Minggu, 21 Agustus 2011

Bakrie Brothers Tambah Saham Bumi Plc

Bayar utang Rp 1,2 T
Bakrie Brothers Tambah Saham Bumi Plc

JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berencana untuk menambah saham di Bumi Plc. Rencananya, perseroan membidik kembali penguasaan 23% saham di perusahaan tersebut. Setelah pada sebelumnya kepemilikian saham perseroan terdilusi menjadi 19%.

“Kami akan ikut step up apabila Vallar kembali melakukan hal tersebut. Hal ini sejalan dengan focus kami sebagai perusahaan investasi yang memiliki portofolio di sumber daya alam, seperti Bumi Plc, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Bakrie Sumatera Tbk (UNSP),” ungkap Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gofur Umar di sela media gathering di Jakarta, Jumat (19/8).

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno mengatakan saat ini perseroan saat ini memiliki kepemilikan saham di Bumi Plc dibawah 20%. Jumlah tersebut, lanjut dia, setelah terdilusi akibat keputusan perseroan untuk tidak ambil bagian dalam step up. Padahal, lanjut dia, sebelumnya kepemilikan perseroan mencapai 23%. “Untuk itu, agar kami tidak terdilusi lagi dan ingin mencapai kepemilikan sebesar 23%, rencananya kami akan ikut dalam step up berikutnya,” jelas dia.

Eddy mengatakan sampai saat ini belum ada alokasi definitive untuk melakukan step up tersebut. Namun, ia memperkirakan untuk menambah sebanyak 3-4% diperkirakan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Untuk itu, lanjut dia, perseroan telah menyiapkan dana untuk investasi sebesar US$ 50 juta. Tapi, lanjut dia, dana tersebut masih akan ditambah lagi dari dana yang dihimpun perseroan melalui pinjaman.

“Komposisi pinjaman tersebut masih dibicarakan. Dengan pertimbangan proyeksi harga cukup menjanjikan dalam waktu dekat. Hal ini agar kami tidak meminjam uang dalma waktu lama. Mengingat saat ini kami dalam proses pengurangan utang,” papar Eddy.

Menurut Eddy, peluang untuk meningkatnya harga saham Bumi Plc sangat terbuka lebar. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan booming batubara yang diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam jangka waktu lama. Ia bahkan menyebutkan harga saham Bumi PLc sempat menyentuh level 14 poundsterling, padahal perseroan masuk ke Bumi Plc dengan harga 10 poundsterling. Sedangkan saat ini, tambah dia, harga Bumi Plc berada di bawah 10 poundsterling.

“Ini menjadi waktu yang tepat bagi kami untuk masuk ke Bumi Plc. Kami bahkan optimistis Bumi Plc akan kembali menyentuh level 14 poundsterling. Hal ini seriing dengan kebijakan mereka mengurangi jumlah utang, menaikan produksi, dan naiknya harga komoditas batubara,” ujar Eddy. 

Pada kesempatan yang sama, Eddy menjelaskan perseroan telah membayar utang Medium Structure Note (MSN) sebesar Rp 1,2 triliun dari total sebanyak Rp 3,3 triliun. Ia mengatakan pembayaran utang tersebut dilakukan melakui debt asset settlement dari portofolio perusahaan terbuka yang dimiliki perseroan. Penjualan tersebut, lanjut dia, dilakukan melalui PPC yang akan bernegosiasi dengan kreditur. Dengan demikian, lanjut dia, kepemilikan perseroan di portofolio perusahaan tersbut tersebut menjadi berkurang. Ia menyebutkan  PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (28,92%), PT Bakrie Land Development Tbk (8,14%), PT Bakrie Bakrie Telecom Tbk (45%), PT Energy Mega Tbk (8,75%).

“Setiap kreditur diperlakukan berbeda. Dengan pembayaran tersebut, sisa utang MSN tinggal Rp 2,1 triliun. Jumlah tersebut akan diselesaikan pada kuartal III ini. Saat ini kami masih dalam proses negoisasi,” papar Eddy.

Pada semester I 2011, Bakrie Brothers berhasil membukukan laba sebesar Rp 45 miliar. Jumlkah tersebut meningkat 127% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Mengingat tahun lalu perseroan menderita kerugian sebesar Rp 171,5 miliar. Adapun pendapatan mengalami kenaikan sebesar 7% menjadi Rp 6,47 triliun dari Rp 6,03 triliun.

Menurut Bobby, keberhasilan perseroan untuk mencatakan keuntungan tersebut berkat kegiatan investasi yang mengalami peningkatan sebesar 57% dari Rp 7,43 triliun per Desember 2010, menjadi Rp 10,78 triliun. Selain itu, lanjut dia, penghapusan bunga karena pelunasan yang uang lebih cepat dari seharusnya sebesar Rp 362 miliar. Dalam penghapusan bunga tersebut, terjadi akibat dari pembayaran utang sebesar Rp 1,2 triliun.

“Sedangkan penyumbang terbesar pendapatan perseroan berasal dari sector perdaganggan melalui Bakrie Energy International. Sektor ini menyumbang 57%,”tandasnya.(iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar