Intiland Cairkan Pinjaman Rp 660 M
JAKARTA – PT Intiland Development Tbk (DILD) mencairkan pinjaman bank sebesar Rp 660 miliar. Pinjaman tersebut digunakan untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan sebesar Rp 1 triliun.
Direktur Pengolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menjelaskan pinjaman tersebut berasal dari Bank Bukopin Tbk (BBKP) Rp 400 miliar. Pinjaman tersebut,l lanjut dia, baru didapatkan belum lama ini. Sedangkan sisanya, ia menjelaskan berasal dari stand by loan sindikasi beberapa bank senilai Rp 260 miliar. Bank tersebut diantaranya adalah PT Bank Mayapada Tbk (MAYA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBCA).
Archied menjelaskan rata-rata tingkat bunga dari pinjaman tersebut sebesar 10-12%. “Untuk sisa dari capex kami tersebut akan berasal dari kas internal, yaitu sebanyak Rp 340 miliar. Hal tersebut karena kami memutuskan untuk hanya menggunakan dua sumber pendanaan tersebut dalam membiayai capex pada 2011,” ungkap Archied di sela media gathering di Anyer, Banten, akhir pekan lalu.
Lebih lanjut Archied menjelaskan saat ini debt equty ratio (DER) perseroan masih sangat memungkinan untuk perseroan mengambil pinjaman dengan porsi besar pada tahun ini. Sebab, lanjut dia, selama ini perseroan menjaga der dibawah 1%. Hal tersebut memang telah direncanakan oleh perseroan agar disaat perseroan menggarap proyek sumber pendanaan sudah bisa disiapkan.
Menurut Archied, perseroan telah menggunakan capex sebanyak Rp 300 miliar. Dana tersebut digunakan untuk membiayai proyek di Jakarta dan Surabaya, serta pembelian lahan sehingga per akhir Juni land bank perseroan telah menjadi 2.400 hektar (ha). Saat ini, Intiland sedang menggarap kelanjutan proyek Talaga Bestari di Tangerang dengan membuka kawasan komersial Jungle Walk seluas enam hektar, proyek Graha Natura Surabaya yang akan diluncurkan kuartal III-2011 dan proyek mixed use TB Simatupang di Jakarta Selatan.
Lebih lanjut Archied menambahkan menambahkan perseroan membatalkan opsi penerbitan obligasi pada tahun ini. Sebab, lanjut dia, obligasi yang dimiliki oleh sektor properti masih dianggap lebih beresiko dibandingkan dengan sektor lainnya. Hal tersebut disebabkan siklus pendapatan di sektor properti tidak stabil mengingat kinerja perseroan sangat tergantung pada banyaknya proyek yang digarap dan dijual. Untuk itu, tambah dia, banyak sektor properti yang mencoba menerbitkan obligasi berdenominasi dollar.
“Namun, hal itu masih sangat beresiko dengan adanya currency risk serta bunga yang lebih mahal,” jelas Archied.
Kejar Pendapatan
Managing Research Investment Management PT Asjaya Indosurya Securities Reza priyambada menjelaskan peluang perseroan mencari pinjaman masih sangat terbuka lebar. Sebab, lanjut dia, pada akhir Desember 2010 PER perseroan hanya sebesar 0,25 kali. Sementara rata-rata industri telah mencapai 0,7 kali. Namun, lanjut dia, pinjaman sebesar Rp 600 miliar tersebut perseroan setidaknya mengejar pendapatan hingga menembus angka Rp 1,4 triliun atau dua kali dibandingkan tahun lalu.
Menurut Reza, jika hal tersebut tidak dilakukan akan membuat kewajiban perseroan membengkak menjadi Rp 1,58 trilin. Dengan der akan menjadi sebesar 0,4-0,5 kali. Untuk itu, sebaiknya mereka berharaop dari sewa, penjualan apartemen dan sisa tanah kavling. “Melihat hal tersebut, pergerakan saham Intiland diperkirakan akan sideways sepanjang tahun ini. Dengan target harga berada di kisaran level 310-325,” papar dia.
Sementara itu, Archied memaparkan marketing sales perseroan telah mencapai 50-60% dari target tahun ini sebesar Rp 1 triliun hingga akhir Juni 2011. Ia menjelaskan pencapaian tersebut disumbangkan dari penjualan di proyek-proyek yang mereka kerjakan saat ini ditambah lagi dengan penyewaaan gedung yang relatif stabil. Namun, ia enggan untuk memprediksi jumlah pencapaian pendapatan hingga semester I 2011. Sebelumnya, ia mengatakan perseroan optimistis mampu mencetak 1,5 triliun pada 2011, naik 90% dibandingkan realisasi pendapatan tahun lalu Rp 842,7 miliar. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar