Bentuk Infrasructure Fund
Bakrie Brothers Gandeng Investor Korsel dan AS
Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan menggandeng investor asal Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) dalam membentuk infrastructure fund pada tahun ini. Pembentukan infrastructure fund ini pada tahap I diharapkan dapat menggalang dana sebesar US$ 200-300 juta. Dana tersebut digunakan untuk mendanai sejumlah proyek perseroan di 2012.
Direktur Utama Bakrie Brothers Bobby Gafur Umar menjelaskan kedua investor tersebut sudah menyatakan minat mereka untukl masuk dalam infrastructure fund. Namun, ia mengaku belum dapat menyebutkan nama kedua investor tersebut. Sebab, lanjut dia, baru akhir tahun hal tersebut akan diumumkan. "Nantinya, dana hasil infrastructure fund tersebut digunakan untuk menggarap proyek di 2012. Diantaranya adalah pipanisasi gas, pembangunan pembangkit listrik, dan jalan tol," ungkap Bobby di Jakarta, belum lama ini.
Direktur Keuangan Bakrie Brothers Eddy Soeparno mengatakan investor asal AS paling banyak menyatakan ketertarikan untuk bergabung di infrastructure fund tersebut. Hal ini, lanjut dia, diketahui saat perseroan melakukan roadshow di AS. Ia menjelaskan ketertarikan asing untuk masuk infrastructure fund seiring dengan pertumbuhan ekonomi AS yang masih lambat. Sementara itu, lanjut dia, di Indonesia pertumbuhan sangat cepat, ditambah ladi saat ini infrastruktur menjadi prioritas.
Eddy menjelaskan untuk tahap I infrastructure fund membidik dana sebesar US$ 200-300 juta. Rencananya, lanjut dia, masing-masing perusahaan yang tergabung dalam infrastructure fund tersebut akan memnyuntikan dana sebesar US$ 50 juta. Ia menjelaskan pada dana tahap I tersebut akan dialokasikan untuk dua pembangkit listrik di Kalimantan Timur (2x18 megawatt) dan Sumatera Utara (2x10 megawatt).
Selain itu, Eddy mengatakan dana tersebut sebagian juga dialokasikan untuk pembangunan pabrik ammonium nitrat di Kalimantan. Rencananya, lanjut dia, pabrik tersebut berkapasitas 300 ribu ton dengan nilai investasi sebesar US$ 300 juta. "Pembangunan pabrik dimulai tahun depan, dengan masa pembangunan antara 18-22 bulan. Pembangunannya dilakukan dibawah Bakrie Energi," papar Eddy.
Menurut Eddy, pabrik ammonium nitrat tersebut memiliki captive market yang besar. Hal tersebut seiring dengan tingginya produksi perusahaan batubara yang menjadi portofolio perseroan. Ia mencontohkan tahun ini produksi Bumi Resources diperkirakan mencapai 65 juta metrik ton dan Berau sebanyak 25 juta metrik ton. "Dari jumlah tersebut, sudah terlihat market captive yang bagus," ucap Eddy.
Pada kesempatan yang samaa, Eddy menambahkan bahwa dua anak usaha perseroan memiliki potensi untuk dilepas ke publik melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Keduanya adalah PT Bakrie Building Industries dan PT Bakrie Tosanjaya. Namun, lanjut dia, ukuran kedua perusahaan tersebut masih terbilang kecil. Untuk Bakrie Tosanjaya diperkirakan memiliki size Rp 500 miliar. "Angka ini tidak signifikan, dan takutnya tidak sepadan dengan perusahaan grup bakri lainnya yang sudah IPO," tandas dia.(Iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar