Terbitkan Obligasi Berkelanjutan
Tahap I, Antam Jaring Dana Rp 1,5 T
JAKARTA – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akan menerbitkan obligasi berkelanjutan senilai US$ 350 juta atau setara Rp 3,01 triliun. Rencananya, tahap I obligasi berdenominasi rupiah tersebut akan diterbitkan pada kuartal IV 2011 sebesar Rp 1-1,5 triliun. Obligasi berkelanjutan tersebut digunakan untuk mendanai proyek pabrik smelter feronikel di Halmahera Timur, Maluku Utara
Proyek pembangunan pabrik feronikel berkapasitas 27 ribu ton tersebut menghabiskan dana sebesar US$ 1,6 miliar. Dalam pembangunan proyek tersebut, Antam menggandeng Hutama Karya dan PT PLN (persero). Sebelumnya, Antam mendapatkan bantuan berupa pembangunan pembangkit listrik kapasitas 260 megawatt (MW) yang merupakan bagian dari proyek tersebut senilai US$ 600 juta. Dengan demikian, Antam memerlukan dana sebesar US$ 1 miliar untuk pembangunan proyek tersebut.
Sumber Investor Daily mengatakan penerbitan obligasi tersebut akan terbagi menjadi beberapa tahap. Namun, sumber mengatakan besaran penerbitan obligasi tersebut akan sesuai dengan kebutuan dana dari perseroan dalam pembangunan pabrik tersebut. “Tapi untuk tahap I, perseroan akan menerbitkan obligasi senilai Rp 1-1,5 triliun,” ungkap sumber yang mengetahui aksi korporasi tersebut di Jakarta, Selasa (9/8).
Direktur Keuangan Antam Djaja M Tambunan mengatakan jumlah tersebut sesuai dengan porsi ekuitas yang harus dicari perseroan sebesar 35%. Sedangkan selebihnya, lanjut dia, akan berasal dari pinjaman yang akan di galang oleh konsorsium PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang telah ditunjuk perseroan pada pecan lalu. Selain Bank Mandiri, konsorsium tersebut beranggotakan PT Mandiri Sekuritas, Goldman Sachs, Deutsche Bank, Sumitomo Mitsui Banking, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan Standard Chartered.
“Saat ini yang kami usahakan adalah financing dengan obligasi terlebih dahulu. Baru tahap kedua menggunakan opsi pinjaman. Besarnya tergantung dengan tahapan proyek. Yang jelas tidak mungkin saya tarik 100% kalau penggunaannya hanya beberapa persen,” papar Djaja.
Menurut Djaja, perseroan lebih memilih obligasi berkelanjutan karena pendanaan akan sesuai dengan kemajuan proyek yang tengah dikerjakan perseroan. Dengan demikian, perseroan tidak akan menanggung beban bunga yang tinggi saat dana tersebut belum terpakai. Namun, Djaja enggan untuk menjelaskan besaran dana yang akan dijaring dalam obligasi berkelanjutan tahap I. Ia hanya mengatakan jumlah tersebut akan sesuai dengan kebutuhan proyek di tahap awal.
Saat ini, lanjut Djaja, perseroan tengah melakukan persiapan proses tender untuk Engineering, Procurement and Construction (EPC). Ia pun menyebutkan bahwa sudah banyak calon yang berminat untuk EPC tersebut. Namun ia enggan untuk menyebutkan hal tersebut. “Dengan demikian, kami masih belum ada hitungan jumlah dana yang diperlukan pada tahap awal,” jelas Djaja.
Djaja menjelaskan obligasi tersebut akan menggunakan buku Juni 2011. Untuk itu, lanjut dia, laporan keuangan perseroan semester I 2011 masih dalam proses audit dan hasilnya diperkirakan akan keluar pada akhir September mendatang. Dengan demikian, tambahnya, pada Oktober mendatang diharapkan sudah dapat diproses. Ia menambahkan obligasi tersebut ditawarkan di luar maupun dalam negeri.
Lebih lanjut Djaja menjelaskan konsorsium Bank Mandiri yang akan menangani penerbitan obligasi tersebut. Namun, dari seluruh anggota konsorsium tersebut, hanya PT Mandiri Sekuritas yang berpeluang menjadi underwriter. Sebab, selebihnya hanya bergerak di pemberian pinjaman. Ia pun mengisyaratkan akan ada underwriter lain yang ikut menangani penerbitan obligasi tersebut. Sayangnya, ia enggan untuk menyebutkan hal tersebut.
Sementara itu, Direktur PT Mandiri Sekuritas Kartika Wirjoatmadjo mengakui bahwa Mandiri Sekuritas akan menangani obligasi tersebut. Hal tersebut, lanjut dia, sesuai dengan masuknya Mandiri Sekuritas dalam konsorsium yang dibentuk oleh induk usahanya tersebut. “Namun, hingga saat ini kami masih belum ada pembicaraan mengenai penentuan besaran yang akan dikeluarkan pada tahap pertama tersebut,” ucap Kartika.
Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang menilai langkah perseroan untuk menerbitkan obligasi untuk membiayai proyek mereka saat ini. Ia mengatakan peluang untuk Antam menerbutkan obligasi sebesar itu sangat terbuka lebar. Sebab, lanjut dia, debt to equity ratio (DER) perseroan hanya sebesar 0,5 kali dan memiliki ekuiti hingga Rp 8 triliun. Ia menambahkan Edwin menilai dengan fundamental yang dimiliki oleh perseroan, obligasi tersebut diperkirakan akan mendapatkan rating yang bagus.
“Dengan rating yang bagus tersebut, Antam kemungkinan akan mendapatkan bunga yang rendah. Alhasil, perseroan akan mendapatakan cost of fund yang rendah dan tidak akan memberatkan perseroan,” jelas Edwin.
Edwin menilai tenor obligasi yang cocok untuk Antam adalah diatas 5 tahun. Sebab, tambah dia, perseroan membutuhkan waktu yang panjang untuk pembangunan pabrik tersebut hingga menghasilkan. Meskipun demikian, ia optimistis obligasi yang akan dikeluarkan oleh Antam akan diserap oleh pasar secara maksimal. “Hal ini karena permintaan terhadap obligasi masih sangat tinggi,” tandas dia. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar