JAKARTA – PT Wintermar, anak usaha PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) meraih kontrak baru dari Total E&P Indonesie senilai US$ 6,5 juta. Kontrak tersebut berupa penyediaan supply vessel yang akan dimulai pada Februari 2012. Kontrak tersebut telah di tandatangani oleh kedua pihak pada Juni lalu.
Investor Relation Wintermar Pek Swan Layanto menjelaskan dalam kontrak tersebut disebutkan anchor handling and towing, safety standby services, cargo transport services, passenger transport, oil spil clearance, dan firefighting services. Ia menjelaskan saat ini Total tengah menggarap lapangan di Bekapai, Handil, Tunu dan Peciko, Kalimantan Timur. Kontrak tersebut, tambah dia, berdurasi selama dua tahun.
“Selama Januari-Mei 2011, kami telah memenangkan 23 tender-tender dan mengantongi kontrak senilai US$ 104 juta,” ungkap Pek Swan di Jakarta, akhir pekan lalu. Ia menambahkan
Pek Swan menambahkan hampir setiap pekan perseroan terus mengikuti tender-tender yang diadakan oleh perusahaan oil and gas, serta Kontraktor Kerjasama Swasta (K2S). Ia menjelaskan pencapaian kontrak tersebut membuat perseroan optimistis pada akhir tahun prediksi pertumbuhan pendapatan sebesar 30-40% akan terlampaui. Hal tersebut, lanjut dia, seiring dengan komitmen pemerintah yang ingin meningkatkan produksi minyak mentah dalam negeri.
“Melihat hal tersebut, kami memprediksi pertumbuhan pendapatan kami akan mencapai 40-45%,” papar Pek Swan.
Pada kesempatan yang sama, Pek Swan menjelaskan perseroan telah memesan Platform Supply Vessel ketiga Grup. Pesanan tersebut berupa kapal Platform Supply / Oil Recovery / Safety Standby dengan panjang 76 m dan 3,500 dwt. Ia mengatakan kapal tersebut diharapkan akan diterima pada Juni 2012. Kapal tersebut, lanjut dia, akan bekerja untuk mendukung pengeboran laut dalam dan operasi industri minyak dan gas di Indonesia.
Sebelumnya, Presdien Direktur Wintermar Sugiman Layanto mengatakan perseroan tengah melakukan penjajakan pinjaman dengan dua bank asing. Hal tersebut dilakukan seiring dengan rencana perseroan yang mencari pinjaman sebesar US$ 70 juta. Dana tersebut digunakan untuk membiayai 30% belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan yang mencapai US$ 100 juta.
Sugiman menjelaskan penjajakan tersebut telah mencapai tahap akhir. Namun, ia enggan menyebutkan identitas kedua bank tersebut. “Kami memilih perbankan asing karena biasanya tenor yang diberikan lebih panjang ketimbang bank di dalam negeri, yaitu mencapai tujuh tahun” jelas Sugiman. (iin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar