JAKARTA – PT Surya Esa Perkasa Tbk akan membangun pabrik amoniak dengan nilai investasi mencapai US$ 700 juta. Rencananya, pembangunan tersebut akan berlokasi di Luwuk, Sulawesi Tengah dan dilakukan melalui anak usaha perseroan, yaitu PT Panca Amara Utama.
Excutive Director Surya Esa Perkasa Vinod Laroya menjelaskan dana pembangunan tersebut akan berasal dari ekuitas dan pinjaman bank. Biasanya, lanjut dia, untuk proyek tersebut porsi ekuiti akan sebesar 25-30%. Sedangkan selebihnya akan berasal dari pinjaman bank. Ia menjelaskan perseroan sudah memiliki komitmen dengan International Financial Corporation (IFC) yang merupakan anggota dari Grup Bank Dunia. Namun, ia enggan untuk menjelaskan hal tersebut.
“Kami masih mencari pinjaman lainnya, baik bank domestic mapun luar negeri. Kami mencari pinjaman jangka panjang untuk proyek tersebut. Sebab, proyek tersebut membutuhkan waktu yang lama, mulai dari desain hingga engineering,” ungkap Vinod usai paparan public di Jakarta, Senin (9/1).
Sedangkan porsi ekuitas, Vinod menjelaskan calon emiten yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1 Februari 2012 tersebut tidak akan sendirian. Sebab, perseroan akan menggandeng partner dalam proyek tersebut. Namun, ia enggan untuk menyebutkan partner tersebut. Ia hanya menjelaskan parner tersebut nantinya akan menjadi minoritas dalam proyek tersebut. “Kami akan tetap menjadi mayoritas dalam proyek tersebut,” papar dia.
Rencananya, lanjut Vinod, pembangunan pabrik tersebut akan dimulai pada akhir tahun ini dan diperkirakan membutuhkan waktu 33 bulan. Nantinya, tambahnya, pabrik tersebut akan memanfaatkangas bumi dari wilayah kerja blok Senoro-Toili (Dongu-Sonoro) di Sulawesi Tengah. Ia menjelaskan pembangunan pabrik tersebut merupakan strategi perusahaan untuk maju ke depan. Terlebih, lanjut dia, peluang di industri amoniak sangat besar di Indonesia seiring dengan meningkatkan industri kimia tersebut.
“Amoniak merupakan bahan baku pupuk yang menjadi penunjang industri pangan nasional. Mengingat setiap tahun kebutuhan pupuk domestic mencapia 10 juta ton pertahun. Ditambah lagi amoniak juga dipergunakan sebagai bahan baku Amonium Nitrat yang tumbuh sejalan dengan perkembangan industri pertambangan Indonesia,” ujar Vinod.
Tawarkan Rp 450-650 Per Saham
Pada kesempatan yang sama, Managing Director Equator Securities, selaku penjamin emisi (underwriter), David Agus menyebutkan perseroan menawarkan harga saham perdana (initial public offering/IPO) saham di kisaran Rp 450-650 per saham. Sedangkan jumlah saham yang dilepas sebanyak 250 juta saham atau 25% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Dengan demikian, perseroan membidik dana segar dari pasar sebesar Rp 112,5 -162,5 miliar.
Menurut David, harga tersebut dinilai cukup kompetitif mengingat lini bisnis perseroan yang memiliki prospek positif. Ditambah,lanjut dia, belum ada emiten sejenis yang bergerak di sector yang digeluti perseroan. Ia menjelaskan penentuan harga tersebut menggunakan mekanisme discounted cash flow (DCF) yakni mendiskon arus kas masa depan dengan projeksi kinerja pada masa lalu guna mendapatkan nilai wajar perusahaan pada masa depan dilihat dari masa sekarang.
Direktur Keuangan yang juga menjabat Sekretaris Perusahaan Surya Esa Perkasa Isenta Hioe mengatakan Perseroan akan menggunakan 25% dipakai untuk membayar sebagian utang kepada PT Bank UOB Indonesia. Sedangkan 75% dana hasil IPO, lanjut dia, digunakan untuk ekspansi bisnis yakni pengembangan kilang gas perseroan. Dengan ekspansi tersebut, tambah dia, produksi pemurnian has bumi menjadi produk LPG akan meningkat sebesar 50 MT LPG per hari.
“Jumlah tersebut meningkat sekiatr 44% dari kapasitas produksi saat ini, yaitu 113 MT LPG per hari. Untuk pembangunan ini diperkirakan akan selesai pada 2014. Sedangkan selama pembangunan, 2012-2013, diperkirakan membutuhkan dana sebesar US$ 15 juta,” jelas Isenta.
Sedangkan untuk estimasi kinerja, lanjut Isenta, perseroan mengestimasi akan mendapatkan pendapatan sebesar US$ 41 juta pada 2011. Sebab, selama 2011 harga jual gas LPG sangat tinmggi hingga mencapai US$ 842 per metric ton. Namun, lanjut dia, untuk kinerja di tahun ini akan sangat tergantung pada harga LPG. Ia memprediksikan harga di tahun ini hanya akan mencapai US$ 624 per meterik ton. “Kemungkinan pendapatan akan di bawah 2011,” ujar dia.
Analis Waterfront Securities Oktavianus Marbun mengatakan saham Sura Esa Perkasa cukup berprospektif di masa depan. Untuk itu, lanjut dia, saham etrsebut lebih cocok dijadikan sebagi investasi jangka panjang oleh investor. Hal ini disebabkan investasi yang dibutuhkan untuk sector ini sangat besar pada awal investasi. “Hal tersebut karena industri pemurniaan gas tersebut membutuhkan teknoliogi tinggi,” jelas dia.
Hal senada diungkapkan Managing Reseach Indosurya Asset Management Reza Priyambada. Ia menyebutkan saham tersebut sangat berprospek di masa mendatang seiring dengan meningkatnya penggunaan LPG di Indonesia. Namun, lanjut dia, industri tersbeut sangat tergantung pada harga gas dan kontrak yang dimiliki oleh perseroan untuk suplai gas. “Yang perlu diperhatikan adalah kontrak penjualan mereka,” ujar dia.
Sementara itu, Analis Milenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga mengatakan seecara lini usaha emiten ini cukup prospektif. Sebab, lanjut dia, perseroan bergerak di bisnis LPG dan turunnannya. Apalagi saat ini,pemerintah terus mengkampayekan konversi bahan bakar ke gas sehingga mendorong permintaan gas ke depan akan semakin meningkat, termasuk LPG dan turunnya. “Harga saham perdananya juga cukup murah,” tandas dia. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar