JAKARTA – PT JA Wattie Tbk (JAWA) memperkirakan pendapatan mencapai Rp 640 miliar pada 2011. Pendapatan tersebut meningkat 54,8% dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 413,4 miliar. Sedangkan laba diperkirakan akan mengalami peningkatan sebesar 137,2% menjadi Rp 190 miliar dari Rp 80,1 miliar pada 2010.
“Karet menjadi penyumbang terbesar dibandingkan kelapa sawit untuk pendapatan perseroan. Namun, saya masih belum bisa menyebutkan porsi antara kelapa sawit dengan karet tersebut. Sebab, saat ini kami masih dalma proses audit,” ungkap Direktur Keuangan JA Wattie Bambang S Ibrahim kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Bambang menambahkan perseroan belum memasang target untuk kinerja pada 2012. Sebab, lanjut dia, patokan harga karet pada tahun ini masih belum ditentukan. Hal tersebut seiring dengan kondisi Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang belum pasti. “Kemungkinan, tahun ini harga karet akan mengalami sedikit pelemahan. Namun, kami masih belum tahu berapa angka tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut Bambang mengatakan perseroan menyiapkan belanda modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 490 miliar pada 2012. Anggaran tersebut dilalokasikan untuk untuk perawatan dan penanaman karet maupun kelapa sawit. Sisanya dialokasikan untuk pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit. Ia mengatakan dana tersebut berasal dari kas internal dan pinjaman bank. Namun, ia enggan untuk menjelaskan porsi dari masing-masing sumber dana tersebut.
Bambang menambahkan perseroan akan mengalokasikan capex untuk perawatan dan penanaman karet sebesar Rp 250 miliar. Sedangkan sisanya untuk pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit berkapasitas 45 ton per jam di Kalimantan Selatan (Kalsel). “Pabrik tersebut diperkirakan akan selesai pada akhir 2013,” tambah Bambang.
Sebelumnya, Bambang pernah mengatakan perseroan membidik akuisisi lahan sebanyak 8 ribu hektar (ha) pada 2012. Rencananya, akuisisi lahan tersebut diaokasikan untuk lahan karet sebanyak 4.500 ha dan kelapa sawit sebesar 3.500 ha. Hal tersebut seiring dengan target perseroan untuk menambah lahan mereka menjadi 200 ribu ha pada lima tahun mendatang. Sedangkan akhir tahun mendatang, perseroan diperkirakan lahan yang dimiliki mencapai 68 ribu ha.
Bambang menjelaskan akuisisi lahan akan dilakukan di wilayah Kalimantan. Namun, lanjut dia, perseroan tidak menutup kemungkinan untuk mengakuisisi lahan yang ada di Sulawesi. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi perseroan akan terbatasnya lahan perkebunan di Kalimantan. Ekspansi lahan tersebut dilakukan seiring dengan makin meningkatkan permintaan karet dan CPO.
Namun, Bambang enggan untuk menyebutkan dana yang disiapkan untuk akuisisi tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan masih menghitung kebutuhan dana tersebut. “Semuanya tergantung pada lokasi akuisisi lahan. Namun, akuisisi lahan diharapkan dilakukan dengan harga pada kisaran sama pada tahun ini, yaitu Rp 4-8 juta,” ungkap Bambang kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar