JAKARTA – PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menetapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1,4-1,5 triliun pada 2011. Sumber pendanaan capex tersebut akan berasal dari kas internal perseroan.
Head PR Astra Agro Lestari Tofan Mahdi enggan untuk menjelaskan alokasi dari capex tersebut. Sebab, lanjut dia, saat ini masih dalam pembahasan internal perseroan. Ia menjelaskan sampai Maret 2011 perseroan telah merealisasikan capex sebesar Rp 356 miliar. Jumlah tersebut digunakan untuk 23% pembangunan dan perbaikan infrastruktur, 29% perluasan kapasitas, serta sisanya dialokasikan untuk merawat kebun yang belum menghasilkan.
“Sedangkan realisasi sampai Juni belum bisa disampaikan karena masih dalam proses,” ungkap Tofan kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (12/7).
Sebelumnya, Presiden Direktur Astra Agro Lestari Widya Wiryawan memperkirakan akan sama dengan jumlah yang dialokasikan pada tahun lalu, yaitu Rp 1,2 triliun. Namun, lanjut dia, perseroan masih belum memberikan angka pasti mengenai capex tahun ini. Sebab, disaat itu perseroan belum menuntaskan pembelian pupuk yang merupakan komponen utama dalam perawatan tanaman.
Head of Investor Relation Yarmanto menjelaskan jumlah capex tersebut akan ditunjau ulang setiap kuartal. Hal tersebut, lanjut dia, untuk mengetahui progres dari realisasi capex tersebut. Namun, ia menambahkan hingga Juni lalu realisasi dan penggunaan capex masih sejalan dengan yang direncanakan perseroan. Untuk hasil peninjauan ulang caoex, ia menyatakan capex hingga Juni baru akan terjadi pada Agustus-September mendatang.
Yarmanto menambahkan perubahan jumlah capex dimungkinkan akan terjadi apabila perseroan menginginkan percepatan pembangunan pabrik pengolahan tanda buah segar (tbs). Namun, jelas dia, hingga saat ini masih belum ada rencana terseburt. Saat ini, Ia perseroan berencana membangun empat pabrik pengolahan tbs kelapa sawit. Keempatnya terletak di Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, serta dua pabrik Kalimantan Timur. “Dua diantaranya akan selesai pembangunannya pada tahun ini,” papar dia.
Lebih lanjut Yarmanto menjelaskan dengan pembangunan keempat pabrik tersebut kapasitas pabrik pengolahan tbs kelapa sawit diperkirakan mencapai 1.700 ton per jam. Mengingat saat ini kapasitas terpasang pengolahan tbs milik perseroan sebesar 1.050 ton per jam. Ia menambahkan untuk membangun satu pabrik pengolahan tbs tersebut diperlukan investasi sebesar US$ 12-14 juta. “Dana pembangunan pabrik tersebut akan berasal dari dana internal,” tandas Yarmanto.
Berdasarkan investor bulletin yang dikeluarkan perseroan, selama semester I 2011, produksi mereka telah mencapai 594.163 ton. Jumlah tersebut meningkat 26,2% dibandingkan periode yang sama tahun 2010. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan produksi TBS sebesar 20,2% dari 1,82 juta ton pada semester pertama tahun 2010 menjadi 2,19 juta ton tahun 2011.
Masih berdasarkan investor bulletin tersebut. yield rata-rata pada periode yang sama meningkat 15,7% dari 8,59 ton/ha pada tahun sebelumnya menjadi 9,94 ton/ha. Dari total produksi TBS pada semester pertama 2011, Sumatera memberikan kontribusi sebesar 41,7% atau 913.985 ton, sementara Kalimantan dan Sulawesi memberikan kontribusi masing-masing 38,2% dan 20,1%. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar