JAKARTA - Noble Resources Pte Ltd, anak usaha Noble Group Ltd, perusahaan perdagangan komoditas terbesar di Asia, membeli saham PT Atlas Resources Tbk (ARII) senilai US$ 45 juta. Dengan pembelian tersebut, Noble menguasai saham Atlas sebanyak 10,1%.
Managing Director Country Head UBS Indonesia, selaku penjamin emisi(underwriter) IPO Atlas, Rajiv Louis menjelaskan pembelian tersebut dilakukan melalui mekanisme konversi utang dengan saham senilai US$ 30 juta. Opsi itu terkait pemberian pinjaman oleh Noble kepada Abdi Andre, pendiri Atlas Resources, pada 27 April 2011.
Dengan Konversi tersebut, Rajiv menjelaskan Noble telah menguasai 7,5% saham perseroan. Ditambah lagi, lanjut dia, melalui penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) saham senilai US$ 15 juta. "Dana tersebut setara dengan 2,6% saham. Alhasil, Noble menguasai 10,1% saham Atlas," ungkap Rajiv di sela IPO Atlas di Jakarta, Selasa (8/11).
Direktur Keuangan Atlas Resources Dono Boestami menambahkan perseroan juga akan merestrukturisasi kontrak pasokan batubara kepada Noble. Posisi Noble bakal berubah dari pembeli menjadi agen pemasaran batubara perseroan. Untuk itu. Atlas akan membayar kompensasi sebesar US$ 25 juta atau setara Rp 215 miliar (kurs Rp 8.600). Dana tersebut, lanjut dia, akan berasal dari hasil IPO yang mencapai Rp 975 miliar.
Dono menambahkan dana hasil IPO juga akan dialokasikan untuk akuisisi wilayah IUP tambahan dan peningkatan kepemilikan pada anak usaha yang berhubungan dengan. pertambangan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan alokasi dana tersebut. Namun, sebelumnya perseroan berencana mengalokasikan aksi korporasi tersebut sebanyak 27,5%. Ia hanya mengatakan dalam waktu dekat perseroan berencana untuk meningkatkan kepemilikan saham di anak usaha.
"Jika sebelumnya kami memiliki saham hanya sebanyak 20%, diharapakan akan menjadi 50%," jelas Dono tanpa menyebutkan nama anak usaha tersebut.
Berdasarkan prospektus perseroan, Atlas memiliki 20 anak usaha. Namun, hanya dua anak usaha yang kepemilikan Atlas hanya sebesar 20%, yaitu PT Bara Karya Agung dan PT Karya Borneo Agung. Kedua tambang tersebut dimasukan penyertaan perseroan pada 2011 dan saat ini belum beroperasi komersial.
Selain itu, lanjut Dono, perseroan mengalokasikan dana IPO untuk belanja modal kerja, belanja modal infrastruktur, dan pengembangan fasilitas Hub Muba di Sumatera Selatan. Di fasilitas tersebut, setidaknya perseroan memiliki lima tambang batubara termal. Kelimanya adalah PT Gorby Putra Utama, PT Gorby Energy, PT
Gorby Global Energi, PT Cipta Wanadana, PT Banyan Koalindo Lestari.
"Dengan alokasi tersebut, fasilitas infrastruktur akan mendukung peningkatan produksi perseroan. Tahun depan, kami perkirakan akan mampu memproduksi batubara sebanyak 4,5 juta ton. Padahal tahun ini hanya sebesar 1,5 juta ton," papar Dono.
Menurut Rajiv, investasi fasilitas infrastruktur tersebut akan membuat biaya produksi di Sumatera menurun signifikan. "Apabila saat ini sebesar US$ 31-32 per ton, nantinya akan turun menjadi US$ 20 per ton," tandas dia. (Iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar