JAKARTA - PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 3 triliun pada 2012. Dana tersebut digunakan untuk membiayai proyek perseroan, baik yang telah ada maupun baru.
Wakil Direktur Utama Agung Podomoro Land Indra Wijaya menyebutkan proyek yang akan mereka lanjutkan pembangunannya pada tahun depan diantaranya adalah Green Bay, Kuningan City. Sedangkan untuk proyek baru, ia menyebutkan perseroan akan menggarap proyek, yaitu JW Marriot di Bali, integrated Resort di Puncak, dan Podomoro city extention.
"Detailnya masih harus menunggu selesai budgeting. Perkiraan capex kami Rp 3 triliun untuk tahun depan. Tapi belum final," ungkap Indra kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.
Sebelumnya, perseroan telah melakukan perjanjian pengikatan jual beli pada 13 Oktober 2011 dalam rangka akuisisi 99,93% saham di PT Tiara Metropolitan Indah (TMI) yang berkedudukan di Jakarta Barat. Akuisisi tersebut merupakan bentuk realisasi terhadap rencana penggunaan dana hasil penawaran umum obligasi I APLN tahun 2011 senilai Rp 1,2 triliun. PT Alam Hijau Teduh (AHT). Sebelumnya, perseroan telah mengakuisisi PT Alam Hijau, PT Karya Gemilang Perkasa, dan PT Putra Adhi Prima.
Hingga kuartal III 2011, Agung Podomoro mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp2,7 triliun, atau naik 86,3% dibandingkan dengan Rp1,4 triliun pada periode yang sama pada 2010. Peningkatan tersebut sebagian besar didorong dari penjualan apartemen di proyek-proyek superblock, yaitu Podomoro City, Kuningan City dan Green Bay Pluit.
Kontribusi recurring income meningkat dari hanya 4,4% pada kuartal III 2010 menjadi 10,7% pada kuartal III 2011 dengan adanya konsolidasi hasil pencapaian Emporium Pluit Mall.
Sedangkan marketing sales, perseroan telah membukukan sebesar Rp 3,3 triliun hingga September 2011. Jumlah tersebut hampir mencapai target tahun ini sekitar Rp 3,5 triliun. Pada periode yang samaa, laba bersih perseroan membukukan kenaikan sebesar 134,0% dari Rp 191,8 miliar menjadi Rp 448,8.
Direktur Keuangan Agung Podomoro Land Cesar Dela Cruz memprediksi pada akhir tahun target tersebut akan terlampaui. Namun, ia mengatakan perseroan tidak menaikan target marketing sales tahun ini.
Wakil Presiden Direktur Agung Podomoro Handaka Santosa pernah mengatakan, pihaknya menargetkan kenaikan pendapatan tahun ini sebesar 50% menjadi Rp 2,91 triliun. Tahun lalu, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 1,94 triliun. Adapun laba bersih perseroan tahun ini ditargetkan mencapai Rp 300 miliar, naik 24% dibandingkan 2010 sebesar Rp 242 miliar.
Sementara itu, dalam lima tahun mendatang, Agung Podomoro memproyeksikan porsi pendapatan berkelanjutan {recurring Income) sebesar 50% dari total pendapatan. Tahun ini, porsi recurring income dipatok sebesar 7%. (Iin)
Senin, 28 November 2011
SUN Berpotensi Rebound
Jakarta - Harga Surat Utang Negara (SUN) berpotensi rebound pada pekan ini. Hal tersebut menyusul adanya sentimen positif dari data-data penting yang diprediksi menunjukan perbaikan pada pekan ini, baik dari Amerika Serikat (AS) maupun domestik. Pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pada semua tenor berpotensi turun sebanyak 10-30 basis poin (bp).
Potensi tersebut diperkuat dengan sudah terlalu dalamnya penurunan harga SUN selama beberapa minggu terakhir. Namun, investor masih harus tetap waspada terhadap perkembangan krisis Eropa yang telah menyebar ke wilayah tengah daratan biru tersebut. Alhasil obligasi dikawasan Eropa mendapatkan tekanan dalam beberapa minggu terkahir. Tekanan tersebut bahkan membuat lelang obligasi negara yang dilakukan Jerman tidak mencapai target.
Demikian rangkuman ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT Mega Capital Indonesia Ariawan kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.
Ariawan mengatakan data ekonomi AS yang akan dikeluarkan diprediksi akan menunjukan perbaikan, diantaranya perumahan dan costumer. Untuk kondisi domestik, ia memperkirakan angka inflasi November yang diperkirakan terkendali dan di kisaran 4-4,5% akan menjadi triger positif pekan ini. Hal tersebut, lanjut dia, posisi rupiah yang stabil belakangan ini. Menurutnya, sentimen tersebut akan menjadi katalis positif bagi surat utang Indonesia yang selama beberapa pekan terakhir sepi sentimen positif.
Disaat yang bersamaan, lanjut Ariawan, Investor juga telah jenuh dengan kondisi Eropa yang tidak menentu dan volatilitas yang semakin tinggi. Untuk itu, ia pun menilai pekan ini akan obligasi berpotensi rebound. "Namun, pembalikan arah tersebut belum akan menyentuh level seperti dua minggu lalu. Kemungkinan yield akan turun sekitar 15-30 bp untuk tenor panjang. Sedangkan tenor menengah akan bergerak turun sebesar 10-20 bp," ungkap Ariawan.
Mencermati kondisi tersebut, Ariawan merekomendasikan investor untuk mengakumulasi obligasi pada pekan ini. Hal tersebut dilakukan agar akumulasi tidak terjadi pada saat harga telah mengalami kenaikan sehingga gain yang didapatkan menjadi lebih baik. "Jangan sampai investor masuk ketika harga sudah naik," tegas Ariawan.
Krisis Melebar
Sementara itu, Juniman menperkirakan pekan ini harga SUN masih dalam tekanan. Menurutnya, krisis Eropa yang telah melebar ke wilayah tengah dan bahkan berimbas pada obligasi corporate. Hal tersebut diperparah dengan lelang surat utang Jerman yang tidak direpon oleh investor. "Akibatnya pasar obligasi dunia pun terguncang, tak terkecuali kawasan Asia," ujar Juniman.
Kondisi tersebut, lanjut Juniman, memaksa investor asing untuk merealisasikan gain mereka di pasar Asia. Menurutnya, hal tersebut dilakukan investor asing sebagai antisipasi kondisi masa depan Asi. Tidak hanya itu, tambah dia, hal tersebut untuk menutupi cut loss investasi mereka di Eropa. Melihat kondisi tersebut, Juniman memprediksi yield obligasi rupiah akan mengalami kenaikan sebanyak 10-20 bp.
Disisi lain, tambah Juniman, pamor ipemotongan suku bunga BI sebanyak 50bp telah memudar pada pekan ini. Sebab, ekspektasi inflasi pada tahun depan akan lebih tinggi dibangingkan tahun ini, yaitu 5,5-6%. Hal tersebut seiring dengan adanya rencana kenaikan tariff listrik, pembatasan ppemium, dan kenaikan pangan. Untuk itu, ia pun merekomendasikan investor untuk lebih wait and see pekan ini.
"Sebab, pekan mkendatang hingga akhir tahun akan ada potensi penurunan harga lagi. Mengingat saat ini kondisi pasar masih penuh resiko. Jika telah mendapatkan gain, ada baiknya investor untuk segara merealisasikan hal tersebut," tegas Juniman. (Iin)
Potensi tersebut diperkuat dengan sudah terlalu dalamnya penurunan harga SUN selama beberapa minggu terakhir. Namun, investor masih harus tetap waspada terhadap perkembangan krisis Eropa yang telah menyebar ke wilayah tengah daratan biru tersebut. Alhasil obligasi dikawasan Eropa mendapatkan tekanan dalam beberapa minggu terkahir. Tekanan tersebut bahkan membuat lelang obligasi negara yang dilakukan Jerman tidak mencapai target.
Demikian rangkuman ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT Mega Capital Indonesia Ariawan kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.
Ariawan mengatakan data ekonomi AS yang akan dikeluarkan diprediksi akan menunjukan perbaikan, diantaranya perumahan dan costumer. Untuk kondisi domestik, ia memperkirakan angka inflasi November yang diperkirakan terkendali dan di kisaran 4-4,5% akan menjadi triger positif pekan ini. Hal tersebut, lanjut dia, posisi rupiah yang stabil belakangan ini. Menurutnya, sentimen tersebut akan menjadi katalis positif bagi surat utang Indonesia yang selama beberapa pekan terakhir sepi sentimen positif.
Disaat yang bersamaan, lanjut Ariawan, Investor juga telah jenuh dengan kondisi Eropa yang tidak menentu dan volatilitas yang semakin tinggi. Untuk itu, ia pun menilai pekan ini akan obligasi berpotensi rebound. "Namun, pembalikan arah tersebut belum akan menyentuh level seperti dua minggu lalu. Kemungkinan yield akan turun sekitar 15-30 bp untuk tenor panjang. Sedangkan tenor menengah akan bergerak turun sebesar 10-20 bp," ungkap Ariawan.
Mencermati kondisi tersebut, Ariawan merekomendasikan investor untuk mengakumulasi obligasi pada pekan ini. Hal tersebut dilakukan agar akumulasi tidak terjadi pada saat harga telah mengalami kenaikan sehingga gain yang didapatkan menjadi lebih baik. "Jangan sampai investor masuk ketika harga sudah naik," tegas Ariawan.
Krisis Melebar
Sementara itu, Juniman menperkirakan pekan ini harga SUN masih dalam tekanan. Menurutnya, krisis Eropa yang telah melebar ke wilayah tengah dan bahkan berimbas pada obligasi corporate. Hal tersebut diperparah dengan lelang surat utang Jerman yang tidak direpon oleh investor. "Akibatnya pasar obligasi dunia pun terguncang, tak terkecuali kawasan Asia," ujar Juniman.
Kondisi tersebut, lanjut Juniman, memaksa investor asing untuk merealisasikan gain mereka di pasar Asia. Menurutnya, hal tersebut dilakukan investor asing sebagai antisipasi kondisi masa depan Asi. Tidak hanya itu, tambah dia, hal tersebut untuk menutupi cut loss investasi mereka di Eropa. Melihat kondisi tersebut, Juniman memprediksi yield obligasi rupiah akan mengalami kenaikan sebanyak 10-20 bp.
Disisi lain, tambah Juniman, pamor ipemotongan suku bunga BI sebanyak 50bp telah memudar pada pekan ini. Sebab, ekspektasi inflasi pada tahun depan akan lebih tinggi dibangingkan tahun ini, yaitu 5,5-6%. Hal tersebut seiring dengan adanya rencana kenaikan tariff listrik, pembatasan ppemium, dan kenaikan pangan. Untuk itu, ia pun merekomendasikan investor untuk lebih wait and see pekan ini.
"Sebab, pekan mkendatang hingga akhir tahun akan ada potensi penurunan harga lagi. Mengingat saat ini kondisi pasar masih penuh resiko. Jika telah mendapatkan gain, ada baiknya investor untuk segara merealisasikan hal tersebut," tegas Juniman. (Iin)
RI Siap Jadi Acuan Komoditas Global
JAKARTA – Indonesia siap untuk menjadi acuan harga komoditas global di masa datang. Hal tersebut seiring dengan kesiapan dan komitmen pelaku pasar dan pemerintah untuk meningkatkan likuiditas transaksi komoditas di dalam negeri.
Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Ardiansyah Parman mengatakan Indonesia siap untuk menjadi acuan harga komoditas dunia. Terlebih tanpa diragukan lagi Indonesia merupakan penghasil terbesar dari beberapa komoditas tersebut, diantaranya adalah kopi, CPO, kakao, timah, dan batubara. Namun, lanjut dia, hambatan Indonesia untuk menjadi acuan harga komoditas masih sangat besar. Hal tersebut seiring minimnya transaksi perdagangan multilateral dibandingkan sitem perdagangan alternative (SPA) yang terjadi di bursa berjangka dalam negeri.
Padahal, lanjut Ardiansyah, pada sistem multilateral ini harga terbentuk sepenuhnya dari order yang terserap sebagai transaksi di pasar, sehingga harga ini diharapkan bisa menjadi referensi bagi perdagangan riil komoditi primer tersebut. Jadi, para pelaku pasar tidak perlu lagi mengacu pada harga-harga di luar negeri, melainkan cukup melihat harga yang terjadi di pasar berjangka lokal dan mengacu pada harga tersebut.
Ardiansyah mencontohkan bursa berjangka London (London Commodity Exchange) dan New York (New York Board of Trade). Kedua bursa tersebut telah menjadi rujukan harga komoditas kopi arabica dan robusta, serta kakao. Walalupun Negara kedua busar tersebut bukan merupakan penghasil terbesar komoditi tersebut. Ia menjelaskan hal tersebut terjadi karena banyak pihak yang mentraksaksikan komoditas tersebut, terutama adanya market maker.
“Untuk itu, kami pun berharap seluruh pelaku dalam pelaku komoditas berjangka dapat sebanyak-banyaknya mendatangkan market maker untuk melakukan transaksi di dalam negeri,” ungkap Ardiansyah di sela acara diskusi dan Investor Awards Pialang Berjangka 2011 di Jakarta, Kamis (24/11).
Menurut Ardianysah, pemerintah telah melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan transaksi multilateral tersebut. Terutama dengan terbitnya paying hokum baru perdagangan berjangka komdoditas yaitu UU No 10/2011 yang diterbitkan pada Agustus lalu. Ia menjelaskan undang-udang tersebut merupakan amandemen dari UU No 32/1997. Dalam undang-undang tersebut, lanjut dia, kepastian hokum untuk menciptakan perdagangan yang terpercaya dan bersih. Sebab, kepercayaan dan bersih merupakan modal utama dalam perdagangan transaksi komoditas tersebut.
Hal tersebut, lanjut Ardiansyah, ditambah lagi fungsi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bapppeti) ditingkatkan tidak hanya sebagai pengawas perdagangan berjangka komoditas. Tapi juga ikut berperan dalam pengembangan perdagangan berjangka. “Salah satu kebijakannya adalah Bappepti telah mewajibkan pilaang berjangka untuk minimal mentransaksikan 5% produk multilateral dan akan ditingkatkan secara perlagan-lahan,” papar Ardiansyah.
Tidak hanya itu, lanjut dia, pelaku pasar baik bursa berjangka, pedagang, pialang, dan nasabah pun telah menunjukan komitmen mereka untuk bisa menjadikan Indonesia sebagai acuan dari harga komoditas tersebut. Berdasarkan data Bappepti sampai Oktober 2011, perdagangan transaksi multilateral telah mencapai 726 ribu lot. Jumlah tersebut telah meningkat signifikan dibandingkan pada transaksi 2010 yang hanya mencapai 3232 ribu lot dan 2009 hanya sebesar 17 ribu lot. Hingga periode Oktober 2011 volume transaksi terbesar terjadi kontrak CPO TR sebanyak 396.569 lot, kontrak emas dalam dollar mencapai 59. 940 lot, dan indeks kontrak emas mencapai 16 ribu lot.
“Selain itu, pelaku pasar telah menunjukan kinerja yang menganggumkan dalam menciptakan kepercayaan masyakarat terhadap investasi tersebut. Hal tersebut berkat ketaatan pelaku indsutri untuk tidak melakukan diluar peraturan,” jelas Ardiansyah.
Kepala Bappepti Syahrul R Sempurnajaya menambahkan dalam menciptakan acuan harga komoditas tersebut dibutuhkan kerjasama dan kolaborasi dari pelaku pasar dalam industri ini. Dari sisi regulator, lanjut dia, kehadiran undang-udnagan baru tersebut merupakan langkah signifikan untuk meningkatkan perdagangan transaksi multilateral. Diantaranya adalah terdapat peran asosiasi industri perdagangan berjangka untuk mengembangkan industri tersebut.
“Selain itu, dalam menciptakan kepercyaan masyarakat dan pelaku dalam industri ini. Undang-undang ini mempunyai sanksi yang lebih berat dibandingkan dengan undang-undangn Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Sebab, dalam undang-undang ini minal sanksi diberikan adalah denda satu tahun. Sedangkan Tipikor tidak ada,” jelas Syahrul.
Tidak hanya itu, tambah Syahrul, adanya perdagangan derefatif syariah juga diharapkan dapat meramaikan perdagangan pberjangak di masa depan. Disamping itu, kami juga mendorong pelaku indsutri, baik pialang maupun pedagang untuk lebih aktif dalam perdagangan berjangka tersebut. Hal tersebut dilakukan karena masih banyak perusahaan pialang dan pedagang yang masih belum aktif. Untuk pialang dari 81 perusahaan yang mendapatkan ijin sebagai pialang berjangka, namun hanya 63 yang aktif. Sedangkan untuk perusahaan yang mendapatkan ijin sebagai perusahann pedagang berjangka sebanyak 80, hanya 50 perusahaan yang aktif bertransaksi.
Hal tersebut, lanjut Syahrul, ditambah lagi dengan mendorong bursa berjangka, yaitu BBJ dan BKDI untuk terus meningkatkan produk multilateral yang diperdagangkan. Untuk menyesuaiakan kebutuhan permintaan pasar. Selama ini, lanjut dia, kedua bursa tersebut hanya mentraksasiakn CPO, olein emas. “Namun, dalam waktu deakt kedua bursa tersebut akan segera meluncurkan beberapa kontrak komoditi baru. Produk tersebut telah melalui kajian bersama-sama dengan seluruh pelaku pasar,” tegas Syahrul.
Sementara itu, Direktur Utama BBJ Made Sukarwo menyatakan Indonesia yang mempunyai produk unggulan jadi memang sudah sepantasnya apabila Indonesia atau tidak menyaingi sebagai acuan harga komoditas, Menurut Made, hal tersebut menjadi tantangan BBJ. Untuk itu, lanjut dia, pihaknya akan segera meluncurkan produk perdagangan kakao untuk meningkatkan transaksi multilateral.
“Untuk itu, kami pun telah menyiapkan system untuk memudahkan, aman, nyaman bagi pelaku indsutri ini bertransaksi. Kami optimistis tahun depan kami bisa mencatatkan transaksi multilateral diatas 5%. Setelah itu,kami optimistis akan terbalik anatara porsi transasi SPA dan Multilateral,” tegas Made.
Sementara itu, Director PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) Megain Widjaya optimsitis Indonesia akan menjadi acuan harga komoditas dunia. Hal tersebut seiring dengan kesepakatan bersama pelaku industri untruk membangun likuiditas dalam transaksi multilateral, terutama dengan adanya kontribusi dan peran dari pialang. “Ini bukanlah tugas bursa saja, tapi juga tugas bersama. Potensi yang kita miliki sangat besar, mengingat Indonesia merupakan penghasil beberapa komodtitas dunia, seperti CPO, kaert, emas, dan minyak bumi. Itu menunjukan bukan berate Indonesia tidak bisa, tapi hanya belum sampai waktunya,” papar Megain.
Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan mengatakan masalah utama Indonesia belum dijadikan acuan harga komoditas karena perkembangan produsksi dan ekspor CPO tidak diimbangi dengan aspek pasar, termasuk perdagangan berjangka. Persoalannya, lanjut dia, ini diawali oleh pemerintah yang tidak tidak mendesain perkembang industry secara terencana. Hal ini berbeda dengan Malaysia, mereka sudah menyiapakan berbagai perencanaan dalam perkembangan pasar. “Terbukti, kita baru memiliki peraturan mengenai komoditi pada 1997 dan direvisi kembali pada 2011. Ini tergambar sangat lamabat,” jelas dia.
Dengan demikian, lanjut Fadhil, diharapkan pemerintah memeberikan dukungan dDari pemerintah untuk menjadikan Kantor Pemasaran Bersama (KPB) sebgai institusi transkasi penjualan CPO hasil PTPN. Haltersebut sebab selama ini KPB hanya berkondtribusi 50% dari penjualan PTNP, sedangkan PTPN sendiri merupakan penyumbang 14% dari total produksi CPO di dalam negeri. “Menurut kami ketegasan tersebut sangat perlu untuk mengatur ketegasan itu. Terlebih saat ini swastapu bajhkan memiliki tender masing-masing,” jelas dia.
Ketua Ikatan Pengusaha Pedagang Berjangka Indonesia F Wishnubroto menjelaskan dengan adanya undang-udangan baru yang menjelaskan peran asosiasi menjadikan langjah unruk pelaku dalma indsurti ini menjadi lebih aktif. Hal ini mengingat dari 80 yang telah amnedapatkan ijin pedagang hanya 50 yang aktif di bursa. Padhal,. Lanjut dia, p[edagang memainkan peran pentuing dalam traksasi di bursa berjangka. Untu itu, pihaknya dan bersama dengan dua bursa berjangka di Indonesia tengah menggalakan sosialisasi. Dan juga pelatihan untuk bisa meraimakn bursa berjangaka Indonesia. Sehingga tercipta likuiditas dalamtransaksi yang tinggi,” Papar dia.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pialang Berjangka Indonesia (APBI) Gede Raka Tantra memelukan prose lama untuk menjadikan Indonesia sebagai acuan harga komoditas dunia. Pertama bursa harus mendapat kepercayaan luar dan juga dalam sendiri. Hal ini, lanjut dia, harus diperkuat dengan penerapan ketentuan hokum yang ditetapkan. Ditambah lagi dengan seberapa aktif pedagang dan pialang, sehingga harga bergerak. Untuk itu, lanjut dia, ini juga harus didukug dengan adanya sosialisasi semua pihak, mulai dari produsen hingga nasabah. Untuk itu, semuanya juga harus mengenal behavior dari komoditi tersebt dengan adanya peluang dari transaksi multilateral.
“Sednagkan saat ini pialang banyak yang tidak mengerti transaksi komoditi. Berdasarkan masyaarakat sendiri ada yang keluar negari, lihat trusnya kesil. Saat ini hanya 50% kepercayaannya dalam transaksi dalam negeri,” tegas Gede Raka.
Kepala Biro Perniagaan Bappepti Robert J Bintaryo mengatakan adanya pemahaman perdagangan berjangka terjadi menjadikan tujuan acuan harga komoditi tidak mencapai titik temu. Ia mencontohkan dengan adanya peraturan menjadikan transaksi menjadi tranpasarn, Namun, lanjut dia, m,enciptakan transpasinsi sangat sulit.
Sedangakn berbicara soal likuiditas bursa adalah yang dicari oleh pialang. “Untuk itulah,kami melakukan pendekatan dengan asosiasi komoditas menalakukan pendekatan. Untuk itu diperlukan t sustaiblility dari komitemn perlu dipegang anatra pelaku bursa berjangka ini,” tandas dia. (iin)
Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Ardiansyah Parman mengatakan Indonesia siap untuk menjadi acuan harga komoditas dunia. Terlebih tanpa diragukan lagi Indonesia merupakan penghasil terbesar dari beberapa komoditas tersebut, diantaranya adalah kopi, CPO, kakao, timah, dan batubara. Namun, lanjut dia, hambatan Indonesia untuk menjadi acuan harga komoditas masih sangat besar. Hal tersebut seiring minimnya transaksi perdagangan multilateral dibandingkan sitem perdagangan alternative (SPA) yang terjadi di bursa berjangka dalam negeri.
Padahal, lanjut Ardiansyah, pada sistem multilateral ini harga terbentuk sepenuhnya dari order yang terserap sebagai transaksi di pasar, sehingga harga ini diharapkan bisa menjadi referensi bagi perdagangan riil komoditi primer tersebut. Jadi, para pelaku pasar tidak perlu lagi mengacu pada harga-harga di luar negeri, melainkan cukup melihat harga yang terjadi di pasar berjangka lokal dan mengacu pada harga tersebut.
Ardiansyah mencontohkan bursa berjangka London (London Commodity Exchange) dan New York (New York Board of Trade). Kedua bursa tersebut telah menjadi rujukan harga komoditas kopi arabica dan robusta, serta kakao. Walalupun Negara kedua busar tersebut bukan merupakan penghasil terbesar komoditi tersebut. Ia menjelaskan hal tersebut terjadi karena banyak pihak yang mentraksaksikan komoditas tersebut, terutama adanya market maker.
“Untuk itu, kami pun berharap seluruh pelaku dalam pelaku komoditas berjangka dapat sebanyak-banyaknya mendatangkan market maker untuk melakukan transaksi di dalam negeri,” ungkap Ardiansyah di sela acara diskusi dan Investor Awards Pialang Berjangka 2011 di Jakarta, Kamis (24/11).
Menurut Ardianysah, pemerintah telah melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan transaksi multilateral tersebut. Terutama dengan terbitnya paying hokum baru perdagangan berjangka komdoditas yaitu UU No 10/2011 yang diterbitkan pada Agustus lalu. Ia menjelaskan undang-udang tersebut merupakan amandemen dari UU No 32/1997. Dalam undang-undang tersebut, lanjut dia, kepastian hokum untuk menciptakan perdagangan yang terpercaya dan bersih. Sebab, kepercayaan dan bersih merupakan modal utama dalam perdagangan transaksi komoditas tersebut.
Hal tersebut, lanjut Ardiansyah, ditambah lagi fungsi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bapppeti) ditingkatkan tidak hanya sebagai pengawas perdagangan berjangka komoditas. Tapi juga ikut berperan dalam pengembangan perdagangan berjangka. “Salah satu kebijakannya adalah Bappepti telah mewajibkan pilaang berjangka untuk minimal mentransaksikan 5% produk multilateral dan akan ditingkatkan secara perlagan-lahan,” papar Ardiansyah.
Tidak hanya itu, lanjut dia, pelaku pasar baik bursa berjangka, pedagang, pialang, dan nasabah pun telah menunjukan komitmen mereka untuk bisa menjadikan Indonesia sebagai acuan dari harga komoditas tersebut. Berdasarkan data Bappepti sampai Oktober 2011, perdagangan transaksi multilateral telah mencapai 726 ribu lot. Jumlah tersebut telah meningkat signifikan dibandingkan pada transaksi 2010 yang hanya mencapai 3232 ribu lot dan 2009 hanya sebesar 17 ribu lot. Hingga periode Oktober 2011 volume transaksi terbesar terjadi kontrak CPO TR sebanyak 396.569 lot, kontrak emas dalam dollar mencapai 59. 940 lot, dan indeks kontrak emas mencapai 16 ribu lot.
“Selain itu, pelaku pasar telah menunjukan kinerja yang menganggumkan dalam menciptakan kepercayaan masyakarat terhadap investasi tersebut. Hal tersebut berkat ketaatan pelaku indsutri untuk tidak melakukan diluar peraturan,” jelas Ardiansyah.
Kepala Bappepti Syahrul R Sempurnajaya menambahkan dalam menciptakan acuan harga komoditas tersebut dibutuhkan kerjasama dan kolaborasi dari pelaku pasar dalam industri ini. Dari sisi regulator, lanjut dia, kehadiran undang-udnagan baru tersebut merupakan langkah signifikan untuk meningkatkan perdagangan transaksi multilateral. Diantaranya adalah terdapat peran asosiasi industri perdagangan berjangka untuk mengembangkan industri tersebut.
“Selain itu, dalam menciptakan kepercyaan masyarakat dan pelaku dalam industri ini. Undang-undang ini mempunyai sanksi yang lebih berat dibandingkan dengan undang-undangn Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Sebab, dalam undang-undang ini minal sanksi diberikan adalah denda satu tahun. Sedangkan Tipikor tidak ada,” jelas Syahrul.
Tidak hanya itu, tambah Syahrul, adanya perdagangan derefatif syariah juga diharapkan dapat meramaikan perdagangan pberjangak di masa depan. Disamping itu, kami juga mendorong pelaku indsutri, baik pialang maupun pedagang untuk lebih aktif dalam perdagangan berjangka tersebut. Hal tersebut dilakukan karena masih banyak perusahaan pialang dan pedagang yang masih belum aktif. Untuk pialang dari 81 perusahaan yang mendapatkan ijin sebagai pialang berjangka, namun hanya 63 yang aktif. Sedangkan untuk perusahaan yang mendapatkan ijin sebagai perusahann pedagang berjangka sebanyak 80, hanya 50 perusahaan yang aktif bertransaksi.
Hal tersebut, lanjut Syahrul, ditambah lagi dengan mendorong bursa berjangka, yaitu BBJ dan BKDI untuk terus meningkatkan produk multilateral yang diperdagangkan. Untuk menyesuaiakan kebutuhan permintaan pasar. Selama ini, lanjut dia, kedua bursa tersebut hanya mentraksasiakn CPO, olein emas. “Namun, dalam waktu deakt kedua bursa tersebut akan segera meluncurkan beberapa kontrak komoditi baru. Produk tersebut telah melalui kajian bersama-sama dengan seluruh pelaku pasar,” tegas Syahrul.
Sementara itu, Direktur Utama BBJ Made Sukarwo menyatakan Indonesia yang mempunyai produk unggulan jadi memang sudah sepantasnya apabila Indonesia atau tidak menyaingi sebagai acuan harga komoditas, Menurut Made, hal tersebut menjadi tantangan BBJ. Untuk itu, lanjut dia, pihaknya akan segera meluncurkan produk perdagangan kakao untuk meningkatkan transaksi multilateral.
“Untuk itu, kami pun telah menyiapkan system untuk memudahkan, aman, nyaman bagi pelaku indsutri ini bertransaksi. Kami optimistis tahun depan kami bisa mencatatkan transaksi multilateral diatas 5%. Setelah itu,kami optimistis akan terbalik anatara porsi transasi SPA dan Multilateral,” tegas Made.
Sementara itu, Director PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) Megain Widjaya optimsitis Indonesia akan menjadi acuan harga komoditas dunia. Hal tersebut seiring dengan kesepakatan bersama pelaku industri untruk membangun likuiditas dalam transaksi multilateral, terutama dengan adanya kontribusi dan peran dari pialang. “Ini bukanlah tugas bursa saja, tapi juga tugas bersama. Potensi yang kita miliki sangat besar, mengingat Indonesia merupakan penghasil beberapa komodtitas dunia, seperti CPO, kaert, emas, dan minyak bumi. Itu menunjukan bukan berate Indonesia tidak bisa, tapi hanya belum sampai waktunya,” papar Megain.
Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan mengatakan masalah utama Indonesia belum dijadikan acuan harga komoditas karena perkembangan produsksi dan ekspor CPO tidak diimbangi dengan aspek pasar, termasuk perdagangan berjangka. Persoalannya, lanjut dia, ini diawali oleh pemerintah yang tidak tidak mendesain perkembang industry secara terencana. Hal ini berbeda dengan Malaysia, mereka sudah menyiapakan berbagai perencanaan dalam perkembangan pasar. “Terbukti, kita baru memiliki peraturan mengenai komoditi pada 1997 dan direvisi kembali pada 2011. Ini tergambar sangat lamabat,” jelas dia.
Dengan demikian, lanjut Fadhil, diharapkan pemerintah memeberikan dukungan dDari pemerintah untuk menjadikan Kantor Pemasaran Bersama (KPB) sebgai institusi transkasi penjualan CPO hasil PTPN. Haltersebut sebab selama ini KPB hanya berkondtribusi 50% dari penjualan PTNP, sedangkan PTPN sendiri merupakan penyumbang 14% dari total produksi CPO di dalam negeri. “Menurut kami ketegasan tersebut sangat perlu untuk mengatur ketegasan itu. Terlebih saat ini swastapu bajhkan memiliki tender masing-masing,” jelas dia.
Ketua Ikatan Pengusaha Pedagang Berjangka Indonesia F Wishnubroto menjelaskan dengan adanya undang-udangan baru yang menjelaskan peran asosiasi menjadikan langjah unruk pelaku dalma indsurti ini menjadi lebih aktif. Hal ini mengingat dari 80 yang telah amnedapatkan ijin pedagang hanya 50 yang aktif di bursa. Padhal,. Lanjut dia, p[edagang memainkan peran pentuing dalam traksasi di bursa berjangka. Untu itu, pihaknya dan bersama dengan dua bursa berjangka di Indonesia tengah menggalakan sosialisasi. Dan juga pelatihan untuk bisa meraimakn bursa berjangaka Indonesia. Sehingga tercipta likuiditas dalamtransaksi yang tinggi,” Papar dia.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pialang Berjangka Indonesia (APBI) Gede Raka Tantra memelukan prose lama untuk menjadikan Indonesia sebagai acuan harga komoditas dunia. Pertama bursa harus mendapat kepercayaan luar dan juga dalam sendiri. Hal ini, lanjut dia, harus diperkuat dengan penerapan ketentuan hokum yang ditetapkan. Ditambah lagi dengan seberapa aktif pedagang dan pialang, sehingga harga bergerak. Untuk itu, lanjut dia, ini juga harus didukug dengan adanya sosialisasi semua pihak, mulai dari produsen hingga nasabah. Untuk itu, semuanya juga harus mengenal behavior dari komoditi tersebt dengan adanya peluang dari transaksi multilateral.
“Sednagkan saat ini pialang banyak yang tidak mengerti transaksi komoditi. Berdasarkan masyaarakat sendiri ada yang keluar negari, lihat trusnya kesil. Saat ini hanya 50% kepercayaannya dalam transaksi dalam negeri,” tegas Gede Raka.
Kepala Biro Perniagaan Bappepti Robert J Bintaryo mengatakan adanya pemahaman perdagangan berjangka terjadi menjadikan tujuan acuan harga komoditi tidak mencapai titik temu. Ia mencontohkan dengan adanya peraturan menjadikan transaksi menjadi tranpasarn, Namun, lanjut dia, m,enciptakan transpasinsi sangat sulit.
Sedangakn berbicara soal likuiditas bursa adalah yang dicari oleh pialang. “Untuk itulah,kami melakukan pendekatan dengan asosiasi komoditas menalakukan pendekatan. Untuk itu diperlukan t sustaiblility dari komitemn perlu dipegang anatra pelaku bursa berjangka ini,” tandas dia. (iin)
BW Plantantion Anggarkan Capex Rp 700 M
JAKARTA – PT BW Plantation Tbk (BWPT) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 700 miliar pada 2012. Dana tersebut digunakan untuk membangun pabrik pengolahan kelapa sawit, perawatan tanaman immature, dan akuisisi lahan.
Sekretaris Perusahaan BW Plantation Kelik Irwantono menjelaskan dana tersebut akan berasal dari kas internal dan eksternal. Untuk kas internal, lanjut dia, sebagian akan berasal dari sisa dana hasil penawaran obligasi perseroan pada 2010 sebanyak Rp 160 miliar. “Sedangkan untuk eksternal, perseroan akan menggunakan fasilitas pinjaman dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI),” ungkap Kelik kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (24/11).
Kelik memaparkan pembangunan pabrik akan dilakukan pada awal tahun dengan kapasitas 60 ton per jam di Kalimantan Timur (Kaltim). Ia mengatakan pembangunan pabrik tersebut akan meningkatkan total kapasitas produksi perseroan menjadi 200 ton per jam pada 2013. Sebab, lanjut dia, tahun depan kapasitas produksi kami akan menjadi 135 ton per jam. Hal tersebut seiring dengan selesainya pembangunan pabrik tahun ini sebesar 30 ton per jam.
Dengan penambahan pabrik tersebut, lanjut Kelik, perseroan optimistis pada 2012 produksi Crude Palm Oil (CPO) meningkat 25% dibandingkan dengan tahun ini. Pada 2013, ia menjelaskan perseroan akan kembali membangun pabrik. Menurut dia, hal tersebut dilakukan untuk mengimbangi peningkatan jumlah produksi tandan buah segar (tbs) perseroan setiap tahunnya.
Sedangkan untuk perawatan tanaman immature, Kelik menjelaskan perseroan akan merawat kurang lebih 35 ribu hektar tanaman. Tanaman tersebut, lanjut dia, merupakan periode tanam dari 2009-2011. “Sementara untuk akuisisi lahan, saya masih belum menjelaskan lebih lanjut. Kami akan umumkan jika telah didapatkan,” jelas Kelik.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp235,17 miliar. Jumlah tersebut naik 65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 142,22 miliar. Pendapatan usaha tumbuh 57,91% menjadi Rp 660,84 miliar dari sebelumnya Rp 418,48 miliar. Peningkatan pendapatan terutama disebabkan oleh peningkatan volume penjualan minyak sawit mentah (CPO) sebesar 29,8% dan kenaikan harga jual CPO sebanyak 17%. (iin)
Sekretaris Perusahaan BW Plantation Kelik Irwantono menjelaskan dana tersebut akan berasal dari kas internal dan eksternal. Untuk kas internal, lanjut dia, sebagian akan berasal dari sisa dana hasil penawaran obligasi perseroan pada 2010 sebanyak Rp 160 miliar. “Sedangkan untuk eksternal, perseroan akan menggunakan fasilitas pinjaman dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI),” ungkap Kelik kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (24/11).
Kelik memaparkan pembangunan pabrik akan dilakukan pada awal tahun dengan kapasitas 60 ton per jam di Kalimantan Timur (Kaltim). Ia mengatakan pembangunan pabrik tersebut akan meningkatkan total kapasitas produksi perseroan menjadi 200 ton per jam pada 2013. Sebab, lanjut dia, tahun depan kapasitas produksi kami akan menjadi 135 ton per jam. Hal tersebut seiring dengan selesainya pembangunan pabrik tahun ini sebesar 30 ton per jam.
Dengan penambahan pabrik tersebut, lanjut Kelik, perseroan optimistis pada 2012 produksi Crude Palm Oil (CPO) meningkat 25% dibandingkan dengan tahun ini. Pada 2013, ia menjelaskan perseroan akan kembali membangun pabrik. Menurut dia, hal tersebut dilakukan untuk mengimbangi peningkatan jumlah produksi tandan buah segar (tbs) perseroan setiap tahunnya.
Sedangkan untuk perawatan tanaman immature, Kelik menjelaskan perseroan akan merawat kurang lebih 35 ribu hektar tanaman. Tanaman tersebut, lanjut dia, merupakan periode tanam dari 2009-2011. “Sementara untuk akuisisi lahan, saya masih belum menjelaskan lebih lanjut. Kami akan umumkan jika telah didapatkan,” jelas Kelik.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp235,17 miliar. Jumlah tersebut naik 65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 142,22 miliar. Pendapatan usaha tumbuh 57,91% menjadi Rp 660,84 miliar dari sebelumnya Rp 418,48 miliar. Peningkatan pendapatan terutama disebabkan oleh peningkatan volume penjualan minyak sawit mentah (CPO) sebesar 29,8% dan kenaikan harga jual CPO sebanyak 17%. (iin)
ICSA Dukung E-Reporting Bapepam-LK
JAKARTA – Indonesian Corporate Secretary Association (ICSA) mendukung rencana Badan Pengawas Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) untuk sistem pelaporan tahunan secara elektronik (e-reporting). Rencananya, system tersebut akan diterapkan pada 2012.
Ketua ICSA Hardijanto Saroso mengatakan e-reporting akan membawa banyak manfaat kepada seluruh pelaku pasar modal. Untuk emiten, lanjut dia, akan membuat pelaporan tahunan (annual report) emiten lebih efisien dan efektif. Sebab, dengan e-reporting tersebut akan menekan biaya (reduce cost) pembuatan laporan tahunan. Mengingat selama ini pelaporan tahunan yang lengkap memiliki halaman diatas 500 halaman.
Selain itu, lanjut Hardijanto, dengan e-reporting tersebut penyampaian pelaporan tahunan akan lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Mengingat banyak emiten yang menyampaikan pelaporan tahunannya pada detik-detik terakhir. Ia menjelaskan hal tersebut terjadi karena proses dalam pembuatan laporan keuangan menjadi sangat lama terkait dengan harusnya pembuatan hardcopy (buku).
“Dengan e-reporting, data yang sudah tersaji dalam bentuk soft copy sudah bisa langsung dilaporkan kepada Bapepam-LK. Tentu saja, proses tersebut tidak akan mengurangi esensi penting yang harus disampaikan oleh sebuah perusahaan dan hard copy dari pelaopran tersebut pun akan tetap dikirimkan,” ungkap Hardijanto di Jakarta, Rabu (23/11).
Hardijanto menambahkan e-reporting juga akan sangat bermanfaat kepada investor. Sebab, lanjut dia, investor bisa langsung membuka pelaporan tahunan dimanapun melalui internet. Mengingat selama ini dalam berinvestasi investor harus melihat pelaporan tahunan dengan jumlah halaman yang sangat tebal.
“Sedangkan untuk Bapepam, dengan adanya e-reporting tersebut akan memudahkan penataan data yang dimiliki oleh emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Hal tersebut seperti yang telah dilakukan oleh BEI,” jelas Hardijanto.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan Bapepam-LK Etty Retno Eulandari mengungkapkan e-reporting akan mulai di uji cobakan pada tahun depan. Untuk itu, lanjut dia, saat ini pihaknya masih dalam tahap pengembangan di biro riset dan teknologi Bapepam-LK. Disamping itu, lanjut dia, pihaknya juga berencana mewajibkan emiten untuk memasukan pelaopan tahunan dalam website mereka.
“Nantinya hal ini bisa menjadi alternatif lain bagi investor dalam memperoleh informasi sebuah emiten. Bahkan khusus untuk penyampaian informasi melalui web site resmi perusahaan, kami akan memasukkannya ke dalam sebuah peraturan,” tandas Etty.(iin)
Ketua ICSA Hardijanto Saroso mengatakan e-reporting akan membawa banyak manfaat kepada seluruh pelaku pasar modal. Untuk emiten, lanjut dia, akan membuat pelaporan tahunan (annual report) emiten lebih efisien dan efektif. Sebab, dengan e-reporting tersebut akan menekan biaya (reduce cost) pembuatan laporan tahunan. Mengingat selama ini pelaporan tahunan yang lengkap memiliki halaman diatas 500 halaman.
Selain itu, lanjut Hardijanto, dengan e-reporting tersebut penyampaian pelaporan tahunan akan lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Mengingat banyak emiten yang menyampaikan pelaporan tahunannya pada detik-detik terakhir. Ia menjelaskan hal tersebut terjadi karena proses dalam pembuatan laporan keuangan menjadi sangat lama terkait dengan harusnya pembuatan hardcopy (buku).
“Dengan e-reporting, data yang sudah tersaji dalam bentuk soft copy sudah bisa langsung dilaporkan kepada Bapepam-LK. Tentu saja, proses tersebut tidak akan mengurangi esensi penting yang harus disampaikan oleh sebuah perusahaan dan hard copy dari pelaopran tersebut pun akan tetap dikirimkan,” ungkap Hardijanto di Jakarta, Rabu (23/11).
Hardijanto menambahkan e-reporting juga akan sangat bermanfaat kepada investor. Sebab, lanjut dia, investor bisa langsung membuka pelaporan tahunan dimanapun melalui internet. Mengingat selama ini dalam berinvestasi investor harus melihat pelaporan tahunan dengan jumlah halaman yang sangat tebal.
“Sedangkan untuk Bapepam, dengan adanya e-reporting tersebut akan memudahkan penataan data yang dimiliki oleh emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Hal tersebut seperti yang telah dilakukan oleh BEI,” jelas Hardijanto.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan Bapepam-LK Etty Retno Eulandari mengungkapkan e-reporting akan mulai di uji cobakan pada tahun depan. Untuk itu, lanjut dia, saat ini pihaknya masih dalam tahap pengembangan di biro riset dan teknologi Bapepam-LK. Disamping itu, lanjut dia, pihaknya juga berencana mewajibkan emiten untuk memasukan pelaopan tahunan dalam website mereka.
“Nantinya hal ini bisa menjadi alternatif lain bagi investor dalam memperoleh informasi sebuah emiten. Bahkan khusus untuk penyampaian informasi melalui web site resmi perusahaan, kami akan memasukkannya ke dalam sebuah peraturan,” tandas Etty.(iin)
Matahari Departement Store Siapkan Capex Rp 450 M
Matahari Departement Store Siapkan Capex Rp 450 M
JAKARTA – PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) menganggarkan belanja modal (capital expendirture/capex) sebesar Rp 450 miliar pada 2012. Dana tersebut akan digunakan untuk membuka gerai sebanyak 8-10 buah. Rencananya, dana tersebut akan berasal dari kas internal.
“Tahun depan capex kami diperkirakan akan sama dengan 2011, yaitu Rp 450 miliar. Sebab, jumlah gerai yang akan kami bangun direncanakan sebanyak 8-10 gerai,” ungkap Sekretaris Perusahaan Matahari Department Store Miranti Hadisusilo kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (23/11).
Miranti menambahkan dana tersebut akan berasal dari kas internal perseroan. Ia menjelaskan untuk membuka satu gerai diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar Rp 30-40 miliar. Ia menjelaskan dengan pembangunan gerai tersebut akan meningkatkan pendapatan perseroan sebanyak 10-15% pada tahun depan.
“Sedangkan sepanjang 2011, kami telah membuka lima gerai. Gerai yang akan dibuka tahun ini di kota Manado, Malang, dan Cirebon. Dengan demikian, 2011 kami akan membuka delapan gerai,” jelas Miranti.
Pada kesempatan yang sama, Miranti menjelaskan penggabungan antara perseroan dengan PT Meadow Indonesia dapat meningkatkan efisiensi perseroan. Sebab, lanjut dia, perseroan tidak lagi melakukan pembayaran royalty sejumlah merek milik Meadow Indonesia. Miranti menegaskan hal itu sudah menjadi pertimbangan dan tidak akan mengganggu kinerja perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan semester I 2011, Matahari Departement Store cetak peningkatan laba 99,07% menjadi Rp 258,98 miliar dari Rp 130,092 miliar. Perseroan juga mencatat pendapatan naik dari Rp 1,647 miliar menjadi Rp 1,856 triliun di semester tahun ini. Beban pokok pendapatan perseroan juga ikut naik menjadi Rp 633,038 miliar di paruh pertama tahun ini, dari sebelumnya Rp 596,202 miliar tahun lalu. Rasio beban terhadap pejualan menjadi lebih kecil di tahun ini.
Sehingga laba usaha perseroan naik cukup tinggi menjadi Rp 324,158 miliar di semester I tahun ini dari perolehan laba usaha tahun sebelumnya Rp 179,007 miliar. Naiknya laba usaha ini mendorong tumbuhnya laba bersih. (iin)
JAKARTA – PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) menganggarkan belanja modal (capital expendirture/capex) sebesar Rp 450 miliar pada 2012. Dana tersebut akan digunakan untuk membuka gerai sebanyak 8-10 buah. Rencananya, dana tersebut akan berasal dari kas internal.
“Tahun depan capex kami diperkirakan akan sama dengan 2011, yaitu Rp 450 miliar. Sebab, jumlah gerai yang akan kami bangun direncanakan sebanyak 8-10 gerai,” ungkap Sekretaris Perusahaan Matahari Department Store Miranti Hadisusilo kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (23/11).
Miranti menambahkan dana tersebut akan berasal dari kas internal perseroan. Ia menjelaskan untuk membuka satu gerai diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar Rp 30-40 miliar. Ia menjelaskan dengan pembangunan gerai tersebut akan meningkatkan pendapatan perseroan sebanyak 10-15% pada tahun depan.
“Sedangkan sepanjang 2011, kami telah membuka lima gerai. Gerai yang akan dibuka tahun ini di kota Manado, Malang, dan Cirebon. Dengan demikian, 2011 kami akan membuka delapan gerai,” jelas Miranti.
Pada kesempatan yang sama, Miranti menjelaskan penggabungan antara perseroan dengan PT Meadow Indonesia dapat meningkatkan efisiensi perseroan. Sebab, lanjut dia, perseroan tidak lagi melakukan pembayaran royalty sejumlah merek milik Meadow Indonesia. Miranti menegaskan hal itu sudah menjadi pertimbangan dan tidak akan mengganggu kinerja perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan semester I 2011, Matahari Departement Store cetak peningkatan laba 99,07% menjadi Rp 258,98 miliar dari Rp 130,092 miliar. Perseroan juga mencatat pendapatan naik dari Rp 1,647 miliar menjadi Rp 1,856 triliun di semester tahun ini. Beban pokok pendapatan perseroan juga ikut naik menjadi Rp 633,038 miliar di paruh pertama tahun ini, dari sebelumnya Rp 596,202 miliar tahun lalu. Rasio beban terhadap pejualan menjadi lebih kecil di tahun ini.
Sehingga laba usaha perseroan naik cukup tinggi menjadi Rp 324,158 miliar di semester I tahun ini dari perolehan laba usaha tahun sebelumnya Rp 179,007 miliar. Naiknya laba usaha ini mendorong tumbuhnya laba bersih. (iin)
Ciputra Siap IPO di Singapura
Ciputra Siap IPO di Singapura
JAKARTA – Grup Ciputra melalui anak usaha International City Development Pte Ltd siap melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham di Singapura pada 2012. Perusahaan yang berbasis di Singapura tersebut membawahi proyek Ciputra di Vietnam, Kamboja, dan Tiongkok.
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) Tulus Santoso menjelaskan dalam IPO tersebut perusahaan akan melepas saham sebesar 20-30%. Tulus menjelaskan hingga saat ini perusahaan masih belum menentukan besaran dana dalam IPO tersebut. Ia hanya mengatakan dana tersebut akan digunakan untuk membiayai proyek perseroan di ketiga Negara tersebut.
“Semua proyek tersebut masih membutuhkan dana besar. Terutama di Tiongokok. Semuanya sudah siap dalam IPO ini. Kami hanya tinggal menunggu waktu yang tepat seiring dengan pergerakan bursa saham saat ini,” ungkap Tulus di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Tulus, keputusan IPO tersebut dilakukan karena grup ingin memfokuskan perusahaan tersebut untuk menggarap proyek Ciputra di luar Indonesia. Dengan demikian, lanjut dia, perusahaan Ciputra yang ada di Indonesia bisa focus untuk menggarap pasar di Indonesia di masa depan. Selain itu, ia menambahkan dari sisi investor kurang mengapresiasi pengerjaan proyek Grup Ciputra yang diluar Indonesia.
Hal tersebut, tercermin dengan harga saham yang tidak terapresiasi saat grup melalui Ciputra Development menggarap proyek di Tiongkok. Padahal, apabila sebuah perusahaan terbuka di Singapura yang menggarap proyek tersebut, saham mereka sudah dipastikan melonjak drastic. “Untuk itu, akhirnya kami memutuskan untuk memfokuskan proyek luar negeri dibawah perusahaan tersebut,” papar Tulus.
Untuk itu, tambah Tulus, Ciputra Development melakukan tukar menukar saham akan dilakukan dengan melepas 33,25% kepemilikan perseroan di proyek Tiongkok dan menukarnya dengan 7,43% saham ICD. Ia menambahkan setelah ICB melantai di bursa efek Singapura Ciputra Development akan melakukan spin off atas kepemilikan saham sebesar 7,43% tersebut.
“Hal ini sesuai dengan kebijakan kami agar Ciputra Development focus pada proyek di dalam negeri. Kami akan melepas saham tersebut tentu saja di harga yang bagus,” tambah Tulus.
Sebelumnya, Grup Ciputra menganggarkan belanja modal (capital expediture/capex) Rp 2 triliun selama lima tahun mendatang. Rencananya, capex tersebut akan digunakan untuk membiayai proyek perseroan yang diperkirakan akan mencapai 100 buah dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun mendatang.
CEO Grup Ciputra Candra Ciputra mengatakan besarnya capex dan proyek tersebut seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan positif di masa. Hal tersebut, lanjut dia, terlihat dengan menggeliatnya perekonomian di daerah seiring dengan asas desentralisasi. Ditambah lagi dengan booming komoditas di sejumlah daerah Indonesia. Untuk itu, lanjut dia, pihaknya akan terus ekspansi di seluruh Indonesia, baik ibu kota propinsi maupun pemerintah daerah tingkat II.
“Jika setiap tahun meluncurkan tujuh hingga delapan proyek saya optimistis akan mencapai target 100 proyek tersebut dalam kurun waktu tujuh tahun,” ujar Candra.
Saat ini perseroan telah memiliki 58 proyek dan akan bertambah sebanyak tujuh proyek pada 2012. Ketujuh proyek baru tersebut adalah CitraGarden Pekanbaru, CitraLand Botanical City PangkalPinang, CitraGrand Semarang, CitraGrand Yogyakarta, Citra Garden Pontianak, CitraLand Palu dan CitraLand Bagya City Medan. (iin)
JAKARTA – Grup Ciputra melalui anak usaha International City Development Pte Ltd siap melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham di Singapura pada 2012. Perusahaan yang berbasis di Singapura tersebut membawahi proyek Ciputra di Vietnam, Kamboja, dan Tiongkok.
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) Tulus Santoso menjelaskan dalam IPO tersebut perusahaan akan melepas saham sebesar 20-30%. Tulus menjelaskan hingga saat ini perusahaan masih belum menentukan besaran dana dalam IPO tersebut. Ia hanya mengatakan dana tersebut akan digunakan untuk membiayai proyek perseroan di ketiga Negara tersebut.
“Semua proyek tersebut masih membutuhkan dana besar. Terutama di Tiongokok. Semuanya sudah siap dalam IPO ini. Kami hanya tinggal menunggu waktu yang tepat seiring dengan pergerakan bursa saham saat ini,” ungkap Tulus di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Tulus, keputusan IPO tersebut dilakukan karena grup ingin memfokuskan perusahaan tersebut untuk menggarap proyek Ciputra di luar Indonesia. Dengan demikian, lanjut dia, perusahaan Ciputra yang ada di Indonesia bisa focus untuk menggarap pasar di Indonesia di masa depan. Selain itu, ia menambahkan dari sisi investor kurang mengapresiasi pengerjaan proyek Grup Ciputra yang diluar Indonesia.
Hal tersebut, tercermin dengan harga saham yang tidak terapresiasi saat grup melalui Ciputra Development menggarap proyek di Tiongkok. Padahal, apabila sebuah perusahaan terbuka di Singapura yang menggarap proyek tersebut, saham mereka sudah dipastikan melonjak drastic. “Untuk itu, akhirnya kami memutuskan untuk memfokuskan proyek luar negeri dibawah perusahaan tersebut,” papar Tulus.
Untuk itu, tambah Tulus, Ciputra Development melakukan tukar menukar saham akan dilakukan dengan melepas 33,25% kepemilikan perseroan di proyek Tiongkok dan menukarnya dengan 7,43% saham ICD. Ia menambahkan setelah ICB melantai di bursa efek Singapura Ciputra Development akan melakukan spin off atas kepemilikan saham sebesar 7,43% tersebut.
“Hal ini sesuai dengan kebijakan kami agar Ciputra Development focus pada proyek di dalam negeri. Kami akan melepas saham tersebut tentu saja di harga yang bagus,” tambah Tulus.
Sebelumnya, Grup Ciputra menganggarkan belanja modal (capital expediture/capex) Rp 2 triliun selama lima tahun mendatang. Rencananya, capex tersebut akan digunakan untuk membiayai proyek perseroan yang diperkirakan akan mencapai 100 buah dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun mendatang.
CEO Grup Ciputra Candra Ciputra mengatakan besarnya capex dan proyek tersebut seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan positif di masa. Hal tersebut, lanjut dia, terlihat dengan menggeliatnya perekonomian di daerah seiring dengan asas desentralisasi. Ditambah lagi dengan booming komoditas di sejumlah daerah Indonesia. Untuk itu, lanjut dia, pihaknya akan terus ekspansi di seluruh Indonesia, baik ibu kota propinsi maupun pemerintah daerah tingkat II.
“Jika setiap tahun meluncurkan tujuh hingga delapan proyek saya optimistis akan mencapai target 100 proyek tersebut dalam kurun waktu tujuh tahun,” ujar Candra.
Saat ini perseroan telah memiliki 58 proyek dan akan bertambah sebanyak tujuh proyek pada 2012. Ketujuh proyek baru tersebut adalah CitraGarden Pekanbaru, CitraLand Botanical City PangkalPinang, CitraGrand Semarang, CitraGrand Yogyakarta, Citra Garden Pontianak, CitraLand Palu dan CitraLand Bagya City Medan. (iin)
Minggu, 20 November 2011
Reliance Capital Akuisisi Sekuritas Kamboja
JAKARTA – Reliance Capital telah mengakuisisi perusahaan sekuritas di Kamboja, yaitu Cambodian Capital Securities Co Ltd pada Oktober 2012. Hal tersebut dilakukan Reliance untuk ekspansi dan berinvestasi di negara-negara ASEAN lainnya, menjelang terbentuknya masyarakat ekonomi ASEAN pada 2015.
Chairman & CEO Reliance Capital Anton Budidjaja menjelaskan Kamboja dipilih karena dianggap menjadi salah satu anggota Asean yang sangat prospektif. Sebab, lanjut dia, kestabilan politik dan pertumbuhan ekonomi di atas 10% selama 4 tahun berturut-turut. Selain itu, tambah dia, industri pasar modal di Kamboja masih sangat baru, Bursa Efek di Kamboja baru diresmikan pada Juli 2011. Rencananya, perdagangan di bursa Kamboja akan dilaksanakan pada awal 2012.
“Di Kamboja baru ada 15 sekuritas dan salah satunya kami akuisisi. Kami telah berencana untuk berperan aktif pada awal-awal pengembangan pasar modal di Kamboja,” ungkap Anton dalam siaran pers yang diterima Investor Daily di Jakarta, Jumat (17/11).
Lebih lanjut Anton menambahkan guna mengedukasi dan mensosialisasikan masyarakat Kamboja terhadap pasar modal. Tidah hanya itu, ia mengatakan pihaknya akan menggandeng salah satu anak perusahaannya, PT Reliance Securities Tbk (RELI) untuk roadshow ke negara seribu pagoda ini beberapa saat yang lalu dengan mempromosikan Bursa Saham Indonesia (IDX) melalui platform RELITRADE (online trading).
Presiden Direktor RELI Nicky Hogan mengatakan dalam roadshow tersebut antusias masyarakat Kamboja dinilainya sangat antusias terhadap pasar modal. Sebab, lanjut dia, ratusan investor siap untuk bertransaksi saat itu juga. “Minat yang nyata ditunjukkan pada pameran Indonesia Trade and Tourism tersebut memperkuat keyakinan Reliance Capital bahwa Kamboja sedang berkembang secara signifikan,” jelas Nicky. (iin)
Chairman & CEO Reliance Capital Anton Budidjaja menjelaskan Kamboja dipilih karena dianggap menjadi salah satu anggota Asean yang sangat prospektif. Sebab, lanjut dia, kestabilan politik dan pertumbuhan ekonomi di atas 10% selama 4 tahun berturut-turut. Selain itu, tambah dia, industri pasar modal di Kamboja masih sangat baru, Bursa Efek di Kamboja baru diresmikan pada Juli 2011. Rencananya, perdagangan di bursa Kamboja akan dilaksanakan pada awal 2012.
“Di Kamboja baru ada 15 sekuritas dan salah satunya kami akuisisi. Kami telah berencana untuk berperan aktif pada awal-awal pengembangan pasar modal di Kamboja,” ungkap Anton dalam siaran pers yang diterima Investor Daily di Jakarta, Jumat (17/11).
Lebih lanjut Anton menambahkan guna mengedukasi dan mensosialisasikan masyarakat Kamboja terhadap pasar modal. Tidah hanya itu, ia mengatakan pihaknya akan menggandeng salah satu anak perusahaannya, PT Reliance Securities Tbk (RELI) untuk roadshow ke negara seribu pagoda ini beberapa saat yang lalu dengan mempromosikan Bursa Saham Indonesia (IDX) melalui platform RELITRADE (online trading).
Presiden Direktor RELI Nicky Hogan mengatakan dalam roadshow tersebut antusias masyarakat Kamboja dinilainya sangat antusias terhadap pasar modal. Sebab, lanjut dia, ratusan investor siap untuk bertransaksi saat itu juga. “Minat yang nyata ditunjukkan pada pameran Indonesia Trade and Tourism tersebut memperkuat keyakinan Reliance Capital bahwa Kamboja sedang berkembang secara signifikan,” jelas Nicky. (iin)
Multistrada Siap Investasi Rp 3 T
JAKARTA – PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) siap menggarap sector perkebunan karet dengan investasi sebesar Rp 3 triliun. Dalam menggarap perkebunan tersebut, perseroan telah membentuk anak usaha PT Multistrada Agro Internasional. Hal tersebut dilakukan untuk mengamankan pasokan bahan baku kepada perseroan.
“Untuk tahap pertama, kami akan menggelontorkan dana sebanyak Rp 400 miliar. Dananya akan berasal dari penawaran umum terbatas (rights issue),” ungkap President Director Multistrada Arah Sarana Pieter Tanuri kepada Investor Daily di sela penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) saham PT Erajaya Swasembada Tbk di Jakarta, Kamis (17/11).
Piter mengatakan perseroan berniat untuk menggandeng mitra strategis dalam menggarap bisnis sektor tersebut. Sebab, lanjut dia, nilai investasi tersebut sangatlah besar. Namun, ia enggan untuk menyebutkan asal dan nama dari mitra strategis tersebut. Ia hanya mengatakan anak usaha tersebut baru akan memberikan kontribusi pendapatan perseroan dalam 4-5 tahun mendatang.
Multistrada menggelar penawaran umum terbatas (rights issue) saham sebesar Rp1,53 triliun. Dalam aksi korporasi tersebut, perseroan menerbitkan 3,06 miliar saham atau 33,33% dengan harga eksekusi Rp 500. Dalam prospectus yang diterbitkan perseroan, 26% dana hasil rights issue atau sekitar Rp 397,92 miliar akan digunakan untuk mengembangkan usaha hutan tanaman industri, termasuk karet.
Sedangkan 44% dana hasil rights issue atau senilai Rp 673,41 miliar dialokasikan untuk pembelian mesin dan peralatan produksi ban mobil dan motor. Sementara itu, sebanyak 30% atau Rp 459,14 miliar akan digunakan untuk modal kerja perusahaan.
Pembeli siaga dalam aksi korporasi tersebut adalah PT Equator Capital Partners, PT Central Sole Agency, dan PT Buana Capital. Equator Capital Partners merupakan perusahaan yang dulunya bernama PT Mahanusa Capital yang baru dibeli Northstar Pacific. Perusahaan yang dipimpin oleh Patric Walujo tersebut memiliki 20% saham di Multistrada setelah membeli dengan harga Rp 691,56 miliar pada akhir Oktober 2011.
Northstar membeli saham tersebut melalui Lunar Crescent International Inc, entitas yang sepenuhnya dimiliki oleh Northstar Equity Partners III Limited (Cayman Islands) dari pasar. Saat ini, kepemilikan saham di perseroan terdiri dari Northstar 20%, PVP XVII Pte Ltd 27,72%, PT Central Sole Agency 11%, PT Indokemika Jayatama 3,81%, serta masyarakat sebesar 30%.
Investor relation Multistrada Arah Sarana Even Goh mengatakan untuk melancarkan rencana rights issue, perusahaan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 5 Desember mendatang. “Sedangkan untuk porsi masing-masing dari pembeli siaga akan secara merata untuk menyerap saham yang tidak dieksekusi oleh pemilik saham lama,” jelas Even.
Managing Research PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada pernah mengatakan perseroan harus memperhatikan sumber pendanaan daalm ekspansi tersebut. Sebab, lanjut dia, perseroan harus bisa menurunkan biaya produksi demi mengimbangi kenaikan harga bahan baku. Hal ini terlihat dengan lebih tingginya pertumbuhan beban penjualan dan kewajiban dibandingkan pendapatan pada 2010. Jika penjualan 2010 18%, sedangkan beban penjualan naiknya 19% dan kewajiban 30,94%.
“Hal ini berati kewajiban naik melebihi kenaikan pendapatan. Untuk itu, langkah perseroan untuk mengakuisisi lahan karet sangat tepat. Sebab, langkah tersebut dapat nmengefisienkan dan menekan beban pokok produksi perseroan,” tandas Reza. (iin)
“Untuk tahap pertama, kami akan menggelontorkan dana sebanyak Rp 400 miliar. Dananya akan berasal dari penawaran umum terbatas (rights issue),” ungkap President Director Multistrada Arah Sarana Pieter Tanuri kepada Investor Daily di sela penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) saham PT Erajaya Swasembada Tbk di Jakarta, Kamis (17/11).
Piter mengatakan perseroan berniat untuk menggandeng mitra strategis dalam menggarap bisnis sektor tersebut. Sebab, lanjut dia, nilai investasi tersebut sangatlah besar. Namun, ia enggan untuk menyebutkan asal dan nama dari mitra strategis tersebut. Ia hanya mengatakan anak usaha tersebut baru akan memberikan kontribusi pendapatan perseroan dalam 4-5 tahun mendatang.
Multistrada menggelar penawaran umum terbatas (rights issue) saham sebesar Rp1,53 triliun. Dalam aksi korporasi tersebut, perseroan menerbitkan 3,06 miliar saham atau 33,33% dengan harga eksekusi Rp 500. Dalam prospectus yang diterbitkan perseroan, 26% dana hasil rights issue atau sekitar Rp 397,92 miliar akan digunakan untuk mengembangkan usaha hutan tanaman industri, termasuk karet.
Sedangkan 44% dana hasil rights issue atau senilai Rp 673,41 miliar dialokasikan untuk pembelian mesin dan peralatan produksi ban mobil dan motor. Sementara itu, sebanyak 30% atau Rp 459,14 miliar akan digunakan untuk modal kerja perusahaan.
Pembeli siaga dalam aksi korporasi tersebut adalah PT Equator Capital Partners, PT Central Sole Agency, dan PT Buana Capital. Equator Capital Partners merupakan perusahaan yang dulunya bernama PT Mahanusa Capital yang baru dibeli Northstar Pacific. Perusahaan yang dipimpin oleh Patric Walujo tersebut memiliki 20% saham di Multistrada setelah membeli dengan harga Rp 691,56 miliar pada akhir Oktober 2011.
Northstar membeli saham tersebut melalui Lunar Crescent International Inc, entitas yang sepenuhnya dimiliki oleh Northstar Equity Partners III Limited (Cayman Islands) dari pasar. Saat ini, kepemilikan saham di perseroan terdiri dari Northstar 20%, PVP XVII Pte Ltd 27,72%, PT Central Sole Agency 11%, PT Indokemika Jayatama 3,81%, serta masyarakat sebesar 30%.
Investor relation Multistrada Arah Sarana Even Goh mengatakan untuk melancarkan rencana rights issue, perusahaan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 5 Desember mendatang. “Sedangkan untuk porsi masing-masing dari pembeli siaga akan secara merata untuk menyerap saham yang tidak dieksekusi oleh pemilik saham lama,” jelas Even.
Managing Research PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada pernah mengatakan perseroan harus memperhatikan sumber pendanaan daalm ekspansi tersebut. Sebab, lanjut dia, perseroan harus bisa menurunkan biaya produksi demi mengimbangi kenaikan harga bahan baku. Hal ini terlihat dengan lebih tingginya pertumbuhan beban penjualan dan kewajiban dibandingkan pendapatan pada 2010. Jika penjualan 2010 18%, sedangkan beban penjualan naiknya 19% dan kewajiban 30,94%.
“Hal ini berati kewajiban naik melebihi kenaikan pendapatan. Untuk itu, langkah perseroan untuk mengakuisisi lahan karet sangat tepat. Sebab, langkah tersebut dapat nmengefisienkan dan menekan beban pokok produksi perseroan,” tandas Reza. (iin)
Kamis, 17 November 2011
Erajaya Tawarkan Saham Rp 1.000-1.440
JAKARTA – PT Erajaya Swasembada Tbk menawarkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dengan harga sebesar Rp 1.000-1.440. Dalam IPO tersebut perseroan melepas 1,32 miliar saham atau sebanyak 40% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Dengan demikian, perseroan diperkirakan akan meraup dana segar sekitar Rp 1,32 – 1,9 triliun.
Dalam IPO tersebut, perseroan menunjuk PT Buana Capital, Credit Suisse dan JP Morgan sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Rencananya, perseoan akan menjalami masa penawaran awal (bookbuilding) pada 16-29 November 2011, masa penawaran 8-9 Desember 2011, dan pencatatan pada Bursa Efek Indonesia pada 14 Desember mendatang.
Direktur Utama PT Buana Capital Benny Hardiman Setiabrata mengatakan kisaran harga tersebyt mencermintan tingkat rasio harga saham terhadap laba bersih perseroan (price to earnings ratio/ PER) sebesar 7,7-10,6 kali. Sedangkan, lanjut dia, PER rata-rata industri distributor sebesar 11-12 kali. Dia juga menuturkan pihaknya tidak memberikan fasilitas penjatahan lebih (greenshoe) dan stabilisasi harga untuk saham perdana perseroan.
“Harga tersebut cukup menarik. Terlebih prospek bisnis ini akan positif. Seiring dengan daya beli dan gaya hidup masyarakat Indonesia yang rata-rata memiliki 2-3 ponsel,” ungkap Benny di sela paparan public di Jakarta, Kamis (17/11).
Benny mengatakan dalam penawaran tersebut perseroan akan melakukan roadshow selama 1-2 minggu ke lima kota dunia. Kelimanya adalah Singapura, Hongkong, London, New York, dan Boston. Ia menjelaskan dengan roadshow tersebut diharapkan akan menarik minat investor asing. “Sebelumnya memang sudah ada yang berbicara, tapi masih belum,” papar Benny.
Benny menjelaskan 42% dana raihan IPO tersebut akan digunakan untuk membayar akusisi TAM senilai US$ 85 juta. Ia juga menjelaskan 16% pengembangan jaringan distribusi dan ritel Erafone, dan 42% untuk modal kerja. Berdasarkan prospektus yang diterbitkan, perseroan akan menganggarkan belanja modal sebesar Rp98,9 miliar pada 2012. Belanja modal itu untuk pengelolaan sebesar Rp4 miliar dan investasi sebesar Rp94,9 miliar pada 2012.
Perseroan akan membuka megastore dan beberapa toko ritel dan jaringan distribusi. Akhir 2012, perseroan akan membuka enam megastore dan 100 ribu toko ritel. Sebelumnya perseroan telah merealisasikan belanja modal sebesar Rp54,3 miliar hingga semester pertama 2011 untuk investasi. Perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp26 miliar pada semester kedua 2011.
Belanja modal tersebut untuk pengelolaan sebesar Rp4,2 miliar dan Rp21,8 miliar untuk investasi. Selain itu, sebelum mengakuisisi TAM, perseroan memiliki utang senilai Rp226 miliar per Juni 2011. (iin)
Dalam IPO tersebut, perseroan menunjuk PT Buana Capital, Credit Suisse dan JP Morgan sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Rencananya, perseoan akan menjalami masa penawaran awal (bookbuilding) pada 16-29 November 2011, masa penawaran 8-9 Desember 2011, dan pencatatan pada Bursa Efek Indonesia pada 14 Desember mendatang.
Direktur Utama PT Buana Capital Benny Hardiman Setiabrata mengatakan kisaran harga tersebyt mencermintan tingkat rasio harga saham terhadap laba bersih perseroan (price to earnings ratio/ PER) sebesar 7,7-10,6 kali. Sedangkan, lanjut dia, PER rata-rata industri distributor sebesar 11-12 kali. Dia juga menuturkan pihaknya tidak memberikan fasilitas penjatahan lebih (greenshoe) dan stabilisasi harga untuk saham perdana perseroan.
“Harga tersebut cukup menarik. Terlebih prospek bisnis ini akan positif. Seiring dengan daya beli dan gaya hidup masyarakat Indonesia yang rata-rata memiliki 2-3 ponsel,” ungkap Benny di sela paparan public di Jakarta, Kamis (17/11).
Benny mengatakan dalam penawaran tersebut perseroan akan melakukan roadshow selama 1-2 minggu ke lima kota dunia. Kelimanya adalah Singapura, Hongkong, London, New York, dan Boston. Ia menjelaskan dengan roadshow tersebut diharapkan akan menarik minat investor asing. “Sebelumnya memang sudah ada yang berbicara, tapi masih belum,” papar Benny.
Benny menjelaskan 42% dana raihan IPO tersebut akan digunakan untuk membayar akusisi TAM senilai US$ 85 juta. Ia juga menjelaskan 16% pengembangan jaringan distribusi dan ritel Erafone, dan 42% untuk modal kerja. Berdasarkan prospektus yang diterbitkan, perseroan akan menganggarkan belanja modal sebesar Rp98,9 miliar pada 2012. Belanja modal itu untuk pengelolaan sebesar Rp4 miliar dan investasi sebesar Rp94,9 miliar pada 2012.
Perseroan akan membuka megastore dan beberapa toko ritel dan jaringan distribusi. Akhir 2012, perseroan akan membuka enam megastore dan 100 ribu toko ritel. Sebelumnya perseroan telah merealisasikan belanja modal sebesar Rp54,3 miliar hingga semester pertama 2011 untuk investasi. Perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp26 miliar pada semester kedua 2011.
Belanja modal tersebut untuk pengelolaan sebesar Rp4,2 miliar dan Rp21,8 miliar untuk investasi. Selain itu, sebelum mengakuisisi TAM, perseroan memiliki utang senilai Rp226 miliar per Juni 2011. (iin)
Grup Ciputra Anggarkan Capex US$ 2 M
JAKARTA – Grup Ciputra menganggarkan belanja modal (capital expediture/capex) Rp 2 triliun selama lima tahun mendatang. Rencananya, capex tersebut akan digunakan untuk membiayai proyek perseroan yang diperkirakan akan mencapai 100 buah dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun mendatang.
CEO Grup Ciputra Candra Ciputra mengatakan besarnya capex dan proyek tersebut seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan positif di masa. Hal tersebut, lanjut dia, terlihat dengan menggeliatnya perekonomian di daerah seiring dengan asas desentralisasi. Ditambah lagi dengan booming komoditas di sejumlah daerah Indonesia. Untuk itu, lanjut dia, pihaknya akan terus ekspansi di seluruh Indonesia, baik ibu kota propinsi maupun pemerintah daerah tingkat II.
“Jika setiap tahun meluncurkan tujuh hingga delapan proyek saya optimistis akan mencapai target 100 proyek tersebut dalam kurun waktu tujuh tahun,” ungkap Candra di Jakarta, Rabu (16/11).
Namun, Candra enggan untuk menjelaskan lebih rinci mengenai sumber pendanaan dan proyek baru tersebut. Ia hanya mengatakan saat ini perseroan telah memiliki 58 proyek dan akan bertambah sebanyak tujuh proyek pada 2012. Ketujuh proyek baru tersebut adalah CitraGarden Pekanbaru, CitraLand Botanical City PangkalPinang, CitraGrand Semarang, CitraGrand Yogyakarta, Citra Garden Pontianak, CitraLand Palu dan CitraLand Bagya City Medan.
“Nilai dari satu proyeknya diperkirakan sekitar Rp 50 - 100 miliar yang berasal dari dana internal perusahaan. Sebab, beberapa proyek diantaranya dengan system KSO dengan mitra kami. Tahun depan pun kami akan membuat 3-4 MoU untuk KSO tersebut,” papar Candra tanpa menyebutkan pihak yang akan mereka gandeng untuk KSO tersebut. Ia hanya mengatakan land bank perseroan mencapai 3 ribu hektar (ha) yang terdiri dari lahan milik grup Ciputra sebanyak 1.200 ha dan KSO sebanyak 1.500 ha.
Candra memperkirakan ketujuh proyek tersebut pihaknya akan mampu menjual 7 ribu unit rumah, dimana seribu diantaranya berharga dibawah Rp 100 juta. Dengan demikian, lanjut dia, secara otomatis meningkatkan penjualan perseroan sebesar 25% dari Rp 3,8 triliun menjadi Rp 5 triliun pada tahun depan.
Sementara itu, Direktur PT Ciputra Development Tbk Tulus Santoso menjelaskan tiga perusahaan terbuka yang tergabung dalam Grup Ciputra menyumbangkan penjualan sebesar Rp 4 triliun pada 2012. Ia menjelaskan dalam penjualan tersebut sebanyak 25% akan dikontribusikan dari PT Ciputra Property Tbk (CTRP). “Sedangkan sisanya terbagi rata antara PT Ciputra Development tbk (CTRP) dan PT Ciputra Surya tbk (CTRS),” tutur dia.
Tulus menjelaskan komposisi kontribusi Ciputra Properti tahun depan berbeda dengan 2011. Sebab, lanjut dia, pada tahun ini perseroan diperkirakan hanya berkontribusi 15%. Ia menjelaskan hal tersebut dikarenakan pada 2012 perusahaan akan mulai menjual unit komersial di proyek Ciputra World. Ia juga menjelaskan hingga Oktober 2011 perusahaan terbuka Grup Ciputra telah mencatatkan penjualan Rp 2,75 triliun. Jumlah tersebut merupakan 88,7% dari target penjualan tahun ini sebesar Rp 3,1 triliun.
Lampaui Target
Lebih lanjut Tulus menjelaskan, perusahaan terbuka akan mencatatkan penjualan akan melampui target, yaitu mencapai Rp 3,3 triliun pada akhir tahun ini. Sebab, lanjut dia, tahun ini penjualan property sangat memuaskan. Hal tersebut seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,5% pada tahun ini. “Bahkan dari ketia perusahaan terbuka tersebut, setiap bulannya kami mampu mencatatkan penjualan Rp 300 miliar,” tambah dia.
Pada kesempatan yang sama, Tulus menjelaskan Ciputra Property tengah mencari pinjaman sebanyak Rp 1,5 triliun. Pinjaman tersebut akan digunakan untuk membiayai capex perseroan Rp 2 triliun pada tahun depan. Capex tersebut digunakan untuk membangun proyek Ciputra World di Jakarta. Ia mengatakan kemungkinan besar pinjaman tersebut akan diberikan oleh dua bank local dengan bentuk konsorsium. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama bank tersebut.
Ciputra World Jakarta merupakan superblok yang terdiri atasmal, apartemen, hotel, apartemen premium, perkantoran, dan museum. Proyek itu seluas 5.5 hektare (ha). Ciputra World Jakarta berada di jalan Prof Dr Satrio kav 3 dan 5, Kuningan, Jakarta. Perseroan mulai membangun Ciputra World Jakarta sejak 2008 dan ditargetkan rampung pada 2012. (iin)
CEO Grup Ciputra Candra Ciputra mengatakan besarnya capex dan proyek tersebut seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan positif di masa. Hal tersebut, lanjut dia, terlihat dengan menggeliatnya perekonomian di daerah seiring dengan asas desentralisasi. Ditambah lagi dengan booming komoditas di sejumlah daerah Indonesia. Untuk itu, lanjut dia, pihaknya akan terus ekspansi di seluruh Indonesia, baik ibu kota propinsi maupun pemerintah daerah tingkat II.
“Jika setiap tahun meluncurkan tujuh hingga delapan proyek saya optimistis akan mencapai target 100 proyek tersebut dalam kurun waktu tujuh tahun,” ungkap Candra di Jakarta, Rabu (16/11).
Namun, Candra enggan untuk menjelaskan lebih rinci mengenai sumber pendanaan dan proyek baru tersebut. Ia hanya mengatakan saat ini perseroan telah memiliki 58 proyek dan akan bertambah sebanyak tujuh proyek pada 2012. Ketujuh proyek baru tersebut adalah CitraGarden Pekanbaru, CitraLand Botanical City PangkalPinang, CitraGrand Semarang, CitraGrand Yogyakarta, Citra Garden Pontianak, CitraLand Palu dan CitraLand Bagya City Medan.
“Nilai dari satu proyeknya diperkirakan sekitar Rp 50 - 100 miliar yang berasal dari dana internal perusahaan. Sebab, beberapa proyek diantaranya dengan system KSO dengan mitra kami. Tahun depan pun kami akan membuat 3-4 MoU untuk KSO tersebut,” papar Candra tanpa menyebutkan pihak yang akan mereka gandeng untuk KSO tersebut. Ia hanya mengatakan land bank perseroan mencapai 3 ribu hektar (ha) yang terdiri dari lahan milik grup Ciputra sebanyak 1.200 ha dan KSO sebanyak 1.500 ha.
Candra memperkirakan ketujuh proyek tersebut pihaknya akan mampu menjual 7 ribu unit rumah, dimana seribu diantaranya berharga dibawah Rp 100 juta. Dengan demikian, lanjut dia, secara otomatis meningkatkan penjualan perseroan sebesar 25% dari Rp 3,8 triliun menjadi Rp 5 triliun pada tahun depan.
Sementara itu, Direktur PT Ciputra Development Tbk Tulus Santoso menjelaskan tiga perusahaan terbuka yang tergabung dalam Grup Ciputra menyumbangkan penjualan sebesar Rp 4 triliun pada 2012. Ia menjelaskan dalam penjualan tersebut sebanyak 25% akan dikontribusikan dari PT Ciputra Property Tbk (CTRP). “Sedangkan sisanya terbagi rata antara PT Ciputra Development tbk (CTRP) dan PT Ciputra Surya tbk (CTRS),” tutur dia.
Tulus menjelaskan komposisi kontribusi Ciputra Properti tahun depan berbeda dengan 2011. Sebab, lanjut dia, pada tahun ini perseroan diperkirakan hanya berkontribusi 15%. Ia menjelaskan hal tersebut dikarenakan pada 2012 perusahaan akan mulai menjual unit komersial di proyek Ciputra World. Ia juga menjelaskan hingga Oktober 2011 perusahaan terbuka Grup Ciputra telah mencatatkan penjualan Rp 2,75 triliun. Jumlah tersebut merupakan 88,7% dari target penjualan tahun ini sebesar Rp 3,1 triliun.
Lampaui Target
Lebih lanjut Tulus menjelaskan, perusahaan terbuka akan mencatatkan penjualan akan melampui target, yaitu mencapai Rp 3,3 triliun pada akhir tahun ini. Sebab, lanjut dia, tahun ini penjualan property sangat memuaskan. Hal tersebut seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,5% pada tahun ini. “Bahkan dari ketia perusahaan terbuka tersebut, setiap bulannya kami mampu mencatatkan penjualan Rp 300 miliar,” tambah dia.
Pada kesempatan yang sama, Tulus menjelaskan Ciputra Property tengah mencari pinjaman sebanyak Rp 1,5 triliun. Pinjaman tersebut akan digunakan untuk membiayai capex perseroan Rp 2 triliun pada tahun depan. Capex tersebut digunakan untuk membangun proyek Ciputra World di Jakarta. Ia mengatakan kemungkinan besar pinjaman tersebut akan diberikan oleh dua bank local dengan bentuk konsorsium. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama bank tersebut.
Ciputra World Jakarta merupakan superblok yang terdiri atasmal, apartemen, hotel, apartemen premium, perkantoran, dan museum. Proyek itu seluas 5.5 hektare (ha). Ciputra World Jakarta berada di jalan Prof Dr Satrio kav 3 dan 5, Kuningan, Jakarta. Perseroan mulai membangun Ciputra World Jakarta sejak 2008 dan ditargetkan rampung pada 2012. (iin)
Rabu, 16 November 2011
99,8% Pemegang Saham Lippo Karawaci Setuju Buyback Rp 600 M
JAKARTA - PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) telah mendapatkan persetujuan dari 99,8% pemegang saham untuk melakukan pembelian saham (buyback) senilai Rp 600 miliar. Rencananya, buyback tersebut dilakukan dalam tiga tahap selama 18 bulan.
Dengan dana tersebut, Lippo Karawaci diperkirakan dapat membeli sekitar 294.117.647 saham. Jumlah tersebut merupakan diatas 2% dari total modal yang ditempatkan penuh pemegang saham. Perseroan menunjuk PT Ciptadana Sekuritas sebagai agen buyback tersebut.
Presiden dan CEO Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya mengatakan setiap tahap dana buyback yang dialokasikan sebesar Rp 200 miliar. Dana tersebut, lanjut dia, akan berasal dari kas internal. Mengingat posisis kas perseroan sangat kuat saat ini mencapai Rp 2,9 triliun. Sedangkan tahap pertama, lanjut Ketut, diperkirakan akan dilakukan pada akhir tahun. Namun, ia enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia hanya mengatakan setiap buyback harus melalui rapat direksi.
"Selain itu, pembelian akan dilakukan pada waktu yang dianggap tepat. Yang jelas buyback akan dilakukan sesuai dengan harga pasar," ungkap Ketut usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) di Jakarta, Selasa (15/11).
Ketut menjelaskan buyback tersebut dilakukan untuk memperbaiki struktur permodalan perseroan. Walaupun selama 12 bulan terakhir perseroan telah meningkatkan nilai dasar, kinerja financial, dan operasional. Sebab, lanjut dia, pada saat ini level harga saham dianggap masih murah dan rendah sehingga tidak merefleksikan nilai dasar dari perseroan. Mengingat kisaran level harga saham berada di Rp 600-700.
"Sedangkan harga saham yang dianggap dapat merefleksikan nilai perseroan adalah Rp 1.600. Harga tersebut terjadi pada 31 Desember 2010," ujar Ketut.
Selain itu, lanjut Ketut, buyback tersebut dilakukan untuk menghadapi situasi tidak menentu seperti yang terjadi saat ini. Hal tersebut terkait dengan situasi global yang masih belum menentu. Dikhawatirkan harga saham akan turun lebih jauh lagi. "Untuk itu, kami menjaga untuk tidak jauh lagi. Mengingat kami optimistis pada masa depan bisnis akan berjalan positif. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia," tegas dia.
Ketut mengatakan kuartal VI tampak menjanjikan dan mengantisipasi peningkatan uang terus berlanjut dalam perkembangan aktivitas rumahh sakit dan mall. Berdasarkan laporan kuartal III, pendapatan perseroan meningkat 30% menjadi Rp 2,9 triliun dari Rp 2,2 triliun. Sedangkan laba bersih, perseroan mampu mencetak Rp 481 miliar. Jumlah tersebut meningkat 38% dibandingkan periode yang samaa tahun lalu sebesar Rp 349 miliar.
Untuk 2012, Ketut menjelaskan perseroan mengganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) US$ 275 juta. Dana tersebut digunakan untuk semua proyek perseroan dalam lima unit usaha bisnis. Kelimanya adalah Residential/township, retail malls, hospital, hotels, dan asset management. Dana tersebut akan berasal dari kas internal.
"Sedangkan pada tahun ini, perseroan telah menyerap capex sebanyak 70-80% dari US$ 225 juta. Saat ini perseroan memiliki enam rumah sakit dan tiga mall yang sedang dalam tahap pembangunan," kata Ketut.
Sementara itu, Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada harga saham Lippo Karawaci memang tidak mencerminkan nilai perseroan tersebut. Sebab, lanjut dia, Lippo Karawaci memiliki bisnis yang unik dan terintegrasi sehingga usaha perseroan menjadi lebih besar dibandingkan dengan emiten property lainnya. Untuk itu, ia pun menilai harga wajar saham perseroan berada di level Rp 800.
Untuk itu, Reza memprediksi dengan aksi buyback tersebut saham Lippo Karawaci akan menyentuh level Rp 1.000. Dengan catatan, lanjut dia, eksekusi buyback tersebut dilakukan disaat yang tepat atau diharga atas. “Hal tersebut akan mendorong pergerakan saham yang akan sangat signifikan. Untuk itu, perseroan disarankan untuk dapat mengumumkan secara pasti tanggal pelaksanaan buyback tersebut,” tandas dia. (iin)
Dengan dana tersebut, Lippo Karawaci diperkirakan dapat membeli sekitar 294.117.647 saham. Jumlah tersebut merupakan diatas 2% dari total modal yang ditempatkan penuh pemegang saham. Perseroan menunjuk PT Ciptadana Sekuritas sebagai agen buyback tersebut.
Presiden dan CEO Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya mengatakan setiap tahap dana buyback yang dialokasikan sebesar Rp 200 miliar. Dana tersebut, lanjut dia, akan berasal dari kas internal. Mengingat posisis kas perseroan sangat kuat saat ini mencapai Rp 2,9 triliun. Sedangkan tahap pertama, lanjut Ketut, diperkirakan akan dilakukan pada akhir tahun. Namun, ia enggan untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut. Ia hanya mengatakan setiap buyback harus melalui rapat direksi.
"Selain itu, pembelian akan dilakukan pada waktu yang dianggap tepat. Yang jelas buyback akan dilakukan sesuai dengan harga pasar," ungkap Ketut usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) di Jakarta, Selasa (15/11).
Ketut menjelaskan buyback tersebut dilakukan untuk memperbaiki struktur permodalan perseroan. Walaupun selama 12 bulan terakhir perseroan telah meningkatkan nilai dasar, kinerja financial, dan operasional. Sebab, lanjut dia, pada saat ini level harga saham dianggap masih murah dan rendah sehingga tidak merefleksikan nilai dasar dari perseroan. Mengingat kisaran level harga saham berada di Rp 600-700.
"Sedangkan harga saham yang dianggap dapat merefleksikan nilai perseroan adalah Rp 1.600. Harga tersebut terjadi pada 31 Desember 2010," ujar Ketut.
Selain itu, lanjut Ketut, buyback tersebut dilakukan untuk menghadapi situasi tidak menentu seperti yang terjadi saat ini. Hal tersebut terkait dengan situasi global yang masih belum menentu. Dikhawatirkan harga saham akan turun lebih jauh lagi. "Untuk itu, kami menjaga untuk tidak jauh lagi. Mengingat kami optimistis pada masa depan bisnis akan berjalan positif. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia," tegas dia.
Ketut mengatakan kuartal VI tampak menjanjikan dan mengantisipasi peningkatan uang terus berlanjut dalam perkembangan aktivitas rumahh sakit dan mall. Berdasarkan laporan kuartal III, pendapatan perseroan meningkat 30% menjadi Rp 2,9 triliun dari Rp 2,2 triliun. Sedangkan laba bersih, perseroan mampu mencetak Rp 481 miliar. Jumlah tersebut meningkat 38% dibandingkan periode yang samaa tahun lalu sebesar Rp 349 miliar.
Untuk 2012, Ketut menjelaskan perseroan mengganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) US$ 275 juta. Dana tersebut digunakan untuk semua proyek perseroan dalam lima unit usaha bisnis. Kelimanya adalah Residential/township, retail malls, hospital, hotels, dan asset management. Dana tersebut akan berasal dari kas internal.
"Sedangkan pada tahun ini, perseroan telah menyerap capex sebanyak 70-80% dari US$ 225 juta. Saat ini perseroan memiliki enam rumah sakit dan tiga mall yang sedang dalam tahap pembangunan," kata Ketut.
Sementara itu, Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada harga saham Lippo Karawaci memang tidak mencerminkan nilai perseroan tersebut. Sebab, lanjut dia, Lippo Karawaci memiliki bisnis yang unik dan terintegrasi sehingga usaha perseroan menjadi lebih besar dibandingkan dengan emiten property lainnya. Untuk itu, ia pun menilai harga wajar saham perseroan berada di level Rp 800.
Untuk itu, Reza memprediksi dengan aksi buyback tersebut saham Lippo Karawaci akan menyentuh level Rp 1.000. Dengan catatan, lanjut dia, eksekusi buyback tersebut dilakukan disaat yang tepat atau diharga atas. “Hal tersebut akan mendorong pergerakan saham yang akan sangat signifikan. Untuk itu, perseroan disarankan untuk dapat mengumumkan secara pasti tanggal pelaksanaan buyback tersebut,” tandas dia. (iin)
Catur Sentosa Target Laba Bersih Jadi Rp 65 M
JAKARTA – PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) menaikan target laba bersih jadi Rp 65 miliar pada akhir 2011. Jumlah tersebut naik 20% dibandingkan dengan target perseroan sebelumnya sebesar Rp 50 miliar. Peningkatan tersebut terjadi seiring dengan peningkatan kinerja dua segmen bisnis perseroan, yaitu distribusi dan ritel dengan merek dagang Mitra 10.
Sekretaris Perusahaan Catur Sentosa Adiprana Idrus H Widjajakusuma menjelaskan pertumbuhan segmen ritel terjadi karena adanya peningkatan volume penjualan dari gerai yang sudah ada mencapai 35%. Ia mengatakan pertumbuhan tersebut merupakan pencapaian positif perseroan dalam segmen ritel. Sebab, lanjut dia, biasanya pertumbuhan pendapatan ritel ditopang oleh adanya pertumbuhan gerai.
“Sedangkan pada tahun ini kami tidak membuka satupun gerai. Tapi kami lebih pada peningkatan kenyaman dan kelengkapan gerai yang telah ada. Sedangkan untuk segmen distribusi, perseroan telah berhasil melakukan peningkatan penjualan hingga 25%,” ungkap Idrus kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (15/11).
Untuk pendapatan, Idrus mengatakan perseroan akan mampu mencetak sebesar Rp 4 triliun pada akhir tahun. Jumlah tersebut meningkat 20% dibandingkan dengan pendapatan 2010 sebesar Rp 3,3 tiliun. Ia optimistis perseroan akan mencapai target baru tersebut seiring dengan keberhasilan perseroan mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal III 2011.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, perseroan mampu mencatatkan pendapatan sebesar Rp 3 triliun. Jumlah tersebut meningkat 27% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 2,4 triliun. Sedangkan laba bersih, perseroan mampu mencatatkan kenaikan 122% dari Rp 26,3 miliar menjadi Rp 58,6 miliar.
Idrus menambahkan perseroan membidik penjualan sebesar Rp 4,8 triliun pada 2012. Jumlah tersebut meningkat 20% dibandingkan dengan estimasi penjualan tahun ini sebesar Rp 4 triliun. Peningkatan tersebut seiring dengan dibukanya gerai baru di Bogor pada kuartal II tahun depan. Ia menambahkan dengan pembukaan gerai tersebut akan mendongkrak omzet minimal sebesar Rp 60 miliar dalam satu tahun.
“Pencapaian penjualan tersebut tak lepas dari pengaruh positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan. Alhasil mendorong pertumbuhan kedua segmen bisnis kami, yaitu distribusi dan penjualan,” tegas Idrus. (iin)
Sekretaris Perusahaan Catur Sentosa Adiprana Idrus H Widjajakusuma menjelaskan pertumbuhan segmen ritel terjadi karena adanya peningkatan volume penjualan dari gerai yang sudah ada mencapai 35%. Ia mengatakan pertumbuhan tersebut merupakan pencapaian positif perseroan dalam segmen ritel. Sebab, lanjut dia, biasanya pertumbuhan pendapatan ritel ditopang oleh adanya pertumbuhan gerai.
“Sedangkan pada tahun ini kami tidak membuka satupun gerai. Tapi kami lebih pada peningkatan kenyaman dan kelengkapan gerai yang telah ada. Sedangkan untuk segmen distribusi, perseroan telah berhasil melakukan peningkatan penjualan hingga 25%,” ungkap Idrus kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (15/11).
Untuk pendapatan, Idrus mengatakan perseroan akan mampu mencetak sebesar Rp 4 triliun pada akhir tahun. Jumlah tersebut meningkat 20% dibandingkan dengan pendapatan 2010 sebesar Rp 3,3 tiliun. Ia optimistis perseroan akan mencapai target baru tersebut seiring dengan keberhasilan perseroan mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal III 2011.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, perseroan mampu mencatatkan pendapatan sebesar Rp 3 triliun. Jumlah tersebut meningkat 27% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 2,4 triliun. Sedangkan laba bersih, perseroan mampu mencatatkan kenaikan 122% dari Rp 26,3 miliar menjadi Rp 58,6 miliar.
Idrus menambahkan perseroan membidik penjualan sebesar Rp 4,8 triliun pada 2012. Jumlah tersebut meningkat 20% dibandingkan dengan estimasi penjualan tahun ini sebesar Rp 4 triliun. Peningkatan tersebut seiring dengan dibukanya gerai baru di Bogor pada kuartal II tahun depan. Ia menambahkan dengan pembukaan gerai tersebut akan mendongkrak omzet minimal sebesar Rp 60 miliar dalam satu tahun.
“Pencapaian penjualan tersebut tak lepas dari pengaruh positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan. Alhasil mendorong pertumbuhan kedua segmen bisnis kami, yaitu distribusi dan penjualan,” tegas Idrus. (iin)
Selasa, 15 November 2011
Ancora Investasi US$ 5 Juta
Ancora Investasi US$ 5 Juta
JAKARTA – PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OCAS) siap investasi sebesar US$ 5 juta pada 2012. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan perakitan alat peledak (detonator assembly) di Samarinda, Kalimatan Timur. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya kompetitif perseroan.
Direktur Utama Ancora Indonesia Resources Dharma Djojonegoro menjelaskan dana tersebut akan berasal dari kas internal dan pinjaman bank. Namun, ia mengaku hingga saat ini perseroan belum menentukan porsi dari masing-masing sumber pendanaan tersebut. “Sebab, rencananya pembangunan detonator assembly tersebut akan dilakukan pada kuartal II 2012,” ungkap Dharma kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (14/11).
Pada kesempatan yang sama, Dharma menjelaskan pabrik PT Multi Nitrotama Kimia (MNK) II akan mulai berproduksi pada Desember mendatang. Dengan demikian, lanjut dia, perseroan optimistis pada tahun depan akan mampu meningkatkan pendapatan perseroan sebanyak 10%. Hal tersebut seiring dengan pertumbuhan permintaan pada tahun depan.
“Pada tahun depan kami sudah mendapatkan klien baru seperti PT Adaro Energi Tbk (ADRO) dan PT Asmin Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN),” jelas Dharma.
Meskipun demikian, Dharma optimistis pada tahun depan perolehan laba bersih akan meningkat signifikan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan pertumbuhan target tersebut. Ia hanya mengatakan target EBITDA akan naik lebih dari 75%. Dengan catatan, lanjut dia, klien perseroan tidak mengalami gangguan dalam produksi.
“Hal tersebut karena pada tahun ini ada salah satu klien utama kami mengelami banyakgangguan operasional. Alhasil target pendapatan dan laba kami tidak mencapai target,” papar Dharma.
Ancora menguasai 50% saham MNK, yaitu produsen amonimum nitrat untuk penggunaan bahan peledak pertambangan. MNK menguasai sekitar 40-50% pangsa pasar amonium nitrat di Indonesia.
Ancora sebelumnya telah mendapatkan fasilitas pinjaman dari Standard Bank Plc sebesar US$25 juta. Sebagian besar pinjaman ini digunakan untuk membiayai akuisisi dan investasi tambang batubara PT Raja Kutai Bumi Makmur (RKBM). Tambang ini sudah memasuki tahap eksplorasi fina! dan diperkirakan berproduksi pada semester pertama 2012.
Perseroan membukukan penjualan hingga semester 1-2011 senilai Rp 593.53 miliar atau turun dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 719,98 miliar. Laba bersih juga ikut terkoreksi dari Rp 6,71 miliar menjadi Rp 4.1 miliar. (iin)
JAKARTA – PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OCAS) siap investasi sebesar US$ 5 juta pada 2012. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan perakitan alat peledak (detonator assembly) di Samarinda, Kalimatan Timur. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya kompetitif perseroan.
Direktur Utama Ancora Indonesia Resources Dharma Djojonegoro menjelaskan dana tersebut akan berasal dari kas internal dan pinjaman bank. Namun, ia mengaku hingga saat ini perseroan belum menentukan porsi dari masing-masing sumber pendanaan tersebut. “Sebab, rencananya pembangunan detonator assembly tersebut akan dilakukan pada kuartal II 2012,” ungkap Dharma kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (14/11).
Pada kesempatan yang sama, Dharma menjelaskan pabrik PT Multi Nitrotama Kimia (MNK) II akan mulai berproduksi pada Desember mendatang. Dengan demikian, lanjut dia, perseroan optimistis pada tahun depan akan mampu meningkatkan pendapatan perseroan sebanyak 10%. Hal tersebut seiring dengan pertumbuhan permintaan pada tahun depan.
“Pada tahun depan kami sudah mendapatkan klien baru seperti PT Adaro Energi Tbk (ADRO) dan PT Asmin Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN),” jelas Dharma.
Meskipun demikian, Dharma optimistis pada tahun depan perolehan laba bersih akan meningkat signifikan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan pertumbuhan target tersebut. Ia hanya mengatakan target EBITDA akan naik lebih dari 75%. Dengan catatan, lanjut dia, klien perseroan tidak mengalami gangguan dalam produksi.
“Hal tersebut karena pada tahun ini ada salah satu klien utama kami mengelami banyakgangguan operasional. Alhasil target pendapatan dan laba kami tidak mencapai target,” papar Dharma.
Ancora menguasai 50% saham MNK, yaitu produsen amonimum nitrat untuk penggunaan bahan peledak pertambangan. MNK menguasai sekitar 40-50% pangsa pasar amonium nitrat di Indonesia.
Ancora sebelumnya telah mendapatkan fasilitas pinjaman dari Standard Bank Plc sebesar US$25 juta. Sebagian besar pinjaman ini digunakan untuk membiayai akuisisi dan investasi tambang batubara PT Raja Kutai Bumi Makmur (RKBM). Tambang ini sudah memasuki tahap eksplorasi fina! dan diperkirakan berproduksi pada semester pertama 2012.
Perseroan membukukan penjualan hingga semester 1-2011 senilai Rp 593.53 miliar atau turun dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 719,98 miliar. Laba bersih juga ikut terkoreksi dari Rp 6,71 miliar menjadi Rp 4.1 miliar. (iin)
Senin, 14 November 2011
Harga SUN Menguat Terbatas
JAKARTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) diprediksi menguat pada pekan ini. Setelah BI memutuskan untuk menurunkan tingkat suku bunga menjadi 6%. Namun, kenaikan tersebut sangat terbatas. Sebab, pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pada semua tenor berpotensi hanya turun di kisaran 5-10 basis poin (bp).
Walau penurunan suku bunga relative besar dan diluar ekspektasi, tapi investor menganggap sentiment tersebut tidak memberikan efek besar pada pasar obligasi. Hal tersebut menyusul pada pekan ini investor masih memonitor langkah Eropa dalam menyelesaikan krisis yang terjadi di Negara tersebut. Untuk itu, investor pun masih akan melancarkan aksi wait and see di sepanjang pekan depan. Alhasil, penguatan yang terhadi pun hanya terbatas pada pekan ini.
Demikian rangkuman ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT NC Securities I Made Adi Saputra kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.
Selain penurunan BI rate, Juniman menjelaskan perbaikan angka dari data-data yang dikemukakan Amerika Serikat (AS) juga menjadi factor pemicu aliran dana asing untuk kembali masuk ke pasar negara berkembang. Namun, lanjuty dia, kondisi Eropa terutama Italia, akan sedikit menahan aliran dana dari investor asing untuk masuk di pasar Negara berkembang. Sebab, lanjut dia, investor asing masih dihantui potensi kondisi terburuk pada pekan ini. Untuk itu, ia memperkirakan aliran dana asing hanya terjadi dalam jangka pendek.
Hal tersebut, tambah Juniman, diperburuk dengan minimnya sentiment positif yang ada pada pekan ini. Ia bahkan memprediksi status Eropa masih akan status quo vadis. Ia mengekaslan, status tersebut menggambarkan Eropa akan lebih berfokus pada penyelesaian politik di beberapa Negara mereka. Salah satunya adalah mengenai pemilihan atau penunjukan posisi Perdana Menteri Italia dan Yunani.
“Untuk itu, pergerakan yiled hanya berkisar 5-10. Menyusul belum kuatnya dorongan asing untuk masuk ke pasar obligasi Negara berkembang dan masih sangat tipisnya perdagangan pada pekan ini,” ungkap Juniman.
Pada pekan ini, Juniman merekomendasikan investor domestic untuk melakukan pembelian selektif pada iobligasi tenor jangka panjang. Hal tersebut dilakukan kartena harga tenor panjang masih dianggap cukup menarik atau diatas posisi BI Rate. “Tapi, investor domestic juga diwajibkan untuk mencermati kondisi Eropa,” tambah Juniman.
Sementara itu, Made menjelaskan kondisi eropa mulai membaik mempengaruhi imbal hasil obligasi Italia mengalami penurunan menjadi disekitar 6%. Namun, lanjut dia, perbaikan di Italia tidak lantas membuat kekhawatiran investor sirna pada pekan ini. Untuk itu, ia pun memperkirakan investor masih akan mencermati kondisi perkembangan Italia. Meskipun demikian, ia memprediksi pekan mendatang tidak akan ada sentiment yang membuat pasar terkejut. “Saya perkirakan kondisi ini akan bertahan hingga akhir tahun,” papar Made.
Untuk itu, Made memperkirakan sepekan ini harga obligasi tenor pendek hanya naik 25 bp. Namun, dari sisi yield hanya akan mengalami penurunan sebanyak 10 bp. Sedangkan harga tenor menengah, sepekan mendatang diperkirakan akan naik 50 bp. Sementara yield tenor menangah hanya turun 10 bp. “Pada harga tenor panjang kemungkinan bisa naik hingga 70 bp. Wlaalu pergerakan yield hanya sebesar 5 bp. Dengan demikina, pemodal disarankan untuk masuk pada tenor panjang,” papar Made. (iin)
Walau penurunan suku bunga relative besar dan diluar ekspektasi, tapi investor menganggap sentiment tersebut tidak memberikan efek besar pada pasar obligasi. Hal tersebut menyusul pada pekan ini investor masih memonitor langkah Eropa dalam menyelesaikan krisis yang terjadi di Negara tersebut. Untuk itu, investor pun masih akan melancarkan aksi wait and see di sepanjang pekan depan. Alhasil, penguatan yang terhadi pun hanya terbatas pada pekan ini.
Demikian rangkuman ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT NC Securities I Made Adi Saputra kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.
Selain penurunan BI rate, Juniman menjelaskan perbaikan angka dari data-data yang dikemukakan Amerika Serikat (AS) juga menjadi factor pemicu aliran dana asing untuk kembali masuk ke pasar negara berkembang. Namun, lanjuty dia, kondisi Eropa terutama Italia, akan sedikit menahan aliran dana dari investor asing untuk masuk di pasar Negara berkembang. Sebab, lanjut dia, investor asing masih dihantui potensi kondisi terburuk pada pekan ini. Untuk itu, ia memperkirakan aliran dana asing hanya terjadi dalam jangka pendek.
Hal tersebut, tambah Juniman, diperburuk dengan minimnya sentiment positif yang ada pada pekan ini. Ia bahkan memprediksi status Eropa masih akan status quo vadis. Ia mengekaslan, status tersebut menggambarkan Eropa akan lebih berfokus pada penyelesaian politik di beberapa Negara mereka. Salah satunya adalah mengenai pemilihan atau penunjukan posisi Perdana Menteri Italia dan Yunani.
“Untuk itu, pergerakan yiled hanya berkisar 5-10. Menyusul belum kuatnya dorongan asing untuk masuk ke pasar obligasi Negara berkembang dan masih sangat tipisnya perdagangan pada pekan ini,” ungkap Juniman.
Pada pekan ini, Juniman merekomendasikan investor domestic untuk melakukan pembelian selektif pada iobligasi tenor jangka panjang. Hal tersebut dilakukan kartena harga tenor panjang masih dianggap cukup menarik atau diatas posisi BI Rate. “Tapi, investor domestic juga diwajibkan untuk mencermati kondisi Eropa,” tambah Juniman.
Sementara itu, Made menjelaskan kondisi eropa mulai membaik mempengaruhi imbal hasil obligasi Italia mengalami penurunan menjadi disekitar 6%. Namun, lanjut dia, perbaikan di Italia tidak lantas membuat kekhawatiran investor sirna pada pekan ini. Untuk itu, ia pun memperkirakan investor masih akan mencermati kondisi perkembangan Italia. Meskipun demikian, ia memprediksi pekan mendatang tidak akan ada sentiment yang membuat pasar terkejut. “Saya perkirakan kondisi ini akan bertahan hingga akhir tahun,” papar Made.
Untuk itu, Made memperkirakan sepekan ini harga obligasi tenor pendek hanya naik 25 bp. Namun, dari sisi yield hanya akan mengalami penurunan sebanyak 10 bp. Sedangkan harga tenor menengah, sepekan mendatang diperkirakan akan naik 50 bp. Sementara yield tenor menangah hanya turun 10 bp. “Pada harga tenor panjang kemungkinan bisa naik hingga 70 bp. Wlaalu pergerakan yield hanya sebesar 5 bp. Dengan demikina, pemodal disarankan untuk masuk pada tenor panjang,” papar Made. (iin)
Gajah Tunggal Bidik Kenaikan Pendapatan 25%
JAKARTA – PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) membidik pendapatan sekitar Rp 14,1 – 15,3 triliun pada 2012. Jumlah tersebut naik 20-25% dibandingkan estimasi pendapatan pada tahun ini yang akan mencapai Rp 11,8-12,3 triliun. Kenaikan tersebut ditopang oleh ekspansi kapasitas perseroan selam aperiode 2005-2011, meliputi ban motor dan mobil (radial).
“Ekspansi tersebut diperkirakan akan selesai pada tahun depan,” ungkap Direktur Gajah Tunggal Catharina Widjaja kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.
Sebagai pengingat, Catarina menjelaskan ekspansi kapasitas ban motor akan menaikan produksi menjadi 90 ribu unit ban per hari dibandingkan pada 2010 sebesar 75 ribu ban per hari. Sedangkan produksi ban radial ditargetkan naik menjadi 45 ribu per hari dibandingkan pada 2010 sebanyak 40 ribu ban per hari. Dalam ekspansi tersebut, perseroan menggunakan dana hasil obligasi yang diterbitkan pada 2005 sebesar Rp 400 juta.
Catharina menjelaskan pada tahun depan perseroan masih belum mempunyai rencana untuk ekspansi produksi. Untuk itu, lanjut dia, perseroan diperkirakan tidak akan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) pada 2012.
Gajah Tunggal kini menguasai 53% pangsa pasar ban sepeda motor di Indonesia dengan merek IRC. Tahun ini, produsen ban tersebut menargetkan peningkatan volume penjualan ban sebesar 10-20% menjadi sekitar 38,35- 41,84 juta unit. Pada 2010, Gajah Tunggal memproyeksikan penjualan bersih 34,87 juta unit.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, Gajah Tunggal mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 10,84% menjadi Rp592,13 miliar dari Rp 664,15 miliar pada Q3-2010. Penurunan laba bersih tersebut dipicu merosotnya laba usaha menjadi Rp 712,71 miliar dari Rp981,3 miliar pada Q3-2010. Selain itu, keuntungan selisih kurs Perseroan juga turun menjadi Rp 52,25 miliar dari Rp 142,36 miliar.
Namun dari sisi penjualan, perseroan mencatatkan kenaikan menjadi Rp8,72 triliun dari dibandingkan pada periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp7,1 triliun. Sedangkan kewajiban peseroan pada kuartal III 2011 naik menjadi Rp6,95 triliun dari Rp 6,84 triliun pada Q3-2010. Sementara ekuitas Perseroan naik dari Rp3,53 triliun menjadi Rp 4,32 triliun. (iin)
“Ekspansi tersebut diperkirakan akan selesai pada tahun depan,” ungkap Direktur Gajah Tunggal Catharina Widjaja kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.
Sebagai pengingat, Catarina menjelaskan ekspansi kapasitas ban motor akan menaikan produksi menjadi 90 ribu unit ban per hari dibandingkan pada 2010 sebesar 75 ribu ban per hari. Sedangkan produksi ban radial ditargetkan naik menjadi 45 ribu per hari dibandingkan pada 2010 sebanyak 40 ribu ban per hari. Dalam ekspansi tersebut, perseroan menggunakan dana hasil obligasi yang diterbitkan pada 2005 sebesar Rp 400 juta.
Catharina menjelaskan pada tahun depan perseroan masih belum mempunyai rencana untuk ekspansi produksi. Untuk itu, lanjut dia, perseroan diperkirakan tidak akan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) pada 2012.
Gajah Tunggal kini menguasai 53% pangsa pasar ban sepeda motor di Indonesia dengan merek IRC. Tahun ini, produsen ban tersebut menargetkan peningkatan volume penjualan ban sebesar 10-20% menjadi sekitar 38,35- 41,84 juta unit. Pada 2010, Gajah Tunggal memproyeksikan penjualan bersih 34,87 juta unit.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, Gajah Tunggal mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 10,84% menjadi Rp592,13 miliar dari Rp 664,15 miliar pada Q3-2010. Penurunan laba bersih tersebut dipicu merosotnya laba usaha menjadi Rp 712,71 miliar dari Rp981,3 miliar pada Q3-2010. Selain itu, keuntungan selisih kurs Perseroan juga turun menjadi Rp 52,25 miliar dari Rp 142,36 miliar.
Namun dari sisi penjualan, perseroan mencatatkan kenaikan menjadi Rp8,72 triliun dari dibandingkan pada periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp7,1 triliun. Sedangkan kewajiban peseroan pada kuartal III 2011 naik menjadi Rp6,95 triliun dari Rp 6,84 triliun pada Q3-2010. Sementara ekuitas Perseroan naik dari Rp3,53 triliun menjadi Rp 4,32 triliun. (iin)
Minggu, 13 November 2011
Ancol Siapkan Capex Rp 600 M
JAKARTA - PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 600 miliar pada 2012. Rencananya, dana tersebut akan digunakan untuk perawatan dan pembangunan apartemen kelas menengah sel;uas 1 hektar.
Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi mengatakan dana tersebut akan berasal dari kas internal dan eksternal. Dengan porsi, lanjut dia, 70% dengan kas internal. Sedangkan eksternal dengan porsi 30%. “Untuk eksternal tersebut, perseroan masih mengkaji apakah dengan pinjaman atau obligasi,” ungkap Budi kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (10/11).
Budi menjelaskan, apartement tersebut akan mulai di pasarkan pada tahun depan dan ditargetkan akan selesai pada pertengahan 2013. Ia menjelaskan, dalam penggarapan apartemen tersebut perseroan tidak akan menggandeng mitra strategis. Sebab, lanjut dia, perseroan mampu menggarapa proyek tersebut sendiri.
Pada kesempatan tersebut, Budi menyebutkan perseroan membidik pendapatan sebesar Rp 1,3-1,4 triliun pada 2012. Jumlah tersebut meningkat 8,3%-16% dibandingkan estimasi pendapatan tahun ini sebesar Rp 1,2 triliun. Sedangkan target laba bersih, Budi mengatakan perseroan optimistis mampu mencatatkan sebesar Rp 180-190 miliar. Jumlah tersebut meningkat sebesar 12,5% - 18,7% dibandingkan estimasi laba bersih tahun ini sebesar Rp 160 miliar.
Menurutu Budi, peningkatan tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung dan bertambahnya wahana di Taman Impian Jaya Ancol. Sebelumnya diberitakan, perseroan yang merupakan pengembang dan pengelola kawasan terpadu Taman Impian Ancol ini dengan mengembangkan tiga wahana baru, yakniFantastique Multimedia Show, wahana Kalila yang berada di dunia fantasi alias dufan, serta wahanaunderwater di Gelanggang Samudra.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, Ancol mampu mencatatkan pendapatan sebesar Rp 650,2 miliar. Jumlah tersebut meningkat 4,1% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 624,2 miliar. Sedangkan untuk laba bersih, perseroan mampu mencatatkan kenaikan 12,2% dari Rp 90,4 miliar menjadi Rp 101,5 miliar. (iin)
Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi mengatakan dana tersebut akan berasal dari kas internal dan eksternal. Dengan porsi, lanjut dia, 70% dengan kas internal. Sedangkan eksternal dengan porsi 30%. “Untuk eksternal tersebut, perseroan masih mengkaji apakah dengan pinjaman atau obligasi,” ungkap Budi kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (10/11).
Budi menjelaskan, apartement tersebut akan mulai di pasarkan pada tahun depan dan ditargetkan akan selesai pada pertengahan 2013. Ia menjelaskan, dalam penggarapan apartemen tersebut perseroan tidak akan menggandeng mitra strategis. Sebab, lanjut dia, perseroan mampu menggarapa proyek tersebut sendiri.
Pada kesempatan tersebut, Budi menyebutkan perseroan membidik pendapatan sebesar Rp 1,3-1,4 triliun pada 2012. Jumlah tersebut meningkat 8,3%-16% dibandingkan estimasi pendapatan tahun ini sebesar Rp 1,2 triliun. Sedangkan target laba bersih, Budi mengatakan perseroan optimistis mampu mencatatkan sebesar Rp 180-190 miliar. Jumlah tersebut meningkat sebesar 12,5% - 18,7% dibandingkan estimasi laba bersih tahun ini sebesar Rp 160 miliar.
Menurutu Budi, peningkatan tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung dan bertambahnya wahana di Taman Impian Jaya Ancol. Sebelumnya diberitakan, perseroan yang merupakan pengembang dan pengelola kawasan terpadu Taman Impian Ancol ini dengan mengembangkan tiga wahana baru, yakniFantastique Multimedia Show, wahana Kalila yang berada di dunia fantasi alias dufan, serta wahanaunderwater di Gelanggang Samudra.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, Ancol mampu mencatatkan pendapatan sebesar Rp 650,2 miliar. Jumlah tersebut meningkat 4,1% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 624,2 miliar. Sedangkan untuk laba bersih, perseroan mampu mencatatkan kenaikan 12,2% dari Rp 90,4 miliar menjadi Rp 101,5 miliar. (iin)
Kamis, 10 November 2011
Astra Agro Angggarkan Capex Rp 1,5 T
JAKARTA – PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1,4-1,5 triliun pada 2012. Sumber pendanaan capex tersebut akan berasal dari kas internal perseroan.
Head PR Astra Agro Lestari Tofan Mahdi enggan untuk menjelaskan dengan rinci alokasi dari capex tersebut. “Capex tersebut akan digunakan untuk perawatan tanaman,” ungkap Tofan kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (9/11).
Pada kesempatan yang sama, Tofan menjelaskan perseroan telah menyerap capex tahun ini sebesar Rp 1,4 triliun. Dengan demikian, penyerapan capex perseroan telah hamper mencapai 90%. Mengingat sebelumnya Tofan pernah mengatakan capex tahun ini sebesar Rp 1,5 triliun. Tapi, ia juga enggan untuk menjelaskan secara rinci penggunaan capex tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, Astra Agro berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 7,9 triliun. Jumlah tersebut meningkat 38,6% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 5,7 triliun. Pada kesempatan yang sama, perseroan mampu mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 51,4% dari Rp 1,2 triliun menjadi Rp 1,8 triliun.
Sebelumnya, Astra Agro berencana mengakuisisi 20 ribu hektare (ha) lahan di daerah Papua. Rencananya, lahan tersebut dipergunakan untuk diversifikasi bisnis membangun pabrik gula, sekaligus untuk menanam tanaman tebu. Sebab, perseroan telah meneliti bahwa papua merupakan wilayah yang cocok ditanami tanaman tebu baik secara unsur geografis maupun kimia. (iin)
Head PR Astra Agro Lestari Tofan Mahdi enggan untuk menjelaskan dengan rinci alokasi dari capex tersebut. “Capex tersebut akan digunakan untuk perawatan tanaman,” ungkap Tofan kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (9/11).
Pada kesempatan yang sama, Tofan menjelaskan perseroan telah menyerap capex tahun ini sebesar Rp 1,4 triliun. Dengan demikian, penyerapan capex perseroan telah hamper mencapai 90%. Mengingat sebelumnya Tofan pernah mengatakan capex tahun ini sebesar Rp 1,5 triliun. Tapi, ia juga enggan untuk menjelaskan secara rinci penggunaan capex tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, Astra Agro berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 7,9 triliun. Jumlah tersebut meningkat 38,6% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 5,7 triliun. Pada kesempatan yang sama, perseroan mampu mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 51,4% dari Rp 1,2 triliun menjadi Rp 1,8 triliun.
Sebelumnya, Astra Agro berencana mengakuisisi 20 ribu hektare (ha) lahan di daerah Papua. Rencananya, lahan tersebut dipergunakan untuk diversifikasi bisnis membangun pabrik gula, sekaligus untuk menanam tanaman tebu. Sebab, perseroan telah meneliti bahwa papua merupakan wilayah yang cocok ditanami tanaman tebu baik secara unsur geografis maupun kimia. (iin)
2012, BBJ Luncurkan Lima Produk
JAKARTA - Jakarta Futures Exchange (JFX) akan meluncurkan lima produk multilateral pada 2012. Produk tersebut diluncurkan untuk meningkatkan transaksi multilateral sebesar 400% dari 70 ribu lot menjadi 350 ribu lot pada tahun depan. Rencananya, kelima produk tersebut meliputi komoditas timah, batubara, karet, biji mete, dan kopi.
Direktur JFX Roy Sembel menjelaskan peluncuran lima produk tersebut diharapkan akan mampu mendongkrak kontribusi multilateral menjadi diatas 5% dari total transasksi. Hal tersebut mengingat selama ini transaksi multilateral hanya berada Jumlah tersebut meningkat dibandingkan pada saat ini yang masih berada di sekitar 3%.
Roy menambahkan saat ini pihaknya tengah mempersiapkan langkah tersebut. Ia memperkirakan komoditas batubara akan diperdagangkan terlebih dahulu dibandingkan produk lainnua. Sebab, lanjut dia, produk tersebut telah dirintis sejak tiga tahun lalu. Setelah itu, lanjut dia, pihaknya akan meluncurkan komoditas timah.
“Kami telah mendapatkan dukungan dari pemerintah Bangka Belitung, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), serta pelaku industri mereka,” ungkap Roy di Jakarta, Kamis (10/11).
Direktur JFX Bihar Sakti Wibowo menjelaskan dalam peluncuran komoditas pertambangan pihaknya telah melakukan pembiaraan secara intens dengan pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, serta asosiasi yang menggarapa komoditas tersebut. Namun, lanjut dia, pada tahap awal transaksi komoditas batubara akan dilakukan dengan domestic market obligation (DMO).
“Namun, nantinya kami akan tetap memperdagangkan kontraknya juga. Mengingat keduanya adalah satu paket,” lanjut Bihar.
Pada kesempatan yang sama, Roy menjelaskan pihaknya akan meluncurkan komoditas kakao pada 15 Desember 2011. Hal tersebut dilakukan setelah pada sempat tertunda beberapa kali. Ia menjelaskan penundaan tersebut terjadi karena pelaku pasar tersebut masih belum siap melakukan perdagangan tersebut. “Padahal, kami sudah sangat siap,” tandas dia.
2012, JA Wattie Bidik Akuisisi Lahan 8 Ribu Hektar
JAKARTA - PT JA Wattie Tbk (JAWA) bidik akuisisi lahan sebanyak 8 ribu hektar (ha) pada 2012. Rencananya, akuisisi lahan tersebut diaokasikan untuk lahan karet sebanyak 4.500 ha dan kelapa sawit sebesar 3.500 ha. Hal tersebut seiring dengan target perseroan untuk menambah lahan mereka menjadi 200 ribu ha pada lima tahun mendatang. Sedangkan akhir tahun mendatang, perseroan diperkirakan lahan yang dimiliki mencapai 68 ribu ha.
Direktur Keuangan JA Wattie Bambang S Ibrahim menjelaskan akuisisi lahan akan dilakukan di wilayah Kalimantan. Namun, lanjut dia, perseroan tidak menutup kemungkinan untuk mengakuisisi lahan yang ada di Sulawesi. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi perseroan akan terbatasnya lahan perkebunan di Kalimantan. Ekspansi lahan tersebut dilakukan seiring dengan makin meningkatkan permintaan karet dan CPO.
Hal tersebut, tambang Bambang, ditopang dengan harga kedua komotiti tersebut diprtediksi akan berada di kisaran premium pada tahun mendatang. Hal tersebut dapat dilihat pada pencaopaian sarga rata-rata jual karet dan CPO pada tahun ini. Untuk Karet, lanjut dia, naik menjadi Rp42.800 per kg dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp 28.190 per kg. Demikian halnya dengan CPO yang naik menjadi Rp7.650 per kg dari sebelumnya Rp 5.950 per kg.
Namun, Bambang enggan untuk menyebutkan dana yang disiapkan untuk akuisisi tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan masih menghitung kebutuhan dana tersebut. “Semuanya tergantung pada lokasi akuisisi lahan. Namun, akuisisi lahan diharapkan dilakukan dengan harga pada kisaran sama pada tahun ini, yaitu Rp 4-8 juta,” ungkap Bambang kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, JA Wattie mampu mencatatkan laba bersih sebanyak Rp 152,44 miliar. Jumlah tersebut meningkan 176% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebanyak Rp 55,27 miliar. Sedangkan penjualan, perseroan mampu mencatatkan kenaiakn sebanyak 68% dari Rp 298,37 miliar menjadi Rp 502,25 miliar.
Sebelumnya, Bambang merevisi target laba bersih tahun ini menjadi di atas Rp 200 miliar, dari sebelumnya Rp 190 miliar. Jumlah itu naik 250% dibandingkan realisasi 2010 Rp 80 miliar.ia menjelaskan, revisi tersebut dilakukan seiring meningkatnya jumlah produksi karet dan minyak sawit mentah (CPO). (iin)
Direktur Keuangan JA Wattie Bambang S Ibrahim menjelaskan akuisisi lahan akan dilakukan di wilayah Kalimantan. Namun, lanjut dia, perseroan tidak menutup kemungkinan untuk mengakuisisi lahan yang ada di Sulawesi. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi perseroan akan terbatasnya lahan perkebunan di Kalimantan. Ekspansi lahan tersebut dilakukan seiring dengan makin meningkatkan permintaan karet dan CPO.
Hal tersebut, tambang Bambang, ditopang dengan harga kedua komotiti tersebut diprtediksi akan berada di kisaran premium pada tahun mendatang. Hal tersebut dapat dilihat pada pencaopaian sarga rata-rata jual karet dan CPO pada tahun ini. Untuk Karet, lanjut dia, naik menjadi Rp42.800 per kg dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp 28.190 per kg. Demikian halnya dengan CPO yang naik menjadi Rp7.650 per kg dari sebelumnya Rp 5.950 per kg.
Namun, Bambang enggan untuk menyebutkan dana yang disiapkan untuk akuisisi tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan masih menghitung kebutuhan dana tersebut. “Semuanya tergantung pada lokasi akuisisi lahan. Namun, akuisisi lahan diharapkan dilakukan dengan harga pada kisaran sama pada tahun ini, yaitu Rp 4-8 juta,” ungkap Bambang kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, JA Wattie mampu mencatatkan laba bersih sebanyak Rp 152,44 miliar. Jumlah tersebut meningkan 176% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebanyak Rp 55,27 miliar. Sedangkan penjualan, perseroan mampu mencatatkan kenaiakn sebanyak 68% dari Rp 298,37 miliar menjadi Rp 502,25 miliar.
Sebelumnya, Bambang merevisi target laba bersih tahun ini menjadi di atas Rp 200 miliar, dari sebelumnya Rp 190 miliar. Jumlah itu naik 250% dibandingkan realisasi 2010 Rp 80 miliar.ia menjelaskan, revisi tersebut dilakukan seiring meningkatnya jumlah produksi karet dan minyak sawit mentah (CPO). (iin)
Kalbe Bidik Ekspansi Tiongkok dan India
JAKARTA – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) berencana untuk melakukan ekspansi di Tiongkok dan India. Ekpansi tersebut menjadi rencana jangka panjang perseroan. Sebab, ekspansi tersebut baru dilakukan setelah perseroan berhasil menguatkan pasar di wilayah Asia Tenggara.
Direktur Keuangan Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan ekspansi tersebut dilakukan diatas waktu lima tahun. Sebab, lanjut dia, selam lima tahun mendatang perseroan akan focus untuk menggarappeluangyang ada di wilayah Asia Tenggara. “Dengan demikian, sapai saat ini kami belum mengetahui detail brand yang disiapkan dalam ekspansi tersebut,” ungkap dia kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Sebelumnya, Bidjongtius menyatakan untuk ekspansi ke Asia Tenggara perseroan menyiapkan dana hingga Rp 500 miliar. Ia memperkirakan setiap Negara akan menghabiskan dana sekitar Rp 50-100 miliar. Selain ekspansi produk, perseroan juga berencana membangun pabrik, akuisisi, maupun membentuk perusahaan patungan (joint venture) dengan perusahaan setempat
Hingga kuartal III 2011, Kalbe Farma mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,07 triliun pada kuartal III 2011. Jumlah tersebut meningkat 18% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 902 miliar. Kenaikan laba tersebut ditopang oleh efesiensi operasional yang dilakukan perseroan hingga mampu menghemat beban usaha hingga mencapai Rp 46 miliar.
Sedangkan kuartal III penjualan perseroan mencapai Rp 7,7 triliun. Jumlah tersebut tumbuh meningkat 6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 7,2 triliun.
Vidjongtius memperkirakan kuartal IV pertumbuhan laba dan penjualan akan lebih baik ketimbang kuartal sebelumnya. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan siklus yang selalu terjadi setiap tahunnya. Untuk itu, ia oun optimistis apabila perseroan akan mampu mencapai target penjualan sebanyak Rp 11 triliun atau tumbuh 10% dibandingkan 2010.
“Begitu juga dengan target laba bersih kami yang akan meningkat sebanyak 17-18%,” tambah dia.
Menurut Vidjongtius, tahun depan perseroan ditargetkan akan mampu mencetakan penjualan sebesar 15-18%. Sebab, lanjut dia, perseroan menilai pertumbuhan berbagai produk perseoan sangat besar di berbagai daerah akan sangat tinggi. “Begitu juga dengan bisnis distribusi kami,” papar Vidjongtius. (iin)
Direktur Keuangan Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan ekspansi tersebut dilakukan diatas waktu lima tahun. Sebab, lanjut dia, selam lima tahun mendatang perseroan akan focus untuk menggarappeluangyang ada di wilayah Asia Tenggara. “Dengan demikian, sapai saat ini kami belum mengetahui detail brand yang disiapkan dalam ekspansi tersebut,” ungkap dia kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.
Sebelumnya, Bidjongtius menyatakan untuk ekspansi ke Asia Tenggara perseroan menyiapkan dana hingga Rp 500 miliar. Ia memperkirakan setiap Negara akan menghabiskan dana sekitar Rp 50-100 miliar. Selain ekspansi produk, perseroan juga berencana membangun pabrik, akuisisi, maupun membentuk perusahaan patungan (joint venture) dengan perusahaan setempat
Hingga kuartal III 2011, Kalbe Farma mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,07 triliun pada kuartal III 2011. Jumlah tersebut meningkat 18% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 902 miliar. Kenaikan laba tersebut ditopang oleh efesiensi operasional yang dilakukan perseroan hingga mampu menghemat beban usaha hingga mencapai Rp 46 miliar.
Sedangkan kuartal III penjualan perseroan mencapai Rp 7,7 triliun. Jumlah tersebut tumbuh meningkat 6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 7,2 triliun.
Vidjongtius memperkirakan kuartal IV pertumbuhan laba dan penjualan akan lebih baik ketimbang kuartal sebelumnya. Hal tersebut, lanjut dia, berdasarkan siklus yang selalu terjadi setiap tahunnya. Untuk itu, ia oun optimistis apabila perseroan akan mampu mencapai target penjualan sebanyak Rp 11 triliun atau tumbuh 10% dibandingkan 2010.
“Begitu juga dengan target laba bersih kami yang akan meningkat sebanyak 17-18%,” tambah dia.
Menurut Vidjongtius, tahun depan perseroan ditargetkan akan mampu mencetakan penjualan sebesar 15-18%. Sebab, lanjut dia, perseroan menilai pertumbuhan berbagai produk perseoan sangat besar di berbagai daerah akan sangat tinggi. “Begitu juga dengan bisnis distribusi kami,” papar Vidjongtius. (iin)
Rabu, 09 November 2011
Noble Beli Saham Atlas US$ 45 Juta
JAKARTA - Noble Resources Pte Ltd, anak usaha Noble Group Ltd, perusahaan perdagangan komoditas terbesar di Asia, membeli saham PT Atlas Resources Tbk (ARII) senilai US$ 45 juta. Dengan pembelian tersebut, Noble menguasai saham Atlas sebanyak 10,1%.
Managing Director Country Head UBS Indonesia, selaku penjamin emisi(underwriter) IPO Atlas, Rajiv Louis menjelaskan pembelian tersebut dilakukan melalui mekanisme konversi utang dengan saham senilai US$ 30 juta. Opsi itu terkait pemberian pinjaman oleh Noble kepada Abdi Andre, pendiri Atlas Resources, pada 27 April 2011.
Dengan Konversi tersebut, Rajiv menjelaskan Noble telah menguasai 7,5% saham perseroan. Ditambah lagi, lanjut dia, melalui penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) saham senilai US$ 15 juta. "Dana tersebut setara dengan 2,6% saham. Alhasil, Noble menguasai 10,1% saham Atlas," ungkap Rajiv di sela IPO Atlas di Jakarta, Selasa (8/11).
Direktur Keuangan Atlas Resources Dono Boestami menambahkan perseroan juga akan merestrukturisasi kontrak pasokan batubara kepada Noble. Posisi Noble bakal berubah dari pembeli menjadi agen pemasaran batubara perseroan. Untuk itu. Atlas akan membayar kompensasi sebesar US$ 25 juta atau setara Rp 215 miliar (kurs Rp 8.600). Dana tersebut, lanjut dia, akan berasal dari hasil IPO yang mencapai Rp 975 miliar.
Dono menambahkan dana hasil IPO juga akan dialokasikan untuk akuisisi wilayah IUP tambahan dan peningkatan kepemilikan pada anak usaha yang berhubungan dengan. pertambangan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan alokasi dana tersebut. Namun, sebelumnya perseroan berencana mengalokasikan aksi korporasi tersebut sebanyak 27,5%. Ia hanya mengatakan dalam waktu dekat perseroan berencana untuk meningkatkan kepemilikan saham di anak usaha.
"Jika sebelumnya kami memiliki saham hanya sebanyak 20%, diharapakan akan menjadi 50%," jelas Dono tanpa menyebutkan nama anak usaha tersebut.
Berdasarkan prospektus perseroan, Atlas memiliki 20 anak usaha. Namun, hanya dua anak usaha yang kepemilikan Atlas hanya sebesar 20%, yaitu PT Bara Karya Agung dan PT Karya Borneo Agung. Kedua tambang tersebut dimasukan penyertaan perseroan pada 2011 dan saat ini belum beroperasi komersial.
Selain itu, lanjut Dono, perseroan mengalokasikan dana IPO untuk belanja modal kerja, belanja modal infrastruktur, dan pengembangan fasilitas Hub Muba di Sumatera Selatan. Di fasilitas tersebut, setidaknya perseroan memiliki lima tambang batubara termal. Kelimanya adalah PT Gorby Putra Utama, PT Gorby Energy, PT
Gorby Global Energi, PT Cipta Wanadana, PT Banyan Koalindo Lestari.
"Dengan alokasi tersebut, fasilitas infrastruktur akan mendukung peningkatan produksi perseroan. Tahun depan, kami perkirakan akan mampu memproduksi batubara sebanyak 4,5 juta ton. Padahal tahun ini hanya sebesar 1,5 juta ton," papar Dono.
Menurut Rajiv, investasi fasilitas infrastruktur tersebut akan membuat biaya produksi di Sumatera menurun signifikan. "Apabila saat ini sebesar US$ 31-32 per ton, nantinya akan turun menjadi US$ 20 per ton," tandas dia. (Iin)
Managing Director Country Head UBS Indonesia, selaku penjamin emisi(underwriter) IPO Atlas, Rajiv Louis menjelaskan pembelian tersebut dilakukan melalui mekanisme konversi utang dengan saham senilai US$ 30 juta. Opsi itu terkait pemberian pinjaman oleh Noble kepada Abdi Andre, pendiri Atlas Resources, pada 27 April 2011.
Dengan Konversi tersebut, Rajiv menjelaskan Noble telah menguasai 7,5% saham perseroan. Ditambah lagi, lanjut dia, melalui penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) saham senilai US$ 15 juta. "Dana tersebut setara dengan 2,6% saham. Alhasil, Noble menguasai 10,1% saham Atlas," ungkap Rajiv di sela IPO Atlas di Jakarta, Selasa (8/11).
Direktur Keuangan Atlas Resources Dono Boestami menambahkan perseroan juga akan merestrukturisasi kontrak pasokan batubara kepada Noble. Posisi Noble bakal berubah dari pembeli menjadi agen pemasaran batubara perseroan. Untuk itu. Atlas akan membayar kompensasi sebesar US$ 25 juta atau setara Rp 215 miliar (kurs Rp 8.600). Dana tersebut, lanjut dia, akan berasal dari hasil IPO yang mencapai Rp 975 miliar.
Dono menambahkan dana hasil IPO juga akan dialokasikan untuk akuisisi wilayah IUP tambahan dan peningkatan kepemilikan pada anak usaha yang berhubungan dengan. pertambangan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan alokasi dana tersebut. Namun, sebelumnya perseroan berencana mengalokasikan aksi korporasi tersebut sebanyak 27,5%. Ia hanya mengatakan dalam waktu dekat perseroan berencana untuk meningkatkan kepemilikan saham di anak usaha.
"Jika sebelumnya kami memiliki saham hanya sebanyak 20%, diharapakan akan menjadi 50%," jelas Dono tanpa menyebutkan nama anak usaha tersebut.
Berdasarkan prospektus perseroan, Atlas memiliki 20 anak usaha. Namun, hanya dua anak usaha yang kepemilikan Atlas hanya sebesar 20%, yaitu PT Bara Karya Agung dan PT Karya Borneo Agung. Kedua tambang tersebut dimasukan penyertaan perseroan pada 2011 dan saat ini belum beroperasi komersial.
Selain itu, lanjut Dono, perseroan mengalokasikan dana IPO untuk belanja modal kerja, belanja modal infrastruktur, dan pengembangan fasilitas Hub Muba di Sumatera Selatan. Di fasilitas tersebut, setidaknya perseroan memiliki lima tambang batubara termal. Kelimanya adalah PT Gorby Putra Utama, PT Gorby Energy, PT
Gorby Global Energi, PT Cipta Wanadana, PT Banyan Koalindo Lestari.
"Dengan alokasi tersebut, fasilitas infrastruktur akan mendukung peningkatan produksi perseroan. Tahun depan, kami perkirakan akan mampu memproduksi batubara sebanyak 4,5 juta ton. Padahal tahun ini hanya sebesar 1,5 juta ton," papar Dono.
Menurut Rajiv, investasi fasilitas infrastruktur tersebut akan membuat biaya produksi di Sumatera menurun signifikan. "Apabila saat ini sebesar US$ 31-32 per ton, nantinya akan turun menjadi US$ 20 per ton," tandas dia. (Iin)
Langganan:
Komentar (Atom)