Senin, 22 Agustus 2011

Bakrie Brother Kurangi Saham Bakrie Telecom

Bakrie Brother Kurangi Saham Bakrie Telecom

JAKARTA – PT Bakrie & Brother Tbk (BNBR) akan mengurangi porsi kepemilikan saham di PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dalam waktu dekat ini. Rencananya, perseroan hanya akan memegang porsi dibawah 30% dari 45%. 

Direktur Utama Bakrie Brothers Bobby Gaffur Umar menjelaskan mekanisme pengurangan kepemilikan saham tersebut melalui fund management yang akan dibentuk perseroan dalam waktu dekat. “Jadi sekonsolidasi tersebut bukan melalui penjualan. Untuk itu, kami sedang berbicara dengan beberapa investor asing. Tadinya, kita mau cepat untuk melakukan itu, tapi saat ini kondisi global masih belum stabil,” ungkap Bobby di Jakarta, Jumat (18/8).

Bobby mengatakan saat ini perseroan memiliki 45% kepemilikan saham di Bakrie Telecom. Padahal, lanjut dia, pada semester I 2011 Bakrie Telecom merupakan satu-satunya perusahaan yang masih didekonsolidasikan dengan perseroan. Ia memaparkan menjelaskan pelepasan saham tersebut sejalan kebijakan perseroan untuk mendekonsolidasikan semua perusahaan public yang dimiliki. Hal tersebut, lanjut dia, dilakukan agar dapat mengajak investor untuk dapat ikut investasi di portofolio perusahaan terbuka tersebut.

“Bakrie Telecom masih sangat menjanjikan di masa-masa mendatang. Terlebih saat ini perusahaan telekomunikasi tersebut tengah melakukan investasi untuk layanan data dan juga focus pada pengembangan 4G,” papar Bobby.

Pada laporan keuangan semester I 2011, Bakrie Brothers hanya mengkonsolidasikan Bakrie Telecom dalam kinerja mereka. Hal tersebut karena kepemilikan perseroan telah berkurang dalam empat perusahaan terbuka, seperti pemilikan PT Bakrie Sumatera Plantation  Tbk (INSP) hanya sebesar 28,9%, PT Bakrie Land Development Tbk (8,14%), PT Energy Mega Tbk (8,75%), dan Bumi Plc (23%).

Direktur Keuangan Bakrie Brothers Eddy Soeparno menjelaskan pengurangan kepemilikan tersebut terkait dengan kebijakan debt asset settlement untuk membayar utang jangka panjang perseroan senilai Rp 3,3 triliun pada tahun ini. Padahal, lanjut dia, utang tersebut baru akan jatuh tempo pada tahun depan. Dalam melakukan kebijakan tersebut, ia menjelaskan perseroan menyerahkan penjualan kepada Piper Price Company (PPC).

Untuk tahap pertama, lanjut Eddy, perseroan telah berhasil mengurangi utang perseroan sebanyak Rp 1,2 triliun. Sedangkan sisanya, lanjut dia, akan dilakukan pada kuartal III ini. Meskipun demikian, Eddy memastikan kepemilikan saham di lima perusahaan terbuka perseroan tersebut tidak akan mengalami pengurangan. Sebab, lanjut dia, jumlah kepemilikan yang dialokasikan untuk melaksanakan kebijakan debt asset settlement telah dilakukan perseroan pada dua tahun lalu. “Kala itu, kami persiapkan nilai asset mencapai Rp 5 triliun,” jelas dia.

Gandeng Investor Jepang

Pada kesempatan yang sama, Bobby menjelaskan pihaknya akan menggandeng investor asal Jepang untuk masuk dalam proyek PLTU Tanjung Jati A senilai US$ 2 miliar. Sebelumnya, lanjut dia, perseroan telah menggandeng investor asal Korea Selatan Samsung untuk menggarap proyek tersebut.  Ia mengatakn masuknya investor jepang tersebut membuka peluang untuk mendapatkan pendanaan dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC).

“Dengan pendanaan dari JIBC akan lebih murah dan malah bisa samapu 15 tahun tenornya. Saat ini, sudah ada investor Jepang yang tertarik,” papar Bobby. Tapi, ia enggan untuk menyebutkan nama investor tersebut. 

Sementara itu, Eddy mengatakan untuk mendapatkan peluang pembiayaan dari JBIC tersebut setidakanya perseroan mengalokasikan porsi minimal 30% untuk investor asing. Untuk itu, tambah dia,  perseroan masih belum menentukan hal tersebut. Hal ini ditambah lagi dengan keingina nSamsung untuk menambah posri kepemilikan mereka dibandingkan saat ini yang hanya 10%. Meskipun demikian, ia memastikan perseroan masih akan memiliki porsi mayorotas dalam konsorsium tersebut. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar