JAKARTA - PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) akan mencairkan pinjaman sebanyak US$ 3 juta pada 2012. Pinjaman tersebut berasal dari fasilitas pinjaman perbankan dari Standard Bank Plc senilai US$ 25 juta. Pinjaman tersebut didapatkan perseroan pada pertengahan Oktober lalu.
Direktur Utama Ancora Dharma Hutama Djojonegoro Pencairan pinjaman tersebut akan digunakan untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan pada tahun ini sebesar US$ 5-10 juta. Sisa dari dana capex, lanjut dia, akan berasal dari kas internal. Ia menjelaskan capex tersebut digunakan untuk pembangunan perakitan alat peledak (detonator assembly) di Samarinda, Kalimantan Timur.
“Serta penambahan tangki dan penyelesaian pembangunan pabrik PT Multi Nitritama Kimia (MNK) II,” ungkap Dharma di Jakarta, belum lama ini.
Dharma menjelaskan sisa dari fasilitas pinjaman tersebut, akan digunakan untuk akuisisi perseroan pada 2012. Namun, ia enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai akuisisi yang sedang dibidiknya. Ia hanya mengatakan dengan pinjaman tersebut, pendanaan akuisisi perseroan sudah aman.
Sebelumnya, Dharma mengatakan perseroan mengincar tiga sampai empat kontrak baru untuk MNK senilai US$ 50-100 juta pada 2012. Hal tersebut, lanjut dia, dilakukan agar tidak bergantung pada klien perseroan sebelumnya, yaitu Freeport Indonesia dan Chevron Pacific Indonesia. Masalahnya, kedua klien tersebut terbelit masalah pelik. Alhasil, lanjut dia, ketergantungan pada kedua klien tersebut membuat pendapatan perseroan pun mengalami penurunan signifikan.
Dharma juga mengatakan akan membidik kontrak baru untuk anak usahanya yang bergerak di bidang penyewaan rig, PT Bormindo Nusantara, sebesar US$ 5 juta. Tapi ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia hanya mengatakan saat ini Bormindo tengah mengerjakan Sembilan rig.
Dengan seluruh kontrak baru tersebut, Dharma optimistis tahun depan perolehan laba bersih kan meningkat signifikan. Namun, ia enggan untuk untuk menyebutkan pertumbuhan target tersebut. Ia hanya mengatakan target EBITDA akan naik lebih dari 75%. Dengan catatan, lanjut dia, klien perseroan tidak mengalami gangguan dalam produksi. Ditambah lagi dengan adanyaa klien baru mereka.
“Hal tersebut karena pada tahun ini ada salah satu klien utama kami mengelami banyak gangguan operasional. Alhasil target pendapatan dan laba kami tidak mencapai target,” tandas Dharma.(iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar