Siap IPO
JFX Cetak Transaksi Rp 1.100 T Pada 2011
JAKARTA – Jakarta Future Exchange atau Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) mencatatkan transaksi senilai Rp 1.100 triliun pada 2011. Nilai tersebut tercapai berkat keberhasilan JFX mencatatkan total volume transaksi sebanyak 7,58 juta lot dalam satu tahun. Total volume transaksi tersebut meningkat 40,1% dibandingkan 2010 yang hanya mencapai 5,41 juta lot.
“Jika dirata-ratakan nilai produk kami sebesar Rp 150 juta per lot, dengan demikian seluruh transaksi pada 2011 mencapai Rp 1.100 tiliun,” ungkap Direktur JFX Roy Sambel di Jakarta, Selasa (10/1).
Roy menjelaskan dari total transaksi tersebut, transaksi bilateral atau Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) masih mencatatkan volume tersebsar mencatatkan sebanyak 7.508.084 lot. Jumlah tersebut hanya meningkat 39% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5.393.768 lot. Transaksi SPA 2011 didominasi oleh transaksi perdagangan emas loco London yang naik 759,87% menjadi 3.351.874 lot dari 389.810 lot pada 2010.
Lebih lanjut Roy mengatakan pertumbuhan tertinggi terjadi pada perdagangan multilateral yang meningkat sebesar 392,23% menjadi 78.506 lot dari 15.949 lot. Menurutnya, peningkatan transaksi multilateral dipicu oleh mengkilapnya volume transaksi emas yang mencapai 42.786 lot atau 54,5% dari total transaksi multilateral. Ia menyebutkan kontrak berjangka emas (KB Emas) yang mencatatkan kenaikan sebesar 437,5% menjadi 29.126 lot dari 5.418 lot pada tahun lalu.
“Ditambah lagi, kontrak gulir emas dalam US (KG Emas US) juga mencatat kenaikan yang signifikan dari 4.033 lot menjadi 13.660 lot pada 2010. Kenaikan harga emas yang trendnya dimulai dari kuartal I sampai III 2011 tampaknya memicu transaksi kontrak emas yang ada di JFX,” jelas Roy.
Roy menambahkan Transaksi multilateral lainnya yang meningkat pesat adalah Kontrak Berjangka Olein (minyak curah) yang melonjak 646,8% dari 1.754 lot menjadi 13.099 lot. Ditambah lagi dengan kotrak kakao yang mampu mencatatkan transaksi sebanyak 1.762 lot hanya dalam waktu dua bulan sejak diluncurkan pada 15 Desember 2011. “Kami memprediksi kontrak kakao tersebut akan terus meningkat di tahun ini seiring dengan harga kakao dunia yang sangat bergejolak pada saat ini,” papar Roy.
Rencana 2012
Untuk 2012, Roy mengatakan pihaknya memperkirakan volume transaksi akan tumbuh sekitar 10-15% dibandingkan 2011. Hal tersebut dikarenakan tahun ini sebagai tahun investasi demi meningkatkan kualitas dan juga kuantitas transaksi perdagangan yang berlangsung di bursa tersebut. Diantaranya adalah dengan mengembangkan IT melalui online trading melalui mobile, mengundang market maker internasional untuk meramaikan busar perdagangan JFX, serta meluncurkan produk baru.
“Rencananya, tahun ini kami akan meluncurkan lima produk baru, yaitu batubara, karet, timah, kopi, dan interest rate futures. Tapi yang paling dekat kami akan meluncurkan produk kopi, hal ini mengingat kajian kopi sudah sangat advance dibandingkan produk lainya,” tegas Roy.
Tidak hanya itu, tambah Roy, perdagangan produk komoditi syariah juga akan dilakukan pada tahun ini. Walau, lanjut dia, perdagangan tersbut sempat terhenti karena menuinggu peratran terkait dari Bank Indonesia untuk mengakomodir transaksi tersbut. Hal tersebut terjadi karena BI telah mengeluarkan ketentuan baru menyangkut pasar uang antar bank syariah melalui surat edaran No 14/3DPM tentang serikat perdahangan komoditi berdasarkan prinsip syariah antarbank (SIKA).
Rencananya, lanjut Roy, pihaknya telah melakukan penyesuaian dengan peraturan BI tersebit dan akan meminta persetujuan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bapeppti). “Kami mengharapkan hal ini bisa selesai pada akhir kuartal I 2012,” jelas dia.
IPO 2015
Pada kesempatan yang sama, Roy menperkirakan JFX akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2015. Namun, lanjut dia, sebelum itu pihaknya akan mengalami beberapa tahapan untuk bisa menjadi perusahaan terbuka tersebut. mengingat saat ini kepemilikan organisasi masih terbatas pada anggota. Untuk tahun ini, lanjut dia, pihaknya akan persiapan demutualisasi denga harapan aksi tersebut akan terjadi pada 2013. “Pada 2014 baru akan kami persiapkan IPO, dengan demikian pada 2015 akan bisa menjadi perusahaan terbuka,” ucap Roy.
Roy memperkirakan pada tahun 2015 nilai kapitalisasi saham JFX akan mencapai Rp 9-10 triliun. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan perhitungan pertumbuhan JFX yang akan meningkat 10-15% setiap tahunnya. Sedangkan tahun ini, ia menyebutkan nilai buku JFX mencapai US$ 10 juta. “Hal tersebut juga merujuk dari pengalaman Bursa Berjanga India yang saat ini berencana go piblik di negaranya. Jika saat ini saja, nilai kapitalisasi mereka telah mencapai miliaran dollar, tidak menutup kemungkinan kami akan mampu mencapai kisaran yang sama,” tandas dia. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar