Harga SUN Tenor Menengah Berpotensi Menguat
Hal tersebut terjadi karena pecan ini tekanan global akan lebih rendah. Setelah pada akhir pecan lalu, kondisi global memberikan tekanan kepada investor untuk melakukan reposisi asset terhadap SUN. Alhasil, pada pecan lalu harga obligasi di seluruh tenor mengalami pelemahan. Namun, seiring dengan kondisi fundamental Indonesia yang masih kuat menyebabkan investor, terutama asing, diperkirakan akan kembali masuk pada pecan ini. Terlebih, pada pecan lalu gejolak yang terjadi di pasar obligasi lebih kecil dibandingkan dengan bursa saham.
Namun, penguatan harga SUN pecan ini hanya terjadi pada tenor jangka menangah antara 7-15 tahun. Hal tersebut terjadi karena kondisi inflasi Agustus 2011 yang diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan pada periode yang sama pada tahun lalu, yaitu dikisaran 4,9% atau dibawah 5%. Padahal, para ekonom berpendapat inflasi Agustus akan menjadi yang tertinggi dibandingkan bulan lainnya. Menyusul adanya Ramadhan dan Lebaran.
Dengan demikian, pada akhir tahun inflasi diperkirakan pada hanya akan berada di bawah 6%. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan asumsi para ekonom sebelumnya yang mencapai 6,5%. Meskipun demikian, Investor dalam negeri masih harus lebih jeli dan lebih baik wait and see dalam menempatkan investasi mereka di pasar obligasi pada menjelang libur Lebaran yang berjalan selama satu minggu. Sebab, selama libur tersebut dikhawatirkan kondisi global masih akan mengelami ketidakpastian. Demikian rangkuman analisa ekonom BII Samuel Ringoringo dan analis NC Securities I Made Adi Saputra.
Samuel berpendapatan aksi reposisi asset yang dilakukan investor pada akhir pecan lalu masih didalam batas kewajaran. Sebab, lanjut dia, tidak ada hal yang dikhawatirkan dari kondisi fundamental Indonesia mengingat tingkat inflasi dan suku bunga masih relative bagus. Ia berpendapat aksi tersebut dilakukan karena investor menilai harga obligasi Indonesia sudah cukup mahal. “Alhasil mereka membutuhkan alasan yang tepat untuk bisa kembali masuk ke Indonesia , salah satu caranya adalah dengan menjual terlebih dahulu,” papar Samuel.
Samuel menilai investor tetap optimisti pasar Indonesia masih akan menjadi tempat investasi yang menjanjikan untuk Negara berkembang. Hal ini seiring dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I 2011 yang menunjukan kondisi positif. Ditambah lagi, lanjut dia, keyakinan investor bahwa Indonesia dalam waktu dekat akan mendapatkan investment grade. Ditambah lagi dengan kebijakan AS yang tidak akan menaikan suku bunga hingga 2013.
Dengan demikian, tambah Samuel, likuiditas global diprediksi masih akan banyak dan mereka mencari Negara yang menjanjikan gain positif seperti di Indonesia . “Semua itu akan membuat guncangan kondisi global di pasar obligasi Indonesia diperkirakan tidak akan terjadi seperti di pasar bursa saham,” jelas Samuel.
Namun, lanjut Samuel, kondisi positif yang akan terjadi di pecan mendatang hanya akan menggerakan obligasi tenor menegah antara 7-15 tahun. Ia bahkan memprediksi yiled untuk tenor tersebut berpeluang melemah sebanyak 15 basis poin. Sedangkan untuk tenor diatas 20 tahun, ia mengatakan masih belum menarik untuk diakumulasi pada pecan mendatang. “Sebab, semakin lama tenor resiko yang diantisipasi semakin besar terkait dengan kondisi global yang masih belum menentu,” papar dia.
Lanjutkan Pelemahan
Sementara itu, Made menilai pecan ini harga obligasi masih akan melanjutkan pelemahan. Terlebih menjelang hari libur Lebaran yang akanberlangsung selama satu pecan. Ditambah lagi, lanjut dia, kondisi pasar keuangan global yang masih mengkhawatirkan dan belum ada kepastian di masa mendatang. Untuk itu, lanjut dia, investor masih akan lebih memilih on cash pada pecan ini.
Made memprediksi minggu depan yield tenor pendek 5 tahun ke bawah akan naik sebanyak 10-15 basisi poin. Sedangkan, lanjut dia, untuk tenor diatas 15 tahun diprediksi mengalami kenaikan sebanyak 5-10 basis poin. “Dari sisi harga akan mengalami pelemahan yang signifikan. Untuk tenor dibawah 5 tahun bergerak sebesar 20 basis harga. Sementara tenor panjang, harganya bisa turun hingga 50 basis poin,” jelas dia.
Melihat kondisi seperti itu, Made merekomendasikan investor untuk merealisasikan target yield 1mereka di pecan ini. Langkah tersebut, jelas dia, diambil sebagai antisipasi gejolak di pasar oblogasi global selama libur mendatang. Hal tersebut berdasarkan pengalaman yang terjadi pada 2008. Ia mengatakan di kala itu pasar obligasi global bergejolak selama libur Lebaran dan menyebabkan pasar obligasi Indonesia ngedrop.
“Jika sudah sampai pada kondisi tersebut, tentu menyulitkan investor untuk merealisasikan keuntungan,” tandas dia. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar