XL Refinancing Utang Rp 1 T
JAKARTA – PT XL Axiata Tbk (EXCL) akan refinancing utang sekitar Rp 900 miliar – 1 triliun pada tahun ini. Rencananya, perseroan akan menggunakan pinjaman bank untuk refinancing utang tersebut. Jumlah utang yang akan direfinancing tersebut adalah bagian dari utang yang akan jatuh tempo pada akhir tahun mendatang sebesar Rp 2,4 triliun.
Chief Operating Officer XL Axiata Willem Lucas Timmermans mengatakan saat ini perseroan masih belum mendapatkan pinjaman bank. Ia menjelaskan saat ini pihaknya tengah melakukan pembicaraan dengan beberapa bank, baik dalam maupun luar negeri. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama bank tersebut. ”Kalau hanya untuk utang jatuh tempo diperkirakan tidak lebih dari Rp 1 triliun. Yang jelas kami ingin mencari refinance yang lebih murah,” ungkap Willem usai media gathering di Jakarta, Rabu (10/8).
Wilem menambahkan jika perseroan mampu mendapatkan pinjaman dengan bunga yang lebih murah, pihaknya akan melanjutkan refinancing untuk seluruh utang mereka yang akan jatuh tempo dalam dua tahun mendatang. “Namun, apabila bunga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan yang telah ada, refinancing hanya akan dilakukan pada tahun ini saja,” jelas Willem.
Selain dengan refinancing, lanjut Willem, perseroan juga membayar utang sebesar Rp 2,4 triliun dengan kas internal sebesar Rp. Ia menambahkan saat ini posisi utang perseroan mencapai Rp 9,5 triliun, sebesar Rp 1,5 triliun diantaranya adalah utang obligasi. Jumlah tersebut, lanjut dia, jauh menyusut dibandingkan dengan utang yang dimiliki perseroan dua tahun lalu diatas Rp 20 triliun.
Menurut Willem, leverage ratio utang yang dimiliki perseroan termasuk rendah untuk perusahaan telekomunikasi. Ia mengatakan investor tidak terlalu suka bila leverage ratio terlalu rendah. Sebab, lanjut dia, investor berpikir neraca perdagangan perseroan terlalu pasif. “Namun, kita tidak melihat leverage ratio tapi lebih pada ROE. Kami akan menjaga ROE paling tidak 25%,” papar dia.
Perkuat Layanan Data
Pada kesempatan yang sama, Willem mengatakan perseroan telah menggunakan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 3 triliun hingga akhir Juni 2011. Jumlah tersebut, lanjut dia, merupakan 50% dari total capex tahun ini sebesar Rp 6 triliun. Ia mengatakan penggunanaan capex tersebut untuk mobile data, layanan 3G. Serta, lanjut dia, traditional services seperti SMS dan voice. “Tahun ini kami lebih banyak mengalokasikan kepada layanan data,” kata dia.
Sebelumnya, Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengatakan bisnis layanan data sangat berpotensi besar untuk mendongkrak pendapatan perseroan. Sebab, lanjut dia, selama semsester I lalu peningkatan pendapatan ditopang oleh pendapatan layanan data melonjak sebesar 47% menjadi Rp 1,54 triliun dari Rp 1,04 triliun. ”Jumlah tersebut, memberikan kontribusi sebesar 21% terhadap total pendapatan pemakaian pelanggan,” aku dia.
Berdasarkan laporan keuangan semester I 2011, XL mampu mencatatakan laba bersih sebesar Rp Rp 1,52 triliun. Jumlah tersebut meningkat 15% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 1,32 triliun. Sedangkan normalisasi laba bersih menembus Rp 1,6 triliun, meningkat 18% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu senilai Rp 1,33 triliun.
Dalam laporan keuangan teresebut, XL menambahkan normalisasi laba bersih karena mengeluarkan biaya yang tidak biasa terjadi dan belum teralisasikan. Meski membukukan pertumbuhan laba hingga dua digit, pendapatan perseroan hanya mengalami peningkatan sebesar 8% menjadi Rp 9,13 triliun dari Rp 8,47 triliun.
Analis Indopremier Dang Maulida menilai langkah perseroan memperbesar porsi capex untuk layanan data sangat tepat. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan meningkatnya popularitas jejaring sosial di Indonesia. Menurut dia, kapasitas yang cukup merupakan kunci untuk mendukung peningkatan volume dalam bisnis layanan data. Sebab, lanjut dia, volume akan menjadi pendorong untuk pertumbuhan laba bersih. Terlebih margin dari layanan data merupakan yang terendah sebesar 20-25%, dibandingkan dengan layanan suara pada 70-80% dan sms di 40-50%.
”Berdasarkan strategi yang diterapkan perseroan untuk pertumbuhan, kami merekomendasikan Buy untuk saham EXCL dengan target harga Rp 6.700 per saham,” tandas Dang dalam riset yang dipublikasikan pada 10 Agustus 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar