Kinerja Astra International Tbk
| Keterangan | 2010 | 2011F | 2012F | 2013F |
| Pendapatan | 129.991 | 150.552 | 169.085 | 187.273 |
| EBITDA | 18.986 | 22.635 | 26.513 | 29.781 |
| Laba Bersih | 14.366 | 17.641 | 20.328 | 22.669 |
| PER (x) | 13,2 | 16,5 | 14,3 | 12,8 |
| EV/EBITDA (x) | 9,4 | 11,9 | 9,8 | 8,4 |
Sumber : Deutsche Bank
TIPS ASII
Rachman Koeswanto (Deutsche Bank)
-Rekomendasi : Buy
-Target Harga : Rp 80.500
Bagus Hananto (Onix Capital)
-Rekomendasi : Buy
-Target Harga : Rp 80.000
Reza Priyambada (Indosurya Asset Management)
-Rekomendasi : Buy
-Target Harga : Rp 82.000
2011, Kebangkitan Seluruh Unit Bisnis Astra International
PT Astra International Tbk (ASII) pada semester I 2011 telah berhasil membuktikan sebagai perusahaan yang solid menggerakan seluruh bisnis mereka. Sebab, disaat pasokan alat berat dan otomotif terganggu akibat gempa di Jepang, lini bisnis Astra lainnya mampu menjaga kinerja perseroan pada periode tersebut tetap kinclong.
Selama semester I 2011, perseroan yang menjalankan enam lini bisnis tersebut mampu mencatatkan laba sebesar Rp 8,6 triliun. Jumlah tersebut meningkat 33,4% dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar Rp 6,4 triliun. Adapun pendapatan meningkat 24% menjadi Rp 76,26 triliun dari Rp 61,51 triliun.
Hal tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan dari layanan keuangan mencatatkan kenaikan 18,4% menjadi Rp 5,6 triliun, agribisnis melonjak 50,6% menjadi Rp 5,3 triliun, serta IT dan infrastruktur mencatatkan pendapatan Rp 3 triliun atau naik 25,4% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 2,4 triliun. Sementara pendapatan dari otomotif bertumbuh 11,6% menjadi Rp 38 triiliun, alat berat berkontribusi sebesar Rp 25,6 triliun yang meningkat 41,7%.
Sejumlah analis meyakini, dengan pertumbuhan yang mengesankan pada lini bisnis Astra lainnya semakin menguatkan ekspektasi bahwa emiten berkode ASII tetap menjadi pilihan untuk mengeruk
capital gain. Terlebih realisasi laba bersih Astra tersebut berada 8% diatas consensus Deutsche Bank pada semester I 2011. Sedangkan onix Capital melihat pendapatan yang dicapai perseroan telah mencapai 52% dari total proyeksi mereka.
Chief Corporate Secretary & Group General Counsel Astra International Gita Toffany Boer mengatakan tingginya pertumbuhan lini bisnis perseroan lainnya pada semester I tersebut sejalan dengan strategi Astra. Sebab, lanjut dia, pada tahun ini perseroan akan meningkatkan peluang dari seluruh lini bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan rencana akusisi yang akan dilakukan oleh anak usaha mereka di sector infrastruktur, Astratel.
“Tapi kami tidak hanya akan menguatkan di segi infrasrtuktur saja, tapi juga lini bisnis lainnya. Hal tersebut sesuai dengan peluang bisnis yang ada,” ungkap Gita di sela media gathering di Jakarta, belum lama ini.
Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada menilai penguatan di seluruh merupakan upaya perseroan untuk tidak hanya bergantung pada satu unit usaha. Bahkan, lanjut dia, dengan merambah sector jalan tol semakin menguatkan langkah Astra untuk melakukan diversifikasi usaha yang telah mereka jalani selama ini. Ia menilai, hal tersebut sangat lazim dilakukan oleh perseroan sekelas Astra.
“Sangat wajar apabila perusahaan memiliki track record dan fundamental yang solid mencari sector lain. Hal tersebut sebagai upaya untuk terus mengembangkan perseroan,” ucap Reza.
Analis Deutsche Bank Rachman Koeswanto menilai kuatnya pertumbuhan seluruh lini bisnis Astra masih akan berlanjut di kuartal III mendatang. Bahkan, lanjut dia, sector keuangan, alat berat dam otomotif, masih akan menjadi penopang kinerja perseroan di kuartal III mendatang. Hal tersebut seiring dengan semakin membaiknya suplai dari Jepang untuk alat berat dan otomotif.
“Ditambah lagi kontribusi dari bisnis kontraktor pertambangan seiring dengan kembalinya cuaca di paruh kedua tahun ini,” ungkap Rachman dalam riset yang dipublikasikan baru-baru ini.
Senada dengan Rachman, analis Onix Capital Bagus Hananto memperkirakan Astra akan mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang lebih kuat pada semester II mendatang. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan semakin membaiknya pasokan alat berat dan penjualan mobil yang akan menjadi katalis dari pendapatan perseroan. "Ditambah lagi dengan tingginya produksi dan volume penjualan dari lini bisnis agribisnis," papar Bagus.
Pertahankan Rekomendasi
Rachman mengatakan dengan kinerja yang dinilai masih on track, rekomendasi Buy untuk saham ASII dipertahankan. Ia bahkan optimistis laba bersih perseroan kaan mencetak laba bersih sebesar Rp 17,6 triliun dan pendapatan sebesar Rp 150,5 triliun pada akhir tahun mendatang. “Kami memasang target harga untuk ASII dalam 12 bulan mendatang mencapai Rp 80.500 perlembar saham,” jelas Rachman.
Reza menilai seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan berada diatas 6,5%, kinerja Astra diperkirakan masih akan mencatatkan kenaikan yang tinggi. Alhasil, lanjut dia, fundamental Astra tidak perlu diragukan lagi. Ia bahkan menilai resiko pemodal menanamkan investasinya sangat kecil. Ia mengatakan PE ASII saat ini adalah 15,96 kali. Sedangkan PE wajar mereka adalah 20 kali.
"Sedangkan saat ini harga ASII berada di Rp 67 ribu. Pada level ini sangat tepat untuk diakumulasikan oleh pemodal. Sebab, harga wajar mereka sebesar Rp 84 ribu persaham. Dengan terdiskon, target saya untuk harga saham ASII akan mencetak Rp 82 ribu persaham pada akhir tahun," jelas dia.
Sementara itu, Bagus mengatakan secara keseluiruhan hasil semester I 2011 berada di range yang kuat dan melebihi konsensus. Bahkan, lanjut dia, pendapatan di paruh pertama tahun ini merefreksikan 52% konsensus sepanjang tahun, yaitu sebesar Rp 159,68 triliun. Ia mengatakan pada 2011 dan 2012 saham ASII diperdagangkan pada PE 17,3 kali dan 15 kali dan EV/EBITDA. 14,4 kali dan 12,7 kali. "Untuk itu, kami merekomendasikan Buy dengan target harga 80 ribu," jelas dia. (iin)
PT Astra International Tbk (ASII) pada semester I 2011 telah berhasil membuktikan sebagai perusahaan yang solid menggerakan seluruh bisnis mereka. Sebab, disaat pasokan alat berat dan otomotif terganggu akibat gempa di Jepang, lini bisnis Astra lainnya mampu menjaga kinerja perseroan pada periode tersebut tetap kinclong.
Selama semester I 2011, perseroan yang menjalankan enam lini bisnis tersebut mampu mencatatkan laba sebesar Rp 8,6 triliun. Jumlah tersebut meningkat 33,4% dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar Rp 6,4 triliun. Adapun pendapatan meningkat 24% menjadi Rp 76,26 triliun dari Rp 61,51 triliun.
Hal tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan dari layanan keuangan mencatatkan kenaikan 18,4% menjadi Rp 5,6 triliun, agribisnis melonjak 50,6% menjadi Rp 5,3 triliun, serta IT dan infrastruktur mencatatkan pendapatan Rp 3 triliun atau naik 25,4% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 2,4 triliun. Sementara pendapatan dari otomotif bertumbuh 11,6% menjadi Rp 38 triiliun, alat berat berkontribusi sebesar Rp 25,6 triliun yang meningkat 41,7%.
Sejumlah analis meyakini, dengan pertumbuhan yang mengesankan pada lini bisnis Astra lainnya semakin menguatkan ekspektasi bahwa emiten berkode ASII tetap menjadi pilihan untuk mengeruk
capital gain. Terlebih realisasi laba bersih Astra tersebut berada 8% diatas consensus Deutsche Bank pada semester I 2011. Sedangkan onix Capital melihat pendapatan yang dicapai perseroan telah mencapai 52% dari total proyeksi mereka.
Chief Corporate Secretary & Group General Counsel Astra International Gita Toffany Boer mengatakan tingginya pertumbuhan lini bisnis perseroan lainnya pada semester I tersebut sejalan dengan strategi Astra. Sebab, lanjut dia, pada tahun ini perseroan akan meningkatkan peluang dari seluruh lini bisnis mereka. Salah satunya adalah dengan rencana akusisi yang akan dilakukan oleh anak usaha mereka di sector infrastruktur, Astratel.
“Tapi kami tidak hanya akan menguatkan di segi infrasrtuktur saja, tapi juga lini bisnis lainnya. Hal tersebut sesuai dengan peluang bisnis yang ada,” ungkap Gita di sela media gathering di Jakarta, belum lama ini.
Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada menilai penguatan di seluruh merupakan upaya perseroan untuk tidak hanya bergantung pada satu unit usaha. Bahkan, lanjut dia, dengan merambah sector jalan tol semakin menguatkan langkah Astra untuk melakukan diversifikasi usaha yang telah mereka jalani selama ini. Ia menilai, hal tersebut sangat lazim dilakukan oleh perseroan sekelas Astra.
“Sangat wajar apabila perusahaan memiliki track record dan fundamental yang solid mencari sector lain. Hal tersebut sebagai upaya untuk terus mengembangkan perseroan,” ucap Reza.
Analis Deutsche Bank Rachman Koeswanto menilai kuatnya pertumbuhan seluruh lini bisnis Astra masih akan berlanjut di kuartal III mendatang. Bahkan, lanjut dia, sector keuangan, alat berat dam otomotif, masih akan menjadi penopang kinerja perseroan di kuartal III mendatang. Hal tersebut seiring dengan semakin membaiknya suplai dari Jepang untuk alat berat dan otomotif.
“Ditambah lagi kontribusi dari bisnis kontraktor pertambangan seiring dengan kembalinya cuaca di paruh kedua tahun ini,” ungkap Rachman dalam riset yang dipublikasikan baru-baru ini.
Senada dengan Rachman, analis Onix Capital Bagus Hananto memperkirakan Astra akan mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang lebih kuat pada semester II mendatang. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan semakin membaiknya pasokan alat berat dan penjualan mobil yang akan menjadi katalis dari pendapatan perseroan. "Ditambah lagi dengan tingginya produksi dan volume penjualan dari lini bisnis agribisnis," papar Bagus.
Pertahankan Rekomendasi
Rachman mengatakan dengan kinerja yang dinilai masih on track, rekomendasi Buy untuk saham ASII dipertahankan. Ia bahkan optimistis laba bersih perseroan kaan mencetak laba bersih sebesar Rp 17,6 triliun dan pendapatan sebesar Rp 150,5 triliun pada akhir tahun mendatang. “Kami memasang target harga untuk ASII dalam 12 bulan mendatang mencapai Rp 80.500 perlembar saham,” jelas Rachman.
Reza menilai seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan berada diatas 6,5%, kinerja Astra diperkirakan masih akan mencatatkan kenaikan yang tinggi. Alhasil, lanjut dia, fundamental Astra tidak perlu diragukan lagi. Ia bahkan menilai resiko pemodal menanamkan investasinya sangat kecil. Ia mengatakan PE ASII saat ini adalah 15,96 kali. Sedangkan PE wajar mereka adalah 20 kali.
"Sedangkan saat ini harga ASII berada di Rp 67 ribu. Pada level ini sangat tepat untuk diakumulasikan oleh pemodal. Sebab, harga wajar mereka sebesar Rp 84 ribu persaham. Dengan terdiskon, target saya untuk harga saham ASII akan mencetak Rp 82 ribu persaham pada akhir tahun," jelas dia.
Sementara itu, Bagus mengatakan secara keseluiruhan hasil semester I 2011 berada di range yang kuat dan melebihi konsensus. Bahkan, lanjut dia, pendapatan di paruh pertama tahun ini merefreksikan 52% konsensus sepanjang tahun, yaitu sebesar Rp 159,68 triliun. Ia mengatakan pada 2011 dan 2012 saham ASII diperdagangkan pada PE 17,3 kali dan 15 kali dan EV/EBITDA. 14,4 kali dan 12,7 kali. "Untuk itu, kami merekomendasikan Buy dengan target harga 80 ribu," jelas dia. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar