JAKARTA – PT BW Plantation Tbk (BWPT) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 700 miliar pada 2012. Dana tersebut digunakan untuk membangun pabrik pengolahan kelapa sawit, perawatan tanaman immature, dan akuisisi lahan.
Sekretaris Perusahaan BW Plantation Kelik Irwantono menjelaskan dana tersebut akan berasal dari kas internal dan eksternal. Untuk kas internal, lanjut dia, sebagian akan berasal dari sisa dana hasil penawaran obligasi perseroan pada 2010 sebanyak Rp 160 miliar. “Sedangkan untuk eksternal, perseroan akan menggunakan fasilitas pinjaman dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI),” ungkap Kelik kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (24/11).
Kelik memaparkan pembangunan pabrik akan dilakukan pada awal tahun dengan kapasitas 60 ton per jam di Kalimantan Timur (Kaltim). Ia mengatakan pembangunan pabrik tersebut akan meningkatkan total kapasitas produksi perseroan menjadi 200 ton per jam pada 2013. Sebab, lanjut dia, tahun depan kapasitas produksi kami akan menjadi 135 ton per jam. Hal tersebut seiring dengan selesainya pembangunan pabrik tahun ini sebesar 30 ton per jam.
Dengan penambahan pabrik tersebut, lanjut Kelik, perseroan optimistis pada 2012 produksi Crude Palm Oil (CPO) meningkat 25% dibandingkan dengan tahun ini. Pada 2013, ia menjelaskan perseroan akan kembali membangun pabrik. Menurut dia, hal tersebut dilakukan untuk mengimbangi peningkatan jumlah produksi tandan buah segar (tbs) perseroan setiap tahunnya.
Sedangkan untuk perawatan tanaman immature, Kelik menjelaskan perseroan akan merawat kurang lebih 35 ribu hektar tanaman. Tanaman tersebut, lanjut dia, merupakan periode tanam dari 2009-2011. “Sementara untuk akuisisi lahan, saya masih belum menjelaskan lebih lanjut. Kami akan umumkan jika telah didapatkan,” jelas Kelik.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2011, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp235,17 miliar. Jumlah tersebut naik 65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 142,22 miliar. Pendapatan usaha tumbuh 57,91% menjadi Rp 660,84 miliar dari sebelumnya Rp 418,48 miliar. Peningkatan pendapatan terutama disebabkan oleh peningkatan volume penjualan minyak sawit mentah (CPO) sebesar 29,8% dan kenaikan harga jual CPO sebanyak 17%. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar