Selasa, 01 November 2011

Laba Astra Tembus Rp 13,4 T

JAKARTA – PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan laba sebesar Rp 13,44 triliun hingga kuartal III 2011. Jumlah tersebut meningkat 29,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 10,36 triliun. Hal tersebut seiring dengan naiknya pendapatan bersih perseroan sebesar 26,6% dari Rp 94,36 triliun menjadi Rp 19,53 triliun.

“Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2011, kinerja Grup Astra menunjukkan performa yang kuat didukung oleh pertumbuhan permintaan domestik dan kenaikan harga komoditas. Kami berharap kondisi ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2011,” ungkap Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto dalam siaran pers di Jakarta, Senin (31/10).

Prijono menjelaskan kontribusi laba bersih segmen otomotif tumbuh sebesar 17% menjadi Rp 6,2 triliun. Sementara itu, bagian atas hasil bersih perusahaan asosiasi dan jointly controlled entities di bidang otomotif mencapai Rp 3,7 triliun, meningkat 16% dari periode yang sama tahun 2010. Penjualan mobil Grup Astra mengalami kenaikan 16% menjadi 362.000 unit, mewakili pangsa pasar sebesar 55% dibandingkan 56% pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, lanjut Prijono, penjualan PT Astra Honda Motor (AHM) tumbuh 24% menjadi 3,2 juta unit dan berhasil meningkatkan pangsa pasar dari 47% menjadi 52%. Hal terjadi disebabkan sepanjang kuartal ketiga 2011 Astra meluncurkan model baru baik mobil maupun motor. Diantaranya Toyota Grand New Kijang Innova (mobil) dan New Honda Blade (motor). Sedangkan PT Astra Otoparts Tbk  mencatat laba bersih sebesar Rp 754 miliar mengalami penurunan 9% karena peningkatan beban pokok pendapatan dan biaya operasional.

Sedangkan untuk jasa keuangan, Prijono mengatakan peningkatan 32% menjadi Rp 2,6 triliun. Peningkatan kontribusi dari segmen tersebut tercermin dari pertumbuhan pembiayaan, rendahnya biaya pinjaman bank asing dan tingkat kredit konsumen yang stabil. Secara keseluruhan nilai pembiayaan dari PT Federal International Finance (FIF), PT Astra Sedaya Finance (ASF) dan PT Toyota Astra Financial Services (TAFS) selama sembilan bulan pertama tahun 2011 tumbuh sebesar 14% menjadi Rp 37,4 triliun termasuk bagian yang dibiayai pihak bank dalam pembiayaan bersama without recourse.

Sementara itu, total pembiayaan alat berat melalui PT Surya Artha Nusantara Finance dan PT Komatsu Astra Finance naik 46% menjadi Rp 5,2 triliun. Pembiayaan alat berat tidak menggunakan fasilitas dari pembiayaan bersama. PT Asuransi Astra Buana, anak perusahaan yang bergerak di bidang asuransi, membukukan peningkatan laba seiring dengan meningkatnya premi ritel dan komersial. PT Bank Permata Tbk  membukukan laba bersih Rp 962 miliar. Jumlah tersebut naik 23% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

“Hal tersebut didukung oleh pertumbuhan pembiayaan sebesar 39% yang berhasil mengkompensasi rendahnya margin bunga bersih yang diperoleh,” papar Prijono. 

Untuk segmen alat Berat dan pertambangan, Prijono mengatakan berkontribusi sebesar  47% menjadi Rp 2,6 triliun. Hal tersebut seiring dengan keberhasilan PT United Tractors Tbk membukukan peningkatan laba bersih sebesar 47% menjadi Rp 4,3 triliun dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terlihat dari usaha penjualan alat berat Komatsu yang berhasil menjual 6.396 unit, naik 55% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Selain itu, UT melalui anak usaha PT Pamapersada Nusantara juga telah berhasil mencatatkan peningkatan produksi batubara 11% menjadi 63,3 juta ton.

Agribisnis 51%

Pada kesempatan yang sama, Prijono mengatakan kontribusi laba bersih dari segmen agribisnis meningkat 51% menjadi Rp 1,5 triliun. Hal tersebut berkat kinerja PT Astra Agro Lestari Tbk yang membukukan laba bersih Rp 1,9 triliun naik 51%. Seiring dengan kenaiakan harga rata-rata CPO seebsar 16% dan produksi minyak sawit sebanyak 20% menjadi 931 ribu ton.

Sedangkan untuk kontribusi infrastruktur dan logistic, Prijono menjelaskan laba bersih naik 77% menjadi Rp 484 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal tersebut disebabkan pemulihan atas penyisihan beban pajak penghasilan tahun sebelumnya. Selain itu, kontribusi laba bersih dari segmen teknologi informasi melalui PT Astra Graphia Tbk meningkat sebesar  25% menjadi Rp 71 miliar. Seiring dengan keberhasilan Astra Graphia membukukan laba bersih sebesar Rp 92 miliar, naik 25% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Selain itu, Astra juga memiliki aliran kas operasional yang sangat kuat. Secara keseluruhan kas bersih Astra, di luar bisnis jasa keuangan anak perusahaan, mencapai Rp 1,7 triliun dibandingkan dengan pinjaman bersih sebesar Rp 3,5 triliun pada akhir tahun 2010. Anak perusahaan pada bidang Jasa Keuangan, membukukan pinjaman bersih Rp 30,1 triliun dibandingkan akhir tahun 2010 sejumlah Rp 21,1 triliun seiring dengan peningkatan pembiayaan.

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan laba bersih yang catatkan perseroan menunjukan di masa depan kinerja perseroan masih akan positif. Sebab, lanjut dia, angka tersebut lebih tinggi 6% dibandingkan dengan angka consensus yaitu sebesar Rp 12,7 triliun. Menurut dia, dengan kinerja tersebut menjadi alasan kuat bagi investor untuk mengakumulasi saham Astra. Sebab, lanjut dia, saham ASII dalam jangka pendek berpotensi menembus level Rp 74 -78 ribu. Sedangkan untuk 12 bulan mendatang, ia memperkirakan akan berada di kisaran Rp 75.400.

“Pemodal bisa masuk pada kirsanan support 63.500-67.500. Namun, hal tersebut sangat tergantung dengan seberapa kuat pasar saham Indonesia dalam menghadapip kondisi global saat ini,” tandas Satrio. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar