JAKARTA – PT Intiland Development Tbk (DILD) menyiapkan alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) diatas Rp 1 triliun pada 2012. Rencananya, dana tersebut dialokasikan utnuk berbagai proyek perseroan di empat segmen residential township & estate, high rise & mixed-use development, hospitality, dan industrial estate.
“Perkiraan pasti capex akan lebih dari Rp 1 triliun. Tapi angka final masih belum final. Sebab, banyak proyek yang akan mulai pada tahun depan,” ungkap Sekretaris Perusahaan Intiland Development Theresia Rustandi kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (7/11).
Namun, Theresia masih enggan untuk menyebutkan sumber pendanaan dari capex tersebut. Ia hanya menjelaskan perseroan memutuskan untuk segera meluncurkan sejumlah proyek baru seiring tren pertumbuhan industri properti yang diperkirakan bakal bertumbuh pesat pada 2012.
Sementara itu, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono mengatakan perseroan mengeluarkan dua proyek baru pada segmen residential township & estate development, yaitu Graha Natura di Surabaya dan Serenia Hills di Lebak Bulus. Ditambah lagi dengan peluncurkan kluster-kluster baru di proyek-proyek yang sudah berjalan, seperti Talaga Bestari, Tangerang, dan Graha Famili di Surabaya.
Pada segmen produk mixed-use & high rise development, lanjut Archied, perseroan menyiapkan tujuh proyek baru yang tersebar di sejumlah lokasi. Ketujuh proyek tersebut empat diantaranya berada di Surabaya yakni Spazio, apartemen Sumatra 36, National Hospital, dan Praxis. Proyek lainnya yakni Westone City, di Jakarta Barat, proyek TB Simatupang di Jakarta Selatan, dan sebuah proyek hunian plus komersial di dekat bandara internasional Sukarno-Hatta.
Sedangkan untuk segmen kawasan industri, lanjut Archied, perseroan focus pada pengembangan Ngoro Industrial Park 2 seluas 240 hektar. Sebab, Sejak awal 2011 pembangunan Ngoro 2 sangat pesat. Bahkan, tambah dia, beberapa investor asing sudah masuk dan mendirikan pabriknya di sana. Sementara segmen hospitality, Archied menjelaskan perseroan akan mpengembangan jaringan Whiz Hotel. Pengembangan Whiz Hotel lainnya adalah tahapan pembangunan konstruksi Whiz Hotel Balikpapan.
“Serta diperolehnya lokasi baru untuk pembangunan hotel di Bogor, Makasar, Pekanbaru, Manado, Surabaya, dan Samarinda,” jelas Archied.
Archied optimistik penambahan proyek-proyek baru skala besar mampu menopang pertumbuhan kinerja Intiland secara berkelanjutan. Namun, ia enggan untuk menyebutkan total investasi untuk menggarap seluruh proyek tersebut. Sebab, lanjut dia, proyek tersebut masih perseroan tengah memperhitungkan angka tersebut. Selain itu, ia menyebutkan ada beberapa proyek yang digarap melalui Joint Venture (JV).
“Kami selalu membuka pintu seluas–luasnya untuk melakukan kerjasama strategis dengan investor atau pemilik lahan untuk bisa sukses bersama-sama,” tandas Archied.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, Intiland membukukan laba bersih sebesar Rp 105,31 miliar. Jumlah tersebut turun 64,6% dibandingkan periode yang sama 2010 sebesar Rp 293,06 miliar. Sedangkan pendapatan, perseroan mampu mencatatkan Rp 632,2 miliar. Jumlah tersebut turun 11,56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 714,8 miliar. Hal tersebut terjadi karena divestasi aset non-inti sebesar Rp136,67 miliar pada 2010. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar