JAKARTA - PT Siwani Makmur Tbk (SIMA) bidik penjualan sebesar Rp 10-20 miliar pada 2012. Penjualan tersebut meningkat 150-400 persen dibandingkan estimasi 2011 mencapai Rp 4 miliar.
Direktur Utama Siwani Makmur Edward Seky Soeryadjaya mengatakan peningkatan penjualan tersebut terjadi seiring dengan kembalinya kepercayaan pelanggan perseroan untuk memesan produk mereka. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya kualitas produk perseroan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan pelanggan mereka. Ia hanya menjelaskan pelanggan mereka adalah industri makanan, pupuk, ban.
"Untuk itu, kami akan meningkatkan lagi promosi di tahun ini. Ditambah lagi dengan efisiensi produksi dan memaksimalkan kapasitas produksi agar dapat memenuhi permintaan pelanggan" ungkap Edward di Jakarta, Rabu (18/1).
Tidak hanya itu, lanjut Edward, perseroan juga akan menyelesaikan perselisihan sengketa kepemilikan saham dalam waktu dekat. Hal tersebut dilakukan karena selama ini perselisihan tersebut menghambat ekspansi perseroan. Mengingat perseroan kesulitan untuk mencari modal dan pendanaan. Alhasil, lanjut dia, perseroan hanya menggandalkan pendapatan dari operasional.
Sementara itu, General Manager Siwani Makmur. Burhananto Soenarno mengatakan perseroan tidak akan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) pada tahun ini. Hal tersebut karena mereka tidak akan meningkatkan kapasitas produksi saat ini. Menurut dia, mesin yang mereka miliki saat ini mampu memenuhi permintaan pelanggan dan kualitas mesin merupakan terbaik nomor dua di Indonesia.
"Terlebih saat ini utilisasi produksi kami masih sebesar 80 persen. Untuk itu, tagun ini kami akan lebih memaksimalkan kapasitas produksi kami," tandas Burhananto. (Indah Handayani)
Market News
hasil liputan jurnalis Investor Daily - Indah Handayani
Minggu, 29 Januari 2012
Pefindo Turunkan Rating Obligasi BLTA
JAKARTA – Setelah outlook peringkat perusahaan diturunkan menjadi ‘negatif’ pada Juli 2011, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat untuk obligasi mereka.
Dalam keterangan tertulis Pefindo, peringkat obligasi III/2007 dan IV/2009 turun menjadi ‘BBB-‘ dari ‘A-‘. Perurunan rating yang sama, juga terjadi pada rating Sukuk Ijarah I/2007 dan Sukuk Ijarah II/2009.
Menurut analis Pefindo Vonny Widjaja dan Andy Sidharta, perurunan peringkat tersebut terjadi karena jumlah utang perseroan yang akan jatuh tempo membengkak. Sementara, sbisnis pelayaran dan pengangukutan yang digeluti perseroan masih belum membaik. Hal tersebut dikhawatirkan akan membuat keterbatasan perseroan untuk membayar utang0utang ayang akan jatuh tempo tersebut.
Hal tersebut diperparah dengan lemahnya posisi likuiditas berlian Laju Tanker untuk menutupo utang jangka pendek. Terhitung tanggal 30 September 2011, perseroan mencatatakan kas dan setara kas sejajar dengan nilai total investasi jangka pendek sebesar US4 195 juta. Hal tersebut dikhawatirkan tidak akan menutupi total utang jangka pendek yang mencapai US4 421,3 juta (termasuk obligasi rupiah dan sukuk yang berjumlah Rp 1,095 triliun yang jatuh tempo pada Mei dan Juli 2012).
Tidak hanya itu cash flow protection ratios juga sangat lemah. Berdasakan EBITDA kepada utang yang menunjukan 0,1x dab EBITDA kepada bunga 1,3x paada 30 September 2011.
Pefindo peringkat Berlian Laju Tanker ditempatkan pada menjadi “Creditwatch with Negative implications’. Hal tersebut, merefleksikan kekhawatiran Pefindo atas likuditas perseroan atas kemampuan memenuhi obligasi yang akan jatuh tempo tersebut. Pefindo juga berencana akan menurunkan peringkat Berlian Laju Tanker jika tidak ada kejelasan rencana refinancing utang dalam waktu dekat.
BLTA adalah perusahaan pelayan yang focus di pengangkurtang produk cair (kimia, gas, minyakuntuk konsumsi) dengan rute Asia, termasuk Timur Tengah, Eropa, Amerika Utara dan Selatan. Perusahaan memiliki 40 kapal tangker kimia (total kapasitas 601.003 DWT/dead weight ton), 11 kapal tanker minyak (748.873 DWT), 15 kapal tanker gas (146,224 DWT), 1 tanker FPSO (60.874 DWT), dan 27 kapal sewa (691.914 DWT). (iin)
Dalam keterangan tertulis Pefindo, peringkat obligasi III/2007 dan IV/2009 turun menjadi ‘BBB-‘ dari ‘A-‘. Perurunan rating yang sama, juga terjadi pada rating Sukuk Ijarah I/2007 dan Sukuk Ijarah II/2009.
Menurut analis Pefindo Vonny Widjaja dan Andy Sidharta, perurunan peringkat tersebut terjadi karena jumlah utang perseroan yang akan jatuh tempo membengkak. Sementara, sbisnis pelayaran dan pengangukutan yang digeluti perseroan masih belum membaik. Hal tersebut dikhawatirkan akan membuat keterbatasan perseroan untuk membayar utang0utang ayang akan jatuh tempo tersebut.
Hal tersebut diperparah dengan lemahnya posisi likuiditas berlian Laju Tanker untuk menutupo utang jangka pendek. Terhitung tanggal 30 September 2011, perseroan mencatatakan kas dan setara kas sejajar dengan nilai total investasi jangka pendek sebesar US4 195 juta. Hal tersebut dikhawatirkan tidak akan menutupi total utang jangka pendek yang mencapai US4 421,3 juta (termasuk obligasi rupiah dan sukuk yang berjumlah Rp 1,095 triliun yang jatuh tempo pada Mei dan Juli 2012).
Tidak hanya itu cash flow protection ratios juga sangat lemah. Berdasakan EBITDA kepada utang yang menunjukan 0,1x dab EBITDA kepada bunga 1,3x paada 30 September 2011.
Pefindo peringkat Berlian Laju Tanker ditempatkan pada menjadi “Creditwatch with Negative implications’. Hal tersebut, merefleksikan kekhawatiran Pefindo atas likuditas perseroan atas kemampuan memenuhi obligasi yang akan jatuh tempo tersebut. Pefindo juga berencana akan menurunkan peringkat Berlian Laju Tanker jika tidak ada kejelasan rencana refinancing utang dalam waktu dekat.
BLTA adalah perusahaan pelayan yang focus di pengangkurtang produk cair (kimia, gas, minyakuntuk konsumsi) dengan rute Asia, termasuk Timur Tengah, Eropa, Amerika Utara dan Selatan. Perusahaan memiliki 40 kapal tangker kimia (total kapasitas 601.003 DWT/dead weight ton), 11 kapal tanker minyak (748.873 DWT), 15 kapal tanker gas (146,224 DWT), 1 tanker FPSO (60.874 DWT), dan 27 kapal sewa (691.914 DWT). (iin)
Batan Teknologi Targetkan IPO 2016
JAKARTA – PT Batan Teknologi (persero), satu-satunya perusahaan BUMN bergerak di sector industri berbasis nuklir, menargetkan dapat menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada 2016.
Direktur Utama PT Batan Teknologi Yudiutomo Imardjoko mengatakan IPO menjadi salah satu opsi perseroan mendapatkan pendanaan untuk ekspansi pada 2017. Sebab, lanjut dia, pada tahun itu perseroan berencana untuk membeli reactor nuklir yang diperkirakan menelan biaya sebesar Rp 1,6 triliun. “Reaktor tersebut digunakan memproduksi radioisotop dan radiofarmaka untuk keperluan medis dan industri,” ungkap Yudiutomo di Jakarta, belum lama ini.
Yudiutomo menjelaskan pada saat ini radioisotope dan radiofarmaka sangat dibutuhkan di dunia. Sebab, keduanya sangat dibutuhkan untuk menditeksi dini dan terapi kanker. Sementara, lanjut dia, produsen kedua produk tersebut masih sangat terbatas. “Untuk kawasan Asia dan Pasific, produsennya hanya kami, Korea Selatan, dan Australia. Ini merupakan potensi yang sangat besar untuk menggarap bisinis ini. Margin dari industri ini minimal mencapai 40 persen," papar dia.
Menurut Yudiutomo, saat ini perseroan telah kebanjiran pemesanan kedua produk tersebut dari beberapa Negara di Asia. Diantaranya adalah pemesanan dari Grup Fuji Film yang pada tahun ini memesan kedua produk tersebut. Di Indonesia sendiri, lanjut dia, perseroan telah mendapatkan pesanan dari PT Indofarma Tbk (INAF). “Kami telah menandatangani perjanjian kerjasama tersebut. Dalam pernajian tersebut, Indofarma dalam setahun minimal memesan Rp 35 miliar,” jelas dia.
Namun, lanjut dia, saat ini pihaknya masih sangat terkendala dengan produksi. Mengingat saat ini perseroan hanya memiliki satu reactor nuklir untuk memproduksi kedua produk tersebut. Alhasil, perseroan hanya mampu memproduksi radioisotope jenis Molybolumn 99 sebanyak 2 ribu curi (Ci) per minggu.
Sebagai langkah untuk memuluskan rencana IPO, Yudiutomo mengatakan perseroan akan menyampaikan rencana tersebut kepada pemegang saham, yaitu Kementerian BUMN, pada pekan depan. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga akan meningkatkan kinerja pendapatan. “ Jika tahun ini pendapatan kami mencapai Rp 220 miliar. Kami targetkan pada 2016 kami mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 500 miliar,” tandas dia. (Indah Handayani)
Direktur Utama PT Batan Teknologi Yudiutomo Imardjoko mengatakan IPO menjadi salah satu opsi perseroan mendapatkan pendanaan untuk ekspansi pada 2017. Sebab, lanjut dia, pada tahun itu perseroan berencana untuk membeli reactor nuklir yang diperkirakan menelan biaya sebesar Rp 1,6 triliun. “Reaktor tersebut digunakan memproduksi radioisotop dan radiofarmaka untuk keperluan medis dan industri,” ungkap Yudiutomo di Jakarta, belum lama ini.
Yudiutomo menjelaskan pada saat ini radioisotope dan radiofarmaka sangat dibutuhkan di dunia. Sebab, keduanya sangat dibutuhkan untuk menditeksi dini dan terapi kanker. Sementara, lanjut dia, produsen kedua produk tersebut masih sangat terbatas. “Untuk kawasan Asia dan Pasific, produsennya hanya kami, Korea Selatan, dan Australia. Ini merupakan potensi yang sangat besar untuk menggarap bisinis ini. Margin dari industri ini minimal mencapai 40 persen," papar dia.
Menurut Yudiutomo, saat ini perseroan telah kebanjiran pemesanan kedua produk tersebut dari beberapa Negara di Asia. Diantaranya adalah pemesanan dari Grup Fuji Film yang pada tahun ini memesan kedua produk tersebut. Di Indonesia sendiri, lanjut dia, perseroan telah mendapatkan pesanan dari PT Indofarma Tbk (INAF). “Kami telah menandatangani perjanjian kerjasama tersebut. Dalam pernajian tersebut, Indofarma dalam setahun minimal memesan Rp 35 miliar,” jelas dia.
Namun, lanjut dia, saat ini pihaknya masih sangat terkendala dengan produksi. Mengingat saat ini perseroan hanya memiliki satu reactor nuklir untuk memproduksi kedua produk tersebut. Alhasil, perseroan hanya mampu memproduksi radioisotope jenis Molybolumn 99 sebanyak 2 ribu curi (Ci) per minggu.
Sebagai langkah untuk memuluskan rencana IPO, Yudiutomo mengatakan perseroan akan menyampaikan rencana tersebut kepada pemegang saham, yaitu Kementerian BUMN, pada pekan depan. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga akan meningkatkan kinerja pendapatan. “ Jika tahun ini pendapatan kami mencapai Rp 220 miliar. Kami targetkan pada 2016 kami mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 500 miliar,” tandas dia. (Indah Handayani)
Bakrie Sumatera Siapkan Capex US$ 40 Juta
JAKARTA – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 40 juta pada 2012. Capex tersebut dialokasikan untuk operasional perkebunan dan oleo kimia.
Diretur Utama Bakrie Sumatera Plantations Ambono Janurianto mengatatakan capex tersebut akan bersumber dari dana operasional. Ia menjelaskan sebanyak US$ 20 juta dialokasikan untuk melanjutkan pengembangan bisnis oleo kimia. “Jumlah tersebut merupakan bagian dari alokasi investasi kami untuk bisnis oleokimia selama tiga tahun sejak 2011 sebesar US$ 60 juta,” ungkap Ambono di Jakarta, belum lama ini.
Sedangkan sisanya, lanjut Ambono, dialokasikan untuk bisnis perkebunan perseroan. Diantaranya adalah penanaman kembali tanaman karet dan penanaman baru kelapa sawit. Tidak hanya itu, Ambono menjelaskan perseroan berencana membangun tiga pabrik pengolahan kelapa sawit. Pabrik tersebut terdiri dari dua pabrik berkapasitas 200 ton per hari dan satu pabrik kapasitas 100 ton per hari.
“Untuk pembangunan tersebut membutuhkan dana sebesar US$ 2-3 juta per pabrik. Dengan ketiga pabrik tersebut perseroan akan mendapatkan tambahan produksi sebanyak 500 ton per hari,” ucap Ambono
Ambono memperkirakan pendapatan 2011 akan meningkat sebesar 30% dibandingkan pencapaian 2010 sebesar Rp 3 triliun. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan keberhasilan perseroan menjaga kinerja yang telah dicapai hingga kuartal III 2011 yang selalu meningkat 30%. “Kami optimistis mampu pertahankan pertumbuhan kinerja uyang telah dicapai selama Sembilan bulan,” papar dia.
Sebelumnya, Direktur Keuangan Bakrie Sumatera Harry M Nadir memprediksi bisnis oleokimia akan memberikan kontribusi 50% terhadap pendapatan konsolidasi perseroan pada 2012. Sedangkan pada 2011, lanjut dia, kontribusi bisnis tersebut hanya menyumbang sekitar 9% dari total pendapatan perseroan. Menurutnya, kenaikan tersebut seiring dengan peningkatan tersebut terjadi seiring dengan beroperasinya pabrik penyulingan (refinery) dan pabrik yang memproduksi Stiarin dan glyserin pada awal 2012
“Dengan beroperasinya pabrik baru tersebut, volume produksi oleokimia akan menjadi 300 ribu ton per tahun. Dibandingkan pada 2011 yang sebesar 45 ribu ton per tahun,” kata Harry.
Bakrie Tuntaskan Utang
Pada kesempatan berbeda, Bakrie Group akan menyelesaikan pembayaran utang kepada Credit Suisse (CS) dengan menggunakan dua cara, yaitu pembayaran langsung yang berasal dari transaksi penjualan saham Bumi Plc senilai US$ 1 miliar yang diperkirakan akan dibayar pada pekan ini. Ditambah lagi, refinancing utang tersebut dengan menggunakan fasilitas pinjaman yang baru didaptkan oleh Bakrie Group dari Credit Suisse AG, Singapore Branch senilai US$ 437 juta.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bakrie & Brothers R A Sri Damayanti mengatakan fasilitas pinjaman tersebut telah di tandatangani pada 12 Januari 2012 oleh PT Bakrie & Brothers Tbk dan Long Haul Holdings Ltd, suatu perusahaan yang berkedudukan di Nevis, West Indies. Dari total pinjaman tersebut, lanjut dia, fasilitas pinjaman yang ditujukan untuk perseroan adalah sebesar US$ 193,9 juta. “Berdasarkan Credit Agreement, kewajiban perseroan terpisah dari kewajiban LHH,” jelas dia.
Sebelumnya, Direktur Keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Eddy Soeparno menjelaskan perseroan akan segera membayarkan utang kepada Credit Suisse (CS) pada pekan ini. Hal tersebut, lanjut dia, setelah perseroan mendapatkan dana dari penjualan saham Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk yang diperkirakan akan terjadi pada pekan ini.
Menurut Eddy, pihak Borneo telah melengkapi dokumentasi untuk mencairkan pinjaman tersebut. “Mudah-mudahan pekan ini selesai transaksi dengan Borneo. Setelah diterima, dana tersebut akan langsung kami bayarkan kepada CS. Utang kepada CS merupakan prioritas kami. Mengingat utang tersebut merupakan jangka pendek,” jelas Eddy.
Menurut Eddy, dengan pembayaran utang tersebut akan menurunkan posisi utang perseroan. Ia menjelaskan pada akhir tahun lalu perseroan mencatatkan utang sebanyak Rp 8-9 triliun, dengan penyelesaian transaksi Borneo tersebut akan langsung turun menjadi Rp 5 triliun. “Setelah penyelesaian utang ini selesai, kami akan focus pada pencarian dana untuk pengembangan proyek kami,” papar dia. (iin)
Diretur Utama Bakrie Sumatera Plantations Ambono Janurianto mengatatakan capex tersebut akan bersumber dari dana operasional. Ia menjelaskan sebanyak US$ 20 juta dialokasikan untuk melanjutkan pengembangan bisnis oleo kimia. “Jumlah tersebut merupakan bagian dari alokasi investasi kami untuk bisnis oleokimia selama tiga tahun sejak 2011 sebesar US$ 60 juta,” ungkap Ambono di Jakarta, belum lama ini.
Sedangkan sisanya, lanjut Ambono, dialokasikan untuk bisnis perkebunan perseroan. Diantaranya adalah penanaman kembali tanaman karet dan penanaman baru kelapa sawit. Tidak hanya itu, Ambono menjelaskan perseroan berencana membangun tiga pabrik pengolahan kelapa sawit. Pabrik tersebut terdiri dari dua pabrik berkapasitas 200 ton per hari dan satu pabrik kapasitas 100 ton per hari.
“Untuk pembangunan tersebut membutuhkan dana sebesar US$ 2-3 juta per pabrik. Dengan ketiga pabrik tersebut perseroan akan mendapatkan tambahan produksi sebanyak 500 ton per hari,” ucap Ambono
Ambono memperkirakan pendapatan 2011 akan meningkat sebesar 30% dibandingkan pencapaian 2010 sebesar Rp 3 triliun. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan keberhasilan perseroan menjaga kinerja yang telah dicapai hingga kuartal III 2011 yang selalu meningkat 30%. “Kami optimistis mampu pertahankan pertumbuhan kinerja uyang telah dicapai selama Sembilan bulan,” papar dia.
Sebelumnya, Direktur Keuangan Bakrie Sumatera Harry M Nadir memprediksi bisnis oleokimia akan memberikan kontribusi 50% terhadap pendapatan konsolidasi perseroan pada 2012. Sedangkan pada 2011, lanjut dia, kontribusi bisnis tersebut hanya menyumbang sekitar 9% dari total pendapatan perseroan. Menurutnya, kenaikan tersebut seiring dengan peningkatan tersebut terjadi seiring dengan beroperasinya pabrik penyulingan (refinery) dan pabrik yang memproduksi Stiarin dan glyserin pada awal 2012
“Dengan beroperasinya pabrik baru tersebut, volume produksi oleokimia akan menjadi 300 ribu ton per tahun. Dibandingkan pada 2011 yang sebesar 45 ribu ton per tahun,” kata Harry.
Bakrie Tuntaskan Utang
Pada kesempatan berbeda, Bakrie Group akan menyelesaikan pembayaran utang kepada Credit Suisse (CS) dengan menggunakan dua cara, yaitu pembayaran langsung yang berasal dari transaksi penjualan saham Bumi Plc senilai US$ 1 miliar yang diperkirakan akan dibayar pada pekan ini. Ditambah lagi, refinancing utang tersebut dengan menggunakan fasilitas pinjaman yang baru didaptkan oleh Bakrie Group dari Credit Suisse AG, Singapore Branch senilai US$ 437 juta.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bakrie & Brothers R A Sri Damayanti mengatakan fasilitas pinjaman tersebut telah di tandatangani pada 12 Januari 2012 oleh PT Bakrie & Brothers Tbk dan Long Haul Holdings Ltd, suatu perusahaan yang berkedudukan di Nevis, West Indies. Dari total pinjaman tersebut, lanjut dia, fasilitas pinjaman yang ditujukan untuk perseroan adalah sebesar US$ 193,9 juta. “Berdasarkan Credit Agreement, kewajiban perseroan terpisah dari kewajiban LHH,” jelas dia.
Sebelumnya, Direktur Keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Eddy Soeparno menjelaskan perseroan akan segera membayarkan utang kepada Credit Suisse (CS) pada pekan ini. Hal tersebut, lanjut dia, setelah perseroan mendapatkan dana dari penjualan saham Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk yang diperkirakan akan terjadi pada pekan ini.
Menurut Eddy, pihak Borneo telah melengkapi dokumentasi untuk mencairkan pinjaman tersebut. “Mudah-mudahan pekan ini selesai transaksi dengan Borneo. Setelah diterima, dana tersebut akan langsung kami bayarkan kepada CS. Utang kepada CS merupakan prioritas kami. Mengingat utang tersebut merupakan jangka pendek,” jelas Eddy.
Menurut Eddy, dengan pembayaran utang tersebut akan menurunkan posisi utang perseroan. Ia menjelaskan pada akhir tahun lalu perseroan mencatatkan utang sebanyak Rp 8-9 triliun, dengan penyelesaian transaksi Borneo tersebut akan langsung turun menjadi Rp 5 triliun. “Setelah penyelesaian utang ini selesai, kami akan focus pada pencarian dana untuk pengembangan proyek kami,” papar dia. (iin)
Indofarma Bidik Tambahan Pendapatan Rp 200 M
Gandeng Batan Teknologi
Indofarma Bidik Tambahan Pendapatan Rp 200 M
JAKARTA - PT Indofarma Tbk (INAF) membidik tambahan pendapatan dari penjualan obat deteksi dini dan terapi penyakit kanker, radiofarmaka atau MO99, sebesar rP 200 miliar pada 2012. Dengan demikian, pendapatan perseroan diperkirakan akan menembus Rp 1,7-1,8 triuliun pada tahun ini.
Sekretaris perusahaan Indofarma Ahdia Amini Obat tersebut merupakan hasil kerjasama antara perseroan dengan Batan Teknologi (Batan Tek). Ia menjelaskan pangsa pasar untuk obat tersebut sangatlah besar.Bahkan, lanjut dia, perseroan telah mendapatkan order dari salah satu rumah sakit di Jepang senilai Rp 50 miliar. Order tersebut, lanjut dia, akan direalisasikan pada Maret mendatang. Dengan demikian, ia optimistis order tersebut sudah dapat dicatatkan pada pendapatan kuartal I 2011.
"Kami pun optimistis dapat mencetakpendapatan Rp 50 miliar setiap kuartalnya dari penjualan obat tersebut. Mengingat adanya potensi order dari negara di kawasan Asean dan Timur Tengah. Dengan demikian, tahun ini kami akan mendapatkan tambahan Rp 200 miliar dari obat tersebut," ungkap Ahdia di Jakarta, Senin (16/1).
Ahdia menjelaskan dengan adanya produk tersebut akan mampu mendongkrat margin yang didapatkan perseroan di masa mendatang. Sebab, lanjut dia, penjualan radiofarmaka mampu mencetak margin hingga 40%. Untuk itu, lanjutnya, selain penjualamn di luar negeri perseroan akan memasarkan pasar domestik obat tersebut ke 10 rumah sakit di Indonesia. Menurutnya, dengan obat tersebut perseroan optimistis akan mencapai target laba bersih tahun ini sebesar Rp 75 miliar.
"Hal tersebut akan sangat tergantung pada kesiapan Batan Tek dalam memenuhi Pasokan dan persyaratan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ," papar Ahdia.
Direktur Utama PT Batan Teknologi Yudiutomo Imardjoko mengatakan kesanggupannya untuk memenuhi kerjasama tersebut. Sebab, lanjut dia, perusahaannya mampu memproduksi 60.000 curi (ci). Ia menjelaskan kerjasama dengan Indofarma tersebut telah tertuang dalam perjanjian Kerjasama yang ditandatangani pada 12 Januari 2012.
"Dalam perjanjian tersebut, Indofarma minimal akan memesan radiofarmaka senilai Rp 35 miliar dalam setahun," tambah Yudiutomo.
Batan Tek berdiri pada 1996. Perusahaan tersebut adalah satu-satunya perusahaan BUMN yang bergerak di bidang industri nuklir. (Iin)
Indofarma Bidik Tambahan Pendapatan Rp 200 M
JAKARTA - PT Indofarma Tbk (INAF) membidik tambahan pendapatan dari penjualan obat deteksi dini dan terapi penyakit kanker, radiofarmaka atau MO99, sebesar rP 200 miliar pada 2012. Dengan demikian, pendapatan perseroan diperkirakan akan menembus Rp 1,7-1,8 triuliun pada tahun ini.
Sekretaris perusahaan Indofarma Ahdia Amini Obat tersebut merupakan hasil kerjasama antara perseroan dengan Batan Teknologi (Batan Tek). Ia menjelaskan pangsa pasar untuk obat tersebut sangatlah besar.Bahkan, lanjut dia, perseroan telah mendapatkan order dari salah satu rumah sakit di Jepang senilai Rp 50 miliar. Order tersebut, lanjut dia, akan direalisasikan pada Maret mendatang. Dengan demikian, ia optimistis order tersebut sudah dapat dicatatkan pada pendapatan kuartal I 2011.
"Kami pun optimistis dapat mencetakpendapatan Rp 50 miliar setiap kuartalnya dari penjualan obat tersebut. Mengingat adanya potensi order dari negara di kawasan Asean dan Timur Tengah. Dengan demikian, tahun ini kami akan mendapatkan tambahan Rp 200 miliar dari obat tersebut," ungkap Ahdia di Jakarta, Senin (16/1).
Ahdia menjelaskan dengan adanya produk tersebut akan mampu mendongkrat margin yang didapatkan perseroan di masa mendatang. Sebab, lanjut dia, penjualan radiofarmaka mampu mencetak margin hingga 40%. Untuk itu, lanjutnya, selain penjualamn di luar negeri perseroan akan memasarkan pasar domestik obat tersebut ke 10 rumah sakit di Indonesia. Menurutnya, dengan obat tersebut perseroan optimistis akan mencapai target laba bersih tahun ini sebesar Rp 75 miliar.
"Hal tersebut akan sangat tergantung pada kesiapan Batan Tek dalam memenuhi Pasokan dan persyaratan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ," papar Ahdia.
Direktur Utama PT Batan Teknologi Yudiutomo Imardjoko mengatakan kesanggupannya untuk memenuhi kerjasama tersebut. Sebab, lanjut dia, perusahaannya mampu memproduksi 60.000 curi (ci). Ia menjelaskan kerjasama dengan Indofarma tersebut telah tertuang dalam perjanjian Kerjasama yang ditandatangani pada 12 Januari 2012.
"Dalam perjanjian tersebut, Indofarma minimal akan memesan radiofarmaka senilai Rp 35 miliar dalam setahun," tambah Yudiutomo.
Batan Tek berdiri pada 1996. Perusahaan tersebut adalah satu-satunya perusahaan BUMN yang bergerak di bidang industri nuklir. (Iin)
Harga IPO Surya Esa Rp 610
JAKARTA - PT Surya Esa Perkasa Tbk menetapkan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) sebesar Rp 610 per saham. Dengan jumlah saham yang dilepas sebanyak 250 juta saham atau 25% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Dengan demikian, perseroan akan mendapatkan dana segar dari pasar sebesar Rp 152,5 miliar.
Managing Director Equator Securities, selaku penjamin emisi, David Agus menjelaskan, penentuan harga tersebut setelah menggelar penawaran awal (bookbuilding) pada 9-13 Januari 2012. "Bookbuilding sudah selesai, IPO akan jadi 250 juta saham di harga Rp 610. Tentang Oversubscription nanti akan kita umumkan," ungkap David kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (16/1).
Rencananya, perseroan akan menggelar penawaran umum pada 25-27 Januari 2012. Sedangkan pencatatan saham di bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan dapat dilaksanakan pada 1 Februari 2011.
Sebelumnya, Direktur Keuangan yang juga menjabat Sekretaris Perusahaan Surya Esa Perkasa Isenta Hioe mengatakan Perseroan akan menggunakan 25% dipakai untuk membayar sebagian utang kepada PT Bank UOB Indonesia. Sedangkan 75% dana hasil IPO, lanjut dia, digunakan untuk ekspansi bisnis yakni pengembangan kilang gas perseroan. Dengan ekspansi tersebut, tambah dia, produksi pemurnian has bumi menjadi produk LPG akan meningkat sebesar 50 MT LPG per hari.
“Jumlah tersebut meningkat sekiatr 44% dari kapasitas produksi saat ini, yaitu 113 MT LPG per hari. Untuk pembangunan ini diperkirakan akan selesai pada 2014. Sedangkan selama pembangunan, 2012-2013, diperkirakan membutuhkan dana sebesar US$ 15 juta,” jelas Isenta.
Sedangkan untuk estimasi kinerja, lanjut Isenta, perseroan mengestimasi akan mendapatkan pendapatan sebesar US$ 41 juta pada 2011. Sebab, selama 2011 harga jual gas LPG sangat tinmggi hingga mencapai US$ 842 per metric ton. Namun, lanjut dia, untuk kinerja di tahun ini akan sangat tergantung pada harga LPG. Ia memprediksikan harga di tahun ini hanya akan mencapai US$ 624 per meterik ton. “Kemungkinan pendapatan akan di bawah 2011,” ujar dia.
Analis Milenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga mengatakan seecara lini usaha emiten ini cukup prospektif. Sebab, lanjut dia, perseroan bergerak di bisnis LPG dan turunnannya. Apalagi saat ini,pemerintah terus mengkampayekan konversi bahan bakar ke gas sehingga mendorong permintaan gas ke depan akan semakin meningkat, termasuk LPG dan turunnya. “Harga saham perdananya juga cukup murah,” tandas dia. (iin)
Managing Director Equator Securities, selaku penjamin emisi, David Agus menjelaskan, penentuan harga tersebut setelah menggelar penawaran awal (bookbuilding) pada 9-13 Januari 2012. "Bookbuilding sudah selesai, IPO akan jadi 250 juta saham di harga Rp 610. Tentang Oversubscription nanti akan kita umumkan," ungkap David kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (16/1).
Rencananya, perseroan akan menggelar penawaran umum pada 25-27 Januari 2012. Sedangkan pencatatan saham di bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan dapat dilaksanakan pada 1 Februari 2011.
Sebelumnya, Direktur Keuangan yang juga menjabat Sekretaris Perusahaan Surya Esa Perkasa Isenta Hioe mengatakan Perseroan akan menggunakan 25% dipakai untuk membayar sebagian utang kepada PT Bank UOB Indonesia. Sedangkan 75% dana hasil IPO, lanjut dia, digunakan untuk ekspansi bisnis yakni pengembangan kilang gas perseroan. Dengan ekspansi tersebut, tambah dia, produksi pemurnian has bumi menjadi produk LPG akan meningkat sebesar 50 MT LPG per hari.
“Jumlah tersebut meningkat sekiatr 44% dari kapasitas produksi saat ini, yaitu 113 MT LPG per hari. Untuk pembangunan ini diperkirakan akan selesai pada 2014. Sedangkan selama pembangunan, 2012-2013, diperkirakan membutuhkan dana sebesar US$ 15 juta,” jelas Isenta.
Sedangkan untuk estimasi kinerja, lanjut Isenta, perseroan mengestimasi akan mendapatkan pendapatan sebesar US$ 41 juta pada 2011. Sebab, selama 2011 harga jual gas LPG sangat tinmggi hingga mencapai US$ 842 per metric ton. Namun, lanjut dia, untuk kinerja di tahun ini akan sangat tergantung pada harga LPG. Ia memprediksikan harga di tahun ini hanya akan mencapai US$ 624 per meterik ton. “Kemungkinan pendapatan akan di bawah 2011,” ujar dia.
Analis Milenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga mengatakan seecara lini usaha emiten ini cukup prospektif. Sebab, lanjut dia, perseroan bergerak di bisnis LPG dan turunnannya. Apalagi saat ini,pemerintah terus mengkampayekan konversi bahan bakar ke gas sehingga mendorong permintaan gas ke depan akan semakin meningkat, termasuk LPG dan turunnya. “Harga saham perdananya juga cukup murah,” tandas dia. (iin)
Indofarma Bidik Order Jepang Rp 100 M
JAKARTA – PT Indofarma Tbk (INAF) membidik pemesanan (order) penjualan obat deteksi dini dan terapi penyakit kanker, radiofarmaka, dari Jepang. Nilai dari order tersebut diperkirakan akan mencapai lebih dari Rp 50-100 miliar. Obat tersebut merupakan hasil kerjasama antara perseroan dengan Batan Technology (Batan Tech).
“Potensi penjualan obat tersebut sangat besar, bahkan kebutuhan domestik saja diperkirakan akan mencapai Rp 50 miliar. Selain itu, kami juga akan mendapatkan order pembelian dari Jepang pada tahun depan, potensi nilai order tersebut diperkirakan akan lebih dari Rp 50 miliar,” ungkap Sekretaris Perusahaan Indofarma Ahdia Amini di Jakarta, Selasa (27/12).
Namun, Ahdia masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai kontrak tersebut. Ia hanya mengatakan pembeli tersebut merupakan sebuah rumah sakit dari Jepang dan akan melakukan MoU pada awal tahun mendatang. Ia menjelaskan dengan adanya produk tersebut akan mampu mendongkrat margin yang didapatkan perseroan di masa mendatang. Sebab, lanjut dia, penjualan radiofarmaka mampu mencetak margin hingga 40%.
“Langkah ini menjadi salah satu quantum leap perseroan dalam rangka net profit oriented. Alhasil, mampu menciptakan laba bersih yang besar di tahun mendatang dan juga memberikan dividen kepada pemegang saham,” jelas Ahdia.
Ahdia menambahkan skema bisnis yang dijalankan dengan Batan Tech adalah win-win solution. Sebab, lanjut dia, dalam penjualan produk tersebut perseroan bertindak sebagai distributor atau marketing. Sedangkan Batan Tech sebagai pihak manufacturing. Dalam menjalankan bisnis tersebut, Ahdia mengatakan perseroan telah mendapat komitmen fasilitas pinjaman dari Bank Mandiri sebesar Rp 100 miliar.
Lebih lanjut Ahdia mengatakan pinjamna tersebut akan digunakan untuk membiayai pembuatan radiofarmaka oleh Batan Tech. Rencananya, lanjut dia, pada tahun depan pinjaman tersebut akan dicairkan separuhnya. “Hal tersebut untuk memenuhi permintaan di 2012. Selama ini, pendaanaan yang menjadi masalah penting bagi Batan Tech dalam memproduksi radiofarmaka tersebut,” jelas dia.
Selain Radiofarmaka, Ahdia menjelaskan perseroan juga akan mengembangkan obat yang memiliki margin besar dan memiliki pesaing yang minim. Untuk itu, lanjut dia, perseroan juga akan mengeluncurkan 16 jenis obat baru pada 2012. “Empat dari 16 obat baru tersebut merupakan obat tanpa resep (otc),” tandas dia. (iin)
“Potensi penjualan obat tersebut sangat besar, bahkan kebutuhan domestik saja diperkirakan akan mencapai Rp 50 miliar. Selain itu, kami juga akan mendapatkan order pembelian dari Jepang pada tahun depan, potensi nilai order tersebut diperkirakan akan lebih dari Rp 50 miliar,” ungkap Sekretaris Perusahaan Indofarma Ahdia Amini di Jakarta, Selasa (27/12).
Namun, Ahdia masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai kontrak tersebut. Ia hanya mengatakan pembeli tersebut merupakan sebuah rumah sakit dari Jepang dan akan melakukan MoU pada awal tahun mendatang. Ia menjelaskan dengan adanya produk tersebut akan mampu mendongkrat margin yang didapatkan perseroan di masa mendatang. Sebab, lanjut dia, penjualan radiofarmaka mampu mencetak margin hingga 40%.
“Langkah ini menjadi salah satu quantum leap perseroan dalam rangka net profit oriented. Alhasil, mampu menciptakan laba bersih yang besar di tahun mendatang dan juga memberikan dividen kepada pemegang saham,” jelas Ahdia.
Ahdia menambahkan skema bisnis yang dijalankan dengan Batan Tech adalah win-win solution. Sebab, lanjut dia, dalam penjualan produk tersebut perseroan bertindak sebagai distributor atau marketing. Sedangkan Batan Tech sebagai pihak manufacturing. Dalam menjalankan bisnis tersebut, Ahdia mengatakan perseroan telah mendapat komitmen fasilitas pinjaman dari Bank Mandiri sebesar Rp 100 miliar.
Lebih lanjut Ahdia mengatakan pinjamna tersebut akan digunakan untuk membiayai pembuatan radiofarmaka oleh Batan Tech. Rencananya, lanjut dia, pada tahun depan pinjaman tersebut akan dicairkan separuhnya. “Hal tersebut untuk memenuhi permintaan di 2012. Selama ini, pendaanaan yang menjadi masalah penting bagi Batan Tech dalam memproduksi radiofarmaka tersebut,” jelas dia.
Selain Radiofarmaka, Ahdia menjelaskan perseroan juga akan mengembangkan obat yang memiliki margin besar dan memiliki pesaing yang minim. Untuk itu, lanjut dia, perseroan juga akan mengeluncurkan 16 jenis obat baru pada 2012. “Empat dari 16 obat baru tersebut merupakan obat tanpa resep (otc),” tandas dia. (iin)
Langganan:
Komentar (Atom)