Tiga Penjamin Emisi Tangani Obligasi Antam
JAKARTA - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) telah menunjuk tiga penjamin emisi untuk menangani obligasi berkelanjutan yang akan diterbitkan perseroan senilai US$ 350 juta atau setara Rp 3,01 triliun. Ketiganya adalah Deustche Bank, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered Bank. Rencananya, tahap I obligasi tersebut akan diterbitkan pada November 2011 sebesar US$ 150 juta.
“Ketiga underwriter tersebut merupakan anggota dari konsorsium yang dipimpin PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada awal Agustus lalu,” ungkap Direktur Keuangan Antam Djaja M Tambunan di Jakarta, Senin (12/9).
Djaja menjelaskan obligasi berkelanjutan tersebut digunakan untuk mendanai proyek pabrik smelter feronikel di Halmahera Timur, Maluku Utara. Untuk mendanai proyek tersebut, perseroan diperkirakan membutuhkan dana sebesar US$ 1,5 miliar. Ia mengatakan perseroan akan menggelar road show semester II ini. “Prospektusnya akan diterbitkan dalam waktu dekat,” jelas dia.
Namun, Djaja mengatakan hingga saat ini perseroan belum menentukan dominasi obligasi tersebut. Menurut dia, perseroan tidak bermasalah apabila menggunakan dollar maupun rupiah. Walau, lanjut dia, pendapatan perseroan menggunakan dollar. Untuk itu, ia pun berharap pada akhirnya hasil obligasi berujung dengan dollar. Dengan demikian, lanjut dia, kalaupun dikeluarkan dengan rupiah pada akhirnya akan ditukar (swap) menjadi dollar.
“Tapi saat ini kami masih belum menentukan, saat ini lagi dibandingkan oleh financial advisor,” jelas Djaja.
Sebelumnya, Djaja mengatakan perseroan lebih memilih obligasi berkelanjutan karena pendanaan akan sesuai dengan kemajuan proyek yang tengah dikerjakan perseroan. Dengan demikian, perseroan tidak akan menanggung beban bunga yang tinggi saat dana tersebut belum terpakai. Namun, Djaja enggan untuk menjelaskan besaran dana yang akan dijaring dalam obligasi berkelanjutan tahap I. Ia hanya mengatakan jumlah tersebut akan sesuai dengan kebutuhan proyek di tahap awal.
Saat ini, lanjut Djaja, perseroan tengah melakukan persiapan proses tender untuk Engineering, Procurement and Construction (EPC). Ia pun menyebutkan bahwa sudah banyak calon yang berminat untuk EPC tersebut. Namun ia enggan untuk menyebutkan hal tersebut. “Dengan demikian, kami masih belum ada hitungan jumlah dana yang diperlukan pada tahap awal,” jelas Djaja. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar