Kamis, 03 November 2011

Bakrie Brothers Bayar Utang US$ 400 Juta



JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) akan membayar utang kepada Credit Siusse (CS) diatas US$ 400 juta. Hal tersebut dilakukan setelah Grup Bakrie mendapatkan dana dari hasil penjualan saham Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) sebanyak US$ 1 miliar. 

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno mengatakan perseroan dengan Long Haul Holding akan mendapatkan dana dari hasil transaksi tersebut dengan porsi yang sama seperti porsi pinjaman kepada CS. Berdasarkan catatan Investor Daily, dari pinjaman total sebesar US$ 1,35 miliar Bakrie & Brothers memperoleh US$ 601,75 juta. Sedangkan Long Haul  mendapat jatah US$ 743,25 juta. 

“Sebagai ilustrasi, jika dalam pinjaman tersebut porsi 60:40, dana yang kami dapatkan juga akan dengan porsi yang sama. Kalau perkiraan saya, kami akan mendapatkan dana dari transaksi tersebut diatas US$ 400 juta,” ungkap Eddy kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Eddy menambahkan perseroan akan membayarkan utang tersebut secepatnya. Ia menjelaskan dengan pembayaran tersebut, pada akhir tahun utang perseroan akan tersisa hanya menjadi Rp 5,5 triliun. Dengan demikian, lanjut dia, DER perseroan akan berada di sekitar 0,39 kali. Mengingat per Juni posisi ekuitas perseroan adalah sebesar Rp 14 triliun.

“Sedangkan untuk sisa utang kepada CS tersebut masih dinegosiasikan kepada kreditus. Kami pun membuka seluruh opsi penyelesaian utang tersebut,” jelas Eddy. 

Dengan penjualan tersebut, lanjut Eddy, sisa saham yang dimiliki perseroan di Bumi Plc hanya tinggal separuh dari jumlah terakhir sebanyak 20,5%. Ia pun menegaskan hal yang sama juga terjadi pada Long Haul. Dengan demikian, lanjut dia, kepemilikan Grup Bakrie di Bumi Plc menjadi 23,8% atau sama dengan porsi Borneo.  

Sebelumnya, Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gaffur Umar mengatakan aspek pengurangan utang dari transaksi tersebut merupakan instrumental. Sebab, lanjut dia, akan membuat neraca perseroan lebih sehat dan kuat. “Disamping itu, kami juga mewujudkan komitmen untuk memenuhi kewajiban kepada kreditur kami,” papar Bobby. 

Optimistis Laba Positif

Pada kesempatan yang sama, Eddy menjelaskan dengan penurunan utang tersebut akan menciptakan penurunan biaya beban perseroan. Serta, lanjut dia, menciptakan laba bersih positif di akhir tahun. Namun, ia enggan untuk menyebutkan target laba bersih tahun ini. Berdasarkan laporan keuangan pada semester I 2011, BNBR berhasil membukukan laba bersih sebanyak Rp 45,49 miliar. 

Untuk itu, Eddy optimistis rencana kuasi reorganisasi yang dilakukan perseroan akan berjalan sesuai yang direncanakan. Menurutnya, saat ini perseroan masih tahap masa sanggahan kreditur. “Diharapkan minggu pertama Desember kami akan bisa melaporkan ke Bapepam dan memberikan persetujuan sebelum akhir tahun,” ujar dia.

Managing Research Indosurya Asset Manajement Reza Priyambada mengatakan dengan pengurangan utang tersebut akan mengurangi beban keuangan perseroan. Alhasil, lanjut dia, perseroan akan mampu mencetak laba di kemudian hari. Dengan demikian, lanjut dia, langkah kuasi reorganisasi yang akan dilaksanakan perseroan menjasi semakin berjalan mulus. 

Sementara itu, Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan, Bakrie & Brothers harus konsisten mengalokasikan dana hasil transaksi tersebut untuk membayar utang. Dana tersebutu dikhawatirkan bakal digunakan perseroan untuk menambah utang maupun corporate action lainnya. Sebab, lanjut dia, saat ini perseroan berambisi untuk melakukan corporate action secara agresif dan besar. 

“Saya baru akan percaya apabila mereka benar0benar merealisasikan dana tersebt untuk pembayaran utang,” ucap Edwin.(iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar