Kamis, 15 September 2011

Bakrie Brothers Bidik Peringkat Obligasi Investment Grade

Bakrie Brothers Bidik Peringkat Obligasi Investment Grade  

JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) membidik peringkat layak investasi (investment grade) untuk obligasi senilai Rp 500 miliar - 1 triliun yang akan diterbitkan pada kuartal IV 2011. Sebab, peringkat tersebut akan menentukan jadi tidaknya perseroan menerbitkan obligasi. Rencananya, obligasi tersebut akan digunakan untuk refinancing utang jangka pendek perseroan kepada Credit Suisse (CS) senilai Rp 4,7 triliun.

Direktur Keuangan Bakrie Brothers Eddy Soeparno mengatakan pereseroan telah menunjuk Pefindo untuk menentukan peringkat tersebut. Menurutnya, jika mendapatkan peringkat tersebut, perseroan akan melanjutkan untuk menerbitkan obligasi pada kuartal VI mendatang. “Namun, jika tidak kami tidak akan melanjutkan untuk mengeluarkan obligasi. Sebab, peringkat tersebut menunjukan kemampuan kami dalam membayar obligasi tersebut,” ungkap Eddy kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (9/9).

Selain itu, lanjut Eddy, peringkat yang didapatkan obligasi tersebut juga akan menentukan nilai obligasi yang akan dikeluarkan. Ia mengatakan perseroan akan menerbitkan obligasi sebesar Rp 1 triliun apabila peringkat minimal AA. Sebab, lanjut dia, di peringkat tersebut dana pension sudah diperbolehkan untuk masuk di level tersebut sehingga penyerapan obligasi bisa lebih bervariasi. Tapi bila dibawah dari peringkat itu, ia menyebutkan maksimal obligasi yang akan dikeluarkan sebesar Rp 500 miliar.    

“Setelah mendapatkan peringkat tersebut, baru kami akan menunjuk underwriter yang menangani obligasi tersebut. Kami berharap bulan depan sudah mendapatkan peringkat tersebut. Kami pun masih optimistis akan dapat menerbitkan obligasi tersebut sesuai dengan target sebelumnya,” papar Eddy.

Sebelumnya, Eddy mengatakan selain menerbitkan obligasi perseroan juga akan merefinancing sisa utang kepada CS melalui pinjaman bank. Namun, ia masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai pinjaman tersebut. Pinjaman tersebut digunakan perseroan untuk menyelesaikan transksi Vallar Plc pada akhir tahun lalu. Berdasarkan perjanjian pinjaman dengan Credit Suisse cabang Singapura pada 2 Maret 2011, bunga pinjaman tersebut mengacu pada London Interbank Offered Rate (LIBOR) ditambah 6% per tahun.

Pada kesempatan yang sama, Eddy mengatakan perseroan telah memulai pembangunan untuk beberapa proyek mereka, diantaranya pembangkit listrik di Kalimantan Timur (Kaltim) kapasitas 2x18 megawatt. Dalam penggarapan pembangkit listrik tersebut, ia mengatakan perseroan menggandeng Tata Power. Sedangkan untuk pembangkit listrik di Sumatera Utara (2x10 megawatt) masih dalam tahap persiapan dan akan menjalani pembangunan pada tahun depan.

“Tidak hanya itu, perseroan juga telah menyuntikan dana sebesar Rp 100 miliar pada proyek jalan tol rua Cimanggis-Cibitung,” tandas Eddy. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar