Senin, 28 November 2011

SUN Berpotensi Rebound

Jakarta - Harga Surat Utang Negara (SUN) berpotensi rebound pada pekan ini. Hal tersebut menyusul adanya sentimen positif dari data-data penting yang diprediksi menunjukan perbaikan  pada pekan ini, baik dari Amerika Serikat (AS) maupun domestik. Pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pada semua tenor berpotensi turun sebanyak 10-30 basis poin (bp).  

Potensi tersebut diperkuat dengan sudah terlalu dalamnya penurunan harga SUN selama beberapa minggu terakhir. Namun, investor masih harus tetap waspada terhadap perkembangan krisis Eropa yang telah menyebar ke wilayah tengah daratan biru tersebut. Alhasil obligasi dikawasan Eropa mendapatkan tekanan dalam beberapa minggu terkahir. Tekanan tersebut bahkan membuat lelang obligasi negara yang dilakukan Jerman tidak mencapai target.  

Demikian rangkuman ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT Mega Capital Indonesia Ariawan kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.  

Ariawan mengatakan data ekonomi AS yang akan dikeluarkan diprediksi akan menunjukan  perbaikan, diantaranya perumahan dan costumer. Untuk kondisi domestik, ia memperkirakan angka inflasi November yang diperkirakan terkendali dan di kisaran 4-4,5% akan menjadi triger positif pekan ini. Hal tersebut, lanjut dia, posisi rupiah yang stabil belakangan ini. Menurutnya, sentimen tersebut akan menjadi katalis positif bagi surat utang Indonesia yang selama beberapa pekan terakhir sepi sentimen positif.  

Disaat yang bersamaan, lanjut Ariawan,   Investor juga telah jenuh dengan kondisi Eropa yang tidak menentu dan volatilitas yang semakin tinggi. Untuk itu, ia pun menilai pekan ini akan obligasi berpotensi rebound. "Namun, pembalikan arah tersebut belum akan menyentuh level seperti dua minggu lalu. Kemungkinan yield akan turun sekitar 15-30 bp untuk tenor panjang. Sedangkan tenor menengah akan bergerak turun sebesar 10-20 bp," ungkap Ariawan.  

Mencermati kondisi tersebut, Ariawan merekomendasikan investor untuk mengakumulasi obligasi pada pekan ini. Hal tersebut dilakukan agar akumulasi tidak terjadi pada saat harga telah mengalami kenaikan sehingga gain yang didapatkan menjadi lebih baik. "Jangan sampai investor masuk ketika harga sudah naik," tegas Ariawan. 

Krisis Melebar

Sementara itu, Juniman menperkirakan pekan ini harga SUN masih dalam tekanan. Menurutnya, krisis Eropa yang telah melebar ke wilayah tengah dan bahkan berimbas pada obligasi corporate. Hal tersebut diperparah dengan lelang surat utang Jerman yang tidak direpon oleh investor. "Akibatnya pasar obligasi dunia pun terguncang, tak terkecuali kawasan Asia," ujar Juniman.  

Kondisi tersebut, lanjut Juniman, memaksa investor asing untuk merealisasikan gain mereka di pasar Asia. Menurutnya, hal tersebut dilakukan investor asing sebagai antisipasi kondisi masa depan Asi. Tidak hanya itu, tambah dia, hal tersebut untuk menutupi cut loss investasi mereka di Eropa. Melihat kondisi tersebut, Juniman memprediksi yield obligasi rupiah akan mengalami kenaikan sebanyak 10-20 bp. 

Disisi lain, tambah Juniman, pamor ipemotongan suku bunga BI sebanyak 50bp telah memudar pada pekan ini. Sebab, ekspektasi inflasi pada tahun depan akan lebih tinggi dibangingkan tahun ini, yaitu 5,5-6%. Hal tersebut seiring dengan adanya rencana kenaikan tariff listrik, pembatasan ppemium, dan kenaikan pangan. Untuk itu, ia pun merekomendasikan investor untuk lebih wait and see pekan ini. 

"Sebab, pekan mkendatang hingga akhir tahun akan ada potensi penurunan harga lagi. Mengingat saat ini kondisi pasar masih penuh resiko. Jika telah mendapatkan gain, ada baiknya investor untuk segara merealisasikan hal tersebut," tegas Juniman. (Iin) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar