Nusantara infrastructure Refinancing Utang Rp 750 M
JAKARTA - PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) akan refinancing seluruh utang anak usaha kepada PT Bank Mega Tbk (MEGA) dan Bank Syariah Mega Indonesia senilai Rp 750 miliar. Dalam refinancing tersebut, perseroan meminjam kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Dalam refinancing tersebut, perseroan berencanan untuk menjaminkan seluruh saham yang dimiliki perseroan pada empat anak usahanya tersebut. Keempat anak usaha tersebut adalah PT Bosowa Marga Nusantara, PT Bintaro serpong Damai, PT Jalan Tol Seksi Empat, dan PT Jakarta Lingkar Barat Satu. Rencananya, penjaminan tersebut perseroan akan meminta persertujuan kepada pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) yang akan diselenggarakan pada 22 Agustus 2011.
Direktur Utama Nusantara Infrasructure Ramdani Basri menjelaskan dalam refinancing tersebut BCA akan mengambil alih seluruh utang anak usaha perseroan dari Bank Mega. Ia mengatakan hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan struktur pembiayaan perbankan yang lebih baik. Namun, ia enggan untuk menjelaskan besarnya bunga dan tenor yang diberikan oleh BCA. “Kami baru akan menjelaskan semua itu pada minggu depan. Yang jelas refinancing tersebut menunjukan kita mempunyai kredibilitas yang cukup baik,” ungkap Ramdani kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (8/8).
Direktur Nusantara Infrastructure Danni Hasan mengakui perseroan akan refinancing seluruh utang anak usaha senilai total Rp 750 miliar. Namun, ia enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai refinancing utang tersebut. Berdasarkan laporan keuangan perseroan semester I 2011, utang emiten berkode META ini mempunyai utang bank mencapai Rp 750 miliar. kepada Bank Mega sebesar Rp 715 miliar dan Bank Syariah Mega sebesar Rp 34 miliar.
Analis Samuel Sekuritas Adrianus Bias mengatakan refinancing yang dilakukan perseroan sangat tepat dan positif untuk kinerja ke depan. Sebab, lanjut dia, bunga bank Mega sebesar 14% cukup tinggi. Terlebih refinancing biasanya dilakukan untuk memperkecil bunga atau memperpanjang tenor pinjaman. Namun, ia memperkirakan pelaksanaan refinancing tersebut baru akan memberikan dampak pada perseroan pada kuartal IV mendatang.
“Refinancing tersebut dapat mendukung usaha perseroan dalam merambah proyek infrastruktur lainnya. Sebab, jika perseroan hanya mengandalkan pendapatan dari bisnis jalan tol pertumbuhannya tidak akan besar,” ungkap Adrianus.
Hal senada diuangkapkan Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada. Ia mengatakan pengurangan beban utang yang dilakukan perseroan sangat tepat. Sebab, lanjut dia, dari laporan keuangan perseroan semester I 2011 beban utang yang harus ditanggung perseroan mencapai 50% dari pendapatan. Hal tersebut, tambah dia, sangat memberatkan perseroan sehingga mengerus laba perseroan. “Memang dengan refinancing beban keuangan lebih rendah, walau konsekuensi menanggung beban utang lebih lama. Paling tidak beban keuangan yang menyusut akan membuka peluang rperseroan mencetak laba di masa mendatang,” papar Reza.
Reza pun menilai BCA sangat berpeluan untuk memberikan pinjaman dengan tenor yang lebih panjang dan bunga yang lebih ringan. Sebab, saat ini BCA tercatat masih sangat rendah dalam penyaluran kredit yang terlihat dalam tingkat LDR perseroan. “Dengan demikian, BCA melihat dengan menggeklontorkan kepada kredit korporasi, LDR BCA pun akan bias lebih ditingkatkan lagi,” ucap dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar