Selasa, 23 Agustus 2011

Multistrada Gandeng Investor Jepang Bentuk JV

Akuisisi 33 Ribu Hektar Lahan Karet
Multistrada Gandeng Investor Jepang Bentuk JV

JAKARTA - PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) akan menggandeng investor asal Jepang untuk membentuk Joint Venture (JV) pada tahun ini. Pembentukan JV tersebut bertujuan untuk mengembangkan lahan karet sebanyak 33 ribu hektar yang telah berhasil diakuisisi perseroan di Kalimantan Timur.  

Sumber Invetor Daily mengungkapkan dalam JV tersebut, Multistrada akan menjadi mayoritas dengan minimal penguasaan saham sebesar 51%. Menurut sumber, perusahaan asal Jepang yang digandeng oleh perseroan bergerak di bidang trading. Namun, sumber mengaku belum dapat menjelaskan lebih lanjut mengenai pembentukan JV tersebut. Ia hanya menjelaskan investor Jepang tersebut berhasil menyisihkan investor asal Korea Selatan (Korsel), dan Amerika Serikat (AS).

“Pembentukan JV ini akan dilakukan dalam waktu dekat. Oleh karena itu. perseroan diperkirakan belum akan mengungkapkan nilai akuisisi lahan. Sebab, saat ini perseroan masih dalam hal tersebut dikhawatirkan akan mengganggu proses terbentuknya JV tersebut,” ungkap sumber di Jakarta, Senin (22/8).

Ketika dikonfirmasi mengenai kabar tersebut, Presiden Direktur Multistrada Arah Sarana Pieter Tanuri enggan untuk berkomentar. Meskipun demikian, ia tidak membantah apabila perseroan melalui anak usaha, PT PT Multistrada Agro Internasional, telah berhasil mengakuisisi lahan sebanyak 33 ribu hektar. “Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Kemungkinan setelah Lebaran baru bisa kami ungkapkan,” papar Pieter.

Hal senada diungkapkan Direktur Multistrada Arah Sarana Uthan M Arief Sadikin. Ia mengatakan akuisisisi tersebut dilakukan oleh anak usaha perseroan tersebut. Ia pun mengatakan secara legal transaksi tersebut masih berjalan.  “Saat ini proses akuisisi lahan tersebut masih dalam proses. Kami pun belum bisa memberikan penjelasan mengenai hal tersebut,” tegas Uthan.

Sebelumnya, Pieter mengatakan akuisisi lahan karet dilakukan untuk mengamankan pasokan ban. Sebab, lanjut dia, harga karet dalam beberapa bulan terakhir selalu menguat. Ia menjelaskan dalam pengembangan lahan karet tersebut membutuhkan dana sebesar US$5.000-US$7.000 per hektar. Melihat investasi yang sangat besar tersebut, Pieter tengah mempertimbangkan opsi untuk mencari partner atau lebih memilih pendanaan utang lainnya. 

“Dalam pertimbangan ini, kami menunjuk HSBC sebagai penasehat keuangan. Rencananya, bulan depan sudah bisa mendapatkan hasil dari pertimbangan tersebut,” jelas Pieter. 

Managing Research PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada pernah mengatakan perseroan harus memperhatikan sumber pendanaan daalm ekspansi tersebut. Sebab, lanjut dia, perseroan harus bisa menurunkan biaya produksi demi mengimbangi kenaikan harga bahan baku. Hal ini terlihat dengan lebih tingginya pertumbuhan  beban penjualan dan kewajiban dibandingkan pendapatan pada 2010. Jika penjualan 2010 18%, sedangkan beban penjualan naiknya 19% dan kewajiban 30,94%. 

“Hal tersebut berati kewajiban naik melebihi kenaikan pendapatan. Untuk itu, langkah perseroan untuk mengakuisisi lahan karet sangat tepat. Sebab, langkah tersebut dapat nmengefisienkan dan menekan beban pokok produksi perseroan,” tandas Reza.(iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar