JAKARTA – PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) siap menggarap sector perkebunan karet dengan investasi sebesar Rp 3 triliun. Dalam menggarap perkebunan tersebut, perseroan telah membentuk anak usaha PT Multistrada Agro Internasional. Hal tersebut dilakukan untuk mengamankan pasokan bahan baku kepada perseroan.
“Untuk tahap pertama, kami akan menggelontorkan dana sebanyak Rp 400 miliar. Dananya akan berasal dari penawaran umum terbatas (rights issue),” ungkap President Director Multistrada Arah Sarana Pieter Tanuri kepada Investor Daily di sela penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) saham PT Erajaya Swasembada Tbk di Jakarta, Kamis (17/11).
Piter mengatakan perseroan berniat untuk menggandeng mitra strategis dalam menggarap bisnis sektor tersebut. Sebab, lanjut dia, nilai investasi tersebut sangatlah besar. Namun, ia enggan untuk menyebutkan asal dan nama dari mitra strategis tersebut. Ia hanya mengatakan anak usaha tersebut baru akan memberikan kontribusi pendapatan perseroan dalam 4-5 tahun mendatang.
Multistrada menggelar penawaran umum terbatas (rights issue) saham sebesar Rp1,53 triliun. Dalam aksi korporasi tersebut, perseroan menerbitkan 3,06 miliar saham atau 33,33% dengan harga eksekusi Rp 500. Dalam prospectus yang diterbitkan perseroan, 26% dana hasil rights issue atau sekitar Rp 397,92 miliar akan digunakan untuk mengembangkan usaha hutan tanaman industri, termasuk karet.
Sedangkan 44% dana hasil rights issue atau senilai Rp 673,41 miliar dialokasikan untuk pembelian mesin dan peralatan produksi ban mobil dan motor. Sementara itu, sebanyak 30% atau Rp 459,14 miliar akan digunakan untuk modal kerja perusahaan.
Pembeli siaga dalam aksi korporasi tersebut adalah PT Equator Capital Partners, PT Central Sole Agency, dan PT Buana Capital. Equator Capital Partners merupakan perusahaan yang dulunya bernama PT Mahanusa Capital yang baru dibeli Northstar Pacific. Perusahaan yang dipimpin oleh Patric Walujo tersebut memiliki 20% saham di Multistrada setelah membeli dengan harga Rp 691,56 miliar pada akhir Oktober 2011.
Northstar membeli saham tersebut melalui Lunar Crescent International Inc, entitas yang sepenuhnya dimiliki oleh Northstar Equity Partners III Limited (Cayman Islands) dari pasar. Saat ini, kepemilikan saham di perseroan terdiri dari Northstar 20%, PVP XVII Pte Ltd 27,72%, PT Central Sole Agency 11%, PT Indokemika Jayatama 3,81%, serta masyarakat sebesar 30%.
Investor relation Multistrada Arah Sarana Even Goh mengatakan untuk melancarkan rencana rights issue, perusahaan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 5 Desember mendatang. “Sedangkan untuk porsi masing-masing dari pembeli siaga akan secara merata untuk menyerap saham yang tidak dieksekusi oleh pemilik saham lama,” jelas Even.
Managing Research PT Indosurya Asset Management Reza Priyambada pernah mengatakan perseroan harus memperhatikan sumber pendanaan daalm ekspansi tersebut. Sebab, lanjut dia, perseroan harus bisa menurunkan biaya produksi demi mengimbangi kenaikan harga bahan baku. Hal ini terlihat dengan lebih tingginya pertumbuhan beban penjualan dan kewajiban dibandingkan pendapatan pada 2010. Jika penjualan 2010 18%, sedangkan beban penjualan naiknya 19% dan kewajiban 30,94%.
“Hal ini berati kewajiban naik melebihi kenaikan pendapatan. Untuk itu, langkah perseroan untuk mengakuisisi lahan karet sangat tepat. Sebab, langkah tersebut dapat nmengefisienkan dan menekan beban pokok produksi perseroan,” tandas Reza. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar