tersebut menjadikan fundamental ekonomi Indonesia semakin kuat dimata pemodal.

“Hal tersebut tentu saja menjadi sentiment positif bagi pemodal untuk berinvestasi pada saham yang tercatat di BEI. Sebab, mereka tetap optimistis kinerja emiten Indonesia akan berkembang dengan baik,” ungkap Ito di sela Asia Money Infrastructure Funding Roundtable di Jakarta, Selasa (20/9).

Meskipun demikian, Ito menilai peningkatan porsi investasi di luar Jawa tersebut harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur. Sebab, lanjut dia, selama ini minimnya infrastruktur menjadi masalah terbesar emiten berekspansi. Pada akhirnya, tambahnya, akan menghambat mereka mencetak kinerja positif. Untuk itu, ia pun mendesak pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, terutama di wilayah luar Jawa.

“Pemerintah harus cepat dalam hal pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, bandara. Selama ini yang menjadi masalah dalam pembangunan tersebut adalah eksekusi, bukan pendanaannya. Karena pendanaan akan diberikan apabila ada kepastian dalam pembangunan infrastruktur,” ucap Ito.

Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menilai dengan perbaikan infrastruktur di Indonesia akan meningkatkan competitiveness industri dalam negeri. Dengan demikian, lanjut dia, perusahaan Indonesia akan menjadi pemain utama di negeri sendiri. “Karena itu, pemerintah untuk kebijakan jangka panjang untuk mendukung industri dalam negeri,” papar dia.

Sementara itu, Kepala BKPM Gita Wirjawan mengatakan pemerintah mengincar proyek infrastruktur baru sebesar US$ 40 miliar per tahun. Dengan demikian, lanjut dia, diharapkan dalam lima tahun investasi infrastruktur akan mencapai US$ 200 miliar. Untuk mendorong investasi tersebut, Gita mengatakan pemerintah telah memberikan tax allowance dan tax holiday terhadap pihak swasta yang menggarap hal tersebut.

“salah satunya yang mendapatkan insentif tersebut adalah Krakatau Steel,” papar dia. (iin)

AKR Corporindo Siapkan Dana Rp 250 M

Bangun Infrastruktur Tambang Batubara
AKR Corporindo Siapkan Dana Rp 250 M

JAKARTA – PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) akan membangun infrastruktur batubara Barito Utara, Kalimantan Tengah mulai 2011. Untuk itu, perseroan telah menyiapkan dana sebesar Rp 250 miliar. Infrastruktur tersebut berupa pembangunan pelabuhan dan jalan tambang, dan sarana penunjang lainnya.

Pembangunan infrastruktur tersebut dibutuhkan untuk mendukung produksi tambang batubara milik perseroan pada Juli 2011. Pada tahun ini, tambang tersebut ditargetkan memproduksi 300 ribu ton. Perseroan telah menunjuk PT Karunia Bumi Khatulistiwa sebagai kontraktor penambangan tersebut.

Direktur Keuangan AKR Corporindo V Suresh mengatakan dana tersebut berasal dari kas internal perseroan. Sebab, lanjut dia, posisi kas internal perseroan sangat kuat. Terlebih perseroan mendapatkan dana segar dari rights issue sebesar Rp 530 miliar pada 2010. Pada tahun yang sama, lanjut dia, perseroan juga mendapatkan dana dari dana hasil divestasi PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk (SAAC) kepada Cargill sebesar Rp 2,2 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2011, perseroan mencatatkan kas dan setara kas sebesar Rp 1,5 triliun. Jumlah tersebut meningkat 127% dibandingkan dengan kas dan setara kas yang tercatat pada 31 Desember 2010 sebesar Rp 691 miliar.

Suresh menambahkan infrastruktur tersebut akan selesai pada 2012. Sebab, lanjut dia, perseroan akan mulai menggarap empat tambang batubara lainnya pada tahun mendatang. “Pada tahun mendatang, kami juga akan kembali bekerjasama dengan kontraktor untuk menggarap keempat tambang batubara tersebut,” ungkap Suresh di usai Asia Money Infrastructure Funding Roundtable di Jakarta, Selasa (20/9).  

Direktur Utama AKR Corporindo Haryanto Adikusumo menambahkan pada bulan depan perseroan akan mulai mengekspor hasil produksi batubara sebanyak 40-50 ribu ton. Menurutnya, ekspor tersebut merupakan yang pertama kalinya dilakukan perseroan. “Harganya sesuai ICP, tahun depan produksi diharapkan meningkat. Hal ini karena baru mulai Juli kami mulai berproduksi. Kemungkinan mulai berkontribusi pada 2012-2013,” papar dia.

Pada kesempatan yang sama, Suresh memprediksi akan membagikan dividen sebesar 50-60% dari laba bersih pada tahun buku 2011. Hal tersebut menyusul keberhasilan perseroan mencetak laba bersih sebesar Rp 1,9 triliun pada semester II 2011. Padahal, lanjut dia, sejak lima tahun terakhir perseroan hanya membagikan dividen sebesar 30-40% dari laba bersih.

“Tahun ini sangat istimewa. Kami bahkan telah membagikan dividen interim sebanyak dua kali sepanjang tahun ini dengan total sebesar Rp 335,” tandas Suresh. (iin)

KS Berencana Beli Saham Perusahaan Tambang 5%

KS Berencana Beli Saham Perusahaan Tambang 5%

JAKARTA – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) berencana membeli saham sebanyak 5%  perusahaan pemilik tambang bijih besi maupun batubara kokas (hard cooking coal) dalam waktu dekat. Kecilnya pembelian saham tersebut dikarenakan perseroan tidak ingin mengubah focus dan bisnis inti saat ini.

Hal ini terkait dengan rencana perseroan yang akan membentuk anak usaha baru untuk menggarap bisnis tambang bijih besi dan batubara, yaitu Krakatau Natural Resources pada akhir 2011.

“Dengan masuk sebagai pemegang saham diharapkan perseroan mendapatkan keistimewaan mendapatkan pasokan bijih besi dan batubara kokas dari perusahaan komoditas tersebut,” ungkap Direktur Utama Krakatau Steel Fazwar Bujang di sela Asia Money Infrastructure Funding Roundtable di Jakarta, Selasa (20/9).  

Fazwar menambahkan pengamanan pasokan tersebut dilakukan seiring dengan menipisnya cadangan bijih besi dan batubara kokas. Disamping itu, lanjut dia, hal tersebut dapat meningkatkan competitiveness dari harga jual baja perseroan dalam jangka panjang. Sebab, lanjut dia, perseroan akan mampu meningkatkan efisiensi dalam biaya produksi.

Menurut Fazwar, pembelian saham perusahaan tambang telah banyak dilakukan perusahaan baja dunia. Misalnya saja Nippon Steel yang memiliki saham hanya sebesar 5% perusahaan tambang bijih besi di Brasil. “Dengan saham sebesar itu, Nippon Steel telah mendapatkan jaminan pasokan bahan baku. Jadi kami tidak perlu menguasai langsung tambang bijih besi batubara,” ucap dia. 

Fazwar menambahkan dengan minimnya pembelian saham tersebut, perseroan akan tetap focus dalam proyek ekspansi dan revitalisasi selama 2011-2014. Proyek yang meliputi industri hulu hingga hilir tersebut diperkirakan menghabiskan dana sebesar US$ 1,5 miliar. Ia menegaskan jumlah tersebut diluar investasi yang dilakukan perseroan dalam joint venture (JV) dengan PT Pohang Steel and Iron Coorporation (Posco) sebesar Rp 5-6 triliun pada tahap pertama.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication Krakatau Steel Wawan Hernawan mengatakan kemungkinan besar perseroan akan mendahulukan pembelian saham perusahaan bijih besi. Sebab, lanjut dia, pasokan bijih besi sangat dibutuhkan perseroan saat ini mengingat konsumsi perseroan pertahunnya mencapai 3 juta ton per tahun. Menurut dia, kemungkinan besar perseroan akan melirik tambang batubara yang memiliki kandungan titanium rendah.

“Hal tersebut karena dengan demikian titik didih yang diperlukan sangat kecil. Kalimantan disebut-sebut memiliki karakteristik tersebut,” tandas Wawan tanpa menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. (iin)

Sepatu Roda Lebih Penting Ketimbang Notebook

Bernadus Djonoputro – Managing Director PT Nusantara Infrastructure Tbk
Sepatu Roda Lebih Penting Ketimbang Notebook

Sepatu roda menjadi perlengkapan wajib yang dibawa Managing Director PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) Bernadus Djonoputro kemanapun pergi menjalankan tugasnya. Ia bahkan berani menolak perintah sang atasan apabila tidak mengijinkan dia membawa sepatu roda atau inline skate kesayanganya.

“Sepatu roda selalu saya bawa kemanapun pergi. Kalau perjalanan bisnis lebih penting membawa sepatu roda dibandingkan laptop. Bahkan, jika bos saya tidak mengijinkan untuk membawa sepatu roda, lebih baik tidak melakukan perjalanan bisnis,” ungkap Bernadus kepada Investor Daily, belum lama ini.

Menurut Bernadus, dengan membawa sepatu roda perjalanan bisnisnya akan menjadi lebih menyenangkan. Sebab, sepatu roda tersebut dapat digunakan menuju lokasi meeting tanpa hambatan dan lebih cepat. Meskipun, lanjut dia, terkadang jarak yang ditempuh sangat jauh. Ia menuturkan pernah menggunakan sepatu roda dari Kupang ke Bandara Eltari (10 km) dan dari Mataram ke Senggigi (20 km).

“Tidak hanya itu, saya juga kerap menggunakan sepatu roda ketika menjalani tugas di luar negeri. Misalnya saja dari Sunshine Coast ke Tweed di Queensland, Australia,” jelas bapak dari dua putri ini.

Pria yang akrab disapa Bernie ini menambahkan selain untuk bekerja, sepatu roda juga menjadi pilihannya melepas penat di sela-sela kesibukan menjalankan tugas. Terlebih di beberapa kota di dunia, seperti Paris dan Sidney, memiliki jadwal midnights skate. Dimana, para pegiat sepatu roda professional berkumpul dan mengelilingi kota di malam hari.

Bernadus mengaku memiliki beberapa jenis koleksi sepatu roda. Sebab, lanjut dia, setiap medan menggunakan jenis sepatu roda yang berbeda. Untuk memburu jenis sepatu roda tersebut, Ia rela memburu sepatu roda yang sesuai dengan keinginannya hingga ke Amerika Serikat (AS) dan Belanda. Bahkan, lanjut dia, beberapa diantara koleksinya dibuat khusus hanya sesuai dengan ukuran kakinya. “Biasanya harga sepatu roda jenis khusus sekitar Rp 25 juta,” papar pria yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP).  

Lebih lanjut Bernadus menjelaskan kecintaannya terhadap sepatu roda telah dimulai sejak usia 7 tahun. Semenjak itu, ia pun mengaku setiap hari hamper tidak pernah lepas dari sepatu roda hingga akhirnya mendirikan klub di Bandung. Pada kelas 1 SMP, ia berhasil membuktikan keahliannya dalam bersepatu roda dengan menjadi juara nasional. Setelah itu, ia pun dipercaya untuk mewakili Jawa Barat dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 1985.

“Kala itu, cabang sepatu roda baru pertama kali dipertandingkan di ajang nasional tersebut,” papar pria lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Perencanaan Wilayah & kota.  

Perjalanan Karir

Bernadus memulai karirnya dengan bekerja sebagai planning engineer di Brisbane Australia (1988-1990). Setelah itu, ia pun bekerja di American Express selama enam tahun dan berhasil memegang beberapa posisi penting. Ia bahkan dianugrahi penghargaan American Express Worldwide Chairman’s Award pada 1993. “Sampai saat ini, saya menjadi satu-satunya orang Indonesia yang pernah menerima penghargaan tersebut,” ucap dia.

Pada 1999, Bernadus melanjutkan karienya sebagai Direktur Marketing pada perusahaan konsultasi international Ernst & Young. Lima tahun kemudian, ia pun memutuskan untuk melanjutkan karirnya di PricewaterhouseCoopers menjadi Direktur Business Development. Hanya bertahan selama saatu tahun, ia pun mendirikan HD Asia Advisory pada 2005. Pada 2010, ia pun akhirnya bergabung di Nusantara Infrastruckture dengan menduduki jabatan sebagai Managing Director.

Bernadus banyak terlibat berbagai kegiatan social kemasyarakatan. Ia aktif di pergerakan palang Merah Idnonesia (PMI) sebgai advisor pada PMI Aceh. Ia pun mendirikan frontier assist dan friens of red cross, sebagai gerakan kaum professional dalam membantu efektifitas palang merah. Di bidang pendidikan, ia juga aktif dalam Mayarakat Knowledge Management Indonesia dan keggiatan pengembangan anak-anak berbakat. Ia pun duduk sebagai Dewan Pembina di Bandung international School. (iin)

KS Bentuk Anak Usaha Garap Sektor Tambang

KS Bentuk Anak Usaha Garap Sektor Tambang

JAKARTA – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) akan menggarap sector tambang bijih besi dan cooking coal (batubara kokas). Untuk itu, perseroan membentuk anak usaha bernama PT Krakatau Natural Resources pada akhir 2012. Saat ini, perseroan tengah menyusun persiapan dalam pembentukan anak usaha tersebut.

“Pembentukan anak usaha tersebut sudah mendapatkan ijin, tinggal segera direalisasikan. Semoga, akhir tahun ini sudah terbentuk,” ungkap Direktur Utama KS Fazwar Bujang di Jakarta, Senin (19/9).

Fazwar menambahkan perseroan telah menyiapkan modal awal untuk pembentukan anak usaha tersebut. Namun, ia enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai jumlah modal awal hal tersebut. Sebab, lanjut dia, hingga saat ini perseroan masih belum mendapatkan angka cadangan bijih besi dan batubara yang akan didapatkan. Meskipun demikian, ia menjelaskan dalam waktu dekat perseroan baru akan menentukan sumber pendanaan tersebut.

Menurut Fazwar, dalam pembentukan anak usaha tersebut perseroan memutuskan untuk tidak menggandeng partner. Sebab, lanjut dia, anak usaha tersebut akan dikuasai 100% oleh perseroan. Menurut Fazwar, dalam memasuki bisnis tersebut perusahaan tidak mutlat untuk mempunyai tambang sendiri. “Kami bisa masuk dengan membeli saham yang memiliki tambang bijih besi maupun batubara,” papar dia.

Pada kesempatan yang sama, Fazwar mengaku masih melakukan negosiasi dengan Pohang Iron and Steel Company (Posco) untuk membentuk Joint Venture (JV) baru. Sebelumnya, Fazwar mengatakan perusahaan patungan baru tersebut akan mengolah hasil limbah pabrik baja hasil JV KS-Posco menjadi semen, industri kimia, dan pembangkit listrik. Nilai total investasi pembangunan ketiganya diperkirakan menghabiskan US$ 450 juta.

Menurut Fazwar, kedua belah pihak belum memutuskan persentasi saham dalam pembentukan JV baru tersebut. Namun, ia tetap optimistis pembentukan dan pembangunan pabrik JV tersebut akan selesai berbarengan dengan pembangunan pabrik baja KS-Posco. “Sebab, jika tidak kami akan kebingunan untuk menaruh limbah yang dihasilkan oleh pabrik baja JV KS-Posco,” ujar dia.

Terkait dengan pembangunan pabrik baja patugangan tersebut, Fazwar menjelaskan perseroan dan Posco telah memenuhi porsi ekuity dalam proyek tersebut sebesar 30%. Sedangakn total investasi untuk tahap pertama diperkirakan menghabiskan US$ 6 miliar. Ia mengatakan KS menggunakan kas internal untuk pemenuhan ekuity tersebut. Meskipun KS membutuhkan pendaan yang besar dalam beberapa tahun belakangan ini, ia menegaskan perseroan belum berencana menerbirtkan obligasi.

“Hal tersebut karena obligasi sangat mahal untuk kami,” tandas fazwar. (iin)

Ancora Siapkan Dana Akuisisi US$ 30 Juta

Ancora Siapkan Dana Akuisisi US$ 30 Juta

Jakarta - PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OCAS) menyiapkan dana untuk mengakuisisi dua tambang batubara sebesar US$ 30 juta. Dana tersebut berasal dari pinjaman bank. Rencananya, perseroan akan mengakuisisi tambang berlokasi ada di Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan pada akhir tahun mendatang.

Direktur Utama Ancora Resources Indonesia Dharma Djojonegoro menjelaskan hingga saat ini perseroan masih mencari pinjaman tersebut. Meskipun demikian, ia optimistis perseroan akan mendapatkan pinjaman tersebut sebelum akhir tahun. Sebelumnya, perseroan telah mendapatkan komitmen fasilitas kredit dari bank asing sebesar US$ 25 juta. Pinjaman tersebut sebagian besar digunakan untuk membiayai akuisisi dan investasi tambang batubara PT Raja Kutai Bumi Makmur (RKBM).

Menurut Dharma, tambang bartibara yang akan meteka akusisi memiliki cadangan sebesar 10-30 juta ton. “Tambang tersebut berada di level early stage. Jadi, tambangnya sudah bukan green field lagi, melainkan sudah sampai di tahap eksplorasi,” ungkap Dharma di Jakarta, belum lama ini.

Sebelumnya, Dharma mengatakan akuisisi merupakan salah satu jalan agar perseroan dapat mencapai nilai kapitalisasi pasar saham senilai US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 9 triliun dalam lima tahun mendatang. “Dalam lima tahun mendatang, setidaknya kami mampu menguasai tambang batubara dengan produksi sebesar 10 juta ton pertahun. Untuk itu, dalam waktu dekat perseroan akan membentuk anak perusahaan yangbergerak pertambangan setelah berhasil akusisi RKBM,” papar Dharma.

Pada kesempatan yang sama, Dharma memprediksi pada kuartal III-2011 pendapatan perseroan akan mengalami penurunan. Hal tersebut, lanjut dia, berkaitan dengan molornya pembangunan pabrik Multi Nitrotama Kimia (MNK) II di Cikampek. Padahal sebelumnya, perseroan memperkirakan MNK II selesai pada Juni-Juli. “Kami memperkirakan pembangunan pabrik tersebut akan selesai pada Oktober mendatang. Keterlambatan ini membuat beban operasional meningkat dan menggerus pendapatan perseroan,” papar dia.

Meskipun demikian, Dharma optimistis perseroan akan kembali mencetak pertumbuhan pada kuartal IV 2011. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan keberhasilan anak usaha perseroan mendapatkan kontrak pengadaan bahan peledak ammonium nitrat dari Adaro senilai US$ 45 juta dengan durasi kontrak tiga tahun. Sebab, lanjut dia, dengan kontrak tersebut membuat penyerapan produksi MNK menjadi 100%.

Selain itu, lanjut Dharma, anak usaha mereka PT Bormindo Nusantara tengah membidik tiga kontrak dari sebuah perusahaan asing dan dua perusahaan local. Ia menyebutkan potensi kontrak tersebut sebesar US$ 1-5 juta per tahun. “Katiganya menawarkan durasi kontrak yang berbeda. Ada yang jangka pendek dan juga panjang,” tandas dia. (iin)

Harga SUN Berpotensi Menguat Terbatas

Harga SUN Berpotensi Menguat Terbatas

JAKARTA - Harga Surat Utang Negara (SUN) berpotensi menguat pada pecan ini. Namun, penguatan tersebut masih sangat terbatas karena imbal hasil (yield) diperkirakan menurun antara 10-40 basis poin untuk semua tenor. Hal tersebut didorong dengan adanya sinyal positif dari meeting The Fed pada 20-21 September mendatang.

Sentimen positif tersebut bahkan diprediksi analis obligasi akan mampu meredakan tekanan jual SUN yang terjadi pada pecan lalu. Menurut analis, sentiment tersebut memberikan harapan pemodal bahwa The Fed akan mengambil langkah positif dalam mendorong roda ekonomi Amerika Serikat. Namun, sentiment tersebut belum dapat memastikan langkah konkrit yang akan diambil The Fed tersebut.

Hal tersebut disebabkan opsi untuk meningkatkan roda ekonomi tidak hanya pada Quantitative Easing (QE), tapi juga adanya paket pekerjaan yang diajukan Presiden AS Barack Obama.  

Tidak hanya itu, sentiment positif juga dihasilkan oleh keputusan bank central dunia yang  siap menyiapkan likuiditas dollar di Eropa. Hal tersebut bahkan mampu membuat pergerakan di bursa saham dunia mengalami penguatan selama empat hari berturut-turut pada pecan lalu. Dengan demikian, pecan ini pasar modal dunia akan mengalami kondisi yang relative lebih stabil dibandingkan dengan sebelumnya.

Di sisi lain, kondisi domestic secara fundamental masih sangat mendukung untuk penguatan harga SUN pecan ini. Sebab, angka inflasi pada September diprediksi mencapai 4,5%. Angka tersebut jauh akan lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 5,8%.

Demikian rangkuman analis obligasi Trimegah Securities Imam MS, analis obligasi BNI Securities Ariawan, ekonom BII Juniman, dan analis Infovesta Utama Edbert Suryajaya kepada Investor Daily, Minggu (18/9).

Imam menambahkan kondisi domestic semakin kuat dengan langkah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI) buy back SUN saat tekanan jual terjadi pada pecan lalu. Menurutnya, hal tersebut mampu menunjukan bahwa secarta fundamental Indonesia masih berada di lingkaran positif. Untuk itu, ia pun memperkirakan yiled obligasi berpotensi menurun sebanyak 20-40 basis poin.

Dengan kondisi seperti itu, Imam menilai saat ini merupakan waktu yang tepat untuk pemodal local mengakumulasi SUN. Sebab, lanjut dia, saat ini obligasi Indonesia telah berada di level harga menarik setelah beberapa bulan lalu menyentuh titik mahal. Namun, ia memperingatkan pemodal untuk tidak mengakumulasi secara langsung di level harga yang sama. “Hal tersebut dilakukan untuk mencermati kondisi global yang berkembang di masa mendatang,” jelas dia.

Ariawan menilai meski terjadi penguatan tersebut, kecenderungan harga sun akan lebih konsolidasi sepanjang pecan ini. Untuk itu, tambah dia, yield diperkirakan hanya akan bergerak di level 5-10 basis poin. Dalam kondisi tersebut, ia merekomendasikan pemodal untuk melancarkan strategi trading jangka pendek. “Pemodal harus jeli melihat kesmepatan masuk harga rendah, dan profit taking disaat market rebound,” papar dia.

Bergerak Sideways

Sementara itu, Juniman mengatakan dengan sentiment positif tersebut membuat yiled akan bergerak sideways. Hal tersebut disebabkan pemodal masih melancarkan aksi wait and see untuk kondisi di Eropa terutama AS menjelang meeting The Fed. Untuk itu, ia memperkitakan tenor pendek akan bergerak kurang lebih 10-20 basis poin. Jangka panjang 20-50 basi poin.

“Meskipun demikian, investor asing dipastikan masih akan masuk ke Indonesia kartena dinggap masih memberikan yield yang menarik dibandingkan emerging market lainnya,” ujar Juniman.

Sementara itu, Edbert memprediksi yiled obligasi masih akan stabil dan cenderung naik. Hal ini disebabkan nilai tukat yang belum pasti serta sentuimen pasar yang belum sepenuhnya positif. Hal tersebut, lanjut dia, membuat investor ragu-ragu untuk masuk kebali ke pasar obligasi terutama pada awal pecan. Seperti halnya Juniman, Edbert menyarankan pemdoal untuk wait and see terhadap sentiment yang berkembang di AS dan Eropa.

“Jika belum ada sentiment positif, sebaiknya minggu ini jangan masuk. Kalaupun masuk sebanikanya trading jangka pendek. Dengan kisaran pergerajkan yield naik sebesar 30-40 basis poin,” tandas Edbert. (iin)



Minggu, 18 September 2011

Indomobil Garap Bisnis Kontraktor Batubara

Indomobil Garap Bisnis Kontraktor Batubara

JAKARTA – PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) menggarap bisnis kontraktor batubara pada tahun ini melalui anak usaha mereka, PT Prima Sarana Gemilang (PSG). Anak usaha yang berada dalam divisi Commercial Vehicle, Equipment and Mining tersebut tengah menggarap tambang milik Grup Salim di Berau, Kalimantan Timur, yaitu PT Nusantara Berau Coal (NBC).

Direktur Indomobil Sukses International Bambang Subijanto mengatakan ekspansi tersebut dilakukan untuk membangun sinergi dalam membangun nilai tambah di setiap lini bisnis yang ada saat ini. Hal tersebut seiring dengan ditunjukan anak usaha perseroan, PT Indotruck Utama sebagai distributor kedua Volvo Construction Equipment di Indonesia. Dalam hal ini, perusahaan akan menguasai wilayah pemasaran Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Papua.

“Dengan sudah memiliki alatnya, dan memiliki pengalaman dalam maintenance  alat berat, ditambah ada kesempatan. Kami pun tahun ini memutuskan masuk dalam bisnis kontraktor,” ungkap Bambang di Jakarta, Jumat (16/9).  

Bambang menjelaskan dalam PSG perseroan mengandeng partner untuk menggarap bisnis tersebut. Dengan porsi kepemilikan sebanyak 60%. Menurut dia, hal tersebut dilakukan karena selama ini perseroan tidak memiliki pengalaman di bisnis tersebut. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama partener meraka tersebut. Ia hanya mengatakan parner mereka penah menjadi komisaris salah satu perusahaan tambang terkemuka di Indonesia.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan PSG telah mampu memproduksi batubara milik NBC pada Maret 2011. Ia pun berharap pada akhir tahun perusahaan mampu mencapai target produksi yang ditetapkan NBC pada tahun ini sebanyak 1,7 juta ton. Ia menambahkan kontrak penggarapaan tambang tersebut berjalan selama tiga tahun. Namun, ia menolak untuk menyebutkan nilai kontrak yang didapatkan PSG.

“Dengan jumlah batubara yang dihasilkan, dapat diperkirakan berapa kontrak kami. Untuk tahun depan, kami ditargetkan untuk dapat menghasilkan 3 juta ton. Kami optimistis jumlah tersebut akan mampu direalisasikan,” papar Bambang.

Sebelumnya, Indomobil telah meraup dana segar hasil menggelar penerbitan saham baru (rights issue) sebanyak Rp 2,76 triliun pada Juli lalu. Untuk itu, perseroan telah menggelontorkan dana sebanyak Rp 553 miliar atau sebanyak 20% dari rights issue demi memperkuat penjualan Nissan. (iin)

Intraco Penta Berencana Terbitkan Obligasi Rp 1,3 T

Kuartal I 2012
Intraco Penta Berencana Terbitkan Obligasi Rp 1,3 T

JAKARTA – PT Intraco Penta Tbk (INTA) berencana untuk menerbitkan obligasi pada kuartal I 2012. Obligasi tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp 1,3 triliun. Jumlah tersebut sesuai dengan kebutuhan anak usaha, PT Intan Baruprana Finance (IBF), untuk pembiayaan alat berat tahun depan yang ditargetkan mencapai Rp 1,3 triliun.

Direktur Keuangan Intraco Penta Fred F Manibog mengatakan peningkatan pembiayaan tersebut seiring dengan tingginya permintaan alat berat pada tahun depan. Hal tersebut berdasarkan pembiayaan yang dicapai IBF pada tahun ini, yaitu sebesar Rp 1 triliun. Bahkan, lanjut dia, hingga akhir September mendatang IBF diperkirakan akan membiayai alat berat sebesar Rp 800 triliun.

“Untuk itu, kami masih menunggu kinerja IBF hingga Desember 2011. Jika perusahaan sesuai dengan yang diharapkan, kami baru akan memproses penerbitan obligasi,” ungkap Fred di Jakarta, Jumat (16/9).  

Fred menjelaskan saat ini perseroan tengah mempertimbangkan penerbitan obligasi syariah (Sukuk). Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia hanya mengatakan ekspansi pembiayaan yang dilakukan perseroan pada 2012 akan sangat menentukan jadi tidaknya perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia. Sebab, lanjut dia, peningkatan kinerja tersebut diharapkan mampu menaikan asset perusahaan hingga Rp 2 triliun.

“Sedangkan saat ini asset IBF masih sebesar Rp 1,1 triliun. Hal tersebut sangat kami perhatikan dan tidak ingin sembarangan. Sebab, kami ingin perusahaan tersebut memiliki peforma yang menjanjikan ketika menyandang perusahaan public,” tambah Fred.

Sementara itu, Fred mengatakan hingga akhir Agustus 2011, perseroan telah menjual sebanyak 1000 unit alat perat. Berdasarkan angka tersebut, ia optimistis perseroan akan mampu mencapai target penjualan tahun ini sebnayak 1.293 unit pada November mendatang.

Fokus Sulawesi

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Intraco Penta Petrus Alim mengatakan perseroan akan membangun lima cabang baru di Sulawesi pada 2012. Ia memperkirakan investasi pembangunan cabang tersebut mencapai US$ 15 juta atau setara dengan Rp 129 miliar. Pembangunan cabang tersebut, lanjut dia, dilakukan seiring dengan strategi perseroan untuk focus menggarap peluang di Sulawesi.

Hal tersebut terkait keputusan Volvo yang mengalokasikan wilayah Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku sebagai area penjualan dan pelayanan Intraco Penta. Sedangkan untuk wilayah Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Papua akan menjadi area penjualan serta pelayanan anak usaha PT Indomobil Sukses Internasional Tbk, PT Indotruck Utama.

Menurut Petrus, pembagian tersebut tidak akan mengganggu penjualan perseroan. Sebab, lanjut dia, ketiga pulau tersebut menyumbang 90% penjualan perseroan selama ini. Untuk itu, lanjut dia, perseroan optimistis akan tetap mampu meningkatkan akan focus menggarap wilayah yang masih berpeluang besar untuk aplikasi alat berat Volvo, seperti di Sulawesi.

“Kami akan membuka lima cabang pada 2012 dengan investasi minimal US$ 3 juta per cabang,” ucap Petrus.

Petrus menjelaskan sumber dana pembukaan cabang tersebut akan berasal dari kas internal. Namun, ia enggan untuk menyebutkan wilayah yang akan menjadi lokasi cabang tersebut. Ia hanya mengatakan pembukaan tersebut, perseroan memiliki total tujuh cabang di  Sulawesi. Sebelumnya, perseroan telah memiliki cabang di Makasar dan Manado. Dengan demikian, lanjut dia, perseroan memiliki tujuh cabang di Sulawesi. 

Menurut Petrus, Sulawesi memliki karakteristik pertambangan yang berbeda dengan Kalimantan. “Sebab, di wilayah tersebut pertambangan mineral lebih banyak dibandingkan batubara. Salah satunya adalah pertambangan nikel. Hal tersebut sangat sesuai dengan aplikasi Volvo,”tandas Petrus. (iin)

Kamis, 15 September 2011

Indeks Berpotensi Rebound (16/9)

Indeks Berpotensi Rebound (16/9)

Indeks harga saham gabungan hari ini berpotensi rebound pada kisaran 3.720-3.800. Hal itu terlihat dari pergerakan beberapa indicator teknikal. Pada perdagangan kemarin (15/9), IHSG ditutup melemah 24,7 poin (0,65%) di level 3.774.

“Saat ini, IHSG berada dilevel penting di pattern rectangle dan MA200 dengan bertahan diatas 3.735. Ada peluang terjadi rebound dan kemungkinan menjadi pemicu kenaikan,” ungkap Vice President dan Senior Technical Analyst Samuel Securities kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (15/9).

Meskipun demikian, Al Fatih menyarankan investor untuk melakukan trading jangka pendek dengan mengontrol resiko dengan ketat. Sebab, lanjut dia, saat ini kondisi Eropa masih dalam proses pemulihan krisis. Untuk itu, ia pun merekomendasikan investor untuk mengakumulasi saham BBRI dan BMRI.

Sementara itu, Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo memprediksi indeks akan bergerak flat menurun dengan level support 3.700-3.800 dan resistance  3.829. Hal tersebut terjadi akibat pengaruh bursa regional yang masih mencari level bottom. Meskipun demikian, ia memperkirakan indeks hari ini masih menyimpan tenaga untuk menembus level resistance.

“Hal tersebut terlihat dengan keberhasilan indeks menembus level 3.892 pada perdagagangan kemarin. Jika hal tersebut terjadi, ini akan menjadi sinyal bulish untuk trens jangka menengah,” papar dia.

Satrio merekomendasikan buy on weekness untuk saham lapis pertama yang mengalami tekanan penjualan pada perdagangan kemarin. Ia menyebutkan ASII, UNTR, GGRM. “hal tersebut karena secara fundamental saham-saham tersebut tidak mengalami perubahan dengan adanya penurunan harga saham tersebut,” tandas dia. (iin)

Capitalinc Jual Saham jalan Tol Ke Bakrie

Capitalinc Jual Saham jalan Tol Ke Bakrie

JAKARTA – PT Capitalinc Investment Tbk (MTFN), unit usaha Grup Recapital, menjual 25% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways kepada PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR). Dengan demikian, Bakrie & Brothers melalui anak usahanya, PT Bakrie Toll Indonesia, bakal menguasai 100% saham ruas tol Cimanggis-Cibitung dari saat ini 75%.

“Penjualan tersebut telah tertuang dalam perjanjian jual-beli (Sale Purchase Agreement/SPA) yang diteken pada Agustus 2011. Diperkirakan proses penyelesaian penjualan secara administrasi dan legal akan terjadi pada akhir September mendatang,” ungkap Direktur Utama Bakrie Brothers Bobby Gofur Umar di Jakarta, Selasa (13/9).

PT Cimanggis-Cibitung Tollways merupakan perusahaan pemegang konsesi jalan tol Cimanggis-Cibitung (25,39 km). Proyek tersebut diperkirakan menghabiskan investasi sebesar Rp 4,5 triliun. Sebelumnya, Bakrie Brothers menguasai 75% berkat akuisisi saham milik CC Tollways (CCT) sebesar 60%. CCT sendiri di dimiliki PLUS Expressways Bhd, investor jalan tol yang tercatat di Bursa Malaysia.

Bobby menambahkan pengambilalihan kepemilikan saham di perusahaan tersebut berdasarkan persetujuan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto pada tahun lalu. Hal tersebut, lanjut dia, dilakukan dengan pertimbangan untuk mempercepat proyek. Namun, Bobby enggan untuk menyebutkan nilai akuisisi tersebut. Ia hanya mengatakan perseroan telah menyiapkan uang muka pembebasan lahan dan jaminan pelaksanaan senilai Rp 100 miliar. Dengan rincian uang muka sebesar Rp 46,7 miliar, jaminan pelaksanaan kerja Rp 32 miliar, dan sisanya untuk modal kerja. 

“Pembebasan lahan proyek ini akan dimulai pada kuartal III 2011 sampai kuartal II 2013. Setelah itu, kami akan mulai kontruksi. Diharapkan konstruksi keempat seksi ruas tol Cimanggis-Cibitung dapat selesai pada 2014,” tegas Bobby.

Sementara itu, Direktur Capitalinc Investment Budi Prihantoro mengakui pihaknya telah melakukan kesepakatan untuk penjualan saham tersebut. Seperti halnya Bobby, Budi mengatakan saat ini kedua pihak masih menyelesaikan proses legal penjualan saham tersebut. Soalnya, lanjut dia, masih ada beberapa persyaratan terkait dengan regulasi yang berlaku. Selain itu, Budi mengatakan perseroan juga telah sepakat melakukan penjualan 5% saham kepada PT Aetra Air Tangerang.

“Namun, untuk penjualan saham Capital Multi Finance sebesar 95% masih belum dilakukan. Sebab, saat ini kami masih menawarkan kepada pemilik saham lainnya. Namun, belum ada feed back dari mereka,” jelas Budi.
Sebelumnya, Budi mengatakan pelepasan saham tersebut dilakukan karena perseroan hanya akan focus pada bisnis inti minyak dan gas (migas). Namun, Budi enggan untuk menyebutkan dana yang ditargetkan dalam pelepasan saham tersebut. Sebab, lanjut dia, hal tersebut akan mempengaruhi proses negosiasi. Ia hanya mengatakan uang yang didapatkan dari pelepasan ketiga anak usaha tersebut bukanlah tujuan utama.

“Pelepasan saham tersebut lebih pada konsolidasi bisnis dalam memperkuat focus bisnis perseroan di masa mendatang,” ucap Budi.
Sementara itu, Investor Relation Capitalinc Investment Budy Powito menjelaskan hingga akhir tahun lalu, nilai penyertaan dalam kedua perusahaan tersebut masing-masing mencapai Rp 8,6 miliar dan Rp 22,9 miliar. Berdasarkan rencana, dana hasil divestasi anak-anak usaha perseroan dengan kode emiten MTFN itu akan digunakan untuk membiayai modal kerja di lini usaha migas. Saat ini, Capitalinc telah memiliki empat blok kilang minyak dan dua blok lapangan gas. (iin)

Ancora Raih Pinjaman US$ 25 Juta

Ancora Raih Pinjaman US$ 25 Juta

JAKARTA – PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) meraih komitmen pinjaman dari bank asing sebesar US$ 25 juta. Pinjaman tersebut digunakan untuk mengambil alih kepemilikan tambang batu bara di Kalimantan Timur, yaitu Raja Kutai Bumi Makmur (RKBM). Hal tersebut menyusul keputusan perseroan yang membatalkan rencana perseroan rigths issue pada tahun ini.

Direktur Keuangan Ancora Indonesia Resources Aulia M Oemar menjelaskan pinjaman tersebut berdurasi lima tahun dengan tingkat bunga market rate. Namun, ia enggan untuk menjelaskan nama bank asing tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini komitmen tersebut belum dituangkan dalam perjanjian resmi. “Kami menargetkan penandatanganan secara resmi akan dilakukan pada akhir Oktober mendatang,” ungkap Aulia kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (13/9).

Aulia pernah menjelaskan selain biaya akuisisi dana pinjaman tersebut juga dialokasikan untuk anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) RKBM sampai tambang tersebut mulai beroperasi yang diperkirakan akan menghabiskan US$ 17 juta. RKBM menghasilkan batubara dengan kalori rendah.

Sebelumnya, Direktur Utama Ancora Indonesia Resources Dharma Djojonegoro mengatakan pembatalan rights issue tersebut karena pinjaman dinilai lebih sederhana dan sesuai dengan kebutuhan dana perseroan saat ini. Menurutnya, lanjut dia, right issue baru akan digelar saat saat kinerja perusahaan meningkat. Selain itu, ia menambahkan aksi korporasi itu paling cepat bisa dilakukan perseroan dalam tempo dua atau tiga tahun ke depan.

Dharma menambahkan perseroan membidik nilai kapitalisasi pasar saham senilai US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 9 triliun dalam lima tahun mendatang. Untuk itu, perseroan akan melakukan ekspansi baik organic maupun anorganik hingga 2016. Menurutnya, langkah yang paling memungkinkan untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan melakukan akusisi tambang batubara secara agresif. Mengingat saat ini nilai perseroan yang dipimpinnya masih relative kecil.

“Dalam lima tahun mendatang, setidaknya kami mampu menguasai tambang batubara dengan produksi sebesar 10 juta ton pertahun. Untuk itu, dalam waktu dekat perseroan akan membentuk anak perusahaan yangbergerak pertambangan setelah berhasil akusisi RKBM,” papar Dharma.(iin)

Tiga Penjamin Emisi Tangani Obligasi Antam

Tiga Penjamin Emisi Tangani Obligasi Antam

JAKARTA -  PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) telah menunjuk tiga penjamin emisi untuk menangani obligasi berkelanjutan yang akan diterbitkan perseroan senilai US$ 350 juta atau setara Rp 3,01 triliun. Ketiganya adalah Deustche Bank, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered Bank. Rencananya, tahap I obligasi tersebut akan diterbitkan pada November 2011 sebesar US$ 150 juta.

“Ketiga underwriter tersebut merupakan anggota dari konsorsium yang dipimpin PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada awal Agustus lalu,” ungkap Direktur Keuangan Antam Djaja M Tambunan di Jakarta, Senin (12/9).

Djaja menjelaskan obligasi berkelanjutan tersebut digunakan untuk mendanai proyek pabrik smelter feronikel di Halmahera Timur, Maluku Utara. Untuk mendanai proyek tersebut, perseroan diperkirakan membutuhkan dana sebesar US$ 1,5 miliar. Ia mengatakan perseroan akan menggelar road show semester II ini. “Prospektusnya akan diterbitkan dalam waktu dekat,” jelas dia.

Namun, Djaja mengatakan hingga saat ini perseroan belum menentukan dominasi obligasi tersebut. Menurut dia, perseroan tidak bermasalah apabila menggunakan dollar maupun rupiah. Walau, lanjut dia, pendapatan perseroan menggunakan dollar. Untuk itu, ia pun berharap pada akhirnya hasil obligasi berujung dengan dollar. Dengan demikian, lanjut dia, kalaupun dikeluarkan dengan rupiah pada akhirnya akan ditukar (swap) menjadi dollar.

“Tapi saat ini kami masih belum menentukan, saat ini lagi dibandingkan oleh financial advisor,” jelas Djaja.

Sebelumnya, Djaja mengatakan perseroan lebih memilih obligasi berkelanjutan karena pendanaan akan sesuai dengan kemajuan proyek yang tengah dikerjakan perseroan. Dengan demikian, perseroan tidak akan menanggung beban bunga yang tinggi saat dana tersebut belum terpakai. Namun, Djaja enggan untuk menjelaskan besaran dana yang akan dijaring dalam obligasi berkelanjutan tahap I. Ia hanya mengatakan jumlah tersebut akan sesuai dengan kebutuhan proyek di tahap awal.

Saat ini, lanjut Djaja, perseroan tengah melakukan persiapan proses tender untuk Engineering, Procurement and Construction (EPC). Ia pun menyebutkan bahwa sudah banyak calon yang berminat untuk EPC tersebut. Namun ia enggan untuk menyebutkan hal tersebut. “Dengan demikian, kami masih belum ada hitungan jumlah dana yang diperlukan pada tahap awal,” jelas Djaja. (iin)

2012, Telkom Akuisisi Perusahaan IT Lokal

2012, Telkom Akuisisi Perusahaan IT Lokal

JAKARTA – PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) akan mengakusisi perusahaan IT local pada 2012. Untuk akuisisi tersebut, perseroan telah menyiapkan dana sebesar Rp 1 triliun. Dana tersebut akan menjadi bagian dari alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun depan.

Direktur Utama Telkom Reynaldi Firmasnyah mengatakan perusahaan yang diakuisisi tersebut diluar operator telekomunikasi, yaitu IT, media, dan edutaiment. Ia mengatakan saat ini perseroan telah mengadakan pembicaraan dengan satu perusahaan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama perusahaan tersebut. Ia menyebutkan minimum alokasi akusisi sebesar Rp 1 triliun.

“Itu akan masuk pada anggaran capex tahun depan. Saat ini kami masih menyusun capex tersebut,” ungkap Reynaldi di Jakarta, Senin (12/9).   
 
Menurut Reynaldi, aksi korporasi tersebut tidak harus dalam bentuk  akusisi, aliansi, dan kerjasama. Ia mengatakan dengan aksi koroporasi tersebut persroan dapat memberikan pelayanan yang cepat kepada pelanggan. Hal tersebut mengingat kebutuhan pelanggan selalu berkembang dan ingin mendapatkan layanan yang cepat.

Pada kesempatan yang sama, Reynaldi mengatakan perseroan akan menunjuk financial advisor asing dalam kurun waktu satu-dua pecan mendatang. Saat ini, lanjut dia, perseroan tengah melakukan penilaian pada lima institusi. Nantinya, lanjut dia, kelimanya akan melakukan beauty contest untuk menentukan satu institusi. Reynaldi enggan untuk menyebutkan syarat mutlak dalam pemilihan institusi tersebut.

“Terpenting adalah bagaimana mereka membantu kita untuk merealisasikan minat kami untuk buyback saham SingTel tersebut. Sedangkan mengenai sumber pendaan adalah tujuan kedua kami dalam pemilihan financial advisor. Karena,” papar Reynaldi.

Reynaldi menambahkan perseroan baru akan memnentukan sumber pendanaan setelah menunjuk financial advisor tersebut. Ia mengatakan perseroan akan melakukan berbagai opsi pendanaan untuk merealisasikan aksi tersebut. Bahkan, lanjut dia, tidak menutup kemungkinan apabila perseroan menerbitkan obligasi sebagai salah satu opsi pendanaan. “hal ini mengingat pinjaman tersbeut bisa berupa obligasi dan juga kepada bank. Namun, terlalu dini untuk kami menyebutkan opsi itu saat ini,” jelas dia. 

Sementara itu, Direktur Utama PT Bahana Securities Eko Yuliantoro mengaku tengah melakukan beauty contest untuk lima calon financial advisor asing tersebut. Ia mengatakan perseroan akan memilij dua dari lima institusi tersebut. Menurut dia, financial adviosor tersebut dibutuhkan perseorn untuk melancarkan negosiasi dengan pihak SingTel. “Selian itu, mereka dinilai jauh lebih berpengalaman dan dekat dengan SingTel,” tandas Eko. (Eli/iin)

IPO Big Daddy Siap Lepas 35% Saham

Kuartal IV 2011
IPO Big Daddy Siap Lepas 35% Saham

JAKARTA – PT Prima Java Kreasi, perusahaan promotor yang dikenal dengan Big Daddy Production, berencana melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada kuartal IV 2011. Rencananya, jumlah saham yang akan dilepas ke public adalah 35% dengan membidik dana senilai Rp 300 miliar.

Presiden Direktur Prima Jaya Kreasi Michael Rusli mengatakan dana hasil IPO tersebut akan digunakan untuk ekspansi dan investasi infrastruktur seperti gedung, venue pertunjukan, serta modal kerja perusahaan di tahun mendatang. Menurutnya, perseroan juga telah menunjuk penjamin emisi (underwriter) untuk melaksanakan Ipo tersebut. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama underwriter tersebut.

“Minggu depan kami baru akan mengumumkan nama underwriter. Namun, yang jelas pada akhir bulan, kami akan melakukan mini expose kepada Bursa Efek Indonesia (BEI),” ungkap Michael kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (12/9).   

Michael menambahkan berbagai ekspansi dan investasi yang dilakukan tersebut seiring dengan keberhasilan perusahaan mendapatkan kontrak-kontrak dengan berbagai artis ternama di dunia. Hingga 2012 saja, lanjut dia, perusahaan sudah mengantongi kontrak senilai US$ 12-15 juta. Ia menambahkan jumlah tersebut belum lagi empat kontrak konser yang akan ditandatangani perusahaan dalam waktu dekat.

Bahkan, tambah Michael, beberapa konser diantaranya akan digelar lebih besar dibandingkan dengan Linkin yang akan digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 21 September mendatang. Untuk itu, ia pun optimistis public akan menyerap saham yang akan ditawarkan perusahaan. Sebab, lanjut dia, 2012 menjadi momentum bagi bisnis promotor. Hal tersebut seiring dengan semakin meningkatnya tingkat perekonomian masyarakat Indonesia sehingga mendorong kebutuhan terhadap hiburan semakin tinggi.

Hal tersebut, lanjut Micahel, ditambah lagi dengan sudah banyaknya artis dunia yang sudah mulai dating ke Indonesia. Untuk itu, ia pun optimistis di masa mendatang akan jauh lebih banyak artis dunia yang akan dating ke Indonesia. “Kami pun berharap konser Linkin Park ini bisa menjadi show case bahwa Indonesia mampu uintuk menggarap hiburan berskala besar,” papar Michael.

Menurut Michael, melantainya perusahaan promotor di pasar saham sudah banyak terjadi di beberapa belahan dunia. Salah satunya adalah Live Nation Entertaiment di Australia. Untuk itu, ia pun menilai layak apabila perusahaan dibandingkan dengan Live Nation dalam menentukan valuasi perusahaan. “Hal tersebut karena kami memiliki bisnis yang hamper sama, mulai dari promotor, konser hingga penjualan tiket,” papar dia.

Semantara itu, Sekretaris Perusahaan Prima Java Kreasi Hanny Marpaung menjelaskan bisnis promotor tersebut membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Ia mencontohkan dalam persiapan menggelar konser Linkin Park, perusahaan bahkan berani mengeluarkan biaya investasi sebesar US$ 4 juta. Investasi tersebut dialikasikan untuk membeli seperangkat sound system keluaran terbaru Adamson Toronto dengan sound level 121 db. Ia menjelaskan sound system seberat 20 ribu kg tersebut dikemas dalam container berukuran 4x40 kaki.

Hanny menjelaskan hingga tahun depan, perusahaan dijadwalkan akan mendatangkan musisi papan atas dunia, seperti Sade, Richard Marx, Elton John, Rod Stewart, dan masih banyak lagi. Tidak hanya konser musik, lanjut dia, perusahaan juga siap menggelar beberapa family shows, seperti Disney Live, Disney On Ice, Monster Jam, dan Phantom of Opera. Ia bahkan menyebutkan selama 2011, perusahaan telah mendatangkan tujuh artis dunia dengan nilai tkontrak sekitar US$ 5 juta.

“Total pendapatan hingga Juli 2011 mencapai Rp24 miliar, meningkat 336% dari periode Desember 2010, dengan laba bersih sekitar Rp5,4 miliar per 31 Juli 2011,” papar Hanny.

Big Daddy adalah perusahaan yang terintegrasi di bidang hiburan, pendidikan, dan komunikasi yang didirikan paad 2009. perusahaan memiliki kontrak eksklusif selama tuiga tahun dengan Feld Entertaiment untuk menyelenggrakan Disney Show di seluruh Indonesia. Selain itu, perusahaan juga telah menangani kontrak dengan klub sepak bola ternama dari Inggris, Liverpool FC, untuk menyelenggarakan sekolah sepak bola berskala internasional di tujuh wilayah Indonesia.(iin)


Dua Investor Gantikan Limitless Lcc

Dua Investor Gantikan Limitless Lcc

JAKARTA – PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) mendapatkan dua investor yang berminat untuk menggantikan Limitless Lcc dalam proyek Rasuna Episentrum. Investor tersebut berasal dari local dan asing. Keduanya bahkan siap untuk menggantikan porsi Limitless sebanyak 30% dan berinvetasi sebesar US$ 120 juta.

Direktur Utama Bakrieland Development Hiramsyah Thaib mengatakan kedua investor tersebut akan masuk lebih pada proyek-proyek yang ada di Rasuna Epiosentrum tersebut. Hal ini, lanjut dia, berbeda dengan Limitless yang lebih memilih untuk masuk pada posisi pemegang saham. Namun, ia mengaku masih belum bisa menyebutkan nama dan porsi kepemilikan saham bagi keduanya. Ia hanya mengatakan perseroan baru akan menentukan pada akhir September atau awal Oktober.

“Saat ini kami masih dalam proses negosiasi. Kami memperkirakan baru dapat diumumkan pada November mendatang. Enam bulan kemudian akan bisa memulai pembangunan proyeknya,” ungkap Hiramsyah di Jakarta, Jumat (9/9).

Hiramsuah menjelaskan nantinya, pembangunan proyek akan terbagi menjadi tiga tahap yang dimulai pada tahun ini. Tahap pertama, lanjut dia, perseoan dan dua investor tersebut akan menggarap perkantoran dengan nilai investasi diperkirakan mencapai US$ 60 juta. “Sedangkan untuk kedua dan ketiga masing-masing sebesar US$ 30 juta. Tahap kedua masih perkantoran dan ketiga baru apartemen,” jelas dia.(iin)

Bakrie Toll Road Konstruksi Dua Tol Kuartal II 2012

Kenalkan Struktur Fully Turn Key
Bakrie Toll Road Konstruksi Dua Tol Kuartal II 2012

JAKARTA – PT Bakrie Toll Road (BTR), anak usaha PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), akan memulai konstruksi fisik dua proyek ruas tol pada Kuartal II 2012. kedua proyek tersebut adalah Ciawi-Lido (11 km) dan Pejagan-Pemalang Seksi I (14 km).

Direktur Utama Bakrieland Development Hiramsyah mengatakan kedua ruas tol tersebut sudah dalam tahap akhir pembebasan lahan. Sebab, lanjut dia, keduanya sudah mencapai 95% dan diperkirakan akan selesai pada Januari-Februari 2012. “Dengan demikian, kami harapkan konstruksi bisa dimulai pada Maret-April 2012. Kami menilai bulan tersebut sangat tepat untuk pembangunan karena sudah tidak berada di musim hujan,” ungkap Hiramsyah di Jakarta, Jumat (9/9).

Untuk Ciawi-Lido, Hiramsyah mengatakan perseroan akan mencairkan pinjaman sindikasi sebesar Rp 1 triliun untuk mendanai pembangunan tersebut. Pinjaman sindikasi tersebut dipimpin oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang didapatkan perseroan pada tahun lalu. Namun, lanjut dia, struktur pinjaman  tersebut telah mengalami perubahan menjadi Fully Turn Key.

Hiramsyah menjelaskan dengan struktur tersebut pada tahap awal  pencairan pinjaman bukan ditujukan kepada perseroan, melainkan langsung dilakukan kepada kontraktor. “Nanti pada saat ruas tolnya sudah beroperasi, pinjaman tersebut baru akan diserah terimakan kepada BTR. Ini merupakan sebuah terobosan baru dalam pembangunan ruas jalan tol,” papar Hiramsyah.

Menurut Hiramsyah, struktur tersebut dapat mempercepat pembangunan ruas tol tersebut. Sebab, lanjut dia, dapat mencegah adanya resiko penggunaan dana untuk hal lain. Untuk itu, ia menilai struktur ini akan memberikan manfaat kepada seluruh pihak dalam pembangunan ruas tol tersebut.”Kami optimistis pembangunan ruas tol ini akan jauh lebih cepat dengan emngadopsi struktur tersebut,” papar dia.

Sementara untuk Pejagan-Pemalang, Hiramsyah menjelaskan pembebasan lahan seksi I sudah mencapai 95%. Namun, ia berharap pembangunan Pejagan-Pemalang dapat diriringi dengan mulainya kontruksi Cikampek-Palimanan. Sebab, lanjut dia, selama ini jalur Cikampek-Palimanan menjadi bottle neck dalam ruas pantura. Padahal, lanjut dia, seharusnya Dikampek-Palimanan menjadi yang pertama dibangun.

“Namun hingga saat ini penandatanganan PPJT saja belum dilakukan. Seharusnya pemerintah mendesak hal ini. Karena jika ruas tol terpotong-potong akan tidak bagus jadinya,” tandas Hiramsyah. (iin)

Bakrie Brothers Bidik Peringkat Obligasi Investment Grade

Bakrie Brothers Bidik Peringkat Obligasi Investment Grade  

JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) membidik peringkat layak investasi (investment grade) untuk obligasi senilai Rp 500 miliar - 1 triliun yang akan diterbitkan pada kuartal IV 2011. Sebab, peringkat tersebut akan menentukan jadi tidaknya perseroan menerbitkan obligasi. Rencananya, obligasi tersebut akan digunakan untuk refinancing utang jangka pendek perseroan kepada Credit Suisse (CS) senilai Rp 4,7 triliun.

Direktur Keuangan Bakrie Brothers Eddy Soeparno mengatakan pereseroan telah menunjuk Pefindo untuk menentukan peringkat tersebut. Menurutnya, jika mendapatkan peringkat tersebut, perseroan akan melanjutkan untuk menerbitkan obligasi pada kuartal VI mendatang. “Namun, jika tidak kami tidak akan melanjutkan untuk mengeluarkan obligasi. Sebab, peringkat tersebut menunjukan kemampuan kami dalam membayar obligasi tersebut,” ungkap Eddy kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (9/9).

Selain itu, lanjut Eddy, peringkat yang didapatkan obligasi tersebut juga akan menentukan nilai obligasi yang akan dikeluarkan. Ia mengatakan perseroan akan menerbitkan obligasi sebesar Rp 1 triliun apabila peringkat minimal AA. Sebab, lanjut dia, di peringkat tersebut dana pension sudah diperbolehkan untuk masuk di level tersebut sehingga penyerapan obligasi bisa lebih bervariasi. Tapi bila dibawah dari peringkat itu, ia menyebutkan maksimal obligasi yang akan dikeluarkan sebesar Rp 500 miliar.    

“Setelah mendapatkan peringkat tersebut, baru kami akan menunjuk underwriter yang menangani obligasi tersebut. Kami berharap bulan depan sudah mendapatkan peringkat tersebut. Kami pun masih optimistis akan dapat menerbitkan obligasi tersebut sesuai dengan target sebelumnya,” papar Eddy.

Sebelumnya, Eddy mengatakan selain menerbitkan obligasi perseroan juga akan merefinancing sisa utang kepada CS melalui pinjaman bank. Namun, ia masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai pinjaman tersebut. Pinjaman tersebut digunakan perseroan untuk menyelesaikan transksi Vallar Plc pada akhir tahun lalu. Berdasarkan perjanjian pinjaman dengan Credit Suisse cabang Singapura pada 2 Maret 2011, bunga pinjaman tersebut mengacu pada London Interbank Offered Rate (LIBOR) ditambah 6% per tahun.

Pada kesempatan yang sama, Eddy mengatakan perseroan telah memulai pembangunan untuk beberapa proyek mereka, diantaranya pembangkit listrik di Kalimantan Timur (Kaltim) kapasitas 2x18 megawatt. Dalam penggarapan pembangkit listrik tersebut, ia mengatakan perseroan menggandeng Tata Power. Sedangkan untuk pembangkit listrik di Sumatera Utara (2x10 megawatt) masih dalam tahap persiapan dan akan menjalani pembangunan pada tahun depan.

“Tidak hanya itu, perseroan juga telah menyuntikan dana sebesar Rp 100 miliar pada proyek jalan tol rua Cimanggis-Cibitung,” tandas Eddy. (iin)

Kuartal III 2011, Laba Exploitasi Energi Tembus Rp 55 M

Kuartal III 2011, Laba Exploitasi Energi Tembus Rp 55 M

JAKARTA - PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) diprediksi akan mencetak laba bersih sebesar Rp 50-55 miliar hingga kuartal III 2011. Laba bersih tersebut naik 17,8-29,5% dibandingkan dengan periode yang samaa pada tahun lalu sebesar Rp 42,44 miliar.

Direktur Keuangan Exploitasi Energi Jansen Surbakti mengatakan peningkatan laba bersih tersebut seiring dengan meningkatnya jumlah penjualan ekspor pada tahun ini. Selain itu, lanjut dia, peningkatan tersebut juga ditopang oleh kontrak baru dari PLN sebanyak 1,5 juta ton pertahun. Dengan demikian, ia menjelaskan perseroan sudah memiliki lima kontrak dengan menyuplai bartubara sebanyak 2,9 juta pertahun.

"Kontrak baru dari PLN tersebut mulai dilaksanakan tahun ini dan berakhir pada 2016. Kami pun optimistis akan mampu mencapai target laba bersih tahun ini," ungkap Jansen kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (8/9).

Sebelumnya, Jansen mengatakan perseroan akan mampu mencetakan laba bersih sebesar Rp 90 miliar pada akhir tahun mendatang. Jumlah tersebut meningkat 30% dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 70 miliar. Sedangkan pendapatan, ia optimistis mampu menembus Rp 1 triliun. Jumlah tersebut, lanjut dia, meningkat 30% dibandingkan 2010 yang hanya mencatatkan Rp 762 miliar.

Pada kesempatan yang samaa, Jansen memperkirakan perseroan akan mendapatkan pinjaman sebesar Rp 200 miliar pada September 2011. Namun, ia enggan untuk menyebutkan bank yang akan memberikan pinjaman tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan masih melakukan pembahasan lebih lanjut dengan beberapa bank.

Menurut Jansen, utang tersebut dialokasikan untuk membiayai belanja modal tahun ini sebesar (capital expenditure/capex) sebesar Rp 600 miliar. Capex tersebut  dialokasikan untuk tahap akhir Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Serta melanjutkan pembangunan di Rengat dan Tembilahan (Riau). Ditambah, lanjut dia, modal untuk down payment (DP) kepada produsen batubara.

Jansen membantah kabar yang menyebutkan bahwa ada investor asal India yang membeli saham perusahaan bergerak di bidang trading tersebut. Menurutnya, hingga saat ini perseroan tidak memiliki rencana untuk menjual saham. Namun, lanjut dia, perseroan tidak mengetahui apabila investor India tersebut melakukan pembelian saham di pasar.

"Sebagai perusahaan terbuka, membeli saham di pasar sudah sangat lazim. Tapi kamu tidak mengetahui hal tersbut," tandas dia. (Iin)

Trada Beli Convertible Bond Awesome Coal

Trada Beli Convertible Bond Awesome Coal

JAKARTA – PT Trada Maritime Tbk (TRAM) akan membeli obligasi konversi (convertible bond) yang akan diterbitkan PT Awesome Coal. Untuk itu, Trada menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan perusahaan asal Uni emirat Arab, Zakia Limited, pada 6 September 2011.   

“MoU tersebut akan ditindaklanjuti dengan perjanjian jual beli convertible bond dan transaksi ini harus disetujui oleh pemegang saham dalam Rapat Umum Luar Biasa Perseroan,” ungkap Direktur Trada Maritime Adrian E Sjamsul dalam keterbukaan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (7/9).

Adrian menjelaskan Zakia Limited adalah perusahaan yang berdiri berdasarkan hokum Uni Emirat Arab. Sementara PT Awesome Coal adalah perusahaan yang berdiri berdasatkan hokum Negara Republik Indonesia yang memiliki kepemilikan 99,99% saham PT Batu Kaya Berkat (BKB). Perusahaan tersebut menguasai 99,89% saham PT Gunung Bara Utama. Sebuah perusahaan yang memiliki izin usaha pertamabangan operasi produksi di tiga wilayah Kalimantan Timur, yaitu Mantar, Damai, dan Kutai Barat.  

Sementara itu, Marketing & Corp Comm Manager Asnita Kasmy mengatakan pembelian convertible bond tersebut bertujuan untuk memperkuat rencana dan strategi jasa pelayanan perkapalan perseroan. Salah satunya di segmen bisnis dry bulk (curah kering) yang selama ini banyak melayani muatan produk pertambangan, seperti batubara. Hal tersebut seiring dengan ekspansi yang dilakukan oleh perseroan dengan membeli kapal tipe panamax pada tahun lalu.

“kapal tersebut adalah MV Samudera Bangsa dengan kapasitas 72 ribu DWT seharaga US$ 30 juta,” jelas Asnita.

Namun, Asnita enggan untuk menjelaskan nilai dari convertible bond dan jumlah saham yang dikonversikan tersebut. Ia hanya mengatakan perseroan mengintegrasikan bisnis curah kering dengan menggarap bisnis batubara melakui langkah akusisi PT Gunung Bara Utama.

Sebelumnya, Adrian pernah mengatakan perseroan tengah mencari pinjaman sebesar US$ 90 juta dari sejumlah bank lokal maupun asing. Perseroan akan menggunakan pinjaman tersebut untuk mendanai belanja modal (capital expenditure/ capex) perseroan yang mencapai US$ 120 juta. Dana tersebut digunakan untuk enam hingga tujuh armada baru dan juga mengakuisisi perusahaan.

Kala itu, Adrian menjelaskan apabila potensi akuisisi ada, perseroan akan menerbitkan surat utang. Namun, Adrianus belum mau menjelaskan kapan dan besaran obligasi tersebut akan dilaksanakan. Tahun ini, perusahaan melebarkan sayapnya dengan melirik pelayaran internasional karena berpotensi memberikan kontribusi besar kepada perusahaan. “Kami akan tambah dua hingga tiga kapal baru ukuran Handymax dan Panamax yang harganya sekitar US$ 20-30 juta,” jelas Adrian.

Bisnis pelayaran internasional diharapkan dapat memberikan kontribusi sebesar 10% terhadap kinerja keuangan perseroan. Sedangkan sisanya masih didukung kegiatan dalam negeri yang bergerak di tiga segmen usaha, yaitu FSO dan jasa lepas pantai, transportasi muatan cair, dan transportasi muatan curah kering.

Tahun ini, perseroan mematok minimal kenaikan pendapatan sebesar 80% dibanding 2010 yang mencapai Rp 405 miliar. Sedangkan untuk laba bersih diharapkan bisa ditingkatkan menjadi dua kali lipat dibanding tahun lalu sebesar Rp 105,9 miliar. “Kami optimis target tersebut tercapai. Hal tersebut terlihat dari kinerja kuartal I-2011 dimana kami membukukan pendapatan Rp 144 miliar meningkat 51% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan laba bersih naik 88% menjadi Rp 66 miliar,” ujar Adrianus. (iin)

2012, Gajah Tunggal Jual Saham Petrochem

2012, Gajah Tunggal Jual Saham Petrochem

JAKARTA – PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) akan menjual saham PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG) sebesar 25,64% pada 2012. Berdasarkan nilai pasar saat ini, jumlah saham yang dimiliki perseroan diperkirakan bernilai US$ 80 juta. Rencananya, penjualan saham tersebut akan dilakukan kepada pembeli strategis dan publik.  

Direktur Gajah Tunggal Catharina Widjaja mengatakan penjualan saham tersebut terkait dengan kebijakan perseroan yang ingin melepaskan seluruh saham non core business. Ia menambahkan penjualan saham akan lebih banyak dialokasikan kepada pembeli strategis. Sedangkan untuk public, lanjut dia, diperkirakan hanya akan menjual kepada public sebanyak 1-2%. Hal tersebut mengingat pada Juli lalu perseroan telah menjual sebanyak 3% saham di Polychem kepada public.

“Alokasi yang besar kepada pembeli strategis dimaksudkan agar dapat memberikan keuntungan kepada mereka. Namun, hingga saat kami masih belum menentukan nilai penjualan saham polychem tersebut,” ungkap Catharina di sela paparan public di Jakarta, Rabu (7/9). 

Untuk itu, lanjut Catharina, perseroan hanya akan menjual saham tersebut kepada pihak yang benar-benar mengembangkan Petrochem dengan baik. Namun, ia mengaku hingga saat ini masih belum mendapatkan lakukan pembicaraan dengan pihak pembeli. Walau, tambah dia, beberapa waktu lalu investor dari Jepang telah menyatakan niat mereka. “Tapi saat ini belum ada. Mungkin ini terjadi karena kami belum menjajaki secara agresif penjualan saham ini. Kemungkinan penjajakan agresif baru akan dilakukan pada tahun depan,” jelas Catharina.

Berdasarkan laporan perseroan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 11 Agustus 2011, kepemilikan public di Polychem telah mencapai 13,34%. Sedangkan untuk pemegang saham yang lebih dari 5% terdiri dari lima pihak. Selain Gajah Tunggal, pemegang saham Polychem adalah PT Agung Detraco Muda (10,87%), HSBC Trustee Limited (Singapura, 17,21%) Primevantage Limited (8,09%), dan PT Satya Mulia Gema Gemilang (24,83%).

Managing Research Indo Surya Asset Management Reza priyambada mengatakan pelepasan saham Petrochem yang dilakukan perseroan akan berdampak positif bagi kinerja Gajah Tunggal. Sebab, lanjut dia, pelapasan tersebut akan meringankan beban kewajiban perseroan terhadap Petrochem. Selain itu, ia mengatakan perseroan juga akan mendapatkan dana segar dari penjualan tersebut.

“Dana tersebut bisa digunakan perseroan untuk melakukan ekspansi mereka di masa mendatang. Dengan demikian, perseroan bisa lebih fiokus dalam menggarap core bisnis mereka,” papar Reza.  

Reza menilai dengan pelepasan saham Petrochem tersebut tidak akan mengganggu supply pasokan bahan baku Gajah Tunggal. Sebabm lanjut dia, untuk perusahaan sekelas itu sudah pasti tidak hanya mengandalkan supply dari satu perusahaan saja. Supply tersebut, lanjut dia, malah akan menjadi ancaman untuk Petrochem apabila tidak tidak bisa mendapatkan pembeli sebesar Gajah Tunggal. Untuk itu, lanjut dia, tidak mengherankan apabila Gajah Tunggal sangat selektif untuk mencari pembeli strategis tersebut.

“Di sisi lain, penjualan saham kepada public dapat meningkatkan likuidtitas Petrochem di pasar saham. Namun, hal tersebut masih belum menjamin meningkatkan harga saham Petrochem. Sebab, hal tersebut akan sangat tergantung pada keberhasilan Gajah Tunggal mendapatkan pembeli strategis yang dapat lebih mengembangkan perseroan,” jelas Reza.

Pasok Proton

Pada kesempatan yang sama, Catharina mengatakan rencana perseroan untuk menjadi pemasok ban Original Equipment (OE) Proton baru akan terlaksana 2012. Padahal, sebelumnya perseroan memperkirakan hal tersebut akan terjadi pada November tahun ini. Ia menjkelaskan perubahan tersebutterjadi seiring dengan rencana Proton untuk mengubah jumlah pasokan ban dari perseroan. Ia mengatakan jumlahnya masih belum dapat dipastikan, tapi diperkirakan berkisar 3-4 ribu ban perbulan.

“Untuk potensi nilainya kami tidak bisa sebutkan. Terlebih saat ini kami masih dalam proses pembicaraan final. Kerjasama dengan Proton tersebut akan menjadi langkah pertama kami sebagai pemasok ban di luar negeri,” papar Catharina.

Selain Proton, lanjut Catharina, perseroan juga tengah membidik penjualan OE kepada produsen mobil Mistsubishi yang berada di Thailand pada tahun depan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Menurutnya, 2012 menjadi tahun agresif bagi perseroan untuk meningkatkan porsi penjualan OE. Sebab, lanjut dia, saat ini penjualan OE hanya berkontribusi sebesar 0,8%. 

Meskipun demikian, Catharian menjelaskan perseroan tidak akan meningkatkan secara signifikan penjualan OE. Sebab, lanjut dia, margin dari penjualan OE sanagt tipis berkisar 2-6%. Menurut dia, penjualan OE dilakukan hanya sebagai bagian untuk strategi branding perseroan di luar negeri. “Sedangkan untuk margin penjualan ban replacement bisa mencapai 15-16%,” ujar dia.

Chatarina menambahkan hingga September 2011, produksi ban radial perserian telah mencapai 45 ribu ban perbulan dan sepeda motor hamper mendekati 90 ribu ban perbulan. Jumlah tersebut sudah mendekati 100% utilisasi produksi hasil ekspansi yang dilakukan sejak 2005. untuk itu, lanjut dia, tidak menutup kemungkinan apabila perseroan kembali untuk melakukan ekspansi produksi pada tahun depan. Namun, ia menegaskan hal tersebut masih dalam tahap pembahasan.

Meskipun demikian, Catharina mengatakan perseroan akan mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 20-25 juta pada 2012. Dana tersebut hanya digunakan untuk merawat mesin-mesin yang telah ada. “Dana tersebut akan berasal dari kas internal perseroan. Mengingat dana hasil obligasi yang diterbitkan pada 2005 telah habis terserap di tahun ini,” tandas dia. (iin)

Harga SUN Berpotensi Menguat Terbatas

Harga SUN Berpotensi Menguat Terbatas

JAKARTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) berpotensi menguat pada pecan ini. Namun, penguatan tersebut masih sangat terbatas dan hanya akan terjadi pada SUN tenor menengah panjang. Sebab, imbal hasil (yield) SUN tenor tersebut diperkirakan berpotensi menurun 10-20 basis poin.

Hal tersebut terjadi karena pada pecan ini pasar diperkirakan belum aktif sepenuhnya setelah menjalani libur panjang pada pecan lalu. Alhasil, pasar obligasi masih akan bergerak sangat terbatas. Ditambah lagi, pada awal pecan ini pasar Amerika Serikat (AS) tidak beraktifitas terkait dengan adanya Hari libur umum nasional. Selain itu, pelaku pasar juga masih menantikan keputusan akhir the Fed mengenai peluncuran quantitative easing (QE) III. Sebab, pelaku pasar menilai AS masih membutuhkan kebijakan tersebut untuk menambah likuiditas global.  

Disisi lain, kondisi dalam negeri diperkirakan tetap berada di area positif. Para analis dan ekonom bahkan memperkirakan pengumuman inflasi Agustus 2011 yang dilakukan BPS pada Senin (5/10) akan lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Soalnya, inflasi pada bulan tersebut diperkirakan hanya bergerak di kisaran 0,8-0,9%. Padahal, sebelumnya para analis dan ekonom menilai Agustus sebagai puncak inflasi di Indonesia terkait dengan adanya Hari Raya Lebaran. Dengan demikian, inflasi dipastikan tidak akan mempengaruhi tingkat suku bunga pada bulan ini.

Meskipun demikian, pelaku pasar masih harus tetap mencermati perkembangan global di sepanjang pecan ini. Untuk itu, potensi penurunan harga masih akan membayangi pasar di minggu pertama September 2011 sehingga peluang investor memilih mengamankan dananya di SUN masih cukup terbuka. Demikian rangkuman analis obligasi Trimegah Securities Imam MS dan analis Infovesta Utama Edbert Suryajaya kepada Investor Daily, Minggu (4/10).

Imam memperkirakan QE III belum akan diluncurkan The Fed dalam waktu dekat ini. Sebab, lanjut dia, The Fed optimistis perbaikan ekonomi di AS berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Walau pada saat yang bersamaan, pemerintah AS mengumumkan angka pertumbuhan pekerjaan Agustus tidak berubah dan membuat bursa saham global memerah pada penutupan pecan lalu. Terlepas dari hal tersebut, Imam menilai likuiditas global masih cenderung tinggi dan membuat pelaku pasar mengalihkan modal kepada instrument lain yang lebih aman.

“Hal tersebut tercermin dengan bergerak turunnya US Treasury yield dan membuat harga mereka menguat pada akhir pecan lalu. Padahal, sebelumnya Moody’s telah menurunkan rating mereka,” jelas Imam.

Lebih lanjut Imam mengatakan pergerakan ini menjadi angin segar untuk pasar obligasi Indonesia. Sebab, lanjut dia, pelaku pasar melihat harga SUN masih menarik sehingga mendorong aliran dana asing untuk masuk ke Indonesia. Terkait dengan fundamental yang kuat dan resiko yang rendah di Indonesia. Terlebih, peringkat Indonesia sudah mendekati investment grade. Hal ini tercermin dengan yiled tenor 10 tahun yang berada di antara 6,5-7%. Untuk itu, ia memprediksi pecan ini yield SUN tenor menangah panjang akan turun sebesar 10-20 basis poin. “Namun, karena masih sepinya aktifitas pasar dan liburnya pasar AS, pergerakan baru akan terjadi mulai pertengahan pecan ini,” ungkap dia.

Sementara itu, Edbert memprediksi begitu pasar dibuka penururnan harga  SUN diperkirakan masih cukup besar. Terutama, lanjut dia, untuk pasar sahamnya sebagai akibat dari sentiment yang berkembang di global. Namun, ia memprediksikan pasar obligasi sendiri masih akan cukup stabil dan belum akan terjadi perubahan yield yang signifikan. Hal tersebut karena pada pecan ini investor cenderung untuk mengamankan dananya di SUN sangat terbuka.

“Saya prediksikan pergerakan yield sun akan sedikit naik dengan kenaikan rata-rata 10 basis poin untuk periode panjang dan rata-arat naik 5-10 basis untuk periode pendek,” tandas Edbert. (iin)

Bakrie Brothers Gandeng Investor Korsel dan AS

Bentuk Infrasructure Fund
Bakrie Brothers Gandeng Investor Korsel dan AS

Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan menggandeng investor asal Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) dalam membentuk infrastructure fund pada tahun ini. Pembentukan infrastructure fund ini pada tahap I diharapkan dapat menggalang dana sebesar US$ 200-300 juta. Dana tersebut digunakan untuk mendanai sejumlah proyek perseroan di 2012.

Direktur Utama Bakrie Brothers Bobby Gafur Umar menjelaskan kedua investor tersebut sudah menyatakan minat mereka untukl masuk dalam infrastructure fund. Namun, ia mengaku belum dapat menyebutkan nama kedua investor tersebut. Sebab, lanjut dia, baru akhir tahun hal tersebut akan diumumkan. "Nantinya, dana hasil infrastructure fund tersebut digunakan untuk menggarap proyek di 2012. Diantaranya adalah pipanisasi gas, pembangunan pembangkit listrik, dan jalan tol," ungkap Bobby di Jakarta, belum lama ini.

Direktur Keuangan Bakrie Brothers Eddy Soeparno mengatakan investor asal AS paling banyak menyatakan ketertarikan untuk bergabung di infrastructure fund tersebut. Hal ini, lanjut dia, diketahui saat perseroan melakukan roadshow di AS. Ia menjelaskan ketertarikan asing untuk masuk infrastructure fund seiring dengan pertumbuhan ekonomi AS yang masih lambat. Sementara itu, lanjut dia, di Indonesia pertumbuhan sangat cepat, ditambah ladi saat ini infrastruktur menjadi prioritas.

Eddy menjelaskan untuk tahap I infrastructure fund membidik dana sebesar US$ 200-300 juta. Rencananya, lanjut dia, masing-masing perusahaan yang tergabung dalam infrastructure fund tersebut akan  memnyuntikan dana sebesar US$ 50 juta. Ia menjelaskan pada dana tahap I tersebut akan dialokasikan untuk dua pembangkit listrik di Kalimantan Timur (2x18 megawatt) dan Sumatera Utara (2x10 megawatt).

Selain itu, Eddy mengatakan dana tersebut sebagian juga dialokasikan untuk pembangunan pabrik ammonium nitrat di Kalimantan. Rencananya, lanjut dia, pabrik tersebut berkapasitas 300 ribu ton dengan nilai investasi sebesar US$ 300 juta. "Pembangunan pabrik dimulai tahun depan, dengan masa pembangunan antara 18-22 bulan. Pembangunannya dilakukan dibawah Bakrie Energi," papar Eddy.

Menurut Eddy, pabrik ammonium nitrat tersebut memiliki captive market yang besar. Hal tersebut seiring dengan tingginya produksi perusahaan batubara yang menjadi portofolio perseroan. Ia mencontohkan tahun ini produksi Bumi Resources diperkirakan mencapai 65 juta metrik ton dan Berau sebanyak 25 juta metrik ton. "Dari jumlah tersebut, sudah terlihat market captive yang bagus," ucap Eddy.

Pada kesempatan yang samaa, Eddy menambahkan bahwa dua anak usaha perseroan memiliki potensi untuk dilepas ke publik melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Keduanya adalah PT Bakrie Building Industries dan PT Bakrie Tosanjaya. Namun, lanjut dia, ukuran kedua perusahaan tersebut masih terbilang kecil. Untuk Bakrie Tosanjaya diperkirakan memiliki size Rp 500 miliar. "Angka ini tidak signifikan, dan takutnya tidak sepadan dengan perusahaan grup bakri lainnya yang sudah IPO," tandas dia.(Iin)

2012, Jasa Marga Kaji Terbitkan Obligasi Rp 3 T

2012, Jasa Marga Kaji Terbitkan Obligasi Rp 3 T

JAKARTA - PT Jasa Marga Tbk (JSMR) akan mengkaji menerbitkan obligasi pada 2012 mencapai Rp 3 triliun. Rencananya, obligasi tersebut digunakan untuk refinancing pinjaman bank milik ruas tol perseroan yang baru beroperasi tahun ini.

"Saya enggak mau berbicara dulu, takut salah. Kemungkinan bisa saja mencapai jumlah itu. Tapi kita masih harus menganalisa jumlah kebutuhannya dan saat ini tengah membuat rencana kerja 2012. Mungkin Oktober atau November mendatang, kita bisa sudah bisa mengetahuinya," ungkap Direktur Utama Jasa Marga Frans S Sunito di Jakarta, belum lama ini.

Frans menambahkan penerbitan obligasi digunakan untuk refinancing pinjaman bank milik ruas tol perseroan yang telah selesai masa pembangunannya dan mulai beroperasi. Sedangkan tahun ini, lanjut dia, ruas tol yang sudah beroperasi adalah Semarang-Ungaran dan Surabaya-Mojokerto seksi I A. Namun, ia enggan untuk menyebutkan jumlah pinjaman bank milik kedua ruas tol tersebut. Ia hanya mengatakan konstruksi ruas tol Semarang-Ungaran telah menghabiskan Rp 1 triliun. "Itu hanya kontrusiknya saja. Angka tepatnya saya lupa," tegas dia.

Menurut Frans, perseroan masih memiliki ruang besar untuk menerbitkan obligasi. Sebab, lanjut dia, saat ini posisi debt to equity ratio (der) perseroan masih 1:1. Hal ini mengingat posisi utang perseroan sebesar Rp 9 triliun, sementara modal lebih diatas Rp 8 triliun. Dengan kondisi tersebut, tambah Frans, keuangan perseroan saat ini sangat kuat. Ia bahkan menegaskan perseroan belum membutuhkan tambahan modal pada saat ini. Untuk itu, lanjuta di, perseroan belum berencana untuk menggelar penawaran saham kembali ke publik hingga mencapai 40%. "Tapi kalau pemegang saham ingin melakukan hal tersebut, kami siaap," papar dia.

Frans bahkan menegaskan dengan kondisi keuangan saat ini, perseroan mampu untuk menambah ruas tol lagi hingga mencapai 150-200 km.  Dengan nilai investasi diperkirakan mencapai Rp 15-20 triliun. Rencananya, mekanisme penambahan tersebut akan dilakukan melalui akuisisi beberapa ruas tol yang mangkrak, baik trans Jawa maupun tol lingkat di beberapa kota besar. Namun, ia enggan untuk menyebutkan lebih rinci ruas tol yang sedang dibidik dan target pelaksanaan akusisi tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini masih dalam proses pembicaraan. Sebelumnya, Frans pernah menyebutkan ruas tol tersebut adalah tol dalam kota Surabaya, JORR Way II, dan dua ruas tol Trans Jawa.

"Dari seluruh ruas tol tersebut,  baru tol dalam kota Surabaya yang hampir mendekati tahap final akuisisi. Namun, lanjut dia, ruas tersebut masih terkendala dengan rute yang belum ditentukan," ucap Frans.

Pada kesempatan yang sama, Frans mengatakan pada Oktober 2011 perseroan akan mulai membangun ruas tol Serangan-Tanjung Benoa, Bali (11,5km). Dalam pembangunan tersebut, perseroan membentuk konsorsium yang terdiri dari beberapa perusahaan BUMN. Sedangkan Jasa Marga memiliki porsi 60% kepemilikan saham, serta PT Pelindo III (20%), PT Angkasa Pura I (10%), PT Wijaya Karya Tbk (5%), PT Hutama Karya (2%), PT Adhi Karya Tbk (2%), serta PT Bali Tourism Development Centre (BUMD milik Pemprov Bali, sebesar 1%). Untuk mendanai pembangunan tersebut, ia mengatakan konsorsium akan mencari pinjaman sebesar 70% dari total investasi yang mencapai Rp 2 triliun, yaitu Rp 1,5 triliun.

Sementara itu, Frans memperikirakan pada kuartal III pendapatan perseroan optimistis akan naik 10-12% dibadingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 3,2 triliun. Dengaan jumlah tersebut, ia pun optimsitsi pada akhir tahun pendapatan perseroan akan menembus Rp 4,8 tiliun. “Kami membidik volume transaksi sebanyak 1 miliar kendaraan pada tahun ini,” tandas dia.(Iin)

Semester I, Emiten CPO Cetak Laba Rp 5,46 T


Kinerja Emiten CPO Semester I 2011 (dalam Rp miliar)

 
Emiten
Laba Bersih
%
Pendapatan
%
2011
2010
2011
2010
Astra Agro Lestari Tbk
1.269,9
636,4
99,5
5.296,5
3.517,7
50,5
BW Plantation Tbk
170,6
85,6
99,3
476,9
275,7
72,9
Gozco Plantations Tbk
87,5
42,4
106,3
214
166,9
28,2
Jaya Agra Wattie Tbk 
115,8
52,3
121,4
333,8
202,2
65
PP London Sumatera Tbk
886,3
417,8
112,1
2.382,9
1.566,4
52,1
Sampoerna Agro Tbk
361,6
132,6
172,7
1.711
745,6
129,4
Salim Ivomas Pratama Tbk
884,9
413,9
113,8
6.135,1
4.207
45,8
Smart Tbk
1.160
524
121,3
16.350
8.320
96,5
Tunas Baru Lampung Tbk
311
86
260
2.100
1.200
72,7
Bakrie Sumatra Plantations Tbk
218,6
47,2
218,6
2.303
1.134
103
Jumlah
5.466,2
2.438,2
124,1
37.303,2
21.335,5
74,8

 Sumber : diolah Investor Daily

Semester I, Emiten CPO Cetak Laba Rp 5,46 T

JAKARTA – Sebanyak sepuluh emiten penghasil minyak sawit mentah (crude palm oil?CPO) membukukan total laba bersih sebesar Rp 5,46 triliun pada semester I 2011. Laba tersebut rata-rata melonjak 124,1% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 2,43 triliun.
Kesepuluh emiten CPO itu adalah PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT BW Plantation Tbk (BWPT), PT Gozco Plantations Tbk (GZCO), PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA), PP London Sumatera Tbk (LSIP), PT Sampoerna Agro Tbk (SRGO), PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), PT Smart Tbk (SMAR), PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA).
Astra Agro masih tercatat sebagai emiten CPO dengan laba terbesar mencapai Rp 1,26 triliun. Selanjutnya, Smart dengan laba bersih Rp 1,16 triliun, London Sumatra (Lonsum) Rp 886,3 miliar, Salim Ivomas Pratama Rp 884,9 miliar, Sampoerna Agro Rp 361,1 miliar, dan Tunas Baru Lampung Rp 311 miliar. Meski demikian, Tunas Baru Lampung membukukan pertumbuhan laba bersih tertinggi sebesar 260%. Setelah itu, Bakrie Plantations dengan pertumbuhan 218,6%, Sampoerna Agro 172,7%, JA Wattie 121,4%, dan Smart 121,3%.
Adapun total pendapatan kesepuluh emiten CPO itu pada semester I 2011 mencapai Rp 37,3 triliun. Pendapatan tersebut rata-rata meningkat 74,8% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 21,3 triliun. Sedangkan pertumbuhan pendapatan yang paling tertinggi dicetak oleh Sampoerna Agro dengan mencapai 129,4%, disusul Bakrie Sumatra Plantations sebesar 103%, dan Smart sebesar 96,5%.