Harga SUN Bergerak Sideways
JAKRTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) diprediksi akan bergerak sideways di semua tenor pada pecan ini. Hal tersebut terjadi sebagai imbas dari dari gejolak financial global yang terjadi pada akhir pecan lalu. Alhasil, imbal hasil (yiels) pada pecan ini diperkirakan mengalami pergerakan sekitar 10-40 basis poin.
Gejolak financial global yang terjadi di bursa saham dan pasar valas dunia pada akhir pekan lalu, baru akan direspon pada pasar obligasi pada pekan ini. Namun, respon yang terjadi di pasar obligasi dikhawatirkan akan lebih parah dibandingkan dengan pasar saham dan valas. Sebab, pasar obligasi tidak selikuid pasar saham dan valas. Hal tersebut diperparah dengan sentimen turunnya indeks purchasing power industri di seluruh dunia. Dengan demikian, investor mulai berekspektasi bahwa penurunan domain global akan terjadi sangat signifikan.
Selain itu, kondisi domestic juga masih belum mampu menjadi katalis kuat untuk mendorong pergerakan harga SUN pecan ini. Walau pada pertengahan pecan lalu pemerintah mengumumkan pertumbuhan ekonomi dan target APBN masih on track. Bahkan, pasar obligasi domestic diperkirakan akan sepi pada awal pecan ini. Mengingat pada Selasa (9/8) pemerintah akan mengadakan lelang SUN yang ditargetkan mencapai Rp 7 triliun. Alhasil, pemodal akan lebih memilih masuk di pasar primer ketimbang sekunder.
Sentimen yang terjadi di global maupun domestik tersebut membuat pemodal masih akan melancarkan aksi wait and see pada pekan ini. Demikian rangkuman analisa ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya.
Juniman memperkirakan harga obligasi di pecan ini akan melambat terlebih yield yang ditawarkan akan sangat ketat. Bahkan, lanjut dia, yield tenor 20 tahun sajam sudah berada di bawah 8% dan 10 tahun dikisaran 6%. Untuk itu, ia memprediksi akan terjadi koreksi pada oblihasi derdominasi rupiah. Hal tersebut, tambah dia, disebabkan adanya profit taking pemodal dalam mengamankan investasi mereka mengantisipasi kondisi gejolak financial tersebut.
“Namun, hal tersebut hanya temporary tidak akan terjadi panjang untuk SUN Indonesia. Sebab, secara fundamental Indonesia masih menjadi pilihan untuk membenamkan investasi,” jelas Juniman.
Meskipun demikian, Juniman memperkirakan pemodal masih berpeluang untuk masuk SUN berdominasi dollar. Sebab, lanjut dia, harga SUN dollar diperkirakan akan berpeluang menguat akibat dari kenaikan harga US Treasury. Hal tersebut dipicu dari kenaiakan pagu utang AS untuk 10 tahun mendatang. “Dengan demikian, pemodal kembali memburu US treasury dan ini akan memberikan imbas kuat pada SUN dollar kita. Yield pun berpotensui turun sebanyak 10-15 basisi poin,” kata dia.
Bergerak Flat
Sementara itu, Edbert memperkirakan harga SUN cenderung flat di pecan ini. Meski gejolak financial di akhir pecan lalu cukup menggoyahkan pasar saham dunia. Hal tersebut, lanjut dia, didukung juga dengan kondisi Amerika Serikat (AS) dan Eropa masih belum menunjukan perbaikan. Bahkan, lanjut dia, pada pecan lalu S&P telah menurunkan peringkat surat utang AS semula berada di tingkat AAA menjadi AA+. “Dengan demikian, pemodal masih akan melancarkan aksi wait and see sepanjang pecan ini,” ucap dia.
Edbert menambahkan kondisi dalam negeri secara fundamental masih cukup bagus. Hal tersebut ditandai dengan masih on track pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan dmikian, Edbert optimistis gejolak yang terjadi di global tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan pada psar obligasi Indonesia. Namun, tambah dia, pergerakan harga SUN pecan ini akan sangat terbatas. Sebab, pada pecan lalu penurunan yield sudah cukup besar. “yield pun hanya akan bergerak kurang lebih sebesar 10-15 basis poin di semua tenor,” tegas dia.
Edber pun merekomendasikan pemodal untuk masuk pada tenor jangka panjang. Sebab, lanjut dia, yield di tenor tersebut masih berpeluang untuk turun. “Hal tersebut seiring dengan masih beredanya sentiment kuat bahwa Indonesia akan mendapatkan kenaikan rating dalam waktu dekat,” ucap dia. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar