Laba Lippo Karawaci Tumbuh 35%
JAKARTA – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mencetak laba sebesar Rp 298 miliar pada semester I 2011. Jumlah tersebut meningkat 35% dibandingkan periode yangs ama pada tahun lalu sebesar Rp 221 miliar.
Adapun laba sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi (EBITDA) emiten berkode saham LPKR tersebut juga naik sebesar 26% dari Rp 330.78 menjadi Rp 447 miliar. Sementara itu, perseroan mampu mencatatkan pendapatan sebesar Rp 1,883 triliun. Jumlah tersebut meningkat 29% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 1,463 triliun.
Presiden Direktur Lippo Karawaci Ketut Budi Widjaja mengatakan kinerja di kuartal II tahun ini sangat signifikan. Sebab, lanjut dia, pada periode tersebut untuk pertama kalinya perseroan mampu mencapai pendapatan lebih dari Rp 1 triliun hanya dalam satu kuartal. “Hasil kinerja tersebut didukung oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus berlanjut,” ungkap Ketut dalam siaran pers di Jakarta, Senin (1/8).
Ketut menambahkan kinerja tersebut juga ditopang oleh divisi usaha perseroan secara keseluruhan yang menunjukan hasil memuaskan dan bertumbuh dengan hasil yang luar biasa. Bahkan, lanjut dia, pendapatan divisi usaha Residential/Township meningkat 38% menjadi Rp 901 miliar dari Rp 653 miliar pada 2010. Disusul pendapatan unit usaha Hospitals yang juga bertumbuh sebesar 17% menjadi Rp 593 miliar. Ia mengatakan pertumbuhan unit usaha tersebut akan terus berlanjut seiring dengan enam buah rumah sakit sedang dalam konstruksi.
Sementara itu, lanjut Ketut, unit usaha Commercial mencatat pendapatan sebesar Rp 197 miliar atau meningkat 16% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. sementara Asset Management tumbuh 44% menjadi Rp193 miliar dari Rp134 miliar. Ia menjelaskan hal tersebut sebagai hasil dari peningkatan fee yang diperoleh perseroan dengan peningkatan Assets Under Management (AUM) dari REIT Termasuk di dalamnya penjualan Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) dan Siloam Hospitals Lippo Cikarang.
Tidak hanya itu, Ketut menjelaskan kontribusi recurring revenue perseroan mampu tumbuh 21%. Bahkan, lanjut dia, kontribusi pendapatan recurring terus meluas hingga mencapai 52% dari total pendapatan pada paruh pertama tahun ini. Sedangkan, pendapatan dari pengembangan properti tumbuh 38% pada Juni 2011. Ia menjelaskan hasil tersebut sejalan dengan target yang akan di capai perseroan pada 2011. Mengingat fokus perseroan adalah untuk melanjutkan pelaksanaan dan implementasi dari strategi pertumbuhan keseluruhan segmen bisnis.
“Kami akan mengintensifkan dan mempercepat pelaksanaan strategy asset light perseroan dengan menjual aset mal dan rumah sakit untuk menghasilkan tambahan pendapatan extraordinary,” jelas Ketut.
Analis Waterfront Securities Isfhan Helmy Arsyad menjelaskan pencapaian pertumbuhan pendapatan yang dicatatkan perseroan cukup bagus, terutama dengan didukung oleh kontribusi residential yang bertumbuh signifikan. Hal tersebut, lanjut dia, didukung dengan banyaknya proyek residential perseroan yang telah mencapai tahap topping off. “Namun, pada semester II mendatang perseroan akan lebih didukung oleh unit usaha commercial dan bahkan diprediksi akan mengalahkan kontribusi residensial,” jelas dia.
Meskipun demikian, Isfhan menilai pencapaian laba bersih perseroan masih belum maksimal. Ia memperkirakan tertekannya laba tersebut disebabkan margin laba perseroan masih tertekan dengan adanya ekspnasi yang dilakukan perseroan di unit bisnis rumah sakit. Hal tersbeut seiring dengan investasi besar yang dibutuhkan di divisi tersebut. Ditambah lagi, lanjut dia, unit bisnis tersebut baru akan menghasilkan return yang besar pada tiga tahun mendatang.
Meskipun demikian, Isfhan memperkirakan divisi bisnis hospital ini akan menjadi penopang utama LPKR di masa depan. Hal ini seiring dengan divisi lainnya yang diperkirakan akan semakin terbatas pertumbuhannya, yaitu residential dan commercial mall. Isfhan mengatakan target harga LPKR pada akhir tahun berpotensi menembus level Rp 1 .000 per lembar saham. “Angka ini didapat karena nilai asset bersih per saham masih ada di sekitar 1.500. Biasanya dengan target selalu terdiskon, level 1.000 merupakan sangat rasional,” kata dia.(iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar