Kamis, 21 Juli 2011

Telkom Ekspansi Menara Rp 2,5 T

IPO Mitratel 2012
Telkom Ekspansi Menara Rp 2,5 T

JAKARTA - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) melalui anak usaha, PT Dayamitra Telekomunikasi Indonesia (Mitratel), akan ekspansi menara senilai Rp 2,5 triliun pada tahun ini. Dana tersebut digunakan untuk membangun sebanyak 1.800 menara di seluruh Indonesia.

Direktur Keuangan Telekomunikasi Indonesia Sudiro Asno mengatakan dana untuk ekspansi tersebut berasal dari pinjaman PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 1 triliun. Sedangkan sisanya berasal dari kas internal dan pinjaman dari Telkom selaku induk usaha Mitratel. Namun, ia enggan untuk menjelaskan porsi tersebut. Ia hanya mengatakan ekspansi tersebut dilakukan seiring dengan strategi perseroan yang ingin memfokuskan Mitratel dalam bisnis menara.

“Dengan jumlah tersebut, Mitratel menjadi anak usaha kami yang memiliki kebutuhan dan terbesar kedua setelah Telkomsel,” ungkap Sudiro usai penandatangan perjanjian kredit investasi anatara BRI dengan Mitratel di Jakarta, Rabu (20/7).

Sudiro menambahkan dengan fokus pada bisnis menara tersebut, perseroan berencana untuk mengalihkan pengelolaan dan perawatan 16 ribu menara milik Telkomsel kepada Mitratel. Namun, lanjut dia, hal tersebut dilakukan secara bertahap. Sebab, lanjut dia, pengalalihan tersebut masih harus melalui diskusi dengan Singtel yang merupakan pemegang 30% saham Telkomsel. “Sampai saat ini pengalian tersebut masih belum tuntas,” jelasnya.

Menurut Sudiro, saat ini perseroan masih mengkaji Mitratel untuk melakukan penawaran umum perdanan (initial public offering/IPO) saham di bursa efek Indonesia (BEI). Namun, ia menolak untuk menjelaskan jumlah saham yang akan dilepas perseroan dalam IPO tersebut. Ia hanya mengatakan pada 2012, Mitratel diperkirakan membutuhkan dana sebanyak Rp 2 triliun untuk membangun 2 ribu menara.

“Hal tersebut dilakukan utnuk mengejar target kepemilikan menara Mitratel menjadi 4 -5 ribu buah. Sedangkan hingga semester I 2011, Mitratel baru memiliki kurang lebih 800 menara,” jelas dia.

Sementara itu, Direktur Utama Mitratel Edy Irianto menjelaskan dengan investasi sebanyak Rp 2,5 triliun tersebut akan membuat kepemilikan menara Mitratel menjadi 3 ribu buah pada akhir tahun. Jumlah tersebut, lanjut dia, meningkat 1011% dibandingkan akhir 2010 yang hanya sebanyak 270 menara. Menurut dia, dengan jumlah menara sebanyak 3 ribu buah tersebut akan menjadi modal utama perseroan dalam melantai di BEI. Hal tersebut dilakukan agar Mitratel tidak kalah dengan perusahaan sejenis yang telah tercatat di BEI.

“Kami memang sudah dikejar induk perusahaan untuk segara IPO. Tapi saat ini kami masih tapah mengejar jumlah kepemilikan alat produksi dan pendapatannya. Kemungkinan untuk melakukan IPO adalah pada semesetr II 2012,” papar Edy.

Sebelumnya, Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah pernah mengatakan peningkatan jumlah menara yang dimiliki tersebut dilakukan itu untuk mengoptimalkan harga saham Mitratel ketika dilepas ke pasar bursa. Mitratel sudah berdiri sejak 1995 dan berawal sebagai perusahaan mitra kerja sama operasi (KSO) di wilayah Kalimantan dengan nama Dayamitra Molindo. Perusahaan ini beberapa kali mengalami perubahan kepemilikan saham. Namun pada 2004, seluruh saham Mitratel dikuasai Telkom.

Kemudian pada 2007, Mitratel fokus pada bisnis penyediaan infrastruktur telekomunikasi, di antaranya menyediakan menara telekomunikasi guna memenuhi kebutuhan penempatan BTS sejumlah operator telekomunikasi di Tanah Air. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar