Minggu, 24 Juli 2011

Intiland Investasi Rp 400 M

Intiland Investasi Rp 400 M

JAKARTA – PT Intiland Development Tbk (DILD) investasi sebesar Rp 400 miliar pada seemsetar I 2011. Jumlah tersebut telah mencapai 40% dari alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 1 triliun. Investasi tersebut digunakan untuk melakukan pembelian dan perapihan lahan, serta kontruksi infrastruktur di sejumlah proyek mereka di Jakarta dan Surabaya.

Direktur Pengolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono menambahkan
selain lahan, perseroan juga tengah mengembangkan bisnis hotel bintang dua Whiz Hotel di empat kota. Keempat kota tersebut adalah Semarang yang diperkirakan akan selesai pada 11 November 2011, serta tiga lainnya baru tahap pemancangan tiang pertama yaitu Kuta, Legian, Balikpapan.

“Sedangkan untuk tahun depan kami akan mengembangkan Whiz Hotel di Surabaya dan dua lokasi di Jakarta, yaitu Cikini dan Hayam Wuruk. Saat ini, perizinanya sedang kami urus,” ungkap Archied di Jakarta, belum lama ini. 

Rencananya, lanjut Archied, anak usaha yang menaungi Whiz Hotel, PT Intiwhiz Infinita, akan go public melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Namun, lanjut dia, IPO tersebut baru akan dilakukan dalam dua atau tiga tahun mendatang. Sebab, tambah dia, untuk melakukan hal tersebut setidaknya anak usaha tersebut sudah mengoperasionalkan hotel lebih dari 20 hotel baru lagi.

“Sedangkan saat ini kami baru memiliki 10 hotel. Menurut hitungan saya, dua atau tiga tahun lagi kami bisa mengoperasionalkan 15-20 hotel baru lagi,” jelas Archied.

Hal tersebut, lanjut Archied, seiring dengan target kami memiliki jaringan hotel tersebut sebanyak 60 hotel pada lima tahun mendatang. Ia menambahkan, untuk mencapai target tersebut perseroan menerapkan strategi  yang beragam, baik mellui joint venture (JV) maupun franchise.

Sebelumnya. Archied menyataakn keseluruhan capex tersebut, akan digunakan perseroan untuk mengembangkan sejumlah proyek baru dengan skala besar, yang meliputi segmen residensial, mixed-use and high rise, kawasan industri dan perhotelan. Adapaun upaya percepatan dalam pengembangan proyek-proyek baru ini, guna mengantisipasi melonjaknya angka permintaan pasar properti di Indonesia.

Archied menjelaskan mencairkan pinjaman bank sebesar Rp 660 miliar. Pinjaman tersebut digunakan untuk membiayai belanja modal (capital expenditure/capex) perseroan sebesar Rp 1 triliun. Ia menjelaskan pinjaman tersebut berasal dari Bank Bukopin Tbk (BBKP) Rp 400 miliar. Pinjaman tersebut,l lanjut dia, baru didapatkan belum lama ini. Sedangkan sisanya, ia menjelaskan berasal dari stand by loan sindikasi beberapa bank senilai Rp 260 miliar.

“Bank tersebut diantaranya adalah PT Bank Mayapada Tbk (MAYA), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBCA),” tandas dia. (iin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar