Harga SUN Berpotensi Menguat Terbatas
JAKARTA - Harga Surat Utang Negara (SUN) berpotensi menguat pada pecan ini. Namun, penguatan tersebut masih sangat terbatas karena imbal hasil (yield) diperkirakan menurun antara 10-40 basis poin untuk semua tenor. Hal tersebut didorong dengan adanya sinyal positif dari meeting The Fed pada 20-21 September mendatang.
Sentimen positif tersebut bahkan diprediksi analis obligasi akan mampu meredakan tekanan jual SUN yang terjadi pada pecan lalu. Menurut analis, sentiment tersebut memberikan harapan pemodal bahwa The Fed akan mengambil langkah positif dalam mendorong roda ekonomi Amerika Serikat. Namun, sentiment tersebut belum dapat memastikan langkah konkrit yang akan diambil The Fed tersebut.
Hal tersebut disebabkan opsi untuk meningkatkan roda ekonomi tidak hanya pada Quantitative Easing (QE), tapi juga adanya paket pekerjaan yang diajukan Presiden AS Barack Obama.
Tidak hanya itu, sentiment positif juga dihasilkan oleh keputusan bank central dunia yang siap menyiapkan likuiditas dollar di Eropa. Hal tersebut bahkan mampu membuat pergerakan di bursa saham dunia mengalami penguatan selama empat hari berturut-turut pada pecan lalu. Dengan demikian, pecan ini pasar modal dunia akan mengalami kondisi yang relative lebih stabil dibandingkan dengan sebelumnya.
Di sisi lain, kondisi domestic secara fundamental masih sangat mendukung untuk penguatan harga SUN pecan ini. Sebab, angka inflasi pada September diprediksi mencapai 4,5%. Angka tersebut jauh akan lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 5,8%.
Demikian rangkuman analis obligasi Trimegah Securities Imam MS, analis obligasi BNI Securities Ariawan, ekonom BII Juniman, dan analis Infovesta Utama Edbert Suryajaya kepada Investor Daily, Minggu (18/9).
Imam menambahkan kondisi domestic semakin kuat dengan langkah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI) buy back SUN saat tekanan jual terjadi pada pecan lalu. Menurutnya, hal tersebut mampu menunjukan bahwa secarta fundamental Indonesia masih berada di lingkaran positif. Untuk itu, ia pun memperkirakan yiled obligasi berpotensi menurun sebanyak 20-40 basis poin.
Dengan kondisi seperti itu, Imam menilai saat ini merupakan waktu yang tepat untuk pemodal local mengakumulasi SUN. Sebab, lanjut dia, saat ini obligasi Indonesia telah berada di level harga menarik setelah beberapa bulan lalu menyentuh titik mahal. Namun, ia memperingatkan pemodal untuk tidak mengakumulasi secara langsung di level harga yang sama. “Hal tersebut dilakukan untuk mencermati kondisi global yang berkembang di masa mendatang,” jelas dia.
Ariawan menilai meski terjadi penguatan tersebut, kecenderungan harga sun akan lebih konsolidasi sepanjang pecan ini. Untuk itu, tambah dia, yield diperkirakan hanya akan bergerak di level 5-10 basis poin. Dalam kondisi tersebut, ia merekomendasikan pemodal untuk melancarkan strategi trading jangka pendek. “Pemodal harus jeli melihat kesmepatan masuk harga rendah, dan profit taking disaat market rebound,” papar dia.
Bergerak Sideways
Sementara itu, Juniman mengatakan dengan sentiment positif tersebut membuat yiled akan bergerak sideways. Hal tersebut disebabkan pemodal masih melancarkan aksi wait and see untuk kondisi di Eropa terutama AS menjelang meeting The Fed. Untuk itu, ia memperkitakan tenor pendek akan bergerak kurang lebih 10-20 basis poin. Jangka panjang 20-50 basi poin.
“Meskipun demikian, investor asing dipastikan masih akan masuk ke Indonesia kartena dinggap masih memberikan yield yang menarik dibandingkan emerging market lainnya,” ujar Juniman.
Sementara itu, Edbert memprediksi yiled obligasi masih akan stabil dan cenderung naik. Hal ini disebabkan nilai tukat yang belum pasti serta sentuimen pasar yang belum sepenuhnya positif. Hal tersebut, lanjut dia, membuat investor ragu-ragu untuk masuk kebali ke pasar obligasi terutama pada awal pecan. Seperti halnya Juniman, Edbert menyarankan pemdoal untuk wait and see terhadap sentiment yang berkembang di AS dan Eropa.
“Jika belum ada sentiment positif, sebaiknya minggu ini jangan masuk. Kalaupun masuk sebanikanya trading jangka pendek. Dengan kisaran pergerajkan yield naik sebesar 30-40 basis poin,” tandas Edbert. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar