Selasa, 23 Agustus 2011

IPO Krakatau Wajatama Semester I 2012

IPO Krakatau Wajatama Semester I 2012

JAKARTA – PT Krakatau Wajatama, anak usaha PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) berencana untuk menggelar penawaran umum perdanaan (initial public offering/IPO) pada semester I 2011. Rencananya, dana hasil IPO tersebut digunakan untuk ekspansi perusahaan di masa mendatang.

Vice President Corporate Communication Krakatau Steel Wawan Hernawan mengatakan sampai saat ini perseroan masih mengkaji jumlah investasi dan kapasitas produksi yang dibutuhkan di masa mendatang tersebut. Sedangkan saat ini kapasitas produksi Krakatau Wajatama baru mencapai 10 ribu ton per bulan. Ia hanya mengatakan dengan ekspansi kapasitas tersebut diharapkan di masa mendatang Krakatau Wajatama mampu menguasai pasar long product atau baja kontruksi.

“Hal tersebut karena saat ini anak perusahaan kami tersebut baru menguasai sekitar 10-15% pangsa pasar Indonesia. Terlebih banyak pesaing yang bermain di produk tersebut,” ungkap Wawan di sela media gathering di Jakarta, Selasa (23/8)

Wawan mengatakan sebelum melakukan IPO tersebut perseroan masih akan membenahi kondisi perseroan. Bahkan, lanjut dia, dalam waktu dekat perseroan akan mendatangkan mesin-mesin baru dalam rangka revitalisasi mesin. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nilai investasi yang dibutuhkan dalam revitalisasi tersebut. Hqal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kinerja anak usaha perseroan tersebut.

“Untuk itu, hingga saaat ini perseroan masih belum menunjuk penasehat serta penjamin emisi (underwriter),” jelas Wawan.

Sebelumnya, Direktur Utama Krakatau Steel Fazwar Bujang mengatakan perseroan investasi sebesar US$ 10 juta selama kuartal III 2011 dalam rangka persiapan IPO Krakatau Wajatama. Ia mengatakan jika sebelumnya hanya 10-11 ribu ton perbulan, setelah peningkatan tersebut meningkat menjadi 15 ribu ton perbulan. Peningkatan produksi tersebut, lanjut dia, dilakukan pada Juni-Juli 2011. Ia memperkirakan peningkatan produksi tersebut selesai pada akhir Agustus.

Fazwar menambahkan selain produk tersebut Krakatau Wajatama juga akan memproduksi produk baru, yaitu long core ribas atau besi beton dengan grips system course. Ia menambahkan selama ini Krakatau Wajatama memberikan kontribusi kepada pendapatan perseroan sebanyak 10%. (iin)

Multistrada Gandeng Investor Jepang Bentuk JV

Akuisisi 33 Ribu Hektar Lahan Karet
Multistrada Gandeng Investor Jepang Bentuk JV

JAKARTA - PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) akan menggandeng investor asal Jepang untuk membentuk Joint Venture (JV) pada tahun ini. Pembentukan JV tersebut bertujuan untuk mengembangkan lahan karet sebanyak 33 ribu hektar yang telah berhasil diakuisisi perseroan di Kalimantan Timur.  

Sumber Invetor Daily mengungkapkan dalam JV tersebut, Multistrada akan menjadi mayoritas dengan minimal penguasaan saham sebesar 51%. Menurut sumber, perusahaan asal Jepang yang digandeng oleh perseroan bergerak di bidang trading. Namun, sumber mengaku belum dapat menjelaskan lebih lanjut mengenai pembentukan JV tersebut. Ia hanya menjelaskan investor Jepang tersebut berhasil menyisihkan investor asal Korea Selatan (Korsel), dan Amerika Serikat (AS).

“Pembentukan JV ini akan dilakukan dalam waktu dekat. Oleh karena itu. perseroan diperkirakan belum akan mengungkapkan nilai akuisisi lahan. Sebab, saat ini perseroan masih dalam hal tersebut dikhawatirkan akan mengganggu proses terbentuknya JV tersebut,” ungkap sumber di Jakarta, Senin (22/8).

Ketika dikonfirmasi mengenai kabar tersebut, Presiden Direktur Multistrada Arah Sarana Pieter Tanuri enggan untuk berkomentar. Meskipun demikian, ia tidak membantah apabila perseroan melalui anak usaha, PT PT Multistrada Agro Internasional, telah berhasil mengakuisisi lahan sebanyak 33 ribu hektar. “Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Kemungkinan setelah Lebaran baru bisa kami ungkapkan,” papar Pieter.

Hal senada diungkapkan Direktur Multistrada Arah Sarana Uthan M Arief Sadikin. Ia mengatakan akuisisisi tersebut dilakukan oleh anak usaha perseroan tersebut. Ia pun mengatakan secara legal transaksi tersebut masih berjalan.  “Saat ini proses akuisisi lahan tersebut masih dalam proses. Kami pun belum bisa memberikan penjelasan mengenai hal tersebut,” tegas Uthan.

Sebelumnya, Pieter mengatakan akuisisi lahan karet dilakukan untuk mengamankan pasokan ban. Sebab, lanjut dia, harga karet dalam beberapa bulan terakhir selalu menguat. Ia menjelaskan dalam pengembangan lahan karet tersebut membutuhkan dana sebesar US$5.000-US$7.000 per hektar. Melihat investasi yang sangat besar tersebut, Pieter tengah mempertimbangkan opsi untuk mencari partner atau lebih memilih pendanaan utang lainnya. 

“Dalam pertimbangan ini, kami menunjuk HSBC sebagai penasehat keuangan. Rencananya, bulan depan sudah bisa mendapatkan hasil dari pertimbangan tersebut,” jelas Pieter. 

Managing Research PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada pernah mengatakan perseroan harus memperhatikan sumber pendanaan daalm ekspansi tersebut. Sebab, lanjut dia, perseroan harus bisa menurunkan biaya produksi demi mengimbangi kenaikan harga bahan baku. Hal ini terlihat dengan lebih tingginya pertumbuhan  beban penjualan dan kewajiban dibandingkan pendapatan pada 2010. Jika penjualan 2010 18%, sedangkan beban penjualan naiknya 19% dan kewajiban 30,94%. 

“Hal tersebut berati kewajiban naik melebihi kenaikan pendapatan. Untuk itu, langkah perseroan untuk mengakuisisi lahan karet sangat tepat. Sebab, langkah tersebut dapat nmengefisienkan dan menekan beban pokok produksi perseroan,” tandas Reza.(iin)

Senin, 22 Agustus 2011

Nusantara Infrastructure Jaminkan Saham Rp 1 T

Nusantara Infrastructure Jaminkan Saham Rp 1 T

JAKARTA - PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) menjaminkan saham di empat anak perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung, kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 1 triliun. Penjaminan tersebut dilakukan untuk mendapatkan pinjaman BCA dalam rangka refinancing utang keempat anak usaha kepada PT Bank Mega Tbk (MEGA) dan Bank Syariah Mega Indonesia sebesar Rp 740 miliar.

Keempat anak usaha perseroan tersebut adalah PT Bosowa Marga Nusantara dan PT Jalan Tol Seksi Empat di Makassar. Serta dua lainnya terletak di Jakarta seperti PT Bintaro serpong Damai, dan PT Jakarta Lingkar Barat Satu.

Direktur Utama Nusantara Infrastructure Ramdani Basri mengatakan penjaminan tersebut telah mendapatkan persertujuan dari pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) yang diselenggarakan pada 22 Agustus 2011. Dalam RUPS LB tersebut dihadiri oleh 78% pemegang saham dari total saham yang beredar sebanyak 13,68 miliar lembar saham.

“Dengan pengelolaan pendanaan yang solid dan dukungan pemegang saham, perseroan akan mampu terus menambah portofolio ke bidang diluar jalan tol, diantaranya pelabuhan dan air bersih,” ungkap Ramdani usai RUPS LB di Jakarta, Senin (22/8).

Direktur Nusantara Infrastructure Danni Hasan menjelaskan pinjaman dari BCA tersebut memiliki tenor yang sama dengan Bank Mega dan Syariah Mega, yaitu delapan tahun. Meskipun demikian, lanjut dia, pinjaman BCA menawarkan bunga yang lebih kompetitif yaitu 9,75% . Sedangkan utang sebelumnya memiliki bunga sebesar 14%. Berdasarkan hitungan tersebut, ia mengatakan perseroan telah mampu menurunkan bunga sebesar 3,25%.

Danni menambahkan setiap 1% penurunan bunga, perseroan dapat menekan beban bunga sebesar Rp 7,5 miliar. Jadi, tambah dia, dengan penurunan bunga sebesar 3,25% perseroan mampu memangkas beban bunga mencapai Rp 25 miliar. “Jumlah tersebut merupakan 25% dari total beban bunga yang harus kami tanggung dalam satu tahun sebesar Rp 100 miliar. Dengan demikian, beban bunga akan turun siginifikan dan membuka peluang pencatatan laba bersih pada tahun buku 2012,” papar dia.  

Namun, lanjut Danni, pada tahun ini perseroan diprediksi belum akan membukukan laba bersih. Sebab, pada tahun ini terdapat jalan tol yang baru beroperasi, ruas tol Lingkar Barat 1 Kebon Jeruk-Penjaringan, sehingga masih mencatatkan kerugian sebesar Rp 11 miliar. Meskipun demikian, ia optimistis pada akhir tahun ini laba usaha perseroan akan menembus Rp 100 miliar. Jumlah tersebut meningkat 47% dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp 68 miliar.

“Hingga akhir Juli saja, tercatat laba usaha kami telah tercatat sebesar Rp 51 miliar. Pencapaian tersebut naik 25% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu,” ucap Danni.

Sedangkan untuk pendapatan, Danni memprediksi pada akhir tahun perseroan akan naik sebesar 33% menjadi Rp 250 miliar dari Rp 187 miliar. Menurut dia, kenaiakn tersebut didukung oleh peningkatan volume kendaraan sebesar 30% menjadi 60 juta kendaraan. Ditambah lagi, lanjut dia, dengan adanya kenaiakn tariff tol sebesar 15% yang diperkirakan akan mulai diberlakukan pada September mendatang.

Raih Tiga Akuisisi

Managing Director Nusantara Infrastructure Bernadus Djonoputro mengatakan perseroan optimistis akan berhasil mendapatkan tiga akuisisi pada akhir tahun mendatang. Ia menjelaskan akuisisi tersebut terdiri dari sebuah pelabuhan yang telah beroperasi di Sumatera, serta dua perusahaan pengolaan air yang ada di kota besar di Jawa. Namun, ia enggan untuk menyebutkan lebih detail nama dan dana yang dibutuhkan dalam akusisi tersebut.

Bernadus hanya mengatakan dengan tiga akuisisi tersebut, nilai aset yang dimiliki perseroan akan menjadi Rp 3-4 triliun. Sedangkan pada akhir 2010, lanjut dia, nilai aset yang dimiliki perseroan sebesar Rp 1,9 triliun. “Saat ini kami masih dalam proses negosiasi untuk pelabuhan. Sedanngkan dua perusahaan air tersebut masih tahap due diligence,. Meskipun demikian, kami optimistis akhir tahun akan berhasil mendapatkan tiga akuisisi tersebut” tambah dia.

Sementara itu, Danni menambahkan proses akuisisi pelabuhan hampir selesai closing transaksi. Ia pun memperkirakan akan terjadi eksekusi akuisisi pada Oktober mendatang. Untuk itu, lanjut dia, perseroan pun membentuk anak usaha baru yang akan menaungi divsi pelabuhan dan transportasi dengan nama Portco. Saat ini, tambah dia, pemebntukan anak usaha tersebut dalam proses perijinannya masih di Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Laut di Kementerian Perhubungan.

“Dengan ijin tersebut, anak usaha tersebut akan mempunyai ijin mengoperasikan pelabuhan di seluruh Indonessia,” jelas Danni.

Sebelumnya, Ramdani mengatakan perseroan siap investasi sebesar US$ 250 juta pada tahun ini. Investasi tersebut dialokasikan untuk divisi baru perseroan yang menggarap sektor transportasi dan pelabuhan. Hal ini seiring dengan target perseroan untuk menjadi perusahaan investasi infrastruktur disamping jalan tol.

Analis Samuel Sekuritas Adrianus Bias pernah mengatakan berbagai proyek infrastruktur yang dibidik perseroan saat ini sangat positif. Ia bahkan memperkirakan proyek tersebut akan meningkatkan kinerja perseroan secara signifikan dimasa mendatang. “Sebab, jika perseroan hanya mendalkan pendapatan dari bisnis jalan tol, pertumbuhannya tidak akan besar,” papar Adrianus. (iin)

Bakrie Brother Kurangi Saham Bakrie Telecom

Bakrie Brother Kurangi Saham Bakrie Telecom

JAKARTA – PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) akan mengurangi porsi kepemilikan saham di PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dalam waktu dekat ini. Rencananya, perseroan hanya akan memegang porsi dibawah 30% dari 45%. 

Direktur Utama Bakrie Brothers Bobby Gaffur Umar menjelaskan mekanisme pengurangan kepemilikan saham tersebut melalui fund management yang akan dibentuk perseroan dalam waktu dekat. “Jadi sekonsolidasi tersebut bukan melalui penjualan. Untuk itu, kami sedang berbicara dengan beberapa investor asing. Tadinya, kita mau cepat untuk melakukan itu, tapi saat ini kondisi global masih belum stabil,” ungkap Bobby di Jakarta, Jumat (18/8).

Bobby mengatakan saat ini perseroan memiliki 45% kepemilikan saham di Bakrie Telecom. Padahal, lanjut dia, pada semester I 2011 Bakrie Telecom merupakan satu-satunya perusahaan yang masih didekonsolidasikan dengan perseroan. Ia memaparkan menjelaskan pelepasan saham tersebut sejalan kebijakan perseroan untuk mendekonsolidasikan semua perusahaan public yang dimiliki. Hal tersebut, lanjut dia, dilakukan agar dapat mengajak investor untuk dapat ikut investasi di portofolio perusahaan terbuka tersebut.

“Bakrie Telecom masih sangat menjanjikan di masa-masa mendatang. Terlebih saat ini perusahaan telekomunikasi tersebut tengah melakukan investasi untuk layanan data dan juga focus pada pengembangan 4G,” papar Bobby.

Pada laporan keuangan semester I 2011, Bakrie Brothers hanya mengkonsolidasikan Bakrie Telecom dalam kinerja mereka. Hal tersebut karena kepemilikan perseroan telah berkurang dalam empat perusahaan terbuka, seperti pemilikan PT Bakrie Sumatera Plantation  Tbk (INSP) hanya sebesar 28,9%, PT Bakrie Land Development Tbk (8,14%), PT Energy Mega Tbk (8,75%), dan Bumi Plc (23%).

Direktur Keuangan Bakrie Brothers Eddy Soeparno menjelaskan pengurangan kepemilikan tersebut terkait dengan kebijakan debt asset settlement untuk membayar utang jangka panjang perseroan senilai Rp 3,3 triliun pada tahun ini. Padahal, lanjut dia, utang tersebut baru akan jatuh tempo pada tahun depan. Dalam melakukan kebijakan tersebut, ia menjelaskan perseroan menyerahkan penjualan kepada Piper Price Company (PPC).

Untuk tahap pertama, lanjut Eddy, perseroan telah berhasil mengurangi utang perseroan sebanyak Rp 1,2 triliun. Sedangkan sisanya, lanjut dia, akan dilakukan pada kuartal III ini. Meskipun demikian, Eddy memastikan kepemilikan saham di lima perusahaan terbuka perseroan tersebut tidak akan mengalami pengurangan. Sebab, lanjut dia, jumlah kepemilikan yang dialokasikan untuk melaksanakan kebijakan debt asset settlement telah dilakukan perseroan pada dua tahun lalu. “Kala itu, kami persiapkan nilai asset mencapai Rp 5 triliun,” jelas dia.

Gandeng Investor Jepang

Pada kesempatan yang sama, Bobby menjelaskan pihaknya akan menggandeng investor asal Jepang untuk masuk dalam proyek PLTU Tanjung Jati A senilai US$ 2 miliar. Sebelumnya, lanjut dia, perseroan telah menggandeng investor asal Korea Selatan Samsung untuk menggarap proyek tersebut.  Ia mengatakn masuknya investor jepang tersebut membuka peluang untuk mendapatkan pendanaan dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC).

“Dengan pendanaan dari JIBC akan lebih murah dan malah bisa samapu 15 tahun tenornya. Saat ini, sudah ada investor Jepang yang tertarik,” papar Bobby. Tapi, ia enggan untuk menyebutkan nama investor tersebut. 

Sementara itu, Eddy mengatakan untuk mendapatkan peluang pembiayaan dari JBIC tersebut setidakanya perseroan mengalokasikan porsi minimal 30% untuk investor asing. Untuk itu, tambah dia,  perseroan masih belum menentukan hal tersebut. Hal ini ditambah lagi dengan keingina nSamsung untuk menambah posri kepemilikan mereka dibandingkan saat ini yang hanya 10%. Meskipun demikian, ia memastikan perseroan masih akan memiliki porsi mayorotas dalam konsorsium tersebut. (iin)

Minggu, 21 Agustus 2011

Jasa Marga Siap Investasi Rp 20 T

Tambah Jalan Tol 200 Km
Jasa Marga Siap Investasi Rp 20 T

JAKARTA – PT Jasa Marga TBk (JSMR) menargetkan untuk menambah jalan tol sebanyak 150-200 km. Dengan nilai investasi diperkirakan mencapai Rp 15-20 triliun. Rencananya, mekanisme penambahan tersebut akan dilakukan melalui akuisisi beberapa ruas tol yang mangkrak, baik trans Jawa maupun tol lingkat di beberapa kota besar.

Direktur Utama Jasa Marga Frans S Sunito menjelaskan penambahan jalan tol tersebut masih sesuai dengan kapasitas perseroan dalam melakukan pembangunan serta pendanaan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan lebih rinci ruas tol yang sedang dibidik dan target pelaksanaan akusisi tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini masih dalam proses pembicaraan.

“Yang jelas focus kami akuisisi adalah proyek tol Trans Jawa dan lingkar kota besar. Kebanyakan yang akan kami bidik tersebut masih green field,” ungkap Frans di Jakarta, Minggu (21/8).  

Frans mengatakan sumber pendanaan tersebut berasal dari ekuitas dan pinjaman bank dengan porsi 30:70. Namun, lanjut dia, pendaaan baru akan dilakukan setelah akuisisi yang dibidik perseroan berhasil. Meskipun demikian, ia menegaskan perseroan hanya akan mencari pinjaman dari bank local. Ia hanya mengatakan pinjaman tidak akan menjadi masalah untuk peroan, Sebab, tambah dia, saat ini posisi debt to equity ratio (DER) perseroan masih 1:1.

“Karena utang kami sebesar Rp 9 triliun, sedangkan ekuity yang kami punyai lebih dari Rp 8 triliun,” ucap Frans.

Lebih lanjut Frans mengatakan tahun ini saja perseroan telah berhasil menambah jalan tol sepanjang 215 km dengan total investasi sebesar Rp 25 triliun. Ia memaparkan total jalan tol yang dimiliki perseroan menjadi 750 km. Jumlah tersebut, tambah dia, termasuk ruas tol Gempol-Pandaan yang baru mereka akuisisi pada kuartal II lalu. Ia memperkirakan penambahan jalan tol tersebut akan selesai pada 2014. “Dengan catatan, pembebasan lahan berjalan sesuai rencana,” tegas dia. 

Sebelumnya, Frans pernah mengatakan mengatakan saat ini perseroan tengah membidik akuisisi tiga atau empat ruas jalan tol. ia menyebutkan ruas tol tersebut adalah tol dalam kota Surabaya, JORR Way II, dan dua ruas tol Trans Jawa. Dari seluruh ruas tol tersebut, Frans mengatakan baru tol dalam kota Surabaya yang hampir mendekati tahap final akuisisi. Namun, lanjut dia, ruas tersebut masih terkendala dengan rute yang belum ditentukan. 

Pada kesempatan yang sama, Frans mengatakan pada Oktober 2011 perseroan akan mulai membangun ruas tol Serangan-Tanjung Benoa, Bali (11,5km). Dalam pembangunan tersebut, perseroan membentuk konsorsium yang terdiri dari beberapa perusahaan BUMN. Sedangkan Jasa Marga memiliki porsi 60% kepemilikan saham, serta PT Pelindo III (20%), PT Angkasa Pura I (10%), PT Wijaya Karya Tbk (5%), PT Hutama Karya (2%), PT Adhi Karya Tbk (2%), serta PT Bali Tourism Development Centre (BUMD milik Pemprov Bali, sebesar 1%).

Menurut Frans, pada Senin (22/8) seluruh perusahaan BUMN tersebut akan meneken pembentukan konsorsium. Selanjutnya, tambah dia, konsorsium akan mencari pinjaman sebesar 70% dari total investasi yang mencapai Rp 2 triliun, yaitu Rp 1,5 triliun. “Yang jelas dana akan bersumber dari bank local dan baru akan didapatkan pada Oktober mendatang,” tambah Frans.

Frans menambahkan ruas tol Semarang-Ungaran sudah dioperasikan menjelang lebaran. Namun, lanjut dia, ruas tol tersebut masih digratiskan. Sebab, hingga saat ini rua stol tersebut maish belum ditentukan tarifnya, Meskipun demikian, ua mengatakn penentuan tariff ruas tol tersebut maksimal pada 10 hari usai hari raya Idul Fitri. “Namun, semuanya tergantung dari keputusan Menterei PU,” jelas dia.

Sementara itu, Frans memperikirakan pada kuartal III pendapatan perseroan optimistis akan naik 10-12% dibadingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 3,2 triliun. Dengaan jumlah tersebut, ia pun optimsitsi pada akhir tahun pendapatan perseroan akan menembus Rp 4,8 tiliun. “Kami membidik volume transaksi sebanyak 1 miliar kendaraan pada tahun ini,” tandas dia. (iin)

Harga SUN Tenor Menengah Berpotensi Menguat


Harga SUN Tenor Menengah Berpotensi Menguat 

JAKARTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) tenor menengah (7-15 tahun) diprediksi menguat di semua tenor pada pecan ini. Hal tersebut seiring dengan prediksi menurunnya imbal hasil (yiels) SUN tenor menengah sekitar 15 basis poin. 

Hal tersebut terjadi karena pecan ini tekanan global akan lebih rendah. Setelah pada akhir pecan lalu, kondisi global memberikan tekanan kepada investor untuk melakukan reposisi asset terhadap SUN. Alhasil, pada pecan lalu harga obligasi di seluruh tenor mengalami pelemahan. Namun, seiring dengan kondisi fundamental Indonesia yang masih kuat menyebabkan investor, terutama asing, diperkirakan  akan kembali masuk pada pecan ini. Terlebih, pada pecan lalu gejolak yang terjadi di pasar obligasi lebih kecil dibandingkan dengan bursa saham. 

Namun, penguatan harga SUN pecan ini hanya terjadi pada tenor jangka menangah antara 7-15 tahun. Hal tersebut terjadi karena kondisi inflasi Agustus 2011 yang diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan pada periode yang sama pada tahun lalu, yaitu dikisaran 4,9% atau dibawah 5%. Padahal, para ekonom berpendapat inflasi Agustus akan menjadi yang tertinggi dibandingkan bulan lainnya. Menyusul adanya Ramadhan dan Lebaran.

Dengan demikian, pada akhir tahun inflasi diperkirakan pada hanya akan berada di bawah 6%. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan asumsi para ekonom sebelumnya yang mencapai 6,5%. Meskipun demikian, Investor dalam negeri masih harus lebih jeli dan lebih baik wait and see dalam menempatkan investasi mereka di pasar obligasi pada menjelang libur Lebaran  yang berjalan selama satu minggu. Sebab, selama libur tersebut dikhawatirkan kondisi global masih akan mengelami ketidakpastian. Demikian rangkuman analisa ekonom BII Samuel Ringoringo dan analis NC Securities I Made Adi Saputra.

Samuel berpendapatan aksi reposisi asset yang dilakukan investor pada akhir pecan lalu masih didalam batas kewajaran. Sebab, lanjut dia, tidak ada hal yang dikhawatirkan dari kondisi fundamental Indonesia mengingat tingkat inflasi dan suku bunga masih relative bagus. Ia berpendapat aksi tersebut dilakukan karena investor menilai harga obligasi Indonesia sudah cukup mahal. “Alhasil mereka membutuhkan alasan yang tepat untuk bisa kembali masuk ke Indonesia, salah satu caranya adalah dengan menjual terlebih dahulu,” papar Samuel.

Samuel menilai investor tetap optimisti pasar Indonesia masih akan menjadi tempat investasi yang menjanjikan untuk Negara berkembang. Hal ini seiring dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I 2011 yang menunjukan kondisi positif. Ditambah lagi, lanjut dia, keyakinan investor bahwa Indonesia dalam waktu dekat akan mendapatkan investment grade. Ditambah lagi dengan kebijakan AS yang tidak akan menaikan suku bunga hingga 2013.

Dengan demikian, tambah Samuel, likuiditas global diprediksi masih akan banyak dan mereka mencari Negara yang menjanjikan gain positif seperti di Indonesia. “Semua itu akan membuat guncangan kondisi global di pasar obligasi Indonesia diperkirakan tidak akan terjadi seperti di pasar bursa saham,” jelas Samuel.   

Namun, lanjut Samuel, kondisi positif yang akan terjadi di pecan mendatang hanya akan menggerakan obligasi tenor menegah antara 7-15 tahun. Ia bahkan memprediksi yiled untuk tenor tersebut berpeluang melemah sebanyak 15 basis poin. Sedangkan untuk tenor diatas 20 tahun, ia mengatakan masih belum menarik untuk diakumulasi pada pecan mendatang. “Sebab, semakin lama tenor resiko yang diantisipasi semakin besar terkait dengan kondisi global yang masih belum menentu,” papar dia.

Lanjutkan Pelemahan

Sementara itu, Made menilai pecan ini harga obligasi masih akan melanjutkan pelemahan. Terlebih menjelang hari libur Lebaran yang akanberlangsung selama satu pecan. Ditambah lagi, lanjut dia, kondisi pasar keuangan global yang masih mengkhawatirkan dan belum ada kepastian di masa mendatang. Untuk itu, lanjut dia, investor masih akan lebih memilih on cash pada pecan ini.

Made memprediksi minggu depan yield tenor pendek 5 tahun ke bawah akan naik sebanyak 10-15 basisi poin. Sedangkan, lanjut dia, untuk tenor diatas 15 tahun diprediksi mengalami kenaikan sebanyak 5-10 basis poin. “Dari sisi harga akan mengalami pelemahan yang signifikan. Untuk tenor dibawah 5 tahun bergerak sebesar 20 basis harga. Sementara tenor panjang, harganya bisa turun hingga 50 basis poin,” jelas dia.  

Melihat kondisi seperti itu, Made merekomendasikan investor untuk merealisasikan target yield 1mereka di pecan ini. Langkah tersebut, jelas dia, diambil sebagai antisipasi gejolak di pasar oblogasi global selama libur mendatang. Hal tersebut berdasarkan pengalaman yang terjadi pada 2008. Ia mengatakan di kala itu pasar obligasi global bergejolak selama libur Lebaran dan menyebabkan pasar obligasi Indonesia ngedrop.

“Jika sudah sampai pada kondisi tersebut, tentu menyulitkan investor untuk merealisasikan keuntungan,” tandas dia. (iin)


Bakrie Brothers Tambah Saham Bumi Plc

Bayar utang Rp 1,2 T
Bakrie Brothers Tambah Saham Bumi Plc

JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berencana untuk menambah saham di Bumi Plc. Rencananya, perseroan membidik kembali penguasaan 23% saham di perusahaan tersebut. Setelah pada sebelumnya kepemilikian saham perseroan terdilusi menjadi 19%.

“Kami akan ikut step up apabila Vallar kembali melakukan hal tersebut. Hal ini sejalan dengan focus kami sebagai perusahaan investasi yang memiliki portofolio di sumber daya alam, seperti Bumi Plc, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Bakrie Sumatera Tbk (UNSP),” ungkap Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gofur Umar di sela media gathering di Jakarta, Jumat (19/8).

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno mengatakan saat ini perseroan saat ini memiliki kepemilikan saham di Bumi Plc dibawah 20%. Jumlah tersebut, lanjut dia, setelah terdilusi akibat keputusan perseroan untuk tidak ambil bagian dalam step up. Padahal, lanjut dia, sebelumnya kepemilikan perseroan mencapai 23%. “Untuk itu, agar kami tidak terdilusi lagi dan ingin mencapai kepemilikan sebesar 23%, rencananya kami akan ikut dalam step up berikutnya,” jelas dia.

Eddy mengatakan sampai saat ini belum ada alokasi definitive untuk melakukan step up tersebut. Namun, ia memperkirakan untuk menambah sebanyak 3-4% diperkirakan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Untuk itu, lanjut dia, perseroan telah menyiapkan dana untuk investasi sebesar US$ 50 juta. Tapi, lanjut dia, dana tersebut masih akan ditambah lagi dari dana yang dihimpun perseroan melalui pinjaman.

“Komposisi pinjaman tersebut masih dibicarakan. Dengan pertimbangan proyeksi harga cukup menjanjikan dalam waktu dekat. Hal ini agar kami tidak meminjam uang dalma waktu lama. Mengingat saat ini kami dalam proses pengurangan utang,” papar Eddy.

Menurut Eddy, peluang untuk meningkatnya harga saham Bumi Plc sangat terbuka lebar. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan booming batubara yang diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam jangka waktu lama. Ia bahkan menyebutkan harga saham Bumi PLc sempat menyentuh level 14 poundsterling, padahal perseroan masuk ke Bumi Plc dengan harga 10 poundsterling. Sedangkan saat ini, tambah dia, harga Bumi Plc berada di bawah 10 poundsterling.

“Ini menjadi waktu yang tepat bagi kami untuk masuk ke Bumi Plc. Kami bahkan optimistis Bumi Plc akan kembali menyentuh level 14 poundsterling. Hal ini seriing dengan kebijakan mereka mengurangi jumlah utang, menaikan produksi, dan naiknya harga komoditas batubara,” ujar Eddy. 

Pada kesempatan yang sama, Eddy menjelaskan perseroan telah membayar utang Medium Structure Note (MSN) sebesar Rp 1,2 triliun dari total sebanyak Rp 3,3 triliun. Ia mengatakan pembayaran utang tersebut dilakukan melakui debt asset settlement dari portofolio perusahaan terbuka yang dimiliki perseroan. Penjualan tersebut, lanjut dia, dilakukan melalui PPC yang akan bernegosiasi dengan kreditur. Dengan demikian, lanjut dia, kepemilikan perseroan di portofolio perusahaan tersbut tersebut menjadi berkurang. Ia menyebutkan  PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (28,92%), PT Bakrie Land Development Tbk (8,14%), PT Bakrie Bakrie Telecom Tbk (45%), PT Energy Mega Tbk (8,75%).

“Setiap kreditur diperlakukan berbeda. Dengan pembayaran tersebut, sisa utang MSN tinggal Rp 2,1 triliun. Jumlah tersebut akan diselesaikan pada kuartal III ini. Saat ini kami masih dalam proses negoisasi,” papar Eddy.

Pada semester I 2011, Bakrie Brothers berhasil membukukan laba sebesar Rp 45 miliar. Jumlkah tersebut meningkat 127% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Mengingat tahun lalu perseroan menderita kerugian sebesar Rp 171,5 miliar. Adapun pendapatan mengalami kenaikan sebesar 7% menjadi Rp 6,47 triliun dari Rp 6,03 triliun.

Menurut Bobby, keberhasilan perseroan untuk mencatakan keuntungan tersebut berkat kegiatan investasi yang mengalami peningkatan sebesar 57% dari Rp 7,43 triliun per Desember 2010, menjadi Rp 10,78 triliun. Selain itu, lanjut dia, penghapusan bunga karena pelunasan yang uang lebih cepat dari seharusnya sebesar Rp 362 miliar. Dalam penghapusan bunga tersebut, terjadi akibat dari pembayaran utang sebesar Rp 1,2 triliun.

“Sedangkan penyumbang terbesar pendapatan perseroan berasal dari sector perdaganggan melalui Bakrie Energy International. Sektor ini menyumbang 57%,”tandasnya.(iin)

Kamis, 18 Agustus 2011

Juli 2011, Laba Garuda Melonjak 80,9%

Juli 2011, Laba Garuda Melonjak 80,9%

JAKARTA – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) berhasil membukukan laba bersih Rp 320 miliar pada Juli 2011. Jumlah tersebut melonjak 80,9% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 177 miliar.

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan pencapaian laba bersih tersebut seriing dengan keberhasilan perseroan meningkatkan laba usaha sebesar 42,6% menjadi Rp. 459,5 miliar dari Rp 188,4 miliar. Adapun pendapatan sebesar 40% menjadi 2,45 triliun pada Juli 2011. Sedangkan pada periode yang sama tahun lalu, lanjut dia, perseroan hanya mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 1,74 triliun.

“Hal ini karena selama bulan tersebut, penumpang kami meningkat 30% menjadi 1,642 juta penumpang dari 1,159,749 penumpang pada periode yang sama pada tahun lalu,” ungkap Emirsyah dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (16/8).

Emirsyah menambahkan keberhasilan pencapaian laba bersih juga ditopang oleh meningkatnya utilisasi armada selama Juli 2011. Ia mengatakan selama bulan tersebut utilisasi armada mencapai 11: 23 jam per hari dibanding periode yang sama tahun lalu hanya 10:23 jam per hari. Dengan pencapaian laba bersih tersebut, ia mengatakan hingga Juli 2011 Garuda telah berhasil membukukan keuntungan bersih sebesar Rp 133,4 milliar.

Artinya, biaya operasi yang merugi pada semester I, sudah tertutupi semua dengan pencapaian ini,” jelas Emirsyah.

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2011, perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp185 miliar. Padahal, periode yang sama pada tahun lalu perseroan masih meraih laba Rp 60,6 miliar. Kerugian Garuda disebabkan beban usaha yang tinggi. Beban usaha Garuda pada semester pertama 2011 naik 71% menjadi Rp11,55 triliun, dibandingkan periode sama 2010 sebesar Rp 8,22 triliun.

Sementara itu, Direktur Keuangan Garuda Elisa Lumbantoruan menjelaskan dengan meningkatnya utiliasasi tersebut, biaya mantainence semakin rendah. Dengan demikian, lanjut dia, perseroan tetap optimistis akan mampu mencetak profit pada akhir tahun mendatang. Ia bahkan menambahkan hingga Juli 2011, perseroan telah berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 12,9 triliun dan laba usaha mencapai Rp 11,1 mliiar.

“Pada semester II-2011 pendapatan dan laba bisa naik pesat. Hal tersebut seiring dengan masuknya pendapatan dari penerbangan haji mulai September mendatang. Sebab, lanjut dia, 60% dari total jemaah haji Indonesia diangkut oleh perseroan. Ditambah lagi dengan adaya tambahan penerbangan,” jelas Elisa.  

Meskipun kinerja perseroan menunjukan perbaikan, Elisa mengatakan perseroan masih belum mengajukan kuasi reorganisasi dengan memakain buku Juli hingga September 2011. Sebab, lanjut dia, jika menggunakan buku di waktu tersebut akan menambah biaya untuk melakukan audit dan notaries. Sedangkan diakhir tahun perseroan masih diwajibkan untuk melakukan audit kembali untuk laporan keuangan tahunan. “Kala dari segi efisiensi ini tidak akan kami lakukan, Untuk itu, kami akan tetap menggunakan buku Desember 2011. Dengan kuasi tersebut, kami optimistis pada 2013 akan membagijkan dividen,” papar dia. (iin)

Indeks Cenderung Melemah

Indeks Cenderung Melemah

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada hari ini diperkirakan melemah. Hal tersebut seiring dengan pergerakan regional yang diperkirakan masih akan berada di area negatif pada hari ini. Kemarin, perdagangan ditutup menguat 67,7 poin (1,71%) di level 4.020.

"Regional masih belum menunjukan pergerakan positif. Hal tersebut diperkuat lagi dengan posisi asing yang masih melakukan net sell hingga kemarin," ungkap Kepala Riset Universal Broker Satrio
 Utomo kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (18/8).

Berdasarkan hal tersebut, Satrio memprediksi hari ini indeks akan berada dikisaran resistance 4.050 dan support 3.970. Namun, lanjut dia, jika indeks menembus level support trend naik indek akan berakhir dan akan konsolidasi dalam beberapa waktu mendatang.

Untuk itu, Satrio menrekomendasikan melakukan sell on strength pada saham yang sudah berada di level resistance. Sebab, lanjut dia, saat ini kondisi regional masih belum menunjukan kepastian. Ia mencontohkan  menjual saham ASII ketika menyentuh  kisaran resitance 72500-75000..

"Selain itu, GGRM juga bisa sell on streght apabila telah mencapai level 57 ribu," ucap Satrio. (Iin)

Matahari Putra Bidik Pendapatan Rp 10 T

Matahari Putra Bidik Pendapatan Rp 10 T

JAKARTA - PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) optimistis mencatatkan pendapatan Rp 10 triliun pada 2011. Pendapatan terbesar disumbangkan oleh Hypermart sebesar Rp 9 triliun.

Direktur Corporate Comunication Matahari Putra Prima Danny Konjongian mengatakan pencapaian pendapatan tersebut hanya berasal dari Matahari Food Business. Untuk itu, lanjut dia, pencapaian pada tahun ini tidak bisa dibandingkan dengan 2010 yang mencapai Rp 8,56 triliun. Sebab, ia menjelaskan pada tahun lalu PT Matahari Department Store Tbk (LPPF/MDS) masih menyumbangkan pendapatan di kuartal I.

"Apabila kontribusi MDS dikeluarkan, tahun lalu pendapatan kami sebesar Rp 7,6 triliun. Dengan demikian, tahun ini pendapatan kami akan mengalami pertumbuhan sebesar 30%," ungkap Danny di sela media gathering di Jakarta, Kamis (18/8).

Menurut Danny, pencapain pendapatan tahun ini akan ditopang oleh ekspansi gerai yang agresif. Untuk itu, lanjut dia, perseroan memperkirakan akan membuka 19-20 gerai dengan mengaloklasikan belanja modal (capital expenditure/capex) Rp 1 triliun. Ia menambahkan dana tersebut akan berasal dari kas internal. Ia mengatakan 65% dari seluruh gerai yang akan dibuka terletak di pulau Jawa, selebihnya di luar jawa.

Sedangkan hingga Juli, ia mengatakan perseroan telah membuka lima gerai dengan menghabiskan capex Rp 300 miliar. Hingga akhir tahun, lanjut Danny, perseroan akan membuka 14 gerai lagi. Ia menambahkan pembukaan gerai tidak hanya di kota besar tapi juga di tingkat kabupaten. Diantaranya di Gresik. Ia menuturkan untuk pembanguan satu gerai membutuhkan investasi sebesar Rp 40 miliar.

"Dengan demikian, pada akhir tahun jumlah gerai yang kami miliki mencapai 69 gerai," tambah Danny.

Menurut Danny, peluang untuk membuka gerai di Indonesia sangat besar. Sebab, lanjut dia, saat ini penetrasi toko ritel modern masih sangat rendah. Ia menyebutkan di Indonesia untuk 1 juta populasi masih dilayani 52 toko ritel modern. Sementara, lanjut dia, di Malaysia  untuk 1 juta populasi dilayani oleh 150 toko ritel modern. "Hal tersebut menunjukan masih terbukanya peluang ekspansi toko ritel. Saat ini, kami memiliki pangsa pasar 26%," jelas dia.

Pada kesempatan yang samas, Danny menjelaskan penjualan selama masa lebaran menyumbangkan 25% dari total pendapatan perseroan dalam satu tahun. Padahal, lanjut dia, masa lebaran tersebut hanya berjalan selama 40 hari terhitung dari awal bulan puasa hingga seminggu setelah lebaran. Ia mengatakan dalam periode tersebut, perseroan bahkan mampu menjual produk sirup hingga empat kali lipat dibandingkan jumlah biasanya.

Sementara itu, Managing Research Indosurya Asset Manajement Reza Priyambada memprediksi perseroan akan mampu mencapai target pendapatan sebesar Rp 10 triliun. Hal tersebut, tambah dia, seiring dengan pola perilaku masyarakat Indonesia yang lebih memilih berbelanja di toko ritel. "Sebab, dalam toko ritel modern konsumen bisa mendapatklan berbagai produk di dalam satu lokasi," jelas dia. (Iin)

Central Omega Targetkan Dana Rights Issue Rp 1 T

Central Omega Targetkan Dana Rights Issue Rp 1 T

JAKARTA - PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) berencana menggelar rights issue pada September 2011. Dalam aksi korporasi tersebut, perseroan membidik dana maksimal sebesar Rp 1 triliun.

Sumber Investor Daily mengatakan dana dari aksi korporasi tersebut dipergunakan untuk membiayai pembangun pabrik smelter nikel di Morowali, Sulawesi. Dalam pabrik smelter tersebut, perseroan memiliki 40% saham. Sedangkan sisanya, lanjut dia, dimiliki oleh perusahaan asal Tiongkok. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama perusahaan dari Tiongkok tersebut. Ia hanya mengungkapkan dana sebesar Rp 1 triliun tersebut merupakan bagian dari porsi ekuitas dari Central Omega dalam pembangunan pabrik tersebut.

"Sedangkan nilai total investasi pembangunan pabrik tersebut sebesar Rp 4-5 triliun," ungkap sumber yang mengetahui aksi korporasi tersebut di Jakarta, Kamis (18/8).

Sumber tersebut menambahkan pembangunan pabrik smelter nikel tersebut dilakukan untuk persiapan penerapan UUD Minerba pada 2014. Untuk itu, lanjut dian, pembangunan pabrik tersebut akan dimulai pada 2012. Dengan demikian, lanjut dia, diharapkan akan beroeparasi pada 2013. Namun, lanjut dia, hingga saat ini perseroan masih belum menentukan kapasitas dari pabrik smelter tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan masih melakukan kajian dalam pembangunan pabrik tersebut.

Sumber mengatakan akan meminta persetujuan pemegang saham dengan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) pada 30 september 2011. Jika disetujui, lanjut dia, perseroan akan langsung mengajukan kepada otoritas bursa. Sedangkan untuk harga rights issue tersebut, lanjut dia, perseroan akan mengambil harga tertinggi selama 25 hari sebelum tanggal pemanggilan yang rencananya akan dilakukan pada 15 September mendatang.

"Untuk pemberitahuan akan dilakukan pada 26 September 2011. Namun, untuk struktur yang lebih jelasnya masih akan dibahas perseroan," jelas sumber.

Lebih lanjut sumber mengatakan dalam rights issue tersebut pemegang saham mayoritas perseroan akan bertindak sebagai stand buy buyer, yaitu  PT Jinsheng Mining. Sebagai informasi, perusahaan asal Tiongkok tersebut memegang 80% saham perseroan. Sementara selebihnya dimiliki oleh publik. (Iin)

Jumat, 12 Agustus 2011

Laba Salim Ivomas Melonjak 113,8%

Laba Salim Ivomas Melonjak 113,8%

JAKARTA – PT Salim Ivomas Pratama Tbk berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 885 miliar pada semester I 2011. Jumlah tersebut melonjak 113,8% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 414 miliar.

Adapun laba kotor perseroan tumbuh sebesar 57,1% menjadi Rp 2,29 triliun dari Rp 1,46 triliun. Hal yang sama juga terjadi di laba usaha meningkatan sebesar 81,9% menjadi Rp 1,6 miliar dari Rp 909,9 miliar. Kenaikan laba bersih tersebut seiring dengan meningkatnya margin laba kotor dan usaha, masing-masing menjadi 37,5% dan 26,7%.

Sedangkan penjualan konsolidasi hingga Juni 2011, Salim Ivomas mampu membukukan sebesar Rp 6,12 triliun. Jumlah tersebut meningkat 45,8% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 4,2 triliun.

Direktur Utama PT Salim Ivomas Pratama Tbk Mark Wakeford mengatakan peningkatan pendapatan tersebut seiring dengan peningkatakan volume penjualan dan harga jual rata-rata produk minyak goreng dan lemak nabati. “Ditambah lagi kenaikan volume penjualan produk kelapa sawit,” ungkap Wakeford dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (12/8). (iin)

Kamis, 11 Agustus 2011

Nusantara Infrastructure Bidik Proyek Kalibaru Rp 11,7 T

Nusantara Infrastructure Bidik Proyek Kalibaru Rp 11,7 T

JAKARTA -  PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) membidik proyek pelabuhan Kalibaru senilai Rp 11,7 triliun. Dalam membidik proyek tersebut, perseroan membentuk konsorsium dengan menggandeng partner Mitsui, Evergreen, 4848 Global System. Saat ini, perseroan tengah mengikuti pra kualifikasi yang akan diumumkan pada akhir pecan depan.

Dalam pra kualifikasi tersebut, konsorsium perseroan akan bersaing dengan enam konsorsium lainnya. Keenamnya adalah konsorsium Port Singapore Authority (PSA) dengan PT Pelabuhan Socah madura, konsorsium Maersk dengan PT Pelayaran Bintang Putih, konsorsium Pelindo 1 dengan ICTSI (Filipina) dan PT SRC, Pelindo II, Pelindo IV, serta konsorsium Huttchinson Port Indonesia yang menggandeng Cosco, Brilian, dan SPIL.

Direktur Nusantara Infrastructure Bernardus Djonoputro menjelaskan dalam konsorsium tersebut perseroan memiliki porsi mayoritas sebesar 51%. Sedangkan porsi lainnya, lanjut dia, masih belum ditentukan. Dengan menggandeng perusahaan internasional yang berpengalaman dalam bisnis pelabuhan tersebut, lanjut dia, menunjukan keseriusan perseroan berpasrtisipasi dalam program public private partnership (PPP) yang digelontorkan pemerintah.

“Selain itu, kami optimistis konsorsium mampu bersaing dengan yang lainnnya. Dengan pengalaman mitra kami dalam bisnis pelabuhan, kami yakin konsorsium akan mampu menciptakan traffic yang tinggi pada pelabuhan tersebut di masa mendatang,” ungkap Bernadus kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (11/8).

Bernadus menambahkan dari sisi financial, konsorsium yang dibentuk tersebut telah memiliki dukungan yang sangat kuat dari pihak bank. Sebab, lanjut dia, masing-masing perusahaan yang ada di konsorsium tersebut telah mendpatkan komitmen dari bank untuk pendanaan. Ia bahkan menyebutkan Nusantara Infrastructure telah mendapatkan komitmen dari bank nasional hingga 60% dari nilai total proyek tersebut. Jumlah tersebut menjadi persyaratan dalam pra kualifikasi tersebut.

“Mitsui dan Evergreen bahkan telah mendapatkan komitmen pendanaan hingga Rp 11 triliun. Hal tersebut menunjukan bahwa kemampuan financial konsorsium kami sangat kuat,” tegas dia.

Bernadus berharap dalam pelaksanaan proses PPP pelabuhan tersebut, pemerintah dapat dengan mengenakan standar internasional. Sebab, lanjut dia, program ini menunjukan kredibilitas pemerintah dalam mengundang investor sebagai mitra pembangunan. Selain itu, tambah dia. pelabuhan tersebut akan melayani jalur-jalur pelayaran internasional dari berbagai negara.

Sebelumnya, Analis Samuel Sekuritas Adrianus Bias mengatakan berbagai proyek infrastruktur yang dibidik perseroan saat ini sangat positif. Ia bahkan memperkirakan proyek tersebut akan meningkatkan kinerja perseroan secara signifikan dimasa mendatang. “Sebab, jika perseroan hanya mendalkan pendapatan dari bisnis jalan tol, pertumbuhannya tidak akan besar,” papar Adrianus. (iin)

XL Refinancing Utang Rp 1 T

XL Refinancing Utang Rp 1 T

JAKARTA – PT XL Axiata Tbk (EXCL) akan refinancing utang sekitar Rp 900 miliar – 1 triliun pada tahun ini. Rencananya, perseroan akan menggunakan pinjaman bank untuk refinancing utang tersebut. Jumlah utang yang akan direfinancing tersebut adalah bagian dari utang yang akan jatuh tempo pada akhir tahun mendatang sebesar Rp 2,4 triliun.

Chief Operating Officer XL Axiata Willem Lucas Timmermans mengatakan saat ini perseroan masih belum mendapatkan pinjaman bank. Ia menjelaskan saat ini pihaknya tengah melakukan pembicaraan dengan beberapa bank, baik dalam maupun luar negeri. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama bank tersebut. ”Kalau hanya untuk utang jatuh tempo diperkirakan tidak lebih dari Rp 1 triliun. Yang jelas kami ingin mencari refinance yang lebih murah,” ungkap Willem usai media gathering di Jakarta, Rabu (10/8).

Wilem menambahkan jika perseroan mampu mendapatkan pinjaman dengan bunga yang lebih murah, pihaknya akan melanjutkan refinancing untuk seluruh utang mereka yang akan jatuh tempo dalam dua tahun mendatang. “Namun, apabila bunga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan yang telah ada, refinancing hanya akan dilakukan pada tahun ini saja,” jelas Willem.

Selain dengan refinancing, lanjut Willem, perseroan juga membayar utang sebesar Rp 2,4 triliun dengan kas internal sebesar Rp. Ia menambahkan saat ini posisi utang perseroan mencapai Rp 9,5 triliun, sebesar Rp 1,5 triliun diantaranya adalah utang obligasi. Jumlah tersebut, lanjut dia, jauh menyusut dibandingkan dengan utang yang dimiliki perseroan dua tahun lalu diatas Rp 20 triliun.

Menurut Willem, leverage ratio utang yang dimiliki perseroan termasuk rendah untuk perusahaan telekomunikasi. Ia mengatakan investor tidak terlalu suka bila leverage ratio terlalu rendah. Sebab, lanjut dia, investor berpikir neraca perdagangan perseroan terlalu pasif. “Namun, kita tidak melihat leverage ratio tapi lebih pada ROE. Kami akan menjaga ROE paling tidak 25%,” papar dia. 

Perkuat Layanan Data

Pada kesempatan yang sama, Willem mengatakan perseroan telah menggunakan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 3 triliun hingga akhir Juni 2011. Jumlah tersebut, lanjut dia, merupakan 50% dari total capex tahun ini sebesar Rp 6 triliun. Ia mengatakan penggunanaan capex tersebut untuk mobile data, layanan 3G. Serta, lanjut dia, traditional services seperti SMS dan voice. “Tahun ini kami lebih banyak mengalokasikan kepada layanan data,” kata dia.

Sebelumnya, Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengatakan bisnis layanan data sangat berpotensi besar untuk mendongkrak pendapatan perseroan. Sebab, lanjut dia, selama semsester I lalu peningkatan pendapatan ditopang oleh pendapatan layanan data melonjak sebesar 47% menjadi Rp 1,54 triliun dari Rp 1,04 triliun. ”Jumlah tersebut, memberikan kontribusi sebesar 21% terhadap total pendapatan pemakaian pelanggan,” aku dia.

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2011, XL mampu mencatatakan laba bersih sebesar Rp Rp 1,52 triliun. Jumlah tersebut meningkat 15% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 1,32 triliun. Sedangkan normalisasi laba bersih menembus Rp 1,6 triliun, meningkat 18% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu senilai Rp 1,33 triliun.

Dalam laporan keuangan teresebut, XL menambahkan normalisasi laba bersih karena mengeluarkan biaya yang tidak biasa terjadi dan belum teralisasikan. Meski membukukan pertumbuhan laba hingga dua digit, pendapatan perseroan hanya mengalami peningkatan sebesar 8% menjadi Rp 9,13 triliun dari Rp 8,47 triliun.

Analis Indopremier Dang Maulida menilai langkah perseroan memperbesar porsi capex untuk layanan data sangat tepat. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan meningkatnya popularitas jejaring sosial di Indonesia. Menurut dia, kapasitas yang cukup merupakan kunci untuk mendukung peningkatan volume dalam bisnis layanan data. Sebab, lanjut dia, volume akan menjadi pendorong untuk pertumbuhan laba bersih. Terlebih margin dari layanan data merupakan yang terendah sebesar 20-25%, dibandingkan dengan layanan suara pada 70-80% dan sms di 40-50%.

”Berdasarkan strategi yang diterapkan perseroan untuk pertumbuhan, kami merekomendasikan Buy untuk saham EXCL dengan target harga Rp 6.700 per saham,” tandas Dang dalam riset yang dipublikasikan pada 10 Agustus 2011.

Pada perdagangan Kamis (11/8), saham EXCL ditutup melemah Rp 150 (2,83%) di level 5.150. Dengan volume perdagangan mencapai 2.946.500 kali. (iin)

CMNP Terbitkan Obligasi Berkelanjutan Rp 3 T

CMNP Terbitkan Obligasi Berkelanjutan Rp 3 T

Jakarta - PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) berencana untuk menerbitkan obligasi berkelanjutan senilai Rp 3 triliun dalam waktu dua tahun. Tahap pertama, perseroan akan menerbitkan obligasi sebesar Rp 1-1,5 triliun pada kuartal IV-2011.

Direktur Keuangan Cipta Marga Nusapala Persada Indrawan Sumantri mengatakan penerbitan tersebut akan digunakan untuk membiayai akusisi lima proyek. Kelimanya terdiri dari tiga akuisisi proyek jalan tol di Jakarta, satu akuisisi perusahaan infrastruktur pertambangan, dan pembangunan jalan tol yang diinisiasi sendiri oleh perseroan. Kelimanya, lanjut dia, diperkirakan membutuhkan dana sebesar Rp 4-5 triliun.

“Namun, untuk saat ini kami masih belum dapat menyebutkan ruas dan proyek yang akan diakuisisi dan bangun tersebut. Yang jelas kami sangat tertarik pada ruas tol pinggir kota,” ungkap Indrawan di sela media gathering di Jakarta, Rabu (10/8).

Indrawan menjelaskan peluang perseroan untuk mengeluarkan obligasi sangat terbuka lebar. Sebab, lanjut dia, setelah mengeluarkan obligasi tersebut debt equity ratio (DER) perseroan akan menjadi 1 kali. Obligasi tersebut, tambah dia, menggunakan buku Juni dan berdominasi rupiah. Dia menambahkan obligasi tersebut akan dijual di dalam dan luar negeri. Namun, lanjut dia, saat ini perseroan masih belum menunjuk underwriter yang akan menangani penerbitan obligasi tersebut.

“Saat ini, kami masih mencari underwriter. Kebanyakan yang berminat dari tiga institusi asing. Saat ini mereka tengah coba berhitung tenor yang akan ditawarkan dalam obligasi tersebut,” ucap Indrawan.

Selain dari penerbitan obligasi, lanjut Indrawan, pembiayaan seluruh proyek tersebut berasal dari Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMT-HMETD) sebanyak senilai Rp 250 miliar. Jumlah tersebut, tambah dia, berasal dari penerbitan 200 juta saham atau sekitar 10% dari modal yang disetor dengan harga pelaksanaan yang ditetapkan sekurang-kurangnya sebesar Rp 1.200 per saham. Menurut dia, ada dua pembeli dari PMT HMETD tersebut.

“Tapi saya masih belum bisa menyebutkan kedua pembeli tersebut. Yang jelas keduanya merupakan perusahaan lokal,” papar dia.

Gunakan Kas Internal

Lebih lanjut Indrawan mengatakan kas perseroan juga akan dipergunakan untuk memperkuat pendanaan proyek tersebut. Ia memperkirakan pada akhir tahun, kas perseroan akan mencapai Rp 600-700 miliar. “Jika berhasil mendapatkan kelima proyek tersebut. Kami memperkirakan pembangunan dan penyelesaian proyek akan terjadi di 2014,” papar dia.

Indrawan pernah mengatakan dengan adanya rencana akuisisi tersebut, perseroan menargetkan pendapatan tahun ini bisa meningkat sekitar 10-15% dari pendapatan tahun lalu sebesar Rp 750,4 miliar menjadi Rp 862, 9 miliar. Sementara laba bersih, diharapkan dapat meningkat 10-15% dari Rp 229,17 miliar menjadi Rp 263,5 miliar.

Sementara itu, Direktur Utama Cipta Marga Nusapala Persada Shadiq Wahono mengatakan jika proyek yang dibidik telah diakuisisi dan berjalan diperkirakan akan mampu meningkat 3,5 kali dibandingkan saat ini. Namun, ia belum bias memperkirakan tahun pasti selesainya pembangunan proyek tersebut. Sebab, lanjut dia, beberapa diantaranya masih proyek yang belum beroperasi dan masih separuh pembangunan. 

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo pernah menuturkan bahwa Citra Marga memiliki peluang bagus jika berhasil mengakuisisi ruas-ruas tol baru. Sebab, lanjut dia, selama 2010 belum terlihat kinerja yang baik atau masih dibawah ekspektasi pasar. Dengan demikian, tambah dia, perseroan perlu ada perbaikan pada kinerja Citra Marga di tahun ini. Apabila kondisi seperti ini berlarut-larut, ia khawatir perseroan tidak memiliki pasokan pendapatan yang baru dan akan sulit meningkatkan pendapatan dan net income yang baru. 

“Sedangkan rencana penerbitan obligasi merupakan langkah yang positif namun pasar masih membutuhkan pembuktian peningkatan kinerja di tahun ini,” papar dia. 

Sementara itu, analis Mandiri Sekuritas Maria renata mengatakan tahun ini pendapatan CMNP masih akan berasal dari dua tol yang mereka poperasikan, yaitu Cawang-Tomang-Cengkareng dan Waru-Juanda. Ia memperkirakan pendaparan perseroan akan mencapai Rp 803 miliar atau meningkat 7% dibangdingkan sebelumnya. Hal tersebut, tamabh dia, berkat kenaikan tarif dan tingginya lalu lintas pada musim liburan. 

“Kami merekomendasikan netral untuk CMNP. Dengan PE perdagangan 2011-2012 sebesar 7,7-6,8 kali,” tandas Maria. (iin)

IHSG Lanjutkan Penguatan, Jumat (12/8)

IHSG Lanjutkan Penguatan

Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan akan melanjutkan penguatan pada hari ini. Sebab, indesk saat ini sudah menunjukan adanya momentum kenaikan dari Moving Average Convergence/Divergence (MACD). Kemarin, indeks ditutup menguat 5,7 poin(0,15%) ke level 3.869.

“Kenaikan lebih lanjut dengan target 4.100 akan terbuka apabila indeks mampu melampaui resistance di level 3875-3930. Sedangkan support ada di 3810 lalu 3720,” ungkap Senior Technical Analyst Samuel Securities Muhammad Al Fatih kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (11/8).

Namun, Al Fatih menilai level 3.875 masih menghambat kenaikan indeks dalam tiga hari terakhir. Meskipun demikian, ia merekomendasikan saham komoditas untuk diakumulasi pada penghujung pecan ini. Hal tersebut karena Goldman Sach menaikan rating komoditas. “Selain itu, saham defensif yang tidak banyak transaksi ekspor juga bisa jadi pilihan, seperti TLKM, ASII, AALI, BBNI,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo memperkirakan indeks akan bergerak mix. Hal tersebut terjadi karena investor masih melancarkan aksi wait and see dalam menanti pergerakan Dow Jones. Jika Dow Jones mampu rebound dengan kembali ke level diatas 11.000, ia memprediksi indeks akan bergerak di level resistance 3870-3875 dan support 3800.

Meskipun demikian, dia menilai market Indonesia tidak mengalami kepanikan terhadap yang terjadi pada bursa global. “Namun, kepanikan terjadi pada investor asing, sehingga net sell masih berlangsung,” ujar dia.

Menurut Satrio, di saat kondisi seperti ini pemodal lebih baik mengakumulasi saham berdasarkan kualitas dan tenaga cukup besar untuk mencetak kenaikan harga. Ia menyebutkan ASII, BMRI, BBRI, INDF. “Sedangkan saham lapis ketiga bisa mengakumulasi MAPI, CPIN, GJTL,” tandas dia. (iin)

Rabu, 10 Agustus 2011

2011, Kebangkitan Seluruh Unit Bisnis Astra International

Kinerja Astra International Tbk
Keterangan
2010
2011F
2012F
2013F
Pendapatan
129.991
150.552
169.085
187.273
EBITDA
18.986
22.635
26.513
29.781
Laba Bersih
14.366
17.641
20.328
22.669
PER (x)
13,2
16,5
14,3
12,8
EV/EBITDA (x)
9,4
11,9
9,8
8,4
Sumber : Deutsche Bank
              
TIPS ASII

Rachman Koeswanto (Deutsche Bank)
-Rekomendasi  : Buy
-Target Harga   : Rp 80.500

Bagus Hananto (Onix Capital)
-Rekomendasi  : Buy
-Target Harga   : Rp 80.000

Reza Priyambada (Indosurya Asset Management)
-Rekomendasi  : Buy
-Target Harga   : Rp 82.000
 
2011, Kebangkitan Seluruh Unit Bisnis Astra International

PT Astra International Tbk (ASII) pada semester I 2011 telah berhasil membuktikan sebagai perusahaan yang solid menggerakan seluruh bisnis mereka. Sebab, disaat pasokan alat berat dan otomotif terganggu akibat gempa di Jepang, lini bisnis Astra lainnya mampu menjaga kinerja perseroan pada periode tersebut tetap kinclong.

Selama semester I 2011, perseroan yang menjalankan enam lini bisnis tersebut mampu mencatatkan laba sebesar Rp 8,6 triliun. Jumlah tersebut meningkat 33,4% dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar Rp 6,4 triliun. Adapun pendapatan meningkat 24% menjadi Rp 76,26 triliun dari Rp 61,51 triliun.

Hal tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan dari layanan keuangan mencatatkan kenaikan 18,4% menjadi Rp 5,6 triliun, agribisnis melonjak 50,6% menjadi Rp 5,3 triliun, serta IT dan infrastruktur mencatatkan pendapatan Rp 3 triliun atau naik 25,4% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 2,4 triliun. Sementara pendapatan dari otomotif bertumbuh 11,6% menjadi Rp 38 triiliun, alat berat berkontribusi sebesar Rp 25,6 triliun yang meningkat 41,7%.

Sejumlah analis meyakini, dengan pertumbuhan yang mengesankan pada lini bisnis Astra lainnya semakin menguatkan ekspektasi bahwa emiten berkode ASII tetap menjadi pilihan untuk mengeruk
capital gain. Terlebih realisasi laba bersih Astra tersebut berada 8% diatas consensus Deutsche Bank pada semester I 2011. Sedangkan onix Capital melihat pendapatan yang dicapai perseroan telah mencapai 52% dari total proyeksi mereka.

Chief Corporate Secretary & Group General Counsel Astra International Gita Toffany Boer mengatakan tingginya pertumbuhan lini bisnis perseroan lainnya pada semester I tersebut sejalan dengan strategi Astra. Sebab, lanjut dia, pada tahun ini perseroan akan meningkatkan peluang dari seluruh lini bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan rencana akusisi yang akan dilakukan oleh anak usaha mereka di sector infrastruktur, Astratel.

“Tapi kami tidak hanya akan menguatkan di segi infrasrtuktur saja, tapi juga lini bisnis lainnya. Hal tersebut sesuai dengan peluang bisnis yang ada,” ungkap Gita di sela media gathering di Jakarta, belum lama ini.

Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada menilai penguatan di seluruh merupakan upaya perseroan untuk tidak hanya bergantung pada satu unit usaha. Bahkan, lanjut dia, dengan merambah sector jalan tol semakin menguatkan langkah Astra untuk melakukan diversifikasi usaha yang telah mereka jalani selama ini. Ia menilai, hal tersebut sangat lazim dilakukan oleh perseroan sekelas Astra.

“Sangat wajar apabila perusahaan memiliki track record dan fundamental yang solid mencari sector lain. Hal tersebut sebagai upaya untuk terus mengembangkan perseroan,” ucap Reza.

Analis Deutsche Bank Rachman Koeswanto menilai kuatnya pertumbuhan seluruh lini bisnis Astra masih akan berlanjut di kuartal III mendatang. Bahkan, lanjut dia, sector keuangan, alat berat dam otomotif, masih akan menjadi penopang kinerja perseroan di kuartal III mendatang. Hal tersebut seiring dengan semakin membaiknya suplai dari Jepang untuk alat berat dan otomotif.

“Ditambah lagi kontribusi dari bisnis kontraktor pertambangan seiring dengan kembalinya cuaca di paruh kedua tahun ini,” ungkap Rachman dalam riset yang dipublikasikan baru-baru ini.

Senada dengan Rachman, analis Onix Capital Bagus Hananto memperkirakan Astra akan mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang lebih kuat pada semester II mendatang. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan semakin membaiknya pasokan alat berat dan penjualan mobil yang akan menjadi katalis dari pendapatan perseroan. "Ditambah lagi dengan tingginya produksi dan volume penjualan dari lini bisnis agribisnis," papar Bagus.

Pertahankan Rekomendasi

Rachman mengatakan dengan kinerja yang dinilai masih on track, rekomendasi Buy untuk saham ASII dipertahankan. Ia bahkan optimistis laba bersih perseroan kaan mencetak laba bersih sebesar Rp 17,6 triliun dan pendapatan sebesar Rp 150,5 triliun pada akhir tahun mendatang. “Kami memasang target harga untuk ASII dalam 12 bulan mendatang mencapai Rp 80.500 perlembar saham,” jelas Rachman.

Reza menilai seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan berada diatas 6,5%, kinerja Astra diperkirakan masih akan mencatatkan kenaikan yang tinggi. Alhasil, lanjut dia, fundamental Astra tidak perlu diragukan lagi. Ia bahkan menilai resiko pemodal menanamkan investasinya sangat kecil. Ia mengatakan PE ASII saat ini adalah 15,96 kali. Sedangkan PE wajar mereka adalah 20 kali.

"Sedangkan saat ini harga ASII berada di Rp 67 ribu. Pada level ini sangat tepat untuk diakumulasikan oleh pemodal. Sebab, harga wajar mereka sebesar Rp 84 ribu persaham. Dengan terdiskon, target saya untuk harga saham ASII akan mencetak Rp 82 ribu persaham pada akhir tahun," jelas dia.

Sementara itu, Bagus mengatakan secara keseluiruhan hasil semester I 2011 berada di range yang kuat dan melebihi konsensus. Bahkan, lanjut dia, pendapatan di paruh pertama tahun ini merefreksikan 52% konsensus sepanjang tahun, yaitu sebesar Rp 159,68 triliun. Ia mengatakan pada 2011 dan 2012 saham ASII diperdagangkan pada PE 17,3 kali dan 15 kali dan EV/EBITDA. 14,4 kali dan 12,7 kali. "Untuk itu, kami merekomendasikan Buy dengan target harga 80 ribu," jelas dia. (iin)

Selasa, 09 Agustus 2011

Kalbe Bangun 2 Pabrik Baru Rp 240 M

Kalbe Bangun 2 Pabrik Baru Rp 240 M

JAKARTA - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) akan membangun dua pabrik baru sekitar Rp 240 miliar pada 2012. Rencananya, pabrik baru tersebut terletak di Cikarang dan di salah satu negara kawasan Asia Tenggara.

Direktur Keuangan Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan sumber pendanaan pembangunan pabrik tersebut akan berasal dari kas internal. Sebab, lanjut dia, saat ini kas internal perseroan sangat kuat yang mencapai Rp 2 triliun. Ia mengatakan pembangunan pabrik tersebut diperkirakan akan memakan waktu selama 1-1,5 tahun. Vidjongtius memperkirakan kedua pabrik baru tersebut baru akan bias memberikan kontribusi pada perseroan pada 2014.

“Dengan pembangunan dua pabrik tersebut, tahun depan kami akan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) diatas Rp 700 miliar,” ungkap Vidjongtius di sela media gathering di Jakarta, Selasa (9/8). 

Vidjongtius menjelaskan untuk pembangunan pabrik di Cikarang diperkirakan menghabiskan dana sebesar Rp 100-150 miliar. Pabrik Cikarang tersebut, lanjut dia, akan digunakan untuk obat bebas produk perseroan. “Diperkirakan dengan adanya pabrik baru tersebut akan meningkatkan produksi obat bebas sebanyak 30-50%. Pembangunannya diperkirakan dimulai pada semester I 2012,” papar dia.

Sedangkan pembangunan di kawasan Asia Tenggara, Vidjongtius memperkirakan akan menghabiskan dana berkisar US$ 5-10 juta. Rencananya, tambah dia, pabrik tersebut ditujukan untuk pelengkap produk perseroan. Misalnya produk consumer dan makanan kesehatan. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan target perseroan yang ingin menguasai kawasan tersebut pada 2015. Kemungkinan, lanjut dia, akan dibangun di Filipina atau Vietnam.

“Hal ini karena kita bergerak sesuai Negara, kami focus di Filipina dan terus mengatak ke Vietnam. Tapi hingga saat ini kami masih belum tentukan,” jelas Vidjongtius.

Vidjongtius menegaskan pihaknya tidak akan menggunakan treasury stock senilai Rp 2,8 triliun untuk melakukan ekspansi di Asia Tenggara. Ia menegaskan treasury stick tersebut hanya akan digunakan akuisisi perseroan di masa mendatang. Namun, ia belum dapat memastikan mengenai aksi korporasi tersebut. Sebab, lanjut dia, sampai saat ini perseroan masih dalam tahap penjajakan dengan berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri.

“Yang jelas kami mau mencari produk consumer dan farmasi yang cocok dengan kami. Ukuran perusahaan  yang akan kami dari dalam akuisisi antara Rp 500 miliar hingga 1 triliun,” tandas Vidjongtius. (iin)

Tahap I, Antam Jaring Dana Rp 1,5 T

Terbitkan Obligasi Berkelanjutan
Tahap I, Antam Jaring Dana Rp 1,5 T

JAKARTA – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akan menerbitkan obligasi berkelanjutan senilai US$ 350 juta atau setara Rp 3,01 triliun. Rencananya, tahap I obligasi berdenominasi rupiah tersebut akan diterbitkan pada kuartal IV 2011 sebesar Rp 1-1,5 triliun. Obligasi berkelanjutan tersebut digunakan untuk mendanai proyek pabrik smelter feronikel di Halmahera Timur, Maluku Utara

Proyek pembangunan pabrik feronikel berkapasitas 27 ribu ton tersebut menghabiskan dana sebesar US$ 1,6 miliar. Dalam pembangunan proyek tersebut, Antam menggandeng Hutama Karya  dan PT PLN (persero). Sebelumnya, Antam mendapatkan bantuan berupa pembangunan pembangkit listrik kapasitas 260 megawatt (MW) yang merupakan bagian dari proyek tersebut senilai US$ 600 juta. Dengan demikian, Antam memerlukan dana sebesar US$ 1 miliar untuk pembangunan proyek tersebut.

Sumber Investor Daily mengatakan penerbitan obligasi tersebut akan terbagi menjadi beberapa tahap. Namun, sumber mengatakan besaran penerbitan obligasi tersebut akan sesuai dengan kebutuan dana dari perseroan dalam pembangunan pabrik tersebut. “Tapi untuk tahap I, perseroan akan menerbitkan obligasi senilai Rp 1-1,5 triliun,” ungkap sumber yang mengetahui aksi korporasi tersebut di Jakarta, Selasa (9/8).

Direktur Keuangan Antam Djaja M Tambunan mengatakan jumlah tersebut sesuai dengan porsi ekuitas yang harus dicari perseroan sebesar 35%. Sedangkan selebihnya, lanjut dia, akan berasal dari pinjaman yang akan di galang oleh konsorsium PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang telah ditunjuk perseroan pada pecan lalu. Selain Bank Mandiri, konsorsium tersebut beranggotakan PT Mandiri Sekuritas, Goldman Sachs, Deutsche Bank, Sumitomo Mitsui Banking, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan Standard Chartered.

“Saat ini yang kami usahakan adalah financing dengan obligasi terlebih dahulu. Baru tahap kedua menggunakan opsi pinjaman. Besarnya tergantung dengan tahapan proyek. Yang jelas tidak mungkin saya tarik 100% kalau penggunaannya hanya beberapa persen,” papar Djaja.

Menurut Djaja, perseroan lebih memilih obligasi berkelanjutan karena pendanaan akan sesuai dengan kemajuan proyek yang tengah dikerjakan perseroan. Dengan demikian, perseroan tidak akan menanggung beban bunga yang tinggi saat dana tersebut belum terpakai. Namun, Djaja enggan untuk menjelaskan besaran dana yang akan dijaring dalam obligasi berkelanjutan tahap I. Ia hanya mengatakan jumlah tersebut akan sesuai dengan kebutuhan proyek di tahap awal.

Saat ini, lanjut Djaja, perseroan tengah melakukan persiapan proses tender untuk Engineering, Procurement and Construction (EPC). Ia pun menyebutkan bahwa sudah banyak calon yang berminat untuk EPC tersebut. Namun ia enggan untuk menyebutkan hal tersebut. “Dengan demikian, kami masih belum ada hitungan jumlah dana yang diperlukan pada tahap awal,” jelas Djaja.   

Djaja menjelaskan obligasi tersebut akan menggunakan buku Juni 2011. Untuk itu, lanjut dia, laporan keuangan perseroan semester I 2011 masih dalam proses audit dan hasilnya diperkirakan akan keluar pada akhir September mendatang. Dengan demikian, tambahnya, pada Oktober mendatang diharapkan sudah dapat diproses. Ia menambahkan obligasi tersebut ditawarkan di luar maupun dalam negeri.

Lebih lanjut Djaja menjelaskan konsorsium Bank Mandiri yang akan menangani penerbitan obligasi tersebut. Namun, dari seluruh anggota konsorsium tersebut, hanya PT Mandiri Sekuritas yang berpeluang menjadi underwriter. Sebab, selebihnya hanya bergerak di pemberian pinjaman. Ia pun mengisyaratkan akan ada underwriter lain yang ikut menangani penerbitan obligasi tersebut. Sayangnya, ia enggan untuk menyebutkan hal tersebut.

Sementara itu, Direktur PT Mandiri Sekuritas Kartika Wirjoatmadjo mengakui bahwa Mandiri Sekuritas akan menangani obligasi tersebut. Hal tersebut, lanjut dia, sesuai dengan masuknya Mandiri Sekuritas dalam konsorsium yang dibentuk oleh induk usahanya tersebut. “Namun, hingga saat ini kami masih belum ada pembicaraan mengenai penentuan besaran yang akan dikeluarkan pada tahap pertama tersebut,” ucap Kartika.  

Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang menilai langkah perseroan untuk menerbitkan obligasi untuk membiayai proyek mereka saat ini. Ia mengatakan peluang untuk Antam menerbutkan obligasi sebesar itu sangat terbuka lebar. Sebab, lanjut dia, debt to equity ratio (DER) perseroan hanya sebesar 0,5 kali dan memiliki ekuiti hingga Rp 8 triliun. Ia menambahkan Edwin menilai dengan fundamental yang dimiliki oleh perseroan, obligasi tersebut diperkirakan akan mendapatkan rating yang bagus.

“Dengan rating yang bagus tersebut, Antam kemungkinan akan mendapatkan bunga yang rendah. Alhasil, perseroan akan mendapatakan cost of fund yang rendah dan tidak akan memberatkan perseroan,” jelas Edwin.

Edwin menilai tenor obligasi yang cocok untuk Antam adalah diatas 5 tahun. Sebab, tambah dia, perseroan membutuhkan waktu yang panjang untuk pembangunan pabrik tersebut hingga menghasilkan. Meskipun demikian, ia optimistis obligasi yang akan dikeluarkan oleh Antam akan diserap oleh pasar secara maksimal. “Hal ini karena permintaan terhadap obligasi masih sangat tinggi,” tandas dia. (iin)


Penjualan UNTR Tembus 5 Ribu Unit

Penjualan UNTR Tembus 5 Ribu Unit

JAKARTA - PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan penjualan alat berat sebanyak 5 ribu unit hingga Juli 2011. Jumlah tersebut meningkat 56,2% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 3.200 unit.

Sekretaris Perusahaan United Tractors Sarah K loebis menjelaskan selama penjualan Juli perseroan mampu mencetak penjualan sebanyak 700 unit. Sedangkan hingga semester I, lanjut dia, penjualan UNTR mencapai 4.300 unit. Dengan pencapaian tersebut, ia mengaku optimistis perseroan mampu mengejar target penjualan tahun ini sebanyak 8 ribu unit.

“Kami masih memiliki waktu lima bulan lagi untuk menjual hingga mencapai target yang baru direvisi,” ungkap Sarah di sela media gathering di Jakarta, Senin (8/8). 



Sebelumnya, Investor Relations United Tractors Ari Setiyawan nmengatakan perserroan mengubah target penjualan dari 7.500 menjadi 8 ribu unit pada 2011. Jumlah tersebut, lanjut dia, ditingkatnya menyusul tingginya realisasi penjualan hingga semester I 2011. “Pasar alat berat sedang bergairah, sehingga target penjualan alat berat direvisi,” papar Ari.

United Tractors adalah distributor alat berat merek Komatsu. Tahun lalu, penjualan Komatsu mencapai 5.400 unit Selain menggarap bisnis alat berat, emiten berkode saham UNTR ini juga masuk ke bisnis kontraktor dan tambang batubara.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan semester I 2011, United Tractors berhasil mencatatkan pendapatan meningkat 42% menjadi Rp 25,6 triliun dari Rp 18 triliun. Sedangkan laba bersih, perseroan mampu mencatatkan sebanyak Rp 2,54 triliun. Jumlah tersebut meningkat 34% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 1,89 triliun.

Pada kesempatan yang sama, Sarah menjelaskan perseroan telah menyelesaikan akusisi PT Asmin Bara Beronang (ABB) dari 30% menjadi 60% pada bulan ini. Namun, ia enggan untuk menjelaskan nilai dari akuisisi ABB tersebut. Ia hanya mengatakan dari tiga tambang yang diakuisisi, ABB memiliki porsi paling besar. Sebab, tambah dia, kalori yang ada di tambang tersebut lebih bagus ketimbang lainnya. Tak heran apabila perseroan membayar uang muka sebesar US$ 90 juta.


“Kami tidak bias menyebutkan karena kami masih membidik tambang lainnya yang berada di sekitar ABB. Jika disebutkan, kami khawatir harga yang akan ditawarkan menjadi naik,” jelas Sarah.


Selain mengakusisi ABB, United Tractors mengakusisi 20% saham PT Bukit Enim Energi (BEE). Untuk mengakuisisi perusahaan tambang batu bara yang terletak di Muara Enim, Sumatera Selatan, tersebut UT merogoh kocek sebesar US$ 21 juta. Selain itu, United Tractors melalui anak usaha PT Tuah Tarungga Agung (TTA), UT telah menandatangani perjanjian jual beli bersayarat (conditional sale and purchase agreements/ CSPA) guna membeli 60% saham Duta Sejahtera. Transaksi ini senilai US$ 11 juta. (iin)