Rabu, 21 September 2011

Sepatu Roda Lebih Penting Ketimbang Notebook

Bernadus Djonoputro – Managing Director PT Nusantara Infrastructure Tbk
Sepatu Roda Lebih Penting Ketimbang Notebook

Sepatu roda menjadi perlengkapan wajib yang dibawa Managing Director PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) Bernadus Djonoputro kemanapun pergi menjalankan tugasnya. Ia bahkan berani menolak perintah sang atasan apabila tidak mengijinkan dia membawa sepatu roda atau inline skate kesayanganya.

“Sepatu roda selalu saya bawa kemanapun pergi. Kalau perjalanan bisnis lebih penting membawa sepatu roda dibandingkan laptop. Bahkan, jika bos saya tidak mengijinkan untuk membawa sepatu roda, lebih baik tidak melakukan perjalanan bisnis,” ungkap Bernadus kepada Investor Daily, belum lama ini.

Menurut Bernadus, dengan membawa sepatu roda perjalanan bisnisnya akan menjadi lebih menyenangkan. Sebab, sepatu roda tersebut dapat digunakan menuju lokasi meeting tanpa hambatan dan lebih cepat. Meskipun, lanjut dia, terkadang jarak yang ditempuh sangat jauh. Ia menuturkan pernah menggunakan sepatu roda dari Kupang ke Bandara Eltari (10 km) dan dari Mataram ke Senggigi (20 km).

“Tidak hanya itu, saya juga kerap menggunakan sepatu roda ketika menjalani tugas di luar negeri. Misalnya saja dari Sunshine Coast ke Tweed di Queensland, Australia,” jelas bapak dari dua putri ini.

Pria yang akrab disapa Bernie ini menambahkan selain untuk bekerja, sepatu roda juga menjadi pilihannya melepas penat di sela-sela kesibukan menjalankan tugas. Terlebih di beberapa kota di dunia, seperti Paris dan Sidney, memiliki jadwal midnights skate. Dimana, para pegiat sepatu roda professional berkumpul dan mengelilingi kota di malam hari.

Bernadus mengaku memiliki beberapa jenis koleksi sepatu roda. Sebab, lanjut dia, setiap medan menggunakan jenis sepatu roda yang berbeda. Untuk memburu jenis sepatu roda tersebut, Ia rela memburu sepatu roda yang sesuai dengan keinginannya hingga ke Amerika Serikat (AS) dan Belanda. Bahkan, lanjut dia, beberapa diantara koleksinya dibuat khusus hanya sesuai dengan ukuran kakinya. “Biasanya harga sepatu roda jenis khusus sekitar Rp 25 juta,” papar pria yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP).  

Lebih lanjut Bernadus menjelaskan kecintaannya terhadap sepatu roda telah dimulai sejak usia 7 tahun. Semenjak itu, ia pun mengaku setiap hari hamper tidak pernah lepas dari sepatu roda hingga akhirnya mendirikan klub di Bandung. Pada kelas 1 SMP, ia berhasil membuktikan keahliannya dalam bersepatu roda dengan menjadi juara nasional. Setelah itu, ia pun dipercaya untuk mewakili Jawa Barat dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 1985.

“Kala itu, cabang sepatu roda baru pertama kali dipertandingkan di ajang nasional tersebut,” papar pria lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Perencanaan Wilayah & kota.  

Perjalanan Karir

Bernadus memulai karirnya dengan bekerja sebagai planning engineer di Brisbane Australia (1988-1990). Setelah itu, ia pun bekerja di American Express selama enam tahun dan berhasil memegang beberapa posisi penting. Ia bahkan dianugrahi penghargaan American Express Worldwide Chairman’s Award pada 1993. “Sampai saat ini, saya menjadi satu-satunya orang Indonesia yang pernah menerima penghargaan tersebut,” ucap dia.

Pada 1999, Bernadus melanjutkan karienya sebagai Direktur Marketing pada perusahaan konsultasi international Ernst & Young. Lima tahun kemudian, ia pun memutuskan untuk melanjutkan karirnya di PricewaterhouseCoopers menjadi Direktur Business Development. Hanya bertahan selama saatu tahun, ia pun mendirikan HD Asia Advisory pada 2005. Pada 2010, ia pun akhirnya bergabung di Nusantara Infrastruckture dengan menduduki jabatan sebagai Managing Director.

Bernadus banyak terlibat berbagai kegiatan social kemasyarakatan. Ia aktif di pergerakan palang Merah Idnonesia (PMI) sebgai advisor pada PMI Aceh. Ia pun mendirikan frontier assist dan friens of red cross, sebagai gerakan kaum professional dalam membantu efektifitas palang merah. Di bidang pendidikan, ia juga aktif dalam Mayarakat Knowledge Management Indonesia dan keggiatan pengembangan anak-anak berbakat. Ia pun duduk sebagai Dewan Pembina di Bandung international School. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar