Minggu, 31 Juli 2011

Laba Agung Podomoro Melonjak 115,7%

Kinerja Agung Podomoro Land Semester I 2011

Dalam miliar rupiah
SM1 2011
SM1 2010
% perubahan
Penjualan dan Pendapatan Usaha
1.581,9
1.096,0
44,3
                Penjualan
1.499,0
1.061,0
41,3
                Sewa
82,9
35,0
136,9
Beban Pokok Penjualan dan Beban Langsung
(973,6)
(765,1)
27,3
Laba Kotor
608,3
331,0
83,8
Marjin Laba Kotor
38,5
30,2
27,5
Beban Usaha & Beban Lain-lain
(228,7)
(146,6)
56,0
Laba yang dapat diatribusikan kepada kepentingan non pengendali
(41,8)
(27,7)
50,9
Laba yng dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk
337,8
156,6
115,7
Sumber : Perseroan

Laba Agung Podomoro Melonjak 115,7%

JAKARTA – PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 337,8 miliar pada semester I 2011. Jumlah tersebut melonjak 115,7% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 156,6 miliar. Hal tersebut ditopang oleh keberhasilan perseroan meningkatkan pendapatan hingga 44,5% menjadi Rp 1,58 triliun dari Rp 1,09 triliun. 

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2011, kontribusi pendapatan paling terbesar di sumbangkan oleh penjualan unit baru mereka sebesar Rp 1,49 triliun. Jumlah tersebut meningkat 41,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,06 triliun. Sedangakn sewa menyumbangkan Rp 82,9 miliar. Meskipun demikian, pendapatan dari sewa tersebut mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan karena mencatatkan lonjakan  sebesar 136,9%. Sebab, pada periode yang sama tahun lalu perseroan hanya mencatatkan sebesar Rp 35 miliar.

Selain itu, pertumbuhan penjualan melonjaknya laba bersih juga ditopang oleh meningkatnya marjin laba kotor sebesar 27,5% menjadi 38,5% dari sebelumnya hanya sebesar 30,2%. Hal tersebut membuat perseroan mampu mencetak  laba kotor sebesar Rp 608,3 miliar. Jumlah tersebut meningkat 83,8% dibandingkan sebelumnya sebesar Rp 331 miliar.  

Direktur Utama Agung Podomoro Land Trihatma Kusuma Haliman mengatakan pencapaian perseroan pada semester I tersebut melebihi dari diperkirakan. Menurutnya, hal tersebut didukung oleh seluruh tim manajemen yang kuat, mulai dari manajemen proyek sampai dengan tim dari pemasaran dan penjualan. “Kami akan terus memenuhi permintaan dan kebutuhan dari pelanggan kami dengan memberikan nilai lebih dalam produk kami,” ungkap Trihatma dalam siaran pers di Jakarta, akhir pecan lalu.
Sementara itu, Wakil Presiden Direktur Agung Podomoro Land Indra Wijaya mengatakan perseroan tengah membidik akuisisi tiga proyek di Jakarta pada semester II 2011. Proyek tersebut berada di kawasan Jakarta Utara, Barat, dan Selatan. Setiap proyek diperkirakan memiliki luas sebesar 5-10 hektar (ha). Ia menjelaskan pembiayaan akusisi tersebut akan berasal dari hasil penerbitan obligasi I 2011 senilai Rp 800 miliar. Namun, ia masih enggan untuk menjelaskan nilai dan nama proyek yang akan diakuisisi tersebut.
“Saat ini masih tahap finalisasi negosiasi dengan perusahaan yang ditargetkan untuk diakuisisi. Jika kami sudah mendapatkan dana obligasi tersebut pada akhir Agustus mendatang, akhir tahun diperkirakan sudah kami dapatkan semuanya,” kata.
Indra menjelaskan untuk proyek di Jakarta Selatan dan Barat masih berupa tanah. Sedangkan untuk di Jakarta Utara, lanjut dia, telah berupa bangunan berdiri. Dengan demikian, lanjut dia, setelah akuisisi perseroan bisa langsung mengoperasikan proyek di Jakarta Utara tersebut. “Di proyek tersebut, kami mengincar 51% kepemilikan saham,” jelas Indra.
Selain di Jakarta, lanjut Indra, perseroan juga tengah melakukan negosiasi akusisi dua proyek di Bali dan Bogor. Untuk di Bali, ia mengatakan  proyek tersebut akan dijadikan hotel yang membutukan investasi pembangunan diperkirakan mencapai Rp 500 miliar. Sedangkan di Bogor, Indra mengatakan lahan tersebut berjumlah 80 hektar. Rencananya, tambah dia, perseroan akan menjadikan lahan tersebut sebagai area landed residensial.  
Agung Podomoro menawarkan obligasi I 2011 senilai Rp 800 miliar dengan bunga berkisar 9,5-11,5%. Obligasi tersebut terdiri dari dua seri, yaitu A (tenor 3 tahun) bunga 9,5-10,5 % dan B (tenor 5 tahun) bunga 10,5-11,5%. Dalam penerbitkan Obligasi tersebut, perseroan menjaminkan proyek unggulan mereka Central Park Mall dengan rasio penjaminan sebesar 125%. Sebab, nilai dari proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp 3,5 triliun.
Obligasi tersbut mendapatkan peringkat A dengan outlook stabil dari Pefindo. Perseroan menunjuk PT Deutshe Securities Indonesia, PT Indo Premier Securities, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Standard Chartered Securities Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi. Masa penawaran awal obligasi tersebut dilakukan pada 29 Juli -3 Agustus 2011, penawaran umum pada 15-16 Agustus 2011. Rencananya, obligasi tersebut akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 23 Agustus 2011.(iin)

Laba Telkom Turun 1,5%, XL Naik 15%

JAKARTA -  PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mencetak laba sebesar Rp 5,94 triliun pada semester I 2011. Jumlah tersebut turun 1,5% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 6,03 triliun. Sementara itu, PT XL Axiata Tbk (EXCL) berhasil mencetak pertumbuhan laba sebesar 15% menjadi Rp 1,52 triliun dari Rp 1,32 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2011, Telkom mengalami penurunan laba disebabkan beban usaha yang ditanggung perseroan mengalami peningkatan sebesar 5,1% dari Rp 22,37 triliun menjadi 23,53 triliun. Padahal, Telkom berhasil mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 2,2% menjadi Rp 34,46 triliun dari Rp 33,71 triliun.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menjelaskan pendapatan perseroan ditopang oleh pertumbuhan pelanggan di berbagai portofolio bisnis, baik telephony maupun broadband.  Namun, lanjut dia, pertumbuhan tertinggi terjadi pada jumlah pelanggan broadband. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah Telkomsel Flash mengalami kenaikan sebesar 74,4% dari sebelumnya 2,97 juta menjadi 5,19 juta. Diikuti dengan Speedy naik sebesar 41,2% dari sebelumnya 1,41 juta menjadi 2 juta, dan pelanggan Blackberry naik sebesar 381,4% dari sebelumnya 456 ribu menjadi 2,19 juta.

Rinaldi mengatakan peningkatan jumlah pelanggan broadband pada Semester I 2011 ini diikuti dengan pertumbuhan pendapatan Speedy  sebesar 13,6% dan mobile broadband (Telkomsel Flash, Blackberry dan GPRS) sebesar 55,0%. Secara total pendapatan Data dan Internet TelkomGroup telah tumbuh sebesar 19,0%. “Layanan broadband merupakan salah satu bisnis unggulan Telkom Group  ke depan. Kami yakin pertumbuhan jumlah pelanggannya akan melaju secara konsisten karena data sudah menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat,” ungkap Rinaldi dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (29/7).  

Untuk telephony¸ Rinaldi mengatakan setiap produk layanan perseroan mengalami pertumbuhan yang menggembirakan. Ia menyebutkan jumlah pelanggan seluler mengalami kenaikan 15,8% dari sebelumnya 88,32 juta menjadi 102,30  juta. Sedangkan jumlah pelanggan Flexi mengalami kenaikan 17,9% dari sebelumnya 15,90 juta menjadi 18,74 juta. “Kenaikan juga terjadi di pelanggan wireline yang mengalami kenaikan 0,3% dari sebelumnya 8,4 juta menjadi 8,42 juta. Hal tersebut menunjukan masyarakat kembali berminat memanfaatkan layanan telepon kabel,” jelas dia.

Lebih lanjut Rinaldi mengatakan sepanjang 2011 Telkom telah melaksanakan sejumlah agenda strategis seperti pembangunan infrastruktur broadband, optimalisasi aset, dan inovasi produk-produk baru seperti IPTV, Delima, cloud computing. Semuanya itu, tambah dia, menunjukkan komitmen manajemen yang tetap solid dan pada beberapa sektor pertumbuhannya cukup meyakinkan, seperti broadband access dan layanan dalam portofolio information, media & edutainment. “Kami masih optimistis bahwa Telkom Group  tetap mampu bersaing di tengah-tengah persaingan yang sangat tajam dalam industri telekomunikasi dan informasi,” papar dia.

Pendapatan Rp 9,13 T

Sementara itu, XL mampu mencatatakan laba bersih sebesar Rp Rp 1,52 triliun. Jumlah tersebut meningkat 15% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 1,32 triliun. Sedangkan normalisasi laba bersih menembus Rp 1,6 triliun, meningkat 18% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu senilai Rp 1,33 triliun. Xl menambahkan normalisasi laba bersih karena mengeluarkan biaya yang tidak biasa terjadi dan belum teralisasikan. Meski membukukan pertumbuhan laba hingga dua digit, pendapatan perseroan hanya mengalami peningkatan sebesar 8% menjadi Rp 9,13 triliun dari Rp 8,47 triliun.

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengatakan jumlah pelanggan bertambah sebesar 10% YoY dari 35,2 juta di Juni 2010 menjadi 38,9 juta di Juni 2011. Selain itu, lanjut dia, peningkatan pendapatan ditopang oleh pendapatan layanan data meningkat sebesar 47% menjadi Rp 1,54 triliun dari Rp 1,04 triliun. Jumlah tersebut, lanjut dia, memberikan kontribusi sebesar 21% terhadap total pendapatan pemakaian pelanggan. Ia mengatakan berdasarkan pertumbuhan tersebut, perseroan melihat adanya potensi besar di bisnis layanan data.

”Hal tersebut  terkait perubahan perilaku pelanggan dari penggunaan layanan tradisional menuju layanan data. Kami akan lebih fokus dalam mengembangkan bisnis layanan data dengan cara memperkuat departemen kami secara keseluruhan,” papar Hasnul.

Untuk itu, lanjut Hasnul, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 3 triliun untuk layanan data. Ia mengatakan jumlah tersebut merupakan separuh dari total capex yang dialokasikan perseron tahun ini sebesar Tp 6 triliun. Tak heran. Tambah dia, selama 12 bulan terakhir perseroan telah menambah BTS sebanyak 4.084 BTS (2G/3G) di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.220 merupakan 3G BTS. Dengan demikian, total BTS (2G/3G) yang dimiliki perseroan menjadi 24.971 BTS.

Selain itu, Hasnul menjelaskan XL mencairkan fasilitas pinjaman dalam rupiah sebesar Rp 500 miliar serta fasilitas pinjaman sebesar USD 59 juta sepanjang kuartal II 2011. Pada saat yang bersamaan, ia mengatakan perseroan telah melakukan pembayaran pinjaman dipercepat sebesar Rp 900 miliar dan pembayaran pinjaman yang sudah jatuh tempo sebesar USD 24,1 juta. Pembayaran tersebut, tambah dia, menggunakan arus kas internal.

“Hal tersebut membuat saldo pinjaman menurun dari R

Jasa Marga Investasi Rp 800 M

 
JAKARTA – PT Jasa Marga Tbk (JSMR) telah merealisaskan investasi sebanyak Rp 800 miliat pada semester I 2011. Jumlah tersebut merupakan 22,8% dari total belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan tahun ini sebesar Rp 3,5 triliun. Rendahnya realisasi capex tersebut disebabkan pada semester I perseroan masih dalam tahap pengadaan untuk menggarap proyek jalan tol.

Direktur Keuangan Jasa Marga Reynaldi Hermansjah menjelaskan realisasi capex baru akan terserap maksimal pada semester II. Sebab, lanjut dia, pada periode tersebut sudah memasuki tahap realisasi pengerjaan proyek jalan tol. Salah satunya, lanjut dia, adalah proyek jalan tol Ungaran-Bawean (12 km). Sebab, lanjut dia, perseroan sudah melakukan pengadaan lahan cukup banyak.

“Untuk itu, kami memperkirakan akan mulai membangun pada Agustus mendatang,” ungkap Reynaldi kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (28/7).

Reynaldi menambahkan untuk beberapa proyek jalan tol pereroan lainnya, saat ini masih dalam proses pengadaan lahan, yaitu JORR W2 Utara Ulujami-Kebon Jeruk sepanjang 8 km. Serta Bogor Ring Road (BRR) seksi II Kedung Halang-Yasmin sepanjang 4,1 km. Sedangkan pada semester II perseroan akan mengoperasikan dua ruas baru, yaitu Semarang-Ungaran dan Surabaya-Mojokerto.

Sedangkan untuk kinerja perseroan semester I, Reynaldi menjelaskan perseroan mampu mencetak pendapatan sebanyak Rp 2,35 triliun. Jumlah tersebut meningkat 11,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,1 triliun. Sedangkan untuk laba bersih, perseroan mencatatkan peningkatan 16% menjadi Rp 751 miliar dari Rp 644 miliar.

Menurut Reynaldi, pencapaian pada semester I tersebut ditopang oleh meningkatnya jumlah traffic kendaraan sebesar 13% dibandingkan tahun lalu. Sebab, lanjut dia, tahun ini perseroan mencatatkan traffic sebanyak 525 juta kendaraan. Ia mengatakan dengan jumlah tersebut perseroan optimistis akan mampu mencapai target traffic mereka sebanyak 1,1 miliar kendaraan pada akhir tahun ini.

“Kami optimistis pada akhir tahun pendapatan kami akan mencapai Rp 4,8 triliun,” tandas Reynaldi. (iin)

Laba Kalbe Naik 17%


JAKARTA - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 675 miliar pada semester I 2011. Jumlah tersebut meningkat 17% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 572 miliar. Kenaikan laba tersebut ditopang oleh efisensi yang dilakukan perseroan selama paruh pertama tahun ini.

Direktur Keuangan Kalbe Vidjongtius mengatakan efisiensi tersebut terbukti dapat mengimbangi kenaikan harga bahan baku. Dengan demikian, lanjut dia, perseroan pun berhasil untuk mempertahankan harga jual selama paruh pertama tahun ini. “Hal tersebut karena sejak awal tahun isu tingginya inflasi sudah beredar. Untuk itu, kami berusaha untuk tidak menaikan harga jual sejak awal tahun dan lebih mengutamakan efesiensi,” ungkap Vidjongtius kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (28/7). 

Vidjongtius menjelaskan pada semester I pertumbuhan bisnis perseroan tersebut lebih mengandalkan peningkatan volume penjualan. Ditambah lagi, lanjut dia, hadirnya beberapa produk baru yang langsung disambut pasar dengan baik, yaitu Fatigon Hydro dan produk nutrisi Zee. Hal tersebut, tambah dia, membuat perseroan berhasil mencetak penjualan hingga Rp 4,95 miliar. Jumlah tersebut meningkat 5% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 572 miliar.

Menurut Vidjongtius, pendapatan yang hanya tumbuh 5%  tersebut karena pada semester ini PT Kageo Igar Tbk (IGAR) tidak lagi memberikan kontribusi pada perseroan. Sebab, pada pertengahan Agustus 2010, Kalbe menjual 610 juta (58,1%) saham Kageo Igar kepada PT Kingsford Holdings senilai Rp 112,8 miliar. Sementara pada semester I tahun lalu, Kageo Igar masih memberikan kontribusi pada pendapatan perseroan.

“Jika perbandingan tersebut mengeluarkan Kagoe Igar dalam kontribusi pendapatan, tahun ini kami sebenarnya tumbuh 10%,” jelas dia.

Lebih lanjut Vidjongtius menjelaskan pada semester I 2011, obat resep berkontribusi paling besar dari penjualan perseroan. Sebab, lanjut dia, divisi bisnis tersebut mampu menymbangkan 30% dari total penjualan. Disusul penjualan produk nutrisi sebesar 22%, produk kesehatan mencapi 20%. Sednagkan sisanya berasal dari divisi distribusi dan logistic yang menjadi bisnis anak usaha perseroan, PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT).

Pada semester II 2011, Vidjongtius memprediksi kinerja perseroan akan lebih baik ketimbang speriode sebelumnya. Hal tersebut, lanjut dia, didukung oleh daya beli masyarakat yang membaik dan penetrasi pasar yang lebih mendalam lagi di patuh kedua tahun ini. Dengan demikian, ia mengaku tetap optimistis perseroan akan mampu mencapai target penjualan pada tahun ini sebesar Rp 11 triliun.

“Kami akan mengejar penjualan sebesar Rp 6 triliun lagi pada semester II ini. Salah satunya adalah dengan meluncurkan tiga sampai lima produk lagi,” kata dia. 

Vidjongtius menjelaskan selama semester I perseroa telah merealisaskan belanja modal (capital expenciture/capex) sebanyak Rp 300 miliar. Jumlah tersebut merupakan 50% dari total alokasi capex tahun ini sebesar Rp 600 miliar. Dana tersebut digunakan unruk membeli mesin baru, pembangunan pabrik baru, dan gudang baru di Banda Aceh dan Jember.

 Analis CIMB Securities Erwan Teguh pernah menyatakan efesiensi yang dilakukan menejemen dapat menggenjot margin kotor hingga 165 basis poin (bps) menjadi 51,8% di tengah lonjakan harga bahan baku. Tak ayal lagi, pertumbuhan laba bersih lebih besar dibanding pendapatan. Erwan memberi rating netral untuk KLBF dengan target harga Rp 3.800.
Sementara itu, analis Credit Suisse Ella Nusantoro memprediksi menguatnya nilai tukar rupiah akan meningkatkan margin penjualan. Sejalan dengan itu, kinerja Kalbe Farma bakal positif. Ia bahkan meaikkan proyeksi laba bersih Kalbe menjadi Rp 1,66 triliun pada 2011 dan Rp 1,96 triliun pada 2012. Jumlah itu naik masing-masing 29% dan 18%. Sementara pendapatan diproyeksikan naik 16% pada 2011 menjadi Rp 11,8 triliun dan melonjak 18% menjadi Rp 13,9 triliun pada 2012.
Ella memberi rating netral KLBF. Target harganya Rp 3.400. Pada perdagangan kemarin, saham KLBF stagnan di level Rp 3.450. (iin)

Kamis, 28 Juli 2011

Bakrie Siapkan US$ 300 Juta Untuk Infrastucture Fund

JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menggalang dana untuk Infrastructure fund  pada akhir tahun ini. Infrastructure fund  tersebut akan menjadi unit bisnis baru perseroan yang akan membidik dana sebanyak US$ 200-300 juta pada tahap pertama. Infrastructure fund  tersebut dibentuk untuk mendanai proyek infrastruktur yang digarap perseroan senilai US$ 5 miliar dalam tiga sampai lima tahun mendatang.

Dana tersebut digunakan pada investasi pertama pada tiga proyek prioritas perseroan, yaitu pembangunan pembangkit listrik senilai US$ 2,5 miliar, jalan tol sebesar US$ 235 juta, dan pipanisasi. Untuk pembangkit listrik, Bakrie Brothers menggarap Tanjung Jati A 2x660 megawatt, serta proyek panas bumi di Telaga Ngebel (Jatim) 150 megawatt dan Sukoria (NTT) 33 megawatt.

Untuk jalan tol, penggarapan proyek jalan tol ruas Cimanggis – Cibitung (31 km) melalui PT Bakrie Indo Infrastructure. Proyek ini diperkirakan menghabiskan dana senilai Rp 2 triliun. Bahkan, dua pekan lalu perseroan telah meneken Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) dengan pemerintah melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Namun, perseroan masih belum membuka mulut soal proyek pipanisasi yang mereka bidik.

“Kami masih memproses pembentukan Infrastructure fund  tersebut. Pada akhir tahun kami akan launching hal tersebut dengan nama investornya,” ungkap Direktur Utama Bakrie & Brothers Bobby Gafur Umar kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (27/7).

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Eddy Soeparno menjelaskan infrastrukture fund menjadi salah satu kegiatan perseroan dalam menghimpun dana dari investor. Kemudian, lanjut dia, dana tersebut ditanamkan pada proyek infrastruktur perseroan untuk mengkontibusikan porsi ekuiti kepada proyek tersebut. Sebab, lanjut dia, masing-masing proyek tersebut mengadopsi skema pendanaan antara pinjaman dan ekuitas, yaitu 70:30.

Eddy mengatakan tahap pertama Infrastructure fund  tersebut akan menggalang sebanyak US$ 200-300 juta. Menurut dia, Infrastructure fund tersebut telah menarik minat investor untuk bergabung dalam unit bisnis baru perseroan tersebut. Namun, ia enggan untuk menyebutkan nama investor tersebut. “Saya masih belum bisa menyebutkan, pokoknya investor tersebut merupakan asing yang berasal dari negara berkembang,” jelas Eddy.

Eddy mengaku masih belum memustuskan skema kepemilikan dari para investor yang masuk dalam Infrastructure fund tersebut. Namun, lanjut dia, saat ini perseroan menawarkan dua skema alternatif kepada investor, yaitu langsung memiliki pada proyek yang digarap tersebut ataupun berinvestasi di Bakrie Brothers. “Namun, saya lebih cenderung pada alternative skema yang pertama,” papar dia.

Dalam menggarap proyek tersebut, Eddy menjelaskan perseroan juga menggandeng mitra strategis. Diantaranya adalah Samsung untuk menggarap Tanjung Jati A, dua proyek geiothermal dengan perusahaan asal Australia, Panax Geothermal. Serta Tata Power perusahaan asal India dalam pengerjaan pembangkit listrik di Kaltimantan Timur. Ia menjelaskan untuk Tata Power dan Panax Geothermal memiliki porsi 30%. Sedangkan untuk Samsung diakuinya masih dalam tahap negosiasi. “Tapi idealnya, kami mayoritas sebagai pemilik pembangkit. Pokoknya diatas 51%,” jelas Eddy.  

Prospek Menjanjikan

Managing Research Indosurya Aset management Reza Priyambada menilai positif infrastructure fund yang akan dibangun oleh Bakrie Brithers. Ia menjelaskan prospek bisnis infrastruktur masih menjanjikan di masa mendatang. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Terlebih, ia mengatakan saat ini infrastruktur di Indonesia masih tertinggal dibandingkan kawasan Asia Tenggara lainnya.

Namun, lanjut Reza, Bakrie Brithers harus memperhitungkan secara matang dalam menetapkan proyek yang akan didanai dari infrastructure fund tersebut. Sebab, lanjut dia, proyek tersebut harus memiliki prospek return yang jelas di masa mendatangnya. Selain itu, lanjut dia, perseroan juga harus berkomitemen untuk menyelesaikan pengerjaan proyek tersebut. “Jika tidak, nantinya malah akan menjadi beban dan malah tidak akan menghasilkan return yang diharapkan oleh perseroan dalam pembentukan infrastructure fund tersebut,” jelas Reza.

Reza menilai pembentukan infrastructure fund tersebut akan menjadi sentimen positif bagi investor dalam mengakumulasi saham BNBR. Untuk itu, ia menargetkan BNBR akan mampu menyentuh harga Rp 85 dalam waktu kurang dari tiga bulan. “Namun, sebelum itu, BNBR akan diwarnai koreksi akibat telah telalu lamanya rally saham mereka,” kata Reza. 

Sementara itu, analis Sucorinvest Central Gani Pang Tek Djen mengatakan Bakrie Brothers dipercaya tidak akan mengalami kesulitan dalam penggalangan dana untuk infrastructure fund tersebut. Ia pun berharap dalam pengerjaan berbagai proyek tersebut perseroan akan dapat menyelesaikannya tepat waktu. Sebab, lanjut dia, proyek infrastruktur akan berprospektif apabila penyelesainnya tepat waktu. “Hal tersebut karena proyek infrastruktur merupakan jangka panjang,” kata dia.

Namun, lanjut dia, dimulainya kemitraaan proyek infrastruktur tersebut akan tergantung pada penyelesaian utang dan jugta kuasi reorganisasi yang dilakukan oleh perseroan pada tahun ini. Ia menilai mitra aisng tidak bartu akan melakukan pengucuran modal dalam proyek tersebut apabila semuanya telah terselesaikan. “Saya melihat sentimen ini NETRAL terhadap harga saham BNBR,” jelas Tek Djen.

Kuasi Reorganisasi

Pada kesmepatan yang sama, Eddy mengaku optimistis perseroan akan mampu menuntaskan kuasi reorganisasi yang tengah dilakukan. Saat ini, lanjut dia, perseroan tengah menunggu hasil audit laporan keuangan semester I 2011. Sebab, perseroan masih menunggu hasil konsolidasi dengan salah satu anak usaha mereka, PT Bakrie Telecom Tbk (BTEl). “Mudah-mudahan hasil auditnya selesai pada awal Agustus dan baru akan diumumkan ke public pada pertengahan bulan depan. Kami berharap kuasi reorganisasi akan tuntas pada akhir kuartal III,” ucap Eddy. 

Analis Lautandhana Willy Sanajya optimistis kuasi reorganisasi yang akan dilakukan perseroan akan selesai pada kuartal III mendatang. Hal ini, lanjut dia, ditandai dengan berhailnya perseroan dalam menekan kerugian dalam kinerja mereka pada kuartal I, yaitu hanya menjadi Rp 281 miliar. Padahal akhir 2010, perseroan mengalami kerugian hingga Rp 7,1 triliun. Menurut dia, dengan berhasilnya kuasi tersebut membuak peluang untuk perseorn menggarap proyek senilai US$ 5 miliar pada masa mendatang.

“Hal ini menjadi titik balik Bakrie & Brithers untuk bangkit menjadi bendera Bakrie dalam bisnis di Indonesia. Untuk itu, saya merekomendasikan strong buy dengan target harga BNBR pada akhir kuartal III akan mencapia Rp 180,” tandas Willy. (iin)

Rabu, 27 Juli 2011

Mitra Adiperkasa Naikan Capex Jadi Rp 400 M

Mitra Adiperkasa Naikan Capex Jadi Rp 400 M

JAKARTA - PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) berpotensi menghabiskan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 400 miliar pada akhir tahun ini. Jumlah ini meningkat Rp 50 miliar dibandingkan capex yang dianggarkan sebelumnya senilai Rp 350 miliar. Peningkatan dana capex tersebut karena perseroan bertekad merealisasikan target pemilikan gerai hingga lebih 1000 toko atau setara dengan 462.347 m2 pada akhir tahun ini.

Pada akhir 2010, perseroan memiliki memiliki 854 gerai di 25 kota di seluruh Indonesia. Luas area ritel hingga tahun lalu sebesar 422.347 m2. Dengan demikian, perseroan diperkirakan minimal membuka gerai baru sebanyak 146 toko atau setara dengan 40 ribu m2 pada tahun ini.  

Sektretaris Perusahaan Mitra Adiperkasa Fetty Kwartati mengatakan hingga semester I 2011 perseroan baru berhasil memiliki 931 gerai atau setara 436.477 m2. Dengan demikian, lanjut dia,  perseroan baru berhasil membuka 77 gerai baru dengan luasan mencapai 14.130 m2. Ia mengatakan untuk membuka gerai baru tersebut, perseroan telah menghabiskan capex sebanyak Rp 175 miliar.

“Anggaran capex 2011, kemungkinan akan mencapai antara Rp 350-400 miliar. Hal tersebut karena kami ingin mengejar penambahan pemilikan luasan gerai sebanyak 26 ribu m2 di semester II ini,” ungkap Fetty di Jakarta, Rabu (27/7).

Fetty menjelaskan penambahan gerai pada semester II memang biasanya akan lebih banyak dibandingkan pada paruh tahun pertama. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan siklus tahunan penjualan bahwa pada semester II akan mencatatkan hasil yang lebih baik ketimbang periode sebelumnya. Untuk itu, lanjut dia, perseroan akan lebih memfokuskan pada speciality store yang menjual produk fashion ketimbang food and beveredge (F&B).

“Pada semester II 2011, kami akan membuka gerai di dua kota baru, yaitu Aceh dan Jayapura. Tidak hanya itu, kami juga akan mendatangkan dua brand baru lagi pada paruh kedua tahun ini,” tambah Fetty.

Dengan pertumbuhan pemilikan gerai yang dilakukan perseroan, Fetty optimistis pada akhir tahun mendatang perseroan akan mampu mencetak pertumbuhan penjualan 20%. Hal tersebut terbukti dengan pencapaian kinerja perseroan pada semester I 2011. Mitra Adiperkasa berhasil membukukan pertumbuhan penjualan sebanyak 23,8%, naik sebesar 511 miliar rupiah dari Rp 2,147 triliun menjadi Rp 2,658 triliun.

Sementara itu, Mitra Adiperkasa mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp 157 miliar. Jumlah tersebut meningkat 58% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 100 miliar.(iin)

Selasa, 26 Juli 2011

Medco Kantungi Dana Pinjaman US$ 550 Juta

JAKARTA - PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) kantungi dana pinjaman sebanyak US$ 550 juta pada tahun ini. Fasilitas pinjaman tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan korporasi perseroan pada 2011 dan 2012.

Direktur Keuangan Medco Energy Syamsurizal Munaf menjelaskan terakhir PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mendapatkan fasilitas pinjaman dari PT Bank Negara Indonesia (BBNI) sebesar US$ 150 juta. Fasilitas tersebut berjangka waktu 5 tahun sejak penandatangan ini. , tidak langsung akan ditarik, namun akan tersedia untuk digunakan selama 24 bulan setelah penandatanganan.

Dengan demikian, jumlah fasilitas pinjaman yang didapatkan perseroan saat ini telah mencapia US$ 550 juta. Sebab, Syamsurizal pernah mengatakan perseroan telah mendapatkan fasilitas pinjaman sebesar US$ 400 juta. Jumlah tersebut, lanjut dia, termasuk dari fasilitas pinjaman dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar US$ 140 juta. Pinjaman tersebut didapatkan perseroan pada Juni 2011.

Syamsurizal menjelaskan perseroan berencana menggunakan fasilitas pinjaman ini untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) pinjaman-pinjaman perseroan yang akan atau telah jatuh tempo, serta kebutuhan-kebutuhan lain seperti modal kerja, kebutuhan operasional dan atau penggunaan lain yang diperlukan oleh perseroan sehubungan dengan kegiatan usahanya.

“Dengan kebutuhan pendanaan yang harus Medco penuhi, fasilitas pinjaman yang ada terus dimanfaatkan sesuai kebutuhan, terutama untuk menyelesaikan pinjaman yang akan jatuh tempo di tahun 2012. Sementara waktu, alokasi yang disiapkan untuk modal kerja juga harus terus dipelihara untuk kelangsungan perseroan,” ungkap Syamsurizal di Jakarta, Selasa (26/7).

Selanjutnya Direktur Utama Medco Energi Lukman Mahfoedz menambahkan, “ Saya yakin bahwa kinerja perseroan akan terus membaik, hal ini terbukti dengan kepercayaan dunia perkankan, khsusunya BNI dalam memberikan fasilitas pinjaman kepada Medco Energi,” papar dia.

Sebelumnya, Syamsurizal memperkirakan untuk tahun ini perseroan akan mencairkan pinjaman sebesar US$ 50-100juta. Ia menjelaskan pencairan tersebut akan digunakan perusahaan untuk membiayai kembali kewajibannya yang telah dan akan jatuh tempo (refinancing), menurunkan biaya bunga atas kewajiban berjalan. “Serta pendanaan investasi perusahaan di aset-asetnya yang tengah dikembangkan,” lanjut dia.   

Selain dari pinjaman, Syamsurizal Medco juga meraih pendanaan dari penerbitan obligasi berjangka dengan denominasi USD. Pada pertengahan Juli lalu, Medco berhasil mendapatkan dana sebesar US$ 50 juta. Dalam obligasi tahap I tersebut, Medco menawarkan kupon bunga pada kisaran  5,55-6,05%.

Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo pernah mengatakan fasilitas pinjaman tersebut sangat positif untuk mendukung penggarapan proyek perseroan tahun ini. Terlebih proyek tersebut sangat membutuhkan dana yang sangat besar. Ia menilai secara teknikal harga saham MEDC berpotensi untuk rebound menyentuh level kisaran 2.500-2.800 pada pekan ini. Hal ini, lanjut dia, terlihat semenjak MEDC menembus level 2.050-2.200. “Saat ini sangat menarik untuk mengakumulasikan saham tersebut,” jelas Satrio.

Berdasarkan consensus dari para analis yang dikutip Blomberg menunjukan MEDC secara teknikal menunjukan PER 2011 sebesar 17,6 kali. Soalnya, angka valuasi konsensus diperkirakan akan menembus level 3.444 dalam 12 bulan mendatang. Masih dari hasil consensus tersebut, pendapatan MEDC diperkirakan akan mencapai US$ 805,5 juta pada 2011. Sedangkan laba setelah penyesuasian diprediksi mencapai US$ 40,9 juta. (iin)

Rabu (27/7), IHSG Lanjutkan Penguatan

Indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini diprediksi melanjutkan penguatan. Namun, penguatan tersebut hanya akan terjadi sangat terbatas. Hal tersebut dikarenakan kondisi Amerika Serikat (AS) yang masih mengalami kebuntuan dalam penentuan limit utang mereka. Meskipun demikian, hal tersebut malah akan mendorong pemodal asing memilih untuk masuk ke bursa Negara berkembang. Salah satunya adalah Indonesia.

Menurut Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada, sentimen negative yang ada di AS tersebut mendorong asing untuk masuk ke Indonesia. Ditambah lagi, dengan ekspektasi pemodal terhadap kinerja emiten yang positif pada semester 1 2011. Ditambah lagi, lanjut dia, investor melihat menjelang Ramadhan biasanya tingkat konsumsi Indonesia meningkat pesat.

“Dengan demikian, indeks diprediksi akan mengalami penguatan terbatas dengan level support 4057-4084 dan resistance 4136- 4160,” ungkap Managing Research Indosurya Asset Management Reza Priyambada kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (26/7).

Reza menambahkan pada pergerakan IHSG pecan ini diperkirakan akan bergerak sama dengan pecan kedua Juli 2011. Soalnya, pola yang terbentuk perhari menunjukan kemiripan pergerakan. Bedanya, lanjut dia, pecan ini hanya akan terjadi pelemahan pada awal pecan ini. Namun, ia memperingatkan IHSG sangat rentan terhadap aksi profit taking. Mengingat saat ini IHSG berada di area overbought.

Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG menguat 45,6 poin (+1,12%) ke level 4.132. Kemarin, pemodal asing mencatatkan net buy Rp 82 miliar. “Cermati UNTR, BMRI, BBTN, dan ADMG,” tandas dia. (iin)

BW Plantation Semakin Matang

TIPS BWPT

Pefindo
-Rekomendasi  : -
-Target Harga   : Rp 1.180-1.370

Andi Wibowo Gunawan (Reliance Securities)
-Rekomendasi  : BUY
-Target Harga   : 1.440

BW Plantation Semakin Matang

PT BW Plantation Tbk (BWPT) semakin menunjukan kematangan mereka sebagai salah  satu pemain besar CPO di Indonesia pada 2011. Hal tersebut dibuktikan dengan keberhasilan perseroan mencetak lonjakan laba bersih sebesar 99,4%, sementara pendapatan meningkat 73%.

Hasil itu 50% diatas konsensus analis. Seiring dengan itu, saham BWPT sepanjang tahun diperkirakan akan masih berkibar. Apalagi, tahun ini sebanyak 4.393 hektar (ha) kebun sawit yang ditanama perseroan pada 2007 masuk masa menghasilkan. Ditambah lagi dengan strategi perseroan yang membangun 11 pabrik pengolahan CPO baru hingga 2015 di Kalimantan Tengah (Kalteng). 

Sekretaris Perusahaan BW Plantation Kelik Irwantono menyebutkan, kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan volume penjualan CPO hingga 35% dibandingkan periode yang sebelumnya. “Semester I 2011 kami berhasil menjual 53.248 ton, dibandingkan pada priode yang sama pada tahun lalu sebanyak 39.438 ton. Kernel juga naik 19,4% menjadi Rp 7,76 juta per ton dari sebelumnya Rp 6,5 juta per ton,” ungkap Kelik. 

Analis PT Reliance Securities Tbk Andi Wibowo Gunawan menjelaskan penapaian semester I 2011 yang dicatatkan perseroan diluar konsesusnya. Sebelumnya, ia memprediksi BWPT akan mencapai Rp 151 miliar, sedangkan hasil yang dicatatkan perseroan adalah Rp 170,6 miliar. Menurut dia, kenaikan tersebut dikarekana naiknya harga jual rata-rata hingga 19,4% dari CPO dan kernel sepanjang semester 1 2011. 

Andi menilai pembangunan pabrik yang dilakukan anak usaha perseroan, PT Bumihutani Lestari, pada tahun ini merupakan sebuah terobosan  inovatif dalam menggenjot produksi. Sebab, lanjut dia, pabrik tersebut mampu memotong suplay chain berproduksi, yaitu dari craine langsung ke boiler. Dengan hal tersebut, ia memprediksi akan mampu mengefisensikan biaya tenaga kerja hingga 50%.

Untuk itu, Andi mengaku optimistis kinerja perseroan akan berkilau hingga akhir tahun ini. Ia pun memprediksi BWPT akan mampu mencetak laba sebesat Rp 301,9 miliar sepanjang 2011. “Saya pun merekomendasikan BUY untuk BWPT dengan target harga Rp 1.440 dalam 12 bulan mendatang,” ungkap Andy kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (26/7).

Berdasarkan riset Pefindo yang dipublikasikan pada 20 Juli 2011, BWPT kondisi masa menghasilkan tersebut diprediksi akan mengerek produksi CPO dan Kernel di masa mendatang. Bahkan, produktifitas CPO yield BWPT dianggap mengesankan,. Sebab, mampu melampaui rata-rata produktifitas produsen di Indonesia dan Malaysia. Pada 2010, CPO yield BWPT mencapai 6 ton per ha. Sedangkan rata-rata produsen Indoensia dan Malaysia hanya berkisar 3,8 ton per ha dan 4,2 ton per ha.

Selain itu, Pefindo menilai strategi perseroan yang lebih banyak mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk menunjang pertumbuhan, seperti pemeliharaan, penambahan jumlah kebun tanaman menghasilkan. Serta pembangunan pabrik pengolahan CPO baru dengan total kapasitas 30 ton tbs per jam. Hal tersebut, ditambah lagi dengan land bank yang luas dimiliki membuat Pefindo menilai moratorium bukanlah ancaman bagi BWPT.

Pada akhir 31 Maret 2011, BWPT memiliki land bank 95.182 ha, sebanyak 52,8% atau 50.111 ha adalah planted area. Alhasil, Pefindo pun melihat prospek BWPT semakin menjanjikan. Untuk itu, Pefindo optimistis pendapatan BWPT akan mencapai Rp 942,7 miliar atau tumbuh 32,4% pada 2011. “Serta tumbuh sebesar 35% CAGR selama 2010-2015. Karena itu, kami pun melakukan penyesuaian target harga ke kisaran Rp 1.180-1.370 per saham dalam 12 bulan mendatang,” ungkap Pefindo. (iin)

JA Wattie Tambah Investasi Jadi Rp 125 M

 
JAKARTA- PT JA Wattie Tbk (JAWA) menaikan alokasi investasi pembangunan pabrik pengolahan CPO dan karet menjadi Rp 125 miliar pada 2011. Padahal sebelumnya, perseroan hanya mengalokasikan Rp 110 miliar. Hal tersebut seiring dengan strategi perseroan yang ingin menaikan kapasitas produksi kedua pabrik dari rencana awal pembangunan. Kedua pabrik tersebut terletak di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Direktur Keuangan JA Wattie Bambang S Ibrahim mengatakan kapasitas produksi pengolahan tandan buah segar (tbs) CPO untuk meningkat menjadi 45 ton perjam. Sebelumnya, lanjut dia, pabrik tersebut hanya memiliki kapasitas 30 ton perjam.. Sedangkan untuk kapasitas produksi pabrik karet yang memproduksi crumb rubber (karet kering) dari 1,5 juta ton menjadi 3 juta ton pertahun.

Menurut bambang, peningkatan kapasitas produksi kedua pabrik tersebut tersebut karena perseroan ingin ekspansi lebih agresif. “Saat ini, kami sudah mulai membangun pabrik tersebut yang didahului dengan survey yang dilakukan konsultan. Target kami, awal 2013 pabrik tersebut akan selesai dibangun,” ungkap Bambang di Jakarta, belum lama ini.

Bambang menambahkan saat ini perseroan telah mendapat berhasil membebaskan lahan senilai Rp 10 miliar di Kalsel. Menurut dia, harga pembebasan lahan tersebut berkisar antara Rp 4-9 juta per ha. Dengan hitungan tersebut, tanah yang telah dibebaskan perseroan mencapai 1.100-2500 ha. Sedangkan, target pembebasan lahan tahun ini adalah sebanyak 4.500-6 ribu hektar (ha).

Sebelumnya, Bambang mengatakan dengan akusisi lahan tersebut perseroan meningkatkan belanja modal (capital expenditure/capex) menjadi Rp 273 miliar pada 2011. Jumlah tersebut meningkat 52,5% dibandingkan alokasi capex sebelumnya sebesar Rp 179 miliar.  Peningkatan capex tersebut dilakukan karena perseroan ingin lebih agresif dalam ekspansi lahan pada tahun ini.

”Pada awalnya, kami hanya mengalokasikan pembebasan lahan sebanyak Rp 17 miliar. Namun, setelah melihat kesempatan yang ada kami pun menaikan alokasi tersebut menjadi Rp 238 miliar,” jelas Bambang.

Sebelumnya, analis Kim Eng Securities Ricardo Silaen memperkirakan pada tahun ini perseroan mengalami margin yang lebih tinggi dalam per hektar tanaman mereka. Ia mengestimasi dalam per hektarnya, karet yang mereka akan hasilkan gross margin 80%, sedangkan CPO sebanyakl 60%. Hal ini ditambah lagi dengan pertumbuhan produksi karet dan CPO yang akan meningkat signifikan sebanyak 20% selama 2011-2013.

“Untuk itu, saya merekomendasikan buy untuk saham JAWA dengan target harga Rp 670,” tandas Ricardo. (iin)

Senin, 25 Juli 2011

Harga SUN Lanjutkan Penguatan

Harga SUN Lanjutkan Penguatan

JAKARTA – Harga Surat Utang Negara (SUN) bertenor panjang diatas 10 tahun diprediksi akan melanjutkan penguatan pada pekan ini. Sebab, kondisi di global maupun domestik diperkirakan masih diliputi dengan sentimen positif pada pekan ini. Alhasil, imbal hasil (yield) pada pekan ini tenor tersebut diperkirakan mengalami penurunan sebesar 5-20 basis poin.

Kondisi global diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kondisi Eropa dan Amerika Serikat (AS). Di Kawasan Eropa, sentimen positif terjadi setelah Jerman dan Prancis telah mencapai kesepakatan tentang strategi bantuan untuk Yunani. Langkah tersebut dianggap merupakan sebuah langkah untuk melokalisir krisis Yunani agar tidak menjalar ke nagara lainnya di Eropa.

Hal tersebut ditambah lagi dengan kondisi Surat Utang AS yang memberikan sinyal positif. Hal tersebut menyusul kabar yang menyebutkan pihak partai Republik akhirnya setuju untuk menambah plafon utang sebesar US$ 2,4 triliun dari posisi sekarang US$ 14,3 triliun (Rp 122.265 triliun).
                                            
Sedangkan kondisi dalam negeri diperkuat dengan sentimen positif dari pekembangan inflasi Juli yang akan diumumkan pada awal pekan mendatang. Namun, beberapa ekonomi dan analis memperkirakan inflasi akan mengalami penurunan sebanyak 1% dibandingkan engan periode yang sama pada tahun lalu. Dengan demikian, inflasi diperkirakan menyentuh angka dibawah 5%.

Namun, sentimen positif yang terjadi di global maupun domestik masih harus diwaspadai. Sebab, kesepakatan Prancis dan Jerman belum tertuang dalam pembahasan yang lebih rinci lagi. Hal tersebut membuat pemodal masih akan melancarkan aksi wait and see pada pekan ini. Demikian rangkuman analisa ekonom BII Juniman dan analis obligasi PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya. 

Juniman menambahkan dengan sentimen positif global dan domestik akan mendorong mendorong pemodal asing maupun domestik untuk masuk ke SUN terutama bertenor panjang pada pekan ini. Namun, lanjut dia, sentimen paling berpengaruh pekan ini adalah pengumuman inflasi menimbulkan ekspektasi bahwa inflasi pada akhir tahun hanya akan berada di sekitar 5,5%.

“Hal tersebut membuat yield tenor 10 tahun keatas akan mengalami penurunan sebesar 5-20 basisi poin,” ungkap Juniman kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.  
Namun, Juniman memperkirakan pemodal asing akan lebih mendominasi dalam masuk ke obligasi pada semester II 2011. Hal tersebut, tambah dia, dapat dilihat dengan posisi kepemilikan SUN asing yang menembus Rp 243 triliun pada akhir pekan lalui. Jumlah tersebut setara dengan 35% dari total SUN Indonesia. “Pada semester II pemodal asing diperkirakan akan masuk lebih banyak lagi. Hal tersebut seiring dengan penguatan rupiah dan Indonesia diperkirakan masiih akan memberikan return yang baik pada tahun ini,” papar dia.  

Pergerakan Flat

Sementara itu, Edbert menilai pasar SUN pekan depan akan bergerak flat. Sebab, lanjut dia, pemodal lokal cenderung masih akan wait and see seperti pekan-pekan sebelumnya. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi efek dari inflasi yang berdasarkan data historis selalu naik di kuartal ke 3. “Selain itu, investor asing saya perkirakan juga masih cenderung untuk menunggu sambil mengevaluasi kembali portofolionya setelah kabar bahwa bailout Yunani yang saya dengar sudah disetujui,” jelas dia.

Lebih lanjut Edbert mengatakan kabar bailout tersebut bisa saja membuat kepercayaan terhadap Eropa kembali tumbuh dan investor berpikir untuk mulai kembali mengalokasikan dana investasi kesana. Namun, tambah dia, dalam jangka panjang bailout Yunani tersebut tidak akan terlalu berpengaruh terhadap pasar obligasi Indonesia. Sebab, daya tarik Indonesia masih terlalu kuat dibandingkan dengan yang lain.

“Mulai dari prospek ekonomi sampai penguatan nilai tukar yang membuat investasi di Indonesia menjadi semakin menarik. Saya pun memperkirakan pasar SUN juga hanya akan bergerak mendatar di kisaran +/- 5 basis poin saja,” tands Ebdert. (iin)

Minggu, 24 Juli 2011

Intiland Investasi Rp 400 M

Intiland Investasi Rp 400 M

JAKARTA – PT Intiland Development Tbk (DILD) investasi sebesar Rp 400 miliar pada seemsetar I 2011. Jumlah tersebut telah mencapai 40% dari alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1 triliun. Investasi tersebut digunakan untuk melakukan pembelian dan perapihan lahan, serta kontruksi infrastruktur di sejumlah proyek mereka di Jakarta dan Surabaya.

Direktur Pengolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menambahkan
selain lahan, perseroan juga tengah mengembangkan bisnis hotel bintang dua Whiz Hotel di empat kota. Keempat kota tersebut adalah Semarang yang diperkirakan akan selesai pada 11 November 2011, serta tiga lainnya baru tahap pemancangan tiang pertama yaitu Kuta, Legian, Balikpapan.

“Sedangkan untuk tahun depan kami akan mengembangkan Whiz Hotel di Surabaya dan dua lokasi di Jakarta, yaitu Cikini dan Hayam Wuruk. Saat ini, perizinanya sedang kami urus,” ungkap Archied di Jakarta, belum lama ini. 

Rencananya, lanjut Archied, anak usaha yang menaungi Whiz Hotel, PT Intiwhiz Infinita, akan go public melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Namun, lanjut dia, IPO tersebut baru akan dilakukan dalam dua atau tiga tahun mendatang. Sebab, tambah dia, untuk melakukan hal tersebut setidaknya anak usaha tersebut sudah mengoperasionalkan hotel lebih dari 20 hotel baru lagi.

“Sedangkan saat ini kami baru memiliki 10 hotel. Menurut hitungan saya, dua atau tiga tahun lagi kami bisa mengoperasionalkan 15-20 hotel baru lagi,” jelas Archied.

Hal tersebut, lanjut Archied, seiring dengan target kami memiliki jaringan hotel tersebut sebanyak 60 hotel pada lima tahun mendatang. Ia menambahkan, untuk mencapai target tersebut perseroan menerapkan strategi  yang beragam, baik mellui joint venture (JV) maupun franchise.

Sebelumnya. Archied menyataakn keseluruhan capex tersebut, akan digunakan perseroan untuk mengembangkan sejumlah proyek baru dengan skala besar, yang meliputi segmen residensial, mixed-use and high rise, kawasan industri dan perhotelan. Adapaun upaya percepatan dalam pengembangan proyek-proyek baru ini, guna mengantisipasi melonjaknya angka permintaan pasar properti di Indonesia.

Archied menjelaskan mencairkan pinjaman bank sebesar Rp 660 miliar. Pinjaman tersebut digunakan untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan sebesar Rp 1 triliun. Ia menjelaskan pinjaman tersebut berasal dari Bank Bukopin Tbk (BBKP) Rp 400 miliar. Pinjaman tersebut,l lanjut dia, baru didapatkan belum lama ini. Sedangkan sisanya, ia menjelaskan berasal dari stand by loan sindikasi beberapa bank senilai Rp 260 miliar.

“Bank tersebut diantaranya adalah PT Bank Mayapada Tbk (MAYA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBCA),” tandas dia. (iin)

Wika Bidik Kontrak Baru Rp 6,2 T


JAKARTA – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) membidik kontrak baru sebesar Rp 6,2 triliun pada semester II 2011. Untuk mendapatkan kontrak tersebut, Wika telah mengikuti tender senilai Rp 25 triliun pada paruh kedua 2011.

Sekretaris Perusahaan Wika Natal Argawan Pardede menjelaskan kontrak yang dibidik tersebut terdiri dari pembangunan pembangkit listrik dan beberapa proyek pemerintah lainnya. Namun, ia enggan untuk menyebutkan lebih rinci mengenai proyek yang dibidik tersebut. Meskipun demikian, ia mengaku optimistis perseroan akan mampu mencapai kontrak baru tersebut pada semester II.

 “Hal tersebut karena biasanya tingkat keberhasilan kami meraih kontrak baru sebanyak 20-25% dari tender yang kami ikuti. Sedangkan pada semester II ini, tender yang kami ikuti senilai Rp 25 triliun,” ungkap Natal kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Natal mengatakan pada semester II kontrak biasanya pengumuman pemenang tender lebih banyak. Pada 2011, Wika menargetkan kontrak baru Rp 12,3 triliun. Jika ditambah dengan kontrak bawaan (carry over) 2010 Rp 13,38 triliun, jumlah order book  mencapai Rp 25,67 triliun. Sampai semester I 2011, total kontrak baru Wika  mencapai Rp 5,8 triliun triliun atau sebanyak 15 kontrak.

Menurut Natal, Perolehan kontrak baru tersebut telah mencapai 47,15% dari total target kontrak baru tahun ini. Kontrak tersebut terdiri dari berbagai jenis, ada pembangunan jalan, pengerjaan pembangkit listrik, infrastruktur bandara dan sungai. Beberapa kontrak jalan yang telah diperoleh, lanjut Natal, antara lain kontrak fly over Summarecon Bekasi senilai Rp 142 miliar, Penambahan Lajur Ruas Tol Jagorawi TIMII Rp 47,43 miliar. 

Sebelumnya Direktu Utama Wika Bintang Perbowo mengatakan, pihaknya juga tengah menanti keputusan atas tender untuk subcontractor dua pembangkit listrik diesel (PLTD) di dua daerah Timor Leste yang nilainya mencapai US$ 36,2  juta atau setara Rp 325,8 miliar.  Kedua pembangkit listrik tersebut terdiri dari pembangkit listrik 7x18 mega watt (MW) di Hera dan 8x17  MW Bentano, timor Leste. Total niali keduanya proyek tersebut mencapai senilai US$ 340-350 juta.

“Dari proyek Hera, sebagai sub contractor Wika akan memperoleh US$ 16,2 juta. Sementara untuk proyek Bentano, dipekrirakan mencapai US$ 20 juta. Namun untuk proyek Bentano ini,  scoope pekerjaan diperkirakan akan bertambah, sampai sekitar US$ 30 juta,” tandas dia. (iin)

Jumat, 22 Juli 2011

Menteri : Holding Perkebunan IPO Semester I 2012



JAKARTA – Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar optimistis holding perkebunan yang terdiri dari 15 PTPN akan melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada semester I 2011. Sebab, holding tersebut diperkirakan selesai terbentuk pada kuartal III 2011 dan setelah itu akan diproses persiapan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Begitu selesai holding mereka, bisa langsung bersiap untuk IPO. Saya berharap pada semester I 2012 ada BUMN kita yang go public. Namun, berapa lama selesai go public tersebut tergantung pada proses di Bapepam,” ungkap Mustafa di Jakarta, Jumat (22/7).

Mustafa mengatakan dengan holding perkebunan tersebut akan membuat perusahaan BUMN yang bergerak di bidang tersebut akan menjadi sangat perkasa. Terlebih, lanjut dia, perkebunan tersebut akan lebih fokus pada karet dan CPO. Bahkan, lanjut dia, akan lebih bagus dibandingkan dengan perusahaan perkebunan milik Malaysia. Namun, Mustafa mengaku masih belum menentukan nama untuk holding perkebunan tersebut. “Nanti baru akan kita tentukan,” ujar dia.

Lebih lanjut Mustafa menjelaskan hingga saat ini belum menghitung besarnya dana yang dibutuhkan oleh holding pekebunan tersebut. Meskipun demikian, ia berharap dana yang akan diraup pada saat IPO mendatang akan sangat besar.

Sementara itu, Deputi Bidang Industri Primer Megananda Daryanto menjelaskan jika holding BUMN akan menjadi pemain global dan menjadi salah satu perusahaan produsen crude palm oil (CPO) terbesar di dunia. Pada tahun lalu produksi CPO seluruh BUMN Perkebunan mencapai 2,87 juta ton, sedangkan tahun ini produksi CPO ditargetka dapat mencapai 3,15 juta ton.
”Produksi CPO langsung menjadi kelas dunia, dan bisa menjadi yang terbesar dan akan langsung masuk ke dalam sepuluh BUMN terbesar. Saat ini PTPN III dan IV masing-masing berada pada posisi ke 23 dan 24,” ujar Megananda.
Megananda mengungkapkan, dengan bersatunya BUMN perkebunan tersebut, jumlah aset total BUMN perkebunan akan melejit. Ini memberikan keuntungan baru, pasalnya induk BUMN perkebunan nantinya akan semakin dilirik perbankan, sehingga dengan BUMN perkebunan dapat melakukan pinjaman.Menurut Megananda, saat ini aset keseuruhan BUMN perkebunan Rp 44 triliun dan mencetak pendapatan sekitar Rp 40 triliun, serta laba sekitar Rp 3,3 triliun.

Dengan aset dan pendapatan yang besar, lanjut dia, akan menarik bank-bank untuk memberikan pendanaan pada holding perkebunan tersebut. “Pada akhirnya, fungsi induk usaha nantinya juga melakukan peminjaman ke perbankan dan menyalurkannya ke anak usahanya yang kurang bankable,” terang dia.

Pada kesempatan yang sama, Mustafa mengatakan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) bergabung dalam Forum Komunikasi Investasi (FKI) BUMN. Forum tersebut  merupakan wadah investasi bagi perusahaan-perusahaan milik negara. Menurut dia, dengan bergabungnya BNI, forum ini diperkirakan berpotensi menghimpun dana Rp 300-330 triliun pada tahun ini. “BNI akan menjadi kreditor,” tandas Mustafa. (c07/iin).

Kamis, 21 Juli 2011

Indeks Lanjutkan Penguatan

 
Indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini diprediksi melanjutkan penguatan. Hal tersebut terjadi karena capital inflow yang masuk ke Indonesia diperkirakan masih sangat deras. Bahkan, indeks berpotensi akan kembali memecahkan rekor baru.

“Indeks akan berada di level resistance 4.100-4.150 dan support 4.000-4.050. Pergerakan indeks akan digerakan oleh saham batubara seperti ITMG dan HRUM,” ungkap Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (21/7).

Namun, lanjut dia, pemodal masih harus menwaspadai kondisi global, terutama Eropa. Sebab, lanjut dia, kemarin Yunani memutuskan untuk memperpanjangan surat utang sama artinya dengan defult. “Kita masih harus mencermati apakah kondisi ini akan memberikan pengaruh pada kondsii Amerika Serikat (AS). Untuk itu, pergerakan Dow Jones masih harus diwaspadai,” jelas dia. (iin) 

Alfamart Investasi Gerai Rp 329 M

JAKARTA – PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pemilik jaringan minimarket Alfamart, telah membangun gerai senilai Rp 329 miliar selama semeseter I 2011. Dengan dana tersebut, perseroan telah membangun sebanyak 413 gerai. 

Direktur Sumber Alfaria Trijaya Fernia Kristanto mengatakan dan ainvestasi tersebut merupakan bagian dari belanja modal (capital expenditure/capex) yang dianggarkan perseroan pada tahun ini. ia menambahkan jumlah tersebut merupakan 34,6% dari seluruh total capex yang dialokasikan perseroan pada 2011 sebesar Rp 950 miliar. “Alhasil, perseroan telah memiliki 5.225 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia pada akhir Juni 2011,” ungkap Fernia kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (21/7). 

Sebelumnya, Fernia pernah mengatakan pada kuartal II perseroan juga akan membuka tiga Distribution Center (DC) di Surabaya, Palembang, dan Jabotabek. Dengan pembukaan gerai dan DC tersebut, Fernia optimistis perseroan akan mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 35% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. 

Sementara itu, analis Indo Premier Securities Chichen TN pernah mengatakan  pertumbuhan bisnis ritel minimarket ini masih sangat berprospek di Indonesia. Hal ini seiring dengan tingginya PDB dan juga daya beli masyarakat. Tidak hanya itu, lanjut dia, mulai beralihnya kebiasaan masyarakat dari tradisional ke modern juga menjadi salah satu factor pendukung. 

“Peluang ritel ini masih terbuka lebar, terlebih pemain besar dalam bisnis sector ini hanya ada dua, yaitu Alfamart dan Indomart. Namun, semuanya tergantung mereka akan eskpansi dimana. Jika di Jakarta, hal itu sudah mencapai titik jenuh. Karen aitu peluang lebih besar ada di luar wilayah itu,” tandas dia.(iin)

JA Wattie Cetak Pendapatan Rp 334 M

JAKARTA – PT JA Wattie Tbk (JAWA) memperkirakan berhasil mencetak pendapatan sebesar Rp 334 miliar pada semester I 2011. Jumlah tersebut meningkat 65,3% dibandingkan pedapatan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 201 miliar. Peningkatan tersebut ditopang oleh meningkatkan harga jual karet dan CPO, serta meningkatnya kualitas maupun kuantitas produksi perseroan selama paruh pertama 2011.

Direktur Keuangan JA Wattie Bambang S Ibrahim menambahkan peningkatan pendapatan tersebut mendongkrak laba bersih perseroan menjadi Rp 113 miliar pada semester I 2011. Jumlah tersebut meningkat 318% dibandingkan laba bersih periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 27 miliar. Ia menambahkan faktor paling signifikan dalam pendapatan semester I adalah tingginya harga kedua komoditas. Ia menjelaskan jika tahun lalu harga karet hanya Rp 29.400, selama semester I 2011 menjadi Rp 44 ribu. 

“Hal serupa juga terjadi pada CPO. Pada semester I 2011, harga CPO menjadi Rp 7.860 per kg. Padahal sebelumnya hanya Rp 6.950,” ungkap Bambang kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (21/7). 

Pada kesempatan yang sama, Bambang mengatakan perseroan telah berhasil mengakuisisisi lahan senilai Rp 10 miliar. Namun, ia enggan untuk menjelaskan luas lahan yang diakuisisi oleh perseroan. Ia hanya mengatakan lahan yang mereka akuisisi berada di Kalimantan Selatan (Kalsel). Ia menambahkan pada tahun ini perseroan berencana dapat membebaskan lahan sebanyak 4.500-6 ribu hektar (ha).

Sebelumnya, Bambang mengatakan dengan akusisi lahan tersebut perseroan meningkatkan belanja modal (capital expenditure/capex) menjadi Rp 273 miliar pada 2011. Jumlah tersebut meningkat 52,5% dibandingkan alokasi capex sebelumnya sebesar Rp 179 miliar.  Peningkatan capex tersebut dilakukan karena perseroan ingin lebih agresif dalam ekspansi lahan pada tahun ini. 

”Pada awalnya, kami hanya mengalokasikan pembebasan lahan sebanyak Rp 17 miliar. Namun, setelah melihat kesempatan yang ada kami pun menaikan alokasi tersebut menjadi Rp 238 miliar,” jelas Bambang. 

Analis Kim Eng Securities Ricardo Silaen memperkirakan pada tahun ini perseroan mengalami margin yang lebih tinggi dalam per hektar tanaman mereka. Ia mengestimasi dalam per hektarnya, karet yang mereka akan hasilkan gross margin 80%, sedangkan CPO sebanyakl 60%. Hal ini ditambah lagi dengan pertumbuhan produksi karet dan CPO yang akan meningkat signifikan sebanyak 20% selama 2011-2013

“Untuk itu, saya merekomendasikan buy untuk saham JAWA dengan target harga Rp 670,” tandas Ricardo. (iin)

Laba PP Melonjak 67%


JAKARTA – PT PP Tbk (PTPP) memperkirakan mamapu mencetak laba bersih sebesar Rp 42 miliar pada semester I 2011. Jumlah tersebut meningkat 67% dibandingkan laba bersih pada periode yang sama tahun lallu sebanyak Rp 25,2 miliar. Pertumbuhan laba tersebut seiring dengan berhasilnya perseroan mendapatkan kontrak baru sebanyak Rp 5 triliun yang telah mereka dapatkan selama paruh pertama tahun ini.

“Sampai dengan semester I 2011, perolehan laba bersih kami mengalami pertumbuhan kira-kira sebanyak 67%. Sedangkan untuk pendapatan, saya lupa angkanya. Tapi kemungkinan kurang lebih sama dengan pertumbuhan laba bersih kami,” ungkap Tumiyana kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (21/7).

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan PP Betty Ariana mengatakan pada semester II ini mengincar 80 proyek baru senilai Rp 11 triliun. Proyek tersebut diantaranya adalah gedung pemerintah, infrastuktur, EPC (Engineering, Procurement, Construction) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Dengan meraih kontrak tersebiy, lanjut dia, perseroan akan menambus target kontrak baru perseroan tahun ini sebanyak Rp 16 triliun.

“Kami sudah mengikuti banyak tender pada semester II untuk menggenjot perolehan kontrak baru,” ucap Betty.

Perseroan menargetkan pendapatan tahun ini sebesar Rp 8,4 triliun, melonjak 90,90% dibanding periode yang sama 2010senilai Rp 4,4 triliun. Beberapa proyek yang sudah digarap PTPP antara lain proyek pembangkit listrik di Aceh, dan PLTU di Lampung. Betty menambahkan sepanjang tahun ini perseroan membidik perolehan kontrak baru senilai Rp16 triliun, sedangkan target pendapatan di tahun ini sebesar Rp8,4 triliun atau melonjak 90,90% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp4,4 triliun.

Saat ini, lanjut Betty, perseroan sedang melaksanakan proyek di Aceh Timur untuk konstruksi pembangkit tenaga listrik milik PLN dengan nilai Rp 1,15 triliun, PLTU Lampung Tengah senilai Rp 188,90 miliar dan proyek pembangkit listrik di Cilegon Banten senilai Rp 901,91 miliar.(iin)

Pendapatan Semen Gresik Tembus Rp 7,26 T

 
JAKARTA - PT Semen Gresik Tbk (SMGR) memprediksi pendapatan perseroan menembus Rp 7,26 triliun pada semester 1 2011. Jumlah tersebut diprediksi meningkat 10% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu senilai Rp 6,6 triliun.

Direktur Utama Semen Gresik Dwi Soetjipto menjelaskan peningkatan pendapatan ini seiring dengan peningkatan volume penjualan pada semester 1 sebesar 9-10%. Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), volume penjualan Semen Gresik hingga Juni 2011 telah mencapai 9,2 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 9,5% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebanyak 8,4 juta ton. Ia mengatakan volume penjualan tertinggi masih berada di pulau Jawa, disusul Sumatera.

Namun, lanjut Dwi, peningkatan laba tidak sebesar yang terjadi dengan pendapatan. Ia menjelaskan paruh pertama 2011 tersebut perseroan hanya mencetak pendapatan laba sebesar 5%. “Kinerja semeter I 2011 ini memang berbeda dengan sebelumnya. Sebab, laba pada tahun ini imencatatkan angka pertumbuhan yang tidak lebih besar dibandingkan pendapatan. Hal tersebut terjadi karena adanya tekanan biaya produksi yang meningkat tajam,” ungkap Dwi kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (21/7).

Dwi menjelaskan peningkatan biaya produksi yang paling besar terjadi pada peningkatan harga batubara dan listrik. Untuk kedua elemen produksi tersebut, tambah dia, mengalami peningkatan sebesar 5-8%. Meski mengalami tekanan naiknya biaya produksi, Dwi mengaku sulit untuk menaikan harga jual semen pada saat ini. Sebab, lanjut dia, saat ini industri semen sangat ketat. “Sehingga tidak memungkinkan untuk kami menaikan harga jual saat ini,” jelas dia.

Lebih lanjut Dwi memaparkan hingga akhir Juni 2011, perseroan telah menggunakan 40% dari alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini senilai Rp 5 triliun. Ia menjelaskan penggunanan capex tersebut dialokasikan untuk proyek pembangunan dua pabrik semen baru di Tonasa dan Tuban senilai US$ 594 juta. Kapasitas produksi kedua pabrik tersebut masing-maing sebesar 2,5 juta ton per tahun. Ditambah lagi, lanjut dia, pembangkit listrik sebesar 2×35 MW untuk mendukung beroperasinya pabrik semen baru di Tonasa.

“Pprogres pembangunan pabrik tersebut sangat mengembirakan. Bahkan pabrik semen di Tuban diperkirakan akan selesai pada Desember 2011. Sedangkan di Tonasa akan selesai pada 2012,” papar Dwi.

Untuk sumber pendanaan capex tersebut, Dwi mengatakan hanya menggunakan kas internal sebanyak Rp 4 triliun dan pinjaman sebanyak Rp 1 triliun. Pinjaman tersebut, lanjut dia, berasal dari fasilitas pinjaman dari sindikasi PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 3,16 triliun untuk modal kerja. Denagn demikian, pada akhir tahun jumlah pinjaman yang telah dicairkan dari Bank Mandiri sebanyak Rp 1,6 triliun. Sebab, pada 2010 perseroan sudah cairkan Rp 600 miliar.

Managing Reseach Managing Research Investment Management PT Asjaya Indosurya Securities Reza Priyambada memperkirakan biaya pemakaian bahan baku untuk indsutri semen akan menggerus laba sekitar 2,96%. Menurut dia, hal tersebut menjadi tantangan perseroan dalam mengefisieankan beban produksi sehingga menurunkan beban pokok pendapatan. Namun, lanjut dia, langkah perseroan menningkatkan mesin pabrik cukup baik. “Itu dilakukan untuk membuat operasional mesin menjadi lebih efisien,” ucap dia.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Chandra Pasaribu menilai samapi Mei 2011, Semen Gresik mencetak pertumbuhan terendah dibandingkan pemain lainnya, yaitu hanya sebesar 8,8% menjadi 7,6 juta ton. Sedangkan untuk Holcim membukukan pertumbuhan penjualan domestik tertinggi, yakni 26,8% menjadi 2,8 juta ton. Disusul Indocement membukukan kenaikan 13,6% menjadi 5,7 juta ton. Sejalan dengan itu, pangsa pasar Holcim naik dari 13,7% menjadi 15,3%. Indocement stabil di level 31%, sementara Semen Gresik tergerus dari 43% menjadi 41%.

Chandra menilai, Semen Gresik mengalami kendala teknis, seperti pemasangan instalasi di dua pabrik baru. Akibatnya, penjualan sulit dipompa. Saat ini perseroan tengah menuntaskan pembangunan pabrik di Tonasa dan Gresik dengan total kapasitas lima juta ton. (iin)