Senin, 09 Januari 2012

Harga SUN Berpotensi Melemah

Harga SUN Berpotensi Melemah 

JAKARTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) berpotensi melemah pada pekan ini. Hal tersebut menyusul investor masih wait and see terhadap perkembangan global, terutama di Eropa. Alhasil, imbal hasil (yield) berpotensi akan naik sebesar 5-20 basis poin (bps). 

Selain mewasapadai perkembangan global, investor juga tengah menantikan pengumuman BI rate yang akan dilakukan pada Kamis (12/1). Namun, pelemahan tersebut akan sangat terbatas. Sebab, pada Selasa (10/1) pemerintah akan menggelar lelang yang akan membuat transaksi di pasar sekunder sepi. Lelang tersebut merupaklan yang pertama di lakukan pada 2012 dan setelah Indonesia mendapatkan peringkat Investment Grade dari Fitch Rating. Oleh karena itu, investor lebih memilih untuk masuk pasar primer melalui lelang tersebut. 

Demikian rangkuman ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT NC Securities I Made Adi Saputra kepada Investor Daily, akhir pekan lalu. 

Made menjelaskan berdasarkan data inflasi akhir 2011 mengindikasikan bahwa inflasi terkendali dan di bawah target bank indonesia. Dengan demikian, lanjut dia, masih ada ruang bagi BI untuk kembali menurunkan tingkat suku bunga. Namun, ia mengatakan bila BI rate kembali diturunkan akan berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah. DItambah lagi potensi investor asing yang akan keluar dari pasar surat utang. Sebab, yield SUN akan semakin tipis. 

“Berdasarrkan hal tersebut, kemungkinan BI Rate akan tetap dipertahankan di level 6%,” ungkap Made. 

Sedangkan dari luar negeri, lanjut Made, perkembangan krisis surat utang eropa masih akan di cermati. Meskipun sentimen positif dari Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan perbaikan pada beberapa indikator ekonominya. Made menambahkan yield akan bergerak terbatas. Dengan potensi kenaikan yield obligasi bertenor 5 tahun akan berada pada kisaran 5,3 - 5,35%. Obligasi bertenor 10 tahun akan berada pada kisaran 6,15 - 6,25%. Untuk obligasi bertenor 20 tahun akan berada pada kisaran 7,10 - 7,20%. 

“Melihat kondisi tersebut, investor dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan surat utang dengan imbal hasil yang cukup tinggi. Terutama untuk obligasi bertenor panjang yg imbal hasilnya masih di atas 7%,” jelas Made. 

Waspada Italia

Sementara itu, Juniman menjelaskan investor harus mewaspadai kondisi Italia yang akan mengalami jatuh tempo pada bulan ini. Hal tersebut mengingat jumlah yang harus dibayarkan Italia sangat besar. Menurut dia, langkah yang ditempuh Italia dalam menyelesaikan masalahnya tersebut akan menjadi hal ini akan menjadi ujian besar bagi Eropa dalam melalui krisis. “Jika penyelesaiannya berlarut, tentu saja akan memepengaruhi obligasi di seluruh dunia,” jelas dia. 

Juniman menambahkan kondisi politik di Iran akan menjadi kekhawatiran baru investor untuk masuk ke pasar emerging market. Sebab, lanjut dia, krisis yang terjadi di Negara tersebut akan sangat mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia di tengah kondisi ekonomi AS dan Eropa yang belum bangkit. “Harga minyak akan sangat sensitive mengingat sudah berada di level diatas US$ 100 per barrel,” papar dia. 

Lebih lanjut Juniman mengatakan pembatasan bbm dan peningkatan tariff listrik oleh pemerintah akan mengancam kenaikan inflasi pada tahun ini. Dengan rencana tersebut, ia memperkirakan inflasi tahun ini akan berada di kisaran 5,5-6%. Menurutnya, dengan kondisi tersebut yile SUN yang ada saat ini sudah dianggap tidak menarik lagi. Untuk iti, investor pun akan menungu yield berada dikisaran yang diharapkan. “Hal tersebut membuat yield naik 5-20 bps pada semua tenor,” jelas dia. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar