Selasa, 09 Agustus 2011

BW Plantation Tanam 30 Ribu Hektar Rp 1,8 T

BW Plantation Tanam 30 Ribu Hektar Rp 1,8 T

JAKARTA – PT BW Plantations Tbk (BWPT) berencana menanam sebanyak 30 hektar (ha) hingga 2014. Investasi yang dibutuhkan dalam menanam seluruh lahan tersebut diperkirakan mencapai US$ 210 juta atau setara Rp 1,8 triliun.

Sekretaris Perusahaan BW Plantation Kelik Irwantono menjelaskan dalam satu tahun penamanam dilakukan sebanyak 10 ribu ha. Ia mengatakan kebutuhan dana untuk melakukan penanaman tersebut setidaknya sebesar US$ 7 ribu per ha. Jumlah tersebut, tambah dia, termasuk pembebasan lahan dan tanaman. Sedangkan hingga akhir tahun 2011, perseroan memperkirakan lahan tertanam akan mencapai 62.450. “Hal tersebut dilakukan seiring dengan target perseroan bahwa pada 2014 seluruh lahan kami yang saaat ini dimiliki sekitar 90 ribu ha telah tertanam,”  ungkap Kelik kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pecan lalu.

Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, Kelik mengatakan akan berasal dari sisa obligasi 2010 yang kini mencapai Rp 200 miliar dan pinjaman. Namun, ia belum bisa menyebutkan bank yang akan menjadi partner mereka dalam pinjaman tersebut. Sebab, lanjut dia, hingga saat ini perseroan tengah mencari pinjaman. Ia mengatakan opsi pinjaman masih sangat terbuka untuk perseroan. Terlebih hingga Juni 2011, debt equity ratio (DER) perseroan hanya sebesar 0,9 kali. 

Selain itu, lanjut Kelik, perseroan juga masih memiliki lahan sebanyak 20 ribu ha untuk dijaminkan sebagai pengembangan perseroan. Dengan jumlah lahan tersebut, tambah dia, perseoan berpotensi mendapatkan pinjaman sekitar Rp 1,3-1,5 triliun. “Beberapa bank sudah melakukan due diligence dan menawarkan pinjaman tersebut. Namun, hal itu masih belum kami putuskan hingga saat ini. Sebab, kami juga akan melakukan pembangunan pabrik pada waktu yang bersamaan,” jelas dia.

Sebelumnya, Direktur Utama BW Plantation Abdul Halim bin Ashari berencana untuk membangun sebanyak 10-11 pabrik hingga 2015. Investasi yang dibutuhkan dalam membangun seluruh pabrik tersebut diperkirakan mencapai US$ 73 juta atau setara Rp 627 miliar. Sebab, tambahnya, Halim menjelaskan pembangunan pabrik tersebut diperlukan untuk mengolah tandan buah segar (tbs) kelapa sawit yang diperkirakan mencapai 500 ton per jam pada 2015. Sebab, lanjut dia, pada tahun itu perseroan diperkirakan memiliki tanaman menghasilkan sebanyak 70% dari total lahan.

Sedangkan saat ini, lanjut dia, perseroan baru memiliki tanaman yang menghasilkan sebanyak 30% dari total lahan dimiliki perseroan. Sedangkan pabrik pengolahan tbs baru mencapai 135 ton per jam pada akhir tahun mendatang. “Dengan demikian, kami masih akan memerlukan 10-11 pabrik lagi untuk dapat memenuhi pengolahan tbs pada 2015. Hal ini dengan asumsi nilai investasi yang dibutuhkan adalah US$ 2 juta per 10 ton per jam. Namun, jumlah ini masih diluar dari tbs yang akan dihasilkan dari lahan yang akan kami akusisi,” papar dia.

Cairkan Pinjaman

Kelik menambahkan tahun ini perseroan akan mencairkan pinjaman sebanyak Rp 237 miliar untuk mendukung belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 550 miliar. Pinjaman tersebut berasal dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan bunga 10,7% dan tenor 7 tahun. Dari jumlah tersebut, lanjut dia, sebanyak Rp 140 miliar telah dicairkan. Sedangkan sisanya akan dicairkan pada semester II mendatang. “Pencairan tersebut akan digunakan untuk penanaman dan juga pembangunan pabrik sebesar Rp 65 miliar,” tandas dia.

Sementara itu, Pefindo memberikan rating A dengan outlook stabil kepada perseroan dan obligasi yang mereka keluarkan pada 2010. Menurut Pefindo, rating tersebut diberikan sebagai refleksi baiknya kinerja manajemen, kuatnya kas perseroan, dan perkebunan yang baik. Peringkat tersebut diimbangi dengan resiko yang berhubungan dengan ekspansi bisnis perseroan, kebijakan keuangan, dan cuaca tidak mendukung. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar