Kamis, 15 September 2011

Harga SUN Berpotensi Menguat Terbatas

Harga SUN Berpotensi Menguat Terbatas

JAKARTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) berpotensi menguat pada pecan ini. Namun, penguatan tersebut masih sangat terbatas dan hanya akan terjadi pada SUN tenor menengah panjang. Sebab, imbal hasil (yield) SUN tenor tersebut diperkirakan berpotensi menurun 10-20 basis poin.

Hal tersebut terjadi karena pada pecan ini pasar diperkirakan belum aktif sepenuhnya setelah menjalani libur panjang pada pecan lalu. Alhasil, pasar obligasi masih akan bergerak sangat terbatas. Ditambah lagi, pada awal pecan ini pasar Amerika Serikat (AS) tidak beraktifitas terkait dengan adanya Hari libur umum nasional. Selain itu, pelaku pasar juga masih menantikan keputusan akhir the Fed mengenai peluncuran quantitative easing (QE) III. Sebab, pelaku pasar menilai AS masih membutuhkan kebijakan tersebut untuk menambah likuiditas global.  

Disisi lain, kondisi dalam negeri diperkirakan tetap berada di area positif. Para analis dan ekonom bahkan memperkirakan pengumuman inflasi Agustus 2011 yang dilakukan BPS pada Senin (5/10) akan lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Soalnya, inflasi pada bulan tersebut diperkirakan hanya bergerak di kisaran 0,8-0,9%. Padahal, sebelumnya para analis dan ekonom menilai Agustus sebagai puncak inflasi di Indonesia terkait dengan adanya Hari Raya Lebaran. Dengan demikian, inflasi dipastikan tidak akan mempengaruhi tingkat suku bunga pada bulan ini.

Meskipun demikian, pelaku pasar masih harus tetap mencermati perkembangan global di sepanjang pecan ini. Untuk itu, potensi penurunan harga masih akan membayangi pasar di minggu pertama September 2011 sehingga peluang investor memilih mengamankan dananya di SUN masih cukup terbuka. Demikian rangkuman analis obligasi Trimegah Securities Imam MS dan analis Infovesta Utama Edbert Suryajaya kepada Investor Daily, Minggu (4/10).

Imam memperkirakan QE III belum akan diluncurkan The Fed dalam waktu dekat ini. Sebab, lanjut dia, The Fed optimistis perbaikan ekonomi di AS berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Walau pada saat yang bersamaan, pemerintah AS mengumumkan angka pertumbuhan pekerjaan Agustus tidak berubah dan membuat bursa saham global memerah pada penutupan pecan lalu. Terlepas dari hal tersebut, Imam menilai likuiditas global masih cenderung tinggi dan membuat pelaku pasar mengalihkan modal kepada instrument lain yang lebih aman.

“Hal tersebut tercermin dengan bergerak turunnya US Treasury yield dan membuat harga mereka menguat pada akhir pecan lalu. Padahal, sebelumnya Moody’s telah menurunkan rating mereka,” jelas Imam.

Lebih lanjut Imam mengatakan pergerakan ini menjadi angin segar untuk pasar obligasi Indonesia. Sebab, lanjut dia, pelaku pasar melihat harga SUN masih menarik sehingga mendorong aliran dana asing untuk masuk ke Indonesia. Terkait dengan fundamental yang kuat dan resiko yang rendah di Indonesia. Terlebih, peringkat Indonesia sudah mendekati investment grade. Hal ini tercermin dengan yiled tenor 10 tahun yang berada di antara 6,5-7%. Untuk itu, ia memprediksi pecan ini yield SUN tenor menangah panjang akan turun sebesar 10-20 basis poin. “Namun, karena masih sepinya aktifitas pasar dan liburnya pasar AS, pergerakan baru akan terjadi mulai pertengahan pecan ini,” ungkap dia.

Sementara itu, Edbert memprediksi begitu pasar dibuka penururnan harga  SUN diperkirakan masih cukup besar. Terutama, lanjut dia, untuk pasar sahamnya sebagai akibat dari sentiment yang berkembang di global. Namun, ia memprediksikan pasar obligasi sendiri masih akan cukup stabil dan belum akan terjadi perubahan yield yang signifikan. Hal tersebut karena pada pecan ini investor cenderung untuk mengamankan dananya di SUN sangat terbuka.

“Saya prediksikan pergerakan yield sun akan sedikit naik dengan kenaikan rata-rata 10 basis poin untuk periode panjang dan rata-arat naik 5-10 basis untuk periode pendek,” tandas Edbert. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar