Minggu, 29 Januari 2012

Bakrie Sumatera Siapkan Capex US$ 40 Juta

JAKARTA – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 40 juta pada 2012. Capex tersebut dialokasikan untuk operasional perkebunan dan oleo kimia. 

Diretur Utama Bakrie Sumatera Plantations Ambono Janurianto mengatatakan capex tersebut akan bersumber dari dana operasional. Ia menjelaskan sebanyak US$ 20 juta dialokasikan untuk melanjutkan pengembangan bisnis oleo kimia. “Jumlah tersebut merupakan bagian dari alokasi investasi kami untuk bisnis oleokimia selama tiga tahun sejak 2011 sebesar US$ 60 juta,” ungkap Ambono di Jakarta, belum lama ini.

Sedangkan sisanya, lanjut Ambono, dialokasikan untuk bisnis perkebunan perseroan. Diantaranya adalah penanaman kembali tanaman karet dan penanaman baru kelapa sawit.  Tidak hanya itu, Ambono menjelaskan perseroan berencana membangun tiga pabrik pengolahan kelapa sawit. Pabrik tersebut terdiri dari dua pabrik berkapasitas 200 ton per hari dan satu pabrik kapasitas 100 ton per hari. 

“Untuk pembangunan tersebut membutuhkan dana sebesar US$ 2-3 juta per pabrik. Dengan ketiga pabrik tersebut perseroan akan mendapatkan tambahan produksi sebanyak 500 ton per hari,” ucap Ambono 

Ambono memperkirakan pendapatan 2011 akan meningkat sebesar 30% dibandingkan pencapaian 2010 sebesar Rp 3 triliun. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan keberhasilan perseroan menjaga kinerja yang telah dicapai hingga kuartal III 2011 yang selalu meningkat 30%. “Kami optimistis mampu pertahankan pertumbuhan kinerja uyang telah dicapai selama Sembilan bulan,” papar dia. 

Sebelumnya, Direktur Keuangan Bakrie Sumatera Harry M Nadir memprediksi bisnis oleokimia akan memberikan kontribusi 50% terhadap pendapatan konsolidasi perseroan pada 2012. Sedangkan pada 2011, lanjut dia, kontribusi bisnis tersebut hanya menyumbang sekitar 9% dari total pendapatan perseroan. Menurutnya, kenaikan tersebut seiring dengan peningkatan tersebut terjadi seiring dengan beroperasinya pabrik penyulingan (refinery) dan pabrik yang memproduksi Stiarin dan glyserin pada awal 2012

“Dengan beroperasinya pabrik baru tersebut, volume produksi oleokimia akan menjadi 300 ribu ton per tahun. Dibandingkan pada 2011 yang sebesar 45 ribu ton per tahun,” kata Harry. 

Bakrie Tuntaskan Utang

Pada kesempatan berbeda, Bakrie Group akan menyelesaikan pembayaran utang kepada Credit Suisse (CS) dengan menggunakan dua cara, yaitu pembayaran langsung yang berasal dari transaksi penjualan saham Bumi Plc senilai US$ 1 miliar yang diperkirakan akan dibayar pada pekan ini. Ditambah lagi, refinancing utang tersebut dengan menggunakan fasilitas pinjaman yang baru didaptkan oleh Bakrie Group dari Credit Suisse AG, Singapore Branch senilai US$ 437 juta. 

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bakrie & Brothers R A Sri Damayanti mengatakan fasilitas pinjaman tersebut telah di tandatangani pada 12 Januari 2012 oleh PT Bakrie & Brothers Tbk dan Long Haul Holdings Ltd, suatu perusahaan yang berkedudukan di Nevis, West Indies. Dari total pinjaman tersebut, lanjut dia, fasilitas pinjaman yang ditujukan untuk perseroan adalah sebesar US$ 193,9 juta. “Berdasarkan Credit Agreement, kewajiban perseroan terpisah dari kewajiban LHH,” jelas dia.  

Sebelumnya, Direktur Keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Eddy Soeparno menjelaskan perseroan akan segera membayarkan utang kepada Credit Suisse (CS) pada pekan ini. Hal tersebut, lanjut dia, setelah perseroan mendapatkan dana dari penjualan saham Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk yang diperkirakan akan terjadi pada pekan ini. 

Menurut Eddy, pihak Borneo telah melengkapi dokumentasi untuk mencairkan pinjaman tersebut. “Mudah-mudahan pekan ini selesai transaksi dengan Borneo. Setelah diterima, dana tersebut akan langsung kami bayarkan kepada CS. Utang kepada CS merupakan prioritas kami. Mengingat utang tersebut merupakan jangka pendek,” jelas Eddy. 

Menurut Eddy, dengan pembayaran utang tersebut akan menurunkan posisi utang perseroan. Ia menjelaskan pada akhir tahun lalu perseroan mencatatkan utang sebanyak Rp  8-9 triliun, dengan penyelesaian transaksi Borneo tersebut akan langsung turun menjadi Rp 5 triliun. “Setelah penyelesaian utang ini selesai, kami akan focus pada pencarian dana untuk pengembangan proyek kami,” papar dia. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar