JAKARTA - PT Siwani Makmur Tbk (SIMA) bidik penjualan sebesar Rp 10-20 miliar pada 2012. Penjualan tersebut meningkat 150-400 persen dibandingkan estimasi 2011 mencapai Rp 4 miliar.
Direktur Utama Siwani Makmur Edward Seky Soeryadjaya mengatakan peningkatan penjualan tersebut terjadi seiring dengan kembalinya kepercayaan pelanggan perseroan untuk memesan produk mereka. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya kualitas produk perseroan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan pelanggan mereka. Ia hanya menjelaskan pelanggan mereka adalah industri makanan, pupuk, ban.
"Untuk itu, kami akan meningkatkan lagi promosi di tahun ini. Ditambah lagi dengan efisiensi produksi dan memaksimalkan kapasitas produksi agar dapat memenuhi permintaan pelanggan" ungkap Edward di Jakarta, Rabu (18/1).
Tidak hanya itu, lanjut Edward, perseroan juga akan menyelesaikan perselisihan sengketa kepemilikan saham dalam waktu dekat. Hal tersebut dilakukan karena selama ini perselisihan tersebut menghambat ekspansi perseroan. Mengingat perseroan kesulitan untuk mencari modal dan pendanaan. Alhasil, lanjut dia, perseroan hanya menggandalkan pendapatan dari operasional.
Sementara itu, General Manager Siwani Makmur. Burhananto Soenarno mengatakan perseroan tidak akan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) pada tahun ini. Hal tersebut karena mereka tidak akan meningkatkan kapasitas produksi saat ini. Menurut dia, mesin yang mereka miliki saat ini mampu memenuhi permintaan pelanggan dan kualitas mesin merupakan terbaik nomor dua di Indonesia.
"Terlebih saat ini utilisasi produksi kami masih sebesar 80 persen. Untuk itu, tagun ini kami akan lebih memaksimalkan kapasitas produksi kami," tandas Burhananto. (Indah Handayani)
Minggu, 29 Januari 2012
Pefindo Turunkan Rating Obligasi BLTA
JAKARTA – Setelah outlook peringkat perusahaan diturunkan menjadi ‘negatif’ pada Juli 2011, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat untuk obligasi mereka.
Dalam keterangan tertulis Pefindo, peringkat obligasi III/2007 dan IV/2009 turun menjadi ‘BBB-‘ dari ‘A-‘. Perurunan rating yang sama, juga terjadi pada rating Sukuk Ijarah I/2007 dan Sukuk Ijarah II/2009.
Menurut analis Pefindo Vonny Widjaja dan Andy Sidharta, perurunan peringkat tersebut terjadi karena jumlah utang perseroan yang akan jatuh tempo membengkak. Sementara, sbisnis pelayaran dan pengangukutan yang digeluti perseroan masih belum membaik. Hal tersebut dikhawatirkan akan membuat keterbatasan perseroan untuk membayar utang0utang ayang akan jatuh tempo tersebut.
Hal tersebut diperparah dengan lemahnya posisi likuiditas berlian Laju Tanker untuk menutupo utang jangka pendek. Terhitung tanggal 30 September 2011, perseroan mencatatakan kas dan setara kas sejajar dengan nilai total investasi jangka pendek sebesar US4 195 juta. Hal tersebut dikhawatirkan tidak akan menutupi total utang jangka pendek yang mencapai US4 421,3 juta (termasuk obligasi rupiah dan sukuk yang berjumlah Rp 1,095 triliun yang jatuh tempo pada Mei dan Juli 2012).
Tidak hanya itu cash flow protection ratios juga sangat lemah. Berdasakan EBITDA kepada utang yang menunjukan 0,1x dab EBITDA kepada bunga 1,3x paada 30 September 2011.
Pefindo peringkat Berlian Laju Tanker ditempatkan pada menjadi “Creditwatch with Negative implications’. Hal tersebut, merefleksikan kekhawatiran Pefindo atas likuditas perseroan atas kemampuan memenuhi obligasi yang akan jatuh tempo tersebut. Pefindo juga berencana akan menurunkan peringkat Berlian Laju Tanker jika tidak ada kejelasan rencana refinancing utang dalam waktu dekat.
BLTA adalah perusahaan pelayan yang focus di pengangkurtang produk cair (kimia, gas, minyakuntuk konsumsi) dengan rute Asia, termasuk Timur Tengah, Eropa, Amerika Utara dan Selatan. Perusahaan memiliki 40 kapal tangker kimia (total kapasitas 601.003 DWT/dead weight ton), 11 kapal tanker minyak (748.873 DWT), 15 kapal tanker gas (146,224 DWT), 1 tanker FPSO (60.874 DWT), dan 27 kapal sewa (691.914 DWT). (iin)
Dalam keterangan tertulis Pefindo, peringkat obligasi III/2007 dan IV/2009 turun menjadi ‘BBB-‘ dari ‘A-‘. Perurunan rating yang sama, juga terjadi pada rating Sukuk Ijarah I/2007 dan Sukuk Ijarah II/2009.
Menurut analis Pefindo Vonny Widjaja dan Andy Sidharta, perurunan peringkat tersebut terjadi karena jumlah utang perseroan yang akan jatuh tempo membengkak. Sementara, sbisnis pelayaran dan pengangukutan yang digeluti perseroan masih belum membaik. Hal tersebut dikhawatirkan akan membuat keterbatasan perseroan untuk membayar utang0utang ayang akan jatuh tempo tersebut.
Hal tersebut diperparah dengan lemahnya posisi likuiditas berlian Laju Tanker untuk menutupo utang jangka pendek. Terhitung tanggal 30 September 2011, perseroan mencatatakan kas dan setara kas sejajar dengan nilai total investasi jangka pendek sebesar US4 195 juta. Hal tersebut dikhawatirkan tidak akan menutupi total utang jangka pendek yang mencapai US4 421,3 juta (termasuk obligasi rupiah dan sukuk yang berjumlah Rp 1,095 triliun yang jatuh tempo pada Mei dan Juli 2012).
Tidak hanya itu cash flow protection ratios juga sangat lemah. Berdasakan EBITDA kepada utang yang menunjukan 0,1x dab EBITDA kepada bunga 1,3x paada 30 September 2011.
Pefindo peringkat Berlian Laju Tanker ditempatkan pada menjadi “Creditwatch with Negative implications’. Hal tersebut, merefleksikan kekhawatiran Pefindo atas likuditas perseroan atas kemampuan memenuhi obligasi yang akan jatuh tempo tersebut. Pefindo juga berencana akan menurunkan peringkat Berlian Laju Tanker jika tidak ada kejelasan rencana refinancing utang dalam waktu dekat.
BLTA adalah perusahaan pelayan yang focus di pengangkurtang produk cair (kimia, gas, minyakuntuk konsumsi) dengan rute Asia, termasuk Timur Tengah, Eropa, Amerika Utara dan Selatan. Perusahaan memiliki 40 kapal tangker kimia (total kapasitas 601.003 DWT/dead weight ton), 11 kapal tanker minyak (748.873 DWT), 15 kapal tanker gas (146,224 DWT), 1 tanker FPSO (60.874 DWT), dan 27 kapal sewa (691.914 DWT). (iin)
Batan Teknologi Targetkan IPO 2016
JAKARTA – PT Batan Teknologi (persero), satu-satunya perusahaan BUMN bergerak di sector industri berbasis nuklir, menargetkan dapat menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada 2016.
Direktur Utama PT Batan Teknologi Yudiutomo Imardjoko mengatakan IPO menjadi salah satu opsi perseroan mendapatkan pendanaan untuk ekspansi pada 2017. Sebab, lanjut dia, pada tahun itu perseroan berencana untuk membeli reactor nuklir yang diperkirakan menelan biaya sebesar Rp 1,6 triliun. “Reaktor tersebut digunakan memproduksi radioisotop dan radiofarmaka untuk keperluan medis dan industri,” ungkap Yudiutomo di Jakarta, belum lama ini.
Yudiutomo menjelaskan pada saat ini radioisotope dan radiofarmaka sangat dibutuhkan di dunia. Sebab, keduanya sangat dibutuhkan untuk menditeksi dini dan terapi kanker. Sementara, lanjut dia, produsen kedua produk tersebut masih sangat terbatas. “Untuk kawasan Asia dan Pasific, produsennya hanya kami, Korea Selatan, dan Australia. Ini merupakan potensi yang sangat besar untuk menggarap bisinis ini. Margin dari industri ini minimal mencapai 40 persen," papar dia.
Menurut Yudiutomo, saat ini perseroan telah kebanjiran pemesanan kedua produk tersebut dari beberapa Negara di Asia. Diantaranya adalah pemesanan dari Grup Fuji Film yang pada tahun ini memesan kedua produk tersebut. Di Indonesia sendiri, lanjut dia, perseroan telah mendapatkan pesanan dari PT Indofarma Tbk (INAF). “Kami telah menandatangani perjanjian kerjasama tersebut. Dalam pernajian tersebut, Indofarma dalam setahun minimal memesan Rp 35 miliar,” jelas dia.
Namun, lanjut dia, saat ini pihaknya masih sangat terkendala dengan produksi. Mengingat saat ini perseroan hanya memiliki satu reactor nuklir untuk memproduksi kedua produk tersebut. Alhasil, perseroan hanya mampu memproduksi radioisotope jenis Molybolumn 99 sebanyak 2 ribu curi (Ci) per minggu.
Sebagai langkah untuk memuluskan rencana IPO, Yudiutomo mengatakan perseroan akan menyampaikan rencana tersebut kepada pemegang saham, yaitu Kementerian BUMN, pada pekan depan. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga akan meningkatkan kinerja pendapatan. “ Jika tahun ini pendapatan kami mencapai Rp 220 miliar. Kami targetkan pada 2016 kami mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 500 miliar,” tandas dia. (Indah Handayani)
Direktur Utama PT Batan Teknologi Yudiutomo Imardjoko mengatakan IPO menjadi salah satu opsi perseroan mendapatkan pendanaan untuk ekspansi pada 2017. Sebab, lanjut dia, pada tahun itu perseroan berencana untuk membeli reactor nuklir yang diperkirakan menelan biaya sebesar Rp 1,6 triliun. “Reaktor tersebut digunakan memproduksi radioisotop dan radiofarmaka untuk keperluan medis dan industri,” ungkap Yudiutomo di Jakarta, belum lama ini.
Yudiutomo menjelaskan pada saat ini radioisotope dan radiofarmaka sangat dibutuhkan di dunia. Sebab, keduanya sangat dibutuhkan untuk menditeksi dini dan terapi kanker. Sementara, lanjut dia, produsen kedua produk tersebut masih sangat terbatas. “Untuk kawasan Asia dan Pasific, produsennya hanya kami, Korea Selatan, dan Australia. Ini merupakan potensi yang sangat besar untuk menggarap bisinis ini. Margin dari industri ini minimal mencapai 40 persen," papar dia.
Menurut Yudiutomo, saat ini perseroan telah kebanjiran pemesanan kedua produk tersebut dari beberapa Negara di Asia. Diantaranya adalah pemesanan dari Grup Fuji Film yang pada tahun ini memesan kedua produk tersebut. Di Indonesia sendiri, lanjut dia, perseroan telah mendapatkan pesanan dari PT Indofarma Tbk (INAF). “Kami telah menandatangani perjanjian kerjasama tersebut. Dalam pernajian tersebut, Indofarma dalam setahun minimal memesan Rp 35 miliar,” jelas dia.
Namun, lanjut dia, saat ini pihaknya masih sangat terkendala dengan produksi. Mengingat saat ini perseroan hanya memiliki satu reactor nuklir untuk memproduksi kedua produk tersebut. Alhasil, perseroan hanya mampu memproduksi radioisotope jenis Molybolumn 99 sebanyak 2 ribu curi (Ci) per minggu.
Sebagai langkah untuk memuluskan rencana IPO, Yudiutomo mengatakan perseroan akan menyampaikan rencana tersebut kepada pemegang saham, yaitu Kementerian BUMN, pada pekan depan. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga akan meningkatkan kinerja pendapatan. “ Jika tahun ini pendapatan kami mencapai Rp 220 miliar. Kami targetkan pada 2016 kami mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 500 miliar,” tandas dia. (Indah Handayani)
Bakrie Sumatera Siapkan Capex US$ 40 Juta
JAKARTA – PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 40 juta pada 2012. Capex tersebut dialokasikan untuk operasional perkebunan dan oleo kimia.
Diretur Utama Bakrie Sumatera Plantations Ambono Janurianto mengatatakan capex tersebut akan bersumber dari dana operasional. Ia menjelaskan sebanyak US$ 20 juta dialokasikan untuk melanjutkan pengembangan bisnis oleo kimia. “Jumlah tersebut merupakan bagian dari alokasi investasi kami untuk bisnis oleokimia selama tiga tahun sejak 2011 sebesar US$ 60 juta,” ungkap Ambono di Jakarta, belum lama ini.
Sedangkan sisanya, lanjut Ambono, dialokasikan untuk bisnis perkebunan perseroan. Diantaranya adalah penanaman kembali tanaman karet dan penanaman baru kelapa sawit. Tidak hanya itu, Ambono menjelaskan perseroan berencana membangun tiga pabrik pengolahan kelapa sawit. Pabrik tersebut terdiri dari dua pabrik berkapasitas 200 ton per hari dan satu pabrik kapasitas 100 ton per hari.
“Untuk pembangunan tersebut membutuhkan dana sebesar US$ 2-3 juta per pabrik. Dengan ketiga pabrik tersebut perseroan akan mendapatkan tambahan produksi sebanyak 500 ton per hari,” ucap Ambono
Ambono memperkirakan pendapatan 2011 akan meningkat sebesar 30% dibandingkan pencapaian 2010 sebesar Rp 3 triliun. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan keberhasilan perseroan menjaga kinerja yang telah dicapai hingga kuartal III 2011 yang selalu meningkat 30%. “Kami optimistis mampu pertahankan pertumbuhan kinerja uyang telah dicapai selama Sembilan bulan,” papar dia.
Sebelumnya, Direktur Keuangan Bakrie Sumatera Harry M Nadir memprediksi bisnis oleokimia akan memberikan kontribusi 50% terhadap pendapatan konsolidasi perseroan pada 2012. Sedangkan pada 2011, lanjut dia, kontribusi bisnis tersebut hanya menyumbang sekitar 9% dari total pendapatan perseroan. Menurutnya, kenaikan tersebut seiring dengan peningkatan tersebut terjadi seiring dengan beroperasinya pabrik penyulingan (refinery) dan pabrik yang memproduksi Stiarin dan glyserin pada awal 2012
“Dengan beroperasinya pabrik baru tersebut, volume produksi oleokimia akan menjadi 300 ribu ton per tahun. Dibandingkan pada 2011 yang sebesar 45 ribu ton per tahun,” kata Harry.
Bakrie Tuntaskan Utang
Pada kesempatan berbeda, Bakrie Group akan menyelesaikan pembayaran utang kepada Credit Suisse (CS) dengan menggunakan dua cara, yaitu pembayaran langsung yang berasal dari transaksi penjualan saham Bumi Plc senilai US$ 1 miliar yang diperkirakan akan dibayar pada pekan ini. Ditambah lagi, refinancing utang tersebut dengan menggunakan fasilitas pinjaman yang baru didaptkan oleh Bakrie Group dari Credit Suisse AG, Singapore Branch senilai US$ 437 juta.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bakrie & Brothers R A Sri Damayanti mengatakan fasilitas pinjaman tersebut telah di tandatangani pada 12 Januari 2012 oleh PT Bakrie & Brothers Tbk dan Long Haul Holdings Ltd, suatu perusahaan yang berkedudukan di Nevis, West Indies. Dari total pinjaman tersebut, lanjut dia, fasilitas pinjaman yang ditujukan untuk perseroan adalah sebesar US$ 193,9 juta. “Berdasarkan Credit Agreement, kewajiban perseroan terpisah dari kewajiban LHH,” jelas dia.
Sebelumnya, Direktur Keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Eddy Soeparno menjelaskan perseroan akan segera membayarkan utang kepada Credit Suisse (CS) pada pekan ini. Hal tersebut, lanjut dia, setelah perseroan mendapatkan dana dari penjualan saham Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk yang diperkirakan akan terjadi pada pekan ini.
Menurut Eddy, pihak Borneo telah melengkapi dokumentasi untuk mencairkan pinjaman tersebut. “Mudah-mudahan pekan ini selesai transaksi dengan Borneo. Setelah diterima, dana tersebut akan langsung kami bayarkan kepada CS. Utang kepada CS merupakan prioritas kami. Mengingat utang tersebut merupakan jangka pendek,” jelas Eddy.
Menurut Eddy, dengan pembayaran utang tersebut akan menurunkan posisi utang perseroan. Ia menjelaskan pada akhir tahun lalu perseroan mencatatkan utang sebanyak Rp 8-9 triliun, dengan penyelesaian transaksi Borneo tersebut akan langsung turun menjadi Rp 5 triliun. “Setelah penyelesaian utang ini selesai, kami akan focus pada pencarian dana untuk pengembangan proyek kami,” papar dia. (iin)
Diretur Utama Bakrie Sumatera Plantations Ambono Janurianto mengatatakan capex tersebut akan bersumber dari dana operasional. Ia menjelaskan sebanyak US$ 20 juta dialokasikan untuk melanjutkan pengembangan bisnis oleo kimia. “Jumlah tersebut merupakan bagian dari alokasi investasi kami untuk bisnis oleokimia selama tiga tahun sejak 2011 sebesar US$ 60 juta,” ungkap Ambono di Jakarta, belum lama ini.
Sedangkan sisanya, lanjut Ambono, dialokasikan untuk bisnis perkebunan perseroan. Diantaranya adalah penanaman kembali tanaman karet dan penanaman baru kelapa sawit. Tidak hanya itu, Ambono menjelaskan perseroan berencana membangun tiga pabrik pengolahan kelapa sawit. Pabrik tersebut terdiri dari dua pabrik berkapasitas 200 ton per hari dan satu pabrik kapasitas 100 ton per hari.
“Untuk pembangunan tersebut membutuhkan dana sebesar US$ 2-3 juta per pabrik. Dengan ketiga pabrik tersebut perseroan akan mendapatkan tambahan produksi sebanyak 500 ton per hari,” ucap Ambono
Ambono memperkirakan pendapatan 2011 akan meningkat sebesar 30% dibandingkan pencapaian 2010 sebesar Rp 3 triliun. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan keberhasilan perseroan menjaga kinerja yang telah dicapai hingga kuartal III 2011 yang selalu meningkat 30%. “Kami optimistis mampu pertahankan pertumbuhan kinerja uyang telah dicapai selama Sembilan bulan,” papar dia.
Sebelumnya, Direktur Keuangan Bakrie Sumatera Harry M Nadir memprediksi bisnis oleokimia akan memberikan kontribusi 50% terhadap pendapatan konsolidasi perseroan pada 2012. Sedangkan pada 2011, lanjut dia, kontribusi bisnis tersebut hanya menyumbang sekitar 9% dari total pendapatan perseroan. Menurutnya, kenaikan tersebut seiring dengan peningkatan tersebut terjadi seiring dengan beroperasinya pabrik penyulingan (refinery) dan pabrik yang memproduksi Stiarin dan glyserin pada awal 2012
“Dengan beroperasinya pabrik baru tersebut, volume produksi oleokimia akan menjadi 300 ribu ton per tahun. Dibandingkan pada 2011 yang sebesar 45 ribu ton per tahun,” kata Harry.
Bakrie Tuntaskan Utang
Pada kesempatan berbeda, Bakrie Group akan menyelesaikan pembayaran utang kepada Credit Suisse (CS) dengan menggunakan dua cara, yaitu pembayaran langsung yang berasal dari transaksi penjualan saham Bumi Plc senilai US$ 1 miliar yang diperkirakan akan dibayar pada pekan ini. Ditambah lagi, refinancing utang tersebut dengan menggunakan fasilitas pinjaman yang baru didaptkan oleh Bakrie Group dari Credit Suisse AG, Singapore Branch senilai US$ 437 juta.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bakrie & Brothers R A Sri Damayanti mengatakan fasilitas pinjaman tersebut telah di tandatangani pada 12 Januari 2012 oleh PT Bakrie & Brothers Tbk dan Long Haul Holdings Ltd, suatu perusahaan yang berkedudukan di Nevis, West Indies. Dari total pinjaman tersebut, lanjut dia, fasilitas pinjaman yang ditujukan untuk perseroan adalah sebesar US$ 193,9 juta. “Berdasarkan Credit Agreement, kewajiban perseroan terpisah dari kewajiban LHH,” jelas dia.
Sebelumnya, Direktur Keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Eddy Soeparno menjelaskan perseroan akan segera membayarkan utang kepada Credit Suisse (CS) pada pekan ini. Hal tersebut, lanjut dia, setelah perseroan mendapatkan dana dari penjualan saham Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk yang diperkirakan akan terjadi pada pekan ini.
Menurut Eddy, pihak Borneo telah melengkapi dokumentasi untuk mencairkan pinjaman tersebut. “Mudah-mudahan pekan ini selesai transaksi dengan Borneo. Setelah diterima, dana tersebut akan langsung kami bayarkan kepada CS. Utang kepada CS merupakan prioritas kami. Mengingat utang tersebut merupakan jangka pendek,” jelas Eddy.
Menurut Eddy, dengan pembayaran utang tersebut akan menurunkan posisi utang perseroan. Ia menjelaskan pada akhir tahun lalu perseroan mencatatkan utang sebanyak Rp 8-9 triliun, dengan penyelesaian transaksi Borneo tersebut akan langsung turun menjadi Rp 5 triliun. “Setelah penyelesaian utang ini selesai, kami akan focus pada pencarian dana untuk pengembangan proyek kami,” papar dia. (iin)
Indofarma Bidik Tambahan Pendapatan Rp 200 M
Gandeng Batan Teknologi
Indofarma Bidik Tambahan Pendapatan Rp 200 M
JAKARTA - PT Indofarma Tbk (INAF) membidik tambahan pendapatan dari penjualan obat deteksi dini dan terapi penyakit kanker, radiofarmaka atau MO99, sebesar rP 200 miliar pada 2012. Dengan demikian, pendapatan perseroan diperkirakan akan menembus Rp 1,7-1,8 triuliun pada tahun ini.
Sekretaris perusahaan Indofarma Ahdia Amini Obat tersebut merupakan hasil kerjasama antara perseroan dengan Batan Teknologi (Batan Tek). Ia menjelaskan pangsa pasar untuk obat tersebut sangatlah besar.Bahkan, lanjut dia, perseroan telah mendapatkan order dari salah satu rumah sakit di Jepang senilai Rp 50 miliar. Order tersebut, lanjut dia, akan direalisasikan pada Maret mendatang. Dengan demikian, ia optimistis order tersebut sudah dapat dicatatkan pada pendapatan kuartal I 2011.
"Kami pun optimistis dapat mencetakpendapatan Rp 50 miliar setiap kuartalnya dari penjualan obat tersebut. Mengingat adanya potensi order dari negara di kawasan Asean dan Timur Tengah. Dengan demikian, tahun ini kami akan mendapatkan tambahan Rp 200 miliar dari obat tersebut," ungkap Ahdia di Jakarta, Senin (16/1).
Ahdia menjelaskan dengan adanya produk tersebut akan mampu mendongkrat margin yang didapatkan perseroan di masa mendatang. Sebab, lanjut dia, penjualan radiofarmaka mampu mencetak margin hingga 40%. Untuk itu, lanjutnya, selain penjualamn di luar negeri perseroan akan memasarkan pasar domestik obat tersebut ke 10 rumah sakit di Indonesia. Menurutnya, dengan obat tersebut perseroan optimistis akan mencapai target laba bersih tahun ini sebesar Rp 75 miliar.
"Hal tersebut akan sangat tergantung pada kesiapan Batan Tek dalam memenuhi Pasokan dan persyaratan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ," papar Ahdia.
Direktur Utama PT Batan Teknologi Yudiutomo Imardjoko mengatakan kesanggupannya untuk memenuhi kerjasama tersebut. Sebab, lanjut dia, perusahaannya mampu memproduksi 60.000 curi (ci). Ia menjelaskan kerjasama dengan Indofarma tersebut telah tertuang dalam perjanjian Kerjasama yang ditandatangani pada 12 Januari 2012.
"Dalam perjanjian tersebut, Indofarma minimal akan memesan radiofarmaka senilai Rp 35 miliar dalam setahun," tambah Yudiutomo.
Batan Tek berdiri pada 1996. Perusahaan tersebut adalah satu-satunya perusahaan BUMN yang bergerak di bidang industri nuklir. (Iin)
Indofarma Bidik Tambahan Pendapatan Rp 200 M
JAKARTA - PT Indofarma Tbk (INAF) membidik tambahan pendapatan dari penjualan obat deteksi dini dan terapi penyakit kanker, radiofarmaka atau MO99, sebesar rP 200 miliar pada 2012. Dengan demikian, pendapatan perseroan diperkirakan akan menembus Rp 1,7-1,8 triuliun pada tahun ini.
Sekretaris perusahaan Indofarma Ahdia Amini Obat tersebut merupakan hasil kerjasama antara perseroan dengan Batan Teknologi (Batan Tek). Ia menjelaskan pangsa pasar untuk obat tersebut sangatlah besar.Bahkan, lanjut dia, perseroan telah mendapatkan order dari salah satu rumah sakit di Jepang senilai Rp 50 miliar. Order tersebut, lanjut dia, akan direalisasikan pada Maret mendatang. Dengan demikian, ia optimistis order tersebut sudah dapat dicatatkan pada pendapatan kuartal I 2011.
"Kami pun optimistis dapat mencetakpendapatan Rp 50 miliar setiap kuartalnya dari penjualan obat tersebut. Mengingat adanya potensi order dari negara di kawasan Asean dan Timur Tengah. Dengan demikian, tahun ini kami akan mendapatkan tambahan Rp 200 miliar dari obat tersebut," ungkap Ahdia di Jakarta, Senin (16/1).
Ahdia menjelaskan dengan adanya produk tersebut akan mampu mendongkrat margin yang didapatkan perseroan di masa mendatang. Sebab, lanjut dia, penjualan radiofarmaka mampu mencetak margin hingga 40%. Untuk itu, lanjutnya, selain penjualamn di luar negeri perseroan akan memasarkan pasar domestik obat tersebut ke 10 rumah sakit di Indonesia. Menurutnya, dengan obat tersebut perseroan optimistis akan mencapai target laba bersih tahun ini sebesar Rp 75 miliar.
"Hal tersebut akan sangat tergantung pada kesiapan Batan Tek dalam memenuhi Pasokan dan persyaratan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) ," papar Ahdia.
Direktur Utama PT Batan Teknologi Yudiutomo Imardjoko mengatakan kesanggupannya untuk memenuhi kerjasama tersebut. Sebab, lanjut dia, perusahaannya mampu memproduksi 60.000 curi (ci). Ia menjelaskan kerjasama dengan Indofarma tersebut telah tertuang dalam perjanjian Kerjasama yang ditandatangani pada 12 Januari 2012.
"Dalam perjanjian tersebut, Indofarma minimal akan memesan radiofarmaka senilai Rp 35 miliar dalam setahun," tambah Yudiutomo.
Batan Tek berdiri pada 1996. Perusahaan tersebut adalah satu-satunya perusahaan BUMN yang bergerak di bidang industri nuklir. (Iin)
Harga IPO Surya Esa Rp 610
JAKARTA - PT Surya Esa Perkasa Tbk menetapkan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) sebesar Rp 610 per saham. Dengan jumlah saham yang dilepas sebanyak 250 juta saham atau 25% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Dengan demikian, perseroan akan mendapatkan dana segar dari pasar sebesar Rp 152,5 miliar.
Managing Director Equator Securities, selaku penjamin emisi, David Agus menjelaskan, penentuan harga tersebut setelah menggelar penawaran awal (bookbuilding) pada 9-13 Januari 2012. "Bookbuilding sudah selesai, IPO akan jadi 250 juta saham di harga Rp 610. Tentang Oversubscription nanti akan kita umumkan," ungkap David kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (16/1).
Rencananya, perseroan akan menggelar penawaran umum pada 25-27 Januari 2012. Sedangkan pencatatan saham di bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan dapat dilaksanakan pada 1 Februari 2011.
Sebelumnya, Direktur Keuangan yang juga menjabat Sekretaris Perusahaan Surya Esa Perkasa Isenta Hioe mengatakan Perseroan akan menggunakan 25% dipakai untuk membayar sebagian utang kepada PT Bank UOB Indonesia. Sedangkan 75% dana hasil IPO, lanjut dia, digunakan untuk ekspansi bisnis yakni pengembangan kilang gas perseroan. Dengan ekspansi tersebut, tambah dia, produksi pemurnian has bumi menjadi produk LPG akan meningkat sebesar 50 MT LPG per hari.
“Jumlah tersebut meningkat sekiatr 44% dari kapasitas produksi saat ini, yaitu 113 MT LPG per hari. Untuk pembangunan ini diperkirakan akan selesai pada 2014. Sedangkan selama pembangunan, 2012-2013, diperkirakan membutuhkan dana sebesar US$ 15 juta,” jelas Isenta.
Sedangkan untuk estimasi kinerja, lanjut Isenta, perseroan mengestimasi akan mendapatkan pendapatan sebesar US$ 41 juta pada 2011. Sebab, selama 2011 harga jual gas LPG sangat tinmggi hingga mencapai US$ 842 per metric ton. Namun, lanjut dia, untuk kinerja di tahun ini akan sangat tergantung pada harga LPG. Ia memprediksikan harga di tahun ini hanya akan mencapai US$ 624 per meterik ton. “Kemungkinan pendapatan akan di bawah 2011,” ujar dia.
Analis Milenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga mengatakan seecara lini usaha emiten ini cukup prospektif. Sebab, lanjut dia, perseroan bergerak di bisnis LPG dan turunnannya. Apalagi saat ini,pemerintah terus mengkampayekan konversi bahan bakar ke gas sehingga mendorong permintaan gas ke depan akan semakin meningkat, termasuk LPG dan turunnya. “Harga saham perdananya juga cukup murah,” tandas dia. (iin)
Managing Director Equator Securities, selaku penjamin emisi, David Agus menjelaskan, penentuan harga tersebut setelah menggelar penawaran awal (bookbuilding) pada 9-13 Januari 2012. "Bookbuilding sudah selesai, IPO akan jadi 250 juta saham di harga Rp 610. Tentang Oversubscription nanti akan kita umumkan," ungkap David kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (16/1).
Rencananya, perseroan akan menggelar penawaran umum pada 25-27 Januari 2012. Sedangkan pencatatan saham di bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan dapat dilaksanakan pada 1 Februari 2011.
Sebelumnya, Direktur Keuangan yang juga menjabat Sekretaris Perusahaan Surya Esa Perkasa Isenta Hioe mengatakan Perseroan akan menggunakan 25% dipakai untuk membayar sebagian utang kepada PT Bank UOB Indonesia. Sedangkan 75% dana hasil IPO, lanjut dia, digunakan untuk ekspansi bisnis yakni pengembangan kilang gas perseroan. Dengan ekspansi tersebut, tambah dia, produksi pemurnian has bumi menjadi produk LPG akan meningkat sebesar 50 MT LPG per hari.
“Jumlah tersebut meningkat sekiatr 44% dari kapasitas produksi saat ini, yaitu 113 MT LPG per hari. Untuk pembangunan ini diperkirakan akan selesai pada 2014. Sedangkan selama pembangunan, 2012-2013, diperkirakan membutuhkan dana sebesar US$ 15 juta,” jelas Isenta.
Sedangkan untuk estimasi kinerja, lanjut Isenta, perseroan mengestimasi akan mendapatkan pendapatan sebesar US$ 41 juta pada 2011. Sebab, selama 2011 harga jual gas LPG sangat tinmggi hingga mencapai US$ 842 per metric ton. Namun, lanjut dia, untuk kinerja di tahun ini akan sangat tergantung pada harga LPG. Ia memprediksikan harga di tahun ini hanya akan mencapai US$ 624 per meterik ton. “Kemungkinan pendapatan akan di bawah 2011,” ujar dia.
Analis Milenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga mengatakan seecara lini usaha emiten ini cukup prospektif. Sebab, lanjut dia, perseroan bergerak di bisnis LPG dan turunnannya. Apalagi saat ini,pemerintah terus mengkampayekan konversi bahan bakar ke gas sehingga mendorong permintaan gas ke depan akan semakin meningkat, termasuk LPG dan turunnya. “Harga saham perdananya juga cukup murah,” tandas dia. (iin)
Indofarma Bidik Order Jepang Rp 100 M
JAKARTA – PT Indofarma Tbk (INAF) membidik pemesanan (order) penjualan obat deteksi dini dan terapi penyakit kanker, radiofarmaka, dari Jepang. Nilai dari order tersebut diperkirakan akan mencapai lebih dari Rp 50-100 miliar. Obat tersebut merupakan hasil kerjasama antara perseroan dengan Batan Technology (Batan Tech).
“Potensi penjualan obat tersebut sangat besar, bahkan kebutuhan domestik saja diperkirakan akan mencapai Rp 50 miliar. Selain itu, kami juga akan mendapatkan order pembelian dari Jepang pada tahun depan, potensi nilai order tersebut diperkirakan akan lebih dari Rp 50 miliar,” ungkap Sekretaris Perusahaan Indofarma Ahdia Amini di Jakarta, Selasa (27/12).
Namun, Ahdia masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai kontrak tersebut. Ia hanya mengatakan pembeli tersebut merupakan sebuah rumah sakit dari Jepang dan akan melakukan MoU pada awal tahun mendatang. Ia menjelaskan dengan adanya produk tersebut akan mampu mendongkrat margin yang didapatkan perseroan di masa mendatang. Sebab, lanjut dia, penjualan radiofarmaka mampu mencetak margin hingga 40%.
“Langkah ini menjadi salah satu quantum leap perseroan dalam rangka net profit oriented. Alhasil, mampu menciptakan laba bersih yang besar di tahun mendatang dan juga memberikan dividen kepada pemegang saham,” jelas Ahdia.
Ahdia menambahkan skema bisnis yang dijalankan dengan Batan Tech adalah win-win solution. Sebab, lanjut dia, dalam penjualan produk tersebut perseroan bertindak sebagai distributor atau marketing. Sedangkan Batan Tech sebagai pihak manufacturing. Dalam menjalankan bisnis tersebut, Ahdia mengatakan perseroan telah mendapat komitmen fasilitas pinjaman dari Bank Mandiri sebesar Rp 100 miliar.
Lebih lanjut Ahdia mengatakan pinjamna tersebut akan digunakan untuk membiayai pembuatan radiofarmaka oleh Batan Tech. Rencananya, lanjut dia, pada tahun depan pinjaman tersebut akan dicairkan separuhnya. “Hal tersebut untuk memenuhi permintaan di 2012. Selama ini, pendaanaan yang menjadi masalah penting bagi Batan Tech dalam memproduksi radiofarmaka tersebut,” jelas dia.
Selain Radiofarmaka, Ahdia menjelaskan perseroan juga akan mengembangkan obat yang memiliki margin besar dan memiliki pesaing yang minim. Untuk itu, lanjut dia, perseroan juga akan mengeluncurkan 16 jenis obat baru pada 2012. “Empat dari 16 obat baru tersebut merupakan obat tanpa resep (otc),” tandas dia. (iin)
“Potensi penjualan obat tersebut sangat besar, bahkan kebutuhan domestik saja diperkirakan akan mencapai Rp 50 miliar. Selain itu, kami juga akan mendapatkan order pembelian dari Jepang pada tahun depan, potensi nilai order tersebut diperkirakan akan lebih dari Rp 50 miliar,” ungkap Sekretaris Perusahaan Indofarma Ahdia Amini di Jakarta, Selasa (27/12).
Namun, Ahdia masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai kontrak tersebut. Ia hanya mengatakan pembeli tersebut merupakan sebuah rumah sakit dari Jepang dan akan melakukan MoU pada awal tahun mendatang. Ia menjelaskan dengan adanya produk tersebut akan mampu mendongkrat margin yang didapatkan perseroan di masa mendatang. Sebab, lanjut dia, penjualan radiofarmaka mampu mencetak margin hingga 40%.
“Langkah ini menjadi salah satu quantum leap perseroan dalam rangka net profit oriented. Alhasil, mampu menciptakan laba bersih yang besar di tahun mendatang dan juga memberikan dividen kepada pemegang saham,” jelas Ahdia.
Ahdia menambahkan skema bisnis yang dijalankan dengan Batan Tech adalah win-win solution. Sebab, lanjut dia, dalam penjualan produk tersebut perseroan bertindak sebagai distributor atau marketing. Sedangkan Batan Tech sebagai pihak manufacturing. Dalam menjalankan bisnis tersebut, Ahdia mengatakan perseroan telah mendapat komitmen fasilitas pinjaman dari Bank Mandiri sebesar Rp 100 miliar.
Lebih lanjut Ahdia mengatakan pinjamna tersebut akan digunakan untuk membiayai pembuatan radiofarmaka oleh Batan Tech. Rencananya, lanjut dia, pada tahun depan pinjaman tersebut akan dicairkan separuhnya. “Hal tersebut untuk memenuhi permintaan di 2012. Selama ini, pendaanaan yang menjadi masalah penting bagi Batan Tech dalam memproduksi radiofarmaka tersebut,” jelas dia.
Selain Radiofarmaka, Ahdia menjelaskan perseroan juga akan mengembangkan obat yang memiliki margin besar dan memiliki pesaing yang minim. Untuk itu, lanjut dia, perseroan juga akan mengeluncurkan 16 jenis obat baru pada 2012. “Empat dari 16 obat baru tersebut merupakan obat tanpa resep (otc),” tandas dia. (iin)
Surya Esa Perkasa Bangun Pabrik Amoniak US$ 700 Juta
JAKARTA – PT Surya Esa Perkasa Tbk akan membangun pabrik amoniak dengan nilai investasi mencapai US$ 700 juta. Rencananya, pembangunan tersebut akan berlokasi di Luwuk, Sulawesi Tengah dan dilakukan melalui anak usaha perseroan, yaitu PT Panca Amara Utama.
Excutive Director Surya Esa Perkasa Vinod Laroya menjelaskan dana pembangunan tersebut akan berasal dari ekuitas dan pinjaman bank. Biasanya, lanjut dia, untuk proyek tersebut porsi ekuiti akan sebesar 25-30%. Sedangkan selebihnya akan berasal dari pinjaman bank. Ia menjelaskan perseroan sudah memiliki komitmen dengan International Financial Corporation (IFC) yang merupakan anggota dari Grup Bank Dunia. Namun, ia enggan untuk menjelaskan hal tersebut.
“Kami masih mencari pinjaman lainnya, baik bank domestic mapun luar negeri. Kami mencari pinjaman jangka panjang untuk proyek tersebut. Sebab, proyek tersebut membutuhkan waktu yang lama, mulai dari desain hingga engineering,” ungkap Vinod usai paparan public di Jakarta, Senin (9/1).
Sedangkan porsi ekuitas, Vinod menjelaskan calon emiten yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1 Februari 2012 tersebut tidak akan sendirian. Sebab, perseroan akan menggandeng partner dalam proyek tersebut. Namun, ia enggan untuk menyebutkan partner tersebut. Ia hanya menjelaskan parner tersebut nantinya akan menjadi minoritas dalam proyek tersebut. “Kami akan tetap menjadi mayoritas dalam proyek tersebut,” papar dia.
Rencananya, lanjut Vinod, pembangunan pabrik tersebut akan dimulai pada akhir tahun ini dan diperkirakan membutuhkan waktu 33 bulan. Nantinya, tambahnya, pabrik tersebut akan memanfaatkangas bumi dari wilayah kerja blok Senoro-Toili (Dongu-Sonoro) di Sulawesi Tengah. Ia menjelaskan pembangunan pabrik tersebut merupakan strategi perusahaan untuk maju ke depan. Terlebih, lanjut dia, peluang di industri amoniak sangat besar di Indonesia seiring dengan meningkatkan industri kimia tersebut.
“Amoniak merupakan bahan baku pupuk yang menjadi penunjang industri pangan nasional. Mengingat setiap tahun kebutuhan pupuk domestic mencapia 10 juta ton pertahun. Ditambah lagi amoniak juga dipergunakan sebagai bahan baku Amonium Nitrat yang tumbuh sejalan dengan perkembangan industri pertambangan Indonesia,” ujar Vinod.
Tawarkan Rp 450-650 Per Saham
Pada kesempatan yang sama, Managing Director Equator Securities, selaku penjamin emisi (underwriter), David Agus menyebutkan perseroan menawarkan harga saham perdana (initial public offering/IPO) saham di kisaran Rp 450-650 per saham. Sedangkan jumlah saham yang dilepas sebanyak 250 juta saham atau 25% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Dengan demikian, perseroan membidik dana segar dari pasar sebesar Rp 112,5 -162,5 miliar.
Menurut David, harga tersebut dinilai cukup kompetitif mengingat lini bisnis perseroan yang memiliki prospek positif. Ditambah,lanjut dia, belum ada emiten sejenis yang bergerak di sector yang digeluti perseroan. Ia menjelaskan penentuan harga tersebut menggunakan mekanisme discounted cash flow (DCF) yakni mendiskon arus kas masa depan dengan projeksi kinerja pada masa lalu guna mendapatkan nilai wajar perusahaan pada masa depan dilihat dari masa sekarang.
Direktur Keuangan yang juga menjabat Sekretaris Perusahaan Surya Esa Perkasa Isenta Hioe mengatakan Perseroan akan menggunakan 25% dipakai untuk membayar sebagian utang kepada PT Bank UOB Indonesia. Sedangkan 75% dana hasil IPO, lanjut dia, digunakan untuk ekspansi bisnis yakni pengembangan kilang gas perseroan. Dengan ekspansi tersebut, tambah dia, produksi pemurnian has bumi menjadi produk LPG akan meningkat sebesar 50 MT LPG per hari.
“Jumlah tersebut meningkat sekiatr 44% dari kapasitas produksi saat ini, yaitu 113 MT LPG per hari. Untuk pembangunan ini diperkirakan akan selesai pada 2014. Sedangkan selama pembangunan, 2012-2013, diperkirakan membutuhkan dana sebesar US$ 15 juta,” jelas Isenta.
Sedangkan untuk estimasi kinerja, lanjut Isenta, perseroan mengestimasi akan mendapatkan pendapatan sebesar US$ 41 juta pada 2011. Sebab, selama 2011 harga jual gas LPG sangat tinmggi hingga mencapai US$ 842 per metric ton. Namun, lanjut dia, untuk kinerja di tahun ini akan sangat tergantung pada harga LPG. Ia memprediksikan harga di tahun ini hanya akan mencapai US$ 624 per meterik ton. “Kemungkinan pendapatan akan di bawah 2011,” ujar dia.
Analis Waterfront Securities Oktavianus Marbun mengatakan saham Sura Esa Perkasa cukup berprospektif di masa depan. Untuk itu, lanjut dia, saham etrsebut lebih cocok dijadikan sebagi investasi jangka panjang oleh investor. Hal ini disebabkan investasi yang dibutuhkan untuk sector ini sangat besar pada awal investasi. “Hal tersebut karena industri pemurniaan gas tersebut membutuhkan teknoliogi tinggi,” jelas dia.
Hal senada diungkapkan Managing Reseach Indosurya Asset Management Reza Priyambada. Ia menyebutkan saham tersebut sangat berprospek di masa mendatang seiring dengan meningkatnya penggunaan LPG di Indonesia. Namun, lanjut dia, industri tersbeut sangat tergantung pada harga gas dan kontrak yang dimiliki oleh perseroan untuk suplai gas. “Yang perlu diperhatikan adalah kontrak penjualan mereka,” ujar dia.
Sementara itu, Analis Milenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga mengatakan seecara lini usaha emiten ini cukup prospektif. Sebab, lanjut dia, perseroan bergerak di bisnis LPG dan turunnannya. Apalagi saat ini,pemerintah terus mengkampayekan konversi bahan bakar ke gas sehingga mendorong permintaan gas ke depan akan semakin meningkat, termasuk LPG dan turunnya. “Harga saham perdananya juga cukup murah,” tandas dia. (iin)
Excutive Director Surya Esa Perkasa Vinod Laroya menjelaskan dana pembangunan tersebut akan berasal dari ekuitas dan pinjaman bank. Biasanya, lanjut dia, untuk proyek tersebut porsi ekuiti akan sebesar 25-30%. Sedangkan selebihnya akan berasal dari pinjaman bank. Ia menjelaskan perseroan sudah memiliki komitmen dengan International Financial Corporation (IFC) yang merupakan anggota dari Grup Bank Dunia. Namun, ia enggan untuk menjelaskan hal tersebut.
“Kami masih mencari pinjaman lainnya, baik bank domestic mapun luar negeri. Kami mencari pinjaman jangka panjang untuk proyek tersebut. Sebab, proyek tersebut membutuhkan waktu yang lama, mulai dari desain hingga engineering,” ungkap Vinod usai paparan public di Jakarta, Senin (9/1).
Sedangkan porsi ekuitas, Vinod menjelaskan calon emiten yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1 Februari 2012 tersebut tidak akan sendirian. Sebab, perseroan akan menggandeng partner dalam proyek tersebut. Namun, ia enggan untuk menyebutkan partner tersebut. Ia hanya menjelaskan parner tersebut nantinya akan menjadi minoritas dalam proyek tersebut. “Kami akan tetap menjadi mayoritas dalam proyek tersebut,” papar dia.
Rencananya, lanjut Vinod, pembangunan pabrik tersebut akan dimulai pada akhir tahun ini dan diperkirakan membutuhkan waktu 33 bulan. Nantinya, tambahnya, pabrik tersebut akan memanfaatkangas bumi dari wilayah kerja blok Senoro-Toili (Dongu-Sonoro) di Sulawesi Tengah. Ia menjelaskan pembangunan pabrik tersebut merupakan strategi perusahaan untuk maju ke depan. Terlebih, lanjut dia, peluang di industri amoniak sangat besar di Indonesia seiring dengan meningkatkan industri kimia tersebut.
“Amoniak merupakan bahan baku pupuk yang menjadi penunjang industri pangan nasional. Mengingat setiap tahun kebutuhan pupuk domestic mencapia 10 juta ton pertahun. Ditambah lagi amoniak juga dipergunakan sebagai bahan baku Amonium Nitrat yang tumbuh sejalan dengan perkembangan industri pertambangan Indonesia,” ujar Vinod.
Tawarkan Rp 450-650 Per Saham
Pada kesempatan yang sama, Managing Director Equator Securities, selaku penjamin emisi (underwriter), David Agus menyebutkan perseroan menawarkan harga saham perdana (initial public offering/IPO) saham di kisaran Rp 450-650 per saham. Sedangkan jumlah saham yang dilepas sebanyak 250 juta saham atau 25% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Dengan demikian, perseroan membidik dana segar dari pasar sebesar Rp 112,5 -162,5 miliar.
Menurut David, harga tersebut dinilai cukup kompetitif mengingat lini bisnis perseroan yang memiliki prospek positif. Ditambah,lanjut dia, belum ada emiten sejenis yang bergerak di sector yang digeluti perseroan. Ia menjelaskan penentuan harga tersebut menggunakan mekanisme discounted cash flow (DCF) yakni mendiskon arus kas masa depan dengan projeksi kinerja pada masa lalu guna mendapatkan nilai wajar perusahaan pada masa depan dilihat dari masa sekarang.
Direktur Keuangan yang juga menjabat Sekretaris Perusahaan Surya Esa Perkasa Isenta Hioe mengatakan Perseroan akan menggunakan 25% dipakai untuk membayar sebagian utang kepada PT Bank UOB Indonesia. Sedangkan 75% dana hasil IPO, lanjut dia, digunakan untuk ekspansi bisnis yakni pengembangan kilang gas perseroan. Dengan ekspansi tersebut, tambah dia, produksi pemurnian has bumi menjadi produk LPG akan meningkat sebesar 50 MT LPG per hari.
“Jumlah tersebut meningkat sekiatr 44% dari kapasitas produksi saat ini, yaitu 113 MT LPG per hari. Untuk pembangunan ini diperkirakan akan selesai pada 2014. Sedangkan selama pembangunan, 2012-2013, diperkirakan membutuhkan dana sebesar US$ 15 juta,” jelas Isenta.
Sedangkan untuk estimasi kinerja, lanjut Isenta, perseroan mengestimasi akan mendapatkan pendapatan sebesar US$ 41 juta pada 2011. Sebab, selama 2011 harga jual gas LPG sangat tinmggi hingga mencapai US$ 842 per metric ton. Namun, lanjut dia, untuk kinerja di tahun ini akan sangat tergantung pada harga LPG. Ia memprediksikan harga di tahun ini hanya akan mencapai US$ 624 per meterik ton. “Kemungkinan pendapatan akan di bawah 2011,” ujar dia.
Analis Waterfront Securities Oktavianus Marbun mengatakan saham Sura Esa Perkasa cukup berprospektif di masa depan. Untuk itu, lanjut dia, saham etrsebut lebih cocok dijadikan sebagi investasi jangka panjang oleh investor. Hal ini disebabkan investasi yang dibutuhkan untuk sector ini sangat besar pada awal investasi. “Hal tersebut karena industri pemurniaan gas tersebut membutuhkan teknoliogi tinggi,” jelas dia.
Hal senada diungkapkan Managing Reseach Indosurya Asset Management Reza Priyambada. Ia menyebutkan saham tersebut sangat berprospek di masa mendatang seiring dengan meningkatnya penggunaan LPG di Indonesia. Namun, lanjut dia, industri tersbeut sangat tergantung pada harga gas dan kontrak yang dimiliki oleh perseroan untuk suplai gas. “Yang perlu diperhatikan adalah kontrak penjualan mereka,” ujar dia.
Sementara itu, Analis Milenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga mengatakan seecara lini usaha emiten ini cukup prospektif. Sebab, lanjut dia, perseroan bergerak di bisnis LPG dan turunnannya. Apalagi saat ini,pemerintah terus mengkampayekan konversi bahan bakar ke gas sehingga mendorong permintaan gas ke depan akan semakin meningkat, termasuk LPG dan turunnya. “Harga saham perdananya juga cukup murah,” tandas dia. (iin)
Pendapatan JA Wattie Capai Rp 640 M
JAKARTA – PT JA Wattie Tbk (JAWA) memperkirakan pendapatan mencapai Rp 640 miliar pada 2011. Pendapatan tersebut meningkat 54,8% dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 413,4 miliar. Sedangkan laba diperkirakan akan mengalami peningkatan sebesar 137,2% menjadi Rp 190 miliar dari Rp 80,1 miliar pada 2010.
“Karet menjadi penyumbang terbesar dibandingkan kelapa sawit untuk pendapatan perseroan. Namun, saya masih belum bisa menyebutkan porsi antara kelapa sawit dengan karet tersebut. Sebab, saat ini kami masih dalma proses audit,” ungkap Direktur Keuangan JA Wattie Bambang S Ibrahim kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Bambang menambahkan perseroan belum memasang target untuk kinerja pada 2012. Sebab, lanjut dia, patokan harga karet pada tahun ini masih belum ditentukan. Hal tersebut seiring dengan kondisi Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang belum pasti. “Kemungkinan, tahun ini harga karet akan mengalami sedikit pelemahan. Namun, kami masih belum tahu berapa angka tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut Bambang mengatakan perseroan menyiapkan belanda modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 490 miliar pada 2012. Anggaran tersebut dilalokasikan untuk untuk perawatan dan penanaman karet maupun kelapa sawit. Sisanya dialokasikan untuk pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit. Ia mengatakan dana tersebut berasal dari kas internal dan pinjaman bank. Namun, ia enggan untuk menjelaskan porsi dari masing-masing sumber dana tersebut.
Bambang menambahkan perseroan akan mengalokasikan capex untuk perawatan dan penanaman karet sebesar Rp 250 miliar. Sedangkan sisanya untuk pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit berkapasitas 45 ton per jam di Kalimantan Selatan (Kalsel). “Pabrik tersebut diperkirakan akan selesai pada akhir 2013,” tambah Bambang.
Sebelumnya, Bambang pernah mengatakan perseroan membidik akuisisi lahan sebanyak 8 ribu hektar (ha) pada 2012. Rencananya, akuisisi lahan tersebut diaokasikan untuk lahan karet sebanyak 4.500 ha dan kelapa sawit sebesar 3.500 ha. Hal tersebut seiring dengan target perseroan untuk menambah lahan mereka menjadi 200 ribu ha pada lima tahun mendatang. Sedangkan akhir tahun mendatang, perseroan diperkirakan lahan yang dimiliki mencapai 68 ribu ha.
Bambang menjelaskan akuisisi lahan akan dilakukan di wilayah Kalimantan. Namun, lanjut dia, perseroan tidak menutup kemungkinan untuk mengakuisisi lahan yang ada di Sulawesi. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi perseroan akan terbatasnya lahan perkebunan di Kalimantan. Ekspansi lahan tersebut dilakukan seiring dengan makin meningkatkan permintaan karet dan CPO.
Namun, Bambang enggan untuk menyebutkan dana yang disiapkan untuk akuisisi tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan masih menghitung kebutuhan dana tersebut. “Semuanya tergantung pada lokasi akuisisi lahan. Namun, akuisisi lahan diharapkan dilakukan dengan harga pada kisaran sama pada tahun ini, yaitu Rp 4-8 juta,” ungkap Bambang kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
“Karet menjadi penyumbang terbesar dibandingkan kelapa sawit untuk pendapatan perseroan. Namun, saya masih belum bisa menyebutkan porsi antara kelapa sawit dengan karet tersebut. Sebab, saat ini kami masih dalma proses audit,” ungkap Direktur Keuangan JA Wattie Bambang S Ibrahim kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Bambang menambahkan perseroan belum memasang target untuk kinerja pada 2012. Sebab, lanjut dia, patokan harga karet pada tahun ini masih belum ditentukan. Hal tersebut seiring dengan kondisi Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang belum pasti. “Kemungkinan, tahun ini harga karet akan mengalami sedikit pelemahan. Namun, kami masih belum tahu berapa angka tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut Bambang mengatakan perseroan menyiapkan belanda modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 490 miliar pada 2012. Anggaran tersebut dilalokasikan untuk untuk perawatan dan penanaman karet maupun kelapa sawit. Sisanya dialokasikan untuk pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit. Ia mengatakan dana tersebut berasal dari kas internal dan pinjaman bank. Namun, ia enggan untuk menjelaskan porsi dari masing-masing sumber dana tersebut.
Bambang menambahkan perseroan akan mengalokasikan capex untuk perawatan dan penanaman karet sebesar Rp 250 miliar. Sedangkan sisanya untuk pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit berkapasitas 45 ton per jam di Kalimantan Selatan (Kalsel). “Pabrik tersebut diperkirakan akan selesai pada akhir 2013,” tambah Bambang.
Sebelumnya, Bambang pernah mengatakan perseroan membidik akuisisi lahan sebanyak 8 ribu hektar (ha) pada 2012. Rencananya, akuisisi lahan tersebut diaokasikan untuk lahan karet sebanyak 4.500 ha dan kelapa sawit sebesar 3.500 ha. Hal tersebut seiring dengan target perseroan untuk menambah lahan mereka menjadi 200 ribu ha pada lima tahun mendatang. Sedangkan akhir tahun mendatang, perseroan diperkirakan lahan yang dimiliki mencapai 68 ribu ha.
Bambang menjelaskan akuisisi lahan akan dilakukan di wilayah Kalimantan. Namun, lanjut dia, perseroan tidak menutup kemungkinan untuk mengakuisisi lahan yang ada di Sulawesi. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi perseroan akan terbatasnya lahan perkebunan di Kalimantan. Ekspansi lahan tersebut dilakukan seiring dengan makin meningkatkan permintaan karet dan CPO.
Namun, Bambang enggan untuk menyebutkan dana yang disiapkan untuk akuisisi tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan masih menghitung kebutuhan dana tersebut. “Semuanya tergantung pada lokasi akuisisi lahan. Namun, akuisisi lahan diharapkan dilakukan dengan harga pada kisaran sama pada tahun ini, yaitu Rp 4-8 juta,” ungkap Bambang kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Minggu, 15 Januari 2012
PGN siapkan Capex US$ 200 Juta
JAKARTA - PT PGN Tbk (PGAS) siapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 200 juta pada 2012. Dana tersebut sebagian besar digunakan untuk pembangunan dan pengembangan infrastruktur untuk proyek multi tahun LNG Recieving terminal, diantaranya di Sumatera Utara (Sumut) dan Jawa Barat (Jabar).
Direktur Invesment Planning and Risk Management PGN M Wahid Sutopo menjelaskan dana capex tersebut akan berasal dari kas internal perseroan. "Saat ini posisi Kas sangat kuat untuk mendanai capex tersebut," ungkap Wahid di Jakarta, Senin (16/1).
Wahid menjelaskan untuk proyek di Jawa Barat akan mulai beroeprasi pada tahun ini. Sedangkan untuk proyek LNG di Sumut, ia menambahkan tahun ini perseroan masih fokus pada penambahan pasokan gas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. "Terutama di Muara Karang, Jawa Barat. Kebutuhan di wiliayah tersebut sangat tinggi," jelas dia.
Sementara itu, Direktur Teknologi dan Pengembangan PGN Jobi Triananda mengatakan proyek LNG Recieving terminal di Lampung saat ini masih dalam tahap Due diligance. Diperkirakan, lanjut dia, akan selesai pada akhir semester 1 2012. "Setelah itu, tender baru akan dilakukan. Proyek tersebut diperkirakan akan selesai pada 2014-2015," papar Jobi. (Investor Daily - Indah Handayani)
Direktur Invesment Planning and Risk Management PGN M Wahid Sutopo menjelaskan dana capex tersebut akan berasal dari kas internal perseroan. "Saat ini posisi Kas sangat kuat untuk mendanai capex tersebut," ungkap Wahid di Jakarta, Senin (16/1).
Wahid menjelaskan untuk proyek di Jawa Barat akan mulai beroeprasi pada tahun ini. Sedangkan untuk proyek LNG di Sumut, ia menambahkan tahun ini perseroan masih fokus pada penambahan pasokan gas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. "Terutama di Muara Karang, Jawa Barat. Kebutuhan di wiliayah tersebut sangat tinggi," jelas dia.
Sementara itu, Direktur Teknologi dan Pengembangan PGN Jobi Triananda mengatakan proyek LNG Recieving terminal di Lampung saat ini masih dalam tahap Due diligance. Diperkirakan, lanjut dia, akan selesai pada akhir semester 1 2012. "Setelah itu, tender baru akan dilakukan. Proyek tersebut diperkirakan akan selesai pada 2014-2015," papar Jobi. (Investor Daily - Indah Handayani)
Bakrieland Siap Investasi Rp 2,1 T
Bakrieland Siap Investasi Rp 2,1 T
JAKARTA - PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) siap investasi Rp 2,1 triliun pada 2012. Investasi tersebut merupakan development cost untuk pembangunan proyek di lini bisnis property. Proyek tersebut diantaranya terletak di Bali, Sentul, Bogor, dan Rasuna Episentrum.
Direktur Keuangan Bakrieland Development Feb Sumandar menjelaskan dana tersebut berasal dari kas internal dengan utang. Persentase anatara kedua sumber pendanaan tersebut adalah 60% dengan kas internal dan sisanya menggunakan utang. Untuk utang, ia menjelaskan perseroan akan mengkombinasikan antara pinjaman bank atau obligasi. Namun, ia enggan untuk menjelaskan porsi keduanya.
“Sebab, besaran keduanya akan sangat tergantung dengan hasil rating,” ungkap Feb di Jakarta, belum lama ini.
Feb menjelaskan penerbitan obligasi tersebut diperkirakan akan menggunakan buku Desember 2012. Nantinya, lanjut dia, obligasi tersebut akan ditawarkan di domestic. Ia menambahkan saat ini perseroan proses pemilihan underwriter atau beauty contest. “Kami sudah bertemu dengan beberapa underwriter dan mereka telah mepresentasikan hal tersebut. Namun, kami masih belum menentukan hal tersebut,” papar dia.
Sebelumnya, Direktur Utama Bakrieland Development Hiramsyah S Thaib pernah mengatakan perseroan menjajaki penjualan kepemilikan saham di anak usaha mereka, PT Bakrie Toll Road, pada semester I 2012. Penjualan tersebut ditargetkan akan bernilai Rp 2 triliun. Ia menjelaskan pelepasan saham tersebut akan dilakukan melalui dua mekanisme, yaitu penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dan private placement.
Menurut Hiramsyah, strategi tersebut dilakukan demi mengundang lebih banyak mitra strategis masuk ke anak usaha mereka tersebut. Sebab, tambah dia, BTR membutuhkan dana besar untuk mengembangkan dan pembangunan ruas jalan tol yang dimiliki. “Kami benar-benar ingin membesarkan BTR. Tapi sangat tidak memungkinkan apabila semua pengembangan dan pembangunan ruas jalan tol tersebut dibiayai oleh Bakrieland. Karena itu kami pun menerapkan strategi tersebut,” ucap dia.
Hiramsyah menambahkan kemungkinan besar IPO tersebut menggunakan buku Desember 2011. Disamping itu, lanjut dia, perseroan telah melakukan beauty contest untuk menentukan penjamin emisi (underwriter) dan agen penjual global dalam IPO tersebut. Ia menyebutkan setidaknya telah bertemu dengan tiga atau empat agen penjual asing dan tiga penjamin emisi local.
Selain itu, tambah Hiramsyah, perseroan juga telah melakukan pembicaraan dengan mitra strategis potensial yang akan masuk melalui private placement. Namun, ia enggan untuk menyebutkan jumlah mitra tersebut. Ia hanya mengatakan mitra tersebut terdiri dari asing dan local. “Tapi semuanya masih belum final,” jelas Hiramsyah.
BNBR Bayar Utang
Pada kesempatan berbeda, Direktur Keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Eddy Soeparno menjelaskan perseroan akan segera membayarkan utang kepada Credit Suisse (CS) pada pekan ini. Hal tersebut, lanjut dia, setelah perseroan mendapatkan dana dari penjualan saham Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk yang diperkirakan akan terjadi pada pekan ini.
Menurut Eddy, pihak Borneo telah melengkapi dokumentasi untuk mencairkan pinjaman tersebut. “Mudah-mudahan pekan ini selesai transaksi dengan Borneo. Setelah diterima, dana tersebut akan langsung kami bayarkan kepada CS. Utang kepada CS merupakan prioritas kami. Mengingat utang tersebut merupakan jangka pendek,” jelas Eddy.
Menurut Eddy, dengan pembayaran utang tersebut akan menurunkan posisi utang perseroan. Ia menjelaskan pada akhir tahun lalu perseroan mencatatkan utang sebanyak Rp 8-9 triliun, dengan penyelesaian transaksi Borneo tersebut akan langsung turun menjadi Rp 5 triliun. “Setelah penyelesaian utang ini selesai, kami akan focus pada pencarian dana untuk pengembangan proyek kami,” papar dia. (iin)
JAKARTA - PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) siap investasi Rp 2,1 triliun pada 2012. Investasi tersebut merupakan development cost untuk pembangunan proyek di lini bisnis property. Proyek tersebut diantaranya terletak di Bali, Sentul, Bogor, dan Rasuna Episentrum.
Direktur Keuangan Bakrieland Development Feb Sumandar menjelaskan dana tersebut berasal dari kas internal dengan utang. Persentase anatara kedua sumber pendanaan tersebut adalah 60% dengan kas internal dan sisanya menggunakan utang. Untuk utang, ia menjelaskan perseroan akan mengkombinasikan antara pinjaman bank atau obligasi. Namun, ia enggan untuk menjelaskan porsi keduanya.
“Sebab, besaran keduanya akan sangat tergantung dengan hasil rating,” ungkap Feb di Jakarta, belum lama ini.
Feb menjelaskan penerbitan obligasi tersebut diperkirakan akan menggunakan buku Desember 2012. Nantinya, lanjut dia, obligasi tersebut akan ditawarkan di domestic. Ia menambahkan saat ini perseroan proses pemilihan underwriter atau beauty contest. “Kami sudah bertemu dengan beberapa underwriter dan mereka telah mepresentasikan hal tersebut. Namun, kami masih belum menentukan hal tersebut,” papar dia.
Sebelumnya, Direktur Utama Bakrieland Development Hiramsyah S Thaib pernah mengatakan perseroan menjajaki penjualan kepemilikan saham di anak usaha mereka, PT Bakrie Toll Road, pada semester I 2012. Penjualan tersebut ditargetkan akan bernilai Rp 2 triliun. Ia menjelaskan pelepasan saham tersebut akan dilakukan melalui dua mekanisme, yaitu penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dan private placement.
Menurut Hiramsyah, strategi tersebut dilakukan demi mengundang lebih banyak mitra strategis masuk ke anak usaha mereka tersebut. Sebab, tambah dia, BTR membutuhkan dana besar untuk mengembangkan dan pembangunan ruas jalan tol yang dimiliki. “Kami benar-benar ingin membesarkan BTR. Tapi sangat tidak memungkinkan apabila semua pengembangan dan pembangunan ruas jalan tol tersebut dibiayai oleh Bakrieland. Karena itu kami pun menerapkan strategi tersebut,” ucap dia.
Hiramsyah menambahkan kemungkinan besar IPO tersebut menggunakan buku Desember 2011. Disamping itu, lanjut dia, perseroan telah melakukan beauty contest untuk menentukan penjamin emisi (underwriter) dan agen penjual global dalam IPO tersebut. Ia menyebutkan setidaknya telah bertemu dengan tiga atau empat agen penjual asing dan tiga penjamin emisi local.
Selain itu, tambah Hiramsyah, perseroan juga telah melakukan pembicaraan dengan mitra strategis potensial yang akan masuk melalui private placement. Namun, ia enggan untuk menyebutkan jumlah mitra tersebut. Ia hanya mengatakan mitra tersebut terdiri dari asing dan local. “Tapi semuanya masih belum final,” jelas Hiramsyah.
BNBR Bayar Utang
Pada kesempatan berbeda, Direktur Keuangan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Eddy Soeparno menjelaskan perseroan akan segera membayarkan utang kepada Credit Suisse (CS) pada pekan ini. Hal tersebut, lanjut dia, setelah perseroan mendapatkan dana dari penjualan saham Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energy & Metal Tbk yang diperkirakan akan terjadi pada pekan ini.
Menurut Eddy, pihak Borneo telah melengkapi dokumentasi untuk mencairkan pinjaman tersebut. “Mudah-mudahan pekan ini selesai transaksi dengan Borneo. Setelah diterima, dana tersebut akan langsung kami bayarkan kepada CS. Utang kepada CS merupakan prioritas kami. Mengingat utang tersebut merupakan jangka pendek,” jelas Eddy.
Menurut Eddy, dengan pembayaran utang tersebut akan menurunkan posisi utang perseroan. Ia menjelaskan pada akhir tahun lalu perseroan mencatatkan utang sebanyak Rp 8-9 triliun, dengan penyelesaian transaksi Borneo tersebut akan langsung turun menjadi Rp 5 triliun. “Setelah penyelesaian utang ini selesai, kami akan focus pada pencarian dana untuk pengembangan proyek kami,” papar dia. (iin)
Bakrie Jual BTEL ke Mount Charlotte
Bakrie Jual BTEL ke Mount Charlotte
JAKARTA - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menjual kepemilikan saham mereka di PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) kepada sebuah fund yang berinvestasi di sektor telecomunikasi, media dan teknologi, yaitu Mount Charlotte. Transaksi tersebut sebanyak 4,3 miliar saham dengan nilai Rp 340 per saham.
Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno menjelaskan fund tersebut fokus pada investasi di sektor telekomunikasi, media, dan teknologi di kawasan Asia Tenggara. Namun, ia enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia hanya mengatakan Mouth Charlotte tertarik dengan Bakrie Telecom karena masih memiliki peluang untuk bertumbuh di masa depan. "Terlebih mereka melihat harga Bakrie Telecom saat ini masih undervalue," ungkap Eddy di Jakarta, kamis (12/1).
Eddy menambahkan dalam transaksi tersebut perseroan memiliki opsi untuk masuk dalam fund tersebut. Hal tersebut dilakukan karena perseroan meniai sektor telekomunikasi, media, dan teknologi masih akan berkembang di kawasan Asia Tenggara. Namun, ia enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan masih menegosiasikan mengenai opsi tersebut.
"Selain itu, pertimbangan kami untuk masuk ke fund tersebut menunjukan bahwa kami tidak 100% melepaskan komitmen kepada Bakrie Telecom," tegas Eddy.
Berdasarkan penelusuran Investor Daily, Mount Charlotte dikendalikan oleh mantan bankir dan ex petinggi Booz yaitu Allen Geoffrey Simms, dan David Burke yang pernah menjabat sebagai Excecutive Vice President PT Telkom Indonesia. Fund tersebut dimiliki oleh sejumlah investor yg bergerak di bidang telekomunikasi, teknologi, dan media. Salah satu diantaranya adalah Vivendi dan Vodafone.
Pada kesempatan yang samaa, Eddy menjelaskan perseroan telah menjual kepemilikan saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) kepada debitur mereka, Accent Ltd (tolong digoogling, gw gak nemu -- ktanya ada di lapkeu mereka). Hal tersebut, lanjut dia, dilakukan dengan maksud debt to asset setlement. Sebelumnya, BNBR juga melepas sebagian sahamnya di PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk., (UNSP) sebanyak 170.480.537 lembar.
Harga transaksi penjualan saham UNSP itu senilai Rp330 per lembar saham, sementara sisa saham yang dimiliki BNBR di UNSP setelah transaksi itu sebanyak 3,718 miliar lembar saham atau 27,42 persen dari jumlah seluruh yang beredar.(Iin)
JAKARTA - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menjual kepemilikan saham mereka di PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) kepada sebuah fund yang berinvestasi di sektor telecomunikasi, media dan teknologi, yaitu Mount Charlotte. Transaksi tersebut sebanyak 4,3 miliar saham dengan nilai Rp 340 per saham.
Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno menjelaskan fund tersebut fokus pada investasi di sektor telekomunikasi, media, dan teknologi di kawasan Asia Tenggara. Namun, ia enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia hanya mengatakan Mouth Charlotte tertarik dengan Bakrie Telecom karena masih memiliki peluang untuk bertumbuh di masa depan. "Terlebih mereka melihat harga Bakrie Telecom saat ini masih undervalue," ungkap Eddy di Jakarta, kamis (12/1).
Eddy menambahkan dalam transaksi tersebut perseroan memiliki opsi untuk masuk dalam fund tersebut. Hal tersebut dilakukan karena perseroan meniai sektor telekomunikasi, media, dan teknologi masih akan berkembang di kawasan Asia Tenggara. Namun, ia enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan masih menegosiasikan mengenai opsi tersebut.
"Selain itu, pertimbangan kami untuk masuk ke fund tersebut menunjukan bahwa kami tidak 100% melepaskan komitmen kepada Bakrie Telecom," tegas Eddy.
Berdasarkan penelusuran Investor Daily, Mount Charlotte dikendalikan oleh mantan bankir dan ex petinggi Booz yaitu Allen Geoffrey Simms, dan David Burke yang pernah menjabat sebagai Excecutive Vice President PT Telkom Indonesia. Fund tersebut dimiliki oleh sejumlah investor yg bergerak di bidang telekomunikasi, teknologi, dan media. Salah satu diantaranya adalah Vivendi dan Vodafone.
Pada kesempatan yang samaa, Eddy menjelaskan perseroan telah menjual kepemilikan saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) kepada debitur mereka, Accent Ltd (tolong digoogling, gw gak nemu -- ktanya ada di lapkeu mereka). Hal tersebut, lanjut dia, dilakukan dengan maksud debt to asset setlement. Sebelumnya, BNBR juga melepas sebagian sahamnya di PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk., (UNSP) sebanyak 170.480.537 lembar.
Harga transaksi penjualan saham UNSP itu senilai Rp330 per lembar saham, sementara sisa saham yang dimiliki BNBR di UNSP setelah transaksi itu sebanyak 3,718 miliar lembar saham atau 27,42 persen dari jumlah seluruh yang beredar.(Iin)
Timah Beli Kapal Keruk US$ 100 Juta
Timah Beli Kapal Keruk US$ 100 Juta
JAKARTA - PT Timah Tbk (TINS) akan membeli dua kapal keruk berjenis bucket wheel dredge senilai US$ 100 juta atau senilai Rp 900 miliar pada 2012. Diharapkan kapal tersebut akan selesai dibangun dan digunakan pada awal 2014.
Direktur Utama Timah Wachid Usman mengatakan dana pembelian kapal tersebut akan berasal dari pinjaman bank dan kas internal perseroan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan porsi antara kedua sumber pendanaan tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan masih belum menghitung porsi ideal antara keduanya. "Kami masih melihat kondisi global saat ini," ungkap Wachid di Jakarta, Kamis (12/1).
Dengan pembelian dua kapal tersebut, lanjut Wachid, perseroan akan memiliki tiga kapal keruk berjenis bucket wheel dredge. Sebab, pada 2011 perseroan telah membeli satu buah kapal jenis tersebut. Ia mengharapkan pembelian pada 2011 tersebut akan selesai pembangunanan pada akhir 2013.
Selain kapal keruk, Wachid menjelaskan perseroan pembelian kapal isap kecil pada tahun ini. Tapi, ia tidak menyebutkan nilai dari pembelian tersebut. Ia hanya mengatakan pembelian seluruh kapal tersebut memerupakan bagian dari belanja modal (capital expenditure/capex) 2012 sebesar Rp 2 triliun. "Capex tahun ini akan lebih besar dibandingkan 2011 yang hanya sebesar Rp 1,3 triliun," jelas dia.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Timah Abrun Abubakar menjelaskan capex tahun ini juga dialokasikan untuk tahap II pembangunan smelter timah di Muntok, Bangka Belitung. Ia menjelaskan pembangunan tersebut akan menghabiskan dana sebesar Rp 180 miliar. (Iin)
JAKARTA - PT Timah Tbk (TINS) akan membeli dua kapal keruk berjenis bucket wheel dredge senilai US$ 100 juta atau senilai Rp 900 miliar pada 2012. Diharapkan kapal tersebut akan selesai dibangun dan digunakan pada awal 2014.
Direktur Utama Timah Wachid Usman mengatakan dana pembelian kapal tersebut akan berasal dari pinjaman bank dan kas internal perseroan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan porsi antara kedua sumber pendanaan tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan masih belum menghitung porsi ideal antara keduanya. "Kami masih melihat kondisi global saat ini," ungkap Wachid di Jakarta, Kamis (12/1).
Dengan pembelian dua kapal tersebut, lanjut Wachid, perseroan akan memiliki tiga kapal keruk berjenis bucket wheel dredge. Sebab, pada 2011 perseroan telah membeli satu buah kapal jenis tersebut. Ia mengharapkan pembelian pada 2011 tersebut akan selesai pembangunanan pada akhir 2013.
Selain kapal keruk, Wachid menjelaskan perseroan pembelian kapal isap kecil pada tahun ini. Tapi, ia tidak menyebutkan nilai dari pembelian tersebut. Ia hanya mengatakan pembelian seluruh kapal tersebut memerupakan bagian dari belanja modal (capital expenditure/capex) 2012 sebesar Rp 2 triliun. "Capex tahun ini akan lebih besar dibandingkan 2011 yang hanya sebesar Rp 1,3 triliun," jelas dia.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Timah Abrun Abubakar menjelaskan capex tahun ini juga dialokasikan untuk tahap II pembangunan smelter timah di Muntok, Bangka Belitung. Ia menjelaskan pembangunan tersebut akan menghabiskan dana sebesar Rp 180 miliar. (Iin)
Tiphone Investasi Rp 750 M
Tiphone Investasi Rp 750 M
JAKARTA - PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) akan investasi sebesar Rp 650-750 miliar pada 2012. Investasi tersebut dialokasikan untuk akuisisi sebesar Rp 400-500 miliar dan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 250 miliar.
Sekretaris Perusahaan Tiphone Mobile Indonesia Semeul menjelaskan pendanaan tersebut akan berasal dari hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, kas internal, dan pinjaman bank. Namun, ia enggan untuk menjelaskan masing-masing porsi pendanaan tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini pihaknya masih akan berbicara dengan beberapa bank, baik lokal maupun asing. Diantaranya Bank Mandiri, BCA, CIMB Niaga, dan BII.
"Yang jelas kami tidak akan keluar dari alur yang ditetapkan seperti dalam prospektus kami. Untuk itu, kami pun akan menambah sumber dana melalui pinjaman bank. Ditambah dengan kas internal kami yang kuat," ungkap Semuel usai pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (12/1).
Semuel menambahkan perseroan tengah membidik 3 perusahaan untuk akuisisi dengan dana sebesar Rp 400-500 miliar. Tapi, ia enggan untuk menyebutkan nama ketiga perusahaan tersebut. Sebab, saat ini masih dalam tahap negosiasi. Meskipun demian, ia menjelaskan perusahaan yang akan diakuisisi tersebut memiliki bisnis yang yang sejalan dengan perseroan, yaitu perusahaan penjual voucher dan pemegang merek telepon seluler asal Tiongkok.
Lebih lanjut Semuel menjelaskan peluang untuk telepon seluler berbasis Tiongkok masih memiliki peluang besar untuk tumbuh di pasar telekomunikasi saat ini. Untuk itu, lanjut dia, perseroan memilih untuk tidak mengakuisisi merek-merek telepon seluler yang diluar Tiongkok, seperti Samsung, Sony Ericson, maupun Motorola. Ia pun memperkirakan perseroan baru akan mendapatkan satu akuisisi pada semester 1 2012. Sedangkan selebihnya akan sangat tergantung dari proses negosiasi.
Menurut Semuel, jika berhasil mengakuisisi ketiga perusahaan tersebut nilai aset perseroan akan meningkat 50% menjadi Rp 1,5 triliun dari Rp 1 triliun. Ia pun memperkirakan dengan akuisisi tersebut mampu mendongkrak target pendapatan perseroan tahun ini sebesar Rp 3 triliun. "Jika target pendapatan kami Rp 8 triliun, dengan akuisisi tersebut diperkirakan akan naik menjadi Rp 11 triliun" papar dia.
Sementara itu, Komisaris Utama Tiphone Mobile Indonesia Hengky Setiawan mengatakan perseroan akan sangat berhati-hati dalam melakukan akuisisi tersebut. Sebab, lanjut dia, perseroan hanya akan mengakuisisi perseroan yang dapat mempertebal pendapatan maupun laba bersih. "Langkah tersebut dilakukan sebagai cara mempercepat pertumbuhan Tiphone di masa depan," ujar Hengky.
Sedangkan untuk capex sebesar Rp 250 miliar, Hengky memaparkan dana tersebut akan dialokasikan untuk membangun jaringan distribusi menjadi 250 ribu reseller dari 125 ribu reseller pada saat ini. Ditambah membangun jaringan service center menjadi 130 kota dari 25 kota yang ada saat ini. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga akan mengembangkan jumlah gerai Telesindo Shop dari 200 toko menjadi 350 toko pada tahun depan.
“Serta investasi IT untuk pengontrolan dan distribusi produk lebih luas lagi. Yang jelas pada 2012 kami akan bekerja 10 kali lipat dibandingkan tahun lalu ,” pungkas Hengky. (Iin)
JAKARTA - PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE) akan investasi sebesar Rp 650-750 miliar pada 2012. Investasi tersebut dialokasikan untuk akuisisi sebesar Rp 400-500 miliar dan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 250 miliar.
Sekretaris Perusahaan Tiphone Mobile Indonesia Semeul menjelaskan pendanaan tersebut akan berasal dari hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, kas internal, dan pinjaman bank. Namun, ia enggan untuk menjelaskan masing-masing porsi pendanaan tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini pihaknya masih akan berbicara dengan beberapa bank, baik lokal maupun asing. Diantaranya Bank Mandiri, BCA, CIMB Niaga, dan BII.
"Yang jelas kami tidak akan keluar dari alur yang ditetapkan seperti dalam prospektus kami. Untuk itu, kami pun akan menambah sumber dana melalui pinjaman bank. Ditambah dengan kas internal kami yang kuat," ungkap Semuel usai pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (12/1).
Semuel menambahkan perseroan tengah membidik 3 perusahaan untuk akuisisi dengan dana sebesar Rp 400-500 miliar. Tapi, ia enggan untuk menyebutkan nama ketiga perusahaan tersebut. Sebab, saat ini masih dalam tahap negosiasi. Meskipun demian, ia menjelaskan perusahaan yang akan diakuisisi tersebut memiliki bisnis yang yang sejalan dengan perseroan, yaitu perusahaan penjual voucher dan pemegang merek telepon seluler asal Tiongkok.
Lebih lanjut Semuel menjelaskan peluang untuk telepon seluler berbasis Tiongkok masih memiliki peluang besar untuk tumbuh di pasar telekomunikasi saat ini. Untuk itu, lanjut dia, perseroan memilih untuk tidak mengakuisisi merek-merek telepon seluler yang diluar Tiongkok, seperti Samsung, Sony Ericson, maupun Motorola. Ia pun memperkirakan perseroan baru akan mendapatkan satu akuisisi pada semester 1 2012. Sedangkan selebihnya akan sangat tergantung dari proses negosiasi.
Menurut Semuel, jika berhasil mengakuisisi ketiga perusahaan tersebut nilai aset perseroan akan meningkat 50% menjadi Rp 1,5 triliun dari Rp 1 triliun. Ia pun memperkirakan dengan akuisisi tersebut mampu mendongkrak target pendapatan perseroan tahun ini sebesar Rp 3 triliun. "Jika target pendapatan kami Rp 8 triliun, dengan akuisisi tersebut diperkirakan akan naik menjadi Rp 11 triliun" papar dia.
Sementara itu, Komisaris Utama Tiphone Mobile Indonesia Hengky Setiawan mengatakan perseroan akan sangat berhati-hati dalam melakukan akuisisi tersebut. Sebab, lanjut dia, perseroan hanya akan mengakuisisi perseroan yang dapat mempertebal pendapatan maupun laba bersih. "Langkah tersebut dilakukan sebagai cara mempercepat pertumbuhan Tiphone di masa depan," ujar Hengky.
Sedangkan untuk capex sebesar Rp 250 miliar, Hengky memaparkan dana tersebut akan dialokasikan untuk membangun jaringan distribusi menjadi 250 ribu reseller dari 125 ribu reseller pada saat ini. Ditambah membangun jaringan service center menjadi 130 kota dari 25 kota yang ada saat ini. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga akan mengembangkan jumlah gerai Telesindo Shop dari 200 toko menjadi 350 toko pada tahun depan.
“Serta investasi IT untuk pengontrolan dan distribusi produk lebih luas lagi. Yang jelas pada 2012 kami akan bekerja 10 kali lipat dibandingkan tahun lalu ,” pungkas Hengky. (Iin)
JFX Cetak Transaksi Rp 1.100 T Pada 2011
Siap IPO
JFX Cetak Transaksi Rp 1.100 T Pada 2011
JAKARTA – Jakarta Future Exchange atau Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) mencatatkan transaksi senilai Rp 1.100 triliun pada 2011. Nilai tersebut tercapai berkat keberhasilan JFX mencatatkan total volume transaksi sebanyak 7,58 juta lot dalam satu tahun. Total volume transaksi tersebut meningkat 40,1% dibandingkan 2010 yang hanya mencapai 5,41 juta lot.
“Jika dirata-ratakan nilai produk kami sebesar Rp 150 juta per lot, dengan demikian seluruh transaksi pada 2011 mencapai Rp 1.100 tiliun,” ungkap Direktur JFX Roy Sambel di Jakarta, Selasa (10/1).
Roy menjelaskan dari total transaksi tersebut, transaksi bilateral atau Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) masih mencatatkan volume tersebsar mencatatkan sebanyak 7.508.084 lot. Jumlah tersebut hanya meningkat 39% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5.393.768 lot. Transaksi SPA 2011 didominasi oleh transaksi perdagangan emas loco London yang naik 759,87% menjadi 3.351.874 lot dari 389.810 lot pada 2010.
Lebih lanjut Roy mengatakan pertumbuhan tertinggi terjadi pada perdagangan multilateral yang meningkat sebesar 392,23% menjadi 78.506 lot dari 15.949 lot. Menurutnya, peningkatan transaksi multilateral dipicu oleh mengkilapnya volume transaksi emas yang mencapai 42.786 lot atau 54,5% dari total transaksi multilateral. Ia menyebutkan kontrak berjangka emas (KB Emas) yang mencatatkan kenaikan sebesar 437,5% menjadi 29.126 lot dari 5.418 lot pada tahun lalu.
“Ditambah lagi, kontrak gulir emas dalam US (KG Emas US) juga mencatat kenaikan yang signifikan dari 4.033 lot menjadi 13.660 lot pada 2010. Kenaikan harga emas yang trendnya dimulai dari kuartal I sampai III 2011 tampaknya memicu transaksi kontrak emas yang ada di JFX,” jelas Roy.
Roy menambahkan Transaksi multilateral lainnya yang meningkat pesat adalah Kontrak Berjangka Olein (minyak curah) yang melonjak 646,8% dari 1.754 lot menjadi 13.099 lot. Ditambah lagi dengan kotrak kakao yang mampu mencatatkan transaksi sebanyak 1.762 lot hanya dalam waktu dua bulan sejak diluncurkan pada 15 Desember 2011. “Kami memprediksi kontrak kakao tersebut akan terus meningkat di tahun ini seiring dengan harga kakao dunia yang sangat bergejolak pada saat ini,” papar Roy.
Rencana 2012
Untuk 2012, Roy mengatakan pihaknya memperkirakan volume transaksi akan tumbuh sekitar 10-15% dibandingkan 2011. Hal tersebut dikarenakan tahun ini sebagai tahun investasi demi meningkatkan kualitas dan juga kuantitas transaksi perdagangan yang berlangsung di bursa tersebut. Diantaranya adalah dengan mengembangkan IT melalui online trading melalui mobile, mengundang market maker internasional untuk meramaikan busar perdagangan JFX, serta meluncurkan produk baru.
“Rencananya, tahun ini kami akan meluncurkan lima produk baru, yaitu batubara, karet, timah, kopi, dan interest rate futures. Tapi yang paling dekat kami akan meluncurkan produk kopi, hal ini mengingat kajian kopi sudah sangat advance dibandingkan produk lainya,” tegas Roy.
Tidak hanya itu, tambah Roy, perdagangan produk komoditi syariah juga akan dilakukan pada tahun ini. Walau, lanjut dia, perdagangan tersbut sempat terhenti karena menuinggu peratran terkait dari Bank Indonesia untuk mengakomodir transaksi tersbut. Hal tersebut terjadi karena BI telah mengeluarkan ketentuan baru menyangkut pasar uang antar bank syariah melalui surat edaran No 14/3DPM tentang serikat perdahangan komoditi berdasarkan prinsip syariah antarbank (SIKA).
Rencananya, lanjut Roy, pihaknya telah melakukan penyesuaian dengan peraturan BI tersebit dan akan meminta persetujuan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bapeppti). “Kami mengharapkan hal ini bisa selesai pada akhir kuartal I 2012,” jelas dia.
IPO 2015
Pada kesempatan yang sama, Roy menperkirakan JFX akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2015. Namun, lanjut dia, sebelum itu pihaknya akan mengalami beberapa tahapan untuk bisa menjadi perusahaan terbuka tersebut. mengingat saat ini kepemilikan organisasi masih terbatas pada anggota. Untuk tahun ini, lanjut dia, pihaknya akan persiapan demutualisasi denga harapan aksi tersebut akan terjadi pada 2013. “Pada 2014 baru akan kami persiapkan IPO, dengan demikian pada 2015 akan bisa menjadi perusahaan terbuka,” ucap Roy.
Roy memperkirakan pada tahun 2015 nilai kapitalisasi saham JFX akan mencapai Rp 9-10 triliun. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan perhitungan pertumbuhan JFX yang akan meningkat 10-15% setiap tahunnya. Sedangkan tahun ini, ia menyebutkan nilai buku JFX mencapai US$ 10 juta. “Hal tersebut juga merujuk dari pengalaman Bursa Berjanga India yang saat ini berencana go piblik di negaranya. Jika saat ini saja, nilai kapitalisasi mereka telah mencapai miliaran dollar, tidak menutup kemungkinan kami akan mampu mencapai kisaran yang sama,” tandas dia. (iin)
JFX Cetak Transaksi Rp 1.100 T Pada 2011
JAKARTA – Jakarta Future Exchange atau Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) mencatatkan transaksi senilai Rp 1.100 triliun pada 2011. Nilai tersebut tercapai berkat keberhasilan JFX mencatatkan total volume transaksi sebanyak 7,58 juta lot dalam satu tahun. Total volume transaksi tersebut meningkat 40,1% dibandingkan 2010 yang hanya mencapai 5,41 juta lot.
“Jika dirata-ratakan nilai produk kami sebesar Rp 150 juta per lot, dengan demikian seluruh transaksi pada 2011 mencapai Rp 1.100 tiliun,” ungkap Direktur JFX Roy Sambel di Jakarta, Selasa (10/1).
Roy menjelaskan dari total transaksi tersebut, transaksi bilateral atau Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) masih mencatatkan volume tersebsar mencatatkan sebanyak 7.508.084 lot. Jumlah tersebut hanya meningkat 39% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5.393.768 lot. Transaksi SPA 2011 didominasi oleh transaksi perdagangan emas loco London yang naik 759,87% menjadi 3.351.874 lot dari 389.810 lot pada 2010.
Lebih lanjut Roy mengatakan pertumbuhan tertinggi terjadi pada perdagangan multilateral yang meningkat sebesar 392,23% menjadi 78.506 lot dari 15.949 lot. Menurutnya, peningkatan transaksi multilateral dipicu oleh mengkilapnya volume transaksi emas yang mencapai 42.786 lot atau 54,5% dari total transaksi multilateral. Ia menyebutkan kontrak berjangka emas (KB Emas) yang mencatatkan kenaikan sebesar 437,5% menjadi 29.126 lot dari 5.418 lot pada tahun lalu.
“Ditambah lagi, kontrak gulir emas dalam US (KG Emas US) juga mencatat kenaikan yang signifikan dari 4.033 lot menjadi 13.660 lot pada 2010. Kenaikan harga emas yang trendnya dimulai dari kuartal I sampai III 2011 tampaknya memicu transaksi kontrak emas yang ada di JFX,” jelas Roy.
Roy menambahkan Transaksi multilateral lainnya yang meningkat pesat adalah Kontrak Berjangka Olein (minyak curah) yang melonjak 646,8% dari 1.754 lot menjadi 13.099 lot. Ditambah lagi dengan kotrak kakao yang mampu mencatatkan transaksi sebanyak 1.762 lot hanya dalam waktu dua bulan sejak diluncurkan pada 15 Desember 2011. “Kami memprediksi kontrak kakao tersebut akan terus meningkat di tahun ini seiring dengan harga kakao dunia yang sangat bergejolak pada saat ini,” papar Roy.
Rencana 2012
Untuk 2012, Roy mengatakan pihaknya memperkirakan volume transaksi akan tumbuh sekitar 10-15% dibandingkan 2011. Hal tersebut dikarenakan tahun ini sebagai tahun investasi demi meningkatkan kualitas dan juga kuantitas transaksi perdagangan yang berlangsung di bursa tersebut. Diantaranya adalah dengan mengembangkan IT melalui online trading melalui mobile, mengundang market maker internasional untuk meramaikan busar perdagangan JFX, serta meluncurkan produk baru.
“Rencananya, tahun ini kami akan meluncurkan lima produk baru, yaitu batubara, karet, timah, kopi, dan interest rate futures. Tapi yang paling dekat kami akan meluncurkan produk kopi, hal ini mengingat kajian kopi sudah sangat advance dibandingkan produk lainya,” tegas Roy.
Tidak hanya itu, tambah Roy, perdagangan produk komoditi syariah juga akan dilakukan pada tahun ini. Walau, lanjut dia, perdagangan tersbut sempat terhenti karena menuinggu peratran terkait dari Bank Indonesia untuk mengakomodir transaksi tersbut. Hal tersebut terjadi karena BI telah mengeluarkan ketentuan baru menyangkut pasar uang antar bank syariah melalui surat edaran No 14/3DPM tentang serikat perdahangan komoditi berdasarkan prinsip syariah antarbank (SIKA).
Rencananya, lanjut Roy, pihaknya telah melakukan penyesuaian dengan peraturan BI tersebit dan akan meminta persetujuan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bapeppti). “Kami mengharapkan hal ini bisa selesai pada akhir kuartal I 2012,” jelas dia.
IPO 2015
Pada kesempatan yang sama, Roy menperkirakan JFX akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2015. Namun, lanjut dia, sebelum itu pihaknya akan mengalami beberapa tahapan untuk bisa menjadi perusahaan terbuka tersebut. mengingat saat ini kepemilikan organisasi masih terbatas pada anggota. Untuk tahun ini, lanjut dia, pihaknya akan persiapan demutualisasi denga harapan aksi tersebut akan terjadi pada 2013. “Pada 2014 baru akan kami persiapkan IPO, dengan demikian pada 2015 akan bisa menjadi perusahaan terbuka,” ucap Roy.
Roy memperkirakan pada tahun 2015 nilai kapitalisasi saham JFX akan mencapai Rp 9-10 triliun. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan perhitungan pertumbuhan JFX yang akan meningkat 10-15% setiap tahunnya. Sedangkan tahun ini, ia menyebutkan nilai buku JFX mencapai US$ 10 juta. “Hal tersebut juga merujuk dari pengalaman Bursa Berjanga India yang saat ini berencana go piblik di negaranya. Jika saat ini saja, nilai kapitalisasi mereka telah mencapai miliaran dollar, tidak menutup kemungkinan kami akan mampu mencapai kisaran yang sama,” tandas dia. (iin)
Kalbe Optimistis Pendapatan Naik 20%
JAKARTA – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) optimistis mampu mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 15-20% pada 2012 dibandingkan raihan tahun lalu. Sedangkan estimasi pendapatan pada 2011 diperkirakan akan mencapai Rp 11 triliun. Kenaikan pendapatan tersebut ditopang oleh hadirnya produk baru dan meningkatnya bisnis distribusi.
Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan Kalbe Farma Vidjongtius menjelaskan tahun ini perseroan akan mengeluarkan 10-15 produk baru. Ia menjelaskan produk baru tersebut akan berada di setiap segmen bisnis perseroan, yaitu obat resep, obat bebas, dan nutrisional. “Selain itu, lanjut dia, perseroan juga akan melebarkan penjualan nutrisional, Diabetasol, di Filipina. Peluang penjualan tersebut sangat besar, mengingat karakteristik masyarakat Filipina hamper mirip dengan Indonesia,” ungkap dia kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (10/1).
Vidjongtius menambahkan tahun ini perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 700-800 miliar. Dana tersebut, lanjut dia, akan berasal dari kas internal dan dialokasikan untuk pembangunan penambahan kapasitas pabrik obat bebas di Cikarang. Namun, ia menjelaskan capex tersebut tidak termasuk rencana ekspansi perseroan di Negara Asia Tenggara lainnya, seperti Vietnam, Myanmar dan Thailand.
Untuk rencana ekspansi tersebut, Vidjongtius menegaskan perseroan menyiapkan dana sebesar US$ 10 – 100 juta per Negara. Menurutnya, besaran investasi sangat berbeda di setiap negara. Hal tersebut sangat tergantung dari partner yang akan digandengan untuk membentuk Join Venture (JV). Rencananya, lanjut dia, dalam JV tersebut perseroan akan membangun pabrik di Negara yang akan mereka bidik tersebut. “Namun, hingga saat ini kami masih mencari partner tersebut,” ujar Vidjongtius.
Sebelumnya, Vidjongtius mengatakan akan ekspansi di Tiongkok dan India. Ekpansi tersebut menjadi rencana jangka panjang atau diatas lima tahun. Sebab, ekspansi tersebut baru dilakukan setelah perseroan berhasil menguatkan pasar di wilayah Asia Tenggara. “Sedangkan selama lima tahun mendatang perseroan masih akan fokuspada pengembangan pasar di Asi Tenggara,” jelas dia.
Hingga kuartal III 2011, Kalbe Farma mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,07 triliun pada kuartal III 2011. Jumlah tersebut meningkat 18% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 902 miliar. Sedangkan penjualan perseroan mencapai Rp 7,7 triliun. Jumlah tersebut tumbuh meningkat 6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 7,2 triliun.
Vidjongtius memperkirakan kuartal IV pertumbuhan laba dan penjualan akan lebih baik ketimbang kuartal sebelumnya. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan siklus yang selalu terjadi setiap tahunnya. Untuk itu, ia oun optimistis apabila perseroan akan mampu mencapai target penjualan sebanyak Rp 11 triliun atau tumbuh 10% dibandingkan 2010.
“Begitu juga dengan target laba bersih kami yang akan meningkat sebanyak 17-18%,” tambah dia.(iin)
Senin, 09 Januari 2012
Surya Esa Perkasa Bangun Pabrik Amoniak US$ 700 Juta
Surya Esa Perkasa Bangun Pabrik Amoniak US$ 700 Juta
JAKARTA – PT Surya Esa Perkasa Tbk akan membangun pabrik amoniak dengan nilai investasi mencapai US$ 700 juta. Rencananya, pembangunan tersebut akan berlokasi di Luwuk, Sulawesi Tengah dan dilakukan melalui anak usaha perseroan, yaitu PT Panca Amara Utama.
Excutive Director Surya Esa Perkasa Vinod Laroya menjelaskan dana pembangunan tersebut akan berasal dari ekuitas dan pinjaman bank. Biasanya, lanjut dia, untuk proyek tersebut porsi ekuiti akan sebesar 25-30%. Sedangkan selebihnya akan berasal dari pinjaman bank. Ia menjelaskan perseroan sudah memiliki komitmen dengan International Financial Corporation (IFC) yang merupakan anggota dari Grup Bank Dunia. Namun, ia enggan untuk menjelaskan hal tersebut.
“Kami masih mencari pinjaman lainnya, baik bank domestic mapun luar negeri. Kami mencari pinjaman jangka panjang untuk proyek tersebut. Sebab, proyek tersebut membutuhkan waktu yang lama, mulai dari desain hingga engineering,” ungkap Vinod usai paparan public di Jakarta, Senin (9/1).
Sedangkan porsi ekuitas, Vinod menjelaskan calon emiten yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1 Februari 2012 tersebut tidak akan sendirian. Sebab, perseroan akan menggandeng partner dalam proyek tersebut. Namun, ia enggan untuk menyebutkan partner tersebut. Ia hanya menjelaskan parner tersebut nantinya akan menjadi minoritas dalam proyek tersebut. “Kami akan tetap menjadi mayoritas dalam proyek tersebut,” papar dia.
Rencananya, lanjut Vinod, pembangunan pabrik tersebut akan dimulai pada akhir tahun ini dan diperkirakan membutuhkan waktu 33 bulan. Nantinya, tambahnya, pabrik tersebut akan memanfaatkangas bumi dari wilayah kerja blok Senoro-Toili (Dongu-Sonoro) di Sulawesi Tengah. Ia menjelaskan pembangunan pabrik tersebut merupakan strategi perusahaan untuk maju ke depan. Terlebih, lanjut dia, peluang di industri amoniak sangat besar di Indonesia seiring dengan meningkatkan industri kimia tersebut.
“Amoniak merupakan bahan baku pupuk yang menjadi penunjang industri pangan nasional. Mengingat setiap tahun kebutuhan pupuk domestic mencapia 10 juta ton pertahun. Ditambah lagi amoniak juga dipergunakan sebagai bahan baku Amonium Nitrat yang tumbuh sejalan dengan perkembangan industri pertambangan Indonesia,” ujar Vinod.
Tawarkan Rp 450-650 Per Saham
Pada kesempatan yang sama, Managing Director Equator Securities, selaku penjamin emisi (underwriter), David Agus menyebutkan perseroan menawarkan harga saham perdana (initial public offering/IPO) saham di kisaran Rp 450-650 per saham. Sedangkan jumlah saham yang dilepas sebanyak 250 juta saham atau 25% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Dengan demikian, perseroan membidik dana segar dari pasar sebesar Rp 112,5 -162,5 miliar.
Menurut David, harga tersebut dinilai cukup kompetitif mengingat lini bisnis perseroan yang memiliki prospek positif. Ditambah,lanjut dia, belum ada emiten sejenis yang bergerak di sector yang digeluti perseroan. Ia menjelaskan penentuan harga tersebut menggunakan mekanisme discounted cash flow (DCF) yakni mendiskon arus kas masa depan dengan projeksi kinerja pada masa lalu guna mendapatkan nilai wajar perusahaan pada masa depan dilihat dari masa sekarang.
Direktur Keuangan yang juga menjabat Sekretaris Perusahaan Surya Esa Perkasa Isenta Hioe mengatakan Perseroan akan menggunakan 25% dipakai untuk membayar sebagian utang kepada PT Bank UOB Indonesia. Sedangkan 75% dana hasil IPO, lanjut dia, digunakan untuk ekspansi bisnis yakni pengembangan kilang gas perseroan. Dengan ekspansi tersebut, tambah dia, produksi pemurnian has bumi menjadi produk LPG akan meningkat sebesar 50 MT LPG per hari.
“Jumlah tersebut meningkat sekiatr 44% dari kapasitas produksi saat ini, yaitu 113 MT LPG per hari. Untuk pembangunan ini diperkirakan akan selesai pada 2014. Sedangkan selama pembangunan, 2012-2013, diperkirakan membutuhkan dana sebesar US$ 15 juta,” jelas Isenta.
Sedangkan untuk estimasi kinerja, lanjut Isenta, perseroan mengestimasi akan mendapatkan pendapatan sebesar US$ 41 juta pada 2011. Sebab, selama 2011 harga jual gas LPG sangat tinmggi hingga mencapai US$ 842 per metric ton. Namun, lanjut dia, untuk kinerja di tahun ini akan sangat tergantung pada harga LPG. Ia memprediksikan harga di tahun ini hanya akan mencapai US$ 624 per meterik ton. “Kemungkinan pendapatan akan di bawah 2011,” ujar dia.
Analis Waterfront Securities Oktavianus Marbun mengatakan saham Sura Esa Perkasa cukup berprospektif di masa depan. Untuk itu, lanjut dia, saham etrsebut lebih cocok dijadikan sebagi investasi jangka panjang oleh investor. Hal ini disebabkan investasi yang dibutuhkan untuk sector ini sangat besar pada awal investasi. “Hal tersebut karena industri pemurniaan gas tersebut membutuhkan teknoliogi tinggi,” jelas dia.
Hal senada diungkapkan Managing Reseach Indosurya Asset Management Reza Priyambada. Ia menyebutkan saham tersebut sangat berprospek di masa mendatang seiring dengan meningkatnya penggunaan LPG di Indonesia. Namun, lanjut dia, industri tersbeut sangat tergantung pada harga gas dan kontrak yang dimiliki oleh perseroan untuk suplai gas. “Yang perlu diperhatikan adalah kontrak penjualan mereka,” ujar dia.
Sementara itu, Analis Milenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga mengatakan seecara lini usaha emiten ini cukup prospektif. Sebab, lanjut dia, perseroan bergerak di bisnis LPG dan turunnannya. Apalagi saat ini,pemerintah terus mengkampayekan konversi bahan bakar ke gas sehingga mendorong permintaan gas ke depan akan semakin meningkat, termasuk LPG dan turunnya. “Harga saham perdananya juga cukup murah,” tandas dia. (iin)
JAKARTA – PT Surya Esa Perkasa Tbk akan membangun pabrik amoniak dengan nilai investasi mencapai US$ 700 juta. Rencananya, pembangunan tersebut akan berlokasi di Luwuk, Sulawesi Tengah dan dilakukan melalui anak usaha perseroan, yaitu PT Panca Amara Utama.
Excutive Director Surya Esa Perkasa Vinod Laroya menjelaskan dana pembangunan tersebut akan berasal dari ekuitas dan pinjaman bank. Biasanya, lanjut dia, untuk proyek tersebut porsi ekuiti akan sebesar 25-30%. Sedangkan selebihnya akan berasal dari pinjaman bank. Ia menjelaskan perseroan sudah memiliki komitmen dengan International Financial Corporation (IFC) yang merupakan anggota dari Grup Bank Dunia. Namun, ia enggan untuk menjelaskan hal tersebut.
“Kami masih mencari pinjaman lainnya, baik bank domestic mapun luar negeri. Kami mencari pinjaman jangka panjang untuk proyek tersebut. Sebab, proyek tersebut membutuhkan waktu yang lama, mulai dari desain hingga engineering,” ungkap Vinod usai paparan public di Jakarta, Senin (9/1).
Sedangkan porsi ekuitas, Vinod menjelaskan calon emiten yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1 Februari 2012 tersebut tidak akan sendirian. Sebab, perseroan akan menggandeng partner dalam proyek tersebut. Namun, ia enggan untuk menyebutkan partner tersebut. Ia hanya menjelaskan parner tersebut nantinya akan menjadi minoritas dalam proyek tersebut. “Kami akan tetap menjadi mayoritas dalam proyek tersebut,” papar dia.
Rencananya, lanjut Vinod, pembangunan pabrik tersebut akan dimulai pada akhir tahun ini dan diperkirakan membutuhkan waktu 33 bulan. Nantinya, tambahnya, pabrik tersebut akan memanfaatkangas bumi dari wilayah kerja blok Senoro-Toili (Dongu-Sonoro) di Sulawesi Tengah. Ia menjelaskan pembangunan pabrik tersebut merupakan strategi perusahaan untuk maju ke depan. Terlebih, lanjut dia, peluang di industri amoniak sangat besar di Indonesia seiring dengan meningkatkan industri kimia tersebut.
“Amoniak merupakan bahan baku pupuk yang menjadi penunjang industri pangan nasional. Mengingat setiap tahun kebutuhan pupuk domestic mencapia 10 juta ton pertahun. Ditambah lagi amoniak juga dipergunakan sebagai bahan baku Amonium Nitrat yang tumbuh sejalan dengan perkembangan industri pertambangan Indonesia,” ujar Vinod.
Tawarkan Rp 450-650 Per Saham
Pada kesempatan yang sama, Managing Director Equator Securities, selaku penjamin emisi (underwriter), David Agus menyebutkan perseroan menawarkan harga saham perdana (initial public offering/IPO) saham di kisaran Rp 450-650 per saham. Sedangkan jumlah saham yang dilepas sebanyak 250 juta saham atau 25% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh. Dengan demikian, perseroan membidik dana segar dari pasar sebesar Rp 112,5 -162,5 miliar.
Menurut David, harga tersebut dinilai cukup kompetitif mengingat lini bisnis perseroan yang memiliki prospek positif. Ditambah,lanjut dia, belum ada emiten sejenis yang bergerak di sector yang digeluti perseroan. Ia menjelaskan penentuan harga tersebut menggunakan mekanisme discounted cash flow (DCF) yakni mendiskon arus kas masa depan dengan projeksi kinerja pada masa lalu guna mendapatkan nilai wajar perusahaan pada masa depan dilihat dari masa sekarang.
Direktur Keuangan yang juga menjabat Sekretaris Perusahaan Surya Esa Perkasa Isenta Hioe mengatakan Perseroan akan menggunakan 25% dipakai untuk membayar sebagian utang kepada PT Bank UOB Indonesia. Sedangkan 75% dana hasil IPO, lanjut dia, digunakan untuk ekspansi bisnis yakni pengembangan kilang gas perseroan. Dengan ekspansi tersebut, tambah dia, produksi pemurnian has bumi menjadi produk LPG akan meningkat sebesar 50 MT LPG per hari.
“Jumlah tersebut meningkat sekiatr 44% dari kapasitas produksi saat ini, yaitu 113 MT LPG per hari. Untuk pembangunan ini diperkirakan akan selesai pada 2014. Sedangkan selama pembangunan, 2012-2013, diperkirakan membutuhkan dana sebesar US$ 15 juta,” jelas Isenta.
Sedangkan untuk estimasi kinerja, lanjut Isenta, perseroan mengestimasi akan mendapatkan pendapatan sebesar US$ 41 juta pada 2011. Sebab, selama 2011 harga jual gas LPG sangat tinmggi hingga mencapai US$ 842 per metric ton. Namun, lanjut dia, untuk kinerja di tahun ini akan sangat tergantung pada harga LPG. Ia memprediksikan harga di tahun ini hanya akan mencapai US$ 624 per meterik ton. “Kemungkinan pendapatan akan di bawah 2011,” ujar dia.
Analis Waterfront Securities Oktavianus Marbun mengatakan saham Sura Esa Perkasa cukup berprospektif di masa depan. Untuk itu, lanjut dia, saham etrsebut lebih cocok dijadikan sebagi investasi jangka panjang oleh investor. Hal ini disebabkan investasi yang dibutuhkan untuk sector ini sangat besar pada awal investasi. “Hal tersebut karena industri pemurniaan gas tersebut membutuhkan teknoliogi tinggi,” jelas dia.
Hal senada diungkapkan Managing Reseach Indosurya Asset Management Reza Priyambada. Ia menyebutkan saham tersebut sangat berprospek di masa mendatang seiring dengan meningkatnya penggunaan LPG di Indonesia. Namun, lanjut dia, industri tersbeut sangat tergantung pada harga gas dan kontrak yang dimiliki oleh perseroan untuk suplai gas. “Yang perlu diperhatikan adalah kontrak penjualan mereka,” ujar dia.
Sementara itu, Analis Milenium Danatama Asset Management Desmon Silitonga mengatakan seecara lini usaha emiten ini cukup prospektif. Sebab, lanjut dia, perseroan bergerak di bisnis LPG dan turunnannya. Apalagi saat ini,pemerintah terus mengkampayekan konversi bahan bakar ke gas sehingga mendorong permintaan gas ke depan akan semakin meningkat, termasuk LPG dan turunnya. “Harga saham perdananya juga cukup murah,” tandas dia. (iin)
Intiland Investasi Proyek Mixed Use Rp 2 T
Intiland Investasi Proyek Mixed Use Rp 2 T
JAKARTA – PT Intiland Development Tbk (DILD) menyiapkan investasi sebesar Rp 2 triliun pada 2012. Investasi tersebut dialokasikan untuk pembangunan tahap I proyek mixed use di Jakarta Selatan, yaitu South Quarter. Rencananya, pembangunan tahap I proyek tersebut akan dimulai pada kuartal I-2012 dan diperkirakan rampung pada kuartal III-2014.
Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menjelaskan untuk tahap pertama pembangunan akan terdiri dari tiga menara perkantoran. Rencananya, lanjut dia, tahap pertama akan berdiri diatas tanah seluas 4,4 hektar (ha) dari total lahan sebesar 7,1 ha. Namun, ia tidak menyebutkan asal pendanaan untuk proyek tersebut. Ia hanya mengatakan proyek tersebut akan dibangun dalam tiga tahap dan membutuhkan dana yang sangat besar.
“Untuk angka pastinya kami masih menghitung total investasi dari proyek tersebut. Tapi untuk tahap pertama, investasi proyek tersebut mencapai Rp 2 triliun,” ungkap dia kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Archied menambahkan besarnya investasi pembangunan proyek tersebut, perseroan berencana untuk menggandeng partner. Tapi, ia enggan untuk menyebutkan partner yang akan mereka gandeng tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini pihaknya masih berbicara dengan beberapa pihak. Ia pun menjelaskan perseroan akan menggarap superblok di Cengkareng, Jakarta Barat, yaitu Aeropolis.
Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Intiland Development Tbk Theresia Rustandi memperkirakan perseroan akan menyiapkan alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) diatas Rp 1 triliun pada 2012. Rencananya, dana tersebut dialokasikan utnuk berbagai proyek perseroan di empat segmen residential township & estate, high rise & mixed-use development, hospitality, dan industrial estate.
“Perkiraan pasti capex akan lebih dari Rp 1 triliun. Tapi angka final masih belum final. Sebab, banyak proyek yang akan mulai pada tahun depan,” ucap Theresia.
Namun, Theresia masih enggan untuk menyebutkan sumber pendanaan dari capex tersebut. Ia hanya menjelaskan perseroan memutuskan untuk segera meluncurkan sejumlah proyek baru seiring tren pertumbuhan industri properti yang diperkirakan bakal bertumbuh pesat pada 2012. (iin)
JAKARTA – PT Intiland Development Tbk (DILD) menyiapkan investasi sebesar Rp 2 triliun pada 2012. Investasi tersebut dialokasikan untuk pembangunan tahap I proyek mixed use di Jakarta Selatan, yaitu South Quarter. Rencananya, pembangunan tahap I proyek tersebut akan dimulai pada kuartal I-2012 dan diperkirakan rampung pada kuartal III-2014.
Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menjelaskan untuk tahap pertama pembangunan akan terdiri dari tiga menara perkantoran. Rencananya, lanjut dia, tahap pertama akan berdiri diatas tanah seluas 4,4 hektar (ha) dari total lahan sebesar 7,1 ha. Namun, ia tidak menyebutkan asal pendanaan untuk proyek tersebut. Ia hanya mengatakan proyek tersebut akan dibangun dalam tiga tahap dan membutuhkan dana yang sangat besar.
“Untuk angka pastinya kami masih menghitung total investasi dari proyek tersebut. Tapi untuk tahap pertama, investasi proyek tersebut mencapai Rp 2 triliun,” ungkap dia kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Archied menambahkan besarnya investasi pembangunan proyek tersebut, perseroan berencana untuk menggandeng partner. Tapi, ia enggan untuk menyebutkan partner yang akan mereka gandeng tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini pihaknya masih berbicara dengan beberapa pihak. Ia pun menjelaskan perseroan akan menggarap superblok di Cengkareng, Jakarta Barat, yaitu Aeropolis.
Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Intiland Development Tbk Theresia Rustandi memperkirakan perseroan akan menyiapkan alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) diatas Rp 1 triliun pada 2012. Rencananya, dana tersebut dialokasikan utnuk berbagai proyek perseroan di empat segmen residential township & estate, high rise & mixed-use development, hospitality, dan industrial estate.
“Perkiraan pasti capex akan lebih dari Rp 1 triliun. Tapi angka final masih belum final. Sebab, banyak proyek yang akan mulai pada tahun depan,” ucap Theresia.
Namun, Theresia masih enggan untuk menyebutkan sumber pendanaan dari capex tersebut. Ia hanya menjelaskan perseroan memutuskan untuk segera meluncurkan sejumlah proyek baru seiring tren pertumbuhan industri properti yang diperkirakan bakal bertumbuh pesat pada 2012. (iin)
TiPhone Oversuscribed 25 Kali
TiPhone Oversuscribed 25 Kali
JAKARTA – PT TiPhone Mobile Indonesia Tbk kelebihan permintaan selama penawaran umum (polling) sebanyak 25 kali. Dengan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham yang ditetapkan perseroan sebesar Rp 310 per saham. Penawaran umum tersebut dilakukan pada 2-5 Januari 2012. Rencananya, perseroan akan mencatatkan saham dan warrant yang diterbitkan tersebut pada 12 Januari 2012.
“Pada saat polling, TiPhone mengalami oversubscribed sebanyak 25 kali,” ungkap Direktur Sinarmas Securities, selaku penjamin emisi, Andreas S Tjendana kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (9/1).
Sebelumnya, Andreas menjelaskan selama penawaran awal (bookbuilding) TiPhone oversubscribes sebanyak 6 kali. Ia pun menjelaskan institusi asing banyak yang berminat untuk memikiki saham TiPhone selama masa bookbuilding. Namun, ia tidak menyebutkan lebih lanjut mengenai porsi kepemilikan institusi asing tersebut.
Lebih lanjut Andreas menambahkan dalam IPO tersebut perseroan memperkecil porsi saham yang dilepas dari 40,08% menjadi 25% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh senilai 6.675.000.000. Dengan demikian, saham yang dilepas dalam IPO tersebut mencapai 1.668.750.000 saham. Sedangkan dana yang diraup akan menjadi sekitar Rp 517,3 miliar. Menurutnya, pengurangan porsi IPO tersebut dilakukan karena melihat situasi ekonomi saat ini masih belum bagus.
Dalam IPO tersebut, perseroan juga tetap menawarkan waran seri I sebesar 1,33 miliar waran. Setiap pemegang dua saham baru berhak memperoleh satu waran. Waran yang diterbitkan memiliki tenor waktu lima tahun. Nilai nominal masing-masaing saham dan waran sebesar Rp100.
Sementara itu, Komisaris Utama Hengky Setiawan pernah menjelaskan 40% dana raihan IPO teprsebut akan digunakan untuk melunasi seluruh utang anak usaha, PT Telesindo Shop keada PT Bank DBS Indonesia sebesar Rp 360 miliar. Ia juga menjelaskan 28% perluasan usaha perseroan dan anak usaha. Sedangkan sisanya, tambah dia, akan digunakan untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex).
Hengky menjelaskan dengan capex tersebut perseroan akan membangun jaringan distribusi menjadi 250 ribu reseller dari 125 ribu reseller pada saat ini. Ditambah membangun jaringan service center menjadi 130 kota dari 25 kota yang ada saat ini. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga akan mengembangkan jumlah gerai Telesindo Shop dari 200 toko menjadi 350 toko pada tahun depan. “Serta investasi IT untuk pengontrolan dan distribusi produk lebih luas lagi,” tambah dia.
Lebih lanjut Hengky menjelaskan perseroan optimistis pendapatan tahun depan akan mencapai Rp 8 triliun. Jumlah tersebut meningkat 21,2% dibandingkan dengan estimasi pendapatan tahun ini sebesar Rp 6,6 triliun. Sedangkan untuk laba bersih, lanjut dia, perseroan optimistis akan akan mencatatkan peningkatan 29,4% dari estimasi tahun ini sebesar Rp 170 miliar menjadi Rp 220 miliar. (iin)
JAKARTA – PT TiPhone Mobile Indonesia Tbk kelebihan permintaan selama penawaran umum (polling) sebanyak 25 kali. Dengan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham yang ditetapkan perseroan sebesar Rp 310 per saham. Penawaran umum tersebut dilakukan pada 2-5 Januari 2012. Rencananya, perseroan akan mencatatkan saham dan warrant yang diterbitkan tersebut pada 12 Januari 2012.
“Pada saat polling, TiPhone mengalami oversubscribed sebanyak 25 kali,” ungkap Direktur Sinarmas Securities, selaku penjamin emisi, Andreas S Tjendana kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (9/1).
Sebelumnya, Andreas menjelaskan selama penawaran awal (bookbuilding) TiPhone oversubscribes sebanyak 6 kali. Ia pun menjelaskan institusi asing banyak yang berminat untuk memikiki saham TiPhone selama masa bookbuilding. Namun, ia tidak menyebutkan lebih lanjut mengenai porsi kepemilikan institusi asing tersebut.
Lebih lanjut Andreas menambahkan dalam IPO tersebut perseroan memperkecil porsi saham yang dilepas dari 40,08% menjadi 25% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh senilai 6.675.000.000. Dengan demikian, saham yang dilepas dalam IPO tersebut mencapai 1.668.750.000 saham. Sedangkan dana yang diraup akan menjadi sekitar Rp 517,3 miliar. Menurutnya, pengurangan porsi IPO tersebut dilakukan karena melihat situasi ekonomi saat ini masih belum bagus.
Dalam IPO tersebut, perseroan juga tetap menawarkan waran seri I sebesar 1,33 miliar waran. Setiap pemegang dua saham baru berhak memperoleh satu waran. Waran yang diterbitkan memiliki tenor waktu lima tahun. Nilai nominal masing-masaing saham dan waran sebesar Rp100.
Sementara itu, Komisaris Utama Hengky Setiawan pernah menjelaskan 40% dana raihan IPO teprsebut akan digunakan untuk melunasi seluruh utang anak usaha, PT Telesindo Shop keada PT Bank DBS Indonesia sebesar Rp 360 miliar. Ia juga menjelaskan 28% perluasan usaha perseroan dan anak usaha. Sedangkan sisanya, tambah dia, akan digunakan untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex).
Hengky menjelaskan dengan capex tersebut perseroan akan membangun jaringan distribusi menjadi 250 ribu reseller dari 125 ribu reseller pada saat ini. Ditambah membangun jaringan service center menjadi 130 kota dari 25 kota yang ada saat ini. Tidak hanya itu, lanjut dia, perseroan juga akan mengembangkan jumlah gerai Telesindo Shop dari 200 toko menjadi 350 toko pada tahun depan. “Serta investasi IT untuk pengontrolan dan distribusi produk lebih luas lagi,” tambah dia.
Lebih lanjut Hengky menjelaskan perseroan optimistis pendapatan tahun depan akan mencapai Rp 8 triliun. Jumlah tersebut meningkat 21,2% dibandingkan dengan estimasi pendapatan tahun ini sebesar Rp 6,6 triliun. Sedangkan untuk laba bersih, lanjut dia, perseroan optimistis akan akan mencatatkan peningkatan 29,4% dari estimasi tahun ini sebesar Rp 170 miliar menjadi Rp 220 miliar. (iin)
Harga SUN Berpotensi Melemah
Harga SUN Berpotensi Melemah
JAKARTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) berpotensi melemah pada pekan ini. Hal tersebut menyusul investor masih wait and see terhadap perkembangan global, terutama di Eropa. Alhasil, imbal hasil (yield) berpotensi akan naik sebesar 5-20 basis poin (bps).
Selain mewasapadai perkembangan global, investor juga tengah menantikan pengumuman BI rate yang akan dilakukan pada Kamis (12/1). Namun, pelemahan tersebut akan sangat terbatas. Sebab, pada Selasa (10/1) pemerintah akan menggelar lelang yang akan membuat transaksi di pasar sekunder sepi. Lelang tersebut merupaklan yang pertama di lakukan pada 2012 dan setelah Indonesia mendapatkan peringkat Investment Grade dari Fitch Rating. Oleh karena itu, investor lebih memilih untuk masuk pasar primer melalui lelang tersebut.
Demikian rangkuman ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT NC Securities I Made Adi Saputra kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.
Made menjelaskan berdasarkan data inflasi akhir 2011 mengindikasikan bahwa inflasi terkendali dan di bawah target bank indonesia. Dengan demikian, lanjut dia, masih ada ruang bagi BI untuk kembali menurunkan tingkat suku bunga. Namun, ia mengatakan bila BI rate kembali diturunkan akan berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah. DItambah lagi potensi investor asing yang akan keluar dari pasar surat utang. Sebab, yield SUN akan semakin tipis.
“Berdasarrkan hal tersebut, kemungkinan BI Rate akan tetap dipertahankan di level 6%,” ungkap Made.
Sedangkan dari luar negeri, lanjut Made, perkembangan krisis surat utang eropa masih akan di cermati. Meskipun sentimen positif dari Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan perbaikan pada beberapa indikator ekonominya. Made menambahkan yield akan bergerak terbatas. Dengan potensi kenaikan yield obligasi bertenor 5 tahun akan berada pada kisaran 5,3 - 5,35%. Obligasi bertenor 10 tahun akan berada pada kisaran 6,15 - 6,25%. Untuk obligasi bertenor 20 tahun akan berada pada kisaran 7,10 - 7,20%.
“Melihat kondisi tersebut, investor dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan surat utang dengan imbal hasil yang cukup tinggi. Terutama untuk obligasi bertenor panjang yg imbal hasilnya masih di atas 7%,” jelas Made.
Waspada Italia
Sementara itu, Juniman menjelaskan investor harus mewaspadai kondisi Italia yang akan mengalami jatuh tempo pada bulan ini. Hal tersebut mengingat jumlah yang harus dibayarkan Italia sangat besar. Menurut dia, langkah yang ditempuh Italia dalam menyelesaikan masalahnya tersebut akan menjadi hal ini akan menjadi ujian besar bagi Eropa dalam melalui krisis. “Jika penyelesaiannya berlarut, tentu saja akan memepengaruhi obligasi di seluruh dunia,” jelas dia.
Juniman menambahkan kondisi politik di Iran akan menjadi kekhawatiran baru investor untuk masuk ke pasar emerging market. Sebab, lanjut dia, krisis yang terjadi di Negara tersebut akan sangat mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia di tengah kondisi ekonomi AS dan Eropa yang belum bangkit. “Harga minyak akan sangat sensitive mengingat sudah berada di level diatas US$ 100 per barrel,” papar dia.
Lebih lanjut Juniman mengatakan pembatasan bbm dan peningkatan tariff listrik oleh pemerintah akan mengancam kenaikan inflasi pada tahun ini. Dengan rencana tersebut, ia memperkirakan inflasi tahun ini akan berada di kisaran 5,5-6%. Menurutnya, dengan kondisi tersebut yile SUN yang ada saat ini sudah dianggap tidak menarik lagi. Untuk iti, investor pun akan menungu yield berada dikisaran yang diharapkan. “Hal tersebut membuat yield naik 5-20 bps pada semua tenor,” jelas dia. (iin)
JAKARTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) berpotensi melemah pada pekan ini. Hal tersebut menyusul investor masih wait and see terhadap perkembangan global, terutama di Eropa. Alhasil, imbal hasil (yield) berpotensi akan naik sebesar 5-20 basis poin (bps).
Selain mewasapadai perkembangan global, investor juga tengah menantikan pengumuman BI rate yang akan dilakukan pada Kamis (12/1). Namun, pelemahan tersebut akan sangat terbatas. Sebab, pada Selasa (10/1) pemerintah akan menggelar lelang yang akan membuat transaksi di pasar sekunder sepi. Lelang tersebut merupaklan yang pertama di lakukan pada 2012 dan setelah Indonesia mendapatkan peringkat Investment Grade dari Fitch Rating. Oleh karena itu, investor lebih memilih untuk masuk pasar primer melalui lelang tersebut.
Demikian rangkuman ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT NC Securities I Made Adi Saputra kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.
Made menjelaskan berdasarkan data inflasi akhir 2011 mengindikasikan bahwa inflasi terkendali dan di bawah target bank indonesia. Dengan demikian, lanjut dia, masih ada ruang bagi BI untuk kembali menurunkan tingkat suku bunga. Namun, ia mengatakan bila BI rate kembali diturunkan akan berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah. DItambah lagi potensi investor asing yang akan keluar dari pasar surat utang. Sebab, yield SUN akan semakin tipis.
“Berdasarrkan hal tersebut, kemungkinan BI Rate akan tetap dipertahankan di level 6%,” ungkap Made.
Sedangkan dari luar negeri, lanjut Made, perkembangan krisis surat utang eropa masih akan di cermati. Meskipun sentimen positif dari Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan perbaikan pada beberapa indikator ekonominya. Made menambahkan yield akan bergerak terbatas. Dengan potensi kenaikan yield obligasi bertenor 5 tahun akan berada pada kisaran 5,3 - 5,35%. Obligasi bertenor 10 tahun akan berada pada kisaran 6,15 - 6,25%. Untuk obligasi bertenor 20 tahun akan berada pada kisaran 7,10 - 7,20%.
“Melihat kondisi tersebut, investor dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan surat utang dengan imbal hasil yang cukup tinggi. Terutama untuk obligasi bertenor panjang yg imbal hasilnya masih di atas 7%,” jelas Made.
Waspada Italia
Sementara itu, Juniman menjelaskan investor harus mewaspadai kondisi Italia yang akan mengalami jatuh tempo pada bulan ini. Hal tersebut mengingat jumlah yang harus dibayarkan Italia sangat besar. Menurut dia, langkah yang ditempuh Italia dalam menyelesaikan masalahnya tersebut akan menjadi hal ini akan menjadi ujian besar bagi Eropa dalam melalui krisis. “Jika penyelesaiannya berlarut, tentu saja akan memepengaruhi obligasi di seluruh dunia,” jelas dia.
Juniman menambahkan kondisi politik di Iran akan menjadi kekhawatiran baru investor untuk masuk ke pasar emerging market. Sebab, lanjut dia, krisis yang terjadi di Negara tersebut akan sangat mempengaruhi pergerakan harga minyak dunia di tengah kondisi ekonomi AS dan Eropa yang belum bangkit. “Harga minyak akan sangat sensitive mengingat sudah berada di level diatas US$ 100 per barrel,” papar dia.
Lebih lanjut Juniman mengatakan pembatasan bbm dan peningkatan tariff listrik oleh pemerintah akan mengancam kenaikan inflasi pada tahun ini. Dengan rencana tersebut, ia memperkirakan inflasi tahun ini akan berada di kisaran 5,5-6%. Menurutnya, dengan kondisi tersebut yile SUN yang ada saat ini sudah dianggap tidak menarik lagi. Untuk iti, investor pun akan menungu yield berada dikisaran yang diharapkan. “Hal tersebut membuat yield naik 5-20 bps pada semua tenor,” jelas dia. (iin)
Ancol Siap Investasi Rp 3 T
Ancol Siap Investasi Rp 3 T
JAKARTA – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) siap investasi sebesar Rp 3 triliun dalam tiga tahun mendatang. Investasi tersebut merupakan langkah utama perseroan menjadikan Ancol Taman Impian sebagai kawasan wisata modern dan terlengkap se-Asia Tenggara pada 2015.
“Setiap tahunnya akan dialokasikan sebanyak Rp 1 triliun untuk investasi dalam proses transformasi menjadi kawasan wisata modern dan terlengkap di Asia Tenggara. Dalam dua sampi tiga tahun kedepan, wajah dan nuansa kawasan Ancol Taman Impian yang sangat berbeda,” unglap Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi di Jakarta, Rabu (4/12).
Budi menjelaskan dana tersebut akan berasal dari internal, penjualan unit property, pinjaman bank, dan obligasi. Namun, ia masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia hanya mengatakan penerbitan obligasi baru akan memungkinkan dilakukan pada akhir Desember 2012. “Lebih memungkinkan bagi kami untuk melakukan penerbitan obligasi pada akhir tahun ini,” jelas Budi.
Lebih lanjut Budi menambahkan dalam pengembangan Ancol Taman Impian perseroan menggabungkan bisnis, edukasi, dan lifestyle dengan membangun lima proyek. Proyek tersebut adalah Meeting Incentive Convention and Exhibitionist (MICE) membangun Candi Bentar mempunyai daya tampung sampai 4.500 orang, Multipurpose Hall seluas 4.200 m2, auditorium berstandar internasional di lokasi Ancol Beach City berkapasitas 18.000 pengunjung.
Budi menambahkan proyek lainnya adalah wahana edutaiment dan adventure Ocean Park, area pedestrian selebar 8 meter yang disebut dengan Ancol Promenade, dan Property dengan membangun dua apartemen untuk kelas exclusive Marina The Coastal dan Northland Ancol Residence yang merupakan apartemen kelas menengah. “Ditambah dengan proyek Ancol Beach City. Di kawasan itu akan menyediakan berbagai fasilitas pusat hiburan, wisata kuliner, termasuk museum Madame Tussauds seluas 3.000 m2,” papar dia.
Pada 2012, Budi menjelaskan perseroan mengalokasikan investasi sebesar Rp 975 miliar. Dana tersebut digunakan untuk bisnis pariwisata sebesar Rp 339 miliar, properti sebesar Rp 431 miliar, dan lainnya sebesar Rp 202 miliar. Dana tersebut, lanjut dia, akan berasal dari kas internal, penjualan unit property, dan pinjaman bank. Sebelumnya, perseroan telah mendapatkan fasilitas pinjaman dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 200 miliar.
Menurut Budi, pada 2012 Ancol Taman Impian akan mendatangkan 15,5 juta pengunjung. Jumlah tersebut meningkat 6,8% dibandingkan jumlah pengunjung 2011. Pada tahun ini, ia pun optimistis mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 1,2 triliun. Jumlah tersebut meningkat 20% dibandingkan pendapatan tahun ini sebesar Rp 1 triliun. Sedangkan untuk laba, Budi optimistis akan mampu mencatatkan kenaikan sebesar 11% dari Rp 170 miliar menjadi Rp 190 miliar. (iin)
JAKARTA – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) siap investasi sebesar Rp 3 triliun dalam tiga tahun mendatang. Investasi tersebut merupakan langkah utama perseroan menjadikan Ancol Taman Impian sebagai kawasan wisata modern dan terlengkap se-Asia Tenggara pada 2015.
“Setiap tahunnya akan dialokasikan sebanyak Rp 1 triliun untuk investasi dalam proses transformasi menjadi kawasan wisata modern dan terlengkap di Asia Tenggara. Dalam dua sampi tiga tahun kedepan, wajah dan nuansa kawasan Ancol Taman Impian yang sangat berbeda,” unglap Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi di Jakarta, Rabu (4/12).
Budi menjelaskan dana tersebut akan berasal dari internal, penjualan unit property, pinjaman bank, dan obligasi. Namun, ia masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia hanya mengatakan penerbitan obligasi baru akan memungkinkan dilakukan pada akhir Desember 2012. “Lebih memungkinkan bagi kami untuk melakukan penerbitan obligasi pada akhir tahun ini,” jelas Budi.
Lebih lanjut Budi menambahkan dalam pengembangan Ancol Taman Impian perseroan menggabungkan bisnis, edukasi, dan lifestyle dengan membangun lima proyek. Proyek tersebut adalah Meeting Incentive Convention and Exhibitionist (MICE) membangun Candi Bentar mempunyai daya tampung sampai 4.500 orang, Multipurpose Hall seluas 4.200 m2, auditorium berstandar internasional di lokasi Ancol Beach City berkapasitas 18.000 pengunjung.
Budi menambahkan proyek lainnya adalah wahana edutaiment dan adventure Ocean Park, area pedestrian selebar 8 meter yang disebut dengan Ancol Promenade, dan Property dengan membangun dua apartemen untuk kelas exclusive Marina The Coastal dan Northland Ancol Residence yang merupakan apartemen kelas menengah. “Ditambah dengan proyek Ancol Beach City. Di kawasan itu akan menyediakan berbagai fasilitas pusat hiburan, wisata kuliner, termasuk museum Madame Tussauds seluas 3.000 m2,” papar dia.
Pada 2012, Budi menjelaskan perseroan mengalokasikan investasi sebesar Rp 975 miliar. Dana tersebut digunakan untuk bisnis pariwisata sebesar Rp 339 miliar, properti sebesar Rp 431 miliar, dan lainnya sebesar Rp 202 miliar. Dana tersebut, lanjut dia, akan berasal dari kas internal, penjualan unit property, dan pinjaman bank. Sebelumnya, perseroan telah mendapatkan fasilitas pinjaman dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 200 miliar.
Menurut Budi, pada 2012 Ancol Taman Impian akan mendatangkan 15,5 juta pengunjung. Jumlah tersebut meningkat 6,8% dibandingkan jumlah pengunjung 2011. Pada tahun ini, ia pun optimistis mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 1,2 triliun. Jumlah tersebut meningkat 20% dibandingkan pendapatan tahun ini sebesar Rp 1 triliun. Sedangkan untuk laba, Budi optimistis akan mampu mencatatkan kenaikan sebesar 11% dari Rp 170 miliar menjadi Rp 190 miliar. (iin)
Ancol Siap Investasi Rp 3 T
Ancol Siap Investasi Rp 3 T
JAKARTA – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) siap investasi sebesar Rp 3 triliun dalam tiga tahun mendatang. Investasi tersebut merupakan langkah utama perseroan menjadikan Ancol Taman Impian sebagai kawasan wisata modern dan terlengkap se-Asia Tenggara pada 2015.
“Setiap tahunnya akan dialokasikan sebanyak Rp 1 triliun untuk investasi dalam proses transformasi menjadi kawasan wisata modern dan terlengkap di Asia Tenggara. Dalam dua sampi tiga tahun kedepan, wajah dan nuansa kawasan Ancol Taman Impian yang sangat berbeda,” unglap Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi di Jakarta, Rabu (4/12).
Budi menjelaskan dana tersebut akan berasal dari internal, penjualan unit property, pinjaman bank, dan obligasi. Namun, ia masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia hanya mengatakan penerbitan obligasi baru akan memungkinkan dilakukan pada akhir Desember 2012. “Lebih memungkinkan bagi kami untuk melakukan penerbitan obligasi pada akhir tahun ini,” jelas Budi.
Lebih lanjut Budi menambahkan dalam pengembangan Ancol Taman Impian perseroan menggabungkan bisnis, edukasi, dan lifestyle dengan membangun lima proyek. Proyek tersebut adalah Meeting Incentive Convention and Exhibitionist (MICE) membangun Candi Bentar mempunyai daya tampung sampai 4.500 orang, Multipurpose Hall seluas 4.200 m2, auditorium berstandar internasional di lokasi Ancol Beach City berkapasitas 18.000 pengunjung.
Budi menambahkan proyek lainnya adalah wahana edutaiment dan adventure Ocean Park, area pedestrian selebar 8 meter yang disebut dengan Ancol Promenade, dan Property dengan membangun dua apartemen untuk kelas exclusive Marina The Coastal dan Northland Ancol Residence yang merupakan apartemen kelas menengah. “Ditambah dengan proyek Ancol Beach City. Di kawasan itu akan menyediakan berbagai fasilitas pusat hiburan, wisata kuliner, termasuk museum Madame Tussauds seluas 3.000 m2,” papar dia.
Pada 2012, Budi menjelaskan perseroan mengalokasikan investasi sebesar Rp 975 miliar. Dana tersebut digunakan untuk bisnis pariwisata sebesar Rp 339 miliar, properti sebesar Rp 431 miliar, dan lainnya sebesar Rp 202 miliar. Dana tersebut, lanjut dia, akan berasal dari kas internal, penjualan unit property, dan pinjaman bank. Sebelumnya, perseroan telah mendapatkan fasilitas pinjaman dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 200 miliar.
Menurut Budi, pada 2012 Ancol Taman Impian akan mendatangkan 15,5 juta pengunjung. Jumlah tersebut meningkat 6,8% dibandingkan jumlah pengunjung 2011. Pada tahun ini, ia pun optimistis mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 1,2 triliun. Jumlah tersebut meningkat 20% dibandingkan pendapatan tahun ini sebesar Rp 1 triliun. Sedangkan untuk laba, Budi optimistis akan mampu mencatatkan kenaikan sebesar 11% dari Rp 170 miliar menjadi Rp 190 miliar. (iin)
JAKARTA – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) siap investasi sebesar Rp 3 triliun dalam tiga tahun mendatang. Investasi tersebut merupakan langkah utama perseroan menjadikan Ancol Taman Impian sebagai kawasan wisata modern dan terlengkap se-Asia Tenggara pada 2015.
“Setiap tahunnya akan dialokasikan sebanyak Rp 1 triliun untuk investasi dalam proses transformasi menjadi kawasan wisata modern dan terlengkap di Asia Tenggara. Dalam dua sampi tiga tahun kedepan, wajah dan nuansa kawasan Ancol Taman Impian yang sangat berbeda,” unglap Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi di Jakarta, Rabu (4/12).
Budi menjelaskan dana tersebut akan berasal dari internal, penjualan unit property, pinjaman bank, dan obligasi. Namun, ia masih enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia hanya mengatakan penerbitan obligasi baru akan memungkinkan dilakukan pada akhir Desember 2012. “Lebih memungkinkan bagi kami untuk melakukan penerbitan obligasi pada akhir tahun ini,” jelas Budi.
Lebih lanjut Budi menambahkan dalam pengembangan Ancol Taman Impian perseroan menggabungkan bisnis, edukasi, dan lifestyle dengan membangun lima proyek. Proyek tersebut adalah Meeting Incentive Convention and Exhibitionist (MICE) membangun Candi Bentar mempunyai daya tampung sampai 4.500 orang, Multipurpose Hall seluas 4.200 m2, auditorium berstandar internasional di lokasi Ancol Beach City berkapasitas 18.000 pengunjung.
Budi menambahkan proyek lainnya adalah wahana edutaiment dan adventure Ocean Park, area pedestrian selebar 8 meter yang disebut dengan Ancol Promenade, dan Property dengan membangun dua apartemen untuk kelas exclusive Marina The Coastal dan Northland Ancol Residence yang merupakan apartemen kelas menengah. “Ditambah dengan proyek Ancol Beach City. Di kawasan itu akan menyediakan berbagai fasilitas pusat hiburan, wisata kuliner, termasuk museum Madame Tussauds seluas 3.000 m2,” papar dia.
Pada 2012, Budi menjelaskan perseroan mengalokasikan investasi sebesar Rp 975 miliar. Dana tersebut digunakan untuk bisnis pariwisata sebesar Rp 339 miliar, properti sebesar Rp 431 miliar, dan lainnya sebesar Rp 202 miliar. Dana tersebut, lanjut dia, akan berasal dari kas internal, penjualan unit property, dan pinjaman bank. Sebelumnya, perseroan telah mendapatkan fasilitas pinjaman dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 200 miliar.
Menurut Budi, pada 2012 Ancol Taman Impian akan mendatangkan 15,5 juta pengunjung. Jumlah tersebut meningkat 6,8% dibandingkan jumlah pengunjung 2011. Pada tahun ini, ia pun optimistis mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 1,2 triliun. Jumlah tersebut meningkat 20% dibandingkan pendapatan tahun ini sebesar Rp 1 triliun. Sedangkan untuk laba, Budi optimistis akan mampu mencatatkan kenaikan sebesar 11% dari Rp 170 miliar menjadi Rp 190 miliar. (iin)
Pan Brothers Siapkan Capex US$ 6 Juta
Pan Brothers Siapkan Capex US$ 6 Juta
JAKARTA – PT Pan Brothers Tbk (PBRX) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) US$ 6 juta pada 2012. Rencananya, dana tersebut dialokasikan untuk pembelian mesin special tambahan untuk pabrik di Tangerang (Banten) maupun Boyolali (Jawa Tengah). sebagai kelanjutan ekspansi yang dilakukan pada 2011.
Sekretaris Perusahaan Pan Brothers Iswar Deni mengatakan capex tersebut masih betul pasti. Ia mengatakan capex tersebut masih bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu. Ia pun menjelaskan samapi saat ini belum menentukan asal dana capex tersebut. “Sebab, penentuan tersebut sangat tergantung dari cost of finance,” ungkap Iswar di Jakarta, Kamis (5/12).
Direktur Pan Brothers Fitri R Hartono mengatakan pendanaan capex akan berasal dari sisa pelepasan saham baru (rights issue) yang didapatkan perseroan pada Januari 2011. Kala itu, PT Pan Brothers Tbk (PBRX) melakukan right issue senilai Rp 701,57 miliar. “Saat ini, kami masih memiliki sisa hasil rights issue yang dilakukan pada tahun lalu,” tambah Fitri.
Fitri menambahkan ekspansi untuk pabrik di Boyolali baru akan selesai pada kuartal I 2012. Dengan demikian, lanjut dia, kemungkinan besar pabrik tersebut masih akan berproduksi 50% dari kapasitas produksi selama semester I. Sebab, selama itu perseroan masih melakukan persiapan produksi, diantaranya perekrutan dan pelatihan karyawan.
“Baru di semester II akan berproduksi 100% kapasitas penuh dalam ekspansi di Boyolali,” papar Fitri.
Meskipun demikian, Fitri menegaskan ekspansi dari pabrik tersebut akan menyumbangkan pendapatan yang besar bagi perseroan. Ditambah lagi, lanjut dia, adanya peningkatan dari penjualan kedua anak usaha perseroan, yaitu PT Pancaprima Ekabrothers dan PT Hollit Internasional. “Untuk itu, pada 2012 diperkirakan pendapatan akan meningkat 20-30% dibandingkan dengan estimasi pendapatan tahun ini sebesar US$ 250 juta,” ujarnya. (iin)
JAKARTA – PT Pan Brothers Tbk (PBRX) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) US$ 6 juta pada 2012. Rencananya, dana tersebut dialokasikan untuk pembelian mesin special tambahan untuk pabrik di Tangerang (Banten) maupun Boyolali (Jawa Tengah). sebagai kelanjutan ekspansi yang dilakukan pada 2011.
Sekretaris Perusahaan Pan Brothers Iswar Deni mengatakan capex tersebut masih betul pasti. Ia mengatakan capex tersebut masih bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu. Ia pun menjelaskan samapi saat ini belum menentukan asal dana capex tersebut. “Sebab, penentuan tersebut sangat tergantung dari cost of finance,” ungkap Iswar di Jakarta, Kamis (5/12).
Direktur Pan Brothers Fitri R Hartono mengatakan pendanaan capex akan berasal dari sisa pelepasan saham baru (rights issue) yang didapatkan perseroan pada Januari 2011. Kala itu, PT Pan Brothers Tbk (PBRX) melakukan right issue senilai Rp 701,57 miliar. “Saat ini, kami masih memiliki sisa hasil rights issue yang dilakukan pada tahun lalu,” tambah Fitri.
Fitri menambahkan ekspansi untuk pabrik di Boyolali baru akan selesai pada kuartal I 2012. Dengan demikian, lanjut dia, kemungkinan besar pabrik tersebut masih akan berproduksi 50% dari kapasitas produksi selama semester I. Sebab, selama itu perseroan masih melakukan persiapan produksi, diantaranya perekrutan dan pelatihan karyawan.
“Baru di semester II akan berproduksi 100% kapasitas penuh dalam ekspansi di Boyolali,” papar Fitri.
Meskipun demikian, Fitri menegaskan ekspansi dari pabrik tersebut akan menyumbangkan pendapatan yang besar bagi perseroan. Ditambah lagi, lanjut dia, adanya peningkatan dari penjualan kedua anak usaha perseroan, yaitu PT Pancaprima Ekabrothers dan PT Hollit Internasional. “Untuk itu, pada 2012 diperkirakan pendapatan akan meningkat 20-30% dibandingkan dengan estimasi pendapatan tahun ini sebesar US$ 250 juta,” ujarnya. (iin)
Langganan:
Komentar (Atom)