JAKARTA – PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) membeli 23,8% saham Bumi Plc dari Bakrie Group, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dan Long Haul Holdings, senilai US$ 1 miliar. Pembelian tersebut dilakukan di harga 10,91 poundsterling atau 45% premium dari rata-rata transaksi selama 20 hari terakhir Bumi Plc.
Dengan pembelian tersebut, Bakrie Group dan Borneo secara efektif akan memiliki 47,6% saham di Bumi Plc. Sebab, Grup Bakrie masih memuliki jumlah saham yang sama dengan Borneo. Transaksi ini sepenuhnya dibayar secara tunai dan Bakrie Group akan memanfaatkan dana yang diperoleh guna penyelesaian pinjaman kepada Credit Suisse (CS). Diharapakan, posisi pinjaman Bakrie & Brothers secara keseluruhan turun signifikan.
Direktur Utama Borneo Lumbung Energi & Metal Samin Tan mengatakan perjanjian jual beli bersyarat (Share Purchasing Agreement/SPA) telah ditandatangani pada 31 Oktober 2011. Ia menjelaskan dana pembelian saham tersebut sepenuhnya berasal dari pinjaman diberikan Standard Chartered Bank. Pinjaman tersebut, lanjut dia, berdurasi lima tahun dan bunga komersial. Namun, ia enggan untuk menjelaskan bunga tersebut. ia hanya menyebutkan pinjaman tersebut merupakan senior loan.
Samin menjelaskan dengan pinjaman tersebut debt to equity ratio (DER) menjadi 1,1 kali. Sebab, lanjut dia, ekuitas perseroan saat ini di posisi US$ 900 miliar. “Pada dua tahun pertama pinjaman kami sangat ringan sekali. Hal tersebut sejalan dengan kebijakan kami untuk tidak membebani cash flow. Terbukti dengan posisi debt free kami sejak penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) saham pada November 2010 hingga sebelum transaksi ini,” ungkap Samin di sela konferensi pers di Jakarta, Selasa (1/11).
Untuk mendapatkan pinjaman tersebut, Samin menjelaskan perseroan menjaminkan 23,8% saham di Bumi Plc, cash flow perseroan yang diperkirakan pada akhir tahun mencapai US$ 445 miliar. Serta kepemilkan 99,99% saham di PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT). Selanjutnya, lanjut dia, perseroan akan meminta persetujuan kepada para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) yang diselenggarakan pada 15 Desember 2011. “Dengan demikian, diperkirakan transaksi tersebut akan selesai pada pertengahan Desember mendatang,” papar dia.
Sebagai pemegang 23,8% saham di Bumi Plc, tambah Samin, kedudukan Grup Bakrie dengan perseroan akan sejajar, baik dalam control, share, dan amanajemen. “Nantinya akan ada dua perusahaan patungan yang kita bentuk dengan partner kita. Penerapannya satu perusahana patungan tersebut kami yang akan menjadi mayoritas, sedangkan lainnya Grup Bakrie mayoritas” jelas Samin.
Menurut Samin, ketertarikan perseroan untuk masuk ke Bumi Plc karena saat ini perseroan ingun melakukan diversifikasi produk kepada batubara thermal maupun tambang mineral dan metal melalui portofolio Bumi Plc, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Mineral Resources Tbk (BRMS), dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Sebab, lanjut dia, selama ini perseroan hanya menghasilkan coking coal. “Untuk itu, perseroan siap untuk mengembangkan portofolio Bumi Plc yang belum berproduksi, terutama aset yang dimiliki oleh BRMS,” tegas dia.
Hal tersebut, lanjut Samin, seiring dengan pengalaman perseroan dalam mengembangkan coking coal dari green field. Dengan demikian, aset-aset green field tersebut dapat secepat mungkin berproduksi dan menghasilkan cash flow. Selain itu, lanjut dia, perseroan menilai kami menilai saham Bumi Plc under value. “Hal tersebut berdasarkan penilaian kami dengan tidak memasukan BRMS dalam Bumi Plc. Yang jelas dengan bersama di Bumi Plc ini, kami optimistis akan menjadi perusahaan tambang berkelas dunia,” papar dia.
Lebih lanjut Samin menuturkan perseroan memang tertarik untuk masuk ke Bumi Plc sejak dua bulan sebelum melakukan IPO. Kala itu, lanjut dia, perseroan telah mengajukan penawaran untuk merger antara grup Bumi Plc dengan Borneo. Namun, kala itu pembicaraan secara komersial tidak menemukan kesepakatan sehingga selalu mengalami penundaan. Hal tersebut, tambah dia, menemui kebuntuan setelah PT Bumi Resources Tbk dan PT Berau Coal Energy Tbk bergabung dibawah Bumi Plc.
Menurut Samin, ketertarikan perseroan untuk masuk ke Bumi Plc karena saat ini perseroan ingun melakukan diversifikasi produk kepada batubara thermal maupun tambang mineral dan metal melalui portofolio Bumi Plc, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Mineral Resources Tbk (BRMS), dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Sebab, lanjut dia, selama ini perseroan hanya menghasilkan coking coal. “Untuk itu, perseroan siap untuk mengembangkan portofolio Bumi Plc yang belum berproduksi, terutama aset yang dimiliki oleh BRMS,” tegas dia.
Hal tersebut, lanjut Samin, seiring dengan pengalaman perseroan dalam mengembangkan coking coal dari green field. Dengan demikian, aset-aset green field tersebut dapat secepat mungkin berproduksi dan menghasilkan cash flow. Selain itu, lanjut dia, perseroan menilai kami menilai saham Bumi Plc under value. “Hal tersebut berdasarkan penilaian kami dengan tidak memasukan BRMS dalam Bumi Plc. Yang jelas dengan bersama di Bumi Plc ini, kami optimistis akan menjadi perusahaan tambang berkelas dunia,” papar dia.
Lebih lanjut Samin menuturkan perseroan memang tertarik untuk masuk ke Bumi Plc sejak dua bulan sebelum melakukan IPO. Kala itu, lanjut dia, perseroan telah mengajukan penawaran untuk merger antara grup Bumi Plc dengan Borneo. Namun, kala itu pembicaraan secara komersial tidak menemukan kesepakatan sehingga selalu mengalami penundaan. Hal tersebut, tambah dia, menemui kebuntuan setelah PT Bumi Resources Tbk dan PT Berau Coal Energy Tbk bergabung dibawah Bumi Plc.
Tidak sampai disitu, Samin menuturkan dua bual setelah IPO perseroan kembali mengajukan penawaran kepada Bumi Resources untuk membeli BRMS dengan kas sebesar US$ 1,8 miliar. “Tapi itu kembali ditolak. Namun tselama tiga minggu terakhir kami akhirnya sepakat untuk menjadi partner strategis Grup Bakrie di Bumi Plc,” kata Samin.
Tawaran Menarik
Sementara itu, Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gafur Umar menjelaskan kesepakatan tersebut terjadi kerena penawaran Borneo paling menarik dibandingkan yang lainya diantaranya adalah Glencore. Karena itu, tamabh dia, dalam transaksi ini tidak ada opsi buy back. Selain itu, tambah dia, Borneo dinilai mampu menjadi parner strategis. Sebab, portofolio perseroan bertambah di bidang pertambangan, terutama coking coal.
“Dengan demikian, ia pun optimistis transaksi ini akan memantapkan posisi Bumi Plc sebagai Indonesia Incorporated di Bursa Efek London. Selain itu, aspek pengurangan hutang dari transaksi ini merupakan instrumental karena membuat neraca perseroan lebih sehat dan kuat,” ucap Bobby.
Sementara itu, Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno menjelaskan dengan pembelian saham tersebut kepemilikan perseroan di Bumi Plc hanya tinggal separuh dari jumlah sebelumnya yaitu 20,5%. Hal tersebut, lanjut dia, berlaku juga dengan Long Haul Holdings. Meskipun demikian, Eddy mengatakan seluruh dana tersebut akan digunakan untuk membayar seluruh utang kepada CS sebesar US$ 1,35 miliar. Sedangkan untuk sisanya, lanjut dia, masih dalam tahap pembahasan kepada para kreditur.
“Namun, kami optimistis posisi utang perseroan akan mencapai Rp 5,5 triliun pada akhir tahun mendatang. Padahal, berdasarkan buku Juni 2011 posisi utang perseroan mencapai Rp 10,2 triliun,” papar Eddy.
Managing Research Indosurya Asset Manajement Reza Priyambada mengatakan dengan pengurangan utang tersebut akan mengurangi beban keuangan perseroan. Alhasil, lanjut dia, perseroan akan mampu mencetak laba di kemudian hari. Dengan demikian, lanjut dia, langkah kuasi reorganisasi yang akan dilaksanakan perseroan menjasi semakin berjalan mulus. Sedangkan mengenai transaksi tersebut, ia menilai langkah yang diambil Borneso dengan mengambil pinjaman sangat beresiko.
“Dikhawatirkan dengan pinjaman tersebut akan meningkatkan kewajiban perseroan. Hal tersebut harus disiasati dengan menambah ekuitas perseroan. Salha satunya adalah dengan menerbitkan saham baru,” papar Reza.
Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang memperingati Bakrie & Brothers untuk tetap konsisten mengalokasikan dana tersebut kepada pembayaran utang. Ia mengkhawatirkan dana tersebut akan digunakan untuk menambah utang maupun corporate action lainnya,. Hal tersebut mengingat saat ini perseroan berambisi untuk melakukan corporate action secara agresif dan besar. “Say abaru akan percaya apabila mereka benar0benar merealisasikan dana tersebt untuk pembayaran utang,” paparnya.
Sedangkan mengenai transaksi Borneo, Edwin menilai harga yang dilakukan perseroan sangat mahal. Sebab, portofolio dipunyai BUMI Plc memiliki DER yang tinggi di tengah harga saham mereka yang terus bergejolak. Ia pun menjelaskan utang dari Standchart sebesar US$ 1 miliar tergolong sangat beresiko. Sebab, dikhawatirkan dividen yang akan diberikan BUMI Plc kepada BORN tidak akan mencukupi membayar Interest Payment ke Standchart.
Dengan besarnya DER portofolio BUMI Plc, Edwin menilai kedepannya performance dr portofolio itu bisa terganggu terlebih ditahun 2012 ASP dari coal akan turun. Hal tersebut berpotensi menurunkan earnings portofolio BUMI Plc yg selanjutnya akan menurunkan probabilitas pembagian dividen ke BORN. “Saya berpendapat akan lebih bijak bagi yang berminat beli saham BORN, bisa membeli saham BORN dibawah harga 860,” tandas dia. (iin)
Dengan besarnya DER portofolio BUMI Plc, Edwin menilai kedepannya performance dr portofolio itu bisa terganggu terlebih ditahun 2012 ASP dari coal akan turun. Hal tersebut berpotensi menurunkan earnings portofolio BUMI Plc yg selanjutnya akan menurunkan probabilitas pembagian dividen ke BORN. “Saya berpendapat akan lebih bijak bagi yang berminat beli saham BORN, bisa membeli saham BORN dibawah harga 860,” tandas dia. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar