Central Omega Targetkan Dana Rights Issue Rp 1 T
JAKARTA - PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) berencana menggelar rights issue pada September 2011. Dalam aksi korporasi tersebut, perseroan membidik dana maksimal sebesar Rp 1 triliun.
Sumber Investor Daily mengatakan dana dari aksi korporasi tersebut dipergunakan untuk membiayai pembangun pabrik smelter nikel di Morowali, Sulawesi. Dalam pabrik smelter tersebut, perseroan memiliki 40% saham. Sedangkan sisanya, lanjut dia, dimiliki oleh perusahaan asal Tiongkok. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama perusahaan dari Tiongkok tersebut. Ia hanya mengungkapkan dana sebesar Rp 1 triliun tersebut merupakan bagian dari porsi ekuitas dari Central Omega dalam pembangunan pabrik tersebut.
"Sedangkan nilai total investasi pembangunan pabrik tersebut sebesar Rp 4-5 triliun," ungkap sumber yang mengetahui aksi korporasi tersebut di Jakarta, Kamis (18/8).
Sumber tersebut menambahkan pembangunan pabrik smelter nikel tersebut dilakukan untuk persiapan penerapan UUD Minerba pada 2014. Untuk itu, lanjut dian, pembangunan pabrik tersebut akan dimulai pada 2012. Dengan demikian, lanjut dia, diharapkan akan beroeparasi pada 2013. Namun, lanjut dia, hingga saat ini perseroan masih belum menentukan kapasitas dari pabrik smelter tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan masih melakukan kajian dalam pembangunan pabrik tersebut.
Sumber mengatakan akan meminta persetujuan pemegang saham dengan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) pada 30 september 2011. Jika disetujui, lanjut dia, perseroan akan langsung mengajukan kepada otoritas bursa. Sedangkan untuk harga rights issue tersebut, lanjut dia, perseroan akan mengambil harga tertinggi selama 25 hari sebelum tanggal pemanggilan yang rencananya akan dilakukan pada 15 September mendatang.
"Untuk pemberitahuan akan dilakukan pada 26 September 2011. Namun, untuk struktur yang lebih jelasnya masih akan dibahas perseroan," jelas sumber.
Lebih lanjut sumber mengatakan dalam rights issue tersebut pemegang saham mayoritas perseroan akan bertindak sebagai stand buy buyer, yaitu PT Jinsheng Mining. Sebagai informasi, perusahaan asal Tiongkok tersebut memegang 80% saham perseroan. Sementara selebihnya dimiliki oleh publik. (Iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar